cover
Contact Name
Tika Hairani
Contact Email
jurnal@rmpi.brin.go.id
Phone
+6287770346919
Journal Mail Official
beritabiologi@brin.go.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No.18, RT.04/RW.08, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16122
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Berita Biologi
ISSN : 23378751     EISSN : 23378751     DOI : https://doi.org/10.55981/berita_biologi
Berita Biologi is the journal features articles showcasing advancements in biological research and related sciences in Indonesia. Berita Biologi comprises original scientific papers presenting research findings, short communications, and reviews that are unpublished or not under consideration elsewhere. Covered topics are expected to introduce novel aspects or information.
Articles 172 Documents
PENGARUH pH, SUHU DAN WAKTU INKUBASI ANTIBAKTERI YANG DIHASILKAN Lacticaseibacillus rhamnosus KBJ TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Sharfina Maulidayanti; Anjelika Puja Lestari; Ing Mayfa Br Situmorang; Asbar Tanjung; Maria F Menang
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.14308

Abstract

Lacticaseibacillus rhamnosus adalah bakteri gram positif yang dapat menghasilkan senyawa antibakteri seperti bakteriosin dan peptida yang dapat menghambat pertumbuhan patogen. Salah satu patogen infeksi yang menyerang organ manusia adalah bakteri dan yang paling umum ditemukan pada manusia yaitu bakteri S. aureus dan E. coli. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pH, suhu, dan waktu inkubasi antibakteri yang dihasilkan Lacticaseibacillus rhamnosus KBJ terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus. Desain penelitian ini secara eksperimental dengan metode difusi sumuran. Populasi pada penelitian ini adalah Lacticaseibacillus, dan bakteri patogen. Sampel yang digunakan adalah isolat Lacticaseibacillus rhamnosus KBJ, E. coli dan S. aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum untuk aktivitas antibakteri tertinggi adalah pH 5 dan suhu optimum untuk aktivitas antibakteri tertinggi adalah 40°C baik terhadap S. aureus maupun E. coli, waktu inkubasi terbaik untuk produksi antibakteri yaitu pada S. aureus adalah 24 jam dan E. coli 12 jam. Aktivitas antibakteri yang dihasilkan Lacticaseibacillus rhamnosus KBJ menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan E. coli lebih besar dibanding S. aureus.
UJI PEREDAMAN AKTIVITAS RADIKAL BEBAS 2,2-DIPHENYL-1-PICRYLHYDRAZYL (DPPH) DAN SKRINING TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) Agung Pranata; Fauzul Husna; Karina Ardelya
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.14817

Abstract

Penyakit degeneratif menempati posisi tertinggi sebagai penyebab kematian di Indonesia, yang disebabkan oleh akumulasi reactive oxygen species (ROS) yang mempercepat kematian sel. Salah satu pencegahannya adalah melalui suplementasi antioksidan. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan adalah daun sirsak (Annona muricata L.). Namun, pengembangan obat herbal dari tanaman alami juga harus mempertimbangkan keamanan bahan obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia, aktivitas peredaman radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), serta tingkat toksisitas berdasarkan skrining brine shrimp lethality test (BSLT) pada ekstrak daun sirsak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan ekstrak daun sirsak. Analisis fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder, metode DPPH digunakan untuk menguji peredaman radikal bebas, dan metode BSLT digunakan untuk skrining toksisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik dan steroid dengan nilai IC50 pada uji peredaman radikal bebas DPPH sebesar 66,62 ppm, yang dikategorikan memiliki aktivitas peredaman radikal bebas yang kuat. Nilai LC50 ekstrak daun sirsak pada skrining BSLT adalah 138,48 ppm, dengan kategori toksisitas sedang.
DIVERSITY AND COMMUNITY STRUCTURE OF FRESHWATER FISHES IN URBAN AQUATIC SYSTEMS OF MADIUN CITY, EAST JAVA, INDONESIA Santosa Pradana Putra Setya Negara; Muhammad Hasan Al Banna; Lenny Puspita Dewi
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.14838

Abstract

Indonesia prioritizes food security, stressing access to healthy and sustainable food sources. Fish play a crucial role as a renewable protein source and contribute to local economic growth. Madiun City, East Java, has rivers, irrigation canals, and ponds that offer potential for local fisheries. However, data on fish biodiversity are limited, despite effective management and conservation efforts. This study examines fish diversity in Madiun waters, identifying native and non-native species. Sampling took place at ten stations, with species identified morphologically. Ecological indices used included Simpson’s Dominance (D), Shannon-Wiener Diversity (H’), Pielou's Evenness (E), Margalef’s Richness (R), and Sorensen’s Similarity (IS). A total of 1,031 individuals from 18 species were recorded, with Cypriniformes being the most common. Station 4 witnessed the rapid growth of the invasive Pterygoplichthys pardalis, which negatively impacted native species. Species richness ranged from 0.98 to 2.64, indicating low diversity. Stations 2 and 9 showed the highest similarity (94%) due to water connectivity. These results indicate initial ecological pressures on Madiun City’s aquatic ecosystem and provide important baseline data for conservation, biodiversity management, and sustainable fisheries, which support increased local food security.
FLORA TANAMAN HIAS YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA PALU SULAWESI TENGAH Ramadanil Pitopang; Wahda
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.14938

Abstract

Penelitian mengenai flora tanaman hias yang diperdagangkan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dilakukan pada bulan September–November 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tanaman hias yang diperdagangkan, mengetahui famili dominan, tipe habitus, status konservasi, asal tumbuhan, serta kisaran harga jual tanaman hias di Kota Palu. Metode yang digunakan adalah eksplorasi botani dengan teknik purposive sampling pada enam sentra penjualan tanaman hias di Kota Palu, yaitu Selecta Indah, Pusat Penjualan Tanaman Hasanudin, Budi Daya Bunga Hutan Kota, Penjualan Bunga Pasar Manonda, Florist Suprapto, dan Rumah Bibit Pesona. Seluruh spesimen diamati, didokumentasikan, dan diidentifikasi di Laboratorium Biosistematika Tumbuhan dan Herbarium Celebense (CEB), Universitas Tadulako. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 93 spesies tanaman hias yang tergolong ke dalam 41 famili, 73 genus tumbuhan berbunga, dan 1 spesies paku-pakuan. Famili Araceae merupakan famili dengan jumlah spesies terbanyak (18 spesies), diikuti Asparagaceae (12 spesies) dan Arecaceae (7 spesies). Berdasarkan habitusnya, tanaman herba mendominasi perdagangan tanaman hias di Kota Palu dengan 35 spesies, diikuti pohon 27 spesies dan perdu 17 spesies. Sebagian besar tanaman hias yang diperdagangkan merupakan spesies introduksi yang berasal dari Afrika, Asia, Amerika, dan Oseania, sedangkan spesies asli Sulawesi yang ditemukan relatif sedikit, seperti Diospyros celebica. Tanaman hias dengan harga tertinggi saat observasi lapangan dilakukan adalah Ceiba pentandra dengan kisaran harga Rp3.000.000–Rp5.000.000, diikuti Cycas revoluta dan Zamia furfuracea. Penelitian ini menunjukkan bahwa perdagangan tanaman hias di Kota Palu didominasi oleh spesies introduksi bernilai ekonomi tinggi dan mencerminkan pengaruh pasar tanaman hias nasional terhadap keragaman flora yang diperdagangkan.
ETNOBIOLOGI DAN GASTRONOMI PANGAN FUNGSIONAL BERBASIS MAKANAN TRADISIONAL SASAK DI PULAU LOMBOK UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN KESEHATAN DAN POTENSI PARIWISATA Kurniasih Sukenti; Nur Indah Julisaniah; Evy Aryanti; Sukiman; Nadia Azanul Husna
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15040

Abstract

Indonesia sebagai negara multi-etnis memiliki keragaman budaya di mana salah satu produk budayanya adalah makanan tradisional. Hal ini didukung pula oleh keanekaragaman sumberdaya alam tumbuhan dan hewan yang dimiliki. Foodways akan selalu terkait dengan bermacam hal, antara lain proses preparasi dan pembuatan, authenticity, aspek sosio-kultural, dan juga faktor kesehatan. Makanan yang memiliki efek positif pada tubuh dapat diklasifikasikan sebagai pangan fungsional. Suku Sasak memiliki kekayaan kuliner yang berpotensi untuk terus dikaji dan dikembangkan, termasuk dalam hal pangan fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengeksplorasi dan mendokumentasikan keanekaragaman hidangan tradisional Sasak yang berpotensi sebagai pangan fungsional dengan menggunakan pendekatan etnobotani dan gastronomi, sebagai bentuk dukungan upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan potensi pariwisata. Penelitian deskriptif eksploratif ini dilaksanakan pada bulan Maret – September 2025 menggunakan metode purposive sampling dengan pengumpulan data secara snowball sampling melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 52 informan. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat 53 spesies tumbuhan yang tergolong dalam 47 genus dan 27 famili; serta 7 spesies hewan yang tergolong dalam 7 genus dan 7 famili. Berdasarkan observasi lapangan, pengalaman empirik masyarakat, dan mengacu pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2020, spesies-spesies ini berkontribusi dalam 35 ragam pangan fungsional berbasis kuliner tradisional masyarakat Sasak. Hasil analisis berbasis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threahts (SWOT) menunjukkan bahwa pada dasarnya pangan fungsional tradisional masyarakat Sasak sangat berpotensi untuk ditindaklanjuti untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat dan pengembangan pariwisata kuliner khususnya di Pulau Lombok. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berkontribusi dalam peningkatan apresiasi dan atensi terhadap kekayaan pangan fungsional tradisional Indonesia, di samping untuk pengelolaan sumberdaya alam dan kultural yang lebih berkelanjutan.
PENGEMBANGAN KOMBUCANG (KOMBUCHA KAYU SECANG) SEBAGAI MINUMAN HERBAL FUNGSIONAL: AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIHIPERURISEMIA Ahmad Sazali; Ashif Irvan Yusuf; Hasna Ul Maritsa; Fitra Wahyuni; Josephine Sevila Gea
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15451

Abstract

Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi yang dikenal memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk sebagai antioksidan dan penurun kadar asam urat. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) mengandung senyawa aktif seperti brazilin dan flavonoid yang berpotensi sebagai agen antihiperurisemia alami. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dosis kombucha 0,78 mL/20 g BB merupakan dosis yang paling efektif karena mampu memberikan efek hipoglikemik yang signifikan setelah induksi aloksan, sehingga menjadi dasar penentuan rentang dosis pada penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas antihiperurisemia Kombucang (Kombucha Kayu Secang) pada mencit (Mus musculus L.) yang diinduksi kalium oksonat dan menilai aktivitas antioksidan Kombucang secara in vitro dengan metode DPPH. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan, yaitu kontrol normal (K), kontrol positif (KP); allopurinol 0,25 mg/kg bb, kontrol negatif (KN); Kalium Oksonat 300mg/kg bb, dan tiga dosis Kombucang: 0,26 ml/20 g BB (P1), 0,52 ml/20 g BB (P2), dan 0,78 ml/20 g BB (P3), masing-masing dengan lima ulangan. Perlakuan dilakukan selama 14 hari. Parameter utama yang diamati meliputi kadar asam urat darah mencit, aktivitas antioksidan, serta uji organoleptik terhadap sediaan Kombucang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Kombucang mampu menurunkan kadar asam urat secara signifikan pada mencit terinduksi, dengan dosis tertinggi (0,78 mL/20 g BB) menghasilkan penurunan terbesar terutama pada hari ke-14, dan efektivitasnya mendekati kontrol positif (allopurinol). Secara keseluruhan, Kombucang berpotensi sebagai minuman herbal fungsional dengan aktivitas antihiperurisemia dan antioksidan yang baik dan mampu menurunkan kadar asam urat secara bertahap dan konsisten.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL MELON (Cucumis melo L.) TERHADAP APLIKASI PGPR DAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA COCOPEAT BARU DAN BEKAS Grace Felicyta; Agnes Heratri; Rully Adi Nugroho
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15854

Abstract

Cocopeat merupakan media tanam yang banyak digunakan dalam sistem budidaya tanpa tanah, namun kualitasnya dapat menurun setelah penggunaan berulang sehingga berpotensi mempengaruhi efektivitas input seperti Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pupuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kualitas cocopeat serta aplikasi PGPR dan pupuk cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon (Cucumis melo L.) dalam sistem greenhouse. Penelitian menggunakan enam perlakuan kombinasi cocopeat baru dan bekas dengan aplikasi PGPR dan pupuk cair, masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter daun, jumlah daun, dan berat buah pada beberapa waktu pengamatan. Data dianalisis menggunakan uji non-parametrik Kruskal–Wallis yang dilanjutkan dengan uji Dunn dengan koreksi Bonferroni serta uji Friedman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh signifikan terhadap beberapa parameter pertumbuhan, khususnya pada fase pertumbuhan aktif. Perbedaan signifikan terutama ditemukan pada perbandingan antara kontrol cocopeat bekas dengan perlakuan berbasis cocopeat baru yang dikombinasikan dengan PGPR atau pupuk cair. Cocopeat baru cenderung menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan cocopeat bekas. Namun demikian, perbedaan antar perlakuan tidak selalu konsisten pada seluruh parameter dan waktu pengamatan. Dengan demikian, kualitas media tanam berperan lebih dominan dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman melon dibandingkan aplikasi PGPR dan pupuk cair. Penelitian ini memberikan dasar bagi pengembangan strategi budidaya melon berbasis media tanam yang lebih efisien dan berkelanjutan.
PRELIMINARY STUDY OF INDIGENOUS MICROALGAE FROM URBAN AND PEATLAND WATERS IN PEKANBARU UNDER NUTRIENT-LIMITED MEDIA Feni Andriani; Delita Zul
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15857

Abstract

Microalgae inhabiting urban waters and peat-influenced aquatic systems experience variable environmental pressures, potentially leading to adaptive responses to conditions with fluctuating nutrient availability. This study aimed to identify microalgae cultured from several urban water bodies and peat waters in Pekanbaru and to evaluate their growth responses in culture media with different nutrient compositions using an image-based approach. Water samples were collected from multiple locations and cultured in modified BG-11 and BBM media. The growing microalgae were identified based on their morphological characteristics, while culture growth was qualitatively assessed using the mean pixel intensity (MPI) values of digital images. The study recorded 16 species from 10 microalgal genera belonging to the classes Cyanophyceae, Chlorophyceae, and Zygnematophyceae, exhibiting unicellular, colonial, and filamentous morphologies. Culture observations revealed changes in MPI values over the observation intervals, indicating increased microalgal growth rates in the growth media. These findings suggest that local microalgae from urban and peat waters possess a high tolerance to limited nutrient conditions and provide baseline information on the diversity and growth responses of indigenous microalgae in tropical urban and peat aquatic systems.
ANALISIS POLA SENSITIVITAS BAKTERI Klebsiella pneumoniae TERHADAP ANTIBIOTIK DARI SAMPEL DARAH PASIEN DI RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG Yosi Dwi Saputra
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15867

Abstract

Klebsiella pneumoniae. merupakan bakteri Gram-negatif penyebab utama infeksi nosokomial dengan tingkat resistensi antibiotik yang terus meningkat. Resistensi antimikroba pada Klebsiella pneumoniae. menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di rumah sakit rujukan yang menggunakan antibiotik spektrum luas secara intensif. Data pola resistensi lokal sangat penting untuk menentukan terapi empiris yang tepat dan menyusun kebijakan penggunaan antibiotik rasional. Tujuan: Menganalisis pola sensitivitas bakteri Klebsiella pneumoniae. yang diisolasi dari sampel darah pasien terhadap berbagai golongan antibiotik di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan di Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek periode Januari-Februari 2019. Sampel penelitian adalah seluruh data hasil pemeriksaan kultur sensitivitas yang diambil menggunakan metode total sampling. Uji sensitivitas antibiotik dilakukan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer terhadap 26 jenis antibiotik dengan interpretasi berdasarkan standar Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil: Teridentifikasi 57 isolat Klebsiella pneumoniae. dari sampel darah dengan pola resistensi multidrug-resistant (MDR). Dari 26 antibiotik yang diuji, hanya 4 antibiotik menunjukkan sensitivitas memadai yaitu Meropenem (98%), Amikacin (91%), Sulbactam-Cefoperazone (84%), dan Gentamicin (54%). Kesimpulan: Isolat Klebsiella pneumoniae. di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek menunjukkan tingkat sensitivitas terhadap Meropenem dan Amikacin menjadi pilihan utama untuk terapi bakteremia akibat Klebsiella pneumoniae. Diperlukan revisi protokol terapi empiris, implementasi program antimicrobial stewardship, dan surveillance pola resistensi berkala untuk mengendalikan penyebaran resistensi antibiotik.
POTENSI BAKTERI ENDOFIT ASAL VEGETASI LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BENIH PADI Yusi Luky; Pipit Puspita; Alda Oktaviani; Ropalia
Berita Biologi Vol 25 No 2 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.15884

Abstract

Bakteri endofit dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman melalui produksi fitohormon, salah satunya indole-3-acetic acid (IAA). Vegetasi yang tumbuh pada lahan pascatambang timah diduga memiliki asosiasi dengan bakteri endofit yang berkontribusi terhadap kemampuan adaptasinya pada kondisi lingkungan suboptimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, menapis, dan mengevaluasi potensi bakteri endofit asal akar vegetasi lahan pascatambang timah sebagai penghasil IAA serta pemacu pertumbuhan benih padi. Penelitian dilakukan melalui isolasi bakteri endofit, karakterisasi morfologi koloni, pewarnaan Gram, uji produksi IAA, dan uji pengaruh isolat terhadap pertumbuhan benih padi. Hasil penelitian memperoleh 11 isolat bakteri endofit, terdiri atas 7 isolat dari akar Eleocharis montevidensis dan 4 isolat dari akar Acacia mangium. Isolat A1 dan A2 asal A. mangium menghasilkan IAA tertinggi dibandingkan isolat lainnya. Perlakuan isolat A2 pada benih padi menghasilkan pertumbuhan terbaik pada peubah tinggi tanaman dan panjang akar. Namun, persentase perkecambahan tertinggi diperoleh pada perlakuan isolat R4 asal E. montevidensis. Hasil ini menunjukkan bahwa isolat bakteri endofit asal vegetasi lahan pascatambang timah berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan bibit padi, meskipun produksi IAA yang tinggi tidak selalu berhubungan dengan peningkatan perkecambahan benih.