cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 2 (2015)" : 19 Documents clear
Redesain Sistem Identitas Pasien sebagai Implementasi Patient Safety di Rumah Sakit Tulus, Hesty; Maksum, Halimi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.478 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.18

Abstract

Identifikasi pasien merupakan bagian terpenting dari sebuah keamanan dalam memberikan sebuah pelayanan. Penandaan identitas pasien RS X di Jawa Timur baru dilaksanakan dalam beberapa bulan. Evaluasi dilakukan oleh bagian pendaftaran adalah 90% identitas pasien yang berupa gelang identitas tidak terpasang pada ibu hamil yang akan melahirkan di kamar bersalin. Data menunjukkan kurangnya sosialisasi di bagian rawat jalan dan yang memasang gelang identitas adalah petugas admisi. Dokumentasi yang berhubungan dengan identitas pasien di rumah sakit ini hanya Standar Prosedur Operasional (SPO) gelang identitas pasien menurut akreditasi 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesign ulang dokumen yang berkaitan dengan identifikasi pasien, melalui pembuatan dan penyempurnaan panduan dan SPO Identifikasi Pasien, yang sesuai dengan akreditasi 2012. Penelitian kualitatif dilakukandengan menggunakan braistroming secara bertahap melibatkan instalasi terkait , komite KPRS dan kelompok kerja akreditasi RS di Pokja SKP (Sasaran Keselamatan Pasien). Selanjutnya dilakukan sosialisasi dan simulasi pada perawat pelaksana di instalasi terkait.  Hasil menunjukkan SPO yang diberlakukan tidak sesuai lagi dengan akreditasi 2012. Dilakukan pembuatan SPO tentang pemberian gelang identitas, pemasangan gelang identitas, pemasangan tanda risiko dan pelepasan gelang identitas dan tanda risiko pada pasien dewasa, menyusun panduan identitas pasien. Rumah Sakit perlu segera menetapkan Surat Keputusan Kebijakan pemberlakuan panduan atau pedoman dan SPO Identifikasi Pasien yang sesuai akreditasi 2012.  Telah diikuti dengan sosialisasi dan simulasi pada para perawat pelaksana di instalasi terkait. Perlu Monitoring dan evaluasi oleh tim KPRS (Keselamatan Pasien Rumah Sakit) secara periodik untuk  meningkatkan kepatuhan pelaksanaan SPO Identifikasi Pasien.Kata Kunci: Identifikasi pasien, keselamatan pasien, panduan identitas pasien, standar akreditasi, Standar Prosedur Operasional (SPO)
Peningkatan Mutu Pelayanan RSI Unisma Malang Melalui Reformasi Manajemen Laundry dan Linen A, Jamilatus Syamsiah; S, Tri Wahyu; Mansur, Muhammad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.767 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.6

Abstract

Pelayanan linen yang tidak memenuhi standar seperti jumlah linen kurang, kebersihan linen kurang, ketidaktepatan waktu dalam pelayanan linen akan mempengaruhi mutu pelayanan rumah sakit. Disamping itu berdampak juga kepada pembiayaan kebutuhan linen yang tidak efisien dan menurunnya kepuasan pasien terhadap pelayanan linen. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari akar masalah dan alternatif solusi tentang ketidaktepatan waktu penyediaan linen rawat inap di RSI Unisma Malang. Penelitian ini menggunakan responden sejumlah 10 orang yang terdiri dari kepala ruang dan petugas linen rawat inap. Penentuan akar masalah menggunakan diagram fishbone, identifikasi alternatif solusi masalah menggunakan media Focus Group Discussion (FGD) dengan pemilihan solusi melalui teori tapisan Mc Namara. Dari hasil penelitian yang terkait dengan ketidaktepatan waktu penyediaan linen adalah belum adanya struktur organisasi, Standar Prosedur Operasional (SPO) waktu pelayanan linen, kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM), pelatihan manajemen linen, dan kebijakan yang mengatur standar waktu pelayanan linen. Alternatif solusi yang dipilih berdasarkan teori tapisan Mc Namara adalah memperbaiki manajemen linen. Kata Kunci: Ketidaktepatan waktu, linen, ruang rawat inap
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Pelaporan Insiden di Instalasi Farmasi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi T, Marlina Adrini; Harijanto, Tuti; U, Endah Woro
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.473 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.17

Abstract

Keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam meningkatkan  mutu pelayanan rumah sakit. Salah satu dari tujuh langkah menuju keselamatan pasien adalah mengembangkan Sistim Pelaporan. Berdasarkan hasil pelaporan IKP di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi selama periode Desember 2013-Agustus 2014 , laporanan dari Instalasi Farmasi hanya ada 2 (dua).  Hal ini menimbulkan kekuatiran bahwa rendahnya pelaporan insiden di Instalasi Farmasi dikarenakan banyak kejadian/insiden yang tidak dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis dan menentukan  faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pelaporan insiden di Instalasi Farmasi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Penelitian ini menggunakan metode brainstroming dan Focus Group Discussion dengan petugas farmasi dan jajaran manajemen terkait. Hasil pengamatan dan pencatatan menunjukkan 40 KNC dengan 50% terjadi pada tahap prescribing, 37,5% tahap transcribing, dan 12,5% pada tahap dispensing sedangkan pada tahap administration tidak ditemukan KNC. Menurut hasil analisa faktor yang mempengaruhi pelaporan insiden adalah pengetahuan petugas farmasi kurang tentang apa yang harus dilaporkan dan bagaimana pelaporannya. Formulir untuk pelaporan KNC/KPC yang sederhana dan sistematis juga belum ada. Sebagai solusinya  diperlukan pelatihan pelaporan insiden kepada seluruh petugas farmasi. Selanjutnya dibutuhkan komitmen dari pihak direksi, manajemen dan tim KPRS untuk melakukan monitoring dan evaluasi tentang pelaporan IKP dengan cara  visitasi secara periodik dan melalui rapat bulanan. Hasil menunjukkan 40 KNC dengan 50% terjadi pada tahap prescribing, 37,5% tahap transcribing, dan 12,5% pada tahap dispensing sedangkan pada tahap administration tidak ditemukan KNC.Kata Kunci: Instalasi farmasi, Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS), Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Optimalisasi Unit Rawat Jalan di RS X Widyaningrum, Kurnia; Harijanto, Tatong; Hartojo, Hartojo
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.4

Abstract

Utilisasi pelayanan rawat jalan merupakan salah satu indikator penting kinerja rumah sakit. Hasil studi pendahuluan di unit rawat jalan RS tempat studi menunjukkan nilai utilitas dan optimalisasi masih belum maksimal dan terjadi penurunan angka kepuasan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi unit rawat jalan dan solusi untuk meningkatkan optimalisasinya. Metode yang digunakan adalah dengan observasi, telaah dokumen dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat gap antara utilitas ruang dan optimalisasi petugas. Utilitas ruang hanya 22,4% sedangkan optimalisasi masing-masing dokter sudah sangat optimal yaitu 141,6%, 172,9% dan 68,75%. Dengan menggunakan diagram fishbone ditemukan faktor–faktor utama kurang optimalnya unit rawat jalan adalah dari sumberdaya manusia yang kurang dan lingkungan yang kurang nyaman. Analisis 5 why's menemukan sistem monitoring dan evaluasi (monev) belum berjalan secara maksimal sebagai akar masalah. Solusi yang disepakati untuk meningkatkan optimalisasi di unit rawat jalan ini adalah dengan mengaktifkan kembali tim monev dengan pemberian pelatihan tentang monev.  Kata Kunci: Evaluasi kinerja rawat jalan, monitoring, optimalisasi, utilisasi
Penurunan Waktu Tunggu Pelayanan Obat Rawat Jalan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Baptis Batu Megawati, Megawati -; Hakim, Lukman; Irbantoro, Dolly
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.9

Abstract

Lama waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Baptis Batu sudah lama dikeluhkan oleh pelanggan. Ketidakpuasan karena waktu tunggu yang lama mempengaruhi persepsi tentang kualitas layanan rumah sakit secara keseluruhan dan menurunkan angka kunjungan ke rumah sakit. Penelitian ini mengukur waktu tunggu dan intervensi perbaikan SPO disertai survei kepuasan pelanggan yang berhubungan dengan waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan. Metode penelitian menggunakan pre dan post tes dengan pendekatan studi eksperimental pada 119 sampel pengunjung pelayanan obat rawat jalan selama kurun waktu 2 bulan. Pengambilan data dilakukan dengan mengukur  waktu tunggu 2 kali  sebelum dan sesudah  intervensi disertai  kepuasan mengenai lamanya waktu tunggu obat dengan menggunakan skala Likert. Analisis waktu tunggu dan kepuasan pelanggan mengenai waktu tunggu sebelum dan sesudah intervensi  dilakukan dengan T test berpasangan  dan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan  waktu tunggu pelayanan obat jadi dari rerata 56,42±27,22 menjadi 23,11±8,47 menit (p<0,05) dan obat racikan dari rerata waktu tunggu 83,21±26,93 menjadi 48,24 ±9,99 menit (p<0,05). Adanya perbaikan waktu tunggu berdasar  jumlah obat jadi  dalam 1 resep yaitu untuk 1-2 macam dari 18 menit   menjadi 14 menit, 3-5 macam dari rerata 50,85±21,06 menjadi 18,88±7,07  menit dan ≥6macam  dari rerata 62,95±31,02 menjadi27,58±7,50 menit. Kepuasan pasien terhadap waktu tunggu antara sebelum dan sesudah intervensi meningkat bermakna (p<0,05). Penyempurnaan SPO, pengaturan petugas disertai sosialisasi menurunkan waktu tunggu pelayanan obat farmasi dan meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap waktu tunggu obat secara bermakna.Kata Kunci: Instalasi farmasi, kepuasan pasien, pelayanan obat rawat jalan, waktu tunggu
Faktor Penyebab Waktu Tunggu Lama di Pelayanan Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSUD Blambangan Purwanto, Heri; Indiati, Indiati; Hidayat, Taufiq
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.8

Abstract

Instalasi Farmasi RSUD Blambangan merupakan revenue center bagi Rumah Sakit. Waktu tunggu pelayanan Apotek Rawat Jalan RSUD Blambangan belum sesuai Standar Pelayanan Minimal Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi, menentukan akar permasalahan dan menentukan alternatif solusi atas permasalahan waktu tunggu pelayanan Instalasi Farmasi. Metode untuk mengidentifikasi akar masalah digunakan analisis tulang ikan (fish bone ishikawa) dan dilakukan Focus Group Discussion. Untuk memprioritaskan akar masalah ini digunakan metode USG (Urgency, Serious, and Growth). Metode untuk alternatif solusi adalah Mc. Namara. Hasil penelitian menunjukan 3 akar masalah yaitu proses screening lama dan satu loket, jauhnya Poli Penyakit Dalam sebagai resep terbanyak, tempat penerimaan resep BPJS dan umum jadi satu loket. Solusi terpilih adalah menambah tenaga screening dan loket antrian. Sebelum menambah tenaga screening dan loket antrian, waktu tunggu rata-rata obat jadi 70,81 menit, racikan 139,85 menit. Setelah solusi waktu tunggu rata-rata obat jadi 63,88 menit, racikan 108 menit. Hasil solusi waktu tunggu mengalami penurunan, obat jadi 7 menit, racikan 31 menit.Kata Kunci: Antrian, instalasi farmasi, loket antrian, screening, waktu tunggu
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian di IGD Rumah Sakit Limantara, Rudy; Herjunianto, Herjunianto; Roosalina, Arma
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.013 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.15

Abstract

Angka kematian pada Instalasi Gawat Darurat merupakan indikator penting kinerja rumah sakit. Data angka kematian pada tahun 2013 sangat tinggi, baik GDR, NDR maupun kematian di IGD ≤ 24jam. Kajian dilakukan untuk mengevaluasi penyebab masalah tingginya angka kematian ≤ 24jam di IGD. Untuk mencari akar penyebab masalah digunakan analisis tulang ikan (fishbone) dengan data dari observasi, wawancara yang dibahas melalui FGD. Dalam memilih alternatif solusi digunakan teori tapisan Mc Namara. Gambaran pola kematian menunjukkan kematian terbesar pada 6-12 jam pertama yang juga dipengaruhi jenis morbiditas dan usia pasien. Analisis akar masalah mengidentifikasi faktor pre-hospital, sumberdaya manusia, dan kinerja monitoring komite mutu sebagai determinan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko kematian. Faktor kontributor utama adalah belum optimalnya standar prosedur operasional pengelolaan emergency meskipun response time sudah cukup optimal sehingga perlu dilakukan emergency drill secara berkala.Kata Kunci: Angka kematian, emergency drill, Instansi Gawat Darurat (IGD), Standar Prosedur Operasional (SPO)
Faktor-faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medis Dokter di Ruang Rawat Inap RSI Unisma Malang Lihawa, Cicilia; Mansur, Muhammad; S, Tri Wahyu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.085 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.1

Abstract

Ketidaklengkapan pengisian rekam medis di RSI Unisma Malang menggambarkan  pelayanan kesehatan yang diberikan dan  mutu pelayanan rekam medis. Salah satu indikator mutu pelayanan di unit rekam medis adalah kelengkapan pengisian rekam medis setelah pelayanan. Adanya ketidaklengkapan pengisian rekam medis setelah selesai pelayanan di ruang rawat inap RSI Unisma Malang perlu dicari penyebab dan solusinya. Pendekatan deskriptif dilakukan dengan metode studi dokumen, observasi unit pelayanan, dan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan tambahan pertanyaan terbuka untuk saran. Sampel dalam penelitian ini adalah dokter sejumlah 27 orang. Penentuan akar masalah menggunakan diagram fishbone, yang kemudian di tentukan salah satu menjadi prioritas masalah menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth) dan penetapan solusi dengan tapisan McNamara. Hasil menunjukkan peran faktor susunan form RM yang kurang sistematis dalam ketidaklengkapan pengisian rekam medis. Sebagai solusi untuk meningkatkan kelengkapan pengisian rekam medis  adalah dengan membuat rancangan form rekam medis terintegrasi. Kata Kunci: Dokter, ketidaklengkapan rekam medik, rawat inap
Implementasi Komunikasi Efektif Perawat-Dokter dengan Telepon di Ruang ICU Rumah Sakit Wava Husada Nazri, Fajar; S, Siti Juhariah; S, Muhammad Arif
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.11

Abstract

Komunikasi antara perawat dengan dokter melalui telepon di ruang ICU cenderung lebih berisiko terjadi kasus-kasus sentinel. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran implementasi komunikasi efektif perawat-dokter melalui telepon dan pengalaman perawat berkomunikasi dengan dokter. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi observasional deskriptif terhadap perawat di ruang ICU. Pengukuran frekuensi implementasi komunikasi perawat dengan dokter melalui telepon dilakukan menggunakan lembar audit teknik komunikasi SBAR dan TBAK, dan survey menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini ditemukan komponen A (Assessment) merupakan komponen komunikasi SBAR dengan frekuensi terendah (21%). Audit teknik komunikasi TBAK menemukan perawat tidak melakukan konfirmasi kembali (0%) ketika berkomunikasi dengan dokter melalui telepon. Permasalahan yang dialami perawat ketika berkomunikasi dengan dokter diantaranya perawat sulit menghubungi dokter (50%), dan perawat merasa mengganggu dokter sebelum berkomunikasi (50%). Kebiasaan dokter berkomunikasi dan pembatasan waktu telepon ruangan merupakan situasi sulit yang sering dialami perawat saat berkomunikasi. Lemahnya kemampuan perawat berkomunikasi dan belum adanya pembakuan teknik komunikasi adalah faktor penghambat komunikasi efektif. Pengembangan standar komunikasi efektif dengan telepon (n=8) dan pelatihan komunikasi bagi tenaga kesehatan (n=7) merupakan dua solusi terpilih. Penelitian ini mengidentifikasi lemahnya komunikasi telepon terutama dalam aspek penilaiaan dan konfirmasi kembali yang dapat meningkatkan risiko insiden keselamatan. Ketiadaan teknik komunikasi yang baku dan kelemahan kemampuan perawat untuk berkomunikasi merupakan akar pemasalahan komunikasi telepon yang tidak efektif yang dapat dikelola dengan standar komunikasi dan pelatihan.Kata Kunci: Dokter, ICU, komunikasi efektif, perawat, telepon
Faktor Penyebab Kurangnya Kinerja Surveilans Infeksi Nosokomial di RSUD Dr. Iskak Tulungagung Lelonowati, Dewi; Koeswo, Mulyatim; Rochmad, Kasil
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.13

Abstract

Surveilans infeksi nosokomial merupakan salah satu kegiatan dalam program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit.  Pada studi pendahuluan menunjukkan kegiatan pencatatan dan pelaporan infeksi nosokomial di RSUD Dr. Iskak Tulungagung (minimal 1 parameter) jauh lebih rendah dari Standar Pelayanan Minimal (SPM), meskipun sudah tersedia Tim PPI yang terlatih.  Hal ini mengindikasikan kinerja surveilans infeksi nosokomial belum berjalan dengan baik.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis dan menentukan solusi dari faktor penyebab kurangnya kinerja surveilans infeksi nosokomial di RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mempelajari dokumen-dokumen, wawancara terstruktur dan observasi dengan checklist.  Pencarian akar masalah dilakukan dengan melakukan Focus Group Discussion dengan peserta 19 perawat Infection Prevention Control Nurse (IPCN) dan Infection Prevention Control Link Nurse (IPCLN).  Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar komponen surveilans infeksi nosokomial belum dijalankan dengan benar sesuai Petunjuk Teknis Surveilans dari Kemenkes tahun 2010. Hal tersebut disebabkan belum adanya kebijakan untuk sosialisasi program kepada Tim PPI, kurangnya dukungan manajemen terhadap program dan sarana penunjang, serta belum adanya fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program surveilans infeksi nosokomial. Kesimpulan hasil tapisan pilihan solusi terbaik dengan metode Nominal Group Technique (NGT) dan metode CARL adalah pengadaan program pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan kepada Tim PPI untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap demi menunjang keberhasilan program surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit.Kata Kunci:  Pendidikan dan pelatihan, surveilans infeksi nosokomial, Tim PPI

Page 1 of 2 | Total Record : 19