cover
Contact Name
I Wayan Batan
Contact Email
bobbatan@yahoo.com
Phone
+6285855541983
Journal Mail Official
bobbatan@yahoo.com
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medicine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23017848     EISSN : 24776637     DOI : https://doi.org/10.24843/imv.2025.v14.i02
Core Subject : Health, Science,
Indonesia Medicus Veterinus accepts scientific articles related to the field of veterinary medicine and animal health. Manuscripts relating to animals and all their aspects are also accepted for publication. The article must have a minimum of two authors. A manuscript written by only one author cannot be accepted by the editors because a study is a collaborative effort. Accepted articles are original manuscripts that have not been published in scientific journals or news media. The manuscript can be written in Indonesian or English and should contain at least 3000 words. The article must include an abstract in both Indonesian and English. The article must be approved for publication by all authors listed, and their approval should be marked with a signature stamp on the hard copy sent to the editor.
Articles 10 Documents
Kombinasi Minyak Lavender, Pinus, dan Kayu Putih dalam Air Minum Menghambat Pertumbuhan Escherichia coli dan Coliform pada Ayam Petelur Antonia Jessica Runtu; Ida Bagus Komang Ardana; I Gusti Ketut Suarjana
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p01

Abstract

PENDAHULUAN: Kolibasilosis merupakan penyakit yang sering menyerang ayam petelur.  Selain itu, bakteri Escherichia coli dan Coliform juga dijadikan indikator sanitasi air dan hasil pangan. Penggunaan antibiotic growth promotor yang kini dilarang oleh pemerintah dapat digantikan oleh alternatif alami. TUJUAN: Mengetahui pengaruh dan dosis optimal pemberian kombinasi minyak esensial lavender, pinus, dan kayu putih melalui air minum dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Coliform. METODE: Penelitian ini menggunakan 24 sampel feses ayam petelur yang diambil secara acak.  Ayam petelur berusia 37-38 minggu diberi perlakuan yaitu kombinasi minyak lavender, minyak pinus, dan minyak kayu putih yang dicampur ke dalam air minum dengan dosis 0 mL/L (P0) sebagai kontrol, 0,1 mL/L (P1), 0,2 mL/L (P2) dan 0,3 mL/L (P3) selama 30 hari secara ad libitum dan sampel diambil pada hari ke-31.  Media pembiakan bakteri yang digunakan adalah Brilliance Escherichia coli/ Coliform Selective Medium dengan metode tuang.  Koloni bakteri Escherichia coli yang tumbuh ditunjukkan dengan warna ungu, sedangkan koloni Coliform berwarna merah muda.  Jumlah koloni bakteri dihitung, kemudian hasil data diolah menggunakan uji sidik ragam satu arah atau Oneway Analysis of Variance pada aplikasi SPSS. HASIL: Secara statistika kombinasi minyak lavender, pinus, dan kayu putih tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap ayam petelur.  Hasil rata-rata jumlah Escherichia coli terendah pada dosis 0,3 mL/L dan rata-rata jumlah Coliform terendah pada dosis 0,2 mL/L. SIMPULAN: Pemberian kombinasi minyak lavender, minyak pinus, dan minyak kayu putih dengan dosis 0,1 mL/L, 0,2 mL/L, dan 0,3 mL/L tidak dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Coliform secara signifikan pada ayam petelur
Pemetaan Korelasi dan Keragaman Ukuran Lebar Tubuh Kambing Peranakan Etawa (PE) di Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu Justukada Andrew Azarya Ponno; I Putu Sampurna; Ni Nyoman Werdi Susari
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p02

Abstract

PENDAHULUAN:  Kambing peranakan etawa merupakan salah satu jenis kambing yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena banyak memiliki keunggulan.  Kambing peranakan etawa memiliki fungsi sebagai penghasil daging dan susu, mampu berkembang biak dengan cepat, serta mampuberadaptasi dengan lingkungan dan pakan yang ada.TUJUAN:  Mengetahui korelasi dan keragaman pada ukuran lebar tubuh kambing peranakan etawa jantan dan betina yang telah dewasa.METODE:  Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 81 ekor kambing peranakan etawa yang terdiri atas 44 ekor jantan dan 37 ekor betina berumur 8-12 bulan dan secara klinis sehat.  Dilakukan analisis biplot dan panjang vektor untuk menggambarkan korelasi antarukuran lebar tubuh kambing, kemudian disajikan dalam bentuk grafik dan tabel.HASIL:  Hasil analisis biplot menunjukkan bahwa lebar leher kambing berkorelasi positif dengan lebar pinggul dan dada tetapi tidak berkorelasi dengan lebar kepala.  Maka dari itu, kambing yang ingin digunakan sebagai bibit maupun digemukkan harus berada di atas letak garis koordinat (Y=-X) atau kambing dengan ukuran lebar tubuh di atas rata-rata.  Hasil panjang vektor menunjukkan moderat (50-100%) dengan panjang vektor terkecil yaitu lebar pinggul 0,8687, lebar leher 0,8787, lebar dada 0,8818, dan lebar kepala 0,9677.  Dengan demikian, hasil panjang vektor semua ukuran lebar dinyatakan seragam.SIMPULAN:  Terdapat perbedaan korelasi pada ukuran lebar tubuh kambing peranakan etawa di Desa Umejero tetapi tidak terdapat perbedaan keragaman padanya.
Kualitas Organ Testis Sapi Bali yang Diawetkan dengan Metode Plastinasi Karet Silikon Room Temperature Vulcanizing-52 Ni Putu Surya Wiradnyani; I Nengah Wandia; I Gusti Agung Ayu Suartini
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p03

Abstract

PENDAHULUAN: Kadaver yang diawetkan dengan formalin kerap mengeluarkan bau menyengat yang dapat menjadi pencetus kanker saluran napas apabila terpapar dalam jangka waktu yang lama. Sementara itu, menghirup uap formalin dalam jangka waktu pendek dapat menyebabkan iritasi pada mukosa mata, hidung, dan tenggorokan. Plastinasi merupakan proses pengawetan organ yang dapat meminimalkan efek toksik dari penggunaan formalin dengan memasukkan bahan polimer sehingga mampu menjaga bentuk danstruktur jaringan organ. Organ testis merupakan salah satu organ penting dalam pembelajaran anatomi sistem reproduksi hewan.TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan tingkat ketahanan organ testis yang diawetkan dengan metode plastinasi menggunakan karet silikon Room Temperature Vulcanizing (RTV-52) untuk keperluan pembelajaran anatomi.METODE: Penelitian ini menggunakan lima pasang testis sapi bali. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari akuades, formalin, aseton, karet silikon cair RTV-52, dan katalis silikon. Organ testis kemudian diawetkan melalui empat tahapan plastinasi, yaitu: (1) fiksasi menggunakan formalin 10% selama tujuh hari; (2) dehidrasi dengan aseton 90% selama tujuh hari yang diulang satu kali; (3) impregnasi di dalam ruang vakum dengan perendaman dalam polimer karet silikon RTV-52 pada tekanan 10 cmHg selama empat hari; dan (4) curing yang dilakukan dengan menambahkan cairan katalis ke permukaan spesimen.HASIL: Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen plastinasi tidak berbau menyengat, berwarna pucat, memiliki tekstur padat dan kering, tetapi kurang lentur. Organ testis sapi bali tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan selama empat minggu pengamatan.SIMPULAN: Kualitas organ testis yang diawetkan dengan metode plastinasi karet silikon RTV-52 dapat menghasilkan spesimen yang memiliki tekstur kaku, berwarna kusam, dan berbau sedikit menyengat.
Kualitas Organ Hati Sapi Bali (Bos sondaicus) yang Diawetkan dengan Plastinasi Menggunakan Silikon Cair Made Baruna Yuwana Negara; I Nengah Wandia; Ni Nyoman Werdi Susari
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p04

Abstract

PENDAHULUAN: Plastinasi merupakan metode pengawetan spesimen kadaver anatomi dengan prinsip mengganti cairan atau lipid yang terkandung di dalam spesimen menggunakan material sintetis, seperti silikon.  Plastinasi dapat digunakan sebagai alternatif pengawetan dengan formalin karena dampak negatif yang ditimbulkan oleh formalin.TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna, bau dan tekstur terhadap spesimen yang diawetkan dengan metode plastinasi.METODE: Spesimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua organ hati sapi bali dengan bobot sekitar 2,0-2,5 kg.  Kedua organ hati diplastinasi menggunakan silikon cair RTV-52 (room temperature vulcanized) sebagai material sintetis pada tahap impregnasi.  Tahapan dalam plastinasi meliputi fiksasi, dehidrasi, impregnasi, pembersihan, dan curing.  Tahap fiksasi dilakukan dengan merendam spesimen di dalam formalin 10% selama tujuh hari untuk mencegah autolisis, dilanjutkan dengan dehidrasi menggunakan aseton murni 90% selama dua minggu untuk mengeluarkan cairan dan lipid spesimen, kemudian impregnasi di dalam ruang vakum berisi silikon cair RTV-52 selama dua hari dengan bantuan pompa udara agar silikon cair dapat masuk ke dalam spesimen.  Spesimen kemudian dibersihkan dan diberi katalis bening untuk membantu proses curing atau pengerasan.  Pengamatan pada spesimen dilakukan pada tiap tahapan plastinasi dengan metode pengamatan observasional.HASIL: Spesimen yang diamati pada tiap tahapan menunjukkan adanya perubahan dari segi warna, bau, dan tekstur.SIMPULAN: plastinasi dapat menghasilkan spesimen yang berwarna gelap dan kusam, tanpa bau menyengat, tidak mengiritasi dan memiliki tekstur yang lentur.
Laporan Kasus: Rinitis Kronis disertai Bronkitis Akibat Infeksi Bakteri pada Kucing Ras Bengal Yulia Khalifatun Nissa; I Putu Gede Yudhi Arjentinia; I Gede Soma
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p05

Abstract

PENDAHULUAN: Rinitis dan bronkitis merupakan kelainan pada rongga hidung dan bronkus yang ditandai dengan adanya peradangan.  Rinitis dan bronkitis yang tidak ditangani dengan cepat dapatmenjadi penyakit kronis yang biasanya disebabkan oleh bakteri.TUJUAN: Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit rinitis kronis dan bronkitis akibat infeksi bakteri pada kucing ras bengal.METODE: Hewan kasus berupa kucing bengal jantan berumur 1,5 tahun dengan bobot badan 3,5 kg diperiksa karena adanya keluhan bersin dan terdapat leleran berwarna gelap pada hidung yang telah berlangsung selama beberapa bulan secara intermiten dan tidak pernah dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan hematologi, sitologi discharge nasal, isolasi dan identifikasi bakteri, serta pemeriksaan radiografi dilakukan untuk meneguhkan diagnosis dan membuat rencana pengobatan.HASIL: Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya leleran sanguineous pada hidung, bersin, dan sesekali batuk, palpasi trakea menunjukkan respons batuk, serta auskultasi paru-paru terdengar bunyi crackles kasar.  Pemeriksaan hematologi menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis dan trombositopenia.  Pemeriksaan sitologi discharge nasal menunjukkan adanya bakteri berbentuk coccus, infiltrasi monosit, neutrofil, dan eritrosit dalam jumlah banyak.  Identifikasi dan isolasi bakteri dari swab nasal menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri Staphylococcus sp. dan Klebsiella sp.. Pemeriksaan radiografi terlihat adanya bronchial pattern yang mengindikasikan peradangan pada bronkus.  Kucing kasus didiagnosis mengalami rinitis kronis disertai bronkitis akibat infeksi bakteri dan ditangani dengan pemberian antibiotik doxycycline dan antiinflamasi methylprednisolone dua kali sehari, serta pemberian pakan khusus pemulihan dan multivitamin, penjemuran di bawah sinar matahari, penguapan, dan pembersihan leleran hidung.  Kucing kasus menunjukkan kesembuhan secara klinis yang ditandai dengan tidak adanya leleran pada hidung, batuk, bersin, maupun suara crackles pada paru-paru di hari ke-14 pascaterapi.SIMPULAN: Pengobatan rinitis kronis disertai bronkitis akibat bakteri dengan pemberian doxycycline, methtlprednisolone, pakan khusus pemulihan, multivitamin, serta manajemen pemeliharaan yang baik selama 14 hari menunjukkan keberhasilan.
Clinicopathology of a Domestic Pigeon Infected with Haemoproteus columbae: A Case Report  Putu Suandhika; Edwin Habibatul Wahidah; Palagan Senopati Sewoyo
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p06

Abstract

INTRODUCTION: Haemoproteosis, or pseudomalaria in pigeons, is a disease caused by theprotozoan Haemoproteus columbae. This disease is prevalent in subtropical and temperate regions. OBJECTIVE: The present case report delineates the occurrence of haemoproteosis in a pigeon, with a primary emphasis on describing the clinical condition, gross and histopathological alterations within the trachea, kidneys, and pancreas.METHODS: A male pigeon with blackish-gray feathers was purchased from Splendid Market, Malang, Indonesia. Physical examination was performed to identify any clinical abnormalities that might not have been noticed by the seller. Inspection showed the presence of ectoparasites across the pigeon’s feathers with no external wound.RESULTS: The ectoparasite Columbicola columbae was identified in the plumage through microscopic analysis, although the pigeon displayed no discernible clinical symptoms. Blood samples were obtained from the afflicted pigeon, and subsequent blood smear preparations were subject to Giemsa staining and microscopic observation. Notably, the microscopic examination revealed the presence of the parasite Haemoproteus columbae. Subsequently, the affected animal was euthanized through decapitation, and necropsy was conducted. Gross pathology examination revealed signs of inflammation in the trachea, renal punctate lesions, and hemorrhage and enlargement in the pancreas. Histopathological findings indicated necrotizing tracheitis, necrotizing interstitial nephritis, and pancreatitis.CONCLUSIONS: Based on these findings, the pigeon was diagnosed with haemoproteosis.
Kajian Pustaka: Cacar Monyet yang Terjadi pada Beberapa Hewan Kadek Ayu Wiadnyani; Made Shanty Meidiana; Kezia Joana Limarta; Rhenaldi Aulia Putra Wijaya; Luh Gede Winda Maheswari; I Wayan Batan
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p07

Abstract

PENDAHULUAN: Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit zoonosis yang muncul dengan prevalensi yang terus meningkat sehingga menimbulkan ancaman terhadap kesehatan manusia diseluruh dunia.TUJUAN: Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan informasi mengenai cacar monyet pada hewan yang terkait dengan sejarah, penyebab, penularan, tanda klinis, diagnosis, angka kesakitan (morbiditas), dan angka kematian (mortalitas).  Meskipun penelitian mengenai cacar monyet sudah pernah dilakukan, tapi hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai virus ini.METODE: Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah kajian literatur, dengan sumber yang dapat berasal dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan topik yang dibahas dari beberapa sumber pangkalan data.HASIL: Hewan pengerat dari Afrika mungkin dianggap sebagai reservoir, walaupun banyak spesies mamalia yang secara alami telah terinfeksi virus cacar monyet (MPXV).  Cacar monyet biasanya ditularkan dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan perantara droplet, cairan tubuh yang menular, atau melalui media lainnya.  Di Afrika, infeksi cacar monyet telah ditemukan pada banyak spesies hewan, di antaranya monyet, tikus gambia, dan tupai.  Laporan terbaru menunjukkan bahwa virus ini telah meluas hingga menginfeksi seekor anjing di Paris.  Tanda klinis pada cacar monyet di hewan diawali dengan demam, limfadenopati, dan timbul lesi pada kulit berupa vesikula.  Diagnosis cacar monyet pada umumnya didasarkan pada tanda klinis dan pengamatan epidemiologi.  Selain itu, peneguhan diagnosis dilakukan melalui isolasi atau pengujian materi genetik untuk mengidentifikasi virus.  Angka kesakitan (morbiditas) penyakit cacar monyet umumnya tinggi sedangkan angka kematiannya (mortalitas) terbilang rendah.  Tidak ada obat spesifik untuk cacar monyet sehingga pengobatan hanya bersifat simptomatik.  Manusia dan hewan yang kemungkinan besar tertular cacar monyet dapat diimunisasi menggunakan vaksin dari virus vaccinia.SIMPULAN: Cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus Monkeyfox dan bersifat zoonosis.  Selain pada monyet dan manusia, monkeyfox dapat menyerang hewan lain, seperti tupai, anjing, dan tikus.
Kajian Pustaka: Demam Keong atau Schistosomiasis pada Hewan dan Manusia I Made Beratha Mukti; Rima Nurmayani; Martin Pedro Krisenda Resman; Laras Ayu Nadira; Vinesia Ghona Gani; I Wayan Batan
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p08

Abstract

PENDAHULUAN: Schistosomiasis adalah penyakit parasit zoonosis dengan siklus penularan yang sangat kompleks.  Cacing daun Schistosoma tersebar di beberapa negara dengan spesies yang berbeda-beda, yakni, Schistosoma (S.) haematobium di 53 negara di Timur Tengah dan Afrika termasuk Mauritus dan Kepulauan Madagaskar; S. mansoni ditemukan pada 54 negara termasuk Afrika, Timur Tengah, Karibia dan Amerika Selatan; S. mekoni ditemukan di daerah Kamboja dan Laos; S. intercalatum ditemukan di daerah hutan lindung dan Afrika Tengah, serta; S. japonicum endemik di Cina, Filipina, dan Indonesia.  Schistosomiasis di Indonesia endemik di tiga daerah dataran tinggi yang relatif kecil dan terisolasi di sekitar Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.  Daerah tersebut meliputi rawa-rawa di sekitar Danau Lindu, khususnya di Desa Anca, Langko, Tomado, dan Puro'o.TUJUAN: Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk memberi penjelasan mengenai penyakit schistosomiasis.METODE: Metode yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah penelusuran literatur menggunakan buku, jurnal, dan artikel yang bersumber dari beberapa pangkalan data.HASIL: Gejala yang muncul akibat dari schistosomiasis adalah perut membesar, nafsu makan berkurang, selaput lendir mata pucat, anemia, lesu, sesak napas, mencret, bahkan biasanya terjadi kejang-kejang dan bila akut dapat menyebabkan kematian.  Metode diagnosis yang tersedia untuk mendiagnosis schistosomiasis, di antaranya pemeriksaan coproparasitological (CopE), diagnostik molekuler, dan imunologis.  Pencegahan penularan penyakit schistosomiasis yang paling utama adalah dengan pemberantasan terhadap keong Oncomelania huspensis karena keong tersebut merupakan inang atau perantara penyakit schistosomiasis dari satu manusia ke manusia lainnya.SIMPULAN: Penyakit schistosomiasis merupakan penyakit parasit zoonosis yang terdapat di beberapa negara, termasuk Indonesia.  Cacing S. japonicum merupakan spesies yang ditemukan di Dataran Tinggi Napu dan Bada, Kabupaten Poso, serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penyakit ini dapat menyebabkan beberapa gejala klinis hingga kematian.
Kadar Blood Urea Nitrogen dan Kreatinin Tikus Model Toksisitas Rhodamin B dan Sakarin yang Disuplementasi Yogurt Rosela Ungu Ajeng Erika Prihastuti; Erfan Nurudin; Anna Safitri; Aldila Noviatri; Tiara Widyaputri; Citra Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i02.p01

Abstract

PENDAHULUAN: Rosela ungu (Hibiscus sabdariffa) merupakan tanaman yang mengandung zat aktif antosianin dan memiliki antioksidan tinggi. Rosela ungu dapat dimanfaatkan untuk menangkal radikal bebas sehingga mencegah terjadinya kerusakan sel yang disebabkan oleh zat-zat toksik seperti rhodamin B dan sakarin.TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian yogurt rosela ungu terhadap kadar blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin dalam darah tikus (Rattus norvegicus) model toksisitas rhodamin B dan sakarin.METODE: Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 28 ekor tikus jantan umur 8-12 minggu yang dibagi menjadi tujuh kelompok perlakuan. Kelompok K(-) tidak diberi perlakuan, K1 diberi rhodamin B, K2 diberi sakarin, K3 diberi rhodamin B dan sakarin, P1 diberi yogurt rosela dan rhodamin B, P2 diberi yogurt rosela ungu dan sakarin, serta P3 diberi yogurt rosela ungu, rhodamin B, dan sakarin. Dosis rhodamin B adalah 22,5 mg/kg BB, sakarin 157,77 mg/kg BB, dan yogurt rosela ungu sebanyak 1 mL/ekor, diberikan secara oral selama 14 hari menggunakan sonde lambung. Konsentrasi ekstrak rosela ungu yang ditambahkan pada yogurt adalah 15% (v/v). Data dianalisis dengan uji sidik ragam satu arah (One Way Analysis of Variance), dilanjutkan dengan uji post-hoc Tukey menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 26.HASIL: Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kadar BUN dan kreatinin yang signifikan (p<0,05) pada kelompok K(-) dibandingkan K1, K2, K3, P1, P2, P3 serta K1, K2, K3 dibandingkan dengan P1, P2, P3.SIMPULAN: Pemberian yogurt rosela ungu dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar BUN dan kreatinin tikus model toksisitas rhodamin B dan sakarin. 
Bakteri dan Jamur Penginfeksi Kulit Burung Kakatua (Cacatua sp.) yang Mengalami Alopesia di Bali Bird Park I Gusti Ayu Oka Diva Santhini; Putu Ayu Sisyawati Putriningsih; I Gusti Ngurah Kade Mahardika
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i02.p02

Abstract

PENDAHULUAN: Burung kakatua (Cacatua sp.) merupakan salah satu burung eksotis yang banyak ditemukan secara endemik di Indonesia bagian tengah dan timur serta sering mengalami gangguan kesehatan, salah satunya adalah alopesia.  Alopesia pada burung kakatua dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi bakteri dan jamur.  Infeksi ini dapat memicu rasa gatal yang berlebihan, sehingga burung menggaruk atau mencabut bulunya sendiri, yang pada akhirnyamenyebabkan kebotakan (alopesia).TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri dan jamur pada burung kakatua yang mengalami alopesia di Bali Bird Park.METODE: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengambilan sampel ulas/swab permukaan kulit delapan ekor dari beragam jenis burung kakatua yang mengalami alopesia. Sampel bakteri dikultur pada media Nutrient Agar, sedangkan jamur dikultur pada media Sabouraud Dextrose Agar.  Identifikasi bakteri dilakukan melalui pewarnaan Gram dan jamur dilakukan dengan pewarnaan menggunakan methylene blue.  Burung kakatua pada penelitian ini hanya menunjukkan tanda klinis berupa alopesia tanpa adanya gejala lain yang biasanya menyertai infeksi kulit, seperti kemerahan, bintik-bintik, pembengkakan, atau luka terbuka.  Alopesia pada burung kakatua di Bali Bird Park terjadi secara spesifik di area ventral, mencakup bagian dada dan perut.HASIL: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel burung kakatua positif mengandung bakteri dan jamur.  Bakteri yang teridentifikasi meliputi genus Staphylococcus, Streptococcus, dan Bacillus, sedangkan jamur yang ditemukan termasuk genus Candida dan Aspergillus.SIMPULAN: Pada penelitian ini, alopesia yang diamati kemungkinan besar tidak disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur mengingat tidak adanya tanda-tanda khas infeksi.  Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi peran bakteri dan jamur tersebut pada alopesia burung kakatua.

Page 1 of 1 | Total Record : 10