cover
Contact Name
A. A. Sg. A. Sukmaningsih
Contact Email
sukmaningsih@unud.ac.id
Phone
+6285339155574
Journal Mail Official
journal_metamorfosa@unud.ac.id
Editorial Address
Jl. P.B. Sudirman, Kampus Sudirman, Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Metamorfosa: Journal of Biological Science
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 26558122     DOI : -
Core Subject : Science,
METAMORFOSA Journal of Biological Sciences is a peer reviewed electronic scientific journal published biannually March and September by the Masters Program in Biological Sciences Faculty of Mathematics and Natural Sciences Udayana University. The journal publishes original scientific works including research articles review articles literature reviews and case studies in the fields of basic and applied biology as well as related disciplines. Submitted manuscripts must be original unpublished elsewhere and written in either Indonesian or English.
Articles 48 Documents
Eksplorasi Streptomyces Sp. Di Hutan De Djawatan Banyuwangi Dan Aktivitasnya Dalam Menghambat Candida albicans Putu Anggita Sekar Pratiwi; Retno Kawuri; I Ketut Muksin
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p1

Abstract

Kandidiasis merupakan penyakit opportunistik akibat infeksi jamur Candida albicans yang menyerangmembran mukosa. Solusi untuk mengatasi adalah dengan memanfaatkan mikroorganisme penghasilsenyawa bioaktif berupa imunospresan, antibiotik, antijamur, antiinflamasi dari bakteri genusStreptomyces. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi Streptomyces sp. penghasilsenyawa bioaktif di hutan De Djawatan Banyuwangi dalam menghambat jamur C. albicans. Metodepenelitian mencakup pengambilan sampel tanah dari hutan De Djawatan, isolasi bakteri Streptomycessp. menggunakan plating method, serta identifikasi makroskopik dan mikroskopik. Uji daya hambatterhadap jamur patogen C. albicans dilakukan dengan metode dual culture. Hasil eksplorasi di hutan DeDjawatan Banyuwangi memperoleh total sebanyak 17 isolat dengan Streptomyces sp.7 memiliki dayahambat tertinggi sebesar 1,375 cm, sedangkan daya hambat terendah dimiliki oleh Streptomyces sp.12sebesar 0,783 cm terhadap C. albicans. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa hutan De DjawatanBanyuwangi berpotensi sebagai sumber Streptomyces sp. penghasil senyawa antijamur yangmendukung eksplorasi agen alami untuk mengatasi infeksi C. albicans.Kata kunci: Actinobacteria, antifungi, biokontrol, metabolit sekunder
Sintesis Nanopartikel Perak Menggunakan Bioreduktor Ekstrak Daun Melinjo (Gnetum gnemon Linn.) Dan Potensinya Sebagai Antibakteri Dinda Alithia Ningrum; Khairiza Lubis; Dinda Syahfitri; Dhifa Umairoh Putri; Cyndi Clodia; Hanifah Dzaky Fadillah; Gita Hartati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p4

Abstract

Meningkatnya resistensi bakteri mendorong pengembangan alternatif antimikroba seperti nanopartikel perak berbasis bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanopartikel perak yang disintesis menggunakan ekstrak daun melinjo (Gnetum gnemon Linn.) serta mengkaji potensinya sebagai agen antibakteri. Sintesis dilakukan dengan metode bioreduksi menggunakan rasio 1:30 antara ekstrak daun melinjo dan larutan AgNO₃, kemudian diamati perubahan warna larutan setiap jam sebagai indikator pembentukan nanopartikel. Karakterisasi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, FTIR dan PSA. Hasil UV-Vis menunjukkan puncak serapan maksimum pada panjang gelombang sekitar 421 nm setelah 24 jam, sedangkan nilai PDI sebesar 0,101 menunjukkan distribusi partikel yang relatif homogen dengan diameter ukuran rata-rata 116,2 nm. Hasil FTIR menunjukkan adanya tiga puncak utama pada 3279,51 cm⁻¹, 2114,65 cm⁻¹, dan 1635,42 cm⁻¹ yang mengindikasikan keberadaan gugus –OH, C≡C, dan C=O dari senyawa metabolit sekunder daun melinjo yang berperan dalam proses bioreduksi ion perak (Ag⁺) menjadi Ag⁰. Uji antibakteri dengan metode difusi cakram menunjukkan bahwa AgNPs hasil biosintesis menghasilkan zona hambat terhadap E. coli masing-masing sebesar 1,7 mm pada konsentrasi 50 µg/ml, 1,9 mm pada 75 µg/ml, dan 2,3 mm pada 100 µg/ml, sedangkan terhadap S. aureus sebesar 2 mm pada 50 µg/ml, 4 mm pada 75 µg/ml, dan 11,5 mm pada 100 µg/ml. Kata kunci: Nanopartikel perak, Gnetum gnemon, karakterisasi, bioreduktor, antibakteri
Pengembangan Sabun Kewanitaan Berbasis Nanopartikel Ekstrak Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans Secara In-Vitro Aisyah Rafiqah Azla Siregar; Ulfayani Mayasari; Rizki Amelia Nasution
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p2

Abstract

Candida albicans merupakan jamur penyebab kandidiasis vulvovaginal, dengan gejala peradangan, rasa gatal, keputihan berlebih, serta nyeri di vagina. Inovasi sabun kewanitaan berbasis nanopartikel ekstrak daun kayu manis (Cinnamomum burmannii) dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan alami terbaru, karena kandungan senyawa metabolit sekunder dan pembentukan partikel ekstrak dalam ukuran nanometer sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sabun kewanitaan berbasis nanopartikel ekstrak daun kayu manis (Cinnamomum burmannii) dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans secara in-vitro. Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang meliputi pembuatan dan skrining fitokimia ekstrak, pembuatan nanopartikel dengan High Speed Homogenizer (HSH) dan ultrasonifikasi, karakterisasi menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), uji aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dengan metode Kirby-Bauer, pemeriksaan SEM, serta analisis data. Hasil karakteristik nanopartikel memiliki tekstur sedikit lebih cair, berwarna coklat pekat dan tetap berbau daun kayu manis, dengan distribusi ukuran partikel 233,71 nm. Uji aktivitas antijamur nanopartikel ekstrak dengan konsentrasi 20%, 25%, 30%, 35%, dan 40%, dengan hasil zona hambat 10,8; 11,98; 18,15; 18,31; 18,73 mm. Sabun kewanitaan diformulasikan dengan nanopartikel ekstrak daun kayu manis 30% dan 35% karena mendekati standar Farmakope, dengan hasil zona hambat sabun sebesar 23,76 mm dan 25,08 mm. Evaluasi sabun menunjukkan bahwa sediaan memenuhi standar sesuai SNI. Hasil Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan kerusakan struktur sel jamur, berupa ruptur dan kebocoran dinding sel. Berdasarkan hasil uji aktivitas antijamur, sabun kewanitaan berbasis nanopartikel ekstrak daun kayu manis mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Uji Efektivitas Antibiotik Ekstrak Etanol Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus sureus dan Escherichia coli secara In Vitro Sang Ayu Bulan Dirga Pradnyani; Risma Ikawaty; Sajuni Widjaja; Sang Ketut Sudirga
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p3

Abstract

Bacterial infections caused by S. aureus and E. coli remain a major global health problem. Irrational antibiotic use has accelerated antimicrobial resistance, prompting the search for alternative antibacterial agents derived from natural products. Cinnamon leaves (Cinnamomum burmannii) contain various secondary metabolites with potential antibacterial activity. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of ethanolic cinnamon leaf extract against S. aureus and E. coli in vitro and to determine the most effective extract concentration. This laboratory-based true experimental study employed a post-test only control group design. Cinnamon leaf extract was prepared by maceration using 96% ethanol. Antibacterial activity was assessed using the well diffusion method on Mueller Hinton Agar at extract concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Ciprofloxacin served as the positive control, while 96% ethanol was used as the negative control. Phytochemical screening and antioxidant activity testing (DPPH method) were also performed. Data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Duncan post-hoc test. Result : Phytochemical screening revealed the presence of flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and phenolic compounds, with phenols as the dominant constituents. The extract exhibited moderate antioxidant activity based on IC₅₀ values. Antibacterial testing demonstrated that ethanolic cinnamon leaf extract inhibited the growth of both S. aureus and E. coli, with inhibition zones increasing in a concentration-dependent manner. The 75% concentration demonstrated optimal inhibitory activity, with no statistically significant difference compared to the 100% concentration (p > 0.05). Ethanolic cinnamon leaf extract (Cinnamomum burmannii) shows promising antibacterial activity against S. aureus and E. coli in vitro, indicating its potential as a natural antibacterial agent.
Histopatologi Testis Mencit (Mus musculus) yang Diberi Akrilamida dan Vitamin C Mathias Setiawan; Ngurah Intan Wiratmini; Ni Gusti Ayu Manik Ermayanti
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p7

Abstract

Akrilamida merupakan senyawa karsinogenik yang dapat ditemukan pada makanan yang mengandung karbohidrat yang diproses dengan suhu tinggi. Akrilamida berpotensi meningkatkanrisiko stres oksidatif. Vitamin C adalah antioksidan yang berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas akibat stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi vitamin C sebagai sitoprotektor organ reproduksi mencit (Mus muskulus) jantan yang diinduksi akrilamida. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan terdiri dari 2 kelompok kontrol yaitu kontrol negatif (K-) diberikan larutan normal salin (NaCl 0,9%) dan kontrol positif (K+) diberikan akrilamida 12,5 mg/kgBB. Kelompok perlakuan diberikan vitamin C dengan dosis berbeda dan akrilamida 12,5 mg/kgBB. Perlakuan pertama (P1) diberikan vitamin C dosis 0,26 mg/ekor/hari dan perlakuan kedua (P2) dengan dosis 0,52 mg/ekor/hari. Pemberian larutan vitamin C dan akrilamida diberikan secara oral sekali sehari dengan volume 0,3 mL selama 35 hari. Mencit dikorbankan pada hari ke-36 untuk pengamatan kualitas spermatozoa dan preparasi histologis organ testis dengan metode parafin. Parameter yang diamati adalah jumlah sel spermatogenik(jumlah sel spermatogonia, spermatosit dan spermatid) dan kerusakan pada tubulus seminferus testis (degenerasi, vakuolisasi dan terlepasnya sel ke dalam lumen). Data yang diperoleh dianalisis dengan one-way Anova dan diuji lanjut dengan Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian vitamin C pada mencit yang diinduksi akrilamida mampu meningkatkan spermatogenesis secara signifikan (p < 0,05) dan sel sel dapat pulih kembali dalam kondisi normal. Pemberian vitamin C berpotensi sebagai sitoprotektor terhadap sel-sel spermatogenik tubulus seminferus mencit yang diinduksi akrilamida. Dosis optimal vitamin C adalah 0,52 mg/kgBB.
Efektivitas Ekstrak Aceton Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Blume) Dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Aspergillus flavus Secara In Vitro Aida Nur Hikmah; Anak Agung Ketut Darmadi; Ni Made Susun Parwanayoni
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p6

Abstract

Aspergillus flavus merupakan salah satu jamur patogen yang mampu menghasilkan toksin yaitu, aflatoxin dapat mencemari produk pangan seperti jagung, dan kacang-kacangan sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi. Banyak pengendalian yang dapat digunakan, salah satunya adalah melalui pemanfaatan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun kayu manis (Cinnamomum burmanii Blume) mampu menghambat pertumbuhan jamur A. flavus. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui keefektivitas ekstrak aceton daun kayu manis, konsentrasi hambat minimum ekstrak aceton daun kayu manis yang mampu menghambat pertumbuhan jamur A. flavus, dan untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak tanaman daun kayu manis. Metode penelitian meliputi ekstraksi, reisolasi dan reidentifikasi jamur A. flavus, uji postulat koch, uji zona hambat ekstrak kasar daun kayu manis, uji MIC(Minimum Inhibitory Concentration), uji efektivitas dengan metode koloni dan uij skrining fitokimia. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran akan dianalisis menggunakan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) versi 25 dengan uji ANOVA. Hasil penelitian membuktikan bahwa esktrak kasar aceton daun kayu manis dapat mencegah perkembangan jamur A. flavus pada hasil rata-rata zona hambat sebesar 19,2 mm, MIC ektrak aceton daun kayu manis 0,3% dengan diameter sebesar 9,10 mm. Uji efektifitas ekstrak aceton daun kayu manis terhadap koloni jamur A. flavus menggunakan variasi konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4% dan 5 % memberikan presentase penghambatan berturut-turut masing-masing sebesar 1,1%, 8,9%, 13,3%, 21,1%, dan 31,1%. Ekstrak aceton daun kayu manis mengandung senyawa-senyawa metabolit sekunder meliputi alkaloid, flavonoid, fenolik,steroid, saponin, dan tanin. Kata kunci: anti jamur, ekstraksi, kayu manis, uji efektivitas, uji fitokimia
Keanekaragaman Jenis Lichen Tipe Corticolous Di Kawasan Kampus Bukit Jimbaran Universitas Udayana Badung Bali Mega Putri Firdaus; Ni Made Gari; Martin Joni
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p5

Abstract

Lichen atau lumut kerak merupakan organisme simbiotik hasil asosiasi antara fungi dan alga yang hidup epifit pada berbagai substrat. Lichen berperan sebagai tumbuhan pionir dan akumulator, serta memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Lichen termasuk ke dalam tumbuhan kosmopolit, yaitu tumbuhan yang dapat tumbuh dimana saja. Jenis lichen yang hidup pada permukaan kulit pohon disebut corticolous. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis serta karakteristik lichen corticolous yang ditemukan di kawasan Kampus Bukit Jimbaran Universitas Udayana Badung Bali, serta menganalisis tingkat keanekaragaman spesiesnya. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2024 menggunakan metode purpossive eksplorasi berdasarkan keberadaan pohon inang potensial di beberapa titik pengamatan. Identifikasi spesies dilakukan melalui observasi karakter morfologi talus, sedangkan analisis keanekaragaman secara kuantitatif menggunakan indeks Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 18 spesies lichen yang tergolong dalam sepuluh famili berhasil teridentifikasi, dengan distribusi yang bervariasi antar lokasi penelitian. Jenis lichen yang banyak ditemukan pada seluruh stasiun adalah spesies Dirinaria applanata (Fée) D.D. Awasthi. Selain itu, variasi bentuk talus yang ditemukan yaitu crustose, foliose, dan fructicose. Nilai indeks keanekaragaman tergolong dalam kategori sedang sebesar H' = 2,1289, yang mengindikasikan struktur komunitas yang relatif seimbang dan kualitas ekosistem yang tergolong baik. Kata kunci: Lumut kerak, tipe talus, purpossive eksplorasi, Shannon-Wiener.
A Review of Molecular Approaches for Sex Determination in Ornamental Fish I Dewa Agung Panji Dwipayana; Ni Luh Putu Kayika Febryanti; I Gusti Ayu Nadia Prasta Unique
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2026.v13.i01.p8

Abstract

The ornamental fish industry is a globally significant sector of aquaculture in which accurate sex identification is essential for optimizing breeding efficiency, economic value, and stock management. However, traditional phenotypic sexing methods are often unreliable due to late sexual dimorphism, environmental influences, and extensive strain divergence driven by domestication and selective breeding. This review synthesizes current knowledge on the biological basis of sex determination in ornamental fishes and evaluates molecular approaches used for sex identification across diverse genetic and environmental contexts. Teleost fishes exhibit exceptional diversity in sex determination systems, including XX/XY, ZZ/ZW, polygenic, and epigenetic system. Such diversity is often accompanied by selective breeding which may shuffle sex-determining regions. Consequently, no single molecular marker is universally applicable across ornamental taxa. PCR-based methods, such as SCAR, RAPD, AFLP, and InDel markers, remain the most accessible tools and are effective within validated populations, while next-generation sequencing enables genome-wide discovery of sex-linked SNPs and structural variants to provide high-resolution and reproducible diagnostics. Transcriptomic and epigenetic markers offer mechanistic insight into sex differentiation particularly in plastic or temperature-sensitive systems, although they are limited as standalone diagnostic tools. Emerging portable and point-of-care platforms show promise for on-site sex identification but require further validation in fish. This review emphasizes that robust molecular sexing in ornamental fish requires careful marker selection, multi-strain validation, and integration of genetic, epigenetic, and environmental data. Expanding genomic resources and standardized validation frameworks will be critical for translating molecular sexing into reliable, industry-wide applications.