cover
Contact Name
Zumhur Alamin
Contact Email
zumhur.alamin@gmail.com
Phone
+62895351974655
Journal Mail Official
journalpendiri@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ir. Soekarno Hatta no. 129 Rt. 06 Rw. 03 Rabangodu Utara Raba Kota Bima
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan
Published by Yayasan Ran Edu Center
ISSN : 30903572     EISSN : 30900190     DOI : https://doi.org/10.63866/pendiri
Core Subject : Education,
Journal Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan, published by Ran Edu Center, focuses on research related to educational research. Submitted manuscripts will be accepted by the editor and then checked for similarity with a similarity checker application. PENDIRI aims to be a forum for researchers and academics in the field of education to share knowledge, ideas, and the latest research results. Thus, this journal plays an important role in encouraging the development and deeper understanding of educational issues that are relevant and important to society and the world of education. The review process is conducted using peer review. Journal Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan has a main focus on the development, exchange, and dissemination of quality knowledge and research results in the field of education. The aim is to provide a platform for researchers, academics, and education practitioners to share the latest knowledge, ideas, and innovations.
Articles 30 Documents
Evaluasi Program Sekolah Adiwiyata di Kota Bima sebagai Model Pembelajaran Lingkungan Berkelanjutan Missouri, Randitha; Maulana, Muhammad Rizki; Apeng, Meutiya
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2024): December 2024
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v2i1.106

Abstract

Program Sekolah Adiwiyata merupakan inisiatif strategis pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pendidikan lingkungan berkelanjutan sebagai respons terhadap krisis lingkungan global. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas Program Sekolah Adiwiyata di Kota Bima sebagai model pembelajaran lingkungan berkelanjutan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) terhadap capaian Sustainable Learning Outcome (SLO). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain evaluasi program ex-post facto. Populasi penelitian adalah 30 sekolah Adiwiyata di Kota Bima dengan 110 responden terdiri dari kepala sekolah dan guru. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert yang valid dan reliabel (α = 0,924), kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan Program Sekolah Adiwiyata efektif dengan Indeks Pelaksanaan Program (IPP) sebesar 4,011 (80,2%) dan pencapaian SLO sebesar 4,23 (84,6%) kategori "Sangat Baik". Komponen Process memiliki pengaruh terbesar terhadap SLO (β = 0,398), diikuti Product (β = 0,312), Input (β = 0,245), dan Context (β = 0,186). Secara simultan, komponen CIPP berpengaruh signifikan terhadap SLO dengan kontribusi 64,3% (R² = 0,643). Penelitian menyimpulkan bahwa Program Sekolah Adiwiyata di Kota Bima efektif sebagai model pembelajaran lingkungan berkelanjutan dengan komponen Process sebagai faktor determinan utama. Rekomendasi meliputi penguatan kualitas implementasi program, peningkatan alokasi anggaran, dan penguatan regulasi daerah untuk optimalisasi program.
Peran Kecerdasan Buatan dan Kompetensi Guru dalam Pemerataan Pendidikan Berkualitas di Indonesia Ahmad Jaelani; Rinda Afliani
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i1.115

Abstract

Transformasi digital pendidikan di Indonesia semakin menekankan pemanfaatan teknologi cerdas, termasuk platform pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam infrastruktur, kompetensi digital guru, dan kualitas hasil belajar antara sekolah urban dan rural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi solusi AI-driven personalized learning yang diintegrasikan dengan program pengembangan profesional guru intensif terhadap pemerataan hasil belajar siswa. Studi menggunakan desain mixed-methods longitudinal selama dua tahun yang melibatkan sekolah intervensi dan kontrol di wilayah rural Indonesia. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-post tests, platform analytics, serta indikator equity gap; sementara data kualitatif diperoleh melalui wawancara guru, observasi kelas, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada capaian belajar siswa di sekolah intervensi dengan rata-rata peningkatan 23,4% dibandingkan kelompok kontrol. Analisis equity gap mengindikasikan penyempitan kesenjangan hasil belajar antar kelompok sosial-ekonomi sebesar 18,7%. Temuan kualitatif mengungkap bahwa kompetensi guru dalam mengintegrasikan AI ke dalam praktik pedagogis (AI-TPACK) menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap literatur digital equity dan kontribusi praktis bagi kebijakan adopsi teknologi AI dalam pendidikan di negara berkembang.
Analisis Kesiapan Sekolah di Kota Bima dalam Implementasi Green School Management Randitha Missouri; Di'ya Putri Safira; Ulfa Dian
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i1.117

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesiapan sekolah menengah di Kota Bima dalam mengimplementasikan green school management, mengidentifikasi faktor-faktor penentunya, serta memetakan profil kesiapan sekolah sebagai dasar pengembangan model implementasi bertingkat. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, melibatkan 442 responden dari 42 sekolah menengah di Kota Bima. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesiapan sekolah secara keseluruhan berada pada kategori sedang (M = 3,12; SD = 0,47). Analisis regresi mengungkapkan bahwa komitmen kepemimpinan merupakan prediktor terkuat kesiapan sekolah (β = 0,42; p < 0,001), sementara keterbatasan pengetahuan dan keterampilan teknis menjadi hambatan utama. Melalui analisis klaster, teridentifikasi tiga profil kesiapan sekolah, yaitu Ready Schools (16,7%), Developing Schools (54,8%), dan Emerging Schools (28,5%), yang merefleksikan kebutuhan intervensi yang berbeda. Penelitian ini mengembangkan School Readiness Assessment Instrument (SRAI) yang terbukti valid dan reliabel (α = 0,72–0,89) serta merumuskan model implementasi bertingkat yang kontekstual dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan agama sebagai penguat motivasi. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi empiris dan praktis bagi pengembangan kebijakan serta perencanaan implementasi pendidikan berkelanjutan yang lebih adaptif terhadap tingkat kesiapan dan karakteristik lokal sekolah.
Kerangka HIKMAH untuk Integrasi Etika Algoritma dan Moralitas Islam dalam Pendidikan Agama Berbasis AI Sri Jamilah; Masita; Ma&#039;ul Hayat
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i2.107

Abstract

Penggunaan kecerdasan artifisial dalam pendidikan agama memperluas akses informasi dan personalisasi pembelajaran, tetapi sekaligus menimbulkan risiko bias algoritmik, halusinasi informasi, pelanggaran privasi, ketergantungan kognitif, dan masalah integritas akademik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Kerangka HIKMAH sebagai arsitektur pedagogis yang mengintegrasikan prinsip responsible artificial intelligence dengan moralitas Islam dalam Pendidikan Agama Islam. Penelitian menggunakan integrative literature review dan sintesis konseptual terhadap 31 publikasi inti yang terverifikasi melalui DOI, dengan prioritas literatur 2021-2026 pada bidang etika AI, AI dalam pendidikan, literasi AI, etika Islam, dan pedagogi digital. Analisis dilakukan melalui ekstraksi konsep, pengodean deduktif-induktif, pemetaan silang, serta pengujian koherensi pedagogis. Hasil sintesis menghasilkan enam domain HIKMAH, yaitu Hifz al-Aql dan martabat manusia, Integritas epistemik dan tabayyun, Keadilan algoritmik dan inklusivitas, Maslahah dan pencegahan mafsadah, Amanah digital dan akuntabilitas, serta Human oversight dan hikmah reflektif. Kerangka ini menempatkan etika sebagai proses penalaran sebelum, selama, dan setelah penggunaan AI. HIKMAH memperluas literasi AI dengan menyatukan verifikasi epistemik, perlindungan agensi, keadilan, maslahat, tanggung jawab, dan kendali manusia. Implikasi penelitian mencakup kebijakan sekolah, kurikulum, pedagogi, asesmen, serta pengembangan kompetensi guru untuk membangun penggunaan AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Resiliensi Preventif Manajemen Kesiswaan terhadap Risiko Radikalisasi Digital pada Generasi Z di Sekolah Menengah Nurul Qomariah; Nazamuddin Ilyas
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i1.108

Abstract

Transformasi digital memperluas ruang pembentukan identitas Generasi Z sekaligus meningkatkan paparan terhadap narasi ekstrem, intoleran, dan radikal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan manajemen kesiswaan dalam mencegah infiltrasi radikalisme digital serta merumuskan resiliensi preventif sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods evaluatif dengan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Partisipan berjumlah 300 orang dari 12 sekolah, terdiri atas 12 kepala sekolah, 12 wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, 12 guru bimbingan dan konseling, 12 guru PPKn/PAI, 12 orang tua, dan 240 siswa. Data dikumpulkan melalui angket, wawancara semi-terstruktur, observasi, serta analisis dokumen. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik dan diintegrasikan pada tahap interpretasi. Hasil menunjukkan indeks context sebesar 81,7, input 74,2, process 68,5, dan product 72,1. Kesenjangan utama terdapat pada pelatihan khusus, integrasi literasi digital, pemantauan perilaku digital, mekanisme deteksi dini, koordinasi sekolah-keluarga, dan kepercayaan siswa terhadap layanan sekolah. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa kesadaran risiko berkembang lebih cepat daripada kesiapan sistem operasional. Penelitian menyimpulkan bahwa pencegahan yang efektif memerlukan resiliensi preventif manajemen kesiswaan yang mengintegrasikan kebijakan, literasi digital kritis, dukungan psikososial, iklim sekolah inklusif, partisipasi siswa, dan kemitraan keluarga.
Evaluasi Keberlanjutan Pemanfaatan Learning Management System melalui Kualitas Sistem dan Keterlibatan Belajar di Perguruan Tinggi Retno Kusuma; Amar Ma’ruf; Hidayatul Zomar
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i1.109

Abstract

Transformasi digital pascapandemi COVID-19 menggeser peran Learning Management System (LMS) dari solusi pembelajaran darurat menjadi infrastruktur akademik yang semakin melekat dalam pendidikan tinggi. Namun, keberlanjutan pemanfaatannya belum selalu diikuti peningkatan kualitas pengalaman belajar. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberlanjutan pemanfaatan LMS dengan mengintegrasikan perspektif keberhasilan sistem informasi, post-adoption continuance, dan keterlibatan belajar. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods. Tahap kuantitatif menganalisis data dari 403 mahasiswa pengguna LMS menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), sedangkan tahap kualitatif menggunakan wawancara semi-terstruktur terhadap mahasiswa dan dosen untuk memperdalam hasil kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (β = 0,29; p < 0,001), kualitas informasi (β = 0,21; p < 0,001), kualitas sistem (β = 0,18; p = 0,004), dan keterlibatan belajar (β = 0,24; p < 0,001) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna. Kepuasan menjadi prediktor terkuat terhadap intensi penggunaan berkelanjutan (β = 0,43; p < 0,001). Temuan kualitatif menunjukkan bahwa LMS masih dominan digunakan untuk distribusi materi dan pengumpulan tugas, sedangkan fungsi interaktif, umpan balik formatif, kolaborasi, dan learning analytics belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan LMS tidak cukup ditopang oleh keandalan teknologi, tetapi memerlukan integrasi desain pedagogis, keterlibatan aktif mahasiswa, kompetensi digital dosen, dan tata kelola pembelajaran digital yang berkelanjutan.
Keterlaksanaan Bimbingan dan Konseling Komprehensif sebagai Prediktor Kesejahteraan Psikologis Siswa Nurjanah; Nurlatifah Alaudin
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i2.110

Abstract

Pemulihan pembelajaran setelah pandemi tidak serta-merta menghapus tekanan psikologis yang dialami siswa. Sekolah memerlukan program bimbingan dan konseling yang dapat diakses, responsif, terencana, dan terintegrasi dengan sistem dukungan sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keterlaksanaan program bimbingan dan konseling komprehensif, memetakan kesejahteraan psikologis siswa, serta menguji kontribusi relatif setiap komponen layanan. Penelitian menggunakan desain evaluatif korelasional dengan survei potong lintang. Dalam penelitian ini, sampel terdiri atas 420 siswa SMA dan SMK yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Keterlaksanaan program diukur melalui asesmen dan perencanaan, layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem. Kesejahteraan psikologis mengacu pada enam dimensi Ryff. Analisis mencakup statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linear hierarkis. Hasil penelitian menunjukkan keterlaksanaan program mencapai 73,8% dari skor ideal dan kesejahteraan psikologis mencapai 72,6%. Keterlaksanaan program berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis (r = 0,47; p < 0,001) dan memberikan tambahan variasi terjelaskan sebesar 20% setelah karakteristik siswa dikendalikan. Layanan responsif dan layanan dasar menjadi prediktor statistik terkuat. Temuan menegaskan bahwa penguatan akses, kesinambungan, kolaborasi, dan dukungan sistem perlu menjadi prioritas layanan pascapandemi.
Model Integrasi Literasi Iklim Berbasis Proyek untuk Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan dan Aksi Siswa Siti Aisyah Ramadhani; Debi Deborah
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i1.116

Abstract

Pendidikan iklim di sekolah menengah masih cenderung menekankan pengetahuan, sementara kemampuan mengevaluasi informasi dan bertindak belum berkembang setara. Penelitian ini menganalisis profil literasi iklim siswa dan mengidentifikasi mekanisme pedagogis pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang dapat menjembatani kesenjangan pengetahuan dan aksi. Desain mixed-method sekuensial eksplanatoris digunakan melalui survei siswa dan wawancara guru sains. Hasil menunjukkan literasi iklim berada pada kategori sedang (58,7%). Pengetahuan sistem iklim memperoleh skor tertinggi (67,4%), sedangkan evaluasi informasi (54,3%) dan kompetensi aksi (50,9%) menjadi area terlemah. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa PjBL menjadi lebih transformatif ketika memadukan isu iklim lokal, kolaborasi multipihak, refleksi kritis sistem sosio-ekologis, aksi nyata, dan asesmen autentik. Kebaruan penelitian ini berupa model integrasi tiga dimensi, yaitu konten, pedagogi, dan konteks, yang menjelaskan mekanisme perubahan dari pemahaman iklim menuju kompetensi aksi. Model ini memberi panduan operasional bagi guru untuk merancang proyek iklim berbasis masalah lokal dengan keluaran aksi terukur dan refleksi berbasis bukti.
Academic Writing Instruction in Eastern Indonesia: A Multi-Stakeholder Needs Analysis of Tertiary EFL Learners Ummu Rofikah
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i2.135

Abstract

Academic writing instruction in EFL higher education is often planned without comparing learners’ perceptions with the expectations of more experienced stakeholders. This study examined perceived needs for academic writing instruction at UIN Alauddin Makassar, Eastern Indonesia, and identified areas of convergence and divergence among 51 fourth-semester students, 100 senior students who had completed an academic writing course, and two academic writing lecturers. A quantitative descriptive needs-analysis design used a structured questionnaire covering perceived EFL proficiency, the importance and goals of academic writing, confidence in writing tasks, preferred topics, and instructional activities. Frequencies, percentages, and mean scores were calculated separately for each group and compared descriptively across stakeholder groups. All groups viewed academic writing as important and identified summarizing and paraphrasing as a shared area of low confidence. However, they differed in evaluations of critical source use and preferred learning activities: senior students prioritized workshops and AI-assisted learning, whereas lecturers favored peer review and individual writing tasks. The study contributes a context-sensitive, multi-stakeholder account that connects needs analysis with academic literacy by showing that perceived general EFL proficiency does not necessarily indicate readiness for source-based academic writing. The findings support instruction that combines diagnostic assessment, explicit source-literacy development, scaffolded feedback, and carefully guided technology use. Because the evidence is perception-based and drawn from one institution, the results represent reported needs rather than direct measures of writing performance.
EFL Academic Writing Challenges under Divided Responsibility: An Academic Literacies Analysis Informed by Lea and Street Ummu Rofikah
Pendiri: Jurnal Riset Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pendiri.v3i2.136

Abstract

Academic writing challenges in EFL higher education are often framed as deficiencies in students’ language and writing skills, with less attention to the pedagogical and institutional conditions through which academic writing is taught. This study investigated challenges perceived by current students, course-experienced students, and lecturers in a Writing for Academic Purposes course at an Indonesian university. A quantitatively driven explanatory sequential mixed-methods design was employed. Questionnaire data from 153 participants were summarized using item-level mean scores, while semi-structured interviews with 12 participants were analyzed through Reflexive Thematic Analysis. Lea and Street’s Academic Literacies Model served as a sensitizing theoretical lens. The quantitative findings indicated recurring concerns related to AI literacy instruction, feedback, interpersonal interaction, teaching variation, instructional constraints, and difficulties across ideation, planning, drafting, and revision. The qualitative analysis developed four themes: standards without dialogue, scaffolding without agency, AI as unofficial writing infrastructure, and writing development under divided responsibility. In this study, divided responsibility refers to the distribution of responsibility for writing development across student engagement, pedagogical practices, and institutional conditions rather than its attribution to learners alone. Taken together, the findings suggest tensions among technical skills instruction, academic socialization, student agency, institutional expectations, and emerging AI-mediated writing practices. The study highlights the need for more dialogic feedback, transparent assessment, agency-oriented scaffolding, and explicit critical AI literacy in EFL academic writing instruction.

Page 3 of 3 | Total Record : 30