cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Artikel Review: Perangkat Metode Manajemen Risiko Mutu Di Industri Farmasi Made Ayu Wardina; Nyi Mekar Saptarini; Ikhsan Rambia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp8-21

Abstract

Manajemen Risiko Mutu (QRM) adalah komponen penting dalam industri farmasi karena memungkinkan untuk menjaga kualitas obat dengan menilai, mengontrol, mengomunikasikan, dan mengkaji risiko sepanjang siklus hidup produk. Tujuan dari pengamatan literatur ini adalah untuk mempelajari prosedur yang digunakan dalam industri farmasi untuk mengelola risiko, serta sumber daya yang tersedia untuk menilai risiko. Untuk menyusun artikel ini, Google Scholar digunakan untuk mencari literatur dengan kata kunci seperti "Manajemen Risiko Mutu", "Manajemen Risiko Mutu dalam Industri Farmasi". Hasil pengamatan menunjukkan bahwa metode manajemen risiko mutu di industri farmasi seperti FMEA, FTA, HAZOP, HACCP, rangking dan filtering risiko, dan diagram sebab/akibat dapat mengurangi kemungkinan risiko yang dapat diterima. Berdasarkan hasil tinjauan literatur dapat disimpulkan bahwa ada beberapa metode dalam manajemen risiko mutu dapat mengendalikan risiko secara efisien sehingga masalah dapat teridentifikasi dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja jika dikelola dengan baik. Tinjauan literatur menunjukkan bahwa berbagai pendekatan manajemen risiko mutu dapat mengendalikan risiko secara efektif. Hasilnya menunjukkan bahwa masalah yang ditemukan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas jika dikelola dengan baik.
Identifikasi Kesesuaian Kegiatan Operasional di Gudang Penyimpanan Obat Jadi Industri Farmasi PT. X di Jawa Barat regi afriyana regi; Nasrul Wathoni Nasrul
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp22-31

Abstract

Abstrak: Gudang dalam industri farmasi merupakan fasilitas yang penting sebagai tempat penyimpanan bahan baku, bahan kemasan, dan obat jadi sebelum didistribusikan. Jika prosedur atau kondisi penyimpanan di gudang tidak sesuai, dapat mengakibatkan ketidakefektifan obat bahkan kerusakan obat yang berpotensi merugikan perusahaan dan, tentu saja, pasien yang akan mengonsumsi obat tersebut. Gudang juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas bahan. Gudang harus dikelola dengan baik sehingga material atau produk yang disimpan di dalamnya mempunyai mutu yang terjamin. sistem operasional yang baik di gudang penyimpanan obat industri farmasi yang merujuk pada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Identifikasi kesesuaian kegiatan operasional digudang dapat dinilai berdasarkan CPOB BAB 6 yang terdapat 9 aspek yang mencakup 45 point. Dari 9 aspek yang di evaluasi terdapat 4 poin yang belum terpenuhi pada industri tersebut Kata kunci: Gudang, Industri Farmasi, CPOB, identifikasi Abstract : Warehouses in the pharmaceutical industry are supporting facilities as a place to store starting materials, packaging materials and finished medicines before distribution. Incompatibility of procedures or storage conditions in the warehouse can result in the ineffectiveness of the drug and even cause damage to the drug which can be detrimental to the company and of course to the patient who will consume the drug. The warehouse is also responsible for maintaining the quality of materials. Warehouses must be managed well so that the materials or products stored in them are of guaranteed quality. a good operational system in the pharmaceutical industry's drug storage warehouse which refers to CPOB (Good Medicine Manufacturing Practices). Identification of the suitability of operational activities in the warehouse can be assessed based on CPOB CHAPTER 6, which contains 9 aspects covering 45 points. Of the 9 aspects evaluated, there are 4 points that have not been met in this industry Key words: Warehouse, Pharmaceutical Industry, CPOB, identification
Case Report: 65 Year Old Woman with Cerebellopontine Angle Tumor: Laporan Kasus : Wanita 65 tahun dengan Tumor Cerebellopontine Angle Nabila Rayhan Yasmin
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp32-37

Abstract

Cerebellopontine angle (CPA) tumor is the most common neoplasm in the posterior fossa. Most CPA tumors are benign and slow growing. The most common type of CPA tumor is vestibular schwannoma. A 65 year old woman was brought to the emergency room with a sudden loss of consciousness during activities 5 hours before entering the hospital. There are complaints of seizures and vomiting. Complaints of headaches are getting worse over time, feeling like pressure, moderate to severe intensity. The patient has difficulty maintaining balance and often falls. There has been hearing loss since 15 years ago. On physical examination, there was interference with nerve VIII, left auricular sensorineural deafness. On the CT scan, a mixed mass appeared in the left cerebellopontine angle. Patients were diagnosed with CPA tumors based on clinical findings and imaging examination. Patients receive therapy and observe tumor growth.
Implementasi Sistem Penyimpanan Obat Dalam Rangka Menjamin Mutu Produk Farmasi pada Pedagang Besar Farmasi di Bandung Jawa Barat Winda Winda; Soraya Mita
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp38-44

Abstract

Dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 6 Tahun 2020, menyatakan bahwa seluruh aktivitas Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam setiap tahap distribusi harus menerapkan prinsip – prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Berdasarkan Laporan Tahunan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Bandung Tahun 2022, dari hasiI pemeriksaan di Jawa Barat ada sebanyak 36 PBF yang tidak mengimplementasikan CDOB sesuai Peraturan BPOM, ketidaksesuaian didominasi pada aspek penyimpanan. ArtikeI ini difokuskan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif terkait sistem penyimpanan obat sesuai dengan prinsip CDOB. Penyusunan artikeI ini mengacu pada studi Iiteratur dari berbagai sumber referensi, Peraturan BPOM yang mengacu terkait Cara Distribusi Obat yang Baik. HasiI dari peneIusuran Iiteratur didapatkan bahwa sistem penyimpanan obat atau bahan obat pada Pedagang Besar Farmasi harus memperhatikan kondisi penyimpanan sesuai dengan rekomendasi dari industri farmasi, karakteristik produk dengan kondisi penyimpanan khusus, kapasitas sarana penyimpanan, rotasi stock dan dokumentasi. Dengan diterapkannya sistem penyimpanan sesuai CDOB, mutu obat yang diterima oIeh pasien akan dipertahankan dan dipastikan sama dengan mutu obat yang direIease oIeh industri farmasi.
Potensi Senyawa Kurkumin pada Kunyit (Curcuma longa) Sebagai Hepatoprotektor pada Terapi Obat Antituberkulosis Muhammad Al Ikhsan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp52-60

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit kronik menular akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis complex yang ditularkan lewat udara melalui percik renik yang dihasilkan penderita tuberkulosis. World Health Organization membuat komitmen untuk mengakhiri epidemi TBC melalui suatu gerakan yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target capaian menurunkan angka kejadian TBC secara signifikan menjadi 100.000 kasus baru per tahun. Selama pengobatan tuberkulosis, 5-30% pasien menunjukkan kerusakan hati dengan tingkat yang berbeda-beda, sehingga pengobatan tuberkukosis menjadi penyebab utama kerusakan hati akibat obat.Untuk menangani hal tersebut, sejumlah penelitian dilakukan untuk mengkaji terapi tuberkulosis, salah satunya mengkombinasikan dengan bahan herbal untuk mengurangi efek kerusakan hati akibat obat. Tanaman herbal yang telah teruji memiliki efek hepatoprotektor yang baik adalah kunyit (Curcuma longa) dengan kandungan kurkumin yang dimilikinya. Penulisan artikel ini bertujuan untuk membuktikan senyawa kurkumin pada kunyit (Curcuma longa) sebagai hepatoprotektor pada terapi obat antituberkulosis. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan narrative review melalui tinjauan literatur pada berbagai database. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan senyawa kurkumin memiliki efek hepatoprotektif dengan menurunkan kadar protoporphyrin IX pada studi in vivo yang dilakukan pada mencit. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa penggunaan kurkumin menurunkan produksi sitokin pro inflamasi yang dapat merusak organ lainnya, sehingga dapat diartikan penggunaan kurkumin meningkatkan keamanan obat antituberkulosis.
Laporan Kasus: Space Occupying Lesion pada pasien dengan HIV Aldiesa Ade Pritami; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp61-69

Abstract

Abstrak: Space Occupying Lesion (SOL) didefinisikan sebagai setiap neoplasma, massa inflamasi atau parasit, hematoma, kista, maupun malformasi vaskular yang menyebabkan peningkatan volume di dalam ruang intrakranial. Human immunodeficiency virus/ acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) merupakan faktor predisposisi untuk beberapa infeksi oportunistik sistem saraf pusat (SSP). Laporan dari dunia Barat menunjukkan bahwa toxoplasmosis merupakan penyebab paling umum dari SOL SSP pada pasien AIDS, sementara di India, tuberkulosis menjadi etiologi paling umum. Di Indonesia, setiap pasien yang dicurigai mengalami infeksi otak dan menunjukkan gejala serta tanda klinis neurologi dengan onset subakut, kronis, persisten hingga menjadi progresif, maka harus dipikirkan infeksi tuberkulosis (TB) pada sistem saraf pusat. Artikel bertujuan untuk menegakkan dan mengkaji suatu kasus pada seorang pasien dengan diagnosis SOL dan HIV. Metode yang digunakan yaitu sebuah laporan kasus dengan sumber data yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang serta rekam medik. Dilaporkan, seorang wanita berusia 40 tahun dengan keluhan nyeri kepala dengan gejala yang menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial. Pasien sudah pernah menikah sebanyak dua kali. Pasien memiliki riwayat pengobatan TB paru dan sudah tuntas sejak 5 tahun SMRS. Pemeriksaan status neurologi didapatkan adanya parese saraf kranial N.VII dan N.XII, hiperefleksi pada refleks fisiologis patella dan achilles, dan kelemahan kekuatan motorik pada ekstremitas superior dan inferior. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilai elektrolit (natrium, kalium, kalsium) yang rendah. Pemeriksaan HIV menunjukkan hasil reaktif. Hasil CT scan kepala memberikan kesan adanya lesi hiperdens bulat multipel di subkortikal parietal bilateral, thalamus sinistra, cerebellum sinistra dengan edema perifokal minimal sekitarnya dengan diagnosis banding tuberkuloma, toxoplasma, metastasis serta tampak adanya atrofi cerebri. Hasil foto rontgen thorax pasien menunjukkan kesan adanya perbercakan samar di lapang tengah kanan dengan suspek bronkopneumonia. Pasien diberikan terapi farmakologis yang terdiri dari Dexamethason, omeprazole, paracetamol, KSR, asam folat, clindamycin, clonazepam, KCL, kotrimoksazol, kalsium laktat, vitamin B12, dan ondansetron. Pengobatan dengan ARV direncanakan 2 minggu setelah pasien dirawat inap.
Sindrom Neuroleptik Maligna akibat Penggunaan Obat Neuroleptik Tanpa Pengawasan : Sebuah Laporan Kasus: Sindrom Neuroleptik Maligna Letifa Rahmadani; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp70-75

Abstract

Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan neurologis yang mengancam jiwa. Kasus ini merupakan kasus langka yang disebabkan oleh pengunaan obat antagonis reseptor dopamin. Kasus ini terjadi pada 0.01-3.2% pasien yang mengkonsumsi obat-obatan neuroleptik. Pasien umumnya menunjukkan gejala seperti rigiditas, demam, perubahan status mental, dan ketidakstabilan kerja autonom. Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah dan urin dilakukan untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab lain dari keadaan pasien. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi tingkat morbiditas akibat kejadian ini. Pasien Tn. R, 27 tahun mengalami penurunan kesadaran, rigiditas, demam dan muntah setelah sebelumnya mengkonsumsi obat-obatan skizofrenia dalam jumlah banyak 10 jam sebelum pasien datang ke rumah sakit. Pasien didiagnosis dengan sindrom neuroleptik maligna dan pemberian obat-obatan antipsikotik dihentikan. Pasien dipasang NGT diberikan oksigen, difenhidramin injeksi, vitamin B6, vitamin B12, asam folat, omeprazole, ranitidin, ceftriaxone, asam tranexamat dan vitamin K. Neuroleptic Malignant Syndrome (SNM) is a life-threatening neurological emergency. This is a rare case caused by the use of dopamine receptor antagonist drugs. This case occurs in 0.01-3.2% of patients taking neuroleptic drugs. Patients generally show symptoms such as rigidity, fever, changes in mental status, and autonomic instability. Examinations such as blood and urine tests are carried out to eliminate other possible causes of the patient's condition. Fast and appropriate treatment can reduce the level of morbidity due to this incident. Patient Mr. R, 27 years old, experienced decreased consciousness, rigidity, fever and vomiting after previously consuming large amounts of schizophrenia medication 10 hours before the patient came to the hospital. Patients were diagnosed with neuroleptic malignant syndrome and the antipsychotic medications were discontinued. Patients then uses NGT and were given oxygen, diphenhydramine injection, vitamin B6, vitamin B12, folic acid, omeprazole, ranitidine, ceftriaxone, tranexamic acid and vitamin K.
Tetanus Generalisata pada Pasien Lansia yang Tidak Divaksinasi : Laporan Kasus Ananda Fitriliani; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp83-90

Abstract

Angka kejadian tetanus tetap menjadi ancaman bagi semua orang yang tidak divaksinasi, terutama di negara-negara berkembang. Tetanus adalah toksemia akut dan fatal yang disebabkan oleh bakteri penghasil neurotoksin Clostridium tetani, ditandai dengan kekakuan otot dan kejang periodik yang berat. Diagnosis tetanus bersifat klinis tanpa tes laboratorium tertentu. Laporan Kasus, seorang pria berusia 79 tahun datang dengan keluhan sulit membuka mulut dan terasa kaku sejak 3 hari SMRS. Keluhan disertai demam, nyeri pada rahang, kesulitan untuk menelan. Pasienmerasakan leher, lengan, kaki dan punggungnya terasa nyeri, kaku, sulit digerakkan. Riwayat tertusuk paku berkarat pada telapak kaki kanan sejak 1 minggu sebelum keluhan muncul. Riwayat vaksin tetanus disangkal. Pasien kompos mentis, tekanan darah 172/109 mmHg, denyut nadi 105x/menit, frekuensi napas 28x/menit, suhu 37.1°C, VAS 7/10, SpO2 99% Room Air. Pada pemeriksaan fisik ditemui trismus 1,5 jari dan kekakuan pada leher serta punggung. Pada pemeriksaan spatula tes didapatkan hasil positif. Terapi dilakukan di ruang rawat inap yang terisolasi dan pengobatan yang sesuai. Kata kunci: tetanus generalisata, usia tua, spasme otot
Undiagnosed Type 2 Diabetes Mellitus in A 68 year-old Patient with Parkinson's Disease : An Invisible Risk Factor Fitriyani Fitriyani; Nanda Tiara Santika
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp76-82

Abstract

Parkinson’s Disease is a complex progressive neurodegenerative disease characterized by tremor, bradykinesia, rigidity and postural instability. PD is the second most common neurodegenerative disease after Alzheimer’s Disease, with the prevalence of 0,5-1% among the 65-69 year-old population. Diabetes mellitus is not only considered as one of the risk factors of neurodegenerative diseases, but also negatively affects cognitive functions of PD. Several mechanisms support the link between the two diseases, such as oxidative stress, mitochondria dysfunction, and neuroinflammation. A 68 year-old man, diagnosed with Parkinson’s Disease and Type 2 Diabetes Mellitus. Physical examination revealed resting tremor, bradykinesia, and rigidity. Inferior extremity was seen with solitary ulcer, 3 cm in diameter, tendon-based with pus on the ankle area; grade 2 Wagner Classification. Laboratory test revealed 271 mg/dL of random blood glucose, and 155 mg/dL of fasting blood glucose. Management included PD symptomatic agents alongside with anti-diabetic agents. Key words: Parkinson’s Disease, Type 2 Diabetes Mellitus, Case Report
Ischialgia ec Susp. Bone Metastasis pada Wanita Usia 52 tahun : Laporan Kasus Avisa Jinan Azura; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp91-99

Abstract

Low back pain atau nyeri pinggang bawah adalah rasa nyeri dan tidak nyaman yang terjadi di punggung bagian bawah. Low back pain dapat memberikan gejala nyeri dan rasa kesemutan yang menjalar dari punggung bawah sampai kaki yang disebut dengan Ischialgia. Ischialgia terjadi akibat adanya penjepitan saraf ischiadicus. tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai manifestasi klinis, pemeriksaan fisik yang diperlukan, dan tatalaksana pada kasus pasien Ischialgia. Laporan kasus ini berisi penjelasan mengenai Wanita usia 52 tahun yang dating dengan keluhan nyeri pinggang menjalar hingga kedua kaki, memberat sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan bersifat kronik, karena sudah dirasakan sejak 4 bulan lalu. Dalam upaya penegakan diagnosis, penulis sudah melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan dilakukan pemeriksaan penunjang berupa x-ray thoraks, x-ray humerus dextra, x-ray lumbosacral, dan USG Abdomen sehingga didapatkan adanya keabnormalan pada tulang vertebra dan humerus yang memberikan gambaran metastasis. Pasien di diagnosis dengan ischialgia ec susp. bone metastasis dan diberikan tatalaksana farmakologis dan non farmakologis.