cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Modifikasi Cara Penentuan Kandungan Pasir pada Perancangan Campuran Beton Cara SNI dengan Metode Dreux Gorrise. (Hal. 21-32) Rabbani, Admiral Hazel; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 4: Desember 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.368 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i4.21

Abstract

ABSTRAK Pencampuran beton cara SNI menunjukkan bahwa kuat tekan hanya dipengaruhi oleh faktor air-semen, sedangkan jika dievaluasi dengan metode Dreux Gorisse diduga akan menghasilkan kuat tekan yang berbeda karena kuat tekan juga dipengaruhi oleh volume pasir. Modifikasi sedemikian rupa pada penentuan pasir dalam agregat gabungan pada cara SNI agar tidak mempengaruhi kuat tekan beton yang akan dihasilkan, dilakukan dengan cara Dreux Gorisse. Pengujian yang dilakukan menggunakan agregat maksimum 10 mm dan 20 mm, slump rencana 30-60 mm dan 60-180 mm. Modulus kehalusan pasir yang ditinjau adalah 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; dan 3,5. Hasil pengujian modifikasi menggunakan agregat maksimum 10 mm dengan slump 30-60 mm dan slump 60-180 mm pada modulus kehalusan pasir 1,5; 2,0; dan 2,5 membuktikan kuat tekan beton tidak dipengaruhi oleh kadar volume pasir. Pada pengujian modifikasi menggunakan agregat maksimum 20 mm dengan slump 30-60 mm dan slump 60-180 mm pada modulus kehalusan pasir 1,5; 2,0; dan 2,5 membuktikan juga bahwa kuat tekan beton tidak dipengaruhi oleh kadar volume pasir. Kata kunci: modulus kehalusan pasir, volume pasir, SNI, kuat tekan ABSTRACT Concrete mixing with the SNI method shows that compressive strength is only influenced by water-cement factors, whereas if evaluated by the Dreux Gorisse method it is assumed that the compressive strength value will be different because the compressive strength is also influenced by the volume of sand. Modifications are made in such a way as to the determination of sand in the combined aggregate on the SNI method so as not to affect the compressive strength of the concrete to be produced by Dreux Gorisse. Tests carried out using a maximum aggregate of 10 mm and 20 mm, slump plans are used 30-60 mm and 60-180 mm. The modulus of sand smoothness reviewed was 1.5, 2.0, 2.5, 3.0 and 3.5. The modified test results using a maximum aggregate of 10 mm with 30-60 mm slump and 60-180 mm slump on sand fineness modulus 1,5, 2,0, and 2,5 prove that the compressive strength of the concrete is not affected by the sand volume level. In testing the modification using a maximum aggregate of 20 mm with 30-60 mm slump and 60-180 mm slump on sand smoothness modulus of 1.5, 2.0, and 2.5 also prove that the compressive strength of the concrete is not affected by the volume level of the sand. Keywords: sand fineness modulus, sand volume, SNI, compressive strength
Analisis Geoteknik pada Teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) dalam Perencanaan Flyover Antapani (Hal. 70-81) Bahari, Sonny Riantama; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.678 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.70

Abstract

ABSTRAKJalan lintas atas (overpass) dapat dipilih untuk pengembangan jaringan jalan dalam mengurangi kemacetan yang diakibatkan oleh meningkatnya arus lalu lintas dan mengatasi konflik pada persimpangan sebidang. Pada tahun 2016 Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan) telah melakukan sebuah Pilot Project Flyover Antapani di Kota Bandung dengan menggunakan teknologi struktur baja bergelombang yang dikombinasikan dengan mortar busa sebagai oprit jembatan, teknologi ini dikenal dengan nama Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Timbunan dengan menggunakan mortar busa dapat mengurangi besar penurunan yang terjadi dibandingkan dengan teknologi konvensional. Analisis dilakukan dengan menggunakan program PLAXIS 3D yang berbasis metode elemen hingga. Dari hasil analisis didapat bahwa penurunan seketika pada fondasi Flyover Antapani di Kota Bandung sudah memenuhi standar izin. Selain itu penggunaan teknologi CMP pada perencanaan Flyover Antapani yang digunakan pada jenis tanah lunak juga menunjukkan hasil serupa, sehingga efektif apabila dilaksanakan pada tanah lunak.Kata kunci: penurunan, mortar busa, teknologi CMP, PLAXIS 3D ABSTRACTOverpass can be choosen as road network development to reduce traffic jam caused by increasing traffic flow and resolve conflict on intersection. In 2016 Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan) has done a Pilot Project Flyover Antapani in Bandung City using corrugated steel structure technology combined with foamed mortar as backfill, this technology was known as Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Foamed mortar embankment could reduce settlement compared to using conventional technology. Analysis was done using PLAXIS 3D program based on finite element method. It shows that immediate settlement on Flyover Antapani’s foundation in Bandung City met the necessary standard. On the other side the use of CMP technology in Flyover Antapani design which applied to soft soil resulting a similar output, which will be effective if applied to soft soil.Keywords: settlement, foamed mortar, CMP technology, PLAXIS 3D
Tinjauan Pendidikan dan Penelitian MRK di Indonesia. (Hal. 124-135) Annisa, Annisa; Soemardi, Biemo Woerjanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.719 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.124

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai perkembangan Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) di Indonesia dan proyeksi ke depannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan mencari referensi sejarah perkembangan MRK di Indonesia melalui penelusuran artikel di jurnal, textbook, white paper, proceeding untuk mendapatkan distribusi dan fokus kajian potret penelitian sebelumnya dikombinasi dengan metode survei melalui kuesioner untuk mendapatkan prediktif, persepsi, ekspektasi tentang pendapat perkembangan, kesesuaian, kendala, dan saran perkembangan pendidikan dan penelitian MRK ke depannya. Hasil analisis untuk fokus kajian ke depan, prioritas akan topik-topik yang ada sebagian besar sudah sesuai dan belum bergeser. Konfirmasi berdasarkan data primer didapat bahwa perkembangan MRK di bidang pendidikan dan penelitian dinilai baik dan sebagian besar sudah cukup sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi saat ini, namun perlu peningkatan  dan realisasi hal-hal yang menjadi kendala dan saran pengembangan ke depannya agar sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi saat ini.Kata kunci: manajemen dan rekayasa konstruksi, pendidikan, penelitian ABSTRACTThis study will be discussed about the development of Construction Management and engineering (CEM) and  the projected development in Indonesia. This research employed analysis method to search for historical references of CEM development in Indonesia through articles in journals, textbooks, white papers, proceedings to obtain the distribution and study portraits of history, then  it is combined with survey method through a questionnaire to obtain predictive, perceptions, expectations of the development, suitability, constraints, educational and research development advice for CEM further. The results of the analysis of priority study are mostly already fit and have not shifted. Based on primary data obtained that CEM developments in the field of education and research is considered good and most are already quite fit the needs of today's construction industry, but need improvement and realization of the things that become obstacles and suggestions for future development to fit the needs of today's construction industry.Keywords: construction engineering and management, education, research
Perbandingan Kendala dan Tantangan Penerapan Konsep Green Campus di Itenas dan Unpar (Hal. 23-35) Puspadi, Nenes Anggi; Wimala, Mia; Sururi, Rangga
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.563 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.23

Abstract

ABSTRAKKonsep green campus merupakan suatu upaya pengelolahan lingkungan yang melibatkan civitas kampus dalam mewujudkan lingkungan kampus berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kendala dan tantangan penerapan konsep green campus di Itenas dan Unpar. Kuesioner, wawancara dan observasi langsung dilakukan untuk memperoleh data yang diinginkan. Analisis varians (Anova) untuk mengetahui perbedaan pemahaman dan perenapan konsep green campus diantara kedua PTS tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan mengenai pemahaman dan penerapan konsep green campus. Secara umum, kendala terbesar yang dihadapi adalah tingkat pemahaman pengguna kampus yang masih rendah dan masih lemahnya kebijakan pimpinan kampus terkait konsep ini. Solusi yang dapat direkomendasikan adalah dengan memperbanyak sosialisasi kepada pengguna kampus baik secara kurikulum, penelitian dan organisasi kemahasiswaan peduli lingkungan serta memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam melaksanakan konsep ini.Kata kunci: green campus, kendala dan tantangan, analisis varians ABSTRACTGreen campus concept is an environmental management efforts involving the campus community in creating environmentally friendly campus. This study aimed to compare the obstacles and challenges in the application of green campus at Itenas and Unpar. Survey through questionnaire, interview and site observation were conducted to obtain the desired data. Analysis of variance (ANOVA) was used to determine differences of understanding and implementation of the concept between both campuses. The result showed that there were no significant differences regarding the understanding and implementation of green campus at itenas and unpar. In general, the biggest obstacle was the poor understanding of green campus concept and lack of policies related to the concept issued by each campus. The recommended solutions to these problems were to socialize the green campus concept either through curriculum, research and student organizations concerning the environmental issues, and enhace the campus commitment to implement the green campus concept.Keyword: green campus, obstacle and challenge, analysis of variance
Studi Mengenai Pengaruh Ukuran Maksimum Agregat Kasar pada Campuran Beton Memadat Mandiri (SCC). (Hal. 62-73) Hermansah, Fitri Yanto; Sihotang, Abinhot
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.845 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.62

Abstract

ABSTRAKBeton memadat mandiri (SCC) adalah beton inovatif yang tidak memerlukan getaran pada saat proses pelaksanaanya. Beton ini diberikan zat tambah berupa superplasticizer pada campurannya agar dapat mengalir. Berdasarkan EFNARC, beton ini harus memenuhi 3 (tiga) kriteria yaitu filling ability, passing ability dan segregation resistance. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui sifat beton segar dan beton keras pada campuran beton SCC dengan ukuran agregat kasar maksimum 10 mm dan 20 mm. Kemudian komposisi campuran juga dibedakan berdasarkan modulus kehalusan gabungan agregat yang seragam dan bervariasi. Kuat tekan target pada campuran beton SCC 27 MPa dan 47 MPa.Perancangan campuran beton SCC untuk penelitian ini menggunakan cara SNI yang dimodifikasi dengan metode Dreux. Kadar superplasticizer yang digunakan untuk semua jenis campuran sebesar 1,5% dari berat semen. Hasil pengujian beton SCC menunjukan campuran mempunyai karakteristik yang relatif seragam jika modulus kehalusan agregat campuran mempunyai nilai yang sama.Kata kunci: beton memadat mandiri (SCC), modulus kehalusan, ukuran maksimum agregat, superplasticizer ABSTRACTSelf Compacting Concrete (SCC) is an innovative concrete that doesn’t require vibration during the process. This concrete is added with a superplasticizer in the mixture. Based on EFNARC, this concrete must fulfill 3 (three) conditions, such asfilling ability, passing ability and segregation resistance. Therefore, a study was conducted to determine the characteristic of fresh concrete and hard concrete in SCC mixtures with maximum size of 10-mm and 20-mm coarse agregates. The target compressive strength of SCC mixturesis 27 MPa and 47 MPa. In this study,the design of the SCC mixtures uses the SNI method that modified by the Dreux Method. The superplasticizer content used for all types of SCC mixtures is 1.5% of the weight of cement. The SCC test result shows the mixtures have relatively uniform characteristics if the fineness modulus of aggregate has the same value.Keywords: self-compacting concrete (SCC), fineness modulus, maximum agregate size, superplasticizer
Kajian Pengaruh Panjang ‘Back Span’ pada Jembatan Busur Tiga Bentang (Hal. 66-77) Yuliantono, Yuno; Aswandy, Aswandy
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.179 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.66

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini melakukan kajian pengaruh variasi bentang ‘back span’ pada jembatan. Jembatan yang dikaji adalah jembatan baja profil persegi tubular dengan bentang utama 150 meter dan ‘back span’ 51,2 meter. Ada 6 variasi penambahan dan pengurangan terhadap bentang ‘back span’ jembatan acuan awal yaitu : Model 1 berupa penambahan 10 meter, Model 2 berupa penambahan 5 meter, Model 3 berupa penambahan 0 meter, Model 4 berupa pengurangan 5 meter, Model 5 berupa pengurangan 10 meter, dan Model 6 berupa pengurangan 25 meter. Hasil analisis nilai terbesar menunjukan Model 1 sebesar 78.693,89 kN untuk reaksi perletakan rol, Model 1 sebesar 305,8 mm di girder jembatan untuk lendutan, Model 1 sebesar 21.611,454 kN di girder untuk aksial, Model 1 sebesar 36.775,691 kN di girder untuk momen lentur, dan model 1 sebesar 5.020,33 kN di girder untuk geser. Hal ini menunjukkan beban dari lengkung dan main span jembatan disalurkan menuju ‘back span’ seiring bertambahnya bentang.Kata kunci: jembatan lengkung baja, ‘back span’ ABSTRACTThis research investigate the effect of variant ‘back span’ length in a bridge. The type of the studied bridge is a hollow tube steel bridge with 150 meter of main span and 51,2 meter of back span. There are 6 variations of the addition and subtraction of the bridge 'back span'  length, that is: Model 1 with 10 meters addition, Model 2 with 5 meters addition, Model 3 with 0 meters addition, Model 4 with 5 meters reduction, Model 5 with 10 meters reduction, and Model 6 with 25 meters reduction. Results of the analysis showed that Model 1 have the greatest value of 78693.89 kN for the for roll joint reaction, 1Model amounted to 305.8 mm in girder bridge for deflection, Model 1 amounted to 21.611,454 kN in girder for axial, Model 1 amounted to 36.775,691 kN in girder for momen, and 1 Model amounted to 5.020,33 kN in girder for shear. This show that with increasing of the length, loads from arch and main span are distributed towards ‘back span’Keywords: steel arch bridge, ‘back span’
Desain Rangka Atap Baja Bentang Panjang dengan Memanfaatkan Konsep BIM. (Hal. 52-63) Rachmawati, Dina Sri; Kamaludin, Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.214 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.52

Abstract

ABSTRAKSaat ini penggunaan konsep BIM dalam prencanaan struktur bangunan sipil sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan konsep BIM adalah suatu konsep pertukaran data informasi antar software salah satu contoh software yang memanfaatkan konsep BIM adalah Tekla Structures dan SAP2000. Untuk pemodelan struktur digunakan Tekla Structures dan untuk proses analisis digunakan SAP2000. Konsep BIM dapat dimanfaatkan untuk menganalisis beban-beban yang terpasang. Penelitian ini dilakukan untuk menghitung beban SDL yang terpasang pada struktur rangka atap secara real yang telah dimodelkan lengkap pada Tekla Strctures. Dilanjutukan dengan menghitung berat SDL kemudian dimasukkan sebagai beban di SAP2000. Tahap ini dilakukan secara terus menerus hingga berat SDL yang terpasang ada Tekla Strctures sesuai dengan data yang diinput pada SAP2000. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berat penampang yang dirancang menggunakan konsep BIM dan tanpa konsep BIM akurat. Hasil dimensi dari material yang digunakan memenuhi syarat yang telah dilakukan.Kata kunci: Tekla Strutures, BIM, SAP2000 ABSTRACTNowadays, the application of BIM concept in civil structure planning is very necessary. BIM concept allows exchange of data information between softwares. Some of the softwares that use BIM concept are Tekla Structures and SAP2000. For modeling using Tekla Structures and for analysis using SAP2000. BIM concept is applied in order to analyse installed load. This study aims to calculate the installed load by real data. First of the building model of roof truss is completely created in Tekla Structures. Then, we calculate SDL load of the building and input it to SAP2000. This stage is done repeatedly until SDL load in Tekla Structures matches the data in SAP2000. The result shows that there is accurate cross section weight designed with BIM concept or without BIM concept. The dimension of materials that used is eligible.Keywords: Tekla Strutures, BIM, SAP2000
Pengaruh Perkuatan Sheetpile terhadap Deformasi Area Sekitar Timbunan pada Tanah Lunak Menggunakan Metode Partial Floating Sheetpile (PFS) (Hal. 75-84) Rochman, Azizi; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.304 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.75

Abstract

ABSTRAKKonstruksi timbunan pada tanah lunak mengakibatkan penurunan, deformasi lateral, dan geseran tanah ke atas yang dapat terjadi pada area sekitar timbunan. Hal ini disebabkan karena tanah lunak memiliki kuat geser dan permeabilitas yang rendah serta kompresibilitas besar. Perkuatan sheetpile digunakan untuk membentuk ketidaksinambungan tegangan antara timbunan dan area sekitarnya sehingga dapat mengurangi permasalahan yang terjadi. Tujuan penulisan ini adalah untuk membandingkan beberapa metode pemasangan sheetpile pada tanah lunak yaitu all bottom out (pemasangan semua sheetpile sampai tanah keras) dan partial floating sheetpile (pemasangan sheetpile dengan dengan sebagian mencapai tanah keras dan sebagian floating) dengan menggunakan program PLAXIS 3D. Sehingga hasil analisis dapat mengetahui besarnya penurunan dari berbagai metode pemasangan sheetpile yang telah dimodelkan.Kata kunci: timbunan, sheetpile, penurunan, metode elemen hingga, partial floating sheetpile (PFS) ABSTRACT The construction of embankment on a soft ground has involved a ground settlement, lateral deformation, and upheaval that occur to surrounding area. This is due to soft soils have low shear strength, low permeability and great compressibility. The sheetpile is used to form stress discontinuity between the embankment and the surrounding area so that its reduce the problem that occur. The purpose of this paper is to compare several methods of sheetpile installation on soft soil such as all bottom out (all sheetpile installation into bearing stratum), and partial floating sheetpile (installation of sheetpile with partially reaching bearing stratum and Partly floating) by using the PLAXIS 3D program. The results of the analysis is settlement of various methods of sheetpile installation that has been modeled.Keywords: embankment, sheetpile, settlement, finite element method, partial floating sheetpile (PFS)
Desain Tebal Perkerasan Lentur Landas Pacu Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang Menggunakan Metode Design & Maintenance Guide 27, Inggris. (Hal. 38-46) Prayoga, Aldo Budi; Sukirman, Silvia
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.729 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.38

Abstract

ABSTRAKPerkerasan merupakan salah satu komponen pada runway yang harus didesain dan dievaluasi agar dapat melayani lalu-lintas pesawat sehingga tidak menyebabkan kerusakan dan mengakibatkan terganggunya kinerja bandara. Studi kasus pada penelitian ini adalah mendesain tebal perkerasan lentur Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta menggunakan Design & Maintenance Guide 27. Tiga alternatif repetisi beban berdasarkan jenis penerbangan yang diasumsikan yaitu alternatif 1 50% internasional dan domestik, alternatif 2 75% internasional dan 25% domestik dan alternatif 3 100% internasional. Dari hasil desain berdasarkan 3 alternatif repetisi beban didapatkan hasil tebal perkerasan yang sama, yaitu 40 mm Marshall Asphalt Surface Course, 60 mm Marshall Asphalt Binder Course, 120 mm Marshall Asphalt Base Course, 401 mm Type FH Drylean Concrete untuk tipe High Strength Bound Base Material dan 563 mm Type F Drylean Concrete untuk tipe Bound Base Material.Kata kunci: perkerasan lentur, runway, marshall asphalt, HSBBM, BBM ABSTRACT                                                                              Pavement is a component of runway that must be designed and evaluated in order to serve airplane traffic so that is not causing damage and result disruption of airport performance. The case studies in this research is to design 3rd Runway's flexible pavement of the Soekarno-Hatta airport use Design & Maintenance Guide 27 . 3 alternative load reps based on the assumed flight type ie alternative 1 with 50% international and domestic, alternative 2 75% international and 25% domestic and alternative 3 100% international. From the results of the design based on 3 alternative reps load obtained the same pavement thickness results, namely 40 mm Marshall Asphalt Surface Course, 60 mm Marshall Asphalt Binder Course, 120 mm Marshall Asphalt Base Course, 401 mm Type FH Drylean Concrete for High Strength Bound Base Material and 563 mm Type F Drylean Concrete for Bound Base Material type. Keywords: flexible pavement, runway, marshall aphalt, HSBBM, BBM
Analisis Kapasitas Daya Dukung Pondasi Dangkal Tipe Menerus Pengaruh Kedalaman Tanah Keras (Hal. 36-46) Fauzi, Lutfy Ahmad; Ikhya, Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.449 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.36

Abstract

ABSTRAKPondasi dangkal hanya memerlukan kedalaman kurang dari lebarnya. Kapasitas daya dukung ialah kekuatan pondasi untuk melayani beban diatasnya. Analisis menggunakan program PLAXIS 2D AE menghasilkan bahwa semakin lebar pondasi maka akan menaikan kapasitas daya dukung. Kenaikan tersebut sebesar 159,4% yang terbesar pada B=2m sebesar 1074,18 kN pada tanah jenis clay. Faktor kedalaman pondasi pun demikian, naiknya kapasitas daya dukung tersebut sebesar 68,24% yang terbesar pada Df=2m sebesar 3860,29 kN pada tanah jenis clay. Kapasitas daya dukung juga dipengaruhi oleh keberadaan muka air tanah yang bedanya sebesar 39,7%. Kedalaman tanah keras pun menaikan kapasitas daya dukung, apabila kedalaman tanah kerasnya berjarak dekat dengan dasar pondasi. Naiknya kapasitas daya dukung tersebut ditinjau dari kedalaman 4B hingga 0,25B sebesar 40,77% yang terbesar pada kedalaman 0,25B pada jenis tanah silty sand 19667,59 kN dan 15641,26 kN untuk tanah jenis clay.Kata kunci: pondasi dangkal, kapasitas daya dukung, muka air tanah, kedalaman tanah keras ABSTRACTShallow foundations only requires a depth of less than the widht. Bearing capacity is the strength of foundation to serve service load. Analysis using PLAXIS 2D AE which produce that wider foundation will increase bearing capacity. The increase is 159,4% which the highest on clay with B=2m is 1074,18 kN. The depth of foundation is also increase bearing capacity. The increase is 68,24% which the highest bearing capacity on clay with Df=2m is 3860,29 kN. Bearing capacity is also affected by the ground water level. The difference is 39,7%. The depth of hard soil also increase bearing capacity, when the depth of the hard soil is closer to the base of foundation. The rise in the bearing capacity only be reviewed at depth 4B to 0,25B is 40,77% which the highest bearing capacity on 0,25B depth of hard soil for silty sand is 19667,59 kN and 15641.26 kN for clay. Keywords: shallow foundation, bearing capacity, fully saturated soil, the bearing capacity, the depth of hard soil