cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Pengaruh Buah Merah (Pandanus conoideus) terhadap Pertumbuhan Sel Kanker Payudara Ruthsuyata Siagian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker payudara merupakan penyebab utama dalam insidens dan kematian oleh kanker pada wanita. Kanker dianggap sebagai penyakit yang ditimbulkan oleh ekspansi progresif sel asal progenitor tunggal yang dapat melepaskan diri dari pengawasan regulator pembagian sel dan mekanisme homeostasis yang normal. Buah merah (Pandanus conoideus)merupakan salah satu buah yang memiliki antioksidan tinggi dengan kandungan beta karoten, tekoferol, asam lemak seperti asam oleat, asam linoleat, asam dekanoat, dan karotenoid. Pemberian buah merah (Pandanus conoideus) sebagai antioksidan dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Penelitian membuktikan bahwa pemberian ekstrak Pandanus conoideus dapat meyebabkan apoptosis sel kanker, juga dapat menurunkan skor derajat histologik kanker payudara, dan memberikan persentase apoptosis terhadap sel kanker payudara. [J Agromed Unila 2015; 2(4):500-503]Kata kunci: kanker payudara, Pandanus conoideus
Instabilitas dan Kejadian Jatuh pada Lansia Sartika Safitri
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 60 tahun adalah 8,9% dari, data ini berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia. Meningkatnya jumlah lansia menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia. Masalah tersebut jika tidak ditangani akan berkembang menjadi masalah yang kompleks dari segi fisik, mental dan sosial yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pelayanan kesehatan untuk kondisi atau gangguan yang terjadi pada usia lanjut. Sindrom geriatri merupakan sekumpulan kondisi klinis pada orang tua yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan dikaitkan dengan kecacatan. Salah satu tampilan klinis sindrom geriatri adalah instabilitas dan risiko jatuh, yang pada lansia merupakan permasalah serius karena hal tersebuttidak hanya menyebabkan cedera, melainkan juga dapat menyebabkan penurunan aktivitas, peningkatan utilisasi pelayanan kesehatan, dan bahkan kematian. Pedoman untuk evaluasi dan penatalaksanaan jatuh pada lansia dikeluarkan oleh American Geriatric Society, merekomendasikan untuk menanyakan kepada seluruh lansia mengenai riwayat jatuh dan kemungkinan terjadi ketidakstabilan atau gangguan dalam berjalan. [J Agromed Unila 2015; 2(4):504-509]Kata kunci: algoritma penatalaksanaan, jatuh, lansia, pasien geriatri
Efek Larvasida Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) terhadap Aedes aegypti Tiara Chintihia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Upaya pengendalian demam berdarah dengue yang biasanya dilakukan secara kimia (insektisida sintetik) dapat mengakibatkan sifat resistensi pada nyamuk dan pencemaran lingkungan. Salah satu alternatifyang dapat digunakan adalah dengan menggunakan larvasida alami seperti daun cengkeh (Syzygium aromaticum L). Kandungan eugenol, saponin, flavonoid dan tanin dalam daun cengkeh (Syzygium aromaticum L) dapat merusak susunan saraf serangga, mengganggu penyerapan makanan dan menurunkan enzim pencernaan pada serangga. Oleh karena itu, daun cengkeh (Syzygium aromaticum L) dapat dimanfaatkan sebagai larvasida alami terhadap Aedes aegypti. [J Agromed Unila 2015; 2(4):510-515]Kata kunci: aedes aegypti, demam berdarah dengue, syzygium aromaticum L.
Tatalaksana Non-Farmakologi pada Dermatitis Atopik Septina Ashariani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis atopik (DA) adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residitif, disertai gatal, yang umumnya terjadi pada masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada kelurga atau penderita (DA, rinitis alergik, dan atau asma bronkial). Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, berdistribusi di lipatan (fleksural). Terapi farmakologi yang dilakukan pada DA ada baiknya digabungkan dengan terapi non-farmakologi. Beberapa Terapi non-farmakologi mungkin masih ada yang menjadi kontroversi karena penelitiannya masih menunjukkan 2 sisi yaitu menguntungkan ataupun tidak berpengaruh terhadap DA. Terapi non-farmakologi mencakup pengawasan diet, konsumsi vitamin, konsumsi probiotik, pemilihan bahan baju,penyesuaian iklim dan temperatur, pengawasan mandi, fototerapi, pemakaian pelembab, balut basah, penanggulangan stress dan edukasi pasien. Terapi non-farmakologi sama pentingnya dengan terapi farmakologi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dermatitis atopik. [J Agromed Unila 2015; 2(4):516-522]Kata kunci: dermatitis atopik, nutrisi, terapi non-farmakologi
Delayed Neuropsychological Sequelae pada Keracunan Karbon Monoksida Stefhani Gista Luvika
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gas karbon monoksida (CO) adalah senyawa yang tidak berbau, tidak berasa, pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna serta memiliki sifat potensif racun terhadap tubuh. Kasus keracunan CO disebabkan oleh hipoksia yang berakibat buruk pada sistem organ tubuh, terutama otak dan jantung dengan kebutuhan oksigen tertinggi. Manifestasi umum pada otak dapat dilihat dari gejala klinis, gambaran CT-scan dan MRI, dan histopatologi otak. Gejala sisa neuropsikologis tertunda biasanya berkembang dalam beberapa minggu setelah pemulihan klinis awal lengkap dari keracunan akut. Insiden yang dilaporkan bervariasi antara 3-40% karena kurangnya kriteria diagnostik yang ditetapkan dan dapat sembuh dalam satu bulan pertama dan menjadi permanen dalam 25% kasus. [J Agromed Unila 2015; 2(4):523-529]Kata kunci: gejala sisa neuropsikologis tertunda, hipoksia, keracunan karbon monoksida, otak
Manfaat Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe) terhadap Kadar Asam Urat Tri Lamtiur Pakpahan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atritis pirai (gout) merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal mosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat di dalam cairan ekstra selular. Manifestasi klinik deposisi urat meliputi atritis gout akut, gangguan metabolisme yang mendasarkan gout adalah hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peninggian kadar urat lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl. Pengobatan untuk penderita atritis gout saat ini sudah banyak dikembangkan baiksintesis maupun herbal. Salah satu tumbuhan berkhasiat obat diantaranya adalah rimpang dari tumbuhan jahe merah. Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe). Rimpang jahe merah mempunyai komponen volatile (minyak atsiri) dan non volatile (oleoresin) paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis jahe yang lain yaitu kandungan minyak atsiri sekitar 2,58-3,90% dan oleoresin 3%. Simpulan, jahe merah dapat menurunkan kadar asam urat. [J Agromed Unila 2015; 2(4):530-535]Kata kunci: gout atritis, jahe merah, penurunan kadar asam urat.
Pengaruh Paparan Gelombang Elektromagnetik Handphone Periode Kronik Terhadap Kadar SGOT dan SGPT Imelda Puspita
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan handphone menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang dalam mengakses internet. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Kondisi ini disebabkan kesadaran masyarakat di negara berkembang yang semakin meningkat akan akses informasi. Dengan meningkatnya pengguna ponsel terhadap paparan medan elektromagnetik, hati sebagai organ penting dalam tubuh yang terkena salah satu efek radiasi. Dari efek radiasi ditemukan adanya perbedaan kadar Enzim penting adalah serum transaminase oksaloasetat glutamat (SGOT) dan serum glutamic piruvat transaminase (SGPT) yang cenderung meningkat sehingga penting dalam studi masalah ini. [J Agromed Unila 2015; 2(4):536-540]Kata kunci: handphone, paparan gelombang elektromagnetik, SGOT, SGPT
Asma Bronkial pada Anak Erin Imaniar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas. Penyakit ini paling sering diderita oleh anak. Secara umum faktor risiko yang dapat memicu terjadinya asma terbagi atas faktor genetik dan lingkungan. Anak laki-laki, usia 3 tahun, berat badan 12 kg, datang dengan keluhan sesak nafas sejak 1 hari lalu, sebelumnya pasien batuk tanpa dahak dan muntah. Sesak nafas disertai bunyi mengi yang timbul terutama jika udara dingin atau terlalu banyak aktivitas. Terdapat riwayat alergi dingin dan riwayat keluarga penderita asma, yaitu ibu dan nenek pasien. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sesak, nadi 120 x/menit, pernafasan 42 x/menit, suhu 36,5oC. Pada status generalis tampak bibir sianosis, pada pemeriksaan thoraksdidapatkan retraksi subcostal dan terdengar wheezing meningkat di akhir ekspirasi pada kedua lapang paru. Pasien didiagnosis sebagai asma bronkial, dengan penatalaksanaan secara non-medikamentosa dilakukan edukasi untuk menghindari alergen berupa udara dingin dan membatasi aktivitas fisik berlebihan pada anak, dan secara medikamentosayaitu dengan nebulisasi ventolin 1,25 mg dengan NaCl 0,9%, ampicillin injeksi 400 mg/8 jam, dan ranitidin 6,25 mg/12 jam.Prognosis pasien ini secara umum baik selama pasien menghindari faktor pencetus timbulnya asma. [J Agromed Unila 2015;2(4):360-364]Kata kunci: anak, asma bronkial, sesak nafas
Bayi Perempuan Usia 11 Bulan dengan Morbili Shella Arivia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morbili yang disebut juga dengan campak, measles atau rubeola adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh paramixovirus. Morbili dapat ditularkan melalui percikan liur (droplet) yang terhirup. Morbili ditandai oleh tiga stadium, kataral, erupsi serta konvalensi. Anak wanita, usia 11 bulan datang dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS. Demam sifatnya naik turun sepanjang hari, tetapi demam turun tidak sampai suhu normal. Demam disertai batuk dan pilek.Keluhan disertai munculnya ruam merah pada leher dekat telinga. Satu hari SMRS ruam merah semakin meluas hingga ke seluruh leher, dada, dan wajah. Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan suhu 39,9o C, Nadi 135 x/menit, laju nafas 32 x/menit, berat badan (BB) 8,3 kg, tinggi badan (TB) 70,5 cm, status gizi baik. Pemeriksaan pada mata didapatkan injeksikonjungtiva (+) pada thoraks didapatkan retraksi ringan (+), pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, pada auskultasi didapatkan suara nafas vesikuler (+/+), pemeriksaan pada abdomen didapatkan peningkatan bising usus. Status lokalis regio auricular, facialis, dan thorakalis tampak eritem makulopapular berbatas tegas tepi ireguler, ukuran milier jumlah multipel tersebar generalisata. Penatalaksanaan berupa pemberian infus RL dengan tetesan 11 kali permenit,paracetamol 3x3/4 cth, ampicillin 250 mg/6 jam, zinc tablet 20 mg, dan vitamin A 100.000 IU. Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang, diagnosis hanya ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. [J Agromed Unila 2015;2(4):365-369]Kata kunci: anak, campak, demam, ruam makulopapular
Wanita 46 Tahun dengan Skizofrenia Paranoid Tri Agung Sanjaya
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah atau pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia, terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif, dan perilaku. Wanita 46 tahun datang dengan keluhan mengamuk tanpa alasan yang jelas. Sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit jiwa, pasien sering terlihat bicara sendiri dan tertawa sendiri. Selain itu, pasien susah untuk diajak berkomunikasi dan pembicaraannya sulit dimengerti. Padapemeriksaan status psikiatrikus didapatkan sikap kurang kooperatif, mood irritable, halusinasi auditorik, halusinasi visual, flight of ideas, waham kebesaran, waham curiga, penilaian realita terganggu, dan tilikan derajat satu. Diagnosis multiaksial, yaitu aksis I: skizofrenia paranoid, aksis II dan III: belum dapat ditegakkan diagnosisnya, aksis IV: masalah ekonomi, ketidakpahaman pasien dengan kondisi penyakit, aksis V: GAF: 40-31. Terapi psikofarmaka adalah antipsikotik atipikal yaituRisperidone dengan dosis 2x2 mg dan olanzapine 2x5 mg selama 5 hari, kemudian dilakukan observasi kembali serta psikoterapi suportif. Untuk penanganan pasien skizofrenia dibutuhkan tidak hanya berupa terapi obat obatan melainkan juga disertai pemberian terapi psikologis untuk mempercepat pemulihan kondisi pasien. [J Agromed Unila 2014; 2(4):370-376]Kata kunci: halusinasi, skizofrenia paranoid, waham

Page 7 of 57 | Total Record : 565