cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Pengaruh Variasi Lama Waktu Hidrogenasi terhadap Pembentukan Metal Hidrida pada Paduan MgAl Nasrul Arif Pradana; Hariyati Purwaningsih
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.038 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2225

Abstract

Paduan berbasis magnesium (Mg) merupakan salah satu paduan yang dapat digunakan sebagai Hydrogen Storage Material. Pemaduan Magnesium dengan aluminium bertujuan untuk menurunkan energi aktivasi proses reaksi hidrogen dengan paduan Mg-Al. Paduan Mg-Al dengan komposisi Mg-42 at.% Al disintesa melalui proses milling dengan waktu 40 jam yang menghasilkan solid solution MgAl. Serbuk hasil milling disintering dengan temperatur 600oC dengan holding time selama 2 jam dalam lingkungan argon sehingga terbentuk fase Mg17Al12. Serbuk Mg17Al12 kemudian dihidrogenasi pada tekanan 1MPa, temperatur 4000C dengan variasi lama waktu hidrogenasi 1, 2 , dan 3 jam. Analisis difraksi sinar-X mengidentifikasi adanya faseMgH2 dengan perkiraan % wt sebesar  1.242%, 3.082% dan 4.2% setelah dilakukan proses hidrogenasi selama 1 , 2 dan 3 jam.
Proses Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun Nilam Dengan Pemanfaatan Gelombang Mikro (Microwave) Novita Setya Hernawati; Aprilia Budiarti; Mahfud Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.938 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.453

Abstract

Minyak daun nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering juga disebut dengan minyak eteris atau minyak terbang. Proses pembuatan minyak daun nilam  dapat dilakukan dengan destilasi air, destilasi uap-air dan destilasi uap. Untuk menaikkan harga jual minyak atsiri dan mengoptimalkan potensi minyak atsiri, maka perlu dilakukan usaha untuk menaikkan mutunya sehingga sesuai dengan standart mutu (SNI). Salah satu cara adalah memperbaiki teknik destilasi dan memperbaiki kondisi operasi agar proses distilasi dapat menghasilkan minyak atsiri dengan standart mutu yang berlaku. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang mikro (microwave), pertama daun nilam sebanyak 100 gram ditambahkan pelarut atau steam untuk variabel daun kering,untuk daun kering di labu distilasi  II diberi steam dari labu distilasi I yang bersuhu 100oC dan tekanannya ± 1 atm yang dialirkan ke labu distilasi II, sedangkan untuk daun  kering dengan penambahan pelarut kemudian memanaskan labu destilasi yang berisi daun nilam dengan mengatur daya pemanas dan suhu pada proses distilasi sesuai dengan variabel yang ditentukan. Kemudian menampung destilat dan memisahkan air dengan minyak menggunakan corong pemisah kemudian minyak disimpan ke dalam freezer, kemudian menganalisa minyak yang dihasilkan. Dari hasil penelitian diperoleh %rendemen minyak yang dihasilkan dengan menggunakan MDP lebih besar daripada menggunakan MDS untuk daun nilam utuh maupun daun nilam cacah (±2cm). Perlakuan daun cacah (±2cm) lebih baik secara kuantitas dibandingkan dengan perlakuan daun utuh. Dan % pactchouli alcohol pada daun nilam cacah lebih besar dibandingkan dengan daun nilam utuh.
Pembuatan Gliserol Karbonat Dari Gliserol Dengan Katalis Berbasis Nikel Oktarinda Damayanti; Yuanita Gustanti; Achmad Roesyadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.491 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.471

Abstract

Semakin berkembangnya penggunaan biodesel sebagai bahan bakar yang bersifat renewable mendorong bertambahnya jumlah gliserol di pasaran sebagai produk samping reaksi pembuatan biodesel. Upaya peningkatan nilai jual gliserol dilakukan dengan pengolahan gliserol menjadi produk turunannya, salah satunya gliserol karbonat. Gliserol karbonat memiliki fungsi sebagai bahan baku polimer, surfaktan, emulsifier dan sebagainya yang juga bersifat biodegradable. Gliserol karbonat dapat diperoleh melalui reaksi karboksilasi katalitik antara gliserol dengan urea. Reaksi ini dilakukan dalam reactor batch dilengkapi yang dilengkapi dengan pompa. Gliserol, urea dan katalis dimasukkan dalam reaktor, kemudian dipanaskan. Saat suhu operasi tercapai, pompa vakum dinyalakan vakum untuk mengeliminasi gas ammonia yang terbentuk sebagai produk samping. Penelitian ini diawali dengan seleksi 3 jenis katalis yakni Ni powder, Ni yang diambil dari NiCl2.6H2O dan Ni/γAl2O3, jumlah katalis yang digunakan dalam seleksi sebesar 3%  dengan suhu proses 150oC selama 4 jam. Hasil yang terbaik adalah katalis Ni/γAl2O3 dengan konversi gliserol 38,88% dan yield gliserol karbonat 23,56%. Kemudian dilakukan uji pengaruh jumlah katalis 1%, 3% & 5% dari berat gliserol dengan menggunakan Ni/γAl2O3. Hasil terbaik pada berat katalis 5% dengan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat 27,83%. Penelitian dilanjutkan dengan seleksi suhu proses antara 100oC, 125oC, 150oC, 175oC & 200oC. Pada seleksi ini terpilih suhu 150oC yang menghasilkan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat sebesar 27,83%. Berikutnya adalah mengetahui pengaruh waktu terhadap konversi gliserol dan yield gliserol karbonat dengan variable 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam dan 4 jam. Hasil terbaik diperoleh pada 4 jam proses dengan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat sebesar 27,83%.
Pembuatan Biodiesel Secara Batch Dengan Memanfaatkan Gelombang Mikro (Microwave) Rhesa Purnama Putra; Gria Armando Wibawa; Pantjawarni Priharini; Mahfud Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.714 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.472

Abstract

Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru atau bekas penggorengan melalui proses transesterifikasi, esterifikasi, atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat biodiesel dari minyak goreng secara batch melalui proses transesterifikasi dengan menggunakan radiasi mikrowave serta mempelajari berapa daya dan waktu optimal yang diperlukan untuk proses pembuatan biodiesel dengan radiasi microwave dengan katalis CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Dalam penelitian ini digunakan tiga variabel, yaitu daya (Watt);100,200,300,400, waktu (menit); 5,10,15,20 dan jenis katalis; CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Pada tahap persiapan menghitung volume minyak dan metanol yang akan dicampur. Kemudian mencampurnya didalam reaktor. Lalu mendinginkan campuran hingga terbentuk dua lapisan atas dan bawah dilanjutkan dengan melakukan pemisahan lapisan atas (biodiesel) dari lapisan bawah (gliserol). Adapun pada tahap analisis, biodiesel hasil reaksi transesterfikasi dianalisa untuk mendapatkan data yield metil ester, densitas, viskositas, dan flash point. Dari penelitian diketahui bahwa hasil yang didapatkan masih belum dapat memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan. Katalis CaO dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan katalis H2SO4 dan tanpa katalis. Kondisi operasi untuk menghasilkan kualitas yield biodiesel terbaik yaitu pada daya 200 Watt selama 20 menit dengan menggunakan katalis CaO. Yield biodiesel terbesar didapatkan yield sebesar 60,11 %.
Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium Sp.) dan Kapuk (Ceiba Pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi Bayu Erlangga Pramunditta; Ilman Tafdhila; Mahfud Mahfud; Pantjawarni Prihatini
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.895 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.504

Abstract

Saat ini pemanfaatan kapas dan kapuk masih terbatas penggunaannya dan seiring dengan berkembangnya teknologi yang ada saat ini penggunaan kapas dan kapuk mulai sering banyak yang ditinggalkan. Oleh karena hal tersebut perlu dipikirkan kembali penggunaan kapas dan kapuk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis yang lebih tinggi, diantaranya memanfaatkannya untuk pembuatan nitroselulosa. Tulisan ini menerangkan tentang pengaruh bahan baku selulosa pada proses pembuatan nitroselulosa dari bahan selulosa kapas dan kapuk dengan reaksi nitrasi, yang kedua pengaruh waktu reaksi, suhu reaksi, dan komposisi larutan asam terhadap kualitas nitroselulosa yang dihasilkan, dan yang ketiga perbandingan kualitas nitroselulosa yang dihasilkan dari selulosa kapas dan dari selulosa kapuk. Pada penelitian ini dibagi dalam dua tahapan yaitu tahap pembuatan nitroselulosa dan tahap pengujian ratio %nitroselulosa yang diperoleh dan kandungan gugus nitro dalam nitroselulosa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah diketahui bahwa bahan baku selulosa kapas menghasilkan % rasio nitroselulosa produk lebih besar apabila dibandingkan dengan % rasio yang dihasilkan oleh bahan baku selulosa kapuk. %Rasio nitroselulosa dari bahan kapas adalah 20-50%, sedangkan untuk bahan kapuk adalah 6-30%.  Untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 30 menit, suhu reaksi 15OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 45 ml. Sedangkan untuk variabel kapuk, untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 60 menit, suhu reaksi 5OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 30 ml.
Rancang Bangun Sistem Takeoff Unmanned Aerial Vehicle Quadrotor Berbasis Sensor Jarak Inframerah Bardo Wenang; Rudy Dikairono; Henny Utami
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.817 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.580

Abstract

Quadrotor merupakan salah satu Unmanned Aerial Vehicles yang memiliki banyak aplikasi diantaranya untuk pencarian dan penyelamatan, penjelajahan, pengawasan suatu ruangan, dan lain-lain. Untuk melakukan pekerjaan tersebut quadrotor harus memiliki sensor tersendiri yang mampu mendeteksi permukaan bawah/landasan (ground sensing) untuk keperluan hovering, takeoff dan landing. Pada tugas akhir ini dirancang sebuah sistem sensor jarak inframerah untuk kebutuhan takeoff quadrotor. Sensor jarak inframerah yang digunakan sebanyak empat buah yang diletakkan pada ujung masing-masing lengan quadrotor. Data jarak dari masing-masing sensor terhadap landasan yang terukur digunakan sebagai masukkan kontroler melalui proses ADC mikrokontroler. Kontroler yang dapat direalisasikan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kontroler pitch, kontroler roll, dan kontroler altitude. Keluaran berupa sinyal Pulse Width Modulation (PWM) untuk mengendalikan kecepatan putaran motor propeler quadrotor, sehingga quadrotor dapat melakukan mekanisme takeoff. Dari hasil percobaan, tugas akhir ini berhasil  menerbangkan quadrotor dan membuatnya melayang pada jarak 10 cm dengan eror lebih kurang 2 cm. Dengan kondisi kontrol gerakan gerakan putar sumbu z (yaw) diabaikan.
Rancang Bangun Inertial Measurement Unit Untuk Unmanned Aerial Vehicles “Quadrotor” Muhammad Alfiansyah; Rudy Dikairono; Pujiono Pujiono
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.89 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.583

Abstract

Teknologi robot udara quadrotor semakin berkembang pesat. Salah satu bagian yang marak dikembangkan adalah sensor orientasinya atau yang umum disebut sebagai Inertial Measurement Unit (IMU).  Permasalahan pada IMU yang umum terjadi antara lain adalah ketidakmampuan processing unit untuk mengolah data dengan cepat (output data rate rendah), beban komputasi yang tinggi (algoritma penggabungan data sensor yang berat), luaran Accelerometer ber-noise tinggi yang umumnya berasal dari getaran body UAV dan luaran Gyroscope yang mengalami drift. Pada tugas akhir ini diciptakan sebuah IMU menggunakan Mikrokontroller STM32F4 sebagai pemroses data dan metode determinasi oerientasi dengan representasi Direction Cosine Matrices sebagai  algoritma penyatuan data dan penentu luaran orientasi. Dari hasil pengujian menggunakan gimbal elektronik , Didapati RMS Error Statis paling kecil sebesar 1.030 (pitch), 0.060 (roll), 0.100 (yaw) dan RMS Error Dinamis paling kecil sebesar 1.930 (pitch), 1.790 (roll), 1.420 (yaw)
Pengaruh Variasi Temperatur Post Hydrothermal Terhadap Sensitivitas Sensor Gas Co Dari Material Wo3 Hasil Proses Sol Gel Agung Seras Perdana; Diah Susanti
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.537 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2190

Abstract

Gas karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak larut dalam air, tetapi beracun bila berikatan secara metabolis dengan darah ketika terhirup kedalam tubuh manusia.     Oleh karena itu diperlukan suatu alatberupa sensor untuk mendeteksi keberadaan gas CO secara dini untuk mengindari efek yang berbahaya bagi kesehatan.  Penelitian ini bertujuan mempersiapkan material WO3 sebagai sensor gas CO. Proses sintesa material WO3 dilakukan dengan metode sol gel menggunakan WCl6, ethanol, dan NH4OH. Chip sensor dibuat dari serbuk hasil proses post hydrothermal dengan variasi temperatur 160oC, 180oC dan 200oC selama 12 jam dikompaksi pada tekanan 150 bar dan dianil 300oC selama 1 jam. Proses karakterisasi material WO3 dilakukan dengan pengujian Scanning Electron Microscope (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD). Luas permukaan aktif diukur dengan Brauner Emmet Teller (BET), dan pengujian sensitivitas menggunakan alat Potentiostat sebagai Instrumen pengukur arus.     Hasil pengujian menunjukkan struktur kristal adalah monoklinik. Sensitivitas  naik seiring dengan kenaikan temperatur operasi, begitu juga dengan peningkatan konsentrasi gas. Nilai sensitivitas tertinggi adalah pada sampel temperatur 160oC dengan temperatur operasi 100oC dan konsentrasi gas 500 ppm.
Pengaruh Variasi Temperatur Kalsinasi Terhadap Sifat Kapasitif Kapasitor Elektrokimia Tungsten Trioksida (Wo3) Hasil Sintesa Sol Gel Augus Tino Tri Widyantoro; Diah Susanti
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.861 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2191

Abstract

Kapasitor elektrokimia mampu menjembatani kinerja kritis antara kapasitor konvensional dan baterai. Densitas energi kapasitor elektrokimia ratusan kali lebih besar daripada kapasitor konvensional sedangkan densitas dayanya ribuan kali lebih besar daripada baterai. Penelitian ini bertujuan untuk mempersiapkan material WO3 sebagai kapasitor elektrokimia. Material tungsten trioksida (WO3) dapat disintesa dari tungsten(VI) heksaklorida (WCl6) dengan  metode sol-gel dan kalsinasi. WO3 hasil sintesa tersebut dilapiskan pada substrat grafit kemudian dikalsinasi dengan variasi temperatur 300oC, 400oC, 500oC dan 600oC selama waktu tahan 1 jam. Dari hasil uji XRD diketahui struktur kristal WO3 temperatur kalsinasi 300oC adalah orthorombik sedangkan WO3 temperatur kalsinasi 400oC, 500oC dan 600oC adalah monoklinik. Dari hasil uji SEM didapatkan ukuran partikel yang semakin besar seiring kenaikan temperatur kalsinasi. Dari uji BET didapatkan luas permukaan aktif WO3 yang semakin kecil seiring kenaikan temperatur kalsinasi. Dari uji CV dihasilkan nilai kapasitif terbesar terdapat pada WO3 temperatur kalsinasi 300oC scan rate 2 mV/s yaitu sebesar 5991 mF/gr. Hal ini diperkuat dari hasil uji EIS yang menunjukkan bahwa WO3 temperatur kalsinasi 300oC memiliki nilai impedansi paling kecil sehingga sifat kapasitifnya paling baik.
Aplikasi Semikonduktor TiO2 dengan Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Kalsinasi sebagai Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) dengan Dye dari Ekstrak Buah Terung Belanda (Solanum betaceum) Maula Nafi; Diah Susanti
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.744 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2195

Abstract

Penelitian mengenai dye sensitized solar cell dilakukan dengan dye dari ekstrak buah terung belanda sebagai sumber energi alternatif dari tenaga surya. Dye sensitized solar cell (DSSC) dibuat dengan menggunakan semikonduktor TiO2 yang dilapiskan pada kaca konduktif Fluorine Doped Tin Oxide (FTO) dan dikalsinasi  dengan variasi temperatur 5500C, 6500C, dan 7500C, dengan waktu tahan 60 dan 120 menit pada tiap temperaturnya. Lapisan TiO2 pada substrat dikarakterisasi dengan menggunakan SEM dan XRD. Luas permukaan aktif diukur dengan pengujian BET. Hasil SEM menunjukkan ukuran bentuk partikel TiO2 berupa sphere. Hasil XRD menunjukkan struktur kristal TiO2 adalah body centered tetragonal. Luas permukaan aktif dibandingkan dengan hasil kelistrikan DSSC, yang selaras meningkat dari temperatur 5500C ke 6500C, namun menurun pada 7500C. Densitas arus dan voltase maksimum diperoleh pada variasi temperatur 650oC dengan waktu tahan 60 menit yaitu sebesar 0,356 mA/cm2 dan 593,1 mV. Efisiensi maksimum yang diperoleh sebesar 0,469208%. DSSC dimodifikasi dengan menambahkan pembungkus plastik, sehingga dapat memperlambat penurunan daya yang terjadi saat DSSC bekerja.