cover
Contact Name
Tika Hairani
Contact Email
jurnal@rmpi.brin.go.id
Phone
+6287770346919
Journal Mail Official
beritabiologi@brin.go.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No.18, RT.04/RW.08, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16122
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Berita Biologi
ISSN : 23378751     EISSN : 23378751     DOI : https://doi.org/10.55981/berita_biologi
Berita Biologi is the journal features articles showcasing advancements in biological research and related sciences in Indonesia. Berita Biologi comprises original scientific papers presenting research findings, short communications, and reviews that are unpublished or not under consideration elsewhere. Covered topics are expected to introduce novel aspects or information.
Articles 172 Documents
STRUKTUR KOMUNITAS MIKROALGA EPIFIT PADA DAUN LAMUN Enhalus acoroides DI EKOSISTEM LAMUN SEBAGAI BIOMONITORING PERUBAHAN LINGKUNGAN PULAU-PULAU KECIL DI MALUKU Irma Kesaulya; Imanuel V. T. Soukotta; Taufiniringsi Kesaulya
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15956

Abstract

Epifit mikroalga yang hidup menempel pada daun lamun merupakan organisme yang dapat digunakan sebagai bioindikator di ekosistem laut. Hal ini berhubungan dengan kondisi perairan di pulau-pulau kecil di Maluku  yang rentan terhadap fenomena pemanasan global yang memberikan dampak bagi ekosistem lamun di pesisir di pulau-pulau kecil. Sejauh ini, informasi tentang penggunaan epifit mikroalga sebagai bioindikator perubahan ekosistem laut di pulau-pulau kecil di Maluku masih terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari perbedaan parameter fisik lingkungan dengan menggunakan organisme epifit yang menempel pada daun Enhalus acoroides sebagai salah satu bioindikator perubahan parameter fisik perairan seperti suhu, salinitas, dan pH. Tiga stasiun penelitian dipilih mewakili pulau-pulau kecil di Maluku yaitu pulau Haruku (Negeri Ori), pulau Saparua (Negeri Siri Sori) dan pulau Nusalaut (Negeri Akoon). Parameter suhu, salinitas dan pH diukur secara in situ, sedangkan sampel organisme epifit diambil dari bagian pangkal dan ujung permukaan daun  Enhalus acoroides. Sampel diawetkan dan diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop serta dihitung kepadatannya. Indeks keragaman jenis organisme epifit dihitung untuk mengkaji distribusi spasial antar stasiun dan antar posisi ujung dan pangkal daun. Hasil penelitian ini menunjukkan variasi perubahan parameter suhu, salinitas dan pH yang kecil antar stasiun di tiga pulau yang berbeda.   Epifit yang ditemukan pada ketiga stasiun yaitu Triceratium sp., Chaetoceros sp., Coscinodiscus sp., Biddulphia sp., Planktoniella sol, Melosira sp dan Synedra sp. Kepadatan epifit berbeda antara bagian ujung dan pangkal daun,  bagian ujung daun sedikit lebih tinggi keragamannya dari pada di pangkal daun. Hasil penelitian ini yang merupakan preliminer studi menunjukkan bahwa mikroorganisme epifit yang hidupnya berkelompok ditemukan pada semua stasiun baik di ujung ataupun pangkal daun E. acoroides. Hal ini mengindikasi bahwa spesies-spesies tersebut dapat beradaptasi dengan struktur mikro gradien fisika-kimia seperti suhu, salinitas dan pH di sekitar ekosistem lamun yang juga mempengaruhi pertumbuhan epifit dan selanjutnya dapat dipakai sebagai bioindikator perubahan lingkungan perairan sebagai akibat dari pemanasan global.  Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem lamun sebagai habitat dari epifit mikroalga yang jug berperan untuk meningkatkan produktivitas perairan serta dapat dipakai sebagai bioindikator perubahan parameter fisik perairan pantai.
FORMULATION AND ANTIBACTERIAL EVALUATION OF AN ANTI-ACNE CREAM CONTAINING ESTERIFIED STINGLESS BEE (Trigona laeviceps) HIVE WASTE EXTRACT AGAINST Cutibacterium acnes AND Staphylococcus aureus Ahmad Fuad Masduqi; Mighfar Syukur; Yuliana Purwaningsih
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15975

Abstract

Acne vulgaris is a chronic inflammatory skin disorder commonly associated with the proliferation of pathogenic bacteria such as Cutibacterium acnes and Staphylococcus aureus. The increasing prevalence of antibiotic resistance has encouraged the exploration of natural resources as alternative antibacterial agents. This study aimed to formulate and evaluate an anti-acne cream containing esterified extract of stingless bee hive waste from Trigona laeviceps and to investigate its antibacterial activity against acne-causing bacteria. Stingless bee hive waste was extracted using ultrasound-assisted extraction with 96% ethanol, followed by sonochemical esterification using ethanol and propanol in the presence of sulfuric acid catalyst. The esterified extracts were characterized using FTIR and GC–MS analyses. Antibacterial activity of the esterified extracts was evaluated using the agar well diffusion method at concentrations of 10%, 15%, and 20% (w/v). The most active extract was subsequently formulated into an oil-in-water cream and evaluated for physicochemical properties, including pH, spreadability, adhesion, viscosity, homogeneity, and antibacterial activity. FTIR spectra confirmed successful esterification through the appearance of ester carbonyl absorption bands at approximately 1730–1740 cm⁻¹. GC–MS analysis revealed the presence of major bioactive compounds such as methyl oleate, ethyl oleate, squalene, lanosterol, cycloartenol, and 1-monooleoylglycerol. Ethanol-derived ester exhibited the strongest antibacterial activity, particularly at 20% concentration, with inhibition zones of 1.81 ± 0.10 cm against C. acnes and 1.94 ± 0.17 cm against S. aureus. The cream formulations showed good homogeneity, acceptable pH values, appropriate spreadability, and enhanced adhesion properties. The 20% cream formulation demonstrated the highest antibacterial activity against S. aureus with an inhibition zone of 1.64 ± 0.06 cm. In conclusion, esterified stingless bee hive waste, particularly ethanol-derived ester, possesses promising antibacterial potential and can be successfully formulated into a stable anti-acne cream for topical application.