cover
Contact Name
Neneng
Contact Email
neneng@malahayati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
neneng@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Midwifery Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2775393X     EISSN : 27467953     DOI : https://doi.org/10.33024/mj.v5i3
Core Subject : Health,
MJ : Midwifery Journal, dengan nomor E-ISSN 2746-7953 (media online) dan P-ISSN 2746-7953 (media cetak) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh LPPM Universitas Malahayati MJ: Midwifery Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang kebidanan dan kesehatan. MJ : Midwifery Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MJ : Midwifery Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 164 Documents
Kondisi Fasilitas Sanitasi Dasar Di Sekolah Dasar Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan Tahun 2025 Munawaroh Munawaroh; Suami Indarwati; Karbito Karbito
MIDWIFERY JOURNAL Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 No 2 Juni 2026
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v6i2.26526

Abstract

 Background: Schools play an important role as an extension of the family in shaping children’s behavior, including health behavior. An unhealthy school environment can disrupt the teaching and learning process; therefore, adequate basic sanitation facilities are needed.Objective: This study aimed to determine the condition of basic sanitation facilities in elementary schools in Baradatu District, Way Kanan Regency, in 2025.Methods: This study used a descriptive design with a population of all elementary schools in Baradatu District, totaling 32 schools. The variables observed included clean water facilities, school toilets, handwashing facilities with soap (HWWS), wastewater management, and solid waste management.Results: The results showed that 21.87% of schools had a distance between the clean water source and septic tank of ≤10 meters, 87% of schools did not have toilets in clean condition, 54% of schools did not have HWWS facilities, and 90.62% of schools did not routinely desludge septic tanks. In addition, 53.12% of schools had not met waste management requirements, such as the unavailability of trash bins in every classroom and canteen.Conclusion: The condition of basic sanitation facilities in elementary schools in Baradatu District had not yet met the required standards. Improvements are needed through the provision of standard clean water facilities, improved toilet cleanliness, provision of HWWS facilities, regular septic tank desludging, and better waste management.Suggestion: Schools need to improve basic sanitation facilities through the provision of standard clean water, improved toilet cleanliness, provision of HWWS facilities, regular septic tank desludging, and better waste management. Related agencies are expected to conduct regular guidance and supervision. Keywords: School sanitation, clean water, toilets, handwashing facilities, waste management. ABSTRAK Latar Belakang: Sekolah merupakan perpanjangan tangan keluarga dalam membentuk perilaku anak, termasuk perilaku kesehatan. Lingkungan sekolah yang tidak sehat dapat mengganggu proses belajar mengajar sehingga diperlukan fasilitas sanitasi dasar yang memadai.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas sanitasi dasar di sekolah dasar Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan Tahun 2025.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan populasi seluruh sekolah dasar di Kecamatan Baradatu sebanyak 32 sekolah. Variabel yang diamati meliputi sarana air bersih, jamban sekolah, sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengolahan limbah cair, dan pengelolaan sampah.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21,87% sekolah memiliki jarak sumber air bersih dengan tangki septik ≤10 meter, 87% sekolah belum memiliki jamban dalam kondisi bersih, 54% sekolah belum memiliki sarana CTPS, dan 90,62% sekolah belum melakukan penyedotan lumpur tinja secara rutin. Selain itu, 53,12% sekolah belum memenuhi persyaratan pengelolaan sampah, seperti belum tersedianya tempat sampah di setiap kelas dan kantin.Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kondisi fasilitas sanitasi dasar di sekolah dasar Kecamatan Baradatu masih belum memenuhi persyaratan sehingga diperlukan perbaikan melalui penyediaan sarana air bersih sesuai standar, peningkatan kebersihan jamban, penyediaan sarana CTPS, penyedotan lumpur tinja secara berkala, serta pengelolaan sampah yang lebih baik.Saran: Sekolah perlu meningkatkan fasilitas sanitasi dasar melalui penyediaan air bersih sesuai standar, perbaikan kebersihan jamban, penyediaan sarana CTPS, penyedotan lumpur tinja secara berkala, serta pengelolaan sampah yang lebih baik. Dinas terkait diharapkan melakukan pembinaan dan pengawasan secara rutin. Kata Kunci: Sanitasi sekolah, air bersih, jamban, CTPS, pengelolaan limbah.
Model Prediksi Penurunan Fe Dalam Air Menggunakan Metode Cascade Haris Kadarusman; Nawan Prianto; Agus Sutopo; Amrul Hasan
MIDWIFERY JOURNAL Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 No 2 Juni 2026
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v6i2.26498

Abstract

Background: Step-shaped cascades are recognized as the most effective in reducing Fe in water compared to flat or wavy cascades. However, previous studies have only been limited to identifying the optimal cascade shape and have not yet reached the development of a predictive model for Fe reduction using this cascade method.Objective: Developing a predictive model for the reduction of Fe in water using a cascade made of layered wood coated with plastic/rubber, with water flow diameters using hoses/pipes of 3/16 inch, 5/16 inch, and 7/16 inch.Method: The type of study is an experiment, using 75 water samples taken from dug wells or hand pump wells, which were channeled through the cascade. The dependent variable was the reduction of Fe after aeration through the cascade, while the independent variables were water flow rate, water pH, water temperature, dissolved oxygen, and Fe content in the water before aeration. The data were analyzed using multiple linear regression. This study did not measure or observe humidity, air temperature, and oxygen content in the air because it was conducted in an environment with consistent conditions.Results: A candidate model was obtained consisting of four main variables, i.e. water flow rate 1 and water flow rate 2, water pH, dissolved oxygen, and initial Fe. There were two interaction variables, i.e. the interaction between water flow rate and Fe before aeration, and the interaction between dissolved oxygen and Fe before aeration. Diagnostic results regarding assumption fulfillment indicated that the candidate model satisfies the assumptions of multiple linear regression; however, collinearity diagnostics revealed the presence of collinearity symptoms within the model. However, since the model was intended for prediction, therefore collinearity is not a serious issue. The model reliability test yielded a Shrinkage value of 0.21 or 21%, which means that the candidate model is sufficiently reliable to be established as a predictive model for the reduction of Fe in water using the cascade method.Conclusion: The mathematical function equation obtained for Fe reduction as the final result of the study is: -695 + (-0.166 × flow rate 3.7 l/min) + (-0.334 × (flow rate 1.06 l/min) + 0.329 × (water pH) + (-0.108 × dissolved oxygen)) + (-0.664 × initial Fe)) + 0.142 × (flow rate 1 × initial Fe) + 0.588 × (flow rate 2 × initial Fe) + 0.134 × (dissolved oxygen × initial Fe). Keywords: prediction model, Fe reduction, cascade method ABSTRAK Latar Belakang : Cascade bentuk anak tangga diketahui sebagai yang terbaik dalam menurunkan Fe dalam air dibandingkan bentuk Cascade datar atau bergelombang, namun penelitian terdahulu hanya terbatas mengetahui bentuk cascade terbaik, tidak sampai memperoleh model prediksi penuruan Fe dalam air menggunakan metode cascade.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah dapat menghasilkan model prediksi penurunan Fe dalam air menggunakan cascade dengan bahan kayu berlapis plastik/karet dengan diameter aliran air menggunakan selang/pipa 3/16 inchi, 5/16 inchi dan 7/16 inchi.Metodologi : Jenis Penelitian adalah eksperimen dengan menggunakan 75 buah  sampel  air yang berasal dari sumur gali atau  sumur pompa tangan kemudian dialirkan melalui cascade. Variabel Dependen adalah penurunan Fe setelah aerasi melalui Cascade dan Variabel Independen adalah Debit air, Derajat Keasaman Air, Suhu Air, Oksigen Terlarut dan Kandungan Fe dalam Air sebelum aerasi, kemudian dianalisis  menggunakan Regresi Linier Ganda.  Didalam penelitian ini tidak melakukan pengukuran/ pengamatan terhadap kelembaban, suhu udara dan kandungan oksigen di udara karena dilakukan pada ruang dengan kondisi yang sama.   Hasil : Dari hasil penelitian diperoleh kandidat model yang berisi empat variabel dasar yaitu variabel Debit 1 dan debit 2, Derajat Keasaman, Oksigen Terlarut dan Fe Awal serta dua variabel interaksi yaitu interaksi antara Debit Air dan Fe sebelum aerasi serta Interaksi antara Oksigen Terlarut dengan Fe sebelum aerasi.  Hasil diagnostik pemenuhan asumsi menyatakan bahwa kandidat model dapat memenuhi asumsi-asumsi regresi linier ganda namun dari diagnostik kolinearitas diketahui terdapat gejala kolinearitas dalam model, tetapi karena model bertujuan untuk prediksi maka masalah kolineraitas bukan merupakan masalah serius. Uji reliabilitas Model memberikan hasil nilai Shrinkage = 0,21 atau  = 21 %, dengan demikian kandidat model cukup reliabel untuk ditetapkan sebagai model prediksi penurunan Fe Dalam Air menggunakan Metode cascade.Kesimpulan : Persamaan fungsi matematis Penurunan Fe yang diperoleh sebagai hasil akhir dari penelitian adalah:Penurunan Fe = - 695 + (- 0,166 x debit 1)  + (- 0,334 x (Debit 2) + 0,329 (pH Air)  +  (-0,108 x Oksigen Terlarut))  +  (-0,664 x Fe Awal)) + 0,142 x (Debit1*Fe Awal) + 0,588 x (Debit 2 * Fe Awal) + 0,134 x (Oksigen Terlarut * Fe Awal). Kata Kunci : Model Prediksi, Penurunan Fe, Cascade
Pernikahan Dini Dan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Novinta Indana Rohmah; Tut Rayani Akhsohini Wijayanti
MIDWIFERY JOURNAL Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 No 2 Juni 2026
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v6i2.26267

Abstract

Background:  Pregnancy is the process of embryonic development within a woman's womb, lasting approximately nine months. Early pregnancy due to early marriage can lead to inadequate maternal nutritional needs, leading to the risk of anemia, chronic energy deficiency (CED), hemorrhage, and low birth weight (LBW). Purpose: This study aims to determine the relationship between early marriage and the incidence of anemia in pregnant women. Methods: The research method used was an analytical survey with a cross-sectional approach. The sampling technique used was total sampling. The sample in this study was all 92 pregnant women registered in the KIA register. Results: The results showed that of the 63 respondents who experienced early marriage, the majority (58 respondents (92.1%)) experienced anemia, while 5 respondents (7.9%) did not experience anemia. Meanwhile, of the 29 respondents who did not experience early marriage, the majority (25 respondents (86.2%)) did not experience anemia, and 4 respondents (13.8%) did experience anemia. The results of the Chi-Square statistical test yielded a p-value of 0.000 ( 0.05), thus concluding that there is a significant relationship between early marriage and the incidence of anemia in pregnant women. Conclusion: The results of the chi-square statistical test yielded a p-value of 0.001 (0.05), thus concluding that there is a significant relationship between early marriage and the incidence of anemia in pregnant women. Mothers who marry early have a higher risk of developing anemia than mothers who do not marry early. Suggestions; Education about the impact of early marriage and monitoring the health of pregnant women need to be improved to prevent anemia in pregnancy. Keywords: Anemia, Pregnant Women, Early Marriage Keywords: Anemia, Early Marriage, Pregnant Women ABSTRAK Latar Belakang: Kehamilan merupakan proses perkembangan embrio hingga janin di dalam rahim seorang perempuan yang berlangsung kurang lebih selama sembilan bulan. Kehamilan pada usia muda akibat pernikahan dini dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi ibu tidak terpenuhi secara optimal, sehingga berisiko menimbulkan anemia, Kekurangan Energi Kronis (KEK), perdarahan, serta melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pernikahan dini dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Metode:  Metode penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan Adalah total sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang terdaftar dalam buku register KIA dengan jumlah sebanyak 92 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 63 responden yang mengalami pernikahan dini, sebagian besar mengalami anemia yaitu 58 responden (92,1%), sedangkan 5 responden (7,9%) tidak mengalami anemia. Sementara itu, dari 29 responden yang tidak mengalami pernikahan dini, sebagian besar tidak mengalami anemia yaitu 25 responden (86,2%), dan 4 responden (13,8%) mengalami anemia. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pernikahan dini dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Kesimpulan: Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square diperoleh nilai p-value sebesar 0,001 (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pernikahan dini dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu yang menikah dini memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan ibu yang tidak menikah dini. Saran: Edukasi tentang dampak pernikahan dini dan pemantauan kesehatan ibu hamil perlu ditingkatkan guna mencegah kejadian anemia pada kehamilan. Kata Kunci: Anemia, Ibu Hamil, Pernikahan Dini   
Gambaran Sanitasi Kolam Renang Di Gisting Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Suami Indarwati
MIDWIFERY JOURNAL Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 No 2 Juni 2026
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v6i2.26525

Abstract

Background: Swimming pools are public facilities that have the potential to become a medium for disease transmission if they do not meet sanitation standards. Proper sanitation management is essential to ensure water quality, environmental hygiene, and the safety of visitors. Purpose: This study aimed to describe the sanitation conditions of swimming pools in Gisting District, Tanggamus Regency in 2025, including water quality, sanitation facilities, and building construction. Methods: This research used a descriptive method with a cross-sectional approach. Data were collected through observations, measurements, and interviews conducted at two swimming pools, namely Butterfly Swimming Pool and Lentana Garden Swimming Pool. The assessment focused on water quality, sanitation facilities, and building construction based on applicable health regulations.Results: The results showed that the water quality of both swimming pools generally met the required standards, although discrepancies were found in the residual free chlorine levels. Most sanitation facilities in both swimming pools complied with the standards; however, several facilities such as foot-washing basins and chemical storage rooms did not meet the requirements. The building construction of Lentana Garden Swimming Pool met the standards, while Butterfly Swimming Pool did not meet the requirements in terms of lighting conditions.Conclusion: The sanitation conditions of swimming pools in Gisting District were generally adequate. However, improvements are still needed in several sanitation facilities and building construction components to ensure compliance with health standards and to minimize the risk of disease transmission among visitors. Keywords: Swimming pool, sanitation, water quality, sanitation facilities, building construction. ABSTRAK Latar Belakang: Kolam renang merupakan fasilitas umum yang memiliki potensi sebagai media penularan penyakit apabila tidak memenuhi standar sanitasi. Pengelolaan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk menjaga kualitas air, kebersihan lingkungan, serta keamanan dan kesehatan pengunjung.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sanitasi kolam renang di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus Tahun 2025 yang meliputi kualitas air, fasilitas sanitasi, dan konstruksi bangunan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh melalui observasi, pengukuran, dan wawancara terhadap dua kolam renang, yaitu Kolam Renang Butterfly dan Kolam Renang Lentana Garden. Penilaian dilakukan terhadap kualitas air, fasilitas sanitasi, dan konstruksi bangunan berdasarkan standar kesehatan yang berlaku.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air kedua kolam renang pada umumnya memenuhi persyaratan, meskipun ditemukan ketidaksesuaian pada kadar sisa klor bebas. Fasilitas sanitasi di kedua kolam renang sebagian besar telah memenuhi persyaratan, namun beberapa fasilitas seperti bak cuci kaki dan gudang penyimpanan bahan kimia masih belum sesuai standar. Konstruksi bangunan pada Kolam Renang Lentana Garden memenuhi persyaratan, sedangkan Kolam Renang Butterfly belum memenuhi persyaratan pada aspek pencahayaan.Kesimpulan: Sanitasi kolam renang di Kecamatan Gisting secara umum sudah cukup baik. Namun, masih diperlukan perbaikan pada beberapa komponen fasilitas sanitasi dan konstruksi bangunan agar sesuai dengan standar kesehatan serta dapat meminimalkan risiko penularan penyakit kepada pengunjung. Kata Kunci: Kolam renang, sanitasi, kualitas air, fasilitas sanitasi, konstruksi bangunan.