cover
Contact Name
Tika Hairani
Contact Email
jurnal@rmpi.brin.go.id
Phone
+6287770346919
Journal Mail Official
beritabiologi@brin.go.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No.18, RT.04/RW.08, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16122
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Berita Biologi
ISSN : 23378751     EISSN : 23378751     DOI : https://doi.org/10.55981/berita_biologi
Berita Biologi is the journal features articles showcasing advancements in biological research and related sciences in Indonesia. Berita Biologi comprises original scientific papers presenting research findings, short communications, and reviews that are unpublished or not under consideration elsewhere. Covered topics are expected to introduce novel aspects or information.
Articles 172 Documents
MAPPING THE DEVELOPMENT OF BIOTECHNOLOGY RESEARCH IN INDONESIA BASED ON BIBLIOMETRIC ANALYSIS Tengku Idris Idris; Topik Hidayat; Adi Rahmat
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.5553

Abstract

This study employs a systematic review and meta-analysis approach, following the PRISMA framework, to analyze biotechnology research in Indonesia. The data were collected from the Scopus database. The literature research was conducted for publication over a 30-year period (1994-2023). The initial search identified 1,344 articles. Subsequently, a screening process was conducted using inclusion and exclusion criteria, including publication year, author relevance, research type, English language, and accessibility. After the screening and eligibility assessment stages, 49 articles were selected for final analysis. Based on research results, Bogor Agricultural University (IPB) is the university that conducts the most research in biotechnology, followed by Gadjah Mada University (UGM), the University of Indonesia (UI), and Airlangga University (UNAIR). Furthermore, over the past 10 years, the number of biotechnology research projects in Indonesia has increased, with health and agriculture as the most dominant topics. In addition to health and agriculture, biotechnology research in Indonesia also addresses sectors such as plantations, industry, maritime affairs, food, and the environment, as evidenced by studies focusing on applications unique to these fields. This indicates the increasingly broad application of biotechnology across these areas. Overall, these findings indicate that biotechnology research in Indonesia continues to grow but still requires strengthening in collaboration, funding, and infrastructure to support more optimal innovation in the future.
TINGKAT KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU BELIMBING (Dermochelys coriacea) DAN PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI SARANG SEMI ALAMI PADA PANTAI KECAMATAN PANGA KABUPATEN ACEH JAYA Maria Ulfah; Fauzan Maulana; Nur Fadli; Widya Sari; Mutia Ramadhaniaty; Fauzan Aulia; Murniadi; Gunawan Alza; Tutia Rahmi; Oni Kandi
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.9072

Abstract

Penyu adalah makhluk yang menggantungkan siklus hidupnya pada sarang peneluran yang memiliki suhu inkubasi yang bervariasi. Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2022 sampai bulan April 2023 di kawasan pantai Kecamatan Panga, kecamatan tersebut terdiri dari 3 desa yaitu, desa Keude Panga, Kuta Tuha dan Alue Piet. Penelitian ini fokus pada suhu inkubasi, kondisi sarang, dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi penetasan telur penyu di pesisir Kecamatan Panga seperti lebar pantai, kemiringan pantai, tekstur sedimen dan pH pasir. Suhu inkubasi penetasan telur penyu berkisar 30,55℃ hingga 31,83℃. Tingkat keberhasilan penetasan telur penyu berkisar 0% hingga 80%. Nilai kemiringan pantai berkisar 1,8° hingga 4,2°. Tekstur sedimen disetiap pantai didominasi oleh pasir yang berada pada nilai diatas 80%. Hasil analisis pH di kawasan tersebut berkisar 8,4 hingga 9,4.
JENIS-JENIS ANGGREK TERESTRIAL (ORCHIDACEAE) DI GUNUNG SAGARA, GARUT, JAWA BARAT Nendi Vedriadi; Tina Safaria Nilawati; Topik Hidayat
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.12143

Abstract

Gunung Sagara yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat merupakan salah satu tempat cocok tumbuhnya anggrek terestrial. Informasi mengenai Gunung Sagara dan spesies-spesies anggrek terestrialnya masih terbatas, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dan mendeskripsikan spesies-spesies anggrek terestrial yang terdapat di Gunung Sagara. Metode ini menggunakan metode sampling sistematik dengan ukuran plot 5x5m dengan jumlah plot sebanyak 45 plot di area tepi lintasan pendakian. Pada penelitian ini ditemukan 3 dari 5 subfamili anggrek di dunia yaitu Epidendroideae, Orchidoideae, dan Vanilloideae. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat 14 spesies anggrek terestrial dengan 12 genus. Terdapat spesies anggrek terestrial yang sebaran geografisnya hanya di Indonesia yaitu Calanthe flava (Blume) C.Morren. Anggrek endemik Pulau Jawa juga dapat ditemukan yaitu Crepidium junghuhnii (J.J.Sm.) Szlach. dan Gastrodia crispa J.J.Sm. Beberapa spesies anggrek hantu yang merupakan anggrek mikoheterotropik tanpa daun dan klorofil seperti Cyrtosia sp., Cystorchis aphylla Ridl., dan Gastrodia crispa J.J.Sm. Dengan adanya temuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keanekaragaman hayati alam, dan menjadi informasi dasar untuk penelitian lebih lanjut di Gunung Sagara Garut, khususnya tentang anggrek terestrial.
IDENTIFIKASI DAN KEANEKARAGAMAN SERANGGA HAMA DAN PREDATOR PADA TANAMAN PADI DI DESA BULUKARTO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU Gina Dania Pratami; Sinta Solehia; Dzul Fithria Mumtazah; Emantis Rosa
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.12172

Abstract

Padi merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia, terutama di Desa Bulukarto yang memiliki potensi pertanian tinggi. Berdasarkan komunikasi pribadi dari beberapa petani bahwa di area persawahan tanaman padi Desa Bulukarto menjadi habitat berbagai serangga hama dan predator yang membantu mengendalikan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, nilai indeks keanekaragaman serta indeks dominansi serangga hama dan predator pada tanaman padi di Desa Bulukarto, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024 - Februari 2025 menggunakan metode jelajah di area persawahan tanaman padi di Desa Bulukarto dengan luas area 600 m² yang dibagi menjadi 6 plot (titik) dengan masing-masing plot luasnya 100 m² (12,8 m x 8 m). Pengambilan sampel serangga dilakukan dua kali dalam seminggu selama dua bulan pada tanaman padi fase vegetatif, dengan menggunakan tangan (hand collecting) dan jaring serangga (insect net) yaitu pada pagi hari pukul 07.00-09.00 WIB dan sore hari pada pukul 15.00-17.00 WIB. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh serangga hama sebanyak 344 individu yang terdiri dari enam ordo, 10 famili, dan 17 jenis, serta serangga predator sebanyak 145 individu yang terdiri dari enam ordo, sembilan famili, dan 13 jenis. Indeks keanekaragaman serangga hama termasuk kategori sedang dengan H' = 2,531 dan serangga predator juga termasuk kategori sedang dengan H' = 2,287, berarti keberadaan spesies hampir seimbang, namun belum sepenuhnya memiliki kondisi lingkungan yang stabil. Sedangkan indeks dominansi serangga hama dengan C = 0,096 dan serangga predator dengan C = 0,123 termasuk kategori rendah diartikan tidak ada spesies serangga yang mendominansi.
PENGGUNAAN KARAKTER MORFOANATOMI SEBAGAI DASAR ANALISA KEKERABATAN PADA FAMILI ASTERACEAE DI KAKI GUNUNG UNGARAN Theresia Bianca Lucretia Olivia; Faradiva Zahra Maharani; Deni Saputra; Salwa Rainha Asyura; Ricky Depa Susanto; Sri Widodo Agung Suedy; Endang Saptiningsih
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.12979

Abstract

Famili Asteraceae merupakan salah satu kelompok tumbuhan terbesar di dunia dengan estimasi sekitar 20.000–25.000 spesies, sehingga pemahaman mengenai pola hubungan fenetik antar anggotanya menjadi penting dalam mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan fenetik 25 spesies Asteraceae yang tumbuh di sekitar Gunung Ungaran berdasarkan karakter morfologi dan anatomi. Karakter yang diamati meliputi morfologi batang, bentuk dan ukuran daun, morfologi bunga, serta karakter anatomi berupa struktur serbuk sari dan tipe stomata. Data kuantitatif dan kualitatif dianalisis menggunakan cluster analysis hierarkis berbasis jarak Euclidean dengan metode UPGMA untuk menentukan tingkat kemiripan antar spesies. Hasil analisis kemudian diverifikasi melalui Principal Component Analysis menggunakan perangkat lunak MultiVariate Statistical Package untuk mengidentifikasi karakter yang paling berkontribusi terhadap variabilitas data. Hasil klasterisasi menunjukkan dua kelompok utama, yaitu klaster pertama yang terdiri atas enam varietas krisan (Chrysanthemum indicum) dengan indeks kemiripan 100 %, yang menunjukkan tingkat homogenitas tinggi pada karakter morfologi dan anatomi. Klaster kedua mencakup 19 spesies lainnya dengan nilai kemiripan bervariasi hingga mencapai tingkat terendah sebesar 58 %, yang mencerminkan tingkat diferensiasi yang lebih besar antar spesies. Hasil Principal Component Analysis menunjukkan bahwa ukuran batang, bentuk daun, ornamentasi serbuk sari, dan tipe stomata merupakan karakter yang paling berperan dalam membedakan spesies yang dianalisis. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan analisis multivariat efektif digunakan untuk mengevaluasi hubungan fenetik dalam kelompok Asteraceae serta memberikan dasar ilmiah bagi studi keanekaragaman tumbuhan di wilayah pegunungan tropis.
PEMANFAATAN PELEPAH NIPAH FERMENTASI SEBAGAI PAKAN UNTUK MENINGKATKAN SINTASAN DAN PERTUMBUHAN LARVA CACING NIPAH (Namalycastis rhodochorde) Siti Aisyah; Junardi; Diah Wulandari Rousdy
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13100

Abstract

Pelepah nipah telah terbukti dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan cacing nipah (Namalycastis rhodochorde), namun belum ada informasi pemanfaatannya dalam bentuk serbuk. Penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan data sintasan dan pertumbuhan larva cacing nipah yang diberi pakan pelepah nipah fermentasi berupa serbuk. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Larva cacing nipah dipelihara dalam wadah berukuran 42 cm x 32 cm x 14 cm yang diisi air laut sebanyak 3 liter dengan masing-masing berisi 30 individu larva selama 60 hari. Larva kemudian diberi pakan berupa serbuk pelepah nipah dengan konsentrasi 0,006 g/L, 0,013 g/L, 0,027 g/L, 0,053 g/L, 0,08, dan 0,107 g/L. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu jalur dan uji Duncan untuk mengetahui konsentrasi terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan dan pertumbuhan larva cenderung tinggi seiring dengan tingginya konsentrasi pakan, sementara hubungan sintasan dan pertumbuhan cenderung berkorelasi lemah. Pakan pelepah nipah yang diberikan dalam bentuk serbuk terbukti dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhan larva cacing nipah pada fase awal.
BIOASSAY-GUIDED IN VITRO ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF FRACTION FROM Abelmoschus esculentus L. FRUIT Christina Astutiningsih; Meri Meri; Nanik Astuti Rahman
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13101

Abstract

Aims: Research focuses separating antibacterial compounds from Abelmoschus esculentus (A. esculentus) against several  pathogenic bacteria including Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosae using a bioassay-guided method. Methodology and results: A. esculentus fruit was extracted and its active compounds were separated and tested against several variants of gram negative bacteria and gram positive bacteria. The testing began with extracts, followed by fractions, and  subfractions. Extracts, fractions and subfractions of A. esculentus fruit were obtained all exhibiting antibacterial activity. The ethyl acetate fraction was the most active, yielding the largest inhibition zone diameter for both bacteria. The dominant compound in this fraction was quercetin accounting for 26% of the total. The ethyl acetate fraction was then separated into subfractions then tested for antibacterial and the composition of the compound was identified. One of the subfractions that gave the diameter of the inhibition zone after being separated identification using LC-MS revealed that the dominant compound in the subfraction was flavonoid identified as (3-hydroxy-2,3-dihydroimidazo [1,5-a] pyridin-8(5H)-one-5-β-glucopyranoside 42.46%, followed by quercetin 13.23%, Fraxidin 6.34%, scopoletin 1.51% and phenolic compounds such as  homovanillic acid 1.67% and 3-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-n-[2-(4-hydroxyphenyl)ethyl]prop-2-enimidic acid 4.77%. Conclusions, significance and impact to study: A. esculentus Fruit has demonstrated significant antibacterial potential, with bioactive compound including flavonoid and phenolic derivate producing a greater inhibitory zone compared to positive control, Ciprofloxacin.
REVIEW ARTIKEL: KOMPOSISI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS BIOLOGIS PRODUK LEBAH DARI Heterotrigona itama Syakira Nurfajriya; Marissa Angelina; Dwi Hilda Putri; Siswadi; Grace Serepina Saragih
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13586

Abstract

Heterotrigona itama merupakan spesies lebah tanpa sengat yang ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kawasan hutan tropis seperti Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Lebah ini menghasilkan madu, propolis, dan bee bread. Tinjauan ini bertujuan untuk mengkaji komposisi fitokimia dan aktivitas biologis produk lebah H. itama. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka artikel ilmiah yang diambil dari basis data terindeks seperti Google Scholar, Elsevier, MDPI, SpringerLink, Taylor & Francis, Wiley, IOP Publishing, serta database nasional seperti MyJurnal Malaysia dan Garuda (Indonesia). Temuan ini menunjukkan variasi senyawa bioaktif sangat dipengaruhi oleh bagian yang di analisis atau produk, asal sampel atau geografis, dan metode ekstraksi yang digunakan. Propolis mengandung kadar Total Phenolic Content (TPC) dan Total Flavonoid Content (TFC) tertinggi dengan aktivitas antioksidan terkuat, diikuti oleh bee bread, sementara madu menunjukkan nilai yang relatif lebih rendah tetapi berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Aktivitas biologis yang dilaporkan mencakup antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antidiabetes, antiobesitas hingga kanker. Dari hasil telaah kami menyimpulkan, produk lebah H. itama memiliki potensi yang signifikan untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional dan agen peningkat kesehatan alami.
POTENSI ISOLAT Bacillus thuringiensis TERHADAP PERBAIKAN HISTOPATOLOGI JARINGAN KULIT MENCIT (Mus musculus L., 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Pseudomonas aeruginosa MULTI DRUG RESISTANCE Kusuma Handayani; Dzul Fithria Mumtazah; Adelina Putri Ndola Mari; Gina Dania Pratami
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13641

Abstract

Bakteri multi drug resistance menyebabkan lamanya proses penyembuhan luka dan membentuk nanah (pus) pada kulit. Bakteri P.aeruginosa merupakan salah satu bakteri multi drug resistance yang menginfeksi luka. Pertumbuhan bakteri multi drug resistance dapat dihambat dengan menggunakan obat antibiotik. Antibiotik umumnya berasal dari bahan sintetik, akan tetapi penggunaan antibiotik alami dapat mengurangi resiko pengembangan strain resistensi antibiotik. Agen pengendali hayati seperti Bakteri Bacillus thuringiensis memiliki kemampuan menghasilkan bakteriosin yang disebut thuricin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri P. aeruginosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian salep B. thuringiensis terhadap proses perbaikan histopatologi jaringan kulit mencit, serta untuk mengetahui konsentrasi pemberian salep B. thuringiensis yang efektif dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan strain bakteri B. thuringiensis kode Bt3. Pada penelitian ini luka sayat diinfeksikan terlebih dahulu dengan bakteri P. aeruginosa. Terdapat 5 perlakuan yang digunakan yaitu pemberian salep Bt3 konsentrasi 5%, salep Bt3 konsentrasi 10%, serta 3 kontrol yaitu kontrol positif luka dengan salep aminoglikosida (gentamicin sulfate 0.1%), kontrol negatif (luka tanpa pemberian salep), dan kontrol normal (luka tanpa perlakuan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, pemberian salep dilakukan secara topikal sebanyak 2x sehari selama 13 hari. Pengamatan dilakukan selama 14 hari setelah dilakukan pembuatan luka sayat. Parameter yang diamati yaitu kepadatan kolagen, perubahan warna luka, pembengkakan luka, dan persentase penyembuhan luka. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan One- Way ANOVA serta uji lanjut dengan Post Hoc Tukey HSD pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian salep Bt3 berpotensi dalam membantu proses perbaikan histopatologi luka sayat kulit mencit yang diinfeksikan bakteri P.aeruginosa berdasarkan parameter kepadatan kolagen, perubahan warna luka, dan persentase penyembuhan luka. Konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam menyembuhkan luka sayat kulit mencit yang diinfeksikan bakteri P. aeruginosa multi drug resistance.
ETNOBOTANI TANAMAN OBAT FAMILI ZINGIBERACEAE OLEH WARGA KASEPUHAN DI KAMPUNG ADAT, KABUPATEN SUKABUMI Surti Kurniasih; Lilis Supratman; Dimas Prasaja; Intan Nurlela Sari
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13826

Abstract

Warga Kasepuhan merupakan komunitas warga yang menjaga dan memelihara budaya asli sunda yang sampai sekarang masih memanfaatkan tanaman obat khususnya Famili Zingiberaceae dalam memelihara kesehatan maupun pengobatan yang berada di Kampung Adat. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui variasi Famili Zingiberaceae, cara pengolahan dan penggunaan dalam pengobatan, Indeks Nilai Penting (INP), Nilai Indeks Ekologi (NIE) dari Famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan oleh warga kasepuhan di Kampung Adat. Teknik pengambilan data menggunakan snowball sampling dengan responden berjumlah 20 orang yang merupakan penduduk asli kampung Adat. Data informasi didapatkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi langsung dan triangulasi data. Penelitian ini mendapatkan 17 tanaman Famili Zingiberaceae yang didominasi oleh Zingiber officinale cv. bodas (226) dan Wurfbainia compacta (217). Organ tumbuhan yang banyak dimanfaatkan oleh warga kasepuhan adalah rimpang (76%).  Cara pengolahan tumbuhan obat yang paling dimanfaatkan yaitu dengan cara direbus (59%). INP dengan nilai tertinggi 37,31 (Zingiber officinale cv. bodas), NIE dari Famili Zingiberaceae terdiri dari nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 2,548 (kategori sedang), nilai kemerataan (E) sebesar 0,865 (kategori tinggi) dan nilai dominansi (C) sebesar 0,104 (kategori rendah).