cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Kajian Perilaku Lentur Perbaikan Balok Beton Bertulang dengan Metode External Prestressing (Hal. 12-19) Khrisna, Dida; Herbudiman, Bernardinus
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 1, No 1: Desember 2015
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.241 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v1i1.12

Abstract

ABSTRAKSeiring jalannya umur pemakaian beton bertulang pada struktur bangunan, banyak kondisi beton yang sudah rusak atau tidak aman untuk digunakan dikarenakan degradasi kekuatan akibat bencana alam, penempatan beban yang melebihi kapasitas, kebakaran, dan juga material bermutu rendah. Melihat kenyataan di lapangan tidak semua pelaku industri memiliki peralatan yang canggih ataupun budget yang mumpuni untuk melakukan perbaikan struktur, oleh karena itu metode external prestressing muncul sebagai salah satu opsi perbaikan struktur pada beton bertulang. Pada cara ini batang atau kabel prestressing ditanam pada beton yang rusak, memberikan tegangan padanya sampai suatu tegangan tarik tertentu sehingga elemen yang rusak mendapat gaya tekan. Hasil pengujian terhadap 4 balok dengan dimensi 25 cm x 15 cm dan panjang bentang 90 cm menunjukan bahwa perbaikan perilaku lentur balok dengan metode external prestressing menghasilkan persentase nilai-nilai sebagai berikut; 76,647%; 81,369%; 77,763%; 90,041%.Kata kunci: external prestressing, perilaku lentur, perbaikan struktur ABSTRACTAfter long service of reinforced concrete structure, concrete beam element become damage due to natural disasters, overloading, burned, and degradation of material strength. Repairing this element to achieve initial the strength capacity needs high cost. Then, the external pre-stressing method appears as alternative method to repair the element structure with relatively simple method and low cost. In this method, the pre-stress cable is attached beside the damaged concrete beam, giving the post-tension force, then the concrete section has compression force. The result of the 4 testing beams with 25 cm x 15 cm and length 90 cm shows that the improvement of beams flexural behavior with external prestressing method produces several percentage improvement values with these improvement; 76.647%; 81.369%; 77.763%; 90.041%.Keywords : external prestressing, flexural behavior, structural improvement
Transformasi Gelombang Swell dan Gelombang Angin di Perairan Selatan Bali (Hal. 28-39) Suciaty, Fitri
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 3: September 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.434 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i3.28

Abstract

ABSTRAKGelombang swell dengan energi yang besar dan dapat menjalar hingga ratusan kilometer dari daerah pembangkitannya diketahui berpotensi merusak struktur pantai dan juga dapat mengganggu segala aktivitas yang dilakukan di pantai. Gelombang swell juga dinyatakan memberikan pengaruh yang besar pada inundasi yang terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa dan Bali pada tanggal 4-9 Juni 2006 (Nugraheni, dkk., 2017). Studi transformasi gelombang swell dan gelombang angin di perairan selatan Bali dilakukan dengan pemodelan numerik  gelombang menggunakan model gelombang generasi ketiga SWAN model. Simulasi dilakukan dengan tiga nested grid dengan resolusi grid #1, #2 dan #3; masing-masing sebesar 0.05o, 0.005o, dan 0.001o. Simulasi dilakukan untuk dua buah skema pemodelan, yaitu model gelombang swell dan model gelombang angin. Hasil model menunjukan kesesuaian dengan data pengamatan. Hasil simulasi memperlihatkan gelombang swell yang berasal dari Samudera Hindia mendominasi kondisi gelombang di perairan selatan Bali selama periode simulasi (18 Desember 2011-6 Februari 2012). Dibandingkan dengan gelombang angin, gelombang swell menghasilkan tinggi gelombang yang lebih besar baik di lepas pantai maupun di area dekat pantai. Gelombang swell mengalami refraksi yang kuat di sekitar Bukit Peninsula.Kata kunci: gelombang Swell, gelombang angin, pemodelan transformasi gelombang. ABSTRACTSwells with its large energy can propagate up to hundreds of kilometers from the generation location. Therefore, swells have the potential to damage the structure of the coast and also can disrupt all activities carried out on the coast. Swells were also stated to have a major influence on the inundation that occurred along the southern coast of Java and Bali on June 4 to 9, 2006 (Nugraheni, et al., 2017). The study of swells and wind waves transformations in the waters of southern Bali is carried out by numerical wave modeling using a third generationwave model SWAN model. Nested grids are used with spatial resolution of grid #1, #2 and #3; is 0.05o, 0.005o, and 0.001o, respectively. Simulations are carried out for two modeling schemes that areswell models and wind wave models. The simulation shows compliance with observation data. The result shows swells originating from the Indian Ocean mostly dominated wave conditions in the waters of southern Bali during simulation period (18 Desember 2011-6 Februari 2012).  Compared to wind waves, swells produce higher wave both in offshore and coastal area. Swells experienced a strong refraction around the Bukit Peninsula.Keywords: swell, wind wave, wave transformation model.
Model Kelembagaan Pengelolaan Sistem Drainase Berkelanjutan Dalam Rangka Mitigasi Bencana Banjir (Hal. 51-60) Purwanti, Ika Widi; Akmalah, Emma; Nursetiawan, Nursetiawan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 3: September 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.599 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i3.51

Abstract

ABSTRAK Ruang terbuka hijau di Kota Bandung terus berkurang yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan perutukannya sehingga mengakibatkan banjir. Maka diperlukan metode enanganan banjir dengan metode penanganan air permukaan dengan sistem drainase berkelanjutan. Prinsip dari metode ini adalah mengendalikan air permukaan yang dapat digunakan sebagai sumber air baku. Selain masalah tersebut, penyebab terjadinya banjir terletak pada masalah sosial dan kelembagaan. Pengelolaan drainase di Kota Bandung belum efektif sehingga masalah banjir tidak tertangani dengan baik. Penelitian ini mempelajari model- model pengelolaan sistem drainase di beberapa negara maju seperti Inggris, Singapura dan Belanda. Dengan berpedoman pada sistem kelembagaan pemerintah di negara-negara tersebut, diharapkan Kota Bandung dapat mengelola sistem drainasenya dengan baik dan berkelanjutan. Pada penelitian ini diusulkan model baru agar sistem pengelolaan drainase di Kota Bandung dapat terorganisir lebih baik dan efektif.Kata Kunci: sistem drainase berkelanjutan, kelembagaan, banjir. ABSTRACTThe green open space in Bandung is decreasing due to rapid population growth and improper land use which lead to flooding. Therefore an appropriate method to control floods such as sustainable urban drainage system is needed. The principle of the method is to control excess surface water that can be used as raw water. In addition to the problem, floods occur because of social and institutional problems. Until now, the institutional drainage system management in Bandung is not performing well. This research studies various sustainable drainage system institutional management models from several developed countries such as United Kingdom, Singapore and Netherland as references. A new model is proposed in order to improve the institutional arrangement for drainage system management in Bandung.Keywords: sustainable drainage system, institutional management, flooding
Kajian Teknis Waktu dan Biaya pada Perbandingan Struktur Atap Kayu dan Struktur Atap Baja Ringan. (Hal. 118-129) Aldiansyah, Muhamad; Ratnayanti, Katarina Rini; Desmaliana, Erma
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.088 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.118

Abstract

ABSTRAKRangka atap pada umumnya menggunakan material kayu sebagai struktur utamanya, tetapi kayu merupakan bahan yang didapatkan dari alam, jika digunakan terus menerus maka kayu akan habis. Maka dari itu produsen mencari altenatif lain yang dapat menggantikan kayu sebagai material utama membentuk struktur atap. Dibuatlah baja ringan sebagai pengganti material kayu yang semakin lama semakin langka dan juga mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kekuatan, biaya, dan waktu antara struktur atap kayu dengan struktur atap baja ringan sehingga dapat dipilih struktur mana yang lebih baik dipilih. Hasil penelitian menunjukan kekuatan struktur kayu lebih baik dibandingkan dengan baja ringan, untuk berat struktur baja ringan lebih ringan sebesar 25,11%, untuk biaya baja ringan bisa menghemat 17,93% biaya, sedangkan untuk waktu pelaksanaan kayu dan baja ringan sama-sama 85 hari. penilaian total kayu mendapatkan 1,5 poin sedangkan baja ringan mendapatkan 2,5 poin, sehingga material yang baik dipilih adalah baja ringan.Kata Kunci: baja ringan, kayu, kekuatan, biaya, waktu ABSTRACTIn general, roof truss using wood as its main structure, but wood is obtained from nature, if used continuously then the wood will be runs out. Therefore manufacturers are looking for other alternatively cansubtitute wood as the main material to form the roof structure. Cold formed steel was made to substitute wood material which is getting increasingly scarce and expensive as well. This research aims to find out a comparison of strength, cost, and time between the wooden roof structure with cold formed steel roof structure so that structure can be choosen which is the better one. Research results showed the strength of the wooden structure is better compared cold formed steel, for the weight of the structure cold formed steel lighter than wood, for the cost of cold formed steel 17,93% could save costs, for the timing of the implementation of wooden and cold formed steel is same need 85 days. Assestment of total wood get 1,5 points while cold formed steel get 2,5 points, so a better material chosen is cold formed steel.Keywords: cold formed steel, wood, strength, cost, time
Analisis Hidrodinamika Menggunakan Software SMS 8.1 dalam Rangka Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Kaledupa, Sulawesi Tenggara (Hal. 124-135) Pratama, Angga Rizki; Muliati, Yati; Madrapriya, Fachrul
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.942 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.124

Abstract

ABSTRAKPulau Kaledupa membutuhkan sebuah pelabuhan penyeberangan, untuk memudahkan mobilisasi roda 4 agar pembangunan infrastruktur tidak terhambat. Perencanaan pelabuhan Kaledupa membutuhkan beberapa data, antara lain hidro-osenografi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis gelombang dan arus menggunakan software SMS 8.1 dan merencanakan pelabuhan. Hasil pemodelan software digunakan untuk menentukan posisi dermaga dalam kondisi aman, perencanaan fasilitas menggunakan Keputusan Menteri Perhubungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum di dermaga 0,065 m < 1 m, dan kecepatan arus 0,0018 m/s < 2 m/s  sehingga dermaga aman untuk kapal berlabuh dari arah arus timur laut. Tenggang pasut sebesar 1,90 m, maka dermaga yang digunakan adalah tipe moveable bridges untuk kapal feri tipe Ro-Ro. Kedalaman kolam pelabuhan adalah 5 m dan kedalaman alur pelayaran adalah 5,6 m.Kata kunci: desain pelabuhan, gelombang, arus, SMS 8.1 ABSTRACTKaledupa island need a ferry port to facilitate 4 wheels mobilization to ease an infrastructure. The planning of Kaledupa port need takes some data and one of it is hydro-oceanography data. The purpose of this study are to analyze wave and tides using SMS 8.1 software and to design a port. The result from software modelling used to determine the position of port in safety condition, design of facilities using The Transport Minister’s Decision. The analysis result shows that the maximum wave height at the dock was 0.065 m < 1 m and the speed’s current 0.0018 m/s < 2 m/s so the dock is safe for berthing the ship from Northeast direction. The tidal range is 1.90 m so the dock will be using is a “moveable bridges” for the ferry ship Ro-Ro type. The depth of the turning basin is 5 m and the depth of shipping channel is 5.6 m.Keywords: port design, waves, current, SMS 8.1
Studi Perancangan Campuran Beton Menggunakan Abu Batu Sebagai Agregat Halus. (Hal. 108-117) Ibrahim, Muhammad Malik; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.035 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.108

Abstract

ABSTRAKSalah satu limbah yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan pembuat beton adalah abu batu. Abu batu merupakan limbah dari proses pemecahan bongkahan batu. Ditinjau dari ukuran butirannya maka abu batu merupakan agregat halus. Abu batu memiliki penyerapan air yang lebih tinggi daripada pasir alami, maka dari itu untuk mendapatkan kelecakan campuran beton yang sama dengan kelecakan campuran beton menggunakan pasir alami, penggunaan abu batu sebagai agregat halus dalam campuran beton perlu tambahan air. Namun hal ini akan menyebabkan faktor air-semen bertambah. Sehingga hasil kuat tekan akan menurun. Hal ini sesuai dengan hubungan antara kuat tekan beton dengan faktor air-semen. Perekayasaan yang dilakukan adalah dengan menaikkan faktor granular (G) dan menaikkan kuat tekan rencana berdasarlan teori Dreux. Abu batu pada penelitian ini digunakan sebagai substitusi pasir alami dengan proporsi 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Hasil penelititan ini memperlihatkan penggunaan abu batu sebagai agregat halus lebih dari 40% akan sangat drastis menurunkan kuat tekan beton.Kata kunci: perekayasaan, substitusi, campuran beton, abu batu, agregat halus ABSTRACTOne of the wastes that can be used as a substitute for concrete materials is stone ash. Stone ash is a waste from the process of stone crusher. Consider from the size of the grain, stone ash as fine aggregate. Stone ash has a higher water absorption than natural sand, therefore to get the concrete workability that is the same as the concrete workability using natural sand, the use of stone ash as fine aggregate in the concrete mixture needs additional water. But this will cause the cement-water ratio to increase. So that the compressive strength will decrease. This is following the relationship between the compressive strength of concrete and the cement-water ratio. Engineering is done by increasing the granular factor (G) and increasing the compressive strength of the plan based on Dreux theory. Stone ash in this study was used as a substitute for natural sand with a proportion of 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. The results of this research show that the use of stone ash as fine aggregate of more than 40% will greatly reduce the compressive strength of the concrete.Keywords: engineering, substitute, concrete mixture, stone ash, fine aggregate
Studi Pengaruh Temperatur terhadap Modulus Kekakuan Campuran Menggunakan Aspal Berpolimer BituBale (Hal. 24-35) Faroz, Ricksan Rachdiaman; Herman, Herman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.68 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.24

Abstract

ABSTRAKJalan merupakan infrastruktur dasar yang berperan sangat penting dalam menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari. Untuk memenuhi peranan itu maka dikembangkan campuran beton aspal menggunakan aspal berpolimer BituBale, diharapkan campuran ini dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan cuaca yang tidak menentu. Untuk menjaga ketahanan campuran beton aspal agar tercapai sesuai dengan kebutuhan selain dengan pemilihan jenis material adalah dengan memperhatikan tegangan dan regangan yang menunjukkan kekakuan dari suatu campuran. Dari hasil penelitian didapat persamaan modulus kekakuan campuran terhadap temperatur yaitu  untuk metode Shell, dan  untuk metode Nottingham. Nilai korelasi yang didapat antara modulus kekakuan campuran terhadap temperatur sangat baik sebesar 98,2% untuk metode Shell, dan 99,5% untuk metode Nottingham.Kata kunci: aspal polimare bitubale, modulus kekakuan campuran, temperatur ABSTRACTRoad is a basic infrastructure that have a very important role in supporting the daily life of society. To fulfill that role, a mixture of asphalt concrete using BituBale polymeryzed asphalt was developed, it is expected that this mixture can reduce the damage caused by unpredictable weather changes. To maintain the durability of the asphalt concrete mix in order to be fit as required in addition with the selection of the material is with consideration to the stress and strain that shows the stiffness of a mixture. From the research it was obtained that the equation of mixed stiffness modulus to temperature is  for Shell method, and  for Nottingham method. The value of the correlation obtained between the stiffness modulus of the mixture with the temperature was 98.2% for the Shell method, and 99.5% for the Nottingham method which was excellent.Keywords: polymeryzed asphalt bitubale, stiffness modulus mix, temperature
Analisis Karakteristik Gelombang di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu. (Hal. 94-103) Usmaya, Akbar Hadiraksa; Muliati, Yati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.915 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.94

Abstract

ABSTRAKPulau Enggano merupakan pulau kecil terluar bagian Indonesia yang terletak di Samudra Hindia. Pulau ini memiliki beberapa potensi yang bisa meningkatkan ekonomi di daerah tersebut. Pemerintah sedang mengkaji berbagai sumber energi baru salah satunya adalah energi gelombang laut di perairan Pulau Enggano, maka pemerintah melakukan pengukuran gelombang laut di Perairan enggano. Alternatif lain untuk lain untuk mendapatkan informasi tinggi gelombang adalah memanfaatkan data altimetri dengan satelit. Data gelombang dari satelit perlu divalidasi dengan data hasil pengukuran di lapangan dengan metode statistik, sehingga dapat dirumuskan karakteristik gelombang. Faktor koreksi yang didapatkan dari validasi adalah sebesar 0,466. Faktor koreksi ini akan dikalikan dengan data gelombang altimetri dan menampilkan besaran tinggi gelombang di perairan Enggano.Kata kunci: validasi, tinggi gelombang, Perairan EngganoABSTRACTEnggano island are of small island of Indonesia located in the Indian Ocean. The island has some potentials that could generate the economy in the area. The Government is improve a non fosil energy by using wave energy of Enggano Island. The wave height is measured to determine of enggano. Altimetry data is another way to get wave height is utilizing satellite data with altimetri. Wave data from satellites needs to be validated with field measurements of results data with statistical methods, so it can be deduced the characteristics of waves. Correction factors obtained from validation is of 0.466. This correction factor will be multiplied by altimetri and wave data showing high wave magnitudes in the waters of Enggano.Keywords: validation, wave haight, Water’s of Enggano
Studi Penggunaan Limbah Las Karbit Untuk Bahan Tambah Pada Perkerasan Laston Gradasi AC-WC (Hal. 94-103) Nurhayati, Shezy; Prasetyanto, Dwi; Zurni, Rahmi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.697 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.94

Abstract

ABSTRAKJalan merupakan prasarana transportasi yang menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya serta meningkatkan proses perkembangan ekonomi masyarakat. Seiring berkembangnya kendaraan semakin bervariasi mulai dari jenis kendaraan dan berat kendaraan, hal tersebut mengakibatkan lapisan perkerasan sering mengalami kerusakan, oleh karena itu diperlukan adanya penelitian perkerasan yang kuat menahan deformasi pada beban lalu lintas.Penelitian ini dilakukan pada Laston AC-WC menggunakan aspal pen 60 bercampur dengan limbah las karbit 2,5 % dan 5 %. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui parameter Marshall dari karakteristik beton aspal dengan jenis aspal yang berbeda. Hasil dari parameter Marshall didapat kadar aspal optimum (KAO) untuk aspal 0 % sebesar 6,6 %, aspal karbit 2,5 % didapat 6,7 %, dan untuk aspal karbit 5 % sebesar 6,8 %.Kata kunci : Limbah Las Karbit, Laston AC-WC, Bahan Tambah. ABSTRACTThe road is the infrastructure of transportation which connects an area to the others, then able to increase economic development. By increasing the number of vehicles, the projection plan of pavement could not be the reference, where the layer of pavement having decay considerably is the surface of the layer. Therefore, it is necessary to have a study of pavement which is able to sustain deformations regarding to loads of traffic.This research was conducted for Laston AC-WC using penetration 60 of asphalt mixing waste carbide of weild 2.5% and 5%. The purpose of this study is to understand the Marshall parameter as characteristic of the asphalt concretes and samples. The results of Marshall parameter showed that  the Optimum Asphalt Content, which was obtained were 6.6%;6.7%; and 6.8% for asphalt 0%; waste of carbide of weild 2.5% and 5%.Keywords : asphalt modification, waste carbide of weild, Laston AC-WC
Desain Tahan Gempa Jembatan Ngarai Sianok di Bukittinggi, Sumatera Barat - Indonesia. (Hal. 19-30) Hakim, Nurul; Kertapati, Engkon K.; M., Edward V.
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.118 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.19

Abstract

ABSTRAKJembatan Ngarai sianok dibuat dengan struktur jembatan cable stayed dengan panjang bentang 685 m. Memiliki tinggi pilar 173,5 m. Jembatan ini berada di samping sesar aktif Ngarai sianok sejauh 162 m. Kondisi jembatan yang berada sangat dekat dengan lokasi sumber gempa sesar Ngarai Sianok, membuat analisis bahaya gempa Jembatan Ngarai Sianok mengacu pada perilaku khusus Sesar. Dalam perencaan struktur bangunan, beban gempa rencana untuk analisis respon dinamik digunakan respon spektrum dari karakteristik sesar Ngarai Sianok.Metoda analisis yang digunakan yaitu metode Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA) dan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA). Analisis perambatan gelombang menghasilkan rekomendasi respon spektrum desain permukaan untuk periode ulang gempa 950 tahun dengan PBA = 0,973 . Perbandingan respon spektrum permukaan di lokasi jembatan Ngarai Sianok menunjukkan bahwa hasil analisis perambatan gelombang cendrungan lebih dekat ke Tanah Keras untuk klasifikasi site dari SNI 03-1726-2016 untuk PBA = 0,97 .Kata kunci: cable-stayed, sesar, ground motion, respon spektrum. ABSTRACTNgarai Sianok Bridge is made with a Cable Stayed bridge structure with a span length of 685 m. Has a pillar height of 173.5 m. This bridge is beside the active canyon sianok as far as 162 m. The condition of the bridge which is very close to the location of the Ngarai Sianok fault source, made an earthquake hazard analysis of the Ngarai Sianok Bridge referring to the special behavior of Fault. In planning the structure of the building, the earthquake load planned to analyze the dynamic response used a spectra response from the characteristic character of the Ngarai Sianok fault.The analytical method used is the Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA) method and Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA). Wave propagation analysis results in a recommendation of a surface design response for the return period of a 950 year earthquake with PBA = 0.973 . Comparison of the surface spectrum response at the Ngarai Sianok bridge location shows that the results of the wave propagation analysis tend to be closer to hard soil for the site classification of SNI 03-1726-2016 for PBA = 0.97 .Keywords: cable stayed, fault, ground motion, spectra response.