cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Desain Bangunan Pelindung Pantai Sebagai Penanggulangan Abrasi Di Kawasan Pantai Ujung Jabung Provinsi Jambi Luqman Hadiyan Faza; Yessi Nirwana Kurniadi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.47

Abstract

ABSTRAKPantai Ujung Jabung Provinsi Jambi merupakan pantai yang akan dijadikan lokasi Pelabuhan Nasional. Untuk merealisasikan hal tersebut perlu dilakukan pengamanan garis pantai karena lokasi tersebut mengalami abrasi setiap tahunnya yang diakibatkan oleh arus sejajar pantai. Pengamanan garis pantai dilakukan dengan membangun bangunan pelindung pantai. Analisis kecepatan arus dilakukan dengan software Hidrodinamika 2 Dimensi. Hasil pemodelan software Hidrodinamika 2 Dimensi menunjukkan bahwa abrasi terjadi pada Musim Barat (Desember-Februari) dengan kecepatan 0.40 m/s dengan arah dari utara menuju Selatan. Hal ini dapat menjadi indikator terjadinya abrasi di daerah pantai tersebut. Pemodelan dilakukan dengan membandingkan adanya breakwater, groin dan revetment. Hasilnya adalah bahwa dengan dibangunnya groin dan revetment dapat menanggulangi dampak abrasi karena dapat merubah kecepatan arus dari 0.40 m/s menjadi 0.06 m/s. Groin dengan armor batu belah bulat halus berdimensi 0.5 meter dan interlocking concrete block revetment berdimensi 0.9 x 0.9 meter dipilih sebagai desain  yang paling cocok untuk melindungi abrasi yang terjadi.Kata kunci : Abrasi, Revetment, Groin, Arus Sejajar Pantai. ABSTRACTUjung Jabung coast located in Jambi Province which is designed to be a National Port. In order to realize this project, shoreline have to be protected from abrasion due to longshore currents by shore protection structure. Hydrodynamic 2D software was used for current flow analysis and simulate shore protection structure. The result show that this structure are able to decrease a risk of abrasion caused by the West Season (December-February). Flow velocity in this season is 0.40 m/s from North to South. This condition can be an indicator of the abrasion in the coastal areas. Due this condition, the analysis compare 3 structure; breakwater, groyne and revetment. The result show, groyne and revetment structure can prevent the effects of abrasion because flow velocity reduced from 0.40 m/s to 0.06 m/s. Groynes with a smooth rouded quarrystone with dimension of 0.5 meters and interlocking concrete block revetment with dimension 0.9 x 0.9 meters are chosen as the most suitable design to protect abrasion.Keywords : Abrasion, Revetment, Groyne, Longshore Current.
Studi Mengenai Batasan Maksimum Kadar Volume Pasir dalam Campuran Beton Cara SNI Gugum Gunawan; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.109

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui batasan maksimum volume pasir yang harus ditingkatkan agar kuat tekan beton tercapai tanpa merubah rentang kelecakan pada cara SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar maksimum volume pasir untuk  0,40, slump 30 mm – 60 mm adalah 0,143 m3 untuk modulus kehalusan pasir (FM) 1,5; 0,169 m3 untuk FM 2,0; 0,201 m3 untuk FM 2,50; 0,253 m3 untuk FM 3,0; 0,304 m3 untuk FM 3,50; untuk slump 60 mm – 180 mm adalah 0,281 m3 untuk FM 1,50; 0,282 m3 untuk FM 2,0; 0,313 m3 untuk FM 2,50; 0,316 m3 untuk FM 3,0; 0,376 m3 untuk FM 3,50. Untuk w/c 0,50, slump 30 mm-60 mm adalah 0,163 m3 untuk FM 1,5; 0,184 m3 untuk FM 2,0; 0,224 m3 untuk FM 2,50; 0,278 m3 untuk FM 3,0; 0,332 m3 untuk FM 3,50; untuk slump 60 mm – 180 mm adalah 0,289 m3 untuk FM 1,50; 0,321 m3 untuk FM 2,0; 0,321 m3 untuk FM 2,50; 0,322 m3 untuk FM 3,0; 0,386 m3 untuk FM 3,50.Kata kunci: volume pasir, SNI, FM ABSTRACTThis research is performed to know maximum sand volume may be increased in other that the strength of concrete is achieved without changing range of workability in concrete mix. The results of tests showed that maximum sand volume  for  0,40 and 30 mm – 60 mm slump are 0,143 m3 to finess modulus (FM) 1,5; 0,169 m3 to FM 2,0; 0,201 m3 to FM 2,50; 0,253 m3 to FM 3,0; 0,304 m3 to FM 3,50; and 60 mm – 180 mm slump are 0,281 m3 to FM 1,50; 0,282 m3 to FM 2,0; 0,313 m3 to FM 2,50; 0,316 m3 to FM 3,0; 0,376 m3 to FM 3,50. For   0,50, 30 mm – 60 mm slump are 0,163 m3 to FM 1,5; 0,184 m3 to FM 2,0; 0,224 m3 to FM 2,50; 0,278 m3  FM 3,0; 0,332 m3 to FM 3,50; and 60 mm – 180 mm slump are 0,289 m3 to FM 1,50; 0,321 m3 to FM 2,0; 0,321 m3 to FM 2,50; 0,322 m3 to FM 3,0; 0,386 m3 to FM 3,50.Keywords: volume of sand, SNI, FM
Analisis Geoteknik Terowongan Batuan Geurutee Aceh Menggunakan Metode Elemen Hingga Ryan Achmad Fadhillah; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.78

Abstract

ABSTRAKGunung Geurutee Aceh memiliki kondisi standar alinyemen vertikal maupun horizontal masih belum terpenuhi, begitu juga waktu tempuh efektif. Timbul wacana pembangunan terowongan di kawasan Gunung Geurutee Aceh. Analisis geoteknik terowongan batuan Geurutee dibutuhkan untuk mengetahui gaya dalam yang terjadi pada terowongn tersebut dengan adanya sistem perkuatan sementara, nilai faktor keaamanan (FK) , dan face stability menggunakan metode elemen hingga. Metode konstruksi terowongan menggunakan metode New Austrian Tunneling Methode (NATM) dan Metode penggalian mengacu pada metode Japanese Society of Civil Engineers (JSCE). Model yang dibuat adalah terowongan dengan perkuatan sementara dengan tanpa perkuatan sementara, untuk membandingkan total displacement yang terjadi pada model tersebut dimana perkuatan sementara yaitu menggunakan rock bolt dan shotcrete. Kedua model tersebut menghasilkan nilai SF 7,076 untuk model dengan perkuatan sementara dan 4,525 untuk model tanpa perkuatan.Kata kunci: terowongan batuan,  analisi geoteknik, face stability, metode elemen hingga NATM, JSCE, rock bolt, shotcrete. ABSTRACTMount Geurutee Aceh has a standard condition horizontal and vertical alignment that are still not fulfilled, as well as effective travel time. Arising discourse construction of tunnels in the area of Mount Geurutee Aceh. Geurutee rock tunnel geotechnical analysis is required to determine the force that occurs in the tunnel with temporary reinforcement system, the value of the safety factor (SF), and face stability using the finite element method. Tunnel construction method using the New Austrian Tunneling Method (NATM) and the excavation method refers to the method of Japanese Society of Civil Engineers (JSCE). The model created is temporary reinforcement system tunnels and without temporary reinforcement system, to compare the total displacement that occurred on that model where temporary reinforcement system while using rock bolt and shotcrete. Both models come SF value 7.076 for the model with temporary reinforcement system and 4,525 for the model without temporary reinforcement system.Keywords: rock tunnel, geotechnical analysis, face stability, finite element method NATM, JSCE, rock bolt, shotcrete.
Desain Rangka Atap Baja Bentang Panjang dengan Memanfaatkan Konsep BIM Dina Sri Rachmawati; Kamaludin Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.52

Abstract

ABSTRAKSaat ini penggunaan konsep BIM dalam prencanaan struktur bangunan sipil sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan konsep BIM adalah suatu konsep pertukaran data informasi antar software salah satu contoh software yang memanfaatkan konsep BIM adalah Tekla Structures dan SAP2000. Untuk pemodelan struktur digunakan Tekla Structures dan untuk proses analisis digunakan SAP2000. Konsep BIM dapat dimanfaatkan untuk menganalisis beban-beban yang terpasang. Penelitian ini dilakukan untuk menghitung beban SDL yang terpasang pada struktur rangka atap secara real yang telah dimodelkan lengkap pada Tekla Strctures. Dilanjutukan dengan menghitung berat SDL kemudian dimasukkan sebagai beban di SAP2000. Tahap ini dilakukan secara terus menerus hingga berat SDL yang terpasang ada Tekla Strctures sesuai dengan data yang diinput pada SAP2000. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berat penampang yang dirancang menggunakan konsep BIM dan tanpa konsep BIM akurat. Hasil dimensi dari material yang digunakan memenuhi syarat yang telah dilakukan.Kata kunci: Tekla Strutures, BIM, SAP2000 ABSTRACTNowadays, the application of BIM concept in civil structure planning is very necessary. BIM concept allows exchange of data information between softwares. Some of the softwares that use BIM concept are Tekla Structures and SAP2000. For modeling using Tekla Structures and for analysis using SAP2000. BIM concept is applied in order to analyse installed load. This study aims to calculate the installed load by real data. First of the building model of roof truss is completely created in Tekla Structures. Then, we calculate SDL load of the building and input it to SAP2000. This stage is done repeatedly until SDL load in Tekla Structures matches the data in SAP2000. The result shows that there is accurate cross section weight designed with BIM concept or without BIM concept. The dimension of materials that used is eligible.Keywords: Tekla Strutures, BIM, SAP2000
Kajian Kategori Engagement dalam Penerapan Konsep Green Campus di Institut Teknologi Nasional Bandung Dwi Retno Ariyani; Emma Akmalah; Ira Irawati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.85

Abstract

ABSTRAKKampus hijau merupakan suatu program yang dilaksanakan di institusi pendidikan yang memiliki sistem akademik, manajemen, tatanan wilayah, dan kualitas sumber daya yang tidak terlepas dari konsep pembangunan berkelanjutan. Campus engagement melakukan penilaian terhadap program-program berkelanjutan untuk para sivitas akademika. Penilaian indikator ini perlu dilakukan, mengingat program-program berkelanjutan dapat meningkatkan keinginan dan komitmen sivitas akademika dalam mengimplementasikan konsep green campus. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji penerapan konsep berkelanjutan yang terdapat pada standar STARS. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Pengolahan data dilakukan dengan cara menentukan nilai poin untuk setiap indikator lalu dilakukan analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini, Itenas mendapatkan 7,53 point dari point maksimum sebesar 21 point. Hal ini menunjukkan Itenas memiliki program yang masih kurang baik dalam mendukung para sivitas akademikanya untuk menerapkan green campus di Itenas.Kata kunci: kampus hijau, STARS AASHE, campus engagement ABSTRACTGreen campus is a program implemented in educational institutions that have academic system, management, regional order, and quality of resources that can not be separated dari the concept of sustainable development. Campus engagement assesses sustainable programs for academicians. Assessment of this indicator needs to be done, considering that sustainable programs can increase the desire and commitment of academicians in implementing green campus concept. This study was conducted by examining the implementation of sustainable concepts contained in the STARS standard. Data collection is conducted through interview and observation. Data processing is done by determining the value of points for each indicator and then by descriptive and SWOT analysis. The result of this research, Itenas get 7.53 point dari point maximum equal to 21 point, which indicated that Itenas still has a poor program in support of its academic civitas to implement green campus in Itenas.Keywords: green campus, STARS AASHE, campus engagement
Studi Eksperimental Kuat Tumpu Baut Sejajar Serat Metode Lubang Penuh dan Setengah Lubang Erma Desmaliana; Nessa Valiantine Diredja; Oki Bernadi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 6, No 3: November 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v6i3.155

Abstract

ABSTRAKKuat tumpu baut merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan suatu sambungan baut. Berdasarkan persamaan SNI 7973:2013, kuat tumpu ditentukan berdasarkan berat jenis kayu, diameter pengencang, dan arah serat kayu. Pada penelitian kali ini terdapat dua metode pengujian eksperimental yaitu metode lubang penuh dan metode setengah lubang berdasarkan ASTM D5764-97a (2002). Pengujian dilakukan menggunakan kayu Mahoni dengan sejajar arah serat dan tiga variasi diameter baut yaitu 1/2 inchi, 5/8 inchi dan 3/4 inchi yang dibandingkan dengan analisis teoritis berdasarkan SNI 7973:2013. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengujian eksperimental kuat tumpu baut memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan persamaan berdasarkan SNI 7973:2013, dengan nilai persen beda untuk pengujian metode lubang penuh sebesar 22,914% untuk sampel a; 5,806% untuk sampel b; 3,759% untuk sampel c; sedangkan untuk pengujian menggunakan metode setengah lubang sebesar 20,927% untuk sampel AA; 16,954% untuk sampel BB; 15,326% untuk sampel CC.Kata kunci: kuat tumpu baut, sejajar serat, SNI 7973:2013 ABSTRACTBolt bearing strength is one of the important parameters in bolt connetion design. According to the SNI 7973:2013, bearing strength is determined based on specific gravity of timber, diameter of fasterner and direction of timber grain. In this research, there are two experimental testing methods, full hole and half hole testing based on ASTM D5764-97a (2002). Mahogany timber with parallel grain direction was carried out in this test using three variations of bolt diameter, which are 1/2 in, 5/8 in and 3/4 in. This study compares the value of bolt bearing strength with theoritical analysis based on SNI 7973:2013. The result showed that the experimental of bearing strength had a greater value than the equation of theoritical analysis based on SNI 7973:2013, with percentage of difference for full hole testing are 22.914% for sample a, 5.806% for sample b, 3.759% for sample c, while the percentage of difference for half hole testing are 20,297% for sample AA, 16.954% for sample BB, and 15.326% for sample CC.Keywords: bolt bearing strength, parallel grain, SNI 7973:2013
Perencanaan Tebal Perkerasan Jalan Logging di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur Mohammad Algi Brilianto; Silvia Sukirman; Welly Pradipta
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.47

Abstract

ABSTRAKPerkerasan merupakan salah satu komponen prasarana pada kegiatan logging yang harus didesain agar dapat melayani lalu-lintas kendaraan berat. Metode Austroads 2006 dan Bina Marga 2017 merupakan panduan dalam perencanaan tebal perkerasan jalan logging. Studi kasus untuk penelitian ini dilakukan di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur. Berdasarkan data yang diperoleh dari konsultan perencana, niilai CBR pada ruas jalan rencana dibagi menjadi empat segmen dengan nilai CBR pada segmen 1 = 3%, segmen 2 = 9%, segmen 3 = 29% dan segmen 4 = 9%. Perencanaan dilakukan dengan umur rencana 10 tahun dan tingkat pertumbuhan 3%. Jenis perkerasan yang digunakan untuk kedua metode berupa batu pecah. Hasil perencanaan tebal perkerasan menggunakan metode Austroads 2006 untuk segmen 1 = 480 mm, segmen 2 = 320 mm, segmen 3 = 160 mm dan segmen 4 = 320 mm. Hasil perencanaan tebal perkerasan menggunakan metode Bina Marga 2017 untuk segmen 1 = 480 mm, segmen 2 = 260 mm, segmen 3 = 140 mm dan segmen 4 = 260 mm.Kata kunci: perencanaan tebal perkerasan jalan logging  ABSTRACTPavement is one of the infrastructure components in logging activities that must be designed in order to serve heavy vehicle traffic. Austroads 2006 method and Bina Marga 2017 methodis a guide to design the thickness of logging pavement. Case study for this research was conducted in Penajam District, East Kalimantan. Based on the data obtained from the planner consultant, the CBR value on the road plan is divided into four segments with CBR value in segment 1 = 3%, segment 2 = 9%, segment 3 = 29% and segment 4 = 9%. The planning is done with 10 years and 3% growth rate. Types of pavement used for both methods is granular. The results of pavement thickness planning using Austroads 2006 method for segment 1 = 480 mm, segment 2 = 320 mm, segment 3 = 160 mm and segment 4 = 320 mm. The results of pavement thickness planning using Bina Marga 2017 method for segment 1 = 480 mm, segment 2 = 260 mm, segment 3 = 140 mm and segment 4 = 260 mm.Keywords: thickness design of pavement logging
Bus Sekolah sebagai Pilihan Moda Transportasi di Kota Bandung dari Sisi Preferensi Pelajar sebagai Pengguna Byna Kameswara; Husen Wiratomo
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.1

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi dan masyarakat yang konsumtif terhadap penggunaan kendaraan bermotor menjadi faktor timbulnya permasalahan transportasi perkotaan salah satunya adalah kemacetan. Di Kota Bandung secara khusus salah satu penyebab timbulnya kemacetan di beberapa titik adalah tingginya jam operasional kendaraan pada pagi hari khususnya pada kendaraan pribadi. Para pelajar SD, SMP, dan SMA yang berangkat pagi hari dan sore hari ke sekolah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi yang disebabkan oleh banyak hal, diantaranya kurang memadainya fasilitas angkutan umum saat ini. Sebagai salah satu upaya mengatasi kemacetan yang disebabkan oleh kendaraan pribadi yang digunakan oleh para pelajar tersebut, pihak Pemerintah Kota Bandung meluncurkan bus sekolah gratis bagi para pelajar. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui teknik survey primer dengan menyebarkan kuesioner kepada siswa/i tingkat SD, SMP, SMA di Kota Bandung dengan Penentuan sampel berdasarkan metode Slovin. Data-data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data primer yang merupakan hasil penyebaran kuesioner serta data sekunder yang diperoleh dari studi literatur atau penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif serta Cross Tab (Tabulasi Silang).Kata kunci: bus sekolah, kemacetan, pelajar ABSTRACTThe high urban population growth and the consumptive society towards the use of motorized vehicles is a factor in the emergence of urban transportation problems, one of which is congestion. In the city of Bandung specifically one of the causes of congestion at some point is the high operating hours of vehicles in the morning, especially in private vehicles. Elementary, junior and senior high school students who leave in the morning and evening go to school many use private vehicles caused by many things, including inadequate public transport facilities at present. As one of the efforts to overcome congestion caused by private vehicles used by the students, the Bandung City Government launched a free school bus for students. In this study the data collection techniques used were through primary survey techniques by distributing questionnaires to students at the elementary, middle and high school level in the city of Bandung with sample determination based on Slovin method. The data used in this study are primary data which is the result of questionnaires and secondary data obtained from literature studies or similar studies that have been conducted before. The analytical method used in this study is quantitative descriptive and Cross Tabulation.Keywords: school bus, congestion, students
Efektifitas Redaman Energi Gelombang Akibat Adanya Breakwater Terapung Ditinjau dari Model Fisik dan Studi Numerik Raden Indra Anggun Gemilang; Yessi Nirwana Kurniadi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 3: September 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i3.147

Abstract

ABSTRAKGelombang laut memiliki energi yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan terhadap kondisi garis pantai di kawasan pesisir. Permasalahan tersebut perlu diatasi dengan dibuat suatu struktur yang mampu mereduksi energi gelombang salah satunya dengan menggunakan pemecah gelombang terapung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa efektif redaman energi berdasarkan besarnya koefisien transmisi ( ) dari struktur pemecah gelombang terapung yang telah didesain sedemikian rupa. Pengujian dilakukan dengan metode uji model fisik dan studi numerik dengan menggunakan software analisis gelombang 2D. Hasil pengujian model fisik diperoleh redaman energi gelombang akibat adanya pemecah gelombang terapung berkisar 11%-30% sedangkan dari pengujian numerik energi yang diredam mencapai 23%-58%. Hasil penelitian menunjukan struktur pemecah gelombang terapung yang telah didesain mampu untuk mereduksi energi yang diakibatkan oleh gelombang.Kata kunci: koefisien transmisi, pemecah gelombang terapung, Model Fisik, Studi NumerikABSTRACTWave have energy that can cause unstability of shoreline around coastal area. floating breakwater are one of structure that can solve the coastal area problem by reduce the wave energy. In this research, it is investigated the effectiveness of  floating breakwater  to reduce the waves energy based on the value of transmission coefficient ( ). The test performing by physical and numerical model using waves 2D model analysis Software. Physical model test results obtained a floating breakwater model can reduce the waves energy ranges from 11%-30%, while numerical model test reach from 23%-58%, so that the floating breakwater are capable to reduce the wave enegy.Keywords: transmission coefficient, floating breakwater, physical model, numerical Model
Tinjauan Ulang Mengenai Kadar Maksimum Pipih dan Memanjang Agregat Kasar dalam Campuran Beton Cara SNI Decka Chaniago Sukanli; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.106

Abstract

ABSTRAKDalam campuran beton, agregat kasar memiliki 70% sampai 80% pengaruh terhadap kuat tekan beton. Agregat kasar memiliki bentuk yang berbeda seperti membulat, pipih, dan memanjang tergantung pada sumbernya. Dalam penelitian ini, dilakukan penyelidikan pada kadar maksimum bentuk pipih dan memanjang agregat kasar dalam campuran beton. Pada penelitian kadar bentuk pipih dan memanjang agregat kasar ini menggunakan benda uji silinder dengan ukuran diameter 10 cm dan tinggi 20 cm. Pengujian dilakukan dengan uji slump dan uji kuat tekan beton yang mengacu pada SNI. Slump rencana yang digunakan yaitu (30-60) mm dan (60-180) mm dengan kuat tekan beton rencana yaitu 30 MPa usia 28 hari. Hasil pengujian ini dapat diketahui bahwa kadar pipih dan memanjang agregat kasar melebihi 20% tidak berpengaruh terhadap kuat tekan beton selama kadar pipih dan memanjang agregat kasar tidak melebihi 45% dari total agregat batu pecah.Kata kunci: bentuk pipih dan memanjang, agregat kasar, kuat tekan beton, uji slump ABSTRACTIn concrete mixture, coarse aggregate has 70% to 80% influence on concrete compressive strength. The coarse aggregate have different shape like rounded, angular, flaky and elongated depending on the source. In this study, we investigated the maximum level of flat and elongated coarse aggregate in concrete mixture. In the study of the level of flat and elongated forms coarse aggregates using cylindrical specimen with a diameter of 10 cm and a height of 20 cm. Testing was conducted with slump and concrete compressive strength test which refers to SNI. The slump plan used is (30-60) mm and (60-180) mm with a 30 MPa concrete compressive strength of 28 days. The results of this test can be seen that the flat and elongated of coarse aggregates exceeding 20% does not effect compressive strength of the concrete as long as the flat and elongated of coarse aggregates not exceed at 45% of the total aggregates.Keywords: flat and elongated shape, coarse aggregates, compressive strength, slump test