cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKARUPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017)" : 10 Documents clear
Pendekatan Semiotika dalam Analisis Tanda Iklan Layanan Masyarakat Kampanye Kebersihan “Sayang Bandung” Tahun 2014-2015 Iriani, Dewi; Budiwaspada, Agung Eko; Larasati, Dwinita
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.331 KB)

Abstract

Tahun 2014, sebuah program komunikasi kota bertajuk Sayang Bandung mengeluarkan dua iklan layanan masyarakat terkait kebersihan disertai dengan penegakan kembali Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) di Kota Bandung. Iklan tersebut dibuat oleh suatu tim non pemerintah (NGO) yang terdiri dari akademisi dan praktisi kreatif di kota Bandung. Dua versi iklan ‘Sayang Bandung’ yaitu ‘Iis’ dan ‘Asep’ mendapatkan banyak respon terutama di media sosial. Iklan ini tidak hanya mendapat perhatian dari netizen, melainkan juga dari portal berita online dan berbagai macam forum, seperti Kaskus.com yang memuat 70 halaman khusus untuk mengulas iklan tersebut. Respon positif berupa dukungan maupun respon negatif berupa kritikan disampaikan melalui akun media sosial ‘Sayang Bandung’. Penelitian ini bertujuan mengetahui tanda-tanda iklan dan mitos yang terbentuk dalam iklan ‘Sayang Bandung’ yang memicu munculnya respon-respon tersebut. Pendekatan semiotika teks Thwaites digunakan untuk menganalisis iklan tersebut. Berdasarkan analisa dipahami bahwa  dalam iklan Sayang Bandung terdapat konsep gender, daya tarik fisik, keakraban komunikasi, dan budaya yang digunakan untuk mengkomunikasikan perda serta himbauan kebersihan kepada masyarakat kota Bandung, khususnya yang berusia muda. Kata Kunci : iklan layanan masyarakat, sayang bandung, semiotika AbstraCT In 2014, a city communication program titled Sayang Bandung issued two public service announcements related to cleanliness accompanied by the re-enforcement of Peraturan Daerah No. 11 of 2005 on the Implementation of Order, Cleanliness and Fineness (K3) in Bandung. The ad was created by a non-government team (NGO) consisting of academics and creative practitioners in Bandung. Two versions of the ads of 'Sayang Bandung',  'Iis' and 'Asep' get a lot of response especially in social media. These ads not only get the attention of netizens, but also from online news portals and various forums, such as Kaskus.com which contains 70 pages specifically to review the ads. Positive response in the form of support and negative response in the form of criticism delivered through social media account 'Sayang Bandung'. This study aims to determine the signs of advertising and myths that formed in the ads of 'Sayang Bandung' which triggered the emergence of these responses. The Thwaites text semiotics approach is used to analyze the ad. Based on the analysis, it is understood that in the ads of‘Sayang Bandung’ there are gender concepts, physical attraction, communication intimacy, and culture used to communicate local regulations and hygiene appeals to the people of Bandung, especially young ones. Keywords : public service advertisement, sayang bandung, semiotics
Analisis Ideologi Visual pada Iklan Cetak Adidas Versi Chu-mu Yen, “No One Gets Up When A Whole World Kicks” Dewi, Agustina Kusuma
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.632 KB)

Abstract

Dalam upaya memperkenalkan produk dan jasa kepada konsumen, strategi komunikasi iklan harus di rancang dengan memerhatikan beragam tema dan ide strategi kreatif diterapkan dalam usaha mengambil perhatian konsumen. Dari iklan-iklan yang memukau dengan menampilkan kesan mewah, modern, futuristik, humor hingga iklan yang menampilkan animasi, terdapat pula iklan-iklan yang melakukan pendekatan-pendekatan secara budaya dengan mengangkat kultur masyarakat setempat seperti cerita rakyat, bahasa, kesenian atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat itu sendiri.  “Impossible Is Nothing” diluncurkan oleh Adidas pada Februari 2008 dalam bentuk iklan televisi, iklan cetak serta iklan melalui internet. Slogan ini ditujukan untuk meraih target audiens dalam rentang usia 12 – 24 tahun yang aktif berolahraga. Dalam seri iklan cetaknya yang menggunakan pendekatan modern, slogan ini, ketika menjadi brand official dalam Olimpiade 2008, terbagi dalam beberapa seri yang meng-endorse atlit olahraga, salah satunya adalah Chu-Mu Yen, atlit Taekwondo dari Taiwan yang pertama memenangkan medali pada Olimpiade. Iklan cetak Adidas versi Chu-Mu Yen, “No One Gets Up when A Whole World Kicks” adalah iklan cetak yang akan menjadi objek desain dalam analisis semiotika yang akan menganalisa makna yang terkandung dalam tagline dan headline yang memiliki stopping power dalam menarik khalayak sasaran, sehingga khalayak langsung melihat dan membaca iklan Adidas. Ideologi visual dalam iklan ini akan dikaji secara deskriptif kualitatif setelah penulis melakukan identifikasi pada tanda yang di bangun dalam iklan menggunakan sudut pandang semiotika Charles Sanders Peirce serta penerapan Metafora dan Metonimia pada relasi antar tanda.Kata kunci: Ideologi Visual, Iklan Cetak, Semiotika, Charles Sanders Peirce AbstraCTAs an effort to introduce products and services to consumers, the advertising communication strategy must be designed by looking at the various themes and creative strategy ideas applied in the effort to capture the attention of consumers. From fascinating advertisements featuring luxurious, modern, futuristic, humorous to animated ads, there are also advertisements that take cultural approaches by lifting the culture of local people such as folklore, language, art or customs society itself. "Impossible Is Nothing" was launched by Adidas in February 2008 in the form of television commercials, print ads and advertisements via the internet. The slogan is aimed at reaching the target audience within the 12 - 24 year age range who is active in exercising. In its print ad series using a modern approach, this slogan, when it became the official brand of the 2008 Olympics, is divided into several series that endorse sports athletes, one of them being Chu-Mu Yen, Taiwan's Taekwondo athlete who first won medals at the Olympics. Adidas print ad version of Chu-Mu Yen, "No One Gets Up when A Whole World Kicks" is a print advertisement that will be the object of design in semiotics analysis that will analyze the meaning contained in the tagline and headlines that have stopping power in attracting target audiences, so the audience immediately see and read Adidas ads. The visual ideology in this advertisement will be assessed descriptively qualitatively after the authors identify the signature constructed in the advertisement using the semiotic viewpoint of Charles Sanders Peirce as well as the application of Metaphor and Metonology to the relation between signs.Keywords: Visual Ideology, Print Ads, Semiotics, Charles Sanders Peirce
Rancang Bangun Desain Armatur Lampu Berbasis Diversifikasi Fungsi Produk Kriya Jamaludin, J.; RRZ, Bambang Arief
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian rancang bangun ini berdasarkan pada kondisi nyata bahwa berbagai produk budaya lokal seperti peralatan menanak nasi tradisional telah tersisihkan oleh adanya peralatan elektronik seperti magic-jar atau rice-cooker.  Perlu upaya pelestarian produk kriya tradisional berbahan alami tersebut ke dalam bentuk lain yang disesuaikan dengan kondisi jaman modern dan isu global seperti green-design atau desain ramah lingkungan. Penelitian ini merupakan studi alih fungsi kukusan wadah menanak nasi tradisional di masyarakat di Jawa Barat. Alih fungsi tersebut dalam bentuk menjadi komponen desain armatur lampu sebagai bagian dari lighting design. Upaya ini dimaksudkan untuk membantu keberlanjutan produk kriya tradisional agar terjadi kesinambungan produksi guna menunjang ekonomi para pengrajin dan menciptakan produk asesoris interior dengan bahan alami berbasis budaya lokal. Metoda rancang bangun desain dalam penelitian ini berupa pembuatan sketsa desain, montase dan pembuatan model dan purwarupa (prototype). Metode komparasi dipakai untuk mencari kesamaan bentuk tudung lampu dari model  yang umum untuk dijadikan acuan.  Hasil akhir dari penelitian ini adalah prototip berbagai jenis armatur lampu dalam bentuk tudung lampu (lampshade) lampu meja, lampu dinding dan lampu lantai.Kata Kunci : kriya, anyaman bambu, transformasi desain, desain pencahayaan, tudung lampu  AbstraCT This design study is based on the real condition that local cultural products such as traditional rice cooking equipment have been marginalized by electronic equipment such as magic-jar or rice-cooker. It is necessary to conserve the traditional craft products into other forms adapted to modern times and global issues such as green-design or eco-friendly design. This research is a study of the function of steamed rice containers in West Java. Rather the function is in the form of a component of armature lamp design as part of lighting design. This effort is intended to help the sustainability of traditional craft products in order to ensure continuity of production in order to support the economy of the craftsmen and create interior accessories products with natural ingredients based on local culture. Design method of design in this research is making sketch design, montage and modeling and prototype (prototype). Comparative method is used to find the similarity of lamp hood form from common model to be used as reference. The end result of this research is prototypes of various types of armature lamps in the form of lampshades (lampshade) table lamps, wall lamps and floor lamps.Keywords: craft, woven bamboo, design tranformation, lighting design,  lampshade
Kajian Experiential Graphic Design (EGD) Pada Interior Ruang Belanja Publik Trans Sstudio Mall Bandung Agusta, Aldrian
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.886 KB)

Abstract

Lingkungan wisata belanja di Trans Studio Mall Bandung menggunakan rambu grafis lingkungan berbasis pengalaman atau Experiential Graphic Design sebagai sarana identitas lokasi dan petunjuk arah. Berdasarkan teori EGD, keberadaan rambu informasi (signage) di TSM Bandung belum cukup mengikuti kaidah yang benar dalam rancang bangunnya, baik itu petunjuk informasi maupun identitas lokasi yang terkait dengan brand idetity. Kajian evaluasi kualitas perancangan rambu informasi (signage) Trans Studio Mall Bandung menjadi gambaran untuk membuat rancangan yang lebih baik lagi di masa mendatang hingga integrasi papan rambu dengan lingkungan dan brand dari mall dapat terwujud lebih baik. Kata Kunci: rambu, grafis, petunjuk arah.  AbstraCT The shopping environment in Trans Studio Mall Bandung uses experiential graphics based on experience or Experiential Graphic Design as a means of location identity and directions. Based on the theory of EGD, the existence of information signage in TSM Bandung is not enough to follow the correct rules in the design of experiential graphics visual, whether it is information instructions or location identity associated with brand identity. The evaluation of the quality of information signage design of Trans Studio Mall Bandung becomes an illustration to make better design in the future until the integration of signs with the environment and brand from the mall can be realized better. Keywords: signs, graphics, directions.
Ragam Bentuk Akulturasi Arsitektur Lokal dan Modern pada Bangunan Islamic Centerdi Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung Bachtiar Fauzy, Agung Nugraha,
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.511 KB)

Abstract

Perkembangan arsitektur saat ini menunjukkan situasi dan kondisi yang memprihatinkan, dengan muncul banyaknya fenomena perkembangan arsitektur modern tanpa mengindahkan budaya dan nilai-nilai lokal dan menjadikan arsitektur tanpa nilai budaya, akhir dari kondisi ini akan meruntuhkan ciri, karakteristik dan identitas  lokal. Tujuan penelitian ini tentang ragam bentuk akulturasi arsitektur lokal dan modern pada bangunan Islamic Center di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung yang ditinjau dari aspek dominansi ragam bentuk akulturasi arsitektur lokal dan modern pada kasus studi. Teori yang diterapkan merujuk pada (1) teori budaya dan arsitektur Lampung, (2) teori budaya dan arsitektur modern, (3) teori fungsi, bentuk dan makna (fbm), (4) teori ordering principle, (5) teori archetypes, disamping metoda yang digunakan adalah deskripsi, analitik dan interpretatif yang dapat digunakan dalam melakukan kajian dan penelusuran mendalam terhadap kasus studi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ragam bentuk akulturasi arsitektur memiliki dominansi yang terjalin erat antara unsur lokal dan modern yang terlihat pada ekspresi bentukan arsitekturnya. Manfaat penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat, pentingnya lokalitas dalam melestarikan budaya dan arsitektur lokal dalam perkembangan arsitektur modern, sehingga teori ini dapat memberikan sumbangan untuk proses pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan merancang arsitektur. Kata kunci : Ragam, bentuk, akulturasi, arsitektur, budaya, lokal, modern.  ABSTRACT The current development of architecture is showing alarming situation and conditions, with the emergence of many phenomena of modern architectural development that do not heed local culture and values. They are creating architecture without cultural value. The final destination of current condition will undermine local traits, characteristics, and identity. This research is about various forms of acculturation involving local and modern architecture in Islamic Center building of Tulang Bawang Barat Regency, Lampung. It is viewed from the dominance aspects of the various forms of acculturation in a case study. This research shows that the various forms of architectural acculturation have a strongly interwoven dominance between local and modern elements that are seen in the expression of the architectural formation. This research can contribute the importance of locality in preserving local culture and architecture in the development of modern architecture. Therefore, this theory can contribute to the learning process that can be applied in architectural design activities. Keywords: Variety, form, acculturation, architecture, culture, local, modern.
Ragam Bentuk Akulturasi Arsitektur Lokal dan Modern pada Bangunan Islamic Centerdi Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung Agung Nugraha, Bachtiar Fauzy
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan arsitektur saat ini menunjukkan situasi dan kondisi yang memprihatinkan, dengan muncul banyaknya fenomena perkembangan arsitektur modern tanpa mengindahkan budaya dan nilai-nilai lokal dan menjadikan arsitektur tanpa nilai budaya, akhir dari kondisi ini akan meruntuhkan ciri, karakteristik dan identitas  lokal. Tujuan penelitian ini tentang ragam bentuk akulturasi arsitektur lokal dan modern pada bangunan Islamic Center di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung yang ditinjau dari aspek dominansi ragam bentuk akulturasi arsitektur lokal dan modern pada kasus studi. Teori yang diterapkan merujuk pada (1) teori budaya dan arsitektur Lampung, (2) teori budaya dan arsitektur modern, (3) teori fungsi, bentuk dan makna (fbm), (4) teori ordering principle, (5) teori archetypes, disamping metoda yang digunakan adalah deskripsi, analitik dan interpretatif yang dapat digunakan dalam melakukan kajian dan penelusuran mendalam terhadap kasus studi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ragam bentuk akulturasi arsitektur memiliki dominansi yang terjalin erat antara unsur lokal dan modern yang terlihat pada ekspresi bentukan arsitekturnya. Manfaat penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat, pentingnya lokalitas dalam melestarikan budaya dan arsitektur lokal dalam perkembangan arsitektur modern, sehingga teori ini dapat memberikan sumbangan untuk proses pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan merancang arsitektur. Kata kunci : Ragam, bentuk, akulturasi, arsitektur, budaya, lokal, modern.  ABSTRACT The current development of architecture is showing alarming situation and conditions, with the emergence of many phenomena of modern architectural development that do not heed local culture and values. They are creating architecture without cultural value. The final destination of current condition will undermine local traits, characteristics, and identity. This research is about various forms of acculturation involving local and modern architecture in Islamic Center building of Tulang Bawang Barat Regency, Lampung. It is viewed from the dominance aspects of the various forms of acculturation in a case study. This research shows that the various forms of architectural acculturation have a strongly interwoven dominance between local and modern elements that are seen in the expression of the architectural formation. This research can contribute the importance of locality in preserving local culture and architecture in the development of modern architecture. Therefore, this theory can contribute to the learning process that can be applied in architectural design activities. Keywords: Variety, form, acculturation, architecture, culture, local, modern.
Pendekatan Semiotika dalam Analisis Tanda Iklan Layanan Masyarakat Kampanye Kebersihan “Sayang Bandung” Tahun 2014-2015 Dewi Iriani; Agung Eko Budiwaspada; Dwinita Larasati
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2014, sebuah program komunikasi kota bertajuk Sayang Bandung mengeluarkan dua iklan layanan masyarakat terkait kebersihan disertai dengan penegakan kembali Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) di Kota Bandung. Iklan tersebut dibuat oleh suatu tim non pemerintah (NGO) yang terdiri dari akademisi dan praktisi kreatif di kota Bandung. Dua versi iklan ‘Sayang Bandung’ yaitu ‘Iis’ dan ‘Asep’ mendapatkan banyak respon terutama di media sosial. Iklan ini tidak hanya mendapat perhatian dari netizen, melainkan juga dari portal berita online dan berbagai macam forum, seperti Kaskus.com yang memuat 70 halaman khusus untuk mengulas iklan tersebut. Respon positif berupa dukungan maupun respon negatif berupa kritikan disampaikan melalui akun media sosial ‘Sayang Bandung’. Penelitian ini bertujuan mengetahui tanda-tanda iklan dan mitos yang terbentuk dalam iklan ‘Sayang Bandung’ yang memicu munculnya respon-respon tersebut. Pendekatan semiotika teks Thwaites digunakan untuk menganalisis iklan tersebut. Berdasarkan analisa dipahami bahwa  dalam iklan Sayang Bandung terdapat konsep gender, daya tarik fisik, keakraban komunikasi, dan budaya yang digunakan untuk mengkomunikasikan perda serta himbauan kebersihan kepada masyarakat kota Bandung, khususnya yang berusia muda. Kata Kunci : iklan layanan masyarakat, sayang bandung, semiotika AbstraCT In 2014, a city communication program titled Sayang Bandung issued two public service announcements related to cleanliness accompanied by the re-enforcement of Peraturan Daerah No. 11 of 2005 on the Implementation of Order, Cleanliness and Fineness (K3) in Bandung. The ad was created by a non-government team (NGO) consisting of academics and creative practitioners in Bandung. Two versions of the ads of 'Sayang Bandung',  'Iis' and 'Asep' get a lot of response especially in social media. These ads not only get the attention of netizens, but also from online news portals and various forums, such as Kaskus.com which contains 70 pages specifically to review the ads. Positive response in the form of support and negative response in the form of criticism delivered through social media account 'Sayang Bandung'. This study aims to determine the signs of advertising and myths that formed in the ads of 'Sayang Bandung' which triggered the emergence of these responses. The Thwaites text semiotics approach is used to analyze the ad. Based on the analysis, it is understood that in the ads of‘Sayang Bandung’ there are gender concepts, physical attraction, communication intimacy, and culture used to communicate local regulations and hygiene appeals to the people of Bandung, especially young ones. Keywords : public service advertisement, sayang bandung, semiotics
Analisis Ideologi Visual pada Iklan Cetak Adidas Versi Chu-mu Yen, “No One Gets Up When A Whole World Kicks” Agustina Kusuma Dewi
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upaya memperkenalkan produk dan jasa kepada konsumen, strategi komunikasi iklan harus di rancang dengan memerhatikan beragam tema dan ide strategi kreatif diterapkan dalam usaha mengambil perhatian konsumen. Dari iklan-iklan yang memukau dengan menampilkan kesan mewah, modern, futuristik, humor hingga iklan yang menampilkan animasi, terdapat pula iklan-iklan yang melakukan pendekatan-pendekatan secara budaya dengan mengangkat kultur masyarakat setempat seperti cerita rakyat, bahasa, kesenian atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat itu sendiri.  “Impossible Is Nothing” diluncurkan oleh Adidas pada Februari 2008 dalam bentuk iklan televisi, iklan cetak serta iklan melalui internet. Slogan ini ditujukan untuk meraih target audiens dalam rentang usia 12 – 24 tahun yang aktif berolahraga. Dalam seri iklan cetaknya yang menggunakan pendekatan modern, slogan ini, ketika menjadi brand official dalam Olimpiade 2008, terbagi dalam beberapa seri yang meng-endorse atlit olahraga, salah satunya adalah Chu-Mu Yen, atlit Taekwondo dari Taiwan yang pertama memenangkan medali pada Olimpiade. Iklan cetak Adidas versi Chu-Mu Yen, “No One Gets Up when A Whole World Kicks” adalah iklan cetak yang akan menjadi objek desain dalam analisis semiotika yang akan menganalisa makna yang terkandung dalam tagline dan headline yang memiliki stopping power dalam menarik khalayak sasaran, sehingga khalayak langsung melihat dan membaca iklan Adidas. Ideologi visual dalam iklan ini akan dikaji secara deskriptif kualitatif setelah penulis melakukan identifikasi pada tanda yang di bangun dalam iklan menggunakan sudut pandang semiotika Charles Sanders Peirce serta penerapan Metafora dan Metonimia pada relasi antar tanda.Kata kunci: Ideologi Visual, Iklan Cetak, Semiotika, Charles Sanders Peirce AbstraCTAs an effort to introduce products and services to consumers, the advertising communication strategy must be designed by looking at the various themes and creative strategy ideas applied in the effort to capture the attention of consumers. From fascinating advertisements featuring luxurious, modern, futuristic, humorous to animated ads, there are also advertisements that take cultural approaches by lifting the culture of local people such as folklore, language, art or customs society itself. "Impossible Is Nothing" was launched by Adidas in February 2008 in the form of television commercials, print ads and advertisements via the internet. The slogan is aimed at reaching the target audience within the 12 - 24 year age range who is active in exercising. In its print ad series using a modern approach, this slogan, when it became the official brand of the 2008 Olympics, is divided into several series that endorse sports athletes, one of them being Chu-Mu Yen, Taiwan's Taekwondo athlete who first won medals at the Olympics. Adidas print ad version of Chu-Mu Yen, "No One Gets Up when A Whole World Kicks" is a print advertisement that will be the object of design in semiotics analysis that will analyze the meaning contained in the tagline and headlines that have stopping power in attracting target audiences, so the audience immediately see and read Adidas ads. The visual ideology in this advertisement will be assessed descriptively qualitatively after the authors identify the signature constructed in the advertisement using the semiotic viewpoint of Charles Sanders Peirce as well as the application of Metaphor and Metonology to the relation between signs.Keywords: Visual Ideology, Print Ads, Semiotics, Charles Sanders Peirce
Rancang Bangun Desain Armatur Lampu Berbasis Diversifikasi Fungsi Produk Kriya J. Jamaludin; Bambang Arief RRZ
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian rancang bangun ini berdasarkan pada kondisi nyata bahwa berbagai produk budaya lokal seperti peralatan menanak nasi tradisional telah tersisihkan oleh adanya peralatan elektronik seperti magic-jar atau rice-cooker.  Perlu upaya pelestarian produk kriya tradisional berbahan alami tersebut ke dalam bentuk lain yang disesuaikan dengan kondisi jaman modern dan isu global seperti green-design atau desain ramah lingkungan. Penelitian ini merupakan studi alih fungsi kukusan wadah menanak nasi tradisional di masyarakat di Jawa Barat. Alih fungsi tersebut dalam bentuk menjadi komponen desain armatur lampu sebagai bagian dari lighting design. Upaya ini dimaksudkan untuk membantu keberlanjutan produk kriya tradisional agar terjadi kesinambungan produksi guna menunjang ekonomi para pengrajin dan menciptakan produk asesoris interior dengan bahan alami berbasis budaya lokal. Metoda rancang bangun desain dalam penelitian ini berupa pembuatan sketsa desain, montase dan pembuatan model dan purwarupa (prototype). Metode komparasi dipakai untuk mencari kesamaan bentuk tudung lampu dari model  yang umum untuk dijadikan acuan.  Hasil akhir dari penelitian ini adalah prototip berbagai jenis armatur lampu dalam bentuk tudung lampu (lampshade) lampu meja, lampu dinding dan lampu lantai.Kata Kunci : kriya, anyaman bambu, transformasi desain, desain pencahayaan, tudung lampu  AbstraCT This design study is based on the real condition that local cultural products such as traditional rice cooking equipment have been marginalized by electronic equipment such as magic-jar or rice-cooker. It is necessary to conserve the traditional craft products into other forms adapted to modern times and global issues such as green-design or eco-friendly design. This research is a study of the function of steamed rice containers in West Java. Rather the function is in the form of a component of armature lamp design as part of lighting design. This effort is intended to help the sustainability of traditional craft products in order to ensure continuity of production in order to support the economy of the craftsmen and create interior accessories products with natural ingredients based on local culture. Design method of design in this research is making sketch design, montage and modeling and prototype (prototype). Comparative method is used to find the similarity of lamp hood form from common model to be used as reference. The end result of this research is prototypes of various types of armature lamps in the form of lampshades (lampshade) table lamps, wall lamps and floor lamps.Keywords: craft, woven bamboo, design tranformation, lighting design,  lampshade
Kajian Experiential Graphic Design (EGD) Pada Interior Ruang Belanja Publik Trans Sstudio Mall Bandung Aldrian Agusta
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan wisata belanja di Trans Studio Mall Bandung menggunakan rambu grafis lingkungan berbasis pengalaman atau Experiential Graphic Design sebagai sarana identitas lokasi dan petunjuk arah. Berdasarkan teori EGD, keberadaan rambu informasi (signage) di TSM Bandung belum cukup mengikuti kaidah yang benar dalam rancang bangunnya, baik itu petunjuk informasi maupun identitas lokasi yang terkait dengan brand idetity. Kajian evaluasi kualitas perancangan rambu informasi (signage) Trans Studio Mall Bandung menjadi gambaran untuk membuat rancangan yang lebih baik lagi di masa mendatang hingga integrasi papan rambu dengan lingkungan dan brand dari mall dapat terwujud lebih baik. Kata Kunci: rambu, grafis, petunjuk arah.  AbstraCT The shopping environment in Trans Studio Mall Bandung uses experiential graphics based on experience or Experiential Graphic Design as a means of location identity and directions. Based on the theory of EGD, the existence of information signage in TSM Bandung is not enough to follow the correct rules in the design of experiential graphics visual, whether it is information instructions or location identity associated with brand identity. The evaluation of the quality of information signage design of Trans Studio Mall Bandung becomes an illustration to make better design in the future until the integration of signs with the environment and brand from the mall can be realized better. Keywords: signs, graphics, directions.

Page 1 of 1 | Total Record : 10