cover
Contact Name
Sayono
Contact Email
say.epid@gmail.com
Phone
+628122545186
Journal Mail Official
say.epid@gmail.com
Editorial Address
Ruang 408 Lantai 4 Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmudu Raya No.18 Semarang, 50273
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : 16933443     EISSN : 26139219     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia publishes scientific articles of research results in the field of public health in scope: Health policy and administration Public health nutrition Environmental health Occupational health and safety Health promotion Reproductive health Maternal and child health Other related articles in public health
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Volume 14. No. 1. Tahun 2019" : 5 Documents clear
EFEKTIVITAS GRADASI WARNA KUNING SEBAGAI ATRAKTAN FLY GRILL Happy Budi Lestari; David Laksamana Caesar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.004 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4793

Abstract

Latar Belakang: Beberapa jenis spesies lalat berperan dalam masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan manusia yang salah satunya berupa diare. Lalat tidak dapat diberantas habis tetapi dapat dikendalikan sampai dengan batas yang tidak membahayakan atau menimbulkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Cara yang paling mudah dan cepat untuk mengukur tingkat kepadatan lalat yaitu dengan menggunakan fly grill. Fly grill merupakan alat berupa potongan kayu yang disusun untuk melakukan survei kepadatan lalat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas warna kuning fly grill dalam menarik lalat. Metode: Penelitian ini dilakukan di TPS Pasar Jepang. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain Posttest Only Design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh yang artinya semua anggota populasi dijadikan sampel. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji One Way Annova.  Hasil: Persentase lalat yang hinggap pada warna kuning muda sebanyak 15,16%, warna kuning kenari sebanyak 46,87% dan warna kuning tua sebanyak 37,96%. Berdasarkan uji statistik menunjukan terdapat perbedaan efektivitas warna kuning fly grill dalam menarik lalat (p=0.0001). Kesimpulan: Fly grill warna kuning kenari efektif dalam menarik lalat karena mampu menarik lalat untuk hinggap sebanyak 46,87%.
TEKNIK SELOTIF-ENTELLAN DAPAT MENGAWETKAN TELUR Enterobius vermicularis (E. vermicularis) DALAM PREPARAT PERMANEN SELAMA 8 TAHUN Didik Sumanto; Sayono Sayono; Puji Lestari Mudawamah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.619 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4788

Abstract

Latar belakang: Pengolahan parasit menjadi awetan permanen merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan morfologi parasit agar memudahkan pembelajaran identifikasi parasit. Enterobiasis sudah menjadi penyakit yang diabaikan, namun kasusnya masih sering ditemukan. Stadium telur menjadi penting dalam penegakan diagnosis enterobiasis. E. vermicularis memiliki telur berdinding dua lapis dari bahan protein yang mudah rusak. Pengolahan spesimen telur cacing yang kurang tepat menyebabkan kerusakan morfologinya dan awetan tidak akan bertahan lama. Tujuan: mengetahui daya tahan telur E. vermicularis dalam awetan permanen selotif-entellan. Metode: Spesimen telur cacing diambil dari daerah perianal penderita menggunakan periplaswab dengan metode Graham scotch tape. Selotif berisi telur cacing dipotong dan ditempelkan pada kaca obyek. Proses mounting dilakukan dengan entellan di atas selotif dengan kaca penutup. Pengamatan dilakukan setiap tahun selama 8 tahun dengan melihat morfologi dan jumlah telur yang masih utuh dalam awetan. Hasil: morfologi telur E. vermicularis masih utuh dan bertahan selama 8 tahun dalam awetan selotif entellan. Dari tahun ke tahun tidak ada satupun telur yang mengalami kerusakan ataupun pecah. Jumlah telur sejak tahun pertama pengamatan hingga tahun ke 8 masih tetap sama. Perubahan warna terjadi pada bagian dalam telur. Saat awal pengambilan spesimen apus perianal, bagian dalam telur berwarna agak kehijauan. Paparan entellan dalam awetan mengubah warna sel telur yang semula kehijauan menjadi pucat transparan sejak tahun pertama pada bulan kedua pengamatan.
POLIMORFISME GEN CYP1A1 SEBAGAI FAKTOR RISIKO KANKER PARU PADA PEKERJA PELAPIS LOGAM Yuliani Setyaningsih; Mutmainnah Mutmainnah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.692 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4789

Abstract

Latar Belakang:  Pekerja  pelapisan kromium memiliki risiko 2-80 kali lipat terkena kanker paru. Patogenesis kanker paru tidak lepas dari peranan gen yang berperan dalam metabolisme karsinogen Gen yang berperan dalam metabolisme karsinogen adalah CYP1A1. Polimorfisme gen CYP1A1 dapat menyebabkan kanker paru karena enzim tersebut merupakan enzim kunci dalam aktivasi prokarsinogen tembakau dan bahan-bahan kimia lain. Metode: Jenis penelitian explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposif sebanyak 66 orang pada pekerja pelapis logam di kecamatan Talang kabupaten Tegal. Variabel independen yang diamati meliputi jenis pekerjaan, kebiasaan merokok dan umur sedangkan variabel dependennya adalah polimorfisme gen CYP1A1. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 2 genotip polimorfisme m1 gen CYP1A1 pada tiap kelompok yaitu genotip homozigot varian (m1/m1) dan homozigot wild type (w1/w1). Selain itu juga ditemukan 2 genotip polimorfisme m2 gen CYP1A1 pada tiap kelompok  yaitu genotip homozygot varian (m2/m2) dan homo zygot wild type (w2/w2). Uji beda polimorfisme gen CYP1A1 m1 dan m2 ini menunjukkan hasil yang berbeda bermakna antara kelompok paparan kromium tanpa merokok dan kelompok paparan kromium dengan merokok. Kelompok dengan paparan kromium dan merokok lebih berisiko membawa alel varian dibandingkan alel wild tipe. Kesimpulan: Terdapat polimorfisme gen CYP1A1 pada pekerja pelapis logam yang terpapar kromium dan merokok. Individu dengan paparan kromium dan merokok berisiko memiliki genotip varian gen CYP1A1.
PERUBAHAN JUMLAH LEUKOSIT AKIBAT AKTIVITAS FISIK BERAT PADA MENCIT JANTAN BALB/c Mushidah Mushidah; Ratna Muliawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.075 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4790

Abstract

Latar belakang: Aktivitas fisik berat selain menyebabkan peningkatan radikal bebas juga dapat menyebabkan stres fisik, psikis, dan penurunan imunitas. Stres psikis terbukti mempengaruhi poros hipothalamus, hipofisis, dan cortek adrenal sehinga mengakibatkan apoptosis sel darah. Namun perubahan jumlah leukosit akibat aktivitas fisik berat masih inkonsisten. Tujuan penelitian untuk mengetahui perubahan jumlah leukosit akibat aktivitas fisik berat. Metode: Dalam Post Test Only Control Group Design sebanyak 15 ekor mencit jantan BALB/c, dikelompokkan menjadi 3 kelompok secara random. Kelompok kontrol (G-0) tidak dilakukan aktifitas fisik, kelompok perlakuan aktivitas fisik berat 1x (G-1), dan (G-2) kelompok aktifitas fisik berat 3 kali. Semua kelompok dilakukan pemeriksaan jumlah leukosit dengan metode Direct counting. Analisis data dengan uji One Way ANOVA dilanjutkan dengan Post Hoc. Hasil: Rerata Jumlah leukosit pada G-0, 6180±540,37/mm3, G-1, 4650±217,94/mm3, danG-2, 4180±130,38/mm3. Uji One Way Anova masing-masing menunjukkan  perbedaan secara bermakna di antara kelompok, p < 0.001. Post Hoc Test menunjukkan bahwa jumlah leokosit pada G-1 dan G-2 lebih rendah dibanding G-0, p < 0.001. Terjadi korelasi negatif jumlah leukosit (r = -20,14)secara signifikan, p < 0,001. Kesimpulan: Adanya penurunan jumlah leukosit  akibat aktivitas fisik berat pada mencit BALB/c.
PERAWATAN DIRI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA Cucu Herawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.525 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4791

Abstract

Latar Belakang: Kecacatan yang dialami oleh penderita kusta menyebabkan berbagai dampak diantaranya dampak sosial, psikologis, dan ekonomi. Dampak sosial yang dialami penderita yaitu terisolasi dari pergaulan karena adanya stigma dan dsikriminasi, masalah psikologis menimbulkan stres, cemas dan depresi, serta dampak ekonomi dapat meningkatkan kemiskinan karena kurangnya produktifitas penderita. Maka diperlukan upaya pencegahan supaya tidak mengalami cacat diantaranya dengan perawatan diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pendapatan, tipe kusta, dan perawatan diri terhadap cacat tingkat II kusta. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain Cross Sectional. Total populasi 43 penderita dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 35 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling, untuk menentukan mana saja yang termasuk sampel dari tiap Puskesmas menggunakan teknik simple random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan telaah dokumen. Hasil: Didapatkan tidak ada hubungan antara tipe kusta (p=0.234) dengan cacat tingkat II dan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan (p=0.042), pendapatan (p=0.009), dan perawatan diri (0.001) dengan cacat tingkat II di Kabupaten Cirebon Tahun 2019. Nilai OR perawatan diri sebesar 11.73 maka perawatan diri yang kurang mempunyai risiko 12 kali terjadinya cacat tingkat II dibandingkan dengan yang melakukan perawatan diri baik. Kesimpulan: Perlunya peningkatan peran aktif penderita untuk mencari informasi tentang penyakit kusta dan meningkatkan perilaku kebiasaan perawatan diri yang rutin untuk mencegah terjadinya cacat.

Page 1 of 1 | Total Record : 5