cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 288 Documents
Pengaruh Variasi Glukosa dalam Pembuatan Selongsong Sosis dengan Proses Fermentasi Air Kelapa menggunakan Sistem Batch Reaktor YUHANIANSYAH, NISA; PRATAMA, YULIANTI; SALAFUDIN, SALAFUDIN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.082 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.45-57

Abstract

AbstrakSalah satu faktor yang mempengaruhi proses pembentukan selulosa dalam proses fermentasi oleh A. xylinum adalah sumber karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi glukosa yang optimum terhadap ketebalan selulosa berdasarkan variasi jenis pipa dan perlakuan pipa. Proses fermentasi menggunakan sistem batch reaktor skala laboratorium yang disuplai oksigen murni selama 16 hari fermentasi dengan nilai pH 4,30. Variasi jenis pipa yang digunakan pada penelitian adalah pipa PVC dan pipa PET dengan perlakuan digores dan tanpa digores. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan pada penelitian adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan konsentrasi glukosa sebesar 15% dan menggunakan pipa PVC dengan perlakuan digores karena menghasilkan selulosa dengan ketebalan 0,2 cm dengan nilai persentase penurunan COD 62,16%, BOD 72,62%, Kadar Glukosa 87,77%, pH 11,11% dan persentase peningkatan TPC 87,13%.Kata kunci: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentasi, Reaktor Batch, TPC  Variasi GlukosaAbstractCellulose is a fermented product by the bacterium. Acetobacter xylinum from the degradation source contained in the coconut water substrate. One factor that influences the process of cellulose formation in the fermentation process by A. xylinum i is a carbon source. The purpose of this study is to determine the optimum glucose concentration on cellulose thickness based on variations of pipe types and pipe treatment. A laboratory-scale batch system reactor which is supplied with pure oxygen for 16 days of fermentation with a pH value of 4.30. Variations in the type of pipe used in the study are PVC pipes and PET pipes with scratched and without scratched treatment. Variations in glucose concentration used in the study were 5%, 10%, 15%, 20% and 25%. The best results were obtained by the thickness of 0.2 cm with a percentage of COD reduction of 62.16%, BOD 72.62%, Glucose Level 87.77%, pH 11.11% and 87.13% TPC increase percentage.Keywords: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentation, Batch Reactor, TPC, Variation of Glucose
Pengaruh Variasi Glukosa dalam Pembuatan Selongsong Sosis dengan Proses Fermentasi Air Kelapa menggunakan Sistem Batch Reaktor YUHANIANSYAH, NISA; PRATAMA, YULIANTI; SALAFUDIN, SALAFUDIN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.082 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.45-57

Abstract

AbstrakSalah satu faktor yang mempengaruhi proses pembentukan selulosa dalam proses fermentasi oleh A. xylinum adalah sumber karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi glukosa yang optimum terhadap ketebalan selulosa berdasarkan variasi jenis pipa dan perlakuan pipa. Proses fermentasi menggunakan sistem batch reaktor skala laboratorium yang disuplai oksigen murni selama 16 hari fermentasi dengan nilai pH 4,30. Variasi jenis pipa yang digunakan pada penelitian adalah pipa PVC dan pipa PET dengan perlakuan digores dan tanpa digores. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan pada penelitian adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan konsentrasi glukosa sebesar 15% dan menggunakan pipa PVC dengan perlakuan digores karena menghasilkan selulosa dengan ketebalan 0,2 cm dengan nilai persentase penurunan COD 62,16%, BOD 72,62%, Kadar Glukosa 87,77%, pH 11,11% dan persentase peningkatan TPC 87,13%.Kata kunci: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentasi, Reaktor Batch, TPC  Variasi GlukosaAbstractCellulose is a fermented product by the bacterium. Acetobacter xylinum from the degradation source contained in the coconut water substrate. One factor that influences the process of cellulose formation in the fermentation process by A. xylinum i is a carbon source. The purpose of this study is to determine the optimum glucose concentration on cellulose thickness based on variations of pipe types and pipe treatment. A laboratory-scale batch system reactor which is supplied with pure oxygen for 16 days of fermentation with a pH value of 4.30. Variations in the type of pipe used in the study are PVC pipes and PET pipes with scratched and without scratched treatment. Variations in glucose concentration used in the study were 5%, 10%, 15%, 20% and 25%. The best results were obtained by the thickness of 0.2 cm with a percentage of COD reduction of 62.16%, BOD 72.62%, Glucose Level 87.77%, pH 11.11% and 87.13% TPC increase percentage.Keywords: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentation, Batch Reactor, TPC, Variation of Glucose
Evaluasi Perencanaan Sistem Penyaluran Drainase di Kelurahan Jurumudi Kecamatan Benda Kota Tangerang FURQON MULYA, MIRZA KHOERUN; WARDHANI, EKA; KRAMAWIJAYA, AGUNG GHANI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1454.628 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.90-100

Abstract

AbstrakBerdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang nomor 6 Tahun 2012 Tentang RTRW, Kelurahan Jurumudi termasuk dalam kawasan rawan banjir. Terdapat dua titik banjir yaitu Jalan Permata Bandara dan Jalan Pergudangan. Evaluasi dilakukan dengan membandingan dimensi saluran eksisting dan rencana. Tahapan perencanaan meliputi analisis CHHM dengan Metode Gumbel, Log Pearson III, dan Iwai Kedoya. Analisis intensitas hujan dilakukan dengan Metode Van Breen, Bell-Tanimoto, dan Hasper der Weduwen melalui pendekatan matematis persamaan Talbot, Sherman, dan Ishiguro. Perhitungan debit rencana dilakukan dengan metode rasional. Perhitungan dimensi saluran dilakukan berdasarkan persamaan Manning. Hasil dari perencanaan dimensi rencana yaitu 50x30 cm – 240x80 cm. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa saluran pada Jalan Permata Bandara dan Jalan Pergudangan tidak memadai karena saluran drainase eksiting kurang dari rencana.Kata kunci: Banjir, Dimensi Saluran, Kelurahan JurumudiAbstractAccording to Tangerang City Regional Regulation number 6 of 2012 about Regional Spatial Planning, Kelurahan Jurumudi is categorized as flood-prone areas. There are two flooding points which are Permata Bandara Street and Pergudangan Street. Evaluation is done by comparing the existing dimensions and dimensions of planning results. The steps include Flood Frequency Analysis with Gumbel, Log Pearson III, and Iwai Kedoya methods. Rain intensity analysis is carried out by the Van Breen, Bell-Tanimoto, and Hasper der Weduwen methods through a mathematical approach of Talbot, Sherman, and Ishiguro equations. Flowrate calculation plan is done with rational method. Calculation of channel dimensions is done based on the Manning equation. The planning result shows 50x30 cm – 240x80 cm of dimensions. The evaluation result shows that the channels on Permata Bandara Street and Pergudangan Street are inadequate because the existing drainage channels are less than what has been planned.Kata kunci: Flood, Channels Dimension, Kelurahan Jurumudi
Evaluasi Perencanaan Sistem Penyaluran Drainase di Kelurahan Jurumudi Kecamatan Benda Kota Tangerang FURQON MULYA, MIRZA KHOERUN; WARDHANI, EKA; KRAMAWIJAYA, AGUNG GHANI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1454.628 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.90-100

Abstract

AbstrakBerdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang nomor 6 Tahun 2012 Tentang RTRW, Kelurahan Jurumudi termasuk dalam kawasan rawan banjir. Terdapat dua titik banjir yaitu Jalan Permata Bandara dan Jalan Pergudangan. Evaluasi dilakukan dengan membandingan dimensi saluran eksisting dan rencana. Tahapan perencanaan meliputi analisis CHHM dengan Metode Gumbel, Log Pearson III, dan Iwai Kedoya. Analisis intensitas hujan dilakukan dengan Metode Van Breen, Bell-Tanimoto, dan Hasper der Weduwen melalui pendekatan matematis persamaan Talbot, Sherman, dan Ishiguro. Perhitungan debit rencana dilakukan dengan metode rasional. Perhitungan dimensi saluran dilakukan berdasarkan persamaan Manning. Hasil dari perencanaan dimensi rencana yaitu 50x30 cm – 240x80 cm. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa saluran pada Jalan Permata Bandara dan Jalan Pergudangan tidak memadai karena saluran drainase eksiting kurang dari rencana.Kata kunci: Banjir, Dimensi Saluran, Kelurahan JurumudiAbstractAccording to Tangerang City Regional Regulation number 6 of 2012 about Regional Spatial Planning, Kelurahan Jurumudi is categorized as flood-prone areas. There are two flooding points which are Permata Bandara Street and Pergudangan Street. Evaluation is done by comparing the existing dimensions and dimensions of planning results. The steps include Flood Frequency Analysis with Gumbel, Log Pearson III, and Iwai Kedoya methods. Rain intensity analysis is carried out by the Van Breen, Bell-Tanimoto, and Hasper der Weduwen methods through a mathematical approach of Talbot, Sherman, and Ishiguro equations. Flowrate calculation plan is done with rational method. Calculation of channel dimensions is done based on the Manning equation. The planning result shows 50x30 cm – 240x80 cm of dimensions. The evaluation result shows that the channels on Permata Bandara Street and Pergudangan Street are inadequate because the existing drainage channels are less than what has been planned.Kata kunci: Flood, Channels Dimension, Kelurahan Jurumudi
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Pemilihan Alternatif Jaringan Distribusi di Kelurahan Batununggal dan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung HAKASPENO, ALYES HAKASPENO; S.DJ, RACHMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.752 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.11-22

Abstract

AbstrakKelurahan Batununggal dan Mengger merupakan daerah cakupan pelayanan PDAM Tirtawening, dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 29.190 jiwa. Walaupun tingkat pelayanan jaringan distribusi air minum daerah tersebut sebesar 24%, tetapi pipa eksisting merupakan pipa asbes yang tua. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan baru agar daerah tersebut dapat terlayani oleh jaringan PDAM dengan memanfaatkan sumber air dari IPA Cikalong. Periode perencanaan adalah 20 tahun, sampai dengan tahun 2039. Proyeksi total kebutuhan air rata-rata untuk tahun 2039 adalah sebesar 80,13 l/dtk. Perencanaan jaringan distribusi dilakukan dengan membuat 3 alternatif jaringan. Dari ketiga alternatif ini dipilih salah satu alternatif terbaik secara hidrolis dengan menggunakan metode Weight Ranking Technique (WRT). Analisis hidrolis dilakukan dengan menggunakan aplikasi Epanet 2.0, yang mengacu kepada kriteria sesuai dengan Permen PU No.18 Tahun 2007. Alternatif terpilih untuk wilayah perencanaan adalah alternatif ke-3, yaitu yang menggunakan pola gabungan (cabang dan loop). Dari hasil analisis hidrolis diperoleh sisa tekan, kecepatan aliran, dan headloss sebesar berturut-turut 15,89 m – 41,60 m,  0,33 m/dtk – 2,08 m/dtk dan  9,88 m/km. Pipa yang digunakan adalah jenis High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Kata Kunci: Air Minum, Analisis Hidrolis, Jaringan Distribusi.AbstractBatununggal and Mengger Sub-Districts are areas that meet the services of the Tirtawening PDAM, with a total population in 2016 of 29,190 people. Although the service level of the drinking water distribution network is 24%, the existing pipes are old asbestos pipes. Therefore, new planning needs to be done so that it can be served by PDAMs using sources from the Cikalong WTP. The planning period is 20 years, until 2039. The projected total average air demand for 2039 is 80.13 l / sec. Distribution network planning is done by making 3 alternative networks. From one of these alternatives Choose one of the best alternatives using the Weight Ranking Technique (WRT) method. Hydraulic analysis is carried out using the Epanet 2.0 application, which refers to criteria in accordance with Permen PU No.18 of 2007. The alternative chosen for regional planning is the 3rd alternative, which uses a pattern combination (branch and loop). From the results of the hydraulic analysis the remaining compressive pressures, flow velocity, and headloss were agreed at 15.89 m - 41.60 m, 0.33 m / sec - 2.08 m / sec and 9.88 m / km. The pipe used is the type of High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Keywords: Drinking Water, Hydraulic Analysis, Distribution Networks.
Pemilihan Alternatif Jaringan Distribusi di Kelurahan Batununggal dan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung HAKASPENO, ALYES HAKASPENO; S.DJ, RACHMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.752 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.11-22

Abstract

AbstrakKelurahan Batununggal dan Mengger merupakan daerah cakupan pelayanan PDAM Tirtawening, dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 29.190 jiwa. Walaupun tingkat pelayanan jaringan distribusi air minum daerah tersebut sebesar 24%, tetapi pipa eksisting merupakan pipa asbes yang tua. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan baru agar daerah tersebut dapat terlayani oleh jaringan PDAM dengan memanfaatkan sumber air dari IPA Cikalong. Periode perencanaan adalah 20 tahun, sampai dengan tahun 2039. Proyeksi total kebutuhan air rata-rata untuk tahun 2039 adalah sebesar 80,13 l/dtk. Perencanaan jaringan distribusi dilakukan dengan membuat 3 alternatif jaringan. Dari ketiga alternatif ini dipilih salah satu alternatif terbaik secara hidrolis dengan menggunakan metode Weight Ranking Technique (WRT). Analisis hidrolis dilakukan dengan menggunakan aplikasi Epanet 2.0, yang mengacu kepada kriteria sesuai dengan Permen PU No.18 Tahun 2007. Alternatif terpilih untuk wilayah perencanaan adalah alternatif ke-3, yaitu yang menggunakan pola gabungan (cabang dan loop). Dari hasil analisis hidrolis diperoleh sisa tekan, kecepatan aliran, dan headloss sebesar berturut-turut 15,89 m – 41,60 m,  0,33 m/dtk – 2,08 m/dtk dan  9,88 m/km. Pipa yang digunakan adalah jenis High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Kata Kunci: Air Minum, Analisis Hidrolis, Jaringan Distribusi.AbstractBatununggal and Mengger Sub-Districts are areas that meet the services of the Tirtawening PDAM, with a total population in 2016 of 29,190 people. Although the service level of the drinking water distribution network is 24%, the existing pipes are old asbestos pipes. Therefore, new planning needs to be done so that it can be served by PDAMs using sources from the Cikalong WTP. The planning period is 20 years, until 2039. The projected total average air demand for 2039 is 80.13 l / sec. Distribution network planning is done by making 3 alternative networks. From one of these alternatives Choose one of the best alternatives using the Weight Ranking Technique (WRT) method. Hydraulic analysis is carried out using the Epanet 2.0 application, which refers to criteria in accordance with Permen PU No.18 of 2007. The alternative chosen for regional planning is the 3rd alternative, which uses a pattern combination (branch and loop). From the results of the hydraulic analysis the remaining compressive pressures, flow velocity, and headloss were agreed at 15.89 m - 41.60 m, 0.33 m / sec - 2.08 m / sec and 9.88 m / km. The pipe used is the type of High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Keywords: Drinking Water, Hydraulic Analysis, Distribution Networks.
Identifikasi Senyawa BTEX pada Asap Kendaraan Bermotor Roda Dua MAULANA, YUSUF EKA; YULIANA, TRISNA; ROHMAH, AINI ASPIATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.679 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.71-83

Abstract

 AbstrakPenggunaan kendaraan bermotor roda dua di Indonesia semakin berkembang pesat. Semakin tinggi tingkat penggunaan transportasi yang beroperasi disuatu daerah, maka akan semakin tinggi pula potensi pencemaran udara di daerah tersebut. Jika pembakaran pada kendaraan bermotor tidak sempurna maka dapat dihasilkan senyawa yang berbahaya yaitu benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), dan xylene (C8H10) atau biasa disingkat BTEX. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa BTEX dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam asap kendaraan bermotor dengan menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS). Hasil identifikasi menunjukkan adanya hubungan yangsangat kuat antara standard dengan hasil pengukuran yaitu dengan R2 di atas 0,99. Identifikasi menunjukkan senyawa BTEX yang terbentuk adalah Benzene, Toluene, Etil Benzene, Xylene.Kata kunci: kendaraan bermotor, hidro karbon, BTEX, GC-MS.AbstractThe use of two wheels motorized vehicles or motorcycles in Indonesia is growing rapidly. It has been known that the greater the number of two wheels motorized vehicles the higher the potential for air pollution. If the combustion occur incomplete, hazardous compounds can be generated, namely benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), and xylene (C8H10) or commonly abbreviated BTEX. The purpose of this study was to identify BTEX compounds and other hydrocarbon compounds in motor vehicle fumes using gas chromatography-mass spectrometers. The identification results indicate a very strong relationship between the standard and the measurement results, with R2 above 0.99. Identification shows that BTEX compounds formed are Benzene, Toluene, Ethyl Benzene, Xylene. Keywords: motorcycles, hidro karbon, BTEX, GC-MS.
Identifikasi Senyawa BTEX pada Asap Kendaraan Bermotor Roda Dua MAULANA, YUSUF EKA; YULIANA, TRISNA; ROHMAH, AINI ASPIATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.679 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.71-83

Abstract

 AbstrakPenggunaan kendaraan bermotor roda dua di Indonesia semakin berkembang pesat. Semakin tinggi tingkat penggunaan transportasi yang beroperasi disuatu daerah, maka akan semakin tinggi pula potensi pencemaran udara di daerah tersebut. Jika pembakaran pada kendaraan bermotor tidak sempurna maka dapat dihasilkan senyawa yang berbahaya yaitu benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), dan xylene (C8H10) atau biasa disingkat BTEX. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa BTEX dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam asap kendaraan bermotor dengan menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS). Hasil identifikasi menunjukkan adanya hubungan yangsangat kuat antara standard dengan hasil pengukuran yaitu dengan R2 di atas 0,99. Identifikasi menunjukkan senyawa BTEX yang terbentuk adalah Benzene, Toluene, Etil Benzene, Xylene.Kata kunci: kendaraan bermotor, hidro karbon, BTEX, GC-MS.AbstractThe use of two wheels motorized vehicles or motorcycles in Indonesia is growing rapidly. It has been known that the greater the number of two wheels motorized vehicles the higher the potential for air pollution. If the combustion occur incomplete, hazardous compounds can be generated, namely benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), and xylene (C8H10) or commonly abbreviated BTEX. The purpose of this study was to identify BTEX compounds and other hydrocarbon compounds in motor vehicle fumes using gas chromatography-mass spectrometers. The identification results indicate a very strong relationship between the standard and the measurement results, with R2 above 0.99. Identification shows that BTEX compounds formed are Benzene, Toluene, Ethyl Benzene, Xylene. Keywords: motorcycles, hidro karbon, BTEX, GC-MS.

Page 11 of 29 | Total Record : 288