cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2009)" : 17 Documents clear
AUSPOS ON-LINE GPS DATA PROCESSING IN DETECTING CRUSTAL DISPLACEMENTS DUE TO 2005 NIAS EARTHQUAKE Agustan, Agustan
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1258

Abstract

The development of on-line GPS data processing nowadays is promising to be used. Therefore, it is necessary to assess the on-line GPS data processing by comparing the results to scientific GPS data processing. The 8.7Mw earthquake on 28th March 2005 in Nias Island displaced northern part of Sumatra Island. It includes small islands in the western part of Sumatra. To detect these displacements, GPS campaigns have been conducted in Simeulue Island, Nias Island and Siberut Island. These GPS data are processed by using AUSPOS facilities. A root mean square (RMS) is used as a quality indicator in GPS data processing. The results show that on-line GPS processing can be used as a tool to process GPS data to detect crustal displacements due to a big earthquake.
ANALISA PERUBAHAN GARIS PANTAI MUARA MERICAN DAN TANJUNG LANTERA DI DESA RANTEREIJO KABUPATEN PEKALONGAN PROPINSI JAWA TENGAH Setiawan, Ho Putra
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1259

Abstract

Kabupaten Pekalongan adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah Ibu Kotanya adalah Kanjen. Kabupaten Pekalongan terdiri dari 19 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 270 desa, dan 13 Kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kanjen. Luas Kabupaten Pekalongan adalah 836,13 km2, jumlah penduduk 891,442, serta Kepadatan Penduduk 979 jiwa / km2. Sedimentasi juga dapat dilihat di Rantereijo (terutama di Muara Merican dan di Tanjung Lantera ) sejauh 1,4 Km. Kontur dasar laut dan kontur daratan sekitar Muara Merican dan Tanjung Lantera terdapat kelandaian pantai sampai pada jarak 50 meter dari garis pantai bagian utara pulau mempunyai kedalaman 1,0 – 1,5 meter, sedangkan kedalaman perairan yang agak jauh dari garis pantai yaitu sekitar 100 sampai 110 meter, kedalaman perairannya mencapai 10 – 11 meter. Semakain ke Timur kondisi garis pantai semakin landai dimana kedalaman perairan tersebut dicapai pada jarak yang semakin jauh dari garis pantai. Angin dominan berhembus dari arah barat sebesar 19.226 kali atau sebesar 23,76% dengan kecepatan 0-7 knot dan dari arah Utara sebanyak 16.3756 kali atau sebesar 18,47%. Perhitungan tinggi dan durasi gelombang Hs = 0,01616 UA . F1/2 dan Ts = 0,6238 (UA . F)1/3 didapat tinggi gelombang (H) arah Barat 1,61 meter dengan durasi (T) 6,31 detik dan (H) arah Utara 2,72 meter dengan durasi (T) 5,85 detik. Dari pengamatan peta (1997 dan 2002) didapatkan hasil berupa perubahan garis pantai (setelah 5 tahun) dengan angka yang terjadi erosi (arah gelombang Barat) yaitu pada titik pias 6 (-4,556) maksimal dan titik pias 7 (-3,152) minimal, adapun sedimentasi terjadi pada titik pias 51 (90,990) maksimal dan titik pias 18 (22,778) minimal. Sedangkan erosi (arah gelombang Utara) yaitu pada titik pias 72 (-14,403) maksimal dan titik pias 67 (-0,375) minimal, serta sedimentasi terjadi pada titik pias 15 (17,750) maksimal dan titik pias 8 (0,044) minimal. Akan tetapi juga terdapat garis pantai yang tidak mengalami perubahan yaitu pada titik pias 15 (arah gelombang Barat). Berdasarkan data-data dan hasil analisa yang telah diperoleh maka pada daerah pantai Muara Merican dan Muara Tanjung Lantera di pilih bangunan pelindung pantai dapat berupa kombinasi antara Jetty maupun Groin.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANGKUTAN KOTA SURABAYA DENGAN SISTEM INTERAKTIF Hariyanto, Teguh; Sarmuji, Sarmuji
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1260

Abstract

Penggunaan angkutan umum, terutama Angkutan Kota dan Bus Kota di Surabaya dinilai sangat penting karena dapat menjangkau berbagai fasilitas publik secara langsung. Angkutan Kota merupakan salah satu bentuk alat transportasi publik yang menggunakan kendaraan kecil. Pengguna jasa Angkutan Kota sebagian besar adalah golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tidak mempunyai kendaraan pribadi dan yang masih awam terhadap kondisi lalu lintas Kota Surabaya. Padahal dalam aktivitas sehari-harinya berhubungan dengan kondisi lalu lintas tersebut. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem (berbasiskan komputer) yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek atau fenomena-fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting untuk dianalisis SIG diperlukan untuk memudahkan dalam penyampaian informasi tentang jalur angkutan umum, jangkauan trayek, maupun fasilitas umum yang dilalui oleh angkutan umum Kota Surabaya. Pengembangan SIG ini ditujukan kepada masyarakat umum yang dalam kesehariannya menggunakan jasa angkutan umum untuk kegiatan transportasi intra kota, khususnya masyarakat yang baru pertama kali datang ke Kota Surabaya. Pengembangan SIG ini didesain secara interaktif, sederhana, dan  mudah digunakan (easy usefully) dengan maksud supaya program ini nantinya dapat bermanfaat bagi sistem transportasi angkutan umum di Kota Surabaya.
KAJIAN PEMBUATAN PETA DASAR PENDAFTARAN DENGAN CITRA SATELIT QUICKBIRD (STUDI KASUS KANTOR PERTANAHAN KAB. JEMBER) Ayunita, Putri; Taufik, Muhammad; Dariatna, Dadat
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1261

Abstract

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 (PMNA/KBPN 3/1997) pasal 142 ayat 1 menyebutkan Peta Pendaftaran dibuat dengan memetakan hasil pengukuran bidang tanah pada peta dasar pendaftaran. Sedangkan pada peraturan yang sama pasal 12 ayat 1 menyebutkan bahwa pengukuran dan pemetaan untuk pembuatan Peta Dasar Pendaftaran diselenggarakan dengan cara terestrial, fotogrametrik atau metode lainnya. Kemajuan dalam bidang penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk salah satu alternatif cara dalam pembuatan Peta Dasar Pendaftaran. Salah satu contohnya adalah pemakaian citra satelit Quickbird, yaitu citra satelit resolusi tinggi (High Resolution Satellite Imagery/HRSI) yang mampu menghasilkan peta dengan ketelitian sampai dengan 0.61 meter. Analisa dilakukan untuk menentukan data kualitatif dan kuantitatif dari citra satelit Quickbird Pansharpened tahun perekaman 2004 sekitar kelurahan Baratan, kecamatan Patrang Kabupaten Jember sesuai dengan standarisasi Badan Pertanahan Nasional. Rata-rata perbedaan jarak yang didapatkan antara pengukuran langsung dilapangan dengan citra sebesar 0,49 m. Berdasarkan Pasal 17 PMNA/KBPN 3/1997 mengatur bahwa peta dasar pendaftaran dapat dibuat dengan menggunakan peta lain dengan ketelitian planimetris lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta. Jadi citra ini hanya dapat dibuat untuk peta dasar pendaftaran skala 1:2500 atau lebih kecil. Oleh karena itu, citra satelit Quickbird diharapkan menjadi peta pendaftaran tunggal yang dapat dilakukan secara menyeluruh di suatu wilayah yang lain.
MODEL PENDUGAAN NILAI TANAH DI KAWASAN JALUR LINGKAR UTARA KOTA PROBOLINGGO (Studi Kasus : Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo) Ariyani S, Dian; Yuwono, Yuwono
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1262

Abstract

Suatu perkembangan kota yang ditandai dengan pembangunan prasarana, dimana salah satunya adalah prasarana transportasi yang berupa jalan, tentunya akan memberikan pengaruh terhadap perubahan nilai tanah disekitarnya. Kota Probolinggo telah melakukan suatu usaha pengembangan prasarana transportasi yang berupa perencanaan Jalur Lingkar Utara (JLU), dimana keberadaan jalur tersebut nantinya akan berpengaruh terhadap kemudahan pencapaian/pola jaringan transportasi di kawasan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan perubahan nilai tanah di kawasan tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya suatu model pendugaan nilai tanah untuk dapat menentukan besarnya nilai tanah dan mengetahui karakteristik nilai tanah dilihat dari variabel penentu nilai tanah yang diduga mempengaruhi nilai tanah di kawasan sekitar Jalur Lingkar Utara (JLU) Kota Probolinggo. Adapun variabel penentu nilai tanah yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah luas tanah sebagai faktor fisik, status kepemilikan tanah dan penggunaan lahan sebagai faktor legal dan jarak terhadap pusat kota, jarak terhadap pasar induk, jarak terhadap lokasi pelabuhan serta jarak terhadap lokasi industri dan pergudangan sebagai faktor lokasi dan aksesbilitas. Analisa yang digunakan adalah analisa regresi dengan peubah boneka karena dalam analisa yang dilakukan terdapat variabel dengan jenis data kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari analisa regresi tersebut untuk model pendugaan nilai tanah di kawasan sekitar Jalur Lingkar Utara (JLU) Kota Probolinggo, khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Mayangan adalah Y = 152605,899 – 3,295L + 31536,385S – 152294,78P1 + 53525,848P2 + 45655,874P3 – 95209,967P4 + 68322,072JPK – 59085,388JPI + 6656,667JP + 18922,531JIP. Dari model regresi yang didapatkan tersebut, diketahui bahwa Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) bumi dipengaruhi oleh ketujuh variabel penentu nilai tanah yang diuji dan digunakan dalam model tersebut sebesar 48,9%. Selain itu, dari model regresi tersebut juga diketahui bahwa dari ketujuh variabel penentu nilai tanah yang diuji dan digunakan dalam model tersebut, variabel luas tanah, dummy variable status kepemilikan tanah, dummy variable pola penggunaan perkantoran/perdagangan dan variabel jarak terhadap pelabuhan, secara statistik dinyatakan pengaruhnya tidak signifikan terhadap Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) bumi karena mempunyai nilai signifikansi lebih dari 0,05.  
ANALISA PENGARUH TEKANAN UDARA DAN TEMPERATUR TERHADAP REFRAKSI ATMOSFER PADA PERHITUNGAN TINGGI Pibrianti, Dita Ayu; Nurjati S, Chatarina; Pratomo, Danar Guruh
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1263

Abstract

Salah satu kesalahan sistematik yang terjadi pada pengukurun tinggi metode sipat datar adalah kesalahan karena adanya refraksi atmosfer. Kesalahan refraksi atmosfer terjadi karena cahaya atau gelombang elektomagnetik melalui udara yang kerapatannya berbeda. Kerapatan udara dipengaruhi oleh tekanan udara dan temperatur yang berubah dengan ketinggian di atmosfer. Perlu adanya penelitian untuk mengetahui pengaruh besarnya temperatur dan tekanan terhadap refraksi atmosfer yang terjadi pada pengukuran tinggi metode sipat datar. Data yang diperlukan dalam penelitian adalah data pengukuran yang terdiri dari data jarak, beda tinggi, temperatur dan tekanan udara. Data-data tersebut diolah sehingga didapatkan nilai refraksi atmosfer setiap pengukuran dan dapat digambarkan dalam grafik. Analisa yang digunakan adalah analisa regresi linear berganda. Hasil dari penelitian yang berupa grafik menunjukkan bahwa nilai rata-rata refraksi atmosfer yang terjadi pada pengukuran siang hari lebih besar daripada pengukuran pagi atau sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya refraksi atmosfer berbanding lurus dengan temperatur dan tekanan udara. Hasil dari analisa regresi linear berganda menunjukkan nilai koefisien korelasi linier berganda antara refraksi dengan temperatur dan tekanan pada daerah yang relatif datar adalah sebesar 0,021 sedangkan untuk daerah yang relatif bergelombang adalah sebesar 0,076. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh temperatur dan tekanan udara terhadap refraksi atmosfer pada pengukuran tinggi adalah sangat lemah atau dianggap tidak ada.
DETEKSI SEBARAN TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILLS) DENGAN CITRA ASTER Khomsin, Khomsin; Pratomo , Danar Guruh
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1264

Abstract

Salah satu sumber pencemaran laut adalah tumpahan minyak. Pencemaran dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masayarakat sekitar pantai dan sangat siginifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. Selat Madura khususnya alur pelayaran yang terletak di antara Surabaya dan Bangkalan merupakan salah satu alur yang padat di Indonesia. Oleh karena itu, perairan ini diindikasikan telah tercemar oleh tumpahan minyak yang berasal dari bongkar muat kapal. Data spektrum tampak dan infra merah dekat dari satelit Terra ASTER dapat dilakukan deteksi dan monitoring terhadap pencemaran laut khususnya yang disebabkan oleh tumpahan minyak (oils spill). Karakteristik dari setiap sensor satelit dalam hal mendeteksi lapisan minyak, khususnya sensor VNIR (Visible Near Infra Red), absorbsi dan refleksi dari iluminasi cahaya menentukan karakteristik minyak tersebut dengan nilai reflektansi spektral gelombang elektromagnetik. Minyak mentah menunjukkan warna yang berbeda, dimana reflektansi spektralnya bervasi bergantung pada komposisi kimiawi minyak mentah tersebut. Perairan Selat Madura terutama di antara Surabaya dan Bangkalan telah terjadi pencemaran minyak (oil spills) sebesar 10 mg/lt – 50 mg/lt. Konsentrasi kandungan minyak dalam air laut di perairan yang paling besar terdapat di alur pelayaran ke arah pelabuhan tanjung perak. Hal ini disebabkan oleh aktifitas bongkar muat kapal dan aktifitas deballasting kapal tanker. Walaupun konsentrasinya kecil (<20 mg/lt), di tepi Pantai Pantai Utara Surabaya juga tercemar oleh minyak yang diakibatkan oleh pollutan yang berasal dari hulu sungai (bahkan dari industri yang ada di pesisir Surabaya) yang bermuara ke perairan Selat Madura.
APLIKASI PERANGKAT LUNAK GRASS 6.3.0 UNTUK PEMODELAN DAN ANALISA TERRAIN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PERMUKAAN DIGITAL DARI DATA LIDAR Antasari, Intan Yulia; Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1265

Abstract

GRASS sebagai salah satu alternatif perangkat lunak yang berbasis ”public domain” sehingga dapat mempermudah pengguna untuk mengaksesnya dapat menunjang dalam pengolahan DTM. Di antara sekian banyak cara memperoleh data mentah untuk pembuatan DTM, Light Detection And Ranging (LiDAR) menjadi salah satu metode untuk akuisisi data topografi, khususnya untuk rekonstruksi digital terrain model (DTM). LiDAR merupakan teknologi yang lebih efektif dan efisien karena memiliki kerapatan dan ketelitian yang tinggi. Penelititan ini mengkaji aplikasi perangkat lunak GRASS 6.3.0 untuk mengolah data yang diperoleh dari LiDAR menjadi DTM dan DSM sehingga dapat diketahui perbedaan topografinya. Hasil penelitian menunjukkan data LiDAR yang memiliki data titik tinggi sebanyak 1000000 titik per 1 km2, hal ini menunjukkan bahwa sensor LiDAR dapat memperoleh data sebanyak 1 titik per 1 m2. Selain itu, GRASS 6.3.0 mampu melakukanpengolahan data DSM dan DTM dari data LiDAR yang dapat dikonversikan dalam format yang lain sehingga dapat diperoleh model permukaan digital yang dapat digunakan pada perangkat lunak yang lain sebagai data geospasial yang berupa DTM dan DSM.
KRITERIA PENENTUAN GARIS BATAS LAUT UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN Djunarsjah, Eka; Sulistiyo, Budi; Hendriatiningsih, S.; Wisayantono, Dwi; Windupranata, Wiwin; Setiyadi , Johar
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1266

Abstract

Dalam pengelolaan wilayah laut di perairan Indonesia dibutuhkan suatu penataan ruang laut yang terkait dengan fungsi-fungsi batas maritim, batas administrasi, dan batas laut. Saat ini, penarikan batas maritim didasarkan pada UNCLOS 1982 dan batas administrasi didasarkan pada UU No. 32 tahun 2004. Selama ini, penarikan garis batas laut dalam kaitannya dengan pemetaan dan pengelolaan sumberdaya laut, belum mempunyai kriteria yang jelas. Penentuan garis batas laut memerlukan kriteria sesuai dengan nama unsur geografi maritim (laut, selat, dan teluk). Kriteria tersebut mencakup tentang penentuan titik awal penarikan garis, penarikan garis batas laut, selat dan teluk, serta penentuan nama bagian-bagian laut. Penentuan garis batas laut ini merupakan bagian dari kegiatan toponimi maritim untuk melengkapi Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) kelautan. Tersedianya IDSN kelautan ini, sangat berguna bagi proses pengambilan keputusan dalam pegelolaan sumberdaya laut secara terpadu.
APLIKASI PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EVALUASI KELAYAKAN DI AREA LUMPUR LAPINDO Hariyanto, Teguh; Utami, Sri
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1267

Abstract

Hampir 2 tahun lumpur Lapindo yang terjadi di daerah Porong belum juga bisa diatasi, bahkan sampai detik ini masih banyak semburan-semburan baru yang keluar terutama di daerah permukiman rumah penduduk sehingga menyebabkan banyak kerusakan terutama bangunan dan adanya pencemaran air, tanah dan udara. Hal ini yang menyebabkan kekhawatiran para penduduk sekitar khususnya di desa-desa yang berada didekat tanggul lumpur Lapindo yaitu Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Gedang, Ketapang, Gempolsari, Pamotan, dan Glagaharum. Dengan menggunakan sistem informasi geografis melalui metode scoring kita dapat mengetahui dan memantau perkembangan daerah permukiman karena hasil yang didapat nantinya merupakan pengklasifikasian kondisi daerah permukiman sehingga dapat diketahui daerah mana yang masih layak dihuni. Hasil yang diperoleh adalah peta tutupan lahan dan perubahannya untuk tahun 2006 dan 2008 yang menunjukkan perubahan yang signifikan terutama untuk kelas lumpur yaitu sebesar 470,698 Ha, permukiman sebesar 210,738 Ha dan sawah sebesar 388,642 Ha. Selain itu menghasilkan suatu informasi mengenai kerusakan bangunan, pencemaran air, tanah dan udara yang terjadi di daerah Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Gedang, Ketapang, Gempolsari, Pamotan, dan Glagaharum sehingga dapat diketahui tingkat kelayakan pada masing-masing desa.

Page 1 of 2 | Total Record : 17