cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Manajemen Anestesi Umum Pada Bedah Laparoskopi Assyfa Salsa Yulpani; Ari Wahyuni; Giska Tri Putri; Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp75-82

Abstract

Laparoskopi adalah pembedahan minimal invasif dimana rongga peritoneum dapat divisualisasikan tanpa adanya sayatan yang besar pada abdomen. Laparoskopi telah memberikan hasil positif berupa insisi yang minimal, mengurangi risiko trauma, mengurangi biaya medis, menurunkan risiko perdarahan, menurunkan komplikasi pasca bedah, pemulihan dini, dan menurunkan mortalitas dan morbiditas. Dalam laparoskopi dikenal istilah pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum dan perubahan posisi pada laparoskopi dapat menimbulkan perubahan fisiologi pada pasien, seperti perubahan kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, neurologi, dan splankhic. Oleh karena itu, diperlukan manajemen anestesi yang baik pada bedah laparoskopi. Pemahaman patofisiologi akibat pneumoperitoneum dalam laparoskopi sangat penting bagi anestesiologi untuk dapat memberikan respon cepat dan tepat terhadap perubahan yang terjadi dan mengevaluasi serta mempersiapkan pasien secara preoperatif terhadap kelainan-kelainan yang mungkin terjadi selama laparoskopi. Selain itu, lama operasi, risiko cedera organ-organ dalam, serta kesulitan mengevaluasi perdarahan yang terjadi, juga menjadikan anestesi pada laparoskopi menjadi prosedur yang berisiko tinggi. Laparoskopi paling baik dilakukan dengan anestesi umum karena perubahan fisiologi yang disebabkan oleh penumoperitoneum. Faktor yang membuat anestesi umum lebih baik daripada teknik anestesi lainnya untuk bedah laparoskopi adalah perubahan posisi pasien yang ekstrem, perubahan fisiologi akibat pneumoperitoneum, dan durasi operasi yang lama. Anestesi umum dalam bedah laparoskopi meliputi intubasi endotrakeal, relaksasi otot, dan ventilasi mekanis terkontrol. Kata kunci: Anestesi Umum, Laparoskopi, Pneumoperitoneum
Literature Review : Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Jenis Operasi Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomitting Wayan Swari Dharma Patni; Ari Wahyuni; Anisa Nuraisa Jausal; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp32-39

Abstract

Abstrak: Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) adalah komplikasi umum pascaoperasi yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, aspirasi paru, dan memperpanjang rawat inap. PONV diklasifikasikan menjadi early (2–6 jam), late (6–24 jam), dan delayed (>24 jam) pascaoperasi. Metode dalam penulisan ini menggunakan literature review dengan sumber berasal dari PubMed dan google scholar. Wanita memiliki risiko lebih tinggi terhadap PONV akibat fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama pada fase folikular dan ovulasi siklus menstruasi. Risiko PONV menurun setelah menopause. Jenis operasi yang berisiko tinggi termasuk laparoskopi, neurosurgery, operasi payudara, dan operasi telinga, hidung, tenggorokan (THT). Penanganan PONV meliputi pencegahan dan terapi menggunakan obat seperti antagonis reseptor 5-HT3 (ondansetron, granisetron), antagonis reseptor NK-1 (aprepitant), kortikosteroid (dexamethasone), dan metoklopramid. Pemilihan obat disesuaikan dengan tingkat risiko dan jenis operasi. Pendekatan farmakologis ini bertujuan mengurangi insidensi PONV, komplikasi terkait, dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
Faktor Penyebab Kejadian Rehospitalisasi Pada Pasien Skizofrenia Savira Rahmadanti; Nurma Suri; Citra Yuliyanda Pardilawati; Ervina Damayanti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp24-31

Abstract

Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan kronis dan kompleks yang dialami oleh sebagian besar masyarakat di dunia dan berpotensi mengalami kejadian rawat inap kembali atau rehospitalisasi di rumah sakit akibat kekambuhan gejala yang dirasakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya rehospitalisasi pada pasien yang menderita skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan pustaka dengan mengumpulkan beberapa sumber database elektronik berbahasa Indonesia 10 tahun terakhir (2014-2024) menggunakan kata kunci yang relevan. Kriteria inklusi mencakup studi observasional, eksperimental, dan RCT terkait faktor penyebab kejadian rehospitalisasi pada pasien skizofrenia di Indonesia. Didapatkan 12 artikel ilmiah yang masuk kriteria inklusi dan digunakan sebagai acuan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya rawat inap kembali atau rehospitalisasi pada pasien skizofrenia meliputi faktor ekonomi, tekanan peristiwa kehidupan, ketidakpatuhan pengobatan, kurangnya pengetahuan dan dukungan keluarga serta kurangnya dukungan sosial. Apoteker berperan penting dalam memberikan edukasi kepada pasien, memberikan jadwal kontrol rutin, dan membantu memantau kepatuhan minum obat pasien sehingga dapat mengurangi angka kejadian rawat inap kembali atau rehospitalisasi pasien skizofrenia di rumah sakit.
The Risk Factors of Helminthiasis in Children Living in Dormitories: Literature Review: Faktor Risiko Kecacingan pada Kelompok Usia Anak yang Tinggal di Asrama: Literature Review Irma Nur Humaida; Jhons Fatriyadi Suwandi; Hanna Mutiara; Septia Eva Lusina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp13-16

Abstract

Abstrak: Helminthiasis merupakan infeksi cacing yang memiliki prevalensi global tinggi, mempengaruhi sekitar 1,5 miliar orang, dan menjadi masalah kesehatan signifikan di negara berkembang seperti Indonesia. Infeksi cacing ini berdampak buruk pada kesehatan, status gizi, kecerdasan, dan produktivitas, sehingga dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan kondisi ekonomi. Artikel ini bertujuan untuk membahas faktor risiko penyebab kecacingan pada anak-anak yang tinggal di asrama. Kajian dalam tulisan ini menggunakan metode literature review untuk membahas faktor-faktor risiko infeksi cacing pada anak-anak di lingkungan asrama, dengan data diambil dari sumber ilmiah seperti Google Scholar dan PubMed. Helminthiasis atau infeksi cacing adalah masalah kesehatan serius yang meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang. Angka helminthiasis yang tinggi di negara berkembang disertai dengan lingkungan asrama yang terlalu padat akan menyebabkan beberapa dampak negatif seperti fasilitas yang tidak memadai yang berdampak pada higienitas dan perilaku terkait kebersihan. Hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi cacing. Penyebab utama infeksi adalah cacing dari filum platyhelminthes dan nematoda. Faktor lingkungan seperti sanitasi buruk dan fasilitas yang tidak memadai di asrama atau panti asuhan memperparah penyebaran infeksi ini. Penelitian di berbagai lokasi menunjukkan bahwa kebiasaan buruk dalam mencuci tangan, penggunaan handuk bersama, menggigit kuku, dan tidak memakai alas kaki berhubungan erat dengan tingginya prevalensi infeksi cacing.
The Utilization of Spatial Analysis in Controlling Intestinal Protozoan Infections: Literatur Review: Pemanfaatan Analisis Spasial Dalam Pengendalian Infeksi Nixon Steven; Jhons Fatriyadi Suwandi; Sutarto Sutarto; Dian Isti Angraini
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp7-12

Abstract

Abstrak: Masalah kesehatan akibat infeksi protozoa usus merupakan masalah kesehatan yang signifikan, terutama di daerah dengan tingkat sanitasi yang buruk dan kepadatan penduduk yang tinggi. Penyakit akibat infeksi protozoa usus berdampak pada kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah yang belum menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.Salah satu pendekatan dalam pengendalian penyebaran infeksi protozoa usus adalah analisis spasial, yang mengidentifikasi pola distribusi penyebaran penyakit, faktor risiko lingkungan, serta lingkungan dengan tingkat penularan infeksi yang tinggi. Artikel review ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan analisis spasial dalam mengkaji penyebaran protozoa usus. Dalam artikel ini, berbagai analisis spasial seperti Sistem Informasi Geografis (SIG) dan pemetaan hotspot. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah Literature Review, yaitu sebuah pencarian literature baik internasional maupun nasional yang dilakukan dengan menggunakan database Sciencedirect dan Google Scholar menggunakan kata kunci “infeksi protozoa usus”, “analisis spasial”, “pengendalian penyakit”, “SIG”, “kesehatan masyarakat” yang diidentifikasi serta dikompilasikan sehingga didapatkan 10 artikel yang relevan. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pemerintah pembuat kebijakan dan peneliti untuk memanfaatkan analisis spasial sebagai alat dalam pengendalian infeksi protozoa usus, khususnya pada lingkungan dengan risiko tinggi. Dengan demikian, pendekatan ini berpotensi meningkatkan efektivitas program pengendalian dan penurunan angka kejadian penyakit akibat infeksi protozoa usus. Kata kunci: Infeksi protozoa usus, analisis spasial, pengendalian penyakit, SIG, kesehatan masyarakat Abstract : Health problems due to intestinal protozoan infections are significant health problems, especially in areas with poor sanitation and high population density. Diseases due to intestinal protozoan infections have an impact on public health, especially school-age children who have not implemented a Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) such as washing hands before and after eating. One approach to controlling the spread of intestinal protozoan infections is spatial analysis, which identifies patterns of disease distribution, environmental risk factors, and environments with high levels of infection transmission. This review article aims to evaluate the use of spatial analysis in studying the spread of intestinal protozoa. In this article, various spatial analyses, such as Geographic Information Systems (GIS) and hotspot mapping, are discussed. The method used in writing this article is Literature Review, which is a search for international and national literature conducted using the ScienceDirect and Google Scholar databases using the keywords "intestinal protozoan infections," "spatial analysis," "disease control," "GIS," and "public health," which are identified and compiled so that 10 relevant articles are obtained. The results of this study are expected to provide insight for government policymakers and researchers to utilize spatial analysis as a tool in controlling intestinal protozoan infections, especially in high-risk environments. Thus, this approach has the potential to increase the effectiveness of control programs and reduce the incidence of diseases caused by intestinal protozoan infections.
Literature Review: The Role of Hand Washing Habits in Preventing Worm Infections in Elementary School Children Azzarine Nabila Suryadana; Jhons Fatriyadi Suwandi; Sofyan Musyabiq Wijaya; Betta Kurniawan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp17-23

Abstract

Kebiasaan mencuci tangan sangat penting dalam pencegahan berbagai infeksi terutama infeksi cacing di kalangan anak-anak. Mencuci tangan menggunakan sabun serta air mengalir adalah langkah yang cukup penting untuk menjaga kesehatan serta menurunkan risiko dari penyebaran berbagai penyakit. Artikel ini bertujuan untuk membahas pentingnya kebiasaan mencuci tangan untuk mencegah infeksi kecacingan. Anak-anak yang tidak mencuci tangan dengan benar lebih berisiko untuk terinfeksi akibat dari kurangnya pemahaman serta perhatian dari orang tua. Metode yang digunakan dalam penulisan ini berupa mencari beberapa artikel dengan sumber data yang berasal dari Pubmed, NCBI dan Google Scholar. Literature review ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan praktik mencuci tangan di antara anak-anak. Faktor lainnya seperti sosial, budaya, dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasan mencuci tangan. Untuk memperbaiki kebiasaan ini, diperlukan adanya kerjasama antara sekolah dengan orang tua dalam menyediakan fasilitas serta melaksanakan program edukasi kesehatan. Dengan ini, diharapkan angka infeksi cacing pada anak dapat terjadi penurunan serta meningkatkan kesehatan anak secara menyeluruh.
Review Article: Mekanisme Sel Punca Mesenkimal dalam Manajemen Luka Bakar Skolastika Faustina Ivana Arief
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp40-46

Abstract

Kasus luka bakar tetap menjadi tantangan besar dan beban dalam dunia kesehatan karena tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang diakibatkannya. Proses penyembuhan luka bakar merupakan rangkaian mekanisme yang kompleks dan menjadi fokus penelitian mendalam untuk meningkatkan hasil, terutama dalam mempercepat waktu pemulihan dan memperbaiki kualitas jaringan parut yang dihasilkan. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kemajuan dalam pengobatan regeneratif untuk penyembuhan luka bakar, termasuk penggunaan sel punca dan produk turunan sel punca yang menunjukkan hasil menjanjikan dibandingkan pendekatan pengobatan konvensional. Sel punca telah terbukti tidak hanya mempercepat dan memperbaiki proses penyembuhan luka bakar, tetapi juga mengurangi tingkat peradangan, dengan risiko lebih rendah terhadap pembentukan bekas luka dan fibrosis. Salah satu jenis sel punca yang kini menjadi fokus utama dalam pengembangan adalah mesenchymal stem cell (MSC). Berbagai penelitian telah menunjukkan efek terapeutik MSC dalam mengobati berbagai penyakit, termasuk luka bakar. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang mekanisme MSC pada manajemen luka bakar. Artikel review ini disusun dengan menggunakan metode studi pustaka, yang melibatkan pencarian berbagai literatur seperti artikel dan jurnal, baik dari sumber nasional maupun internasional.
Laboratory Tests as an Indicator of Neonatal Sepsis Putu Karis Ayu Kirana; Tri Umiana Soleha; Bayu Anggileo Pramesona; Evi Kurniawaty
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp47-53

Abstract

Sepsis neonatotum adalah penyakit yang sangat kompleks dimana kelainan klinis penyakit sistemik disebabkan oleh bakteremia pada bayi berusia 28 hari atau kurang. Penegakkan diagnosis sepsis neonatorum masih sulit ditegakkan dan kita membutuhkan pemeriksaan laboratorium atau biomarker untuk diagnosis sepsis neonatorum yang cepat dan akurat. Baku emas dalam pengujian laboratorium untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bakteri penyebab sepsis adalah kultur darah, namun hasil dari pemeriksaan ini baru dapat diketahui setelah beberapa hari sehingga diperlukan metode pemeriksaan penunjang yang lebih cepat untuk membantu diagnosis serta digunakan sebagai alat skring diagnosis dan predictor kematian sepsis pada bayi baru lahir. Pemeriksaan darah lengkap dan beberapa biomarker lainnya merupakan pemeriksaan sederhana yang umumnya tersedia di hampir semua fasilitas perawatan kesehatan, sehingga diagnosis sepsis neonatorum dapat segera ditegakkan dan tatalaksana dapat segera diberikan. Neonatal sepsis is a highly complex disease in which clinical abnormalities of systemic disease are caused by bacteremia in infants aged 28 days or less. The diagnosis of neonatal sepsis is still difficult to establish and we need laboratory tests or biomarkers for rapid and accurate diagnosis of neonatal sepsis. The gold standard in laboratory testing to detect and identify the bacteria that cause sepsis is blood culture, however the results of this examination can only be known after a few days, so a faster supporting examination method is needed to assist diagnosis and be used as a diagnosis screening tool and predictor of sepsis mortality in newborns. Complete blood tests and several other biomarkers are simple tests that are generally available in almost all health care facilities, so that the diagnosis of neonatal sepsis can be established immediately and management can be given immediately.
Efektivitas Inhalasi Aromaterapi terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dysmenorrhea Primer pada Remaja Nur Mawar Agustina; Ervina Damayanti; Femmy Andrifianie; Oktafany Oktafany
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp83-93

Abstract

Dysmenorrhea primer merupakan masalah kesehatan umum saat menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengelolaan nyeri dysmenorrhea primer dapat dilakukan melalui pemberian terapi farmakologi dan non farmakologi. Obat-obatan dalam terapi farmakologi dinilai efektif dalam mengatasi nyeri dysmenorrhea primer, namun efek samping pengobatan yang tidak diinginkan dapat muncul akibat penggunaan obat dalam waktu yang lama, sehingga mendorong pencarian alternatif terapi yang dinilai lebih aman dan efektif. Aromaterapi, sebagai terapi komplementer telah banyak diteliti sebagai terapi non farmakologi pengelolaan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas inhalasi aromaterapi dalam mengurangi intensitas nyeri pada remaja dengan dysmenorrhea primer melalui pemanfaatan minyak esensial berbagai tanaman. Penelitian ini berupa tinjauan pustaka (literature review) terhadap 10 studi terkait dengan rentang waktu publikasi 2019-2024 pada database elektronik Google Scholar dan PubMed yang diseleksi melalui proses skrining. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhalasi aromaterapi dengan menggunakan berbagai jenis minyak esensial secara signifikan dapat mengurangi intensitas nyeri dysmenorrhea primer. Mekanisme kerja aromaterapi diduga terkait dengan efek anti-inflamasi dan analgesik dari komponen-komponen aktif dalam minyak esensial. Oleh karena itu, aromaterapi dapat menjadi pilihan terapi non farmakologi yang dinilai efektif, aman, dan potensial untuk dikembangkan sebagai pengobatan dalam mengurangi nyeri dysmenorrhea primer pada remaja.
Pengaruh Konsentrasi dan Volume Etanol Terhadap Rendemen Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Pada Metode Ekstraksi Maserasi Ade Putri Selviana; Ummi Khoirotunnisa; Atri Sri Ulandari; Ihsanti Dwi Rahayu; Femmy Andrifianie
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp94-100

Abstract

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) adalah salah satu tanaman yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) banyak diekstraksi dengan metode maserasi karena metode ini cocok untuk tanaman dengan senyawa termolabil. Proses maserasi dengan menggunakan berbagai konsentrasi pelarut dan volume pelarut menghasilkan nilai rendemen yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membahas terkait konsentrasi dan volume pelarut etanol yang efektif untuk menghasilkan rendemen pada bunga telang (Clitoria ternatea L). Penelitian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan pustaka dengan mengumpulkan beberapa sumber dari database online seperti google scholar selama 10 tahun terakhir (2014-2024) menggunakan kata kunci yang relevan yaitu "bunga telang", "maserasi", "etanol", dan "rendemen" hingga didapatkan hasil sebanyak 3.620 artikel yang kemudian diseleksi lagi menjadi 14 artikel untuk ditinjau. Hasil tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa polaritas pelarut dan perbandingan volume mempengaruhi kualitas rendemen yang dihasilkan dengan menggunakan etanol 70% dengan perbandingan antara sampel dan pelarut 1:10. Literatur review ini dapat menjadi daftar referensi terkait pemilihan pelarut yang efektif terhadap peningkatan kualitas rendemen ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) menggunakan metode ekstraksi maserasi.