cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Perancangan Suvenir Museum Sepuluh Nopember dengan Tema Memori Perjuangan Pahlawan Surabaya Ilham Zulfikar Firmasnyah; Senja Aprela Agustin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.61087

Abstract

Museum Sepuluh Nopember yang bertempat di Kawasan Monumen Tugu Pahlawan merupakan salah satu destinasi wisata pendidikan kota Surabaya yang memiliki koleksi bukti fisik dan narasi peristiwa sejarah peperangan 10 Nopember 1945. Peningkatan jumlah pengunjung museum tiap tahunnya tidak diimbangi dengan tersedianya suvenir yang berkualitas dan dibutuhkan pengunjung. Selain menjadi oleh-oleh, suvenir memiliki peran sebagai media alternatif promosi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan berkunjung dan mempelajari sejarah di Museum Sepuluh Nopember. Dari fenomena tersebut maka dibutuhkan sebuah perancangan suvenir Museum Sepuluh Nopember. Metode perancangan diawali dengan observasi langsung ke Museum Sepuluh Nopember, melakukan depth interview terhadap stakeholder museum dan pengelola suvenir, kuisioner untuk menentukan target segmentasi, studi eksisting kompetitor komparator, dan mengkaji beberapa literatur ilmu yang bersangkutan. Metode desain dimulai dengan pembuatan konsep dasar, kemudian ekplorasi visual untuk menghasilkan luaran ilustrasi dengan gaya Ligne Claire dan di impelementasikan pada beberapa media suvenir berupa kaos, kemeja, jaket, totebag, aksesoris, dan juga media pendukung seperti kemasan dan hangtag merek, serta stiker digital. Perancangan ini diharapkan dapat memberikan solusi pada salah satu media alternatif promosi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan berkunjung ke Museum Sepuluh Noepmber dan juga sebagai salah satu media edukatif mengenai sejarah perjuangan pahlawan di Surabaya bagi para pengunjung.
Perancangan Film Pendek Fiksi Layang Angkara Adaptasi Kisah Pewayangan Jawa Dewa Ruci dan Air Kehidupan sebagai Upaya Pelestarian Budaya Rizka Acrylina Taufani; Senja Aprela Agustin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.61299

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa dan budaya yang sangat luas. Kebudayaan memiliki peran dan fungsi sebagai karakter atau identitas yang membentuk suatu bangsa sehingga harus dilestarikan. Budaya wayang dan kisah Pewayangan Dewa ruci mengandung pesan dan ajaran kebatinan dan pedoman yang digunakan masyarakat Jawa hingga kini. Pesan dan nilai yang terkandung kemudian diadaptasi menjadi media film pendek. Tahapan dalam proses perancangan ini dimulai dengan melakukan analisis dan observasi terhadap media eksisting dan studi literatur yang berkaitan dengan unsur naratif dan sinematik yang diterapkan. Melakukan eksplorasi yang dilengkapi dengan depth interview sebagai landasan menyusun unsur-unsur film dalam perancangan ini. Melakukan tahap pra-produksi, produksi, dan paska-produksi sesuai dengan kaidah dalam pembuatan film. Luaran dari perancangan ini adalah sebuah film pendek berdurasi 17 menit dengan pendekatan fiksi beserta media pendukung lainnya yang dikemas dengan latar belakang seorang laki-laki yang terjebak dalam arus urbanisasi di lingkungannya sebagai salah satu upaya pelestarian budaya Indonesia dengan mengangkat pesan dan nilai moral yang terkandung melalui adaptasi dari kisah Pewayangan Jawa Dewa Ruci sebagai salah satu upaya pelestarian.
Desain Workstation Pengambilan sampel darah untuk laboratorium rumah sakit A-B Hanifa Fi Mardlotillah; Taufik Hidayat; Ari Dwi Krisbianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.61188

Abstract

Laboratorium mempunyai tanggung jawab penting sebagai penunjang pelayanan medis di rumah sakit dan diperkirakan memegang peranan sekitar 60-70% terutama dalam hal penegakan diagnosis, tindak lanjut pengobatan, monitoring, keputusan rawat inap serta pasien pulang. Itensitas pengambilan sampel darah perbulannya dapat mencapai 1500 pasien untuk sekelas laboratorium klinik Rumah Sakit tipe B, dan dapat mencapai lebih dari 1500 pasien untuk sekelas laboratorium klinik Rumah Sakit tipe A. Hal ini dikarnakan Rumah Sakit tipe A dan B adalah tingkat fasilitas kesehatan (Faskes) tertinggi dalam sistem rujukan. Dikarenakan tingginya intensitas pasien perhari para Analis medis dituntut untuk memberikan pelayanan cepat dalam kondisi critical hours, akurat, mengerjakan aktivitas sesuai Standar Operational Procedure dan memberikan pelayanan yang nyaman untuk pasien. Oleh karna itu, untuk menunjang tuntutan pelayanan Laboratorium klinik di tingkat Rumah Sakit tipe A dan B dibutuhkan Workstation/Stasiun kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan, pola perilaku kerja, prioritas penyimpanan sehingga mampu memberikan kenyamanan kerja bagi user operator dan juga menimbulkan good habits yang selanjutnya akan berpengaruh secara signifikan dalam mencapai tuntutan pelayanan.
Re-desain Interior Art Gallery dengan Konsep Rekreatif Edukatif Kontemporer Bernuansa Surabaya Khusnul Chotimah; Nanik Rachmaniyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.59687

Abstract

Galeri adalah selasar atau tempat, dapat pula diartikan sebagai tempat yang memamerkan karya seni tiga dimensional karya seorang atau sekelompok seniman atau bisa juga didefinisikan sebagai ruangan atau gedung tempat untuk memamerkan benda atau karya seni (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Art Gallery ini merupakan salah satu galeri seni di Surabaya yang saat ini semakin terkikis oleh perkembangan jaman karena kurangnya promosi dan branding ditambah dengan kurangnya minat masyarakat terutama remaja untuk berkunjung ke galeri seni. Selain itu kondisi bangunan yang terbatas dan tergolong sudah tua, serta interior yang kurang menarik menjadi penyebab utama pengunjung galeri ini terus mengalami penyusutan. Untuk itu diperlukan upaya perubahan dan pengembangan melalui redesain galeri ini. Dilakukan riset dengan beberapa metode yaitu dengan survey ke lokasi galeri, pembagian kuisioner kepada pengunjung dan wisatawan yang sudah pernah berkunjung ataupun masyarakat umum, pengumpulan literatur, analisa konsep desain, pembuatan konsep, alternatif konsep, gambar kerja, dan hasil akhir 3D. Hasil dari metode ini menunjukkan konsep yang mampu menjawab permasalahan yang terjadi pada galeri. Konsep yang dihadirkan menciptakan suasana yang tidak membosankan dengan penataan layout yang dinamis dan penggunaan furniture yang interaktif dan informatif, namun tetap menghadirkan sentuhan Surabaya pada elemen interior sebagai ciri khas galeri guna menarik minat pengunjung terutama generasi muda dan wisatawan. Maka dari itu mendesain ulang Art Gallery dengan interior yang rekreatif, edukatif, kontemporer dan bernuansa Surabaya, akan menjadi solusi dalam menarik minat masyarakat untuk kembali berkunjung ke galeri ini, sehingga aktivitas seni di Indonesia utamanya di Surabaya dapat bangkit kembali.
Arsitektur Metafora Sebagai Pendekatan Desain Gedung Pusat Komunitas Seni Tari Tradisional Papua Juan Carlos Rivaldo Sawias; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.60893

Abstract

Papua merupakan salah satu pulau di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seni dan budaya. Beberapa jenis seni dan budaya tersebut antara lain berupa tarian tradisional, baju tradisional, rumah tradisional dan masih banyak lagi. Kekayaan seni dan budaya tersebut perlu dipertahankan dengan terus memperkenalkannya kepada masyarakat. Upaya pelestarian yang dapat dilakukan salah satunya adalah mewadahi para pegiat seni agar mampu mengekspresikan identitas seni dan budaya. Gedung pusat komunitas seni tari tradisional Papua dirancang untuk mewadahi aktivitas para pegiat seni tari seperti latihan koreografi tari tradisional, menampilkan tari tradisional, membuat cinderamata khas papua, membuat baju dan alat musik khas Papua. Perancangan gedung pusat seni tari tradisional Papua menggunakan pendekatan Arsitektur Metafora. Pendekatan ini digunakan untuk menganalogikan bentuk alat musik tradisional Papua, gerakan tarian adat Papua, dan atribut pendukung tarian adat Papua kedalam desain bangunan. Penerapannya dapat terlihat pada bentuk atap, fasad, struktur dan desain amfiteater sebagai salah satu ruang ekspresi utama bangunan. Kehadiran gedung pusat komunitas seni tari tradisional Papua diharapkan dapat menjadi wadah, fasilitas, sarana dan prasarana bagi komunitas dan masyarakat kota Sorong dalam melestarikan seni dan budaya Papua khususnya tari tradisional.
Narasi ‘Blindness’ pada Perancangan Pusat ‘Edutainment’ Berbasis Multisensori Akira Nuril Shafira; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.61505

Abstract

Blindness atau ketunanetraan merupakan salah satu bentuk disabilitas fisik yang hingga saat ini masih cenderung dipandang negatif, terutama di lingkungan masyarakat. Pemahaman negatif ini timbul karena masyarakat pada umumnya memiliki pola pikir, mendefinisikan, serta memperlakukan penyandang disabilitas berdasarkan konsep normalitas yang berimplikasi pada sikap ableisme terhadap penyandang tunanetra yang memiliki keterbatasan penglihatan. Oleh karena itu, penyandang tunanetra harus menghadapi berbagai macam bentuk hambatan ketika berada di lingkungan dan bangunan. Arsitektur dan lingkungan terbangun yang mewadahi aktivitas pengguna seringkali dirancang dengan elemen visual sebagai fokus utamanya, sehingga menimbulkan terjadinya sebuah fenomena yang disebut bias visual pada arsitektur atau ocularcentrism. Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman ‘blindness’ secara narasi di lingkungan binaan doteralam dalam konsep perancangan bangunan edukasi dan entertainment (Edutainment). Konsep perancangan bangunan ‘Edutainment’ adalah memberikan peluang pengguna mengalami arsitektur berbasis multisensory untuk berbagai aktivitas, antara lain belajar, bermain, serta bersosialisasi. Disamping itu, pengguna dapat memaknai ruang arsitektur dengan mengunakan semua indera selain indera penglihatan.
Penerapan Pendekatan Critical Regionalism dalam Desain Baru Museum Empu Tantular Arifanda Haris Sukatnianto; Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.62032

Abstract

Pada era globalisasi sekarang banyak budaya daerah mulai tergerus dikarenakan banyak budaya luar mulai masuk kedalam bangsa Indonesia.Dari permasalahan tersebut,maka budaya daerah perlu dilestarikan.Salah satu cara melestarikan budaya lewat arsitektur adalah dengan membuat bangunan Museum.Salah satu museum di Indonesia adalah museum Empu Tantular,museum ini menyimpan berbabagai peninggalan sejarah,salah satunya adalah peninggalan majapahit yang terletak di luar wilayah trowulan.Namun identitas bentuk bangunan pada museum ini yang berangkat dari regionalisme daerah masih belum bisa mengatasi permasalahan dalam tren globalisasi saat ini yang menyebabkan museum ini kurang menarik untuk dijadikan daya tarik wisata edukasi kota oleh pengunjung.Maka dari itu redesain museum Empu Tantular melalui pendekatan critical regionalisme bertujuan membuat bentuk museum tetap memiliki aspek arsitektur regional yang bisa sesuai dengan tren arsitektur global saat ini.
Selebrasi Aspek Efemeral dalam Arsitektur pada Ekshibisi Multi Agama Rifdha Cahyadistika; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.62221

Abstract

Meski kematian merupakan sesuatu yang alamiah dan pasti terjadi dalam kehidupan, hal tersebut tidak menghalangi hasrat dan obsesi manusia untuk menaklukkannya (Denial of Death). Sepanjang perjalanan hidupnya manusia selalu mencari cara untuk meninggalkan sebuah jejak/legacy agar selalu diingat, dan arsitektur hadir sebagai salah satu cara bagi manusia untuk memanifestasikan keinginannya menjadi abadi. Hal ini menjadikan arsitektur memiliki sebuah formalitas yang identik dengan kepermanenan dan kekokohan, dan menjadi penanda bahwa yang baik dan mempunyai arti, juga berdampak lebih besar adalah bangunan yang kekal. Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang cukup utopis dan susah diwujudkan, sehingga timbul pertanyaan apakah konsep keabadian masih relevan di masa kini? Bagaimana jika manusia mulai menerima ke-mortal-an dirinya, bahkan merayakannya? Melalui pertanyaan tersebut, rancangan ini berusaha mengkonstruksi sebuah produk arsitektur, dimana konsep – konsep efemeral disuntikkan dalam elemen rancang bangunan, mulai dari program ruang hingga eksplorasi material. Untuk mencapai tujuan diatas, rancangan akan difokuskan pada beberapa aspek rancang, yaitu konsep sebagian bangunan berupa instalasi yang bisa runtuh (deteorisasi dan deformasi) dan peleburan fungsi museum dan tempat ibadah. Hasil dari aspek rancang tersebut kemudian akan menghasilkan skenario dialog aktivitas dan ruang yang menarik, sehingga diharapkan ketika pengunjung selesai mengunjungi bangunan akan terbentuk persepsi penerimaaan akan mortalitas dalam dirinya.
Aplikasi Prediksi Kebangkrutan Menggunakan Metode Altman Z-Score pada Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Konsumsi Nur Jihan Salsabiila; Ayu Rizky Nurlaili; Herlinda Dwi Septianti; Anisa Tri Okweningtyas; Dwi Oktavianto Wahyu Nugroho
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i1.62541

Abstract

Perkembangan perekonomian Indonesia yang terus berkembang termasuk diantaranya adalah sektor barang konsumsi. Kesehatan keuangan perusahaan dapat dilihat dari kondisi kinerja keuangan yang tercantum di laporan keuangan. Jika terjadi masalah pada keuangan perusahaan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kebangkrutan. Salah satu cara mengukur tingkat kebangkrutan perusahaan adalah dengan menggunakan Altman Z-score. Pentingnya perusahaan mendeksi kebangkrutan dini mendorong peneliti untuk membuat aplikasi prediksi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur yang tercatat dalam BEI. Variabel yang digunakan untuk membantu analisis pada pada aplikasi adalah variabel modal kerja, EBIT, Laba ditahan, nilai pasar modal, penjualan bersih. Pembuatan aplikasi rencananya akan menggunakan bantuan Rstudio Hasil prediksi menggunakan Altman Z-score menghasilkan akurasi 75%. Harapannya dengan adanya aplikasi ini dapat membantu perusahaan manufaktur terutama sektor barang konsumsi untuk bisa mendeteksi kebangkrutan sejak dini.
Analisis Dominasi Keparahan Korban Menurut Perilaku Pengemudi dan Wilayah Hukum Rayon Provinsi Jawa Timur Rizma Nuriza; Mutiah Salamah Chamid
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i1.62615

Abstract

Provinsi Jawa Timur menyumbang jumlah kecela-kaan lalu lintas terbanyak di Indonesia selama lima tahun terakhir dengan rata-rata 23.677 kejadian per tahun, yang mana menimbulkan korban baik itu luka ringan, luka berat, maupun meninggal dunia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui perilaku pengemudi dan wilayah hukum rayon mana yang dominan dalam menyebabkan korban laka lantas pada tingkat keparahan tertentu menggunakan analisis korespondensi. Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan analisis yang telah dilakukan adalah korban luka ringan cenderung dominan disebabkan perilaku pengemudi kategori mendahului kendaraan lain, melewati batas kecepatan, dan perilaku lain-lain (seperti berbalapan, berboncengan lebih dari 2, dll), serta cenderung terjadi di wilayah Rayon I, Rayon IV, Rayon VI, dan Rayon VII. Korban luka berat cenderung dominan disebabkan oleh perilaku pengemudi melanggar marka dan rambu. Korban meninggal dunia tidak ada kecenderungan dengan perilaku pengemudi, namun cenderung dominan terjadi pada wilayah Rayon II dan Rayon III.