cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Studi Implementasi Six Sigma pada Tahap Fabrikasi dalam Proses Pembangunan Kapal Baru Jauhary Tsulastsy Yanuar; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.038 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2492

Abstract

Proses produksi pada tahap fabrikasi dalam proses pembangunan kapal baru masih memiliki masalah defect pada output proses produksi berupa defect dimension yang menyebabkan rework (pekerjaan tambahan). Tugas akhir ini bertujuan untuk menentukan besarnya sigma proses tahap fabrikasi dari sebuah galangan kapal yang menjadi studi kasus, mengidentifikasi penyebab yang mempengaruhi defect, dan menentukan upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimasi defect menggunakan metode six sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control). Berdasarkan perhitungan menggunakan lembar kerja perhitungan sigma yang dikeluarkan oleh pivotal resources, komponen plate mengalami defect dimension sebesar 0,36% untuk hasil marking dan 0,48% untuk hasil proses cutting menghasilkan nilai sigma 2,2074, komponen bracket mengalami defect dimension sebesar 0,28% untuk hasil marking dan 0,40% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,3429, komponen stiffener mengalami defect dimension sebesar 0,20% untuk hasil marking dan 0,24% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,6771, dan  komponen clip (collar plate) mengalami defect dimension sebesar 0,28% untuk hasil marking dan 0,36% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,4171. Berdasarkan hasil analisa, nilai sigma tersebut masih jauh dari nilai yang seharusnya dapat dicapai oleh suatu perusahaan (6σ) disebabkan oleh faktor antara lain keterampilan SDM yang belum memadai saat ini, PMS (Planned Maintenance System) yang berjalan tidak sesuai prosedur, dan tidak dilakukannya pendokumentasian/kontrol pada setiap komponen hasil tahap fabrikasi. Dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) yang dikorelasikan dengan berbagai analisa, diperoleh solusi antara lain diperlukannya training/pelatihan untuk meningkatkan skill/kemampuan SDM baru, dijalankannya PMS sesuai prosedur, dan menghidupkan kembali tim QC yang tergabung dalam keorganisasian bengkel fabrikasi. Implementasi six sigma dilakukan secara periodik dengan mengevaluasi hasil rencana perbaikan.
Analisa Teknis dan Ekonomis Penggunaan ICCP (Impressed Current Cathodic Protection) Dibandingkan dengan Sacrificial Anode dalam Proses Pencegahan Korosi Afif Wiludin; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.346 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2509

Abstract

Perlindungan badan kapal  terhadap korosi dengan  menggunakan  metode perlindungan katodik pada prinsipnya adalah sel elektrokimia untuk mengendalikan korosi dengan mengkonsentrasikan reaksi oksigen pada sel galvanik dan menekan korosi pada katoda dalam sel yang sama. Pada proteksi katodik, logam yang akan dilindungi dijadikan katoda dan reaksi oksidasi terjadi di anoda. Ada dua macam cathodic protection yaitu Sacrificial Anode Cathodic Protection (SACP) dan Impressed Current Cathodic Protection (ICCP). Dilakukan penelitian tentang analisa teknis dan ekonomis penggunaan ICCP dibandingkan dengan SACP dalam proses pencegahan korosi, kedua sistem dibandingkan dalam jangka 20 tahun, dari segi teknis dengan menggunakan perbandingan perhitungan sesuai standar DnV, yang dibandingkan dari tahap design, tahap instalasi, dan maintenance, dari segi ekonomis perbandingan dibedakan dari tahap pengadaan komponen-komponen sistem, tahap instalasi, dan tahap maintenance. Data perbandingan diperoleh dengan perhitungan sesuai standar, study literature, diskusi dan interview. Hasil perhitungan perbandingan yang diperkirakan selama 20 tahun, dari segi teknis kedua sistem memenuhi standar yang berdasar pada sistem perhitungan standar DnV B-401, sedangkan dari segi ekonomis, biaya untuk sistem ICCP sebesar Rp. 205.405.000,00 dan sistem SACP sebesar Rp. 562.590.000,00, sehingga lebih ekonomis menggunakan sistem ICCP sebesar Rp 357.185.000, 00 atau 63,49% dari biaya untuk sistem SACP
Analisa Perbandingan Laju Korosi Pada Pengelasan Di Bawah Air Karena Pengaruh Variasi Jenis Pelindung Flux Elektroda Septian Adi Pranata; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.25 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2590

Abstract

Underwater welding diperlukan karena pada umumnya struktur yang beroprasi di laut dirancang kurang lebih 20-30 tahunan dan selama rentang waktu tersebut maka konstruksi tersebut haruslah terjamin dari segi keselamatan dan kekuatannya. Lingkungan laut yang korosif juga dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan dan mengakibatkan kerusakan. [4] Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi pelindung flux elektroda dan tebal pelat pada pengelasan di bawah air.Dari data hasil pengujian korosi diketahui bahwa pengelasan basah di bawah air dengan pelindung flux elektroda isolasi memiliki laju korosi yang lebih baik daripada menggunakan lilin dan sealent. Nilai laju korosi tertinggi adalah pelat tebal 12 mm dengan variasi pelindung flux elektroda berupa sealent sebesar 0,456935, sedangkan nilai laju korosi terendah adalah pelat tebal 10 dengan variasi pelindung flux elektroda berupa isolasi sebesar 0,212443. Sedangakn untuk perbedaan tebal pelat, Semakin tebal pelat semakin besar pula laju korosinya. Untuk pelat 10 mm, nilai laju korosi untuk pelindung flux berupa isolasi sebesar 0,212443 mmpy, untuk lilin sebesar 0,273485 mmpy dan untuk sealent sebesar 0,281885 mmpy. Sedangkan untuk pengelasan untuk pelat 12 mm, nilai laju korosi untuk pelindung flux berupa isolasi sebesar 0,32037 mmpy, untuk lilin sebesar 0,33089 mmpy dan untuk sealent sebesar 0,456935 mmpy. Nilai laju korosi tertinggi adalah pelat tebal 12 mm dengan variasi pelindung flux elektroda berupa sealent sedangkan nilai laju korosi terendah adalah pelat tebal 10 dengan variasi pelindung flux elektroda berupa isolasi.
Studi Gerakan Sloshing terhadap Tangki Kotak (Rectangular Tank) Dengan dan Tanpa Pelat Memanjang (Baffle) Akibat Gerakan Rolling Kapal Dengan Metode Computational Fluid Dynamics (CFD) Ashar Khoirul Arsad; Aries Sulisetyono
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.458 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2593

Abstract

Sloshing dapat diartikan sebagai gerakan bebas dari fluida cair di dalam sebuah wadah . Masalah sloshing menjadi fenomena penting dalam tangki muatan cair, karena dapat menyebabkan kerusakan pada struktur  dalam tangki . paper ini menjelaskan pengaruh besarnya pressure pada tangki kotak dengan dan tanpa penambahan pelat memanjang (baffle) ketika terjadi sloshing yang diakibatkan gerakan rolling yang terjadi pada kapal. Pemodelan tangki dilakukan 2D berbentuk tanki kotak (rectangular tank) dengan ukuran panjang 46.92 m dan tinggi 32.23 m menggunakan software gambit,. variasi model tangki ada 2 yaitu tanpa dan dengan penambahan 1 buah baffle dengan ukuran tebal 1 m dan tinggi 6 m dengan ketinggian cairan  15%, 45%, dan 75%. Proses simulasi dilakukan dengan meode Computational Fluid Dynamic (CFD) menggunakan software Fluent. Dari hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa baffle berhasil berfungsi sebagai peredam pressure ketika volume muatan lebih rendah dari tinggi baffle yaitu dalam  hal ini volume 15%, namun ketika pada volume muatan 45% dan 75% baffle tidak dapat berfungsi sebagai peredam pressure karena adanya baffle dapat menimbul gaya permukaan cairan ketika cairan lng menghantam baffle yang menyebabkan tinggi cairan lng menjadi lebih tinggi sehingga ketika terjadi gerakan tangki maka dapat menambah besar pressure untuk menghantam dinding-dinding tangki.
PengaruhBentuk Probe Pada Tool Shoulder TerhadapMetalurgiAluminium Seri 5083 Dengan Proses Friction Stir Welding Zulkifli Edward; Wing Hendroprasetyo Akbar Putera
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1113.508 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2622

Abstract

Penyambungan Aluminium dengan GTAW dan GMAW menghasilkan suhu yang sangat tinggi pada saat proses pengelasansehinggamenghasilkandistorsi yang besar. Untuk mengatasi kekurangan tersebut dilakukan pengelasan yang suhu pengelasannya berada di bawah titik leleh Aluminium yaitu Friction Stir Welding. Padatugasakhirinidilakukanmodifikasitool dari K-100 BohlerdanmenggunakanmesinfraissebagaipenggantimesinFriction Stir Weldingpada Aluminiumpaduan 5083 dengantebal 4 mm denganukuran 30 mm x 15 mm menggunakantigavariasi pin yaitulingkaran (straight cylindrical), segitiga (triangle) dansegiempat (square) dengantravel speedsebesar 0.33 mm/detik serta sudut inklinasi 20. Kemudiandilakukananalisaterhadapperubahanmetalurgi, dandefect yang terjadi. Dari hasilpercobaandengan uji Makro etsa, fotoMikro serta Radiografi diketahui bahwa variasi pin berbentuksegiempat (square)menimbulkansuhu yang paling besardarivariasi pin lingkaran (straight cylindrical) dansegitiga (triangle) menyebabkan bentuk butir semakin besar, surface irragulariti semakin pendek, tidakditemukantunnel defect, kekerasan material bertambah serta diskontinuitas berupa weld flash semakin besar.
Studi Penentuan Panjang dan Kedalaman Retak Sambungan Las pada Konstruksi Kapal Menggunakan Pengujian Ultrasonik dengan Variasi Frekuensi dan Ukuran Kristal dan Variasi Kondisi Permukaan Coating dan Uncoating Deddy Kristianto; Wing Hendroprasetyo Akbar Putera
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.869 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2623

Abstract

Ketidaksempurnaan dalam pengelasan diikuti dengan pengoperasian sering kali menimbulkan retak serta cacat-cacat dalam  pengelasan  pada sambungan las pondasi mesin di kapal yang telah dicat, pengujian ultrasonik dilakukan untuk mendeteksi lokasi retak tersebut tanpa membuang cat yang terdapat dipermukaan konstruksi. Pada tugas akhir ini dilakukan penelitian pada sambungan tumpul las sebanyak lima buah specimen dengan ukuran 400x200x12 mm dan pada setiap spesimen diberikan beberapa variasi ketebalan cat yaitu 0 mikron, 60 mikron, 120 mikron, 250 mikron, dan 300 mikron dimana sebelum diberikan variasi ketebalan cat terlebih dahulu diberikan retak buatan pada setiap specimen di daerah toe sambungan las dengan ukuran panjang 20 mm, 30 mm, 50 mm, dan 70 mm, dengan kedalaman 2 mm, 4 mm, 6 mm dan 8 mm, pengujian ultrasonik dilakukan dengan memvariasikan ukuran transducer yaitu 8 x 9 mm (2MHz), 20 x 22 mm (2MHz), dan 8 x 9 mm (4MHz). Setelah itu dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan metode ultrasonik untuk membandingkan retak aktual dengan retak hasil scanning untuk panjang dan kedalaman retak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa semakin besar variasi ketebalan cat yang diberikan pada spesimen uji maka efektivitas pembacaan ukuran retak dengan menggunakan metode ultrasonik test akan menurun. Frekuensi transducer yang lebih besar memiliki kemampuan yang lebih sensitif untuk mendeteksi retak dan ukuran kristal transducer yang lebih besarakan lebih sensitif untuk mendeteksi retak dikarenakan penyebaran berkas suara yang lebih konstan. Dari ketiga jenis transducer yang paling akurat adalah 8 x 9 mm (4MHz).
Analisis Pengaruh Ketebalan Nonconductive Coating Terhadap Kemampuan Pendeteksian Panjang Dan KedalamanRetak PadaFilletJoint Bracket KapalAluminium Menggunakan Pengujian Ultrasonik Akbar Rianiri Bakri; Wing Hendroprasetyo Akbar Putera
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.265 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2625

Abstract

Konstruksi kapal yang telah beroperasi seringkali terjadi cacat pada daerah lasnya.Cacat yang timbul seperti retak,seringterjadi tanpa disadari padasambungan las yang telah dilapisi cat sebelumnya.Retak tersebut dapat diperiksa menggunakan metode Ultrasonic testing tanpa menghilangkan cat yang terdapat pada sambungan las. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketebalan cat tersebut terhadap pendeteksian retak dengan metode Ultrasonic testing padafillet joint di braket kapal aluminium.Scanning dilakukan pada face C dari spesimen uji. Pada setiap spesimen diberikan beberapa variasi ketebalan nonconductive coating yaitu 100 mikron, 200 mikron, 250 mikron dan 300 mikron dimana sebelum diberikan variasi ketebalan coating, spesimen terlebih dahulu diberikan retak buatan pada daerah toe las dengan variasi ukuran panjang 70 mm, 30 mm, 20 mm, dan 10 mm, dengan kedalaman 2 mm, 4 mm, 6 mm, dan 8 mm. Setelah itu tiap spesimen dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan metode Ultrasonic testing (UT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh ketebalan nonconductive coating terhadap pendeteksian panjang dan kedalaman retak, dimana kemampuan pembacaan UT terhadap panjang retak pada spesimen dengan ketebalan  nonconductive coating 100 mikron rata-rata sebesar 95,814 %, 200 mikron sebesar 89,510 %, 250 mikron sebesar 87,140 % dan 300 mikron sebesar 85,629 % dari ukuran panjang retak sebenarnya. Sedangkan kemampuan pembacaan UT terhadap kedalaman retak pada spesimen dengan ketebalan  nonconductive coating 100 mikron rata-rata sebesar 99,219 %, 200 mikron sebesar 98,167 %, 250 mikron sebesar 97,396 % dan 300 mikron sebesar 96,625 % dari ukuran kedalaman crack sebenarnya. Hal ini disebabkan adanya pelemahan gelombang ultrasonik (atenuasi) pada saat gelombang ultrasonik melewati batas permukaan antara nonconductive coating dengan pelat aluminium  yang mempunyai impedansi akustik berbeda maka akan terjadi pemantulan dan pembiasan gelombang ultrasonik. Sebagian energi gelombang ultrasonik juga akan hilang saat gelombang melewati interfaces material.
Studi Implementasi Lean Six Sigma dengan Pendekatan Value Stream Mapping untuk Mereduksi Idle Time Material pada Gudang Pelat dan Profil Wawan Widiatmoko; Sri Rejeki Wahyu Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.337 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2652

Abstract

Peningkatan volume kegiatan industri maritim di Indonesia menuntut industri perkapalan di daerah Surabaya untuk lebih meningkatkan pelayanan baik berupa bangunan baru maupun reparasi kapal. Berdasarkan hal tersebut galangan harus mampu mengelola proses produksi dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan yang maksimum. Salah satunya adalah proses inventory dan transport of materials yang efektif. Tugas akhir bertujuan untuk mengetahui sistem inventori yang diterapkan oleh perusahaan yang dijadikan sampel serta idle time material pelat dan profil yang ada di gudang bahan baku dengan menggunakan metode lean six sigma dengan pendekatan value stream mapping. Dari hasil perhitungan menggunakan diperoleh nilai sigma perhitungan idle time sebesar 0.1976 sehingga perlu dilakukan upaya peningkatan nilai sigma pengadaan material itu sendiri. Berdasarkan hasil analisa penyebab adanya idle time dengan menggunakan RCA diperoleh beberapa faktor yaitu : rendahnya nilai sigma penggunaan material, tidak tercapainya target pengerjaan pada proses fabrikasi, proses pengadaan material yang tidak mempertimbangkan strategi proses pembangunan kapal. Dengan penerapan lean six sigma dengan pendekatan value stream mapping dihasilkan usulan perbaikan proses inventori di perusahaan antara lain : meningkatkan nilai sigma penggunaan material, melakukan strategi pembelian material sesuai strategi pembangunan kapal berdasarkan zona, memperbaiki kerjasama dengan supplier material pelat dan profil. Pembuatan future state mapping mendapatkan usulan perbaikan dengan pembuatan perencanaan pengadaan material dengan mempertimbangkan strategi pembangunan kapal berdasarkan zona pembangunannya. Diperoleh strategi pengadaan material yang dilakukan sebanyak 4 kali order.
Perancangan Sistem Kontrol Logika Fuzzy pada Manuver Nonlinier Kapal Perang Kelas Sigma (Extended) Dandy Haris Firdianda; Aulia Siti Aisjah; Agus Achmad Masroeri
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.843 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2710

Abstract

Ketidakmampuan sistem kontrol PID pada kapal perang kelas SIGMA model induk dalam mengatasi adanya perubahan gelombang secara tiba-tiba berpengaruh terhadap stabilitas manuver kapal  ketika berlayar pada perairan bebas. Semakin besar gangguan yang mengenai badan kapal berbanding lurus dengan besarnya error tracking yang dihasilkan. Pada pengembangan model terbaru dengan penambahan panjang dan lebar kapal, diperlukan adanya sistem kontrol yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan gangguan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merancang sistem kontrol logika fuzzy pada manuver nonlinier kapal perang kelas SIGMA. Perancangan dilakukan secara simulasi komputer menggunakan sistem kontrol logika fuzzy tipe Takagi Sugeno dengan masukan error heading dan yaw rate dan keluaran berupa sinyal rudder. Uji simulasi dilakukan  tanpa halangan dan gangguan, uji dengan gangguan tanpa halangan, uji dengan halangan tanpa gangguan dan uji dengan halangan dan gangguan.  Dilakukan perbandingan dengan menggunakan metode linier dimana metode tersebut tidak dapat menghasilkan respon kestabilan dan kekokohan terhadap gangguan gelombang setinggi 6 meter. Performansi manuver dengan kontrol logika fuzzy diperoleh jarak advance diameter dan tactical diameter sebesar 1,45 Lpp dan 1,72 Lpp dan telah sesuai dengan standar IMO (International Maritime Organization).
Pengaruh Desain Sistem Pegas pada Olah Gerak Piston dari Motor Bakar Gerak Linier Bersilinder Tunggal Setiono Prabowo; Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.406 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.3053

Abstract

Permasalahan pada linear engine adalah siklus kerja baliknya. Banyak cara untuk mengganti posisi piston dari chrankshaft pada conventional engine, saalah satunya menggunakan system pegas. Keunikan penggunaan pegas sebagai siklus kerja balik untuk linear engine ssatu silinder adalah defleksi dari pegas. Namun untuk daya yang kecil piston tidak dapat terdefleksi sempurna sampai titik mati bawah. Karena itu dibutuhkan kajian pada linear engine dengan menggunakan pegas sebagai siklus kerja baliknya,Terutama ketika piston tidak dapat terdefleksi sampai titik mati bawah. Solidwork cosmos motion dapat digunakan untuk menganalisa kajian ini. Model dari engine termasuk conventional dan linear engine sudah ada desain, perakitan dan disimulasikan pada piston dynamic. Beberapa data meliputi daya dan dimensi pegas sudah dilakukan sebelum simulasi. Pegas yang asli akan digantikan dengan pegas yang fleksibel dimana tersedia data base dari cosmos motion. Gesekan meliputi dalam kajian akan disimulasikan dengan dua body contact pada kondisi terlumasi. Hasilnya menunjukan olah gerak piston dari conventional engine dan linear engine seperti displacement, velocity dan acceleration sudah jelas berbeda. Pengaruh dari gesekan juga ada pada pada kajian ini. Namun, olah gerak piston pada linear engine berputar pada sumbu z.