cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 504 Documents
ANALISIS PERGESERAN AKIBAT GEMPA BUMI SUMATERA 11 APRIL 2012 MENGGUNAKAN METODE GPS CONTINUE (Studi Kasus : Samudera Hindia) Yusfania , Meiriska; Cahyadi, Mokhamad Nur; Ihsan , Fahruddin Ulinnuha
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1472

Abstract

Prinsip pemantauan deformasi secara kontinu yaitu pemantauan terhadap perubahan koordinat beberapa titik yang mewakili sebuah fenomena gempa bumi dari waktu ke waktu. Metode ini, menggunakan beberapa alat penerima sinyal GPS yang ditempatkan pada beberapa titik pantau pada area gempa bumi. Data dan informasi deformasi permukaan selanjutnya digunakan untuk mengungkapkan karakteristik dari aktivitas gempa bumi. Gejala deformasi gempa bumi akan menyebabkan pergeseran posisi suatu titik sekitar gempa. Pergeseran tersebut bisa terjadi baik secara horizontal maupun vertikal.Pada penelitian kali ini mengambil salah satu gempa yang terjadi pada bulan april tahun 2012 dengan magnitude 8.6. Untuk melakukan analisis deformasi diperlukan menghitung vektor pergeseran dan nilai pergeseran yang mengacu pada titik-titik stasiun GPS Kontinyu Sumatran GPS Array (SUGAR) yang tersebar di lima stasiun yaitu BITI, BSIM, BTHL, LEWK, PBLI, dan NTUS. Analisis deformasi dilakukan dengan melihat pergeseran yang terjadi pada saat sebelum gempa, dan sesudah gempa. Setelah dilakukan pemrosesan dari kedua waktu tersebut didapatkan nilai perubahan 0,3 – 2,4 meter dari setiap stasiun terdekat dengan pusat gempa. Analisis karakteristik deformasi Gempa Sumatera 2012 ini tergolong fenomena Strike-slip faults yang merupakan potongan vertikal di mana blok sebagian besar telah pindah secara horizontal. Jika blok berlawanan pengamat bergerak ke kanan, gaya slip disebut right lateral jika blok bergerak ke kiri, gerakan ini disebut left lateral.
STUDI PENGAMATAN PENURUNAN DAN KENAIKAN MUKA TANAH MENGGUNAKAN METODE DIFFERENTIAL INTERFEROMETRI SYNTHETIC APERTURE RADAR (DInSAR) (Studi Kasus : Lumpur Lapindo, Sidoarjo) Yulyta, Sendy Ayu; Taufik, Muhammad; Hayati , Noorlaila
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1473

Abstract

Munculnya semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, yang terletak di lokasi kegiatan eksplorasi gas PT. Lapindo Brantas memberikan dampak negatif untuk penduduk setempat dan lingkungannya, salah satu dampaknya yakni deformasi. Dalam dinamika bumi, permukaan tanah akan selalu mengalami deformasi dengan berbagai macam faktor penyebab. Seiring perkembangan teknologi, radar merupakan salah satu teknologi penginderaan jauh yang dapat dimanfaatkan untuk mengamati deformasi tanah. Dalam penelitian ini diterapkan metode DInSAR (Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar) untuk mendapatkan besar deformasi dengan ketelitian mencapai sub-sentimeter. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat buah citra satelit ALOS/PALSAR (Februari 2008, Januari 2009, dan Februari 2010 dan Januari 2011) yang kemudian diproses secara Differential Interferometri SAR (DInSAR) hingga didapatkan besar deformasi pada radius 1.5 km dari pusat semburan.Hasil metode DInSAR menunjukkan deformasi vertikal yang terjadi di sekitar wilayah semburan bervariasi, dibeberapa lokasi mengalami subsidence dan beberapa mengalami uplift, tergantung peristiwa yang terjadi pada kurun waktu tersebut. Rata-rata besar penurunan tanah yang terjadi antara tahun 2008-2011 yaitu antara 0- -20 cm/th sedangkan besar uplift rata-rata yaitu 0-10 cm/th . Untuk mengetahui keakuratan metode DInSAR dalam mengamati penurunan tanah maka dilakukan analisa dengan membandingkan beberapa penelitian lain terkait deformasi lumpur lapindo.
PENGARUH JUMLAH DAN SEBARAN GCP PADA PROSES REKTIFIKASI CITRA WORLDVIEW II (Studi Kasus : Kota Kediri, Jawa Timur) Kurniawan, Akbar; Taufik, Muhammad; Yudha, Imam Satria
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1474

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan uji coba penggunaan titik kontrol tanah (GCP) secara variatif, yang terbagi menjadi 5 model jumlah dan distribusi titik kontrol tanah yaitu model 1 dan model 2 menggunakan jumlah 4 GCP dengan pola distribusi pada model 1, GCP hanya terpusat di suatu tempat, tidak menyebar pada keseluruhan citra, sedangkan pada model 2, GCP terletak pada titik terluar citra. Model 3 dan model 4 menggunakan jumlah 8 GCP, dengan pola distribusi pada model 3 titik tersebar merata pada seluruh citra, baik dipinggir maupun ditengah citra, dan pada model 4, GCP terpusat di tengah citra, tidak mencakup pinggir citra. Model 5 merupakan representasi dari model 1 sampai model 4 dengan menggunakan 12 GCP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya GCP yang digunakan dalam proses rektifikasi citra sangat berpengaruh terhadap ketelitian hasil rektifikasi yang ditunjukkan melalui harga Root Mean Square Eror (RMSE) hasil uji ketelitian jarak dan koordinat. Melalui uji ketelitian ini maka dapat diperoleh skala peta setiap model, yaitu pada model 1 dapat memenuhi skala 1:5000, model 2 skala 1:6000, model 3 skala 1:5000, model 4 skala 1:3000 dan model 5 skala 1:3000.
ANALISA KARAKTERISTIK KECEPATAN ANGIN DAN TINGGI GELOMBANG MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI (Studi Kasus : Laut Jawa) Aji, Dean Rudityo; Cahyadi, Mokhamad Nur
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1475

Abstract

Potensi laut Indonesia amatlah besar terutama di bidang transportasi. Kondisi transportasi laut saat ini belum memberikan informasi yang komprehensif mengenai arah angin dan tinggi gelombang sebagai variabel utama keselamatan pelayaran. Perkembangan teknologi pengideraan jauh terutama satelit altimetri sangat membantu dalam analisa kondisi fisik lautan. Perhitungan kecepatan angin dan tinggi gelombang merupakan salah satu dari produk satelit Altimetri yang penting dalam memnberikan kontribusi informasi pelayaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data satelit Jason 2 tahun 2010 pass 51,64,127,140,203,216,227,242. Hasil tersebut akan diklasifikasikan menurut skala Beaufort untuk analisa keamanan dan keselamatan pelayaran. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai skala Beaufort pada Laut Jawa berkisar antara 1 sampai 6. Hasil analisa pembobotan memperlihatkan nilai yang relatif aman, terutama pada kondisi fisik muka air laut untuk transportasi.
PERBANDINGAN NILAI KLOROFIL-A MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT DAN MERIS DI DANAU SENTANI, JAYAPURA Bhirawa, Jayeng Rangga; Jaelani , Lalu Muhamad
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1476

Abstract

Waduk dan Danau sangat penting dalam turut menciptakan keseimbangan ekologi dan tata air. Dari sudut ekologi, waduk dan danau merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur air, kehidupan akuatik, dan daratan yang dipengaruhi tinggi rendahnya muka air, sehingga kehadiran waduk dan danau akan mempengaruhi tinggi rendahnya muka air, selain itu, kehadiran waduk dan danau juga akan mempengaruhi iklim mikro dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Dalam penelitian ini, dilakukan perbandingan klorofil-a sebagai salah satu parameter kualitas air dengan menggunakan data Meris dan Landsat Parameter kualitas air dalam sifat fisiknya yang dapat dimodelkan secara optis antara lain yaitu Total Suspended Solid (TSS), Klorofil-a, dan Collored Dissolved Organic Matter(CDOM), dan lain-lain. Tetapi pada penelitian ini hanya difokuskan untuk klorofil-a. Penelitian ini bertujuan untuk melihat citra manakah yang lebih sesuai untuk digunakan penelitian kualitas air pada danau sentani selanjutnya. Untuk algoritma dalam pengolahan citra Landsat, hanya Algoritma Jaelani paling mendekati C2WP-Eut yaitu dengan R2 = 0,795 ; RMSE = 0,399 dan RE = 16,087
IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN POTENSI BAHAYA SEKITAR TITIK PENGEBORAN MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER DAN MAGNETOMETER (STUDI KASUS: SELAT MAKASSAR, KALIMANTAN TIMUR) Drakel, Moh Gema Perkasa; Yuwono, Yuwono
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1477

Abstract

Konstruksi lepas pantai adalah struktur dan fasilitas di lingkungan laut, digunakan untuk produksi dan mentransmisi listrik, minyak, gas dan sumber daya lainnya. Pembangunan lepas pantai melibatkan ekstraksi energi dalam bentuk minyak atau gas. Hal ini berhubungan dengan pembangunan Bangunan Lepas Pantai. Survei batimetri telah dimaksudkan untuk memperoleh data Kedadalam, topografi dasar laut, dan morfologi dasar laut termasuk lokasi berbahaya dan benda-benda lainnya. Penelitian ini membahas tentang perencanaan pembangunan konstruksi lepas pantai dengan menggunakan beberapa instrumen seperti Multibeam Echo Sounder dan Magnetometer. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kondisi morfologi dan medan magnet atau benda-benda logam yang tertanam di dasar laut sekitar titik pengeboran yang dapat membahayakan proyek itu sendiri. Multibeam Echo Sounder digunakan untuk mendapatkan gambaran dari fitur dan morfologi dasar laut pada sekitar titik pengeboran dan Magnetometer digunakan untuk mendapatkan gambaran jika ada pipa atau medan magnet di dasar laut sekitar titik pengeboran. Semua instrumen ini dapat saling mendukung dengan kelebihan dan kekurangan mereka dalam rangka untuk menunjukan peta potensi bahaya dari morfologi dan medan magnet untuk mendukung Kegiatan konstruksi lepas pantai.
ORTOREKTIFIKASI FOTO FORMAT KECIL UNTUK PERHITUNGAN DEFORMASI JEMBATAN (Studi Kasus : Jembatan Suramadu, Surabaya - Madura) Handayani , Hepi Hapsari; Qoyimah, Shofiyatul
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1479

Abstract

Jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yang melintasi Selat Madura untuk menghubungkan Pulau Jawa (di Kota Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan), Indonesia. Pengamatan deformasi dilakukan untuk memberikan informasi geometrik dari benda terdeformasi. Fotogrametri jarak dekat digunakan untuk pengamatan deformasi karena kelebihannya dalam hal efisiensi biaya serta ukuran dan jangkauan objek yang diamati. Proses kalibrasi kamera dan ortorektifikasi (pembuatan foto tegak) dilakukan untuk mereduksi pergeseran film akibat ketidakstabilan parameter orientas pada kamera dijital non metrik format kecil. Hasil dari proses ortorektifikasi berupa mosaik ortofoto dengan sistem koordinat 2 dimensi dan DEM. Pengamatan deformasi menggunakan proses ortorektifikasi sisi Gresik jembatan Suramadu pada tanggal 19 Maret 2015 dan 7 Mei 2015 menunjukkan bahwa di bentang 1 (antara Abutment Surabaya dan pilar 1, deformasi pada sumbu XY berkisar antara 1 – 16 mm dan pada sumbu Z berkisar antara 0 – 35 mm. Dan di bentang 100 (antara pilar 99 dan 100), deformasi pada sumbu XY berkisar antara 11 – 55 mm dan pada sumbu Z berkisar antara 6 – 37 mm. Uji validasi koordinat mosaik ortofoto terhadap koordinat pengukuran terestris menunjukkan bahwa koordinat mosaik ortofoto di arah Surabaya tidak memiliki nilai yang signifikan sedangkan di arah Madura memiliki nilai yang signifikan terhadap koordinat hasil pengukuran terestris. Terdapat beberapa saran untuk penelitian berikutnya. Pertama, melakukan pengamatan lebih dari 2 kala. Kedua, menggunakan GCP yang memiliki tanda silang. Ketiga, melakukan proses kalibrasi bundle adjustment self calibration dengan menggunakan titik kontrol pada jembatan dan keempat adalah melakukan percobaan lebih dari 1 kali dalam proses ortorektifikasi.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS MOBILE ANDROID UNTUK STUDI KEBOCORAN JARINGAN PIPA PDAM (Studi Kasus: Sub Zona 109, Kota Surabaya) Priangga, Aditya Alden; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1480

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menyebabkan perubahan yang besar pada kemajuan perangkat elektronik. Salah satunya adalah perangkat mobile. Saat ini perangkat mobile hampir setara dengan perangkat desktop karena perangkat mobile sudah bisa digunakan hampir seperti penggunaan perangkat desktop. Jika dibandingkan dengan perangkat desktop, perangkat mobile memiliki keunggulan dalam mobilitasnya. Dengan adanya perangkat mobile yang canggih, dapat dibuat sebuah Sistem Informasi Geografis dalam basis mobile yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di dalam negeri, salah satunya adalah permasalahan kebocoran yang dialami oleh PDAM. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya, pada jaringan pipa tersier sub-zona 109 yang telah menerapkan DMA. Analisa jaringan pipa menggunakan perangkat lunak EPANET 2.0 yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Sistem Informasi Geografis berbasis mobile memakai perangkat lunak Eclipse 4.4.2 yang mendukung bahasa Java. Selain itu digunakan juga perangat lunak pendukung yaitu Android Development Tools, serta Google Maps Android API v2 yang digunakan untuk mengakses data – data dari Google Maps. Setelah penelitian ini dilakukan, didapatkan nilai maksimum kecepatan aliran air pada sub zona 109 adalah 1,55 m/s. Lokasi yang berpotensi mengalami kebocoran berada pada daerah di sekitar Jalan Manunggal. Aplikasi SIG berbasis mobile android berhasil dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Java. Aplikasi ini bernama MGIS29 dengan ukuran 2,93 mb.
ANALYSIS OF LANDSAT 8 SATELLITE IMAGERY TO IDENTIFY POTENTIAL OF SPRING (Case Study: District Bojonegoro) Sukojo, Bangun Muljo; Aristiwijaya, Bayu
GEOID Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i2.1492

Abstract

By integrating remote sensing technology to the analysis of Landsat 8 satellite imagery to identify, is expected to provide solutions and services in a repeated and continuous monitoring with wide regional coverage. Exploration of water resources needs to be done in order to meet community needs.Bojonegoro known as districts often experience water shortages in some regions of sub-section, especially during the dry season. Action in the form of research on the potential presence of springs made as early action in an effort to identify and search for the source of water to meet the needs of society.From the science of remote sensing, identification of potential springs do with observations of vegetation density of processed Landsat 8 satellite image, especially the image output May to September 2014. The data supporting the use of topographic data is like a river network, land cover and hipsografi. Efforts to use data validation geology and hydrogeology. From this research, it was found that Bojonegoro can be divided into four classes of potential, ie High, Medium, Low and Rare. The potential emergence of springs identified in the area of the plateau with prolific aquifer truncated by faults geology. Geographic information system is used as a tool in the process of spatial analysis is the conclusion that would be the magnitude of the correlation between the size of the vegetation density to the size of the potential presence of springs.
ANALYSIS OF RELATIONSHIP BETWEEN TIDAL SEA WITH SEDIMENTATION (Case Study: Port Container Wharf Surabaya) Yuwono, Yuwono; Qhomariyah, Lailatul
GEOID Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i2.1493

Abstract

Indonesian archipelagohas a high necessity of sea transportationtosupport the trade activities andmobility between one island and another. The harbor security is an important factortoensure the safety ofthe ships which are being leant there, therefore the sedimentation is neededto be observed in order to find out the changes of sedimentationso that theshipwould notrun aground. The formation ofsedimentationinthe dockis influencedby several factors, one of them istidal.Domesticdockcontainer portof Surabayais onethe docks that facilitatesdockshipsat the jettyport inEastJava. To observe the influence ofthe tides to thedock sedimentation, it is necessary to knowthe changesofsedimentation, so thesecurity of the shipsthat willbe dock could be guaranteed.The results of this study was finding theimpacts of tidal phenomena to the sediment formed in the domestic dock container port Surabaya we can conclude that when the Formzahl number is greater than the previous year, the sedimentation volume will also increase. The sedimentation volume in 2011 amounted to 9,460 m3 with Formzahl numbers of 0.662 is used as the reference to a sedimentation volume increasing in 2012 amounted to 49,537 m3 with formzahl number of 0.819. The increasing formzahl numbers which also means increase in the phenomenon of ebb and flow of sea water, has shown a difference of sedimentation volume from 2011 to 2012 amounted to 40,077 m3. And In the sedimentation volume in 2013 amounted to 14,306 m3 with a formzahl number of 0.722 is used as the reference to an increase in sedimentation volume in 2014 amounted to 35,102 m3 with formzahl number of 0.758. The increasing formzahl numbers which also means an increase in the phenomenon of ebb and flow of sea water which has resulted in a difference of sedimentation volume from 2013 to 2014 amounted to 20,796 m3.