cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Pengaruh Perilaku Keluarga terhadap Penggunaan Jamban Pane, Erlinawati
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara nasional , hanya 39% rumah tangga yang menggunakan jamban yang sehat, di daerah perkotaan (60%) lebih tinggi daripada di perdesaan (23%). Penggunaan jamban merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di daerah perdesaan seperti Desa Sukamurni di Kabupaten Bekasi. Hanya 19,8% rumah tangga yang mempunyai jamban sendiri di Desa Sukamurni. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan perilaku keluarga terhadap penggunaan jamban di Desa Sukamurni. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Sampel adalah ibu rumah tangga yang mempunyai anak balita sebanyak 196 responden yang dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2008. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 46,4% keluarga yang menggunakan jamban, sedangkan yang tidak menggunakan jamban (53,6 %) umumnya menggunakan sungai (55,2%) dan empang (38,1%) sebagai sarana buang air besar. Semua variabel yang diteliti berhubungan bermakna, meliputi pendidikan, pengetahuan, sikap, kepemilikan jamban, sarana air bersih, pembinaan petugas puskesmas dan dukungan aparat desa, kader Posyandu & LSM terhadap penggunaan jamban. Pendidikan dan pengetahuan merupakan variabel konfounder, dan kepemilikan jamban merupakan faktor dominan sebagai determinan perilaku keluarga terhadap penggunaan jamban dengan nilai OR = 27,03 (5,224 – 139,912). National figure showed that only 39% household are using healthy latrine, in which 60% was in the city, much higher than 23% in rural area. Low latrine utilization is one of important health problem in rural area such as in Sukamurni Village, Bekasi District. There is only 19.8% of household have own latrine in Sukamurni Village. The purpose of the study is to explore the family behavior determinant on latrine utilization at Sukamurni Village, using cross sectional design. The sample is women who have child or children under five. Sample is then comprises of 196 respondents. Data are collected from April to May 2008, using direct interview with a structured questionnaire. Result showed that only 46.4% households are occupying latrine, and the rest are using river (55.2%) and pond (38.1%) to defecate. As bivariate analysis of Chi Square test showed that all variables are statistically have significant relationship with family’s behavior on latrine utilization. Those variables are: education, knowledge, attitude, latrine ownership, availability on clean water, IEC from health provider, and support from village leader, posyandu cadres, and related NGO. Advance analysis with Logistic Multiple Regression found that variables of education and knowledge are confounder. Meanwhile, latrine ownership is the dominant factor of family behavior determinant on latrine utilization, with OR= 27.036.
Pemanfaatan Posyandu Lansia di Kota Pariaman Mulyadi, Yullie
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Naras Kota Pariaman 2007 masih sangat rendah yaitu 13,23% dari standar pelayanan minimal (SPM) Kota Pariaman 40%. Penelitian ini untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pemanfaatan posyandu lansia serta faktor yang mendorong dan menghambat dalam pemanfaatan posyandu lansia di Kota Pariaman pada 2008. Menggunakan data primer dengan metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Informan berjumlah 53 orang, terdiri dari 24 orang informan yang memanfaatkan posyandu lansia, 24 orang informan yang tidak memanfaatkan posyandu lansia dan 5 orang informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis isi dengan validasi hasil penelitian dilakukan triagulasi sumber dan metode. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pemanfaatan posyandu lansia berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan status pekerjaan. Dalam mengatasi masalah tersebut perlu adanya penyuluhan tentang posyandu lansia secara intensif dalam upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat akan tujuan, sasaran dan kegiatan posyandu lansia. The utilization of integrated health posts for elderly in the working area of Naras Health Center of Pariaman City was still low (13.23%) in 2007. The number was lower than Minimal Service Standard (SPM) that was 40%. The study aimed to obtain the information of the utilization of the integrated health posts for the elderly and factors supported and constrained the utilization of integrated health posts for the elderly in the working area of Naras Health Center of Pariaman City in 2008. Data was collected using focus group discussion and in-depth interview methods. The number of informants in this study was 53 persons consisted of 24 persons who utilized the integrated health posts for the elderly, 24 persons who did not utilize post, and 5 persons as key informants. Data was analyzed using content analysis technique and in order to test the validity of study result, triangulation in both method and source was employed. The study revealed that utilization of integrated health posts for elderly differed by age group of the elderly, gender (women), and employment status. The informants utilized the integrated health posts for the elderly had a good knowledge and positive perception on activities and advantages of the integrated health posts for the elderly.
Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Indonesia Sistri, Sariana
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah Republik Rakyat Cina, India dan Amerika Serikat. Pada periode 2000-2002, penduduk Indonesia meningkat 1,25% atau 7,3 juta setiap tahun, sehingga pada tahun 2002 jumlah penduduk Indonesia menjadi sekitar 215 juta jiwa. Berdasarkan data SDKI, Total Fertility Rate (TFR) tahun 1997 (2,8) dan 2003 (2,6), dalam kurun waktu dua dasawarsa. Contraceptive Prevalence Rate (CPR), di Indonesia, pada 1977 (26) meningkatan dua kali lipat pada tahun 1997 (57) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelangsungan pemakaian kontrasepsi sejak pertama kali pemakaian pada periode 1997-2002, berikut berbagai faktor yang berhubungan. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif, dengan analisis survival, regresi cox. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002-2003, dengan jumlah sampel 5.072 kepala keluarga. Dari penelitian ini didapatkan lama kelangsungan pemakaian kontrasepsi pada periode 1997-2002 di Indonesia sejak pertama kali pakai hingga pemakaian 72 bulan adalah 50,32%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan pengunaan kontrasepsi adalah tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu. It has been known that Indonesia is the fourth largest population in the world, after People Republic of China, India, and United States. At the year of 2002, Indonesia total population is about 215 million, with a growth rate between 2000 and 2002 is about 1.25% meaning that there is about 7.3 million people every year. The success of the Family Planning Program is recognized by its indicators, namely Total Fertility Rate (TFR) and Contraceptive Prevalence Rate (CPR). The TFR at SDKI 1997 was 2.8 and in SDKI 2003 was 2.6. While CPR, in two decades has increased double fold from 26 in 1977 to 57 in 1997. The study is carried out in order to know the length of continuation on contraceptive use since the first time of using, in the period of 1997-2002 and related factors. The design is cross sectional with retrospective cohort, using survival analysis technique. Data is secondary data of SDKI 2002-2003 on 5,072 samples. The results of the study showed that contraceptive continuation since it first use until 72 months follow up period is 50.32%. Factors related to the continuation are level of education and occupation of the mother.
Frekuensi dan Determinan Kontrasepsi Pria di Indonesia Ahmad, Ahmad
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk Indonesia terlihat tinggi (1,25%) dengan pertambahan sekitar 7,3 juta penduduk setiap tahun. Sejak tahun 1980, program keluarga berencana berkontribusi terhadap penurunan angka fertilitas dari 5,61 menjadi 2,6 pada tahun 2002. Kontribusi pria menggunakan kontrasepsi berhubungan dengan banyak faktor antara lain meliputi pengetahuan, sikap, praktek, keterbatasan informasi aksesibilitas fasilitas pelayanan kontrasepsi pria, keterbatasan jenis kontrasepsi, dan persepsi masyarakat yang kurang menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi pria di Indonesia. Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003. Disain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectiona l dengan metode analisis Regresi Logistik. Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kontrasepsi pria didasari pada Current User dan Ever User 2002/ 2003 masih rendah (7,7%). Sebaran metode kontrasepsi pria pada responden ( 504, 3,1%) dan senggama terputus (593, 3,6%). Variabel usia, pendidikan, tempat tinggal kemandirian mendapatkan kontrasepsi, pengetahuan berhubungan secara bermakna dengan penggunaan kontrasepsi pria. Variabel pendidikan berinteraksi dengan kemandirian. Variabel yang berhubungan sangat erat dengan penggunaan kontrasepsi pria adalah pengetahuan (nilai-p = 0,000; OR = 28,211; 95% CI; 18,936-42,027. Population growth in Indonesia is high (1.25%), with additional 7,3 million people each year. Since 1980, family planning gives contribution to the reduction of fertility rate from 5.61 to 2.6 in year 2002. Male contribution by using contraceptive methods is related to many factors such as knowledge, attitude, practice, information limitation, contraception availability and community perception on male contraceptive. This study is aimed to gain information about factors related to the use of male contraceptive methods in Indonesia. This study uses secondary data from SDKI 2002-2003. Study design used is cross sectional with statistical logistic regression analysis. The study results show that proportion of male using contraceptive method is low, only about 7.7%. The methods used include vasectomy 0.5%, condom 2.4%, abstinence 3.1%, and withdrawal 3.6%. Factors related to male contraceptive use are age, education level, residential areas, autonomy in family planning service, knowledge about family planning and male contraceptive, and interaction variable is education*autonomy in family planning service. The most dominant factor to male contraceptive is knowledge about family planning and male contraceptive at p value 0.000, OR=28.211, 95 % CI=18.9 – 42.0.
Kebijakan Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif Helda, Helda
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi di Indonesia adalah 35/1000 kelahiran hidup berada di posisi keenam di negara Asean. Salah satu upaya yang efisien untuk menurunkan angka kematian tersebut adalah pemberian ASI eksklusif yang memperlihatkan tren yang menurun, pada tahun 1997, (40,2%), 2002 (39,5%) dan 2007 (32%). Artikel ini bertujuan mengkaji kebijakan pemerintah memenuhi hak anak terhadap ASI. Metode yang digunakan melakukan telaah berbagai studi tentang kebijakan dan perundangan ASI di dunia dan di Indonesia,pada periode 2000-2007. Angka ASI eksklusif di dunia sangat bervariasi dan tidak berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Jepang dan Inggris adalah contoh negara maju dengan angka ASI eksklusif yang rendah. Susu formula, sosial budaya dan wanita bekerja menjadi alasan pemakaian susu formula yang rendah. Di Indonesia, kasus balita gizi buruk pada tahun 1989, (75/10.000) dan pada tahun 2002 (70,3/ 10.000) memperlihatkan tren penurunan yang rendah. Meskipun manfaat ASI dirasakan oleh semua pihak, tetapi angka pemberian ASI masih tergolong rendah, sementara pemasaran susu formula, sosial budaya, dan wanita bekerja tidak mendukung pemberian ASI. Di Indonesia hanya ada 2 keputusan menteri kesehatan (237/1997 dan 450/2004) yang mengatur pemberian ASI. Kebijakan yang ada belum mampu mengatasi angka pemberian ASI yang rendah. Disarankan untuk meningkatkan status hukum kebijakan yang ada dan mengupayakan peningkatan komitmen. Infant mortality rate in Indonesia (35/1000 life birth) is one of the poorest (ranked number six) among ASEAN countries. One known efficient measure for reducing the infant mortality rate is exclusive breast feeding (EBF) which in fact showing a decreasing trend (40.2% in 1997, 39.5% in 2002 and 32.0% in 2007). The objective of this article is to evaluate government policy regarding the fulfillment of child’s rights to get adequate breastfeeding. The method used is by literature review of studies about breast feeding policy and regulations in the world and in Indonesia, during the period of 2000-2007. The EBF rates in the word are varied and not related to the developmental level of the country. Japan and England are examples of developed countries with low EBF rate. Formula milk, sosio-cultural, and working women are the most reasons of the low rate of EBF. In Indonesia, the cases of malnutrition among children under five years in 1989 (75/10.000) and in 2002 (70, 3/ 10.000 showed a decreasing trend. Although the benefit of the breastfeeding is known by almost all people, but the BF rate is still low. Meanwhile, formula milk marketing, sosio-cultural aspects, and the phenomenon of increasing number of working women do not support EBF. In Indonesia, there are only two ministry regulations (237/1997 and 450/2004) that regulated EBF. The existing policies are not strong enough to solve the problem of low EBF rate. It is suggested to improve the legal aspects including policy and regulations as well as improvement in government commitment to support EBF.
Penerapan Prinsip Manajemen Kualitas di Poli Umum Puskesmas Kecamatan Tebet Jakarta Selatan Angga, Agus Fitri
Kesmas Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poli Umum Puskesmas Kecamatan Tebet telah melaksanakan prinsip manajemen kualitas sesuai klausul persyaratan ISO 9001:2000. Namun, pada tahun 2005, masih terdapat masalah yang mengganggu pelayanan bermutu yang diberikan. Tujuan penelitian ini mendapat gambaran penerapan delapan prinsip manajemen kualitas sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 di Poli Umum Puskesmas Kecamatan Tebet. Metode yang digunakan adalah kualitatif studi kasus dengan analisis dokumen, wawancara mendalam, dan observasi. Prinsip terfokus pelanggan diterapkan dengan melakukan survey kepuasan pelanggan dan temu pelanggan secara rutin. Prinsip kepemimpinan diterapkan melalui motivasi, rapat tinjauan manajemen secara rutin. Prinsip keterelibatan semua diterapkan dengan memberi kesempatan petugas poli umum dalam pengambilan keputusan serta mengikuti pendidikan dan pelatihan. Prinsip pendekatan proses mengacu pada hasil pencapaian sasaran mutu poli umum yang ditetapkan. Prinsip pendekatan sistem manajemen dalam bentuk penetapan prosedur mutu di poli umum. Prinsip perbaikan terus menerus diterapkan berdasarkan hasil survei dan temuan yang tidak sesuai. Prinsip pengambilan keputusan berdasarkan fakta mengacu hasil survey kepuasan pelanggan, audit internal dan eksternal, sehingga dihasilkan keputusan akurat. Hubungan saling menguntungkan antara Puskesmas Kecamatan Tebet dengan pemasok regulasi meliputi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Kodya Jakarta Selatan. The general polyclinic at Tebet Community Health Center, South Jakarta has already implemented quality management principles based on ISO 9001:2000. However, it was noted in 2005 that the implementation was hindered by several constraints. The objective of this study is to describe the implementation of eight principles of ISO 9001:2000 quality management system in general polyclinic at Tebet Community Health Center, South Jakarta. Methods used in this study is qualitative through document analysis, in-depth interview and observation. Client focus principles was applied through client satisfaction survey and routine client meeting. Leadership principle was applied through motivational support and routine management review meeting. Involvement principle was applied by providing opportunity for all personnel in decision making and attending further education and training. Process approach principle was applied by referring to quality output accomplishment. Systemic approach principle was applied by determination of quality management procedure. Continuous improvement principle was applied through revision based on survey results and findings. Fact-based decision making principle was applied through utilisation of survey and audit (both internal and external) results in the decision making process to produce accurate decisions. The study also found a mutually benefit relationship between Tebet Community Health Center and regulators including DKI Jakarta Health Office and Sub-office of Public Health of South Jakarta City.
Pengaruh Status Gizi Anak Usia di Bawah Lima Tahun terhadap Nilai Belajar Verbal dan Numerik Hartanto, R. Djarot Darsono Wahyu; Kodim, Nasrin
Kesmas Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas Sumber Daya Manusia yang secara esensil ditentukan oleh status gizi. Sekitar 1,3 juta anak dengan gizi buruk diperkirakan berpotensi kehilangan IQ sampai 22 juta poin. Kekurangan gizi pada usia dini diawal daur kehidupan terbukti memberikan dampak yang berat. Penelitian ini bertujuan mengetahui insiden kekurangan gizi pada baduta dan pasca baduta serta pengaruhnya pada prestasi belajar numerik dan verbal pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dengan desain kohort retrospektif yang dilakukan pada 1200 sampel anak ini memperlihatkan hasil yang sangat konsisten mendukung penelitian sebelumnya. Semakin dini seorang anak menderita gizi kurang, semakin besar risiko untuk mengalami prestasi belajar yang rendah. Risiko prestasi verbal yang rendah pada anak usia baduta dengan gizi kurang dan setelah baduta adalah 6,5 dan 5 kali lebih tinggi daripada yang dengan gizi baik. Risiko prestasi numerik yang rendah pada anak dengan gizi kurang ketika usia baduta dan setelah baduta 25 dan 15 kali lebih besar daripada yang gizi baik. Prestasi verbal sangat berfluktuasi sesuai dengan status gizi individu sepanjang hayat. Sebaliknya, prestasi numeri, terlihat hanya dipengaruhi oleh status gizi pada usia balita. Gizi yang baik pada anak baduta dan pasca baduta dapat mencegah prestasi belajar yang rendah 44% dan 30%, tetapi untuk potensi belajar numerik, masing-masing dapat mencegah 80% dan 63%. Skor verbal sangat dipengaruhi oleh kondisi atau fluktuasi status gizi pada daur kehidupan, tetapi skor numerik hanya dipengaruhi status gizi individu pada lima tahun pertama kehidupan. The success of national development is determined by availability of qualified human resources, which is essentially determined by nutritional status. About 1.3 milion malnourished children are predicted to lost around 22 million IQ points. Early malnutrition is known to have a great impact on later growth and development. The objective of this study is to investigate the incidence of malnutrition among children age under two years and post two years and their effect on verbal and numeric learning performance. This retrospective cohort study which was conducted on 1200 children shows consistent results that the earlier a child experienced malnutrition the lower the performance. The risk of having low verbal performance among malnourished children were 25 (children age under two years) and 15 times (children more than 2 years) greater compared to those of normally nourished children. Verbal performance is related to longlife nutrition status while numeric performance is more related to the first five-years of life. Good nutrition status could prevent low verbal performance of 44% and 30% for children under 2 year of age and children more than 2 year, respectively and help prevent 80% and 63% of low numeric performance.
Pemberian ASI Segera pada Bayi Baru Lahir Amalia, Linda
Kesmas Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN dengan penyebab utama kematian adalah penyakit infeksi saluran nafas dan diare yang dapat dicegah. Pencegahan dilakukan antara lain dengan pemberian ASI secara benar, termasuk inisiasi pemberian ASI dalam 30 menit pertama setelah lahir. Pemberian ASI segera dapat mempertahankan kadar hormon prolaktin dan mencegah pemberian makanan pralakteal. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran dan determinan pemberian ASI segera pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Cianjur tahun 2007. Desain penelitian adalah potong lintang. Pengumpulan Sampel 92 orang ibu post partum yang melahirkan di RSUD Kabupaten Cianjur yang dipilih dengan cara convenience sampling. Pemberian ASI segera pada bayi baru lahir (30%) rendah. Pada analisis multivariat ditemukan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan pemberian ASI segera pada bayi baru lahir adalah perilaku penolong persalinan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk meningkatkan pengetahuan manfaat kolostrum dan pemberian susu segera, mendorong penolong persalinan memfasilitasi pemberian Asi segera dan menyempurnakan tata laksana rumah sakit yang mendukung pemberian ASI segera. Infant Mortality Rate in Indonesia is the highest in ASEAN with Acute Respiratory Tract Infection and diarrhea as major causes of death. One mean of prevention is by providing breastmilk appropriately including immediate breastfeeding within the first 30 minutes after birth. Immediate breastfeeding could help maintain prolactin hormone level and prevent prelacteal feeding. This study aims ait describing the situation and determinants of immediate breastfeeding among newborn infants in Cianjur District General Hospital in 2007. Design of the study was cross-sectional and 92 subjects (post-partum mothers) were selected through convenience sampling method. The study found that the rate of immediate breastfeeding was quite low (30%). Multivariate analysis shows that the most dominant factor related to immediate breastfeeding practice was the practice of birth attendant. It is suggested to improve knowledge about benefits of colostrum and immediate breastfeeding, support birth attendant to facilitate immediate breastfeeding practice and improve hospital management system related to immediate breastfeeding practice.
Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah Achmadi, Umar Fahmi
Kesmas Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara universal, kejadian penyakit merupakan inti permasalahan kesehatan masyarakat yang harus dicegah guna menampilkan wilayah yang sehat dan negara yang kuat. Kejadian penyakit merupakan fenomena yang bersandar pada basis wilayah yang mencakup ekosistem dalam dimensi ruang dan waktu Tulisan ini membahas kepentingan, makna, lokasi dan metoda manajemen penyakit berbasis wilayah. Asumsi dasar yang dianut adalah bahwa keberhasilan mengendalikan faktor risiko dan kejadian penyakit akan mampu meningkatkan dan memelihara kualitas kehidup masyarakat. Pembangunan kesehatan Wilayah dapat dilakukan dengan merujuk konsep MPBW dan rancangan SKK setiap wilayah pemerintahan otonom. Secara lebih terperinci, perlu disusun suatu pedoman MPBW kabupaten dan kota yang dapat dijadikan panduan oleh para perancang dan pelaksana. MPBW diharapkan dapat meningkatkan kesehatan penduduk di suatu Kabupaten Kota tertentu secara bertahap dan berkesinambungan. Terakhir dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa pelaksanaan MPBW harus menggunakan prinsip-prinsip Ilmu Kesehatan Masyarakat. It is universally accepted that disease occurrence is the nucleus of public health problem and should be prevented to achieve healthy area and strong country. Disease occurrence is a phenomenon that is area-based and include ecosystem both spatial and temporal dimensions. This paper tries to explain the importance, meaning, location and method of area-based disease management. The important basic assumption is that the successful risk and disease control can increase ability to increase and maintain life quality of the people. Area-based development could be implemented by referring to MPBW concept and SKK design for each and every autonomous government. Furthermore, there is a need to develop MPBW guidelines in district level to be used by development designer and planner. It is expected that MPBW could improve community health in a district gradually and continuously. Last but not least, the implementation of MPBW should utilise Public Health sciences principles.
Faktor Sosio Ekonomi yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pujiyanto, Pujiyanto
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang banyak diderita penduduk dengan kecenderungan meningkat seiring bertambahnya umur. Dengan bertambahnya umur harapan hidup maka dimasa depan hipertensi akan menjadi masalah kesehatan yang serius. Salah satu upaya mengatasi hipertensi adalah dengan minum obat antihipertensi. Keteraturan meminum obat ditentukan oleh kepatuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi pengaruh faktor sosio-ekonomi terhadap kepatuhan minum obat. Jenis penelitian adalah studi kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Informan adalah penderita hipertensi yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Beji Kota Depok, berjumlah 8 orang meliputi kategori lansia/non lansia dan laki-laki/perempuan. Wawancara dilakukan di rumah informan pada minggu pertama dan kedua Juni 2007. Rekaman wawancara dibuat transkrip dan dianalisis dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap patuh dan tidak patuh dalam berobat bisa muncul saling bergantian. Seluruh informan, selain mengkonsumsi obat modern, ternyata juga minum obat tradisional dari beragam tumbuhan obat dengan beragam cara membuatnya. Faktor motivasi berperan penting dalam kepatuhan minum obat. Motivasi positif memiliki efek terhadap kepatuhan minum obat yang lebih kuat dibandingkan dengan motivasi negatif. Sikap caring anggota keluarga juga berperan penting dalam kepatuhan minum obat. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar tenaga medis dan paramedis memotivasi anggota keluarga penderita hipertensi sebagai motivator minum obat, melakukan studi khasiat obat tradisional yang mencakup kandungan zat aktif obat dan cara pembuatan yang tepat serta efek interaksi pemakaian secara bersama-sama obat antihipertensi modern dan tradisional, dan melanjutkan program Askeskin/Jamkesmas untuk mencegah terjadinya unmet need obat antihipertensi pada orang miskin. Hypertension is a degenerative disease suffered by many people and the trends was raised as the increased of people age. In the future this disease will be a serious health problem due to the increase of life expectancy. There is an effective method to cope the hypertension by taking anti-hypertensive medicine but the regularity of its consumption depends on the compliance. The study objective was to elaborate the influence of socio-economic and cultural factors toward compliance. The research design was qualitative study and the data was gathered by indepth interview. Informen were hypertensive persons who reside in the working area of Beji Health Center, the City of Depok, consist of 8 persons including aged/non aged and male/female. The interview was conducted at the informant house on the first and second of June 2007. Then the transcript of the interview analyzed used the content analysis. Study result showed that the compliance (i.e. complied or not complied) was substitutable. All informen consumed the modern and traditional medicine simultaneously. The traditional one was made from various plants and the way he/she produced it was vary too. We discover the importance of motivation to the compliance. Positive motivation have stronger effect to the compliance as compared to the negative one. Also, family member caring was crucial to the compliance. Depends on the analyses there are some recommendation i.e. any medical and paramedical should suggest the family member of hypertensive patient to be a motivator, conducted a research to comprehend the benefit of traditional medicine including the active substance and the method of produced it effectively and the interaction effects of the use of modern and traditional antihypertensive medicine simultaneously, and to avoid the unmet need to the modern antihypertensive medicine of the poor the government should continued the health insurance program for the poor (Askeskin/Jamkesmas).

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue