Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Hubungan Jumlah Bakteri Patogen dalam Rumah dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Ngesrep Banyumanik Semarang Tahun 2014 Caesar, David Laksamana; Nurjazuli, Nurjazuli; Wahyuningsih, Nur Endah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 14, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.14.1.21 - 26

Abstract

Background : Pneumonia is an acute respiratory tract infections, in which there is inflammation in the lung tissue, caused by microorganisms such as viruses, bacteria, fungi, inhaled foreign particles or irradiation. Semarang is a city with a high incidence of pneumonia, subdistrict Banyumanik is a district with a high incidence rate is 103.25 per 1000 population in 2012. Methods : This is an observasional reseach using case control design. The population in this research is 162 children under five years, using Random Sampling techniques, a sample of 70 children under five years.The data collection method in this research is the measurement by using the colony counter, lux metter, thermohygrometer, observations, questionnaires, interviews, and documentation. And data analysis in this study using chi square test and logistic regression test. Results : The results showed there was no significant relationship between the amount of bacterial pathogen in the house with incidence of pneumonia onchildren under five years with p value (0.356); OR (4.387); CI 95% (0.465-41.404) for Staphilococcus aureus, p value (0.112); OR (2.364), CI 95% (0.807-6.927) for Klebsiella pneumoniae, and p value (0.473); OR (1.410); CI 95% (0.551) for Pseudomonas aeruginosa. No significant relationship between temperature, lighting, and ventilation with the incidence of pneumonia on children under five years with p value (0.101);OR (2.522);CI 95% (0.821-7.748), p (0.614); OR (3.188); CI 95% (0.315-32.144), p (0.632); OR (0.795); CI 95% (0.311-2.034). Any relationship humidity with pneumonia the incidence of pneumonia on children under five years with p value (0.012); OR (0.265), CI 95% (0.092-0.765). Conslusion : The conclution of this reseach is a significant relationship between humidity with pneumonia on children under five years in working areas Public Health Center Ngesrep Banyumanik Semarang 2014. Keyword : Bacterial Pathogen, Pneumonia for Children Under Five Years, Ngesrep Bayumanik
Front Matter Cendekia Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 Tahun 2019 David Laksamana Caesar
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 3, No 2 (2019): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v3i2.62

Abstract

Back Matter Cendekia Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 Tahun 2019 David Laksamana Caesar
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 3, No 2 (2019): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v3i2.63

Abstract

TOTAL COLIFORM AIR BERSIH PADA RUMAH MAKAN TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG Puput Kadarsih; David Laksamana Caesar
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 6, No 1 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.015 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v2i5.161

Abstract

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Rumah makan adalah setiap usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Total Coliform merupakan kelompok bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya kontaminasi feses atau indikasi adanya pencemaran pada air dan dapat menimbulkan masalah kesehatan pada manusia. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 5 sampel air bersih. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar checklist, serta lembar pengukuran Most Probable Number (MPN) air bersih. Berdasarkan hasil analisis laboratorium pada 5 sampel air bersih diketahui seluruh sampel air bersih melebihi NAB yang diperkenankan yaitu 10/100 ml dengan rincian 4 sampel memiliki nilai MPN > 2400/100 ml dan 1 sampel memiliki nilai MPN 460/100 ml. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa kualitas bakterilogis air bersih di rumah makan terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang belum memenuhi syarat kesehatan.Kata Kunci : Total Coliform, Air bersih, Rumah makan
FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUANGAN DENGAN ANGKA KUMAN UDARA RUANG RAWAT INAP GEDUNG SITI HAJAR RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN HADLIRIN JEPARA Rizal Muntaha; David Laksamana Caesar
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 5, No 2 (2016): Edisi Oktober 2016
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.474 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v1i5.153

Abstract

Udara merupakan tempat kuman untuk hidup dan berkembang. Kualitas udara di ruang rawat inap rumah sakit perlu diperhatikan karena udara menjadi media penularan penyakit. Suhu dan kelembaban termasuk faktor lingkungan fisik yang berhubungan dengan pertumbuhan kuman. Tujuan dari penelitian yaitu untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan fisik ruangan yaitu suhu dan kelembaban dengan angka kuman udara di ruang rawat inap Gedung Siti Hajar Rumah Sakit Islam Sultan Hadlirin Jepara.Jenis penelitian ini adalah analitik observasional, rancangan cross sectional. Populasi dan sampel seluruh ruang rawat inap Gedung Siti Hajar. Instrumen yang digunakan adalah thermohygrometer dan Microbial Air Sampler (MAC). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Kendall Tau.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang rawat inap Gedung Siti Hajar mempunyai rata-rata suhu 30,10°C, kelembaban 73,89% dan angka kuman udara 164 CFU/m3. Hasil uji Kendall Tau hubungan suhu dengan angka kuman udara diperoleh p value 0,496 dan hubungan kelembaban dengan angka kuman udara diperoleh p value 0,040.Tidak ada hubungan antara suhu dengan angka kuman udara. Kelembaban mempunyai hubungan dengan angka kuman udara dengan kekuatan korelasi lemah. Saran yang dapat diberikan kepada pihak rumah sakit yaitu agar suhu dan kelembaban disesuaikan dengan baku mutu Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/Menkes/SK/X/2004.Kata kunci: faktor lingkungan fisik, angka kuman udara, ruang rawat inap
HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN JAMBAN DI DESA SETRO KALANGAN KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KUDUS David Laksamana Caesar; Muhammad Fachrur Riza
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 6, No 2 (2019): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.16 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v6i2.297

Abstract

Jamban merupakan fasilitas pembuangan kotoran manusia yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. Peranan tinja dalam penyebaran penyakit sangat besar. yaitu dapat langsung mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran, dan sebagainya, juga air, tanah, serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) dan bagian-bagian tubuh kita dapat terkontaminasi oleh tinja tersebut. berdasarkan laporan program STBM tahun 2016 jumlah penduduk yang belum memiliki jamban di kecamatan Kaliwungu terbesar di desa Setro Kalangan yaitu 36% dari 782 KK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban di desa Setro Kalangan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik, dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel yang diambil sejumlah 88 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Data penelitian diperoleh dari data primer berupa hasil wawancara dan observasi. Analisis data menggunakan chi square untuk mencari hubungan dan menguji hipotesis antara kedua variabel. Berdasarkan uji statistik terdapat hubungan antara pengetahuan (p = 0.549), sikap (p = 0.002), praktik (p = 0.026), ekonomi (p = 0.021) dengan kepemilikan jamban. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepemilikan jambam, ada hubungan antara sikap dengan kepemilikan jamban, ada hubungan antara praktik dengan kepemilikan jamban, ada hubungan antara ekonomi dengan kepemilikan jamban. Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Praktik, Ekonomi, Kepemilikan jamban
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGESREP BANYUMANIK SEMARANG TAHUN 2014 David Laksamana Caesar
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Edisi Agustus 2015
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.313 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v3i3.114

Abstract

Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut, dimana terjadi peradangan pada jaringan paru – paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, menghirup partikel asing atau iradiasi. Semarang merupakan kota dengan insidensi pneumonia yang tinggi, yaitu Kecamatan Banyumanik insidensi pneumonia di kecamatan ini adalah 103,25 per 1000 populasi pada tahun 2012. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian penyakit ini antaralain suhu, kelembaban, dan pencahayaan dalam rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Ngesrep Semarang tahun 2014. Jenis penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan total populasi 162 responden dan sampel 70 responden. Dan analisis data dalam penelitian ini menggunanakn uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kelembaban rumah dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p value 0,012, tidak ada hubungan antara suhu rumah dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p value 0,101, dan tidak ada hubungan antara pencahayaan dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p value 0,614.Kata Kunci   : Suhu, Kelembaban, Pencahayaan, Pneumonia Balita
HIGIENE DAN SANITASI MAKANAN DI TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG Raras Putri Ari; David Laksamana Caesar
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Edisi Agustus 2016
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.153 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v0i0.120

Abstract

Terminal Penumpang merupakan salah satu bagian dari pelabuhan yang terdiri dari banyak fasilitas diantaranya rumah makan. Rumah makan adalah usaha komersial yang ruang lingkup kegiatanya menyediakan makanan dan minuman untuk umum ditempat usahanya. Untuk meningkatkan kualitas makanan, perlu adanya pengelolaan makanan yang baik sesuai dengan persyaratan higiene dan sanitasi makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui higiene dan sanitasi makanan di terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dilakukan pada 27 April sampai 03 Mei 2016. Populasi penelitian ini yaitu seluruh rumah makan yang ada di terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang berjumlah 18 rumah makan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No 1098/ MENKES/ SK/ VII/ 2003. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil analisis higiene sanitasi makanan menunjukan kondisi rumah makan masih dibawah batas nilai minumum 700, antara lain kelayakan lokasi, bangunan dan fasilitas sanitasi yang tidak memenuhi syarat sebanyak (100%), proses pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak memenuhi syarat sebanyak (83,3%), kondisi peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan makanan yang tidak memenuhi sebanyak (38,9%), dan sanitasi penjamah makanan yang tidak memenuhi syarat sebanyak (72,2%). Jadi kelayakan higiene sanitasi makanan di terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (100%) tidak memenuhi syarat. Kata Kunci: Higiene, Sanitasi Makanan, Rumah Makan
PERILAKU PERSONAL HYGIENE PENDERITA PENYAKIT TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GONDOSARI David Laksamana Caesar; Arif Rochman Hakim
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 7, No 1 (2019): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.936 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v7i1.383

Abstract

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Di Kabupaten Kudus, khususnya wilayah kerja Puskesmas Gondosari terjadi kasus baru 32 kasus pada tahun 2017 dan 25 kasus pada tahun 2018. Salah satu penyebab munculnya penyakit ini adalah kurangnya perilaku personal hygiene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku personal hygiene penderita penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gondosari.. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif, teknik pengambilan data mengggunakan metode wawancara. Jumlah populasi sampel penelitian sebanyak 4 responden. Hasil penelitian ini adalah pengetahuan yang dimiliki oleh penderita tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gondosari tentang penyakit tuberkulosis, personal hygiene dan  hubungan antara personal hygiene dengan terjadinya penyakit tuberkulosis masih kurang. Sikap yang diberikan oleh penderita penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gondosari terhadap perilaku personal hygiene bahwa mereka setuju untuk melakukan personal hygiene dengan baik. Praktek/tindakan yang dilakukan oleh penderita penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gondosari terkait personal hygiene sudah cukup baik.Kata Kunci : Perilaku, Personal Hygiene, Tuberkulosis
PERBEDAAN KADAR BOD LIMBAH CAIR SEBELUM DAN SETELAH MELEWATI BIOFILTER TANAMAN CATTAIL (Typha angustifolia) Pujo Prasetyo; David Laksamana Caesar
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 5, No 2 (2018): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.431 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v5i2.201

Abstract

Limbah cair yang dihasilkan dari industri tapioka masih mengandung padatan tersuspensi dan terlarut yang dapat mencemari perairan salah satunya adalah tingginya kadar BOD, oleh karena itu harus diturunkan kadarnya sebelum dibuang ke perairan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara biofilter. Biofilter yang digunakan adalah menggunakan tanaman Cattail (Thypa angustifolia) dengan sistem Constructed wetland. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar BOD limbah cair sebelum dan setelah melewati biofilter tanaman cattail (Typha angustifolia) dengan sistem constructed wetland. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Dalam penelitian ini digunakan pendekatan pre-test post-test design. Sampel penelitian adalah limbah cair industri tapioka di Desa Ngemplakkidul Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Kemudian dilakukan perlakuan dengan menggunakan biofilter tanaman Cattail (Typha angustifolia) usia tanam 10 hari. Analisa data yang digunakan adalah Uji Paired T Test. Nilai rata-rata sebelum perlakuan sebesar 613,99 mg/L, Nilai rata-rata setelah perlakuan sebesar 367,89 mg/L. Sedangkan rata-rata prosentase penurunan kadar BOD adalah 41,54%. Hasil analisis Uji Normalitas data sebelum perlakuan sebesar 0,530 dan nilai setelah perlakuan sebesar 0,530. Nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikansi 0,005 > 0,530 maka data terdistribusi normal, maka dapat dilakukan Uji Paired T Test. Berdasarkan hasil Uji Paired T Test diperoleh nilai T sebesar 215,159 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 artinya ada perbedaan kadar BOD sebelum dan setelah melewati biofilter tanaman Cattail (Typha angustifolia). Berdasarkan analisa dan pembahasan diatas terdapat perbedaan kadar BOD antara sebelum dan setelah melewati biofilter tanaman Cattail. Kata Kunci : BOD, Biofilter, Tanaman Catail, Limbah Cair Tapioka