cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisis Teknis dan Ekonomis Ketebalan Bilah Laminasi Bambu sebagai Material Lambung Kapal Andika Prabowo; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.749 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2475

Abstract

Laminasi bambu terdiri dari bilah-bilah yang nantinya akan direkatkan menjadi satu lapisan dan kemudian dibuat laminasi dari beberapa lapisan tersebut sehingga perlu dilakukan pengujian pengaruh ketebalan bilah terhadap mechanical properties dan sisi ekonomis laminasi bambu. Konfigurasi bilah yang digunakan dalam proses laminasi adalah sistem carvel dengan variasi ketebalan bilah 5 mm, 8 mm, dan 10 mm. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian tarik (Tensile Test) dan pengujian tekan (Compressive Test) dengan menggunakan standar pengujian SNI. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa besar ketebalan bilah berbanding terbalik dengan kuat tariknya meskipun tidak begitu signifikan. Nilai kuat tarik tertinggi dihasilkan oleh laminasi bambu dengan ketebalan bilah 5 mm sebesar 135,87 MPa dengan selisih terhadap kuat tarik terendah hanya 1,72 MPa. Sedangkan hasil pengujian tekan menunjukkan bahwa kuat tekan berbanding lurus dengan ketebalan bilah laminasi bambu. Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh laminasi bambu dengan ketebalan bilah 10 mm dengan nilai 52,56 MPa. Perhitungan ekonomis menunjukkan bahwa besar ketebalan bambu berbanding lurus dengan semakin sedikitnya biaya material total kulit lambung kapal yang harus dikeluarkan. Biaya material total terkecil dihasilkan dengan ketebalan bilah 10 mm dengan nilai Rp 11.203.049,00/m3. Ketebalan bilah 10 mm merupakan ketebalan bilah laminasi bambu yang paling baik karena menghasilkan kuat tarik yang tidak jauh berbeda dengan kuat tarik tertinggi, memiliki kuat tekan dan nilai ekonomis paling tinggi.
Study Penggunaan Bambu Sebagai Material Alternative Pembuatan Kapal Kayu dengan Metode Wooden Ship Planking System Kembara Rizal Ramadhana; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.088 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2477

Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik itu untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi. Dalam proses produksinya, kapal kayu banyak sekali menggunakan kayu berjenis kayu jati. Namun, seiring berjalannya waktu kayu jati kini mulai mengalami kelangkaan serta harganya yang merangkak naik mencapai Rp 24.000.000,00 per meter kubik nya. Tugas akhir ini bertujuan untuk menjadikan bambu sebagai material alternative pembuatan kapal kayu. Hal yang dilakukan pertama kali dalam melakukan penelitian ini adalah dengan mencari nilai mechanical properties dari masing-masing jenis variasi arah serat laminasi bambu. Jenis pengujian yang dilakukan adalah pengujian tarik dan tekan. Setelah diperoleh nilai mechanical properties untuk masing-masing jenis variasi arah serat dan dilakukan analisa secara teknis dan ekonomis maka diperoleh kesimpuan sebagai berikut. Bambu dapat digunakan sebagai material alternative pembuatan kapal kayu dan arah serat laminasi yang palong ekonomis untuk digunakan sebagai material pembuatan kulit lambung kapal katu adalah variasi 3 dengan specifikasi ketebalan kulit lambung 5 cm dan biaya produksi sebesar Rp 43.000.000,00.
Analisa Tegangan pada Cross Deck Kapal Ikan Katamaran 10 GT menggunakan Metode Elemen Hingga Erik Chabibi; Totok Yulianto; Ketut Suastika
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.104 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2478

Abstract

Dalam bidang kekuatan kapal, perlu memperhitungkan kekuatan memanjang dan melintang suatu konstruksi kapal. Distribusi beban yang tidak merata dan gelombang air laut yang tidak beraturan dan berulang pada kapal yang berlayar menyebabkan struktur kapal terjadi tegangan dan regangan. Kapal katamaran (multi hull) merupakan inovasi untuk kemajuan sarana transportasi laut dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan  penelitian ini membuktikan bahwa tegangan yang dihasilkan oleh kapal ini saat terkena beban gelombang dengan variasi arah gelombang 00 (following sea), 900 (beam sea) dan 1800 (head sea) memenuhi tegangan ijin standar BKI (Biro Klasifikasi Indonesia). Pada kapal katamaran terjadi kombinasi beban gaya hidrostatis dan  hidrodinamis (gelombang) yang menyebabkan terjadi momen bending dan gaya geser. Untuk mengetahui tegangan Von Mises maksimum yang terjadi dilakukan analisa dengan menggunakan Finite Element Method (FEM) dengan bantuan software MSC Nastran 2010. Hasil perhitungan analisa manual didapatkan nilai tegangan terbesar pada arah gelombang 180o (head sea) sebesar 9,389 N/mm2. Sedangkan hasil pemodelan dengan menggunakan metode elemen hingga didapatkan tegangan maksimum terjadi pada arah gelombang 900 (beam sea) sebesar 33,2 N/mm2. Tegangan ijin yang disyaratkan oleh BKI sebesar 39,311 N/mm2.Dari hasil analisa tegangan tersebut, struktur kapal ikan katamaran memenuhi standar dari ketentuan BKI.
Analisis Kekuatan Tangki CNG Ditinjau dengan Material Logam Lapis Komposit pada Kapal Pengangkut Compressed Natural Gas Aulia Firmansah; Totok Yulianto
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1213.722 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2479

Abstract

Pada penelitian ini, dilakukan analisa perbandingan pada kekuatan pressure vessel compressed natural gas. Pressure vessel yang digunakan yaitu tipe satu dan tipe tiga, tipe satu adalah tabung menggunakan material logam yaitu Carbon Steel SA 516 Grade 70 dan Aluminium Alloy T6-6061. Pada tabung tipe tiga material menggunakan Aluminium Alloy T6-6061 dengan lapisan Komposit (Carbon Fibre – Epoxy) pada seluruh tabung (full wrapped). Sudut orientasi serat yang digunakan 54.73560 dan terdiri dari 4 lapis komposit yang membungkus aluminium. Variasi yang dilakukan pada tebal komposit yaitu 25% komposit, 50% komposit, dan 75% komposit. Pressure vessel mendapat perlakuan internal pressure sebesar 125 bar dan temperatur -300C. Analisa dilakukan dengan dua metode yaitu dengan perhitungan manual dan software finite element method (NASTRAN 2010). Dari hasil perhitungan tersebut tabung tipe satu dengan material logam terbukti aman karena memenuhi dari faktor keamanan yang ditentukan tetapi pressure vessel sangat berat. Pada tabung tipe tiga lamina dengan komposisi 75% komposit dan 50% komposit dinyatakan aman karena memenuhi dari kriteria tegangan maksimum. Sedangkan pada komposisi 25% komposit lamina mengalami kegagalan yang disebabkan terlalu rendahnya lapisan komposit. Dari keseluruhan hasil perhitungan dan analisa didapatkan komposisi ideal pressure vessel yaitu 75% komposit dan 25% aluminium dari tebal keseluruhan sehingga menghasilkan tegangan yang sangat kecil dan memiliki berat yang paling ringan.
Analisis Teknis dan Ekonomis Konversi Landing Craft Tank (LCT) Menjadi Self-Propelled Oil Barge (SPOB) Zainul Arifin Fatahillah; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.086 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2480

Abstract

Konversi Landing Craft Tank (LCT) menjadi Self - Propelled Oil Barge (SPOB) makin marak dilakukan. Hal ini dilakukan karena LCT sudah tidak dapat digunakan sebagai sarana pengangkut  minyak karena secara teknis tidak memenuhi persyaratan sebagai oil tank dan tertuang dalam kebijakan Direktur PT Pertamina Nomor: 754/F34100/2011-SO. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai konversi LCT menjadi SPOB serta penambahan satu ruang muat sepanjang 6 meter. Analisa teknis yang dilakukan yaitu kapal hasil konversi harus memenuhi owner’s requirement, harus memenuhi batasan Lambung Timbul minimum berdasarkan Peraturan Garis Muat Indonesia, memenuhi kekuatan memanjang kapal sesuai dengan Rules BKI, serta memenuhi stabilitas kapal berdasarkan IMO. Dari hasil perhitungan didapatkan SPOB Kuda Laut 8 dengan Kapasitas Ruang Muat 202.656 ton Diesel Oil dengan Massa jenis 0.84 tom/m3. Lambung timbul minimum kapal sebesar 231.90 mm dengan sarat kapal maksimal adalah 1.74 m, serta tegangan  maksimum kapal sebesar  484.395 kg/cm2 terjadi pada saat kapal mengalami Hogging. Analisa ekonomis dapat dihitung biaya yang dibutuhkan untuk melakukan konversi dari Landing Craft Tank menjadi Self-Propelled Oil Barge.  Biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan konversi LCT Kuda Laut menjadi SPOB Kuda Laut 8 adalah sebesar 3.036.830.850,00 Rupiah.
Studi Perancangan Trash-Skimmer Boat di Perairan Teluk Jakarta Arifin Gustian Pramoko; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.076 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2481

Abstract

Tidak tertanganinya sampah yang setiap hari memenuhi perairan Teluk Jakarta menjadi latar belakang dari dilakukannya studi ini. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sebuah desain kapal kerja pengumpul sampah yang tersebar di perairan laut khususnya perairan Teluk Jakarta dengan luas area 285 km2. Proses desain diawali dengan penentuan ukuran utama menggunakan metode optimasi, lalu peralatan geladak dan kapasitas muatan ditentukan dengan metode design layout. Konfigurasi peralatan geladak dan sistem bongkar-muat dibuat berdasarkan kebutuhan dan jumlah sampah yang terdapat di Teluk Jakarta. Dengan mengasumsikan bahwa luasan wilayah yang ditinjau sebagai rute yang harus ditempuh kapal, maka didapatkan jumlah kapal dalam armada agar semua sampah terapung dapat terangkut. Desain yang optimum didapatkan melalui metode optimasi dengan variabel, parameter, dan constraints yang telah ditentukan. Yakni berukuran L = 12,497 m, B = 6 m, H = 2 m, T = 1,124 m. Selanjutnya dari ukuran utama yang diperoleh ini dibuat linesplan dan general arrangements sesuai dengan konfigurasi peralatan bongkar muatnya.
Studi Penggunaan Bambu sebagai Material Alternatif Pengganti Kayu untuk Bahan Pembuatan Bangunan Atas dengan Metode Wooden Ship Planking System Alfadi Akbar; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.897 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2482

Abstract

Kayu jati sebagai material dasar pembangunan kapal kayu terus mengalami kenaikan harga. Bambu Betung (Dendrocalamus asper) sebagai material alternatif memiliki keunggulan sifat mekanis yang baik, laju pertumbuhan yang cepat, dan mudah dibudidayakan. Namun demikian, pengaplikasian bambu Betung sebagai komponen konstruksi perlu dibuat dalam bentuk laminasi untuk mengatasi anatomi bambu yang berongga. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan nilai kuat tarik dan kuat tekan bambu laminasi yang memiliki dua variasi bentuk penampang bilah T dan persegi empat sebagai lamina dengan sudut 90° antar lapisan, untuk diaplikasikan pada bangunan atas kapal kayu 5 GT, 15 GT, dan 30 GT serta mengetahui biaya produksi bambu laminasi untuk pembuatan bangunan atas kapal kayu 30 GT. Di dalam tugas akhir ini, dilakukan pengujian tarik dan pengujian tekan pada masing –masing variasi bambu laminasi. Dengan mengetahui dimensi penampang, kebutuhan bambu laminasi dapat diketahui untuk dibandingkan dengan kebutuhan kayu jati satu bangunan atas. Dari hasil pengujian diketahui bahwa kuat tarik bambu laminasi variasi satu dan variasi dua masing-masing adalah 79.68 N/mm2 dan 95.03 N/mm2. Kuat tekan variasi satu dan variasi dua adalah 31.47 N/mm2 dan 31.33 N/mm2. Dimensi penampang Deck Beam dengan bambu laminasi untuk kapal 5 GT, 15 GT, dan 30 GT secara berurutan adalah 50 x 70 mm, 80 x 80 mm, dan 80 x 90 mm. Dimensi penampang penegar dinding, secara berurutan adalah 50 x55 mm, 60 x 75 mm, dan 65 x80 mm. Sementara untuk tebal kulit bangunan atas, secara berurutan adalah 18 mm, 35 mm, dan 35 mm. Biaya produksi bambu laminasi untuk bangunan atas kapal 30 GT adalah  Rp 4.981.297,00.
Analisis Teknis dan Ekonomis Pemasangan Towing kite dalam Upaya Penghematan Bahan Bakar pada Tanker 6500 DWT di Wilayah Perairan Indonesia Andik Eko Saputro; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.684 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2483

Abstract

Semakin menipisnya ketersediaan sumber energi mengakibatkan harga bahan bakar minyak menjadi tinggi. Kenaikan harga bahan bakar minyak ini berdampak pada dunia maritime. Hal ini dikarenakan kapal merupakan salah satu alat transportasi yang menggunakan bahan bakar minyak dalam jumlah besar. Berangkat dari permasalahan tersebut, tugas akhir ini mencoba menghadirkan satu solusi untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak dengan cara memanfaatkan potensi energi angin di wilayah perairan Indonesia. energi angin tersebut digunakan sebagai penggerak towing kite yang dipasang pada Tanker 6500 DWT untuk memberikan tambahan daya dorong pada kapal dan mengurangi beban kerja mesin induk pada saat kapal beroperasi. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan tipe dan ukuran towing kite yang optimum serta memiliki biaya investasi yang rendah dari beberapa jenis dan ukuran towing kite. Analisis kerja towing kite yang dilakukan adalah pada kecepatan kapal 12 knot, kecepatan angin 10,9 knot dan sudut vektor relative angin terhadap laju kapal sebesar 45°. Dari hasil analisis didapatkan towing kite yang optimum untuk dipasang di kapal adalah Skysails SKS 320 tipe Flexyfoil. Dengan menggunakan rumus teoritis didapatkan penghematan bahan bakar akibat pemasangan towing kite sebesar 3,0234 ton untuk sekali trip atau 99,7813 ton per tahun. Berdasar hasil analisis ekonomis, dengan biaya investasi sebesar Rp. 5.690.917.960 pemasangan towing kite diperkirakan dapat tercapai Break Even Point pada tahun ke 9 dari 20 tahun investasi.
Analisis Perbandingan Laju Korosi Pelat ASTM A36 antara Pengelasan di Udara Terbuka dan Pengelasan Basah Bawah Air dengan Variasi Tebal Pelat Yanek Fathur Rahman; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.075 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2485

Abstract

Struktur konstruksi badan kapal lambat laun akan mengalami kerusakan. Ketika kapal mengalami kerusakan pada kondisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang penting. Melalui penelitian ini, dikaji perbandingan laju korosi pada sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan di udara terbuka dan pengelasan basah bawah air. Dari kedua media pengelasan tersebut diberikan variasi ketebalan pelat sebagai pembanding. Pekerjaan pengelasan basah bawah air dilakukan dengan menggunakan metode SMAW Wet Welding pada posisi 1G (datar) dengan elektroda AWS E-6013 yang dilapisi isolasi yang bersifat kedap air. Sedangkan untuk pengelasan di udara terbuka menggunakan elektroda AWS E-6013 tanpa pelapis tambahan. Dari data hasil pengujian korosi diketahui bahwa pengelasan basah bawah air menghasilkan nilai laju korosi yang lebih tinggi dibandingkan pengelasan di udara terbuka. Dan semakin tebal pelat, laju korosinya juga cenderung lebih tinggi, yaitu sebesar 0,38678 (mmpy) untuk pelat 8 mm, 0,41149 (mmpy) untuk pelat 10 mm, dan 0,44798 (mmpy) untuk pelat 12 mm pada pengelasan di udara terbuka. Sedangkan untuk pengelasan basah bawah air, nilai laju korosinya sebesar 0,57106 (mmpy) untuk pelat 8 mm, 0,61289 (mmpy) untuk pelat 10 mm, dan 0,68774 (mmpy) untuk pelat 12 mm.
Analisis Pengaruh Salinitas dan Temperatur Air Laut pada Wet Underwater Welding terhadap Laju Korosi Adrian Dwilaksono; Heri Supomo; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.428 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2486

Abstract

Struktur konstruksi badan kapal lambat laut mengalami kerusakan . Apabila kapal mengalami kerusakan pada konisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang diutamakan. Sedangkan faktor korosi pada pengelasan basah bawah air merupakan masalah yang pasti terjadi. Melalu penelitian ini dikaji perbandingan laju korosi sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰ , 35‰ dan suhu 200C, 250C. Dari keempat variasi pengelasan tersebut diberikan variasi ketebalan pelat sebagai pembanding. Penelitian laju korosi dilakukan dengan pengujian terhadap material baja A36 yang dilas menggunakan metode SMAW pada pengelasan basah bawah air pada posisi 1G (datar) dengan elektroda AWS E-6013 yang dilapisi isolasi yang bersifat kedap air. Dari data pengujian laju korosi  diketahui bahwa pengelasan basah bawah air dengan salinitas 35‰ lebih tinggi di bandingkan dengan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰, sedangkan untuk pengujian laju korosi dengan variasi suhu diketahui bahwa dengan suhu 250C cenderung lebih besar, meskipun hasil nya tidak signifikan dibandingkan dengan suhu 200C, dan semakin tebal pelat, laju korosinya juga cenderung lebih tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketebalan yang berkurang pada Salinitas 33‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.2124 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.2139(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.3203 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.3205 (mm/year). Untuk Salinitas 35‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.4521 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.4538(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.5547 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.5550 (mm/year).