cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 504 Documents
PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK ANALISA BANJIR (STUDI KASUS : BANJIR PROVINSI DKI JAKARTA) Ariyora, Yuan Karisma Sang Ariyora; Budisusanto, Yanto; Prasasti, Indah
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1451

Abstract

Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di berbagai wilayah. Banjir dalam dua pengertian, yaitu : 1) meluapnya air sungai yang disebabkan oleh debit sungai yang melebihi daya tampung sungai pada keadaan curah hujan tinggi, 2) genangan pada daerah dataran rendah yang datar yang biasanya tidak tergenang. Banjir merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia, khususnya kota-kota besar seperti Jakarta.Daerah bahaya banjir dapat diidentifikasi secara cepat dengan menggunakan memanfaatkan data Penginderaan Jauh yaitu tumpang susun/overlay terhadap parameter-parameter banjir, seperti : curah hujan, bentuk penggunaan lahan (landuse), tekstur tanah, dan kemiringan lereng. Serta perpaduan visualisasi persebaran banjir dengan SIG (Sistem Informasi Geografi). Pembagian kelas dari setiap parameter yang digunakan secara umum disesuaikan dengan kelas parameter yang dimiliki oleh daerah yang diamati.Nilai bobot dan skor juga menyesuaikan dengan daerah penelitian yang diamati. Dalam penelitian ini, nilai bobot dan skor yang digunakan merupakan modifikasi dari nilai bobot dan skor. Dari hasil bobot dan skoring lalu menghitung Nilai potensi suatu daerah terhadap genangan ditentukan dari total penjumlahan skor masing-masing parameter genangan. Daerah yang sangat berpotensi terhadap genangan akan memiliki skor total dengan jumlah paling besar dan sebaliknya daerah yang tidak berpotensi terhadap genangan akan mempunyai total skor yang rendah. Tabel berikut menunjukkan tingkat potensi genangan berdasarkan nilai penjumlahan skor masing-masing parameter genangan.Hasil yang didapatkan penetapan kawasan bahaya banjir, ternyata daerah bahaya banjir yang dibuat Pemerintah Provinsi DKI 100% semuanya masuk dalam daerah sangat bahaya banjir berdasarkan hasil penelitian.Hal ini terjadi karena memang setiap musim penghujan daerah-daerah bahaya tersebut selalu mengalami banjir atau langganan banjir.
ANALISA PENDIDIKAN DI KOTA MOJOKERTO DITINJAU DARI KUALITAS SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB Setiawan, Elon Fadilah; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Mojokerto merupakan kota pemerintahan tersempit di Indonesia, penduduk sebanyak 135.024 jiwa yang dimiliki kepadatan penduduk kota Mojokerto mencapai 8.208 jiwa per km2. Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi tersebut, maka diperlukan jumlah sekolah dan sarana prasarana pendukung pendidikan yang memadai sehingga dapat menampung penduduk usia sekolah di kawasan Kota Mojokerto. Suatu Sistem Informasi Geografis diperlukan dalam rangka membantu pemerintah kota untuk merencanakan dan mengelola pendidikan di daerahnya.Pada penelitian ini dilakukan pembuatan sistem informasi geografis berbasis Web menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000 sebagai peta dasar serta data tabular dari Dinas Pendidikan dan Kependudukan maupun hasil penelitian dilapangan sebagai atribut. Hasil dari penggabungan beberapa data tersebut akan ditampilkan pada web.Hasil yang diperoleh dari analisa perbandingan jumlah guru dengan murid adalah 6 SD dan 2 SMK yang masuk kriteria ideal, sedangkan dari analisa rombongan belajar adalah 7 SD, 6 SMP, 1 SMA, dan 2 SMK yang masuk kriteria ideal. Perbandingan usia sekolah dengan daya tampung sekolah di Kecamatan Magersari diperoleh kekurangan daya tampung 5.824 unit untuk Sekolah Dasar dan kelebihan 957 unit untuk Sekolah Menengah, sedangkan untuk Kecamatan Prajurit Kulon diperoleh kekurangan daya tampung sebanyak 5.503 unit untuk Sekolah Dasar dan kekurangan 116 unit untuk Sekolah Menengah. Persebaran sekolah masuk kriteria ideal, hal ini ditunjukkan dengan tercakupnya seluruh wilayah terluar kota Mojokerto ke dalam radius 3 km dan 6 km untuk masing-masing sekolah dasar dan sekolah menengah. Hasil akhir dari penelitian ini adalah WebGIS pendidikan Kota Mojokerto yang berisi beberapa informasi, diantaranya informasi jumlah murid, jumlah guru, prasarana sekolah, alamat dan foto sekolah, serta peta sebaran sekolah. WebGIS ini bertujuan untuk memberikan informasi dan sebagai bahan evaluasi kualitas pendidikan khususnya sekolah dasar dan menengah di Kota Mojokerto
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERUNTUKAN KAWASAN PERMUKIMAN, INDUSTRI, MANGROVE WILAYAH PESISIR UTARA SURABAYA TAHUN 2010 DAN 2014 Andina, Ayesa Pitra; Taufik, Muhammad
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1453

Abstract

Pesisir menyediakan aksesibilitas yang lebih tinggi bagi kegiatan transportasi dan pelabuhan, serta ruang yang relatif mudah dan murah bagi kegiatan industri pergudangan, dan merupakan tempat konsentrasi penduduk yang paling padat, sekitar 75% dari total penduduk dunia bermukim di kawasan pesisir. Salah satu wilayah pesisir di Jawa Timur, yaitu pesisir utara Surabaya, mengalami dinamika perubahan cukup cepat. Surabaya sebagai pusat urban yang menunjang kegiatan sosial perekonomian wilayah Gerbangkertasusila dan sebagai pusat pengembangan ekonomi bagian timur Indonesia. Penelitian ini mengkaji mengenai kesesuaian lahan untuk permukiman, industri, mangrove berdasarkan kondisi fisik lahan dan tingkat kesesuaian tutupan lahannya pada tahun 2010 dan 2014. Tutupan lahan diperoleh dari hasil klasifikasi digital citra ALOS AVNIR-2 dan Landsat 8. Metode analisis pada penelitian ini anatara lain reklasifikasi, overlay, scoring dan pembobotan dengan pairwise comparison, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan yang menggunakan basis aturan dari penelitian terdahulu. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah diperoleh luasan tutupan lahan paling besar pada tahun 2010 adalah kelas rawa/tambak dan pada tahun 2014 kelas lahan terbuka. Hasil kesesuaian lahan dengan parameter fisik dari tiga fungsi kawasan diperoleh kelas sangat sesuai hingga sesuai marginal. Pada analisa tingkat kesesuaian eksisting permukiman di pesisir utara Surabaya dengan tipe kesesuaian sangat sesuai (S1) mengalami peningkatan sebesar 69,90 Ha, kelas indutri didominasi kelas cukup sesuai mengalami peningkatan sebesar 72,30 Ha sedangkan kelas mangrove didominasi kelas sangat sesuai dan mengalami pengurangan sebesar 4,91 Ha antara tahun 2010 dengan 2014
STUDI KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK UNTUK KESESUAIAN TUTUPAN LAHAN TAMBAK, KONSERVASI DAN PERMUKIMAN KAWASAN PESISIR (STUDI KASUS: KEC.ASEMROWO, KREMBANGAN, PABEAN CANTIKAN, DAN SEMAMPIR, KOTA SURABAYA) Kusuma, Indra Jaya; Handayani, Hepi Hapsari
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1455

Abstract

Pemanfaatan lahan di kawasan pesisir menjadi salah satu penyebab utama terjadinya permasalahan pada kawasan pesisir yang mempengaruhi penyimpangan tata guna lahan di suatu kawasan. Untuk mengurangi penyimpangan tata guna lahan dibutuhkan analisis mengenai kesesuaian tutupan lahan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan dengan dukungan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang digunakan fungsi overlay dan buffering.Lokasi penelitian ini terdiri dari empat kecamatan yaitu Kecamatan Asemrowo, Kecamatan Krembangan, Kecamatan Pabean Cantikan, dan Kecamatan Semampir dimana wilayah tersebut akan dianalisis kesesuaian tutupan lahan berdasarkan lahan tambak, konservasi, dan permukiman. Pada penelitian ini menentukan tutupan lahan berdasarkan kategori sesuai (S1), Sesuai bersyarat (S2), dan tidak sesuai (N1). Data citra yang digunakan untuk menentukan tutupan lahan pada penelitian ini adalah citra Worldview-2 tahun 2013, dan metode klasifikasi yang digunakan pada proses pengolahan citra ini adalah klasifikasi berbasis objek. Pada analisa kesesuaian tutupan lahan dilakukan proses analisa kesesuaian dengan menggunakan fungsi analisis Sistem Informasi Geografis menggunakan metode overlay dan buffering. Berdasarkan hasil tutupan lahan yang didapatkan dengan menggunakan klasifikasi berbasisis objek didapatkan 7 kelas yaitu Permukiman 617,453 Ha, Industri dan pergudangan 544,962 Ha, RTH 401,066 Ha, Lahan kosong 64,488 Ha, Tambak dan rawa 299,690 Ha, Sungai 97,692 Ha, dan Jalan dan parkiran 121,083 Ha. Hasil uji klasifikasi pada interpretasi digital dengan menggunakan metode berbasis objek dan interpretasi manual secara berturut-turut adalah 91,836%, dan 95,918%
PURWARUPA SISTEM INFORMASI KADASTER 3D BERBASIS WEB (STUDI KASUS : RUMAH SUSUN PENJARINGAN SARI, KOTA SURABAYA) Darmawan, Andy Laksmana; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1456

Abstract

Kebutuhan informasi pertanahan 3D saat ini sangat dibutuhkan masyarakat seiring dengan perkembangan pertumbuhan pembangunan dari pembangunan horizontal ke arah pembangunan vertikal. Salah satu informasi kadaster 3D yang perlu dikembangkan adalah mengenai Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Dalam penelitian ini Rusunawa yang dijadikan sebagai studi kasus penelitian adalah Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya.Untuk menghasilkan informasi kadaster 3D dari Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya dibutuhkan data denah gedung beserta data penghuni Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya. Data-data tersebut digunakan untuk membuat basis data 3D. Basis data 3D dibuat dengan menggunakan software PostgreSQL+PostGIS dan selanjutnya diintegrasikan dengan sistem informasi sehingga dapat dihasilkan visualisasi dari purwarupa sistem informasi kadaster 3D berbasis web.Penelitian ini menghasilkan produk berupa purwarupa atau prototype berupa web informasi kadaster 3D yang dapat mengakomodasi pendaftaran sewa menyewa dari Rumah Susun Penjaringan Sari dengan model dinamis sehingga data-data yang ada dapat di¬update ketika mengalami perubahan data. Dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengaplikasikan sistem informasi kadaster 3D di Indonesia secara online.
ANALISA KESESUAIAN LAHAN TEH DI BANJARNEGARA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sukmono, Abdi
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1457

Abstract

Teh merupakan komoditas unggulan Kabupaten Banjarnegara. Peluang pengembangan teh di banjarnegara sangat baik karena pasar ekspor yang masih belum terpenuhi. Akan tetapi masih minimnya informasi terkait daerah yang sesuai untuk budidaya teh menyebabkan investasi the di Banjarnegara tidak berkembang dengan pesat. Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem informasi Geografis untuk menganalisa daerah potensi pengembangan budidaya teh berdasarkan kesesuaian lahan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan lahan yang sesuai (S2) untuk budidaya teh seluas 2147,21 Ha (6,58%) dan Sesuai marjinal (S3) seluas 6882,32 Ha (21,10%). Validasi hasil peta ini dilakukan dengan ground truth pada 32 titik sampel dengan tingkat kebenaran 88 %.
PEMODELAN JUMLAH KEMATIAN BAYI DI JAWA TIMUR DENGAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED POISSON REGESSION (GWPR) Kurniawati, Sisvia Cahya; Kuntoro, Kuntoro
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1458

Abstract

Kematian bayi merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan agar berhasil dibutuhkan adanya ketersediaan data/informasi yang akurat untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan perencanaan program. Salah satu data informasi yang bisa digunakan adalah data spasial, dengan mengikutsertakan informasi koordinat lokasi karena kondisi geografis, sosial budaya dan ekonomi tentunya akan berbeda antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain, sehingga faktor yang berkontribusi terhadap kematian bayi antara wilayah satu dan wilayah yang lain juga akan berbeda. Oleh sebab itu penelitian ini menggunakan metode statistik Geographically Weighted Poisson Regression (GWPR) untuk mempermudah menggambarkan parameter lokal yang dapat menjelaskan variasi spasial dalam hubungan antara kasus kematian bayi di Jawa Timur dengan faktor yang berkontribusi. Sejumlah model harus dievaluasi dan nilai AIC untuk setiap model harus dibandingkan untuk mendapatkan model yang terbaik. Model yang terbaik adalah model dengan nilai AIC terendah. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan mengenai faktor yang signifikan terhadap jumlah kematian bayi di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, faktor tersebut adalah jumlah fasilitas kesehatan, pertambahan Produk Domestik Regional Bruto (konstan), Angka Melek Huruf (AMH), persentase imunisasi dasar lengkap, dan persentase persalinan non medis. Nilai AIC antara model regresi global dan model GWPR dilakukan perbandingan, diketahui bahwa model GWPR merupakan model yang lebih baik untuk menganalisa data AKB di Provinsi Jawa Timur.
ANALISA ESTIMASI PRODUKSI PADI BERDASARKAN FASE TUMBUH DAN MODEL PERAMALAN AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGE (ARIMA) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 8 (STUDI KASUS: KABUPATEN BOJONEGORO) Sari, Vivi Diannita; Sukojo, Bangun Muljo
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1459

Abstract

Kabupaten Bojonegoro sebagai penghasil padi andalan di Provinsi Jawa Timur, memiliki misi mewujudkan mimpi menjadi lumbung pangan nasional. Pada tahun 2012, Bulog Bojonegoro menjadi Bulog untuk subdivisi regional tertinggi di seluruh Indonesia. Melihat potensi tersebut, maka perlu adanya upaya untuk memantau kestabilan produksi pertanian secara berkala. Dengan mengintegrasikan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Landsat 8 untuk mengidentifikasi fase tumbuh dan model peramalan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) untuk meramalkan produktivitas padi, diharapkan mampu memberikan solusi dan kemudahan dalam pemantauan secara berulang dan kontinu dengan cakupan wilayah yang luas. Identifikasi fase tumbuh dilakukan dalam 9 fase. Dari proses regresi linier antara fase tumbuh tanaman padi dengan nilai indeks vegetasi yang digunakan, diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) untuk algoritma NDVI sebesar 0,7229 dan algoritma MSAVI sebesar 0,879. Digunakan nilai reflektan dari gelombang band SWIR2 (1.57  m-1.65  m) untuk membantu membedakan tiap fase tumbuh dari hasil identifikasi algoritma MSAVI dimana untuk pada fase 3, 4, 5 mempunyai reflektan SWIR2 di atas 0,15, sedangkan fase 7, 8, 9 mempunyai reflektan SWIR2 di bawah 0,15.Proses peramalan produktivitas padi diperoleh model ARIMA musiman (1,0,0)3. Sehingga dapat diketahui Angka Ramalan (ARAM) produktivitas padi untuk subround III tahun 2013 adalah sebesar 66,21 kuintal per hektar. Hasil estimasi tertinggi sebesar 169.595,385 ton untuk fase tillering (panen 15 minggu kedepan) dan sebesar 72.246,878 ton untuk fase  seedling (panen 13-14 minggu kedepan). Sehingga dapat dilihat bahwa pada saat penelitian dilakukan, Kabupaten Bojonegoro berada pada musim tanam.
STUDI PERSEBARAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) MENGGUNAKAN CITRA AQUA MODIS DI LAUT SENUNU, NUSA TENGGARA BARAT Andini, Vera Maya; Anjasmara, Ira M.; Witasari, Yunia
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1460

Abstract

Laut Senunu adalah wilayah perairan laut yang masuk ke dalam kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang) yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara Barat. Kawasan Segitiga Terumbu Karang ini merupakan kawasan terkaya akan kehidupan laut di antara semua laut di Planet Bumi. Perairan laut Indonesia selalu berada dalam pengaruh berat baik dari aktifitas, perusahaan, minyak, transportasi laut serta aktifitas warga di daerah pesisir maupun daerah aliran sungai yang bermuara ke laut tersebut. Aktifitas tersebut membawa banyak penyebab resiko terjadinya kerusakan alam dan dapat berakibat merusak sumber daya laut. Data yang digunakan untuk mendapatkan persebaran TSS adalah data ground truth, hasil pengolahan citra Aqua MODIS. Data ground truth merupakan hasil pengambilan sampel berupa air laut yang selanjutnya dilakukan pengolahan di laboratorium. Proses pengolahan citra satelit menggunakan prinsip remote sensing, dimana citra menggunakan algoritma Ocean Color 4 (OC4 – V4) Hasil dalam penelitian ini adalah peta persebaran TSS di Laut Senunu, Nusa Tenggara Barat dan analisa beberapa data diantaranya data citra terhadap ground truth, analisa data lapangan, analisa konsentrasi klorofil-a secara temporal, dan analisa parameter yang dapat mempengaruhi nilai dan sebaran TSS. Berdasarkan pada proses analisa dapat disimpulkan bahwa Aqua MODIS memiliki korelasi yang lemah terhadap data ground truth dengan nilai koefisien korelasi sebesar R² = 81,3%. Secara temporal, konsentrasi TSS di laut Senunu berada pada rentang konsentrasi rendah yaitu sekitar 0,5 – 38 mg/l (tahun 2003 dan 2009), 0,06 – 0,1 (tahun 2013), sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas air di laut Senunu tergolong bersih. Persebaran konsentrasi TSS di laut Senunu pada setiap stasiun tidak merata dan cenderung berubah-ubah. Hal ini dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi seperti arus perairan, angin, waktu pengambilan data dan kondisi fisik perairan.
PEMANTAUAN PENURUNAN MUKA TANAH DI KAWASAN WATUKOSEK MENGGUNAKAN METODE SIPAT DATAR Anjasmara, Ira M.; Masrul , Masrul
GEOID Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i2.1461

Abstract

Patahan Watukosek yang terletak di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo merupakan patahan yang terbentuk sebagai akibat dari proses tumbukan lempeng Eurasia dengan lempeng Australia. Aktifnya patahan ini diyakini men- gakibatkan terjadinya fenomena deformasi vertikal dari permukaan tanah disekitar patahan tersebut. Deformasi vertikal dapat berupa penurunan muka tanah (subsidence) atau kenaikan muka tanah (uplift). Untuk memantau perubahan perg- erakan tinggi muka tanah, salah satu metode yang dapat digunakan adalah pengukuran sipat datar. Sistem tinggi yang digunakan adalah sistem tinggi ortometrik yang bereferensi terhadap geoid.Dari hasil pengukuran dan pengolahan data yang dilakukan, didapat bahwa terjadi perubahan tinggi muka tanah pada kawasan yang dilewati oleh patahan Watukosek. Pemantauan yang dilakukan selama 2 bulan menunjukkan terjadinya perubahan tinggi muka tanah yang bervariasi pada setiap titiknya. Perubahan tinggi muka tanah paling besar terjadi pada BM PLNG pada perbandingan kala 1 & kala 2 dengan nilai sebesar -0,305 m (subsidence) dan perubahan yang paling kecil terjadi pada BM TTG-1305 pada perbandingan kala 1 & kala 3 dan kala 2 & kala 3, dengan nilai sebesar -0,011 m (subsidence) dan pada perbandingan kala 2 & kala 3 sebesar 0,011 m (uplift).