cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Jarak Optimum Tie Constraint at Screws pada Cold-Formed Steel Built-Up Box Beams dengan Four-Point Flexural Loading Swastika, Tri Widya; Purnomo, Heru; Ashadi, Henki Wibowo; Sukarno, Praganif
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.231

Abstract

ABSTRAKCold-formed steel (CFS) memiliki sejumlah keunggulan: antara lain kekuatan tinggi, ringan, pemasangan cepat dan praktis, tahan terhadap kebakaran, daya tahan yang baik, serta dapat didaur ulang. Namun, balok dengan penampang terbuka yang umum digunakan pada konstruksi rentan terhadap ketidakstabilan akibat ketidaksamaan letak titik geser dan titik berat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satu solusi yang banyak digunakan adalah penggunaan balok dengan built-up section. Penelitian ini menyajikan studi eksperimental mengenai pengaruh variasi jarak tie constraint at screws pada CFS built-up box beams terhadap pembebanan lentur empat titik. Enam spesimen balok dengan bentang 1.300 mm diproduksi dari profil C75×35 dengan tebal 0,75 mm; kemudian dirakit secara berhadapan menjadi penampang kotak dengan menggunakan self-drilling screw yang dipasang sepanjang sayap untuk berfungsi sebagai tie constraint at screws. Tiga konfigurasi jarak sekrup digunakan, yaitu H; 2H; dan 5,5H; dengan H adalah tinggi penampang. Semua pengujian dilakukan pada kondisi tumpuan sederhana. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variasi jarak tie constraint at screws berpengaruh signifikan terhadap perilaku lentur CFS built-up box beams. Berdasarkan hasil yang diperoleh, jarak sekrup 5,5H direkomendasikan untuk aplikasi desain pada kondisi pembebanan lentur empat titik.Kata kunci: cold-formed steel, built-up box beams, jarak tie constraint at screws, eksperimental ABSTRACKCold-formed steel (CFS) has many advantages, including high strength, lightweight, fast and practical installation, durability, recyclable, non-combustibility, and simple manufacturing procedures. However, since the shear center and the centroid of the cross-section do not coincide, open-section beams are prone to instability modes. To address this issue, researchers have used doubly symmetric built-up sections or built-up closed sections beams. This study presents an experimental investigation on CFS built-up box beams with varying screw spacing arrangements. Six beam specimens; each with a span of 1,300 mm; were subjected to four-point bending tests. The beams were fabricated from C75×35 profiles with a thickness of 0.75 mm, assembled face-to-face into built-up box sections using self-drilling screws positioned along the flanges to act as tie constraint at screws. Three screw spacing configurations were considered—H, 2H, and 5.5H—where H denotes the section depth. All tests were conducted under simple support conditions. Findings indicate that screw spacing significantly influences the flexural behavior of CFS built-up box beams. Based on the outcomes, a screw spacing of 5.5H is recommended for design applications under four-point bending conditions.Keywords: cold-formed steel, built-up box beams, tie constraint at screws spacing, experiment
Analisis Pengaruh Penambahan Crumb Rubber dan Filler Abu Tempurung Kelapa Terhadap Nilai Karakteristik Marshall pada Campuran Aspal Lapis Aus (AC-WC) Rashif, Muhammad Fadhilah; Nisumanti, Sartika; Qubro, Khodijah Al
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.281

Abstract

ABSTRAKLapis aus merupakan lapisan perkerasan jalan yang rentan mengalami kerusakan seperti retak (cracking) dan deformasi permanen, sehingga diperlukan inovasi pada campuran material. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar aspal optimum (KAO) menggunakan aspal penetrasi 60/70 dengan penambahan crumb rubber (2,5%, 3%, 3,5%) sebagai aditif serta abu tempurung kelapa sebagai filler. Pengujian Marshall digunakan untuk mengevaluasi karakteristik campuran. Hasil penelitian menunjukkan penambahan crumb rubber dan filler berpengaruh signifikan terhadap sifat campuran. Pada kadar 3,5% crumb rubber diperoleh kepadatan 2,514 t/m³ dan VFA 78,038%, sedangkan stabilitas tertinggi 1.572,082 kg dan flow 4,490 mm terjadi pada kadar 3%. Nilai kepadatan dan VFA tinggi menunjukkan rongga udara kecil yang berpotensi menimbulkan bleeding dan rutting. Sebaliknya, kombinasi crumb rubber dan abu tempurung kelapa menurunkan kepadatan serta stabilitas, tetapi meningkatkan VIM 4,998% dan VMA 18,051%, sehingga campuran lebih fleksibel namun berisiko stripping.Kata kunci: crumb rubber, abu tempurung kelapa, ac-wc, marshall test, aditif ABSTRACTThe surface layer is a layer of road pavement that is prone to damage such as cracking and permanent deformation, necessitating innovation in material mixtures. This study aims to determine the optimum asphalt content (OAC) using 60/70 penetration asphalt with the addition of crumb rubber (2.5%, 3%, 3.5%) as an additive and coconut shell ash as a filler. Marshall testing was used to evaluate the characteristics of the mixture. The results show that the addition of crumb rubber and filler significantly affects the properties of the mixture. At a crumb rubber content of 3.5%, a density of 2.514 t/m³ and VFA of 78.038% were obtained, while the highest stability of 1,572.082 kg and flow of 4.490 mm occurred at a content of 3%. The high density and VFA values indicate small air voids that could potentially lead to bleeding and rutting. Conversely, the combination of crumb rubber and coconut shell ash reduces density and stability but increases VIM to 4.998% and VMA 18,051%, making the mixture more flexible but at risk of stripping.Keywords: crumb, rubber, coconut shell ash, ac-wc, marshall test, aditif  
Analisis Perkuatan Timbunan pada Oprit Jembatan Menggunakan Pile Embankment Agustiana, Laska Aurelia; Hadiman, Imam; Gusnadi, Zakwan; Desilia, Asrinia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.241

Abstract

ABSTRAKPembangunan timbunan oprit jembatan di atas tanah lunak sering dihadapkan dengan permasalahan penurunan berlebih dan ketidakstabilan timbunan, sehingga dapat membahayakan pengguna jalan serta menimbulkan kerusakan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode perkuatan timbunan menggunakan pile embankment dibandingkan dengan timbunan tanpa perkuatan pada jalan Tol Trans Sumatera. Kondisi tanah dasar menunjukkan tanah lempung sedalam 10 meter dengan konsistensi medium hingga stiff dan tanah pasir sedalam 10 meter dengan konsistensi medium dense hingga very dense, serta kelas situs termasuk tanah lunak (SE). Data primer berupa uji SPT dengan analisis numerik menggunakan FEM 2D. Hasil analisis timbunan tanpa perkuatan menunjukkan penurunan sebesar 40,99 cm dalam waktu 5,353 tahun dengan konsolidasi 99%; mengalami kelongsoran dengan bentuk circle tipe deep sliding pada lapisan tanah pertama akibat beban lalu lintas. Sedangkan penggunaan perkuatan pile embankment dengan tiang spun pile diameter 60 cm; Load Transfer Platform (LTP) setebal 60 cm; dan penggunaan geogrid dapat mereduksi penurunan hingga 85,9%. Serta, faktor keamanan untuk kondisi statik sebesar 3,035 dan kondisi gempa sebesar 1,201. Sistem perkuatan pile embankment efektif mengatasi masalah penurunan dan stabilitas pada infrastruktur yang berdiri di atas tanah lunak.Kata kunci: Pile Embankment, Penurunan Konsolidasi, Stabilitas Lereng, Timbunan Oprit ABSTRACTThe construction of bridge approach embankments built on soft soil is often faced with problems of excessive settlement and embankment instability, can endanger road users and cause structural damage to bridge approaches. This research aims to analyze the effectiveness of embankment reinforcement methods using pile embankment compared to unreinforced embankments on the Trans Sumatera Toll Road. The subsoil conditions show a clay layer 10 meters deep with medium to stiff consistency and a sand layer 10 meters deep with medium dense to very dense consistency, with site class as soft soil (SE). Primary data from SPT tests and numerical analysis using 2D FEM. The results of unreinforced embankment analysis show settlement of 40.99 cm over 5.353 years with 99% consolidation, and the embankment experiences failure with a circular-type deep sliding pattern in the first soil layer due to traffic loads. Meanwhile, the use of pile embankment reinforcement using spun pile with 60 cm diameter, Load Transfer Platform (LTP) with 60 cm thickness, and the use of geogrid can reduce settlement by up to 85.9%. The safety factor for static conditions is 3.035 and for earthquake conditions is 1.201. The pile embankment reinforcement system is effective in addressing settlement and stability problems in infrastructure built on soft soil.Keywords: work-life balance, construction, construction worker, literature review  
Pemanfaatan Limbah Serbuk Kaca dan Keramik Sanitary pada Pasta Geopolymer Berbahan Dasar Fly Ash Rizka, Maulidah Nur; Arifin, Altie Santika
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.291

Abstract

ABSTRAKPeningkatan kebutuhan beton berdampak pada kenaikan emisi CO₂ akibat produksi semen, sehingga diperlukan material pengikat alternatif yang ramah lingkungan. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan limbah serbuk kaca dan keramik saniter sebagai substitusi fly ash pada pasta geopolimer berbasis aktivator alkali. Metode penelitian menggunakan benda uji kubus 5×5×5 cm dengan variasi substitusi fly ash 0%, 25%, 50%, dan 75%. Aktivator alkali yang digunakan adalah larutan NaOH 10M dan Na₂SiO₃ dengan rasio 1:3. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi serbuk kaca menurunkan kuat tekan hingga 50% dibanding kontrol (100% fly ash), sedangkan substitusi keramik saniter 50% menghasilkan kuat tekan 35,77 MPa, mendekati kuat tekan kontrol 40,82 MPa. Dengan demikian, keramik saniter dengan kadar substitusi 50% direkomendasikan sebagai pengganti fly ash yang paling optimal.Kata kunci: geopolimer, fly ash, serbuk kaca, keramik saniter, kuat tekan ABSTRACTThe increase in demand for concrete has led to an increase in CO₂ emissions from cement production, necessitating the use of environmentally friendly alternative binding materials. This study examines the use of glass powder and sanitary ceramic waste as substitutes for fly ash in alkali-activated geopolymer paste. The research method used 5×5×5 cm cube test specimens with variations in fly ash substitution of 0%, 25%, 50%, and 75%. The alkali activators used were 10M NaOH and Na₂SiO₃ solutions with a ratio of 1:3. Compressive strength testing was carried out at 28 days. The results showed that glass powder substitution reduced compressive strength by up to 50% compared to the control (100% fly ash), while 50% sanitary ceramic substitution produced a compressive strength of 35.77 MPa, close to the control compressive strength of 40.82 MPa. Thus, sanitary ceramics with a substitution rate of 50% are recommended as the most optimal substitute for fly ash.Keywords: geopolymer, fly ash, glass powder, sanitary ceramics, compressive strength 
Analisis Perilaku Keputusan Konsumen Belanja Daring Barang Segar Mempertimbangkan Harga Barang, Jarak dan Ongkos Kirim Apriliani, Adien Sekar; Zukhruf, Febri; Nugroho, Taufiq Suryo; Putra, Fathiro Hutama Reksa
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.251

Abstract

ABSTRAKBelanja daring kini telah menjadi fenomena yang semakin marak diberbagai lapisan masyarakat karena menawarkan kemudahan, kecepatan, pilihan dan pembanding yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam memilih toko berbelanja daring untuk komoditas barang segar dengan mempertimbangkan ongkos kirim, harga barang, dan jarak kirim. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu Stated Preference (SP) melalui penyebaran kuesioner kepada responden di berbagai wilayah Indonesia. Data dianalisis menggunakan pendekatan model logistik yaitu model binary logit untuk mengestimasi probabilitas konsumen dalam pemilihan alternatif toko online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ongkos kirim merupakan faktor yang paling signifikan dan sensitif dalam memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih toko online, meskipun atribut ini hanya terlihat pada kelompok model tertentu. Sebaliknya, jarak pengiriman dan harga barang secara umum tidak menunjukkan pengaruh yang sensitif terhadap pilihan toko online.Kata kunci: belanja daring, produk segar, harga barang, ongkos kirim, binary logit ABSTRACTShopping online has emerged as a prevalent phenomenon throughout several societal seg-ments, propelled by its convenience, rapidity, extensive product assortment, and simplicity in price comparison. This study seeks to examine the factors that affect consumers' selection of online retailers for their purchases, concentrating on variables such as shipping costs, product prices, and delivery distances. Data collection is executed via Stated Preference (SP) methodologies via questionnaires disseminated to respondents in Indonesia. The data were analysed employing a logistic regression methodology, specifically the binary logit model, to estimate consumer choice probabilities across various online retailers. The find-ings indicate that delivery cost is the most critical and sensitive variable influencing con-sumer choices when picking an online retailer, albeit this was only significant in certain model groups. In contrast, delivery distance and product pricing typically exerted no influ-ence on online retailer selection. The findings underscore the strategic significance of con-trolling shipping expenses to enhance the competitiveness of online retailers, while suggest-ing that the impacts of distance and pricing may differ based on product type and distinct consumer attributes.Keywords: online shopping, fresh product, product price, shipping cost, binary logit  
Pengaruh Jenis Sambungan Jari dan Sambungan Miring pada Balok Laminasi Galar Bambu Petung Terhadap Keruntuhan Geser Basry, Wahiduddin; Siregar, Atur P. N.; Oka, I Gusti Made
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.298

Abstract

ABSTRAKKebutuhan kayu sebagai bahan konstruksi yang semakin meningkat tidak seimbang dengan ketersediaan bahan baku kayu yang memadai, sehingga pemanfaatan bambu sebagai alternatif harus lebih dioptimalkan. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan bambu yaitu dengan teknik laminasi, sehingga dengan dapat diperoleh balok sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Akan tetapi penggunaan sambungan sulit dihindarkan pada struktur bentang panjang sehingga diperlukan jenis sambungan yang paling optimum antara sambungan jari (finger joint) dengan sambungan miring (scarf joint). Bambu yang digunakan adalah bambu petung yang dibentuk galar. Benda uji terdiri 3 variasi meliputi balok tanpa sambungan dari bahan galar (BLP-G), balok dengan sambungan jari (BLP-GJ), serta balok dengan sambungan miring (BLP-GM). Aplikasi sambungan pada balok laminasi memberikan pengaruh terhadap penurunan kekuatan balok. Penurunan kekuatan balok masing-masing sebesar 17,863% untuk sambungan jari (BLP-GJ), 66,119% untuk sambungan miring (BLP-GM). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa balok BLP-GJ memiliki kekuatan dalam memikul beban yang lebih tinggi dibandingkan balok BLP-GM. Hal ini disebabkan aplikasi sambungan jari memiliki sifat saling mengunci dibanding sambungan miring yang memiliki kekuatan pada bidang perekat dan kemiringan sambungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aplikasi sambungan jari lebih kuat dibanding sambungan miring untuk aplikasi sambungan pada balok laminasi.Kata kunci: balok laminasi bambu, finger joint, scarf joint ABSTRACKThe utilization of wood as a building material has indicated an increasing whether of structural and nonstructural elements. The necessity of wood could not be fulfilled due to the lack of wood with a large diameter. On the other hand, the utilization of bamboo has not been optimal so far because of its short durability of bamboo and the limited dimension of bamboo. The problem can be solved by laminating and joining. The research was conducted to optimize the joint type of finger joint and scarf joint. The bamboo used in this research was bamboo Petung (Dendrocalamus asper). Specimens of laminated beams were made in 3 variations. Beams were made without joint (BLP-G), beams with finger joint (BLP-GJ), and beams with scarf joint (BLP-GM). Each variation consists of 3 samples. Application joint at laminated beam influenced degradation of the strength of the laminated beam. The strength of beam degradation is 17,863 % (BLP-GJ), and 66,119 % (BLP-GM). The result of the experiment showed that BLP-GJ beams were stronger than BLP-GM beams because the application finger joint had better interlocking than the scarf joint. Based on the experimental result, it could be concluded that the application finger joint was stronger than the scarf joint.Keywords: bamboo laminated beam, finger joint, scarf joint
Pengaruh Beban Dinamik pada Stabilitas Lereng Batuan dengan Pendekatan Numerik 3 Dimensi Menggunakan Model Hoek-Brown dan Mohr Coulomb Pratiwi, Desti Santi; Rizky, Muhammad Daffa
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.207

Abstract

ABSTRAKIndonesia terletak pada wilayah Ring of Fire Pasifik yang ditandai dengan aktivitas tektonik dinamis. Selain itu, data historis menunjukkan bahwa tanah longsor dan gempa bumi merupakan dua fenomena yang paling sering terjadi, dengan frekuensi hampir setiap tahun. Stabilitas lereng batuan memiliki tantangan yang menarik untuk diteliti, terutama dengan pendekatan Metode Numerik. Dua kriteria material yang umum digunakan dalam analisis batuan adalah Hoek-Brown (HB) untuk batuan heterogen dan Mohr-Coulomb (MC) untuk material tanah-batuan homogen. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kinerja kriteria HB dan MC dalam pemodelan stabilitas lereng batuan di bawah pengaruh beban dinamik melalui simulasi numerik dengan PLAXIS 3D pada tiga variasi kemiringan lereng (1:1, 3:1, 5:1) menggunakan data gempa bermagnitudo 6,54. Hasil menunjukkan nilai faktor keamanan (FK) yang relatif serupa dengan selisih 9,68% - 24,03%. Namun, analisis deformasi mengungkap perbedaan signifikan, khususnya pada arah vertikal (uy) dengan selisih mencapai 93,94%, sementara deformasi horizontal (ux) lebih konsisten. Disimpulkan bahwa meskipun kedua model dapat dikorelasikan untuk analisis stabilitas berdasarkan FK, respons deformasi mereka, terutama secara vertikal, sangat berbeda.Kata kunci: lereng, batuan, dinamik, numerik, faktor keamanan ABSTRACTIndonesia is situated within the Pacific Ring of Fire, characterized by dynamic tectonic activity. Historical data further indicates that landslides and earthquakes are among the most frequently occurring natural phenomena, happening almost annually. The stability of rock slopes presents a compelling challenge for research, particularly through a numerical modeling approach. Two material criteria commonly used in rock analysis are Hoek-Brown (HB) for heterogeneous rock masses and Mohr-Coulomb (MC) for homogeneous soil-rock materials. This study aims to analyze and compare the performance of the HB and MC criteria in modeling the stability of rock slopes under dynamic seismic loading. This was conducted through numerical simulation using PLAXIS 3D on three slope variations (1:1, 3:1, 5:1) employing earthquake data with a magnitude of 6.54. The results show relatively similar values for the factor of safety (FS), with a difference of 9.68% to 24.03%. However, deformation analysis revealed a significant difference, particularly in the vertical direction (uy) with a discrepancy of up to 93.94%, while horizontal deformation (ux) was more consistent. It is concluded that although the two models can be correlated for stability analysis based on FS, their deformation responses, especially in the vertical direction, are vastly different.Keywords: rock slope, dynamic, numerical, spun pile, factor of safety 
Work-Life Balance di Industri Konstruksi dan Pelajaran Untuk Indonesia: Tinjauan Literatur Sistematis Aristantama, Giovani Yona; Wimala, Mia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.258

Abstract

ABSTRAKAdanya isu terhadap kesehatan mental pekerja di industri konstruksi, menjadikan Work-Life Balance (WLB) relevan dewasa ini. Karakteristik industri konstruksi Indonesia yang padat karya, membuat isu WLB menjadi penting untuk ditinjau karena masifnya keterlibatan manusia. Melalui tinjauan pustaka sistematis berdasarkan pedoman analisis bibliometrik, penelitian memberikan gambaran mengenai: perkembangan, tren, situasi dan peluang terkait WLB di industri konstruksi saat ini, baik di Indonesia maupun luar negeri. Hasilnya mengindikasikan bahwa fokus area WLB saat ini membahas mengenai hubungan dengan manajemen konstruksi, kesehatan mental, kesejahteraan pekerja, dan keberhasilan proyek atau perusahaan konstruksi. Praktik dominan negara maju seperti Australia dan Britania Raya adalah fleksibilitas dalam bekerja. Sementara Indonesia menghadapi hambatan dalam penerapan praktik WLB, seperti budaya jam kerja berlebih, kurangnya kepekaan manajemen, kurangnya bukti keberhasilan WLB, dan sulitnya manajemen melihat kebutuhan pekerja. Negara berkembang seperti Indonesia perlu membuat praktik WLB yang menstimulasi permintaan dan tantangan yang dihadapi karyawan terkait konflik WLB pekerja.Kata kunci: work-life balance, konstruksi, pekerja konstruksi, tinjauan literatur ABSTRACTThe issue of workers' mental health in the construction industry makes Work-Life Balance (WLB) relevant today. The characteristics of the Indonesia’s construction industry, which is labor-intensive, makes the issue of WLB important to review, due to the massive human involvement. Through a Systematic Literature Review based on bibliometric analysis, this research provides an overview of: research development, trends, situations and opportunities on WLB in the construction industry, both in Indonesia and abroad. The results indicate that the current focus areas of WLB address the relationship with construction management, workers' mental health, well-being, and the success of construction projects and companies. The dominant practice of WLB in developed countries such as Australia and United Kingdom is working flexibility. Meanwhile Indonesia faces a barrier to implementing WLB practices, such as culture excessive working hours, lack of management awareness, lack of evidence of WLB success, and difficulty for management to see the needs of workers on WLB conflict. Developing countries such as Indonesia need to create WLB practices that stimulate demand and challenges faced by employees regarding worker WLB conflicts.Keywords: work-life balance, construction, construction worker, literature review  
Analisis Perbaikan Produktivitas Pemasangan Dinding Bata Ringan dengan MPDM pada Proyek Pembangunan Apartemen X Kota Bandung Shima, Ratih Dewi; Desimaliana, Erma; Farrosi, M. Adryan Arif; Santoso, Nur Diyanti
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.219

Abstract

ABSTRAKPembangunan hunian dengan jenis bangunan bertingkat tinggi membutuhkan jumlah partisi dinding yang cukup banyak, dengan pasangan batu bata yang ringan dan kokoh. Pemasangan dinding bata ringan relatif lebih mudah dikerjakan ketimbang dinding bata merah biasa, namun memerlukan presisi keahlian yang tinggi. Kajian ini membandingkan nilai produktivitas pemasangan bata ringan dengan menganalisis ruang pergerakan dan kekosongan waktu pekerja menggunakan Crew Balance Chart dan Perhitungan Nilai Labour Utilization Factor (LUF), serta memberikan solusi perbaikan terhadap alur produktivitas pemasangan bata ringan berdasarkan studi kasus proyek Apartemen PT X di Kota Bandung. Pengambilan data menggunakan metode pengamatan rekaman video dan time studies. Kesimpulan yang diperoleh, ditemukan bahwa metode pemasangan bata ringan di Apartemen PT. X memerlukan perbaikan untuk meningkatkan efektivitas produksi dengan menggeser beberapa kegiatan beberapa menit lebih awal pada laden.Kata kunci: produktivitas, konstruksi, MPDM, time studies, cycle chart, crew balance chart ABSTRACTThe construction of high-rise residential buildings necessitates substantial wall partitions utilizing lightweight yet robust brick masonry. Although lightweight brick installation is more straightforward than conventional red brick masonry, it demands high precision and expertise. This study evaluates the productivity of lightweight brick installation by analyzing worker movement patterns and idle time through Crew Balance Chart analysis and Labour Utilization Factor (LUF) calculations. Based on a case study at the PT X Apartment project in Bandung City, the research proposes workflow optimization strategies for lightweight brick installation. Data acquisition was conducted through video recording observation and time studies. The findings indicate that the installation methodology requires procedural refinements to enhance production effectiveness by advancing the commencement of several activities during the laden phase. These improvements aim to minimize worker idle time and optimize crew balance, thereby increasing overall productivity in lightweight brick wall installation operations.Keywords: construction, productivity, MPDM, time studies, cycle chart, crew balance chart