cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Kajian Nilai Tanah Berdasarkan Harga Pasar Menggunakan Metode Regresi Linier Berganda (Studi Kasus: Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya) Ratna Kusumawardhani; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.234 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17183

Abstract

Dalam menentukan besarnya nilai tanah terdapat suatu patokan atau dasar yang digunakan. Patokan atau dasar ini dibedakan menjadi NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) serta harga pasar. Namun, kebanyakan masyarakat saat ini lebih cenderung mengguuntuk menentuka besarnya nili tnakan harga pasar sebagai patokan dalam menentukan besarnya suatu nilai tanah ataupun dalam transaksi jual beli. Pembuatan peta zona nilai tanah ini dibedakan antara harga pasar dan pemodelan harga pasar. Menentukan nilai tanah dari harga pasar, dilakukan dengan wawancara langsung ke warga sekitar untuk mendapatkan data-data yang diperlukan. Setelah data yang diperlukan telah didapatkan, barulah dibuat peta zonasi nilai tanah sesuai data dasar yang digunakan. Dalam pembuatan peta zona nilai tanah ini menggunakan software pengolah data vektor untuk digitasi serta ArcGIS untuk menampilkan hasil. Pemodelan regresi linear dilakukan untuk mendapatkan suatu hasil pemodelan nilai tanah yang mendekati keadaan sebenarnya. Pada harga pasar ini didapatkan Y = 475193 + 381761X1 + 2149X2 + 317679X3 -157024 X4 + 1531512X5. Pengaruh variabel pada pemodelan harga pasar ini hanya sebesar 25,88%.
Analisis Suhu Permukaan Laut Untuk Penentuan Daerah Potensi Ikan Menggunakan Citra Satelit Modis Level 1B (Studi Kasus: Selat Bali) Latifatul zahroh; Bangun Muljo Sukojo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.152 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17185

Abstract

Selat Bali merupakan perairan yang terletak diantara Pulau Jawa dan Pulau Bali yang merupakan daerah potensial untuk bidang perikanan. Karena letaknya yang dipengaruhi oleh Laut Jawa dan Samudera Hindia ini menyebabkan perairan di Selat Bali mengandung banyak nutrien yang merupakan sumber makanan bagi ikan. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut perlu dilakukan pengembangan teknologi penginderaan jauh salah satunya dengan mengidentifikasi suhu permukaan laut (SPL). Suhu optimum antara 200C sampai 300C. SPL didapatkan dari pengolahan data dari citra satelit MODIS. Pengolahan SPL dilakukan menggunakan algoritma Minnet 2001. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada bulan April 2012 dengan rentang suhu antara 200C sampai 29,940C. Namun terjadi penurunan signifikan pada bulan Oktober 2012 karena menurunnya persebaran suhu yang sesuai dengan kriteria daerah potensi ikan yaitu dengan rentang suhu antara 20,060C sampai 29,340C. Sedangkan pada bulan Mei 2013 SPL cenderung tinggi yaitu pada rentang suhu antara 23,670C sampai 29,970C.
Pembuatan Peta Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor Dengan Menggunakan Metode Fuzzy Logic. (Studi Kasus : Kabupaten Probolinggo) Arief Yusuf Effendi; Teguh Hariyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2038.36 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17190

Abstract

Tanah longsor merupakan suatu aktivitas dari proses gangguan keseimbangan yang menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Adapun beberapa faktor-faktor penyebab terjadinya tanah longsor seperti curah hujan, lereng terjal, kepadatan tanah, jenis batuan, jenis tata lahan, dan adanya getaran. Daerah rawan akan timbulnya bencana tanah longsor dapat diidentifikasi dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan peta daerah rawan bencana tanah longsor dengan menggunakan parameter-parameter penyebab tanah longsor diantaranya curah hujan, jenis tanah, ketinggian, kemiringan lereng, dan tutupan lahan. Dari parameter tersebut akan diolah dan dilakukan analisa dengan menggunakan metode fuzzy logic, dimana fuzzy logic merupakan sistem cerdas yang dapat digunakan sebagai sistem kontrol dan pemecahan masalah yang dapat digunakan untuk mendeteksi daerah tanah longsor yang ada di Kabupaten Probolinggo. Dalam proses analisa tersebut dilakukan dengan cara menggunakan fitur spatial analysis tools berupa Overlay Fuzzy yang terdapat pada software ArcGIS. Kemudian akan didapatkan hasil berupa peta tingkat kerawanan tanah longsor yang memiliki 4 kelas kerawanan, diantaranya kelas kerawanan tidak rawan, kelas kerawanan rendah, kelas kerawanan sedang, dan kelas kerawanan tinggi.
Pengaruh Perubahan UU 32/2004 Menjadi UU 23/2014 Terhadap Luas Wilayah Bagi Hasil Kelautan Terminal Teluk Lamong antara Kota Surabaya, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Bangkalan Melisa Ayuningtyas; Khomsin Khomsin
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.185 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17191

Abstract

Batas laut adalah suatu pembatas kewenangan pengelolaan sumber daya di laut yang berupa rangkaian titik-titik koordinat yang diukur dari garis pantai. Kewenangan untuk pengelolaan sumber daya di laut diatur oleh Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 kemudian digantikan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Terdapat kondisi yang perlu diperhatikan saat pengukuran batas laut, yaitu posisi dari daerah yang berbatasan. Penarikan garis batas dilakukan dengan metode sama jarak (equidistance) untuk daerah yang berdampingan dan metode garis tengah (median line) untuk daerah yang berseberangan. Pada penelitian ini terdapat tiga alternatif penarikan batas terkait sengketa Pulau Galang, yaitu jika Pulau Galang dianggap tidak ada, jika masuk Kota Surabaya dan jika masuk Kabupaten Gresik. Diperoleh hasil tarikan batas yang berbeda pengaruh perubahan UU 32/2004 menjadi UU 23/2014 yang menghasilkan perubahan luas wilayah bagi hasil kelautan Terminal Teluk Lamong. Wilayah yang memperoleh bagi hasil kelautan hanya Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Perubahan luas wilayah bagi hasil Terminal Teluk Lamong terbesar dari perubahan UU yaitu 26,018 Ha pada alternatif jika Pulau Galang dianggap tidak ada dan perubahan terkecil yaitu 11,291 Ha pada alternatif jika Pulau Galang masuk Kabupaten Gresik.
Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015 Joko Purnomo; Ira Mutiara Anjasmara; Sulistiyani Sulistiyani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1282.268 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17196

Abstract

Gunung Merapi merupakan gunung api tipe A yaitu gunung api yang memiliki kegiatan magma dan erupsi tercatat sejak tahun 1600. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia. Hampir setiap periode Gunung Merapi mengalami erupsi. Periode ulang aktivitas erupsi berkisar antara 2 – 7 tahun. Untuk mengetahui kondisi gunung Merapi dilakukan beberapa metode pemantauan. Salah satu metode pemantauan Gunung Merapi yaitu dengan metode deformasi. Pemantauan deformasi yaitu pemantauan terhadap perubahan koordinat beberapa titik yang mewakili sebuah gunung api dari waktu ke waktu. Perhitungan deformasi pada penelitian ini dengan menggunakan data GPS CORS pengamatan Gunung Merapi pada stasiun KLAT, PLAW, DELS dan GRWH dengan titik ikat BPTK. Dari hasil pengolahan data GPS dengan GAMIT, didapat hasil nrms minimal adalah 0.231. nrms maksimal adalah 0.298, dan rata-rata nrms adalah 0.249. Sedangkan untuk pergeseran titik dari Januari hingga Juli 2015 memiliki nilai yang berbeda-beda pada setiap titik. Pada bulan Januari dan Februari pola dan arah pergeseran semua titik sama namun besar pergeseran berbeda. Begitu pula pada bulan Mei dan Juni pola dan pergeseran sama namun besar pergeseran berbeda. Untuk bulan lainnya pergeseran memiliki arah yang berbeda dengan besar yang berbeda juga.
Pembagunan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web Untuk Pemetaan Industri Kreatif Berbasis Budaya Di Kota Surakarta Agmalia Dwi Anggraeni; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.535 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17200

Abstract

Bila pada masa lalu sektor pertanian menjadi penggerak roda perekonomian yang dominan, pada masa kini kegiatan-kegiatan ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi juga menjadi penggerak perekonomian yang penting. Ekonomi berbasis kreatif dipresentasikan melalui industri kreatif yang bermodalkan ide-ide kreatif, talenta dan keterampilan serta ide-ide terbarukan. Kota Surakarta memiliki potensi industri kreatif yang dapat diandalkan, terutama industri kreatif yang berbasis budaya. Hal itu karena, Kota Surakarta sudah memiliki sejarah panjang di bidang kreatif seperti desain. Selain itu kultur budaya yang begitu kuat membuat seni pertunjukan berkembang pesat. Industri kreatif berbasis budaya di Kota Surakarta saat ini tersebar dihampir seluruh wilayahnya, kebanyakan industri dalam skala kecil (rumahan) sampai menengah. Untuk mengetahui persebaran industri kreatif berbasis budaya di Kota Surakarta, perlu dilakukan pemetaan. Agar mendapatkan hasil yang optimal dibutuhkan keterlibatan atau partisipasi dari masyarakat dalam pemetaaan persebaran industri kreatif berbasis budaya di Kota Surakarta. Pada penelitian ini dilakukan pembangunan Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis Web atau yang lebih dikenal sebagai WebGIS. Hasil dari penelitian ini adalah WebGIS Industri Kreatif Berbasis Budaya Kota Surakarta yang menyajikan informasi mengenai lokasi, atribut, serta industri kreatif berbasis budaya, serta dilengkapi dengan fitur untuk menambah lokasi dan atribut, memperbaiki atribut, dan mencari industri kreatif berbasis budaya.
Analisa Hubungan Perubahan Muka Air Laut Dan Perubahan Volume Es Di Kutub Selatan Dengan Menggunakan Satelit Altimetri (Studi Kasus : Laut Selatan Pulau Jawa Tahun 2011 - 2014) Luqman Hakim; Ira Mutiara Anjasmara
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.564 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17203

Abstract

Salah satu dampak perubahan iklim adalah perubahan permukaan air laut yang diakibatkan oleh mencairnya lapisan es utama dunia yaitu Kutub Utara dan Kutub Selatan. Fenomena perubahan muka air laut ini direpresentasikan dengan perubahan MSL (mean sea level). Efek dari kenaikan muka air laut secara signifikan juga dirasakan oleh penduduk Indonesia yang mayoritas penduduknya berada di pesisir. Perubahan muka air laut dapat diamati menggunakan sistem satelit Altimetri. Salah satunya adalah misi satelit Altimetri Jason-2. Perubahan volume es juga dapat diamati dengan sistem satelit Altimetri yaitu melalui misi satelit Altimetri Cryosat. Dalam Penelitian ini, pemantauan perubahan muka air laut dilakukan pada perairan selatan Jawa dalam kurun waktu 4 tahun (2011-2014) dengan mengambil 3 titik pengamatan yaitu Perairan Cilacap, Sadeng dan Prigi. Sedangkan untuk wilayah pengamatan volume es dilakukan pada daerah Kutub Selatan (Antartika) pada waktu yang sama. Hasil pengolahan data menunjukkan tren perubahan muka laut di selatan pulau Jawa sebesar -3.2 mm/tahun. Sedangkan untuk tren perubahan volume es di Kutub Selatan adalah sebesar 206.069 km3/tahun. Hubungan antara nilai perubahan muka air laut dan perubahan volume es di Kutub Selatan memberikan nilai korelasi sebesar 0.04444. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa antara tren perubahan muka laut di Selatan Jawa dan perubahan volume es di Kutub Selatan mempunyai hubungan yang lemah.
Analisis Sebaran Konsentrasi Suhu Permukaan Laut Dan pH Untuk Pembuatan Peta Lokasi Budidaya Kerapu Bebek Menggunakan Citra Satelit Landsat -8 (Studi Kasus: Teluk Lampung, Lampung) Fitriana Kartikasari; Lalu Muhamad Jaelani; Gathot Winarso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.569 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17206

Abstract

Suhu permukaan laut dan pH merupakan parameter kualitas air yang memiliki peranan sangat penting untuk kelangsungan budidaya ikan kerapu bebek karena dapat mempengaruhi metabolisme pertumbuhan ikan. Salah satu perairan di Indonesia yang memiliki potensi sebagai lokasi budidaya kerapu bebek adalah Teluk Lampung. Dijelaskan dalam Standart Nasional Indonesia (SNI) 6487.4:2011 tentang “Produksi Pembesaran Ikan Kerapu Bebek di Keramba Jaring Apung (KJA)”, suhu permukaan laut dan pH merupakan parameter yang mempengaruhi kualitas air laut. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk menentukan sebaran suhu permukaan laut adalah penginderaan jauh menggunakan citra satelit Landsat-8. Hal ini dikarenakan citra Landsat-8 dapat bekerja pada gelombang tampak (visible spectrum) dimana terdapat kanal– kanal yang dapat digunakan untuk mengekstrak konsentrasi suhu permukaan laut di perairan. Sebaran estimasi suhu permukaan laut di perairan Teluk Lampung ditentukan menggunakan algoritma Syariz [8], sedangkan sebaran konsentrasi pH ditentukan menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW). Kondisi suhu permukaan laut dan pH di perairan Teluk Lampung sudah cukup sesuai dengan batas nilai yang tercantum dalam SNI 6487.4:2011 untuk dijadikan sebagai lokasi budidaya kerapu bebek. Sebaran suhu permukaan laut menunjukkan dominasi nilai 26,05-30,05 ˚C dan pH menunjukkan dominasi nilai 7,000–13,99. Berdasarkan hasil intersect terhadap sebaran suhu permukaan laut dan pH di perairan Teluk Lampung, didapatkan wilayah perairan seluas 85.334,41 ha yang dapat digunakan sebagai lokasi budidaya kerapu bebek.
Analisa Ketelitian Geometrik Citra Satelit Pleiades 1A Metode Orthorektifikasi Rigorious sebagai Dasar Pembuatan Peta Desa (Studi Kasus: Kelurahan Kenjeran) Hanif Khoirul Latif; Bangun Muljo Sukojo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.733 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17207

Abstract

Peta desa merupakan peta tematik bersifat dasar yang berisi unsur dan informasi batas wilayah, infrastruktur transportasi, toponim, perairan, sarana prasarana, penutup lahan dan penggunaan lahan yang disajikan dalam peta citra, peta sarana dan prasarana, serta peta penutup lahan dan penggunaan lahan. Data citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Pleiades 1A. Metode koreksi geometrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah orthorektifikasi metode rigorious. Digunakan 8 Ground Control Point (GCP) yang didapatkan dari pengukuran GPS geodetik dengan metode statik dengan lama pengamatan 60 menit tiap titik. Digunakan 12 Independence Check Point (ICP). Hasil dari penelitian ini adalah bahwa citra satelit Pleiades 1A Menurut Perka BIG No. 3 Tahun 2016 Tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa layak untuk digunakan dalam pebuatan peta citra Desa/Kelurahan Kenjeran dengan skala 1:5000 dengan kelas ketelitian 3.
Studi Perbandingan Total Station dan Terrestrial Laser Scanner dalam Penentuan Volume Obyek Beraturan dan Tidak Beraturan Reza Fajar Maulidin; Hepi Hapsari Handayani; Yusup Hendra Perkasa
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.759 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17211

Abstract

Bidang teknik sering membutuhkan penentuan volume, bahkan penentuan volume juga berpengaruh dalam bidang lain seperti bidang perekonomian serta digunakan dalam berbagai riset. Penentuan volume dalam geodesi dibantu alat ukur yang teknologinya terus berkembang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil penentuan volume dari dua alat ukur dengan teknologi berbeda, Total Station (TS) dan Terrestrial Laser Scanner (TLS) sebagai teknologi terbaru. Kemudian dilakukan uji ketelitian dari hasil tersebut serta beberapa analisa pada setiap proses sebelum nilai volume didapatkan. Dalam penelitian ini dilakukan penentuan volume dengan TS dan TLS pada obyek berbentuk beraturan (kontainer) sebagai obyek 1 dan tidak beraturan (bukit kapur) sebagai obyek 2. Pengukuran volume menggunakan dua metode pengukuran, yakni tachymetri untuk alat ukur TS dan Terrestrial Laser Scanning untuk alat ukur TLS. Analisa dilakukan dengan uji ketelitian koordinat Independent Check Point (ICP) dan hasil volume dari Terrestrial Laser Scanner dengan acuan hasil dari Total Station sebagai teknologi terdahulu. Berdasarkan uji statistik t-student kepercayaan 90% yang telah dilakukan pada ICP obyek 1 sumbu X semua koordinat diterima, sedangkan sumbu Y dan Z terdapat masing-masing 2 koordinat yang ditolak. Pada ICP obyek 2, pada sumbu X dan Z terdapat masing-masing koordinat yang ditolak, sedangkan untuk sumbu Y terdapat 2 koordinat yang ditolak. Terdapat 8 sampel yang ditolak dari 36 sampel atau 77.78% sampel uji diterima. Berdasarkan uji statistik t-student yang telah dilakukan pada volume, semua nilai volume diterima. Dari hasil analisa terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang cukup berarti/signifikan antara kedua alat ukur dalam hal ketelitian koordinat ICP maupun volume.

Page 38 of 398 | Total Record : 3978