cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Analisis Utilisasi Resep Antibiotik Pasien Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) di Puskesmas Tebet Jakarta Selatan, Tahun 2005 Isnaini, Nurlaili
Kesmas Vol. 1, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecenderungan peningkatan penggunaan antibiotika di Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan penggunaaan obat yang tidak rasional dan akan menghambat penurunan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Pemberian antibiotika yang berlebihan akan meningkatkan resistensi bakteri dan meningkatkan pembiayaan obat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran utilisasi obat antibiotika Hasil penelitian menemukan bahwa persentase resep obat pasien RJTP yang berisi antibiotika 37,74 %. Proporsi terbesar pemanfaatan obat antibiotika pada pasien RJTP di Puskesmas Tebet tahun 2005 ditemukan pada kelompok usia dewasa (12-65 tahun) yaitu sebesar 56,5 %, pasien yang bayar sendiri yaitu sebesar 89,8 %, penyakit infeksi lain selain ISPA yaitu sebesar 61,6 % dan rata-rata lama hari pemberian obat antibiotika adalah 4 hari dimana nilai ini tidak sesuai dengan pedoman pengobatan antibiotika yang belaku. Rata-rata harga obat per-lembar resep adalah Rp. 6.226,01,- sedangkan rata-rata jumlah R/ nya adalah 3 R/. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, status pembayaran, jenis penyakit (ISPA) dan lama hari pemberian obat secara signifikan mempengaruhi rata-rata harga obat dan rata-rata jumlah R/per-lembar resepnya. Disarankan perlu dilakukan upaya peresepan pengobatan sesuai dengan standar pengobatan yang berlaku terutama lama hari pemberian obat, analisa lebih lanjut mengenai rata-rata harga obat per-lembar resep yang lebih spesifik yaitu dengan hanya menganalisa rata-rata harga obat antibiotika. The tendencies of overusing of antibiotics in primary health care indicates the irrational drug use and inhibits the decrease of morbidity and mortality through increasing bacterial resistance and elevate drug expenditure. The objective of this study was to know the description of antibiotics drug utilization. Results of this study were the percentage of prescription containing antibiotics was 37,74 %. The biggest proportion of antibiotics utilization found in adult patients (12 -65 year old) i.e. 56.5%, individual payment patients was 89.8 % and non-ARI infectious disease was 61,6 %. The average number of days antibiotics use was 4 days, that was not in accordance to the antibiotics medication guideline. The average price of single prescription was Rp. 6.226,01 where the average R/ per prescription was 3 items. The result of multivariate analysis indicated age (except elderly), payment status, diagnosis of ARI and duration of antibiotics use significantly able to predict drug price per prescription and the average R/ per prescription. It was suggested to conduct standard prescription particularly regarding to duration of medication, more specific price analysis focused on antibiotics price is also suggested.
Kendala Pengawasan Melekat Bahan Habis Pakai Pasien Gakin (Unit Rawat Inap RS Persahabatan Tahun 2006) Ernawaty, Ernawaty
Kesmas Vol. 1, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan pengawasan atasan langsung (waskat) dalam penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat untuk pasien gakin adalah sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi berbagai komponen unit pengawasan yang lemah dan berbagai faktor yang berhubungan meliputi struktur organisasi, kebijaksanaan pelaksanaan berikut tindakan koreksi terhadap penyimpangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder, yang meliputi pengamatan pasif, telaah dokumen dan wawancara mendalam terhadap berbagai informan yang terkait. Untuk menilai keabsahan data dilakukan kembali triangulasi sumber, member chek, diskusi dengan teman sejawat dan melakukan analisis kasus negatif. Hasil penelitian menemukan kendala dalam proses pelaksanaan pengawasan melekat pada penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat bagi pasien gakin. Kendala tersebut ditemukan pada sarana dan sasaran pengawasan (komponen-komponen unit), kepemimpinan, budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi. Disarankan melakukan peninjauan kembali berbagai komponen unit sarana dan sasaran pengawasan dengan meningkatkan pengetahuan dalam manajemen pengawasan. Meteapkan budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi serta melakukan rekonsiliasi/ kerja sama antara Instalasi Rawat Inap, Instalasi Penyelesaian Piutang (IPS) dan Apotik secara teratur. The implementation of direct supervision in consumables/drugs and medication for poor patient is considered as of highly important. The objectives of the research are to identify weak point in supervision unit components and related factors including organizational structure, implementation policy and corrective action. The study used qualitative method using both primary and secondary data including passive observation, document review, and in-depth interview to key informants. To validate the data, source triangulation was used as well as member checking, peer discussion, and negative case analysis. The study found that obstacles in supervision are related to facility and supervision targets (unit components), leadership, supervisory culture, and improper corrective action. It is suggested to review unit components related to facility and supervision target by improving knowledge on supervision management. It is also suggested to establish positive supervision culture including corrective action and collaboration between units and dispensary in a regular way.
Tracer Study : Melacak Jejak Lulusan FKM UI (Hasil Study Kualitatif Tracer Sarjana Kesehatan Masyarakat FKM UI 2006) Syafiq, Ahmad; Fikawati, Sandra
Kesmas Vol. 1, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu indikator penting keberhasilan pendidikan tinggi adalah sumbangsih lulusannya dalam masyarakat dan pembangunan. Tracer study dapat menyediakan informasi mengenai sumbangsih dan keterlibatan alumni di masyarakat termasuk dinamika di dunia kerja. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FK-MUI) sudah melaksanakan tracer study kuantitatif pada tahun 2003 yang menginformasikan beberapa aspek terkait dengan lulusan dan keberadaannya di dunia kerja. Penelitian ini merupakan tracer study kualitatif untuk melengkapi gambaran yang diperoleh pada tracer study pertama tersebut dan mencoba menggali lebih dalam informasi mengenai pengalaman pembelajaran di FKMUI, pengalaman bekerja, dan kepuasan lulusan dan pengguna lulusan terhadap pendidikan di FKMUI. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 24 informan yang dibagi menjadi empat kelompok institusi kerja yaitu pemerintahan, sektor swasta/industri, LSM, dan lembaga pendidikan tinggi. Subyek dilacak secara multi moda dan data dianalisis berdasarkan tema utama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lapangan dipersepsi sebagai pengalaman belajar yang paling penting dan bahwa soft-skill adalah keterampilan yang sangat dihargai dan relevan di dunia kerja nyata. Penelitian ini juga mengungkap bahwa pada umumnya lulusan dan pengguna lulusan merasa puas dengan pendidikan di FKMUI. One important indicator of the success of higher education is the contribution of its alumni in the community and development. Tracer study provides information on alumni contribution and involvement in the community including working and employment dynamics. Faculty of Public Health University of Indonesia (FPHUI) has conducted a quantitative tracer study in 2003 which informed selected aspects related to alumni and their existence in employment world. This study is a qualitative tracer study to complement the first tracer study and aimed at digging further information on learning experience in FPHUI, working experience, and alumni and user’s satisfaction on education in FPHUI. In-depth interviewed were conducted to 24 informants which divided into 4 groups of institution (government, private sector/industry, non government organization and higher education institutions). Subjects were traced in a multimode way and data was analyzed based on the study main theme. Study exhibits that field-based learning is perceived as the most important learning experience and soft-skill is highly appreciated and most relevant in the real work situation. The study also found that most users and alumni are satisfied with education in FPHUI.
Filosofi dan Konsep Dasar Kesehatan Kerja Serta Perkembangannya dalam Praktik Kurniawidjaja, L. Meily
Kesmas Vol. 1, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan kerja merupakan masalah setiap individu karena bekerja dibutuhkan semua orang sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak lama diketahui bahwa bekerja dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit. Sebaliknya, kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman tentang konsep, praktik dan manfaat kesehatan kerja bagi para pekerja dan pemberi kerja. Kesehatan kerja seharusnya tidak hanya terfokus pada diagnosis dan pengobatan klinis, tetapi juga mengerjakan rekognisi hazard, penilaian risiko dan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko. Lingkupnya diperluas untuk mencegah penyakit dengan cara: (1) penempatan pekerja pada pekerjaan/ jabatan yang sesuai (fit) dengan status kesehatan dan kapasitas kerjanya. (2) program promosi kesehatan pekerja; (3) perbaikan lingkungan kerja; (4) perbaikan pekerjaan; (5) pengembangan pengorganisasian pekerjaan dan budaya bekerja.; dan (6) surveilans kesehatan pekerja. Indonesia telah meratifikasi konvensi dan rekomendasi ILO yang berhubungan dengan kesehatan kerja. Ada profesional dari multidisiplin dan organisasi profesi melakukan kesehatan kerja di lapangan tersebut, dan banyak pengandil yang lain. Occupational health (OH) is everybody responsibility, because work is human being and decent work is human right, Many work related diseases were documented and stimulated people to do something to overcome it. The objective of this article is to explain the concept, practice and benefit of the occupational health for wokers and employers. The occupational health should not only focus on clinical diagnostic and therapy, but should do hazard recognizing, risk assessment and intervention to eliminate or minimize the risk (risk management method), and widen its scope to prevent diseases by (1) placing the worker in a task adapted to his health status and working capacity; (2) workers’ health promotion program;(3) the improvement of the working environment; (4) the improvement of work; and (5) the development of work organization and working cultures; (6) workers health surveillance. Indonesia had ratified ILO conventions and recommendations related to OH. There are professionals from multidiscipline and organizations conduct OH in the field, and many other OH stakeholders.
Tantangan Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) Bidang Kesehatan di Indonesia Utomo, Budi
Kesmas Vol. 1, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laporan pemerintah tentang pencapaian MDGs di Indonesia sampai tahun 2002 merefleksikan komitmen dalam mensejahterakan rakyat. Kesehatan yang dijabarkan dalam berbagai indikator tujuan 4, 5, dan 6 dilaporkan membaik. Tulisan ini menelaah status pencapaian, mencari penjelasan latar belakang pencapaian, dan menilai prospek pencapaian MDGs utamanya bidang kesehatan. Hasil telaah menunjukkan sebagian besar indikator kesehatan membaik, tetapi lamban. Walau menurun, angka kematian ibu dan anak masih tinggi. Penyakit infeksi dan masalah gizi masih prevalen. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih rendah. Biaya masih menjadi penghambat utama pelayanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan. Program pemberantasan penyakit menular, termasuk HIV/AIDS, malaria, dan TB masih dihadapkan pada banyak hambatan. Prevalensi malaria dan TB masih tinggi, sementara epidemi HIV/AIDS di beberapa daerah sudah mulai masuk ke dalam populasi rendah. Gambaran ini menyiratkan prognosis pencapaian MDGs di Indonesia yang kurang menggembirakan. Tantangan utama pencapaian MDGs bidang kesehatan adalah bagaimana pemerintah dapat menerjemahkan komitmen dan kebijakan intervensi efektif yang sudah tersedia menjadi program rutin pelayanan kesehatan yang dapat langsung menyentuh masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan, yaitu masyarakat miskin. Government’s report on achievement of MDGs in Indonesia until 2002 reflects commitment towards people’s welfare. Health area as explained in indicators of goals 4, 5, and 6 were reported as improved. This review examines achievement status, elucidates background explanation about those achievement status, and assesses prospect of MDG achievement, particularly in health area. The review shows that most of MDG’s health indicators improved but in a slow manner. Funding is still posed as the main constraint of health care of those who needed it. Eradication program of infectious and contagious diseases, including HIV/AIDS, malaria, and TB faces many hurdles. Malaria and TB prevalences are still high, while HIV/AIDS epidemic in several areas has shown infiltration and spread among low socio-economic population groups. This situation reflects a not very good prognostic of MDG achievement in Indonesia. The main challenge of MDG achievement in health area in Indonesia is related to question on how the government could translate commitment and effective intervention policy into routine health care program that directly touch the people, especially those who need most: the poor.
Kekerasan dalam Pacaran pada Siswi SMA di Jakarta Ariestina, Dian
Kesmas Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan berhubungan dengan ketimpangan gender dan berdampak pada kesehatan dan hak asasi manusia. Di Jakarta, pada periode 2000-2002, sekitar 264 perempuan melaporkan mengalami KDP dan sekitar 11,6 % kekerasan tersebut terjadi pada masa pacaran. Secara menyeluruh, satu dari sepuluh perempuan mengalami kekerasan dalam pacaran. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kejadian KDP pada siswi SMAN 37 Jakarta serta faktor-faktor yang berhubungan. Penelitian dengan desain potong lintang ini mengunakan sampel 418 siswi SMAN 37 Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang sengaja dirancangg untuk penelitian ini. Ditemukan sekitar 72,1% dari 337 siswi yang pernah mengalami KDP, berupa kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Umumnya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KDP adalah sosiodemografi, kelemahan fisik, pengetahuan, sikap, keterpaparan terhadap informasi, konflik dalam keluarga, teman sebaya, persepsi sosial yang terdapat pada korban, sedangkan dari pelaku kekerasan ada karakteristik, penggunaan alkohol, dan penggunaan narkoba. Namun variabel – variabel yang berhubungan bermakna hanya variabel kelemahan fisik, sikap terhadap kekerasan, konflik dalam keluarga, keterpaparan terhadap informasi, dan penggunaan alkohol oleh pacar. Violence against women is related to gender inequality and influencing health and human rights aspects. In Jakarta, in 2000-2002 period, around 264 women had reported violence and around 11.6% of that violence were happened during dating. In general, one out of ten women experience violence during dating. This study aims at collecting information on violence during dating among high school girls in Senior High School 37 Jakarta and its related factors. The study used cross-sectional design with 418 girl students as sample. Data were collected through structured interview using questionnaire. The study found around 72.1% of 337 students has experienced violence during dating in form of physical violence, psychological violence, sexual and economical violence. Factors related to violence during dating include social-demographic factors, physical weakness, knowledge, attitude, exposure to information, conflict in family, peers, and social perception. While from the actor of violence, factors related to violence include alcohol and drug abuse. Variables with statistical significant relationship were physical weakness, attitude toward violence, conflict in family, exposure to information, and alcohol abuse by boyfriend.
Perilaku Menyusui Bayi pada Etnik Bugis di Pekkae, 2003 Hamzah, Asiah
Kesmas Vol. 1, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi penilaian ASI di Kabupaten Barru tahun 1998, menemukan 99,0% bayi dan balita masih mendapat ASI. Namun, bayi baru lahir tidak diberi ASI pada jam pertama, Pemberian ASI pada hari I (40,6%) masih rendah, masih banyak yang memberikan hari II (18,4%), dan hari III (41,0%). Umumnya bayi mendapat kolostrom (83,2%) dan ASI (99,0%), tetapi sekitar 75% bayi mendapat makanan prelakteal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku menyusui bayi pada etnik Bugis Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan paradigma etnometodologi dan interaksi simbolik. Pradigma etnometodologi digunakan untuk mengetahui makna perilaku ibu dalam menyusui bayi menurut etnik Bugis. Pradigma interaksi simbolik digunakan untuk mengetahui simbol terpola berdasar Significant Others Dan Generalized Others. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku menyusui orang Bugis tidak terlepas dari Siri’, dari sudut pandang antropologi politik orang Bugis dimasa lalu. Siri’ tidak lain dari inti kebudayaan Bugis yang mendominasi serta menjadi kekuatan pendorong terhadap Pangngadereng selaku wujud totalitas kebudayaan Bugis. Perilaku perempuan Bugis mulai dari hamil sampai melahirkan serta menyusui berdasarkan Significant Others dan Generalized Others. Perilaku tersebut tidak terlepas dari ininnawa madeceng (harapan yang baik) kepada anak yang terkait nilai normatif masyarakat Bugis. Breast feeding evaluation study in District of Barru in 1998, showed that about 99, 0% infants and under five years old children is still breastfed. However, the newborn babies were not breastfed during the first hour but instead were breastfed in the first day (40, 6%), second day (18, 4%), and the third day (41, 0%). Generally the colostrum is given to newborn infant (83,2%) and most of the infant are breastfed (99,0%), but about 75% of the infant are given the prelacteal feeding. This research aimed to understand breastfeeding behavior in Pekkae community, at Tenete Rilau district, Barru regency. This study was conducted in a qualitative approach setting using ethnological and symbolic interactions approaches. Ethnological paradigm was used to understand mother’s behavior based on significant others and generalized other. There were 13 respondents involved in this study consisting of breastfeeding mothers living in Pekkae village, Barru regency. The result of this study showed that the behavior on breastfeeding closely associated with a cultural belief so – called ‘siri’, which is one of the important buginese cultures inspiring the buginese social livelihood. The behavior of buginese mothers from pregnancy until birth and breastfeeding can be considered as ‘significant others’ and ‘generalized others'. This behavior is also attributed to ‘ininnawa madeceng’ (good hope) from the parents so that their children may become good people based on Buginese normative culture.
Relapse Opiat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta, Tahun 2003-2005 Muttaqin, Akhmad
Kesmas Vol. 1, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyalahgunaan ulang opiat merupakan penyakit kronik yang berkali-kali muncul. Angka kambuh (relapse) pecandu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) secara umum tidak jauh berbeda dengan angka relapse pecandu opiat. Tujuan penelitian ini mengetahui berbagai faktor saja yang berhubungan dengan kejadian relapse opiat di RSKO Jakarta tahun 2003-2005. Penelitian dengan disain kasus control ini dilakukan terhadap data sekunder rekam medik. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu (jenis kelamin, tingkat pendidikan, golongan umur, status perkawinan, status pekerjaan, dan status infeksi hepatitis) serta faktor zat (pola penggunaan, lama pakai, cara pakai, frekuensi pakai, dan kadar zat). Sampel studi terdiri dari 72 kasus dan 84 kontrol, Kasus adalah pasien ketergantungan opiat yang berkunjung berturut-turut 6 bulan tanpa menggunakan opiat dan kembali berkunjung dengan keluhan kembali menyalahgunakan opiat. Kontrol adalah pasien ketergantungan opiat yang berkunjung berturut-turut 6 bulan tanpa menggunakaan opiat dan tetap berkunjung tanpa keluhan menyalahgunakan opiat. Penelitian ini menggunakan metoda analisis multivariat logistik regresi ganda. Variabel berhubungan dengan relapse opiat adalah tingkat pendidikan, status perkawinan, status hepatitis, lama pakai, dan cara pakai. Variabel yang paling dominan adalah status hepatitis, penderita hepatitis berisiko relapse lebih besar daripada bukan penderita hepatitis. Drug abuse is a chronic condition that can relapse several times. Generally the relapse rates of narcotic, psychotropic and other additive material are not differed from that of opiate. The objective of this study is to know factors related to the occurrence of opiate relapse in Jakarta Drug Abuse Hospital in 2003-2005. The study design used in this study is case control design using medical record as secondary source of data. The study variables include individual variables (sex, education eve, age, marital status, job, and status of hepatitis), the drug factors including pattern of abuse, duration, method, frequency, and dose. The sample consists of 72 cases and 84 control. The cases are opiate abuse patient who visited the Jakarta Drug Abuse for 6 months without relapse and revisited with opiate relapse. The controls are opiate abuse patient who visited the Jakarta Drug Abuse for 6 months without relapse and still not relapse in the next visit. The analysis method used in this study is multiple logistic regression method. Variables related to opiate relapse include education, marriage status, hepatitis status, method and duration of abuse.
Frekuensi Keteraturan Senam dan Penurunan Tekanan Darah Anggota Klub Jantung Sehat Pondalisa, Jakarta Tahun 2000 - 2005 Werdhani, Retno Asti
Kesmas Vol. 1, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat bersamaan dengan meningkatnya usia. Untuk itu, upaya pencegahan hipertensi dan komplikasinya perlu dilakukan sejak dini jauh sebelum usia lanjut. Olahraga khususnya jenis aerobik diketahui dapat mengendalikan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan frekuensi dan keteraturan senam terhadap penurunan tekanan darah pada peserta program latihan. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan metoda analisis Cox Regression. Penelitian dilakukan terhadap sumber data sekunder 132 anggota KJS Pondalisa yang merupakan salah satu sarana olahraga masyarakat, selama periode satu tahun keanggotaan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak ada anggota yang melakukan senam 3xper minggu sesuai program dengan keteraturan senam anggota maksimum selama 15 minggu. Penelitian ini menemukan bahwa seluruh anggota KJS Pondalisa belum melakukan olah raga sesuai dengan anjuran. Efek frekuensi senam 2xper minggu terhadap penurunan tekanan darah tidak berbeda secara bermakna dengan efek frekuensi senam < 2xper minggu. Penurunan tekanan darah pada frekuensi senam 2xper minggu didapatkan bila dilakukan selama > 8 minggu berturut-turut. The prevalence of hypertension in Indonesia increases with age. Health promotion is needed to prevent hypertension and its complications among those who have not yet reached old age. Sport especially aerobic type has been known to control blood pressure. The objective of the study is to evaluate the association among frequency and regularity of exercise with blood pressure reduction. A Retrospective cohort study and Cox Regression analysis was conducted using secondary data of members of KJS Pondalisa during the first year of membership. The result of study showed that there were no member doing exercise three times weekly as programmed. The maximum exercise’s regularity was 15 weeks. There is no statistically significant effect of two times weekly exersices on reduction of blood presure compared to frequency of less than two times weekly. Reduction of blood presure will be occured if the exercise is conducted for more than 8 weeks continuously.
Blood-Lead Monitoring Exposure to Leaded-Gasoline among School Children in Jakarta, Indonesia 2005 Haryanto, Budi
Kesmas Vol. 1, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bensin dengan kandungan logam berat timbal digunakan sebagai bahan bakar utama kendaraan bermotor di Indonesia sejak beberapa dekade. Jakarta, Batam dan Bali yang secara berurutan sudah tidak menggunakannya sejak 2001, 2003 dan 2004. Pengaruh negatif logam berat timbal meliputi penurunan tingkat IQ, gangguan pendengaran, gangguan pertumbuhan, dan menurunkan kadar hemoglobin, masih akan terus berlangsung dan mengancam anak-anak. Studi kadar logam berat timbal dalam darah di Jakarta, tahun 2001, menemukan 5% anak sekolah dasar dengan kadar timbal darah (BLLs) >10 µg/dl, dan 2,4% mempunyai BLL > 20 µg/dl (CDC-USAEP 2001). Penelitian ini bertujuan menilai kadar timbal darah anak sekolah dasar di Jakarta, tahun 2005. Studi dilakukan pada anak-anak sekolah dasar kelas 3 dan 4 di Jakarta pada periode Januari-Februari 2005. Sebanyak 20 sekolah dasar yang terpilih dan 203 pelajar berartisipasi pada penelitian. Rata-rata kadar hemoglobin darah adalah 12,6 g/dl dan kadar Pb darah adalah 4,2 µg/dl. Proporsi anak-anak dengan kadar Pb-darah >10 µg/dl adalah 1,3%. Penurunan prevalensi Pb-darah dari studi tahun 2001 secara meyakinkan merefleksikan keberhasilan program penghapusan bensin bertimbal di Jakarta. Itu berarti bahwa program tersebut berhasil mencegah pajanan risiko toksik dan dampak kesehatannya pada penduduk Jakarta, khususnya anak-anak. Program penghentian bahan bakar bertimbal disarankan untuk diperluas pada seluruh provinsi dan kota di Indonesia. Leaded-gasoline has been used as major octane booster of motor vehicles’ gasoline in Indonesia since decades ago, except in Jakarta, Batam and Bali where it had not been used from 2001, 2003 and 2004, respectively. Negative effects of lead, such as decreasing of IQ, hearing, growth, and hemoglobin level, then will still be threatening and may continue in the future. Meanwhile, the prolonged lead exposure occurs in the may have more dangerous human health effects to children. The Jakarta blood-lead study in 2001 showed that 35% elementary school children have blood lead levels (BLLs) more than 10 µg/dl, and 2.4% had BLL more than 20 µg/dl (CDC-USAEP 2001). The objective of this study is to assess the blood lead level of elementary school children in Jakarta urban area in 2005 by evaluating the mean blood lead level of 3rd and 4th grade elementary school children in Jakarta urban area. A cross-sectional survey was implemented to achieve the above objective. The study was conducted in January-February 2005. Portable LeadCare and Hemocue were used to analyze blood-lead and blood hemoglobin (Hb) respectively from children finger blood on site. All of the 20 selected elementary schools agreed to participate in the test. A total of 203 students were allowed by their parents to participate in the test. The overall average for Hb-blood level is 12.6 g/dl and for Pb-blood level is 4.2 µg/dl. Percentage of those children with Pb-blood equal and more than 10 µg/dl is 1.3%. The declining Pb-blood prevalence from 2001 study obviously reflects the success of Leaded-gasoline phase-out program in Jakarta. It means that the program is successful in preventing people exposed to leaded gasoline in Jakarta, especially children, from the risk of lead toxicity and its impacts. Thus, the program of phasing-out of leaded-gasoline should be expanded and implemented to all Indonesian provinces and cities in order to avoid lead exposure to people.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue