cover
Contact Name
Wildani Hefni
Contact Email
annisauinkhas@gmail.com
Phone
+6285258113657
Journal Mail Official
annisauinkhas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
An-Nisa’ Journal of Gender Studies
ISSN : 20860749     EISSN : 26544784     DOI : https://doi.org/10.35719/jsnnqd91
Core Subject : Religion, Social,
An-Nisa’ Journal of Gender Studies focuses on contemporary issues in the field of gender studies within Muslim societies and global contexts, which specified as follows: - Gender, Violence, and Social Justice - Gender in Islamic Education and Religious Discourse - Gender, Culture, and Ecofeminism - Gender Policy and Women’s Empowerment
Articles 138 Documents
Leadership Dalam Bingkai Islam: Suatu Pemikiran Kolaboratif-Elaboratif Pada Perspektif Gender Dalam Menguak Kepemimpinan Perempuan: Leadership in the Islamic Framework: A Collaborative-Elaborative Approach to Gender Perspectives in Uncovering Women's Leadership Titiek Rohana Hidayati
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 1 No. 1 (2009): An-Nisa': Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The figure of a leader is often the subject of intense scrutiny from all sides, whether in terms of behavior, character, capabilities, or abilities. As such, these factors are often used to justify whether or not someone is capable of holding the role of leader. These are urgent considerations in determining a leader. In fact, if we look at historical data, the issue of leadership was the first problem that was disputed after the death of the Prophet SAW. At the very least, we do not find Arabic terms that explicitly mean state or government (dawlah and hukumah) mentioned explicitly in the Qur'an. In its development, some modern literature later reached agreements on matters that fall within the scope of leadership. Figur seorang pemimpin, acapkali menjadi sorotan tajam dari semua pihak, baik dari sisi perilaku, karakter, kapabilitas, dan kemampuannya. Sehingga, seringkali faktorfaktor tersebut seringkali dijustifikasi sebagai penanda mampu dan tidaknya seseorang memegang peran sebagai pemimpin. menjadi sisi-sisi urgen untuk menentukan sosok pemimpin. Bahkan, jika mengaca pada data historis, masalah pemimpin /kepemimpiann inilah yang menjadikan problem pertama yang diperselisihkan pasca wafatnya Nabi SAW. Paling tidak, kita tidak mendapatkan terma bahasa Arab yang secara eksplisit bermakna negara atau pemerintahan (dawlah dan hukumah) disebut-sebut oleh al-Qur`an dengan pasti. Dalam perkembangannya, di beberapa literatur modern kemudian didapatkankesepakatan-kesepakatan mengenai hal-hal yang menjadi wilayah kerja pemimpinan itu.
Partisipasi Perempuan Indonesia dalam Politik: Participation Of Indonesianwomen In Politics Wardah Hayati
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 1 No. 1 (2009): An-Nisa': Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian women still have a long way to go in fighting for their representation in political institutions. To date, the representation of women in legislative bodies remains very low compared to the female population. This article explores the importance of women's involvement in politics, the issues they face, and efforts to increase their participation. Masih memerlukan perjuangan yang panjang bagi wanita Indonesia untuk memperjuangkan keterwakilan mereka di lembaga-lembaga politik Sampai saat ini keterwakilan perempuan di lembaga legislatif masih sangat kecil jika dibanding jumlah populasi perempuan. Artikel ini dimaksudkan untuk menelusuri pentingnya keterlibatan perempuan di bidang politik, masalah-masalah yang dihadapi dan upaya untuk meningkatkan partisipasi mereka.
Cara Pandang Riffat Hasan Terhadap Konstruksi Teologis Gender: Riffat Hasan's Perspective On The Theological Construction Of Gender Win Usuluddin
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 3 No. 1 (2010): An-Nisa: Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fakta tak terbantahkan bahwa dehumanisasi terhadap perempuan masih saja terjadi hingga saat ini. Kekerasan dan bentuk lain dari ketidakadilan terhadap mereka masih selalu saja sering terdengar dan dengan mudah dapat saksikan. Tragisnya, perempuan oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai second class dan pada gilirannya apresiasi terhadap mereka pun belum sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat. Perempuan seringkali dibedakan dengan laki-laki, sehingga melahirkan diskriminasi dan ketidakadilan gender. Fenomena ketidaksetaraan gender baik berupa subordinasi, diskriminasi, maupun kekerasan pada perempuan agaknya telah mengubah kesadaran kaum feminis. Seorang feminis muslim kontemporer, Rifat Hasan, telah membuat upaya untuk merekonstruksi pemahaman teologis perempuan di dunia Islam yang dianggap sebagai akar ketidakadilan gender. Wanita dalam perspektif Riffat Hasan diciptakan tidak hanya sekedar untuk melengkapi kehidupan laki-laki, tetapi status Ontologis perempuan toh nyatanya tidak tergantung pada apa, kapan, dan dari mana mereka diciptakan, tetapi lebih pada peran yang dimainkan. It is an undeniable fact that the dehumanization of women still occurs today. Violence and other forms of injustice against them are still frequently heard and easily witnessed. Tragically, women are considered second class by some members of society, and as a result, society does not fully appreciate them. Women are often differentiated from men, giving rise to discrimination and gender inequality. The phenomenon of gender inequality, whether in the form of subordination, discrimination, or violence against women, seems to have changed the consciousness of feminists. A contemporary Muslim feminist, Rifat Hasan, has made efforts to reconstruct the theological understanding of women in the Islamic world, which is considered the root of gender inequality. Women, in Riffat Hasan's perspective, were not created merely to complement men's lives, but the ontological status of women is not dependent on what, when, and where they were created, but rather on the roles they play.
Konstruksi Epistemologis Fikih Feminis: Epistemological Construction Of Feminist Fiqh M. Ishaq
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 3 No. 1 (2010): An-Nisa: Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses Feminist Fiqh Construction, as a form of renewal in the interpretation of Islamic fiqh that focuses more on gender relations issues. In addition to being more empowerment-oriented, the epistemological construction of feminist fiqh also has its own characteristics that differ from the construction of fiqh in general. Therefore, Feminist Fiqh offers new hope for the creation of more humane gender relations. This discussion emphasizes the process of forming the Feminist Fiqh construction with an applied research orientation (tahbiqu al-ijtihad). Tulisan ini membahas seputar Konstruksi Fikih Feminis, sebagai salah satu bentuk pembaharuan penafsiran fikih Islam yang lebih fokus pada persoalan relasi-relasi gender. Kecuali lebih berorientasi pada pemberdayaan, konstruksi epistemologis fikih feminis juga mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan konstruksi fikih pada umumnya. Oleh karenanya, Fikih feminis memberikan harapan baru bagi terciptanya relasi gender yang lebih manusiawi. Uraian ini lebih ditekankan pada proses pembentukan konstruksi fikih feminis dengan orientasi applied research (tahbiqu al-ijtihad).
Perempuan Dan Pemahaman Agama (Refleksitentang Pemahamanagama Dalam Konteks Ketidakadilan Pada Perempuan): Women And Religious Understanding (Reflections On Religious Understanding In The Context Of Injustice Against Women) Hanifah el Adiba
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 3 No. 1 (2010): An-Nisa: Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Since its emergence, Islam has truly been fully committed to elevating the status and dignity of women. In line with its historical development, Islam and its teachings have been interpreted in various ways according to the epistemological frameworks of the scholars who interpret and explain these teachings. This has led to diverse interpretations of women, as if women were worthless. This paper is an attempt to examine the normative arguments that have long been the basis for the recognition and justice for women. More than that, this paper is intended to send a signal that the commitment to the elevation of the dignity and status of women has existed. A reflective study was conducted based on several data and notes that the author found in the field. The data and notes were collected through interviews with. Sejak kemunculannya Islam sesungguhnya telah memberikan komitmen yang utuh bagi pengangkatan harkat dan martabat perempuan. Sejalan dengan bentangan historisitasnya, Islam dan ajarannya lalu dimaknai secara beragam sesuai dengan corak bangunan epistemologis masing-masing ulama pemberi makna dan penafsir ajaran itu. Hal ini menghadirkan konsekwensi pada apresiasi yang beragam pula terhadap perempuan dan seolah perempuan menjadi tidak berharga. Tulisan ini merupakan sebentuk upaya untuk melakukan telaah terhadap dalil-dalil normatif yang selama ini menjadi dasar dari pengakuan dan keadilan bagi perempuan. Lebih dari itu tulisan ini dimaksudkan untuk menghadirkan signal bahwa komitmen atas pengangkatan harkat dan martabat wanita itu pernah ada. Kajian reflektif dilakukan berdasarkan beberapa datum dan catatan pendampingan yang penulis temukan di lapangan.
Filsafat Moral terhadap Otonomi Manusia (Tinjauan Peran Perempuan dalam Hubungan Antar Gender): Moral Philosophy on Human Autonomy (A Review of the Role of Women in Intergender Relationships) Daru Anondo
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 4 No. 1 (2011): AN-NISA': Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is an observation of women's autonomy as human beings in relation to their role in society. The assumption is that pressure in the women's emancipation movement throughout history has always changed and evolved. In the past, when polygamy was common, the core issue was equality of rights in the context of women's roles as wives/or mothers among other wives. Today, the issue revolves around the integrity of the role as a human being in development activities. In a global context influenced by world developments, women are fighting for equality in rights and obligations in all aspects of life, which is rarely found in reality. Autonomy is a concept that serves as motivation for human decision-making. And in the context of autonomy, women have not exercised their autonomy so they are still under pressure in decision-making. Artikel ini adalah sebuah observasi tentang otonomi wanita sebagai manusia terkait dengan perannya dalam masyarakat. Asumsi bahwa tekanan dalam gerakan emansipasi wanita dalam lintasan sejarah selalu berubah dan berkembang. Pada masa lalu saat poligami lazim dilakukan, inti permasalahannya adalah tentang ekualitas hak dalam konteks peran wanita sebagai seorang istri/atau ibu diantara istri-istri lainnya. Saat ini permasalahannya berkisar pada integritas peran sebagai manusia dalam aktivitas pembangunan. Dalam konteks global yang dipengaruhi oleh perkembangan dunia, wanita berjuang untuk kesetaraan dalam hak dan kewajiban dalam semua aspek kehidupan, yang jarang ditemui dalam kenyataan. Otonomi adalah konsep yang menjadi motivasi dimana aktivitas keputusan manusia didasarkan. Dan konteks otonomi, wanita belum menggunakan otonominya sehingga mereka masih dalam tekanan dalam pengambilan keputusan.
Kepemimpinan Kepala Desa Perempuan di Mata Masyarakat: The Leadership of Female Village Heads in the Eyes of the Community Inayatul Mukarromah
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 4 No. 1 (2011): AN-NISA': Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A female leader is born with three constructs: biological, religious, and socio-cultural. Based on these three constructs, sometimes a female leader still experiences injustice and tends to be discriminated against by the public. Some of the functions and abilities of a woman include: being mature and level-headed. A female village head is expected to be more mature, especially in making and taking decisions, considering the opinions and wishes of others, and placing her own desires in the context of her relationships with others. A female village head is expected to be more mature and mature, especially in making and taking decisions, considering the opinions and wishes of others, placing her own desires in the context of her relationships with others, and controlling herself. Independent and confident. It is very common for a woman to depend on a man for everything she needs, hopes for, and even desires. If a leader, especially a female leader, always relies on others, particularly in decision-making and other matters, and also lacks confidence in facing situations and conditions around her, then the community will view this as very negative and tend not to trust that leader. In Citizenship. An independent female leader with strong self-confidence who always sets aside her biological status, which is different from that of men, is what society needs. According to the country's laws and regulations, women today essentially face no barriers to doing whatever they want. Based on this, many women have begun to open up new paradigms by running for office as members of the Council, governors, regents, and even village heads. Based on the self-determination they possess, many of them are able to bring about more positive changes for their communities and the regions they lead compared to men. Able to maintain a good reputation. A female leader is very complex with various things that must be considered, especially those related to her reputation, her family, and the community and region she leads, as well as maintaining her identity as a female leader. A female village chief will face many challenges, including tests or trials when interacting with the community. Sometimes she is hindered by her status as a woman. Able to control anger and emotions. A female leader is often less able to control her emotions and feelings compared to a male leader. These feelings typically This feeling arises from a sense of loss of power and even a tendency to feel weak and depressed. This is usually caused by several factors, including the feeling that someone is trying to remove them from the power they have held, often feeling unfairly criticized by others about their performance, feeling that everything they do is of no benefit to the community, leading the community to feel indifferent and unappreciative of all their efforts for the village's progress, feeling that their direction and movement are severely limited due to their biological status, and the most critical factor is when a female leader feels inferior in the presence of others. Understanding management and leadership. Management includes: act, plan, check, and do. Physical and mental health. Given the extremely balanced burden that a female village chief must bear, which includes productive burdens, reproductive burdens, social and cultural burdens, and other burdens. Therefore, a female village chief is required to pay more attention to her health. Seorang pemimpin perempuan di lahirkan dengan tiga тасат konstruksi yaitu konstruksi biologis, agama dan sosial budaya.Berdasarkan tiga konstruksi tersebut terkadang seorang pemimpin perempuan masih saja mendapatkan ketidak adilan dan cenderung di deskriminasikan oleh publik.Beberapa fungsi dan kemampuan seorang wanita antara lain; Dewasa dan matang dalam bersikap. Seorang kepala desa perempuan di harapkan lebih dewasa dan matang terutama dalam membuat dan mengambil keputusan, mempertimbangkan pendapat dan kehendak orang lain, menempatkan keinginan diri sendiri dalam konteks hubungannya dalam orang lain, mengendalikan diri.Mandiri dan Percaya Diri.Identik sekali seorang perempuan biasanya menggantungkan segala yang dia butuhkan, harapkan bahkan yang di inginkan dengan bantuan seorang lakilaki.Jika Seorang pemimpin terutama pemimpin perempuan selalu menggantungkan dirinya pada orang lain terutama pada penetapan dan pengambilan keputusan dan lainnya, dan juga kurang percaya diri dalam menghadapi situasi dan kondisi sekitar maka masyarakat akan menganggap hal yang sangat negative dan cenderung tidak percaya kepada pemimpinnya tersebut. Dalam Kewarganegaraan. Seorang pemimpin perempuan yang mandiri dengan di tunjang rasa percaya diri yang kuat dan senantiasa selalu mengesampingkan status biologisnya yang berbeda dengan laki-laki inilah yang di butuhkan masyarakat. Menurut keadaan perundang-undangan Negara, dewasa ini wanita pada hakikatnya tidak ada hambatan untuk melakukan apа saja yang di inginkan. Berdasarkan ini pula banyak wanita yang mulai membuka paradigma- paradigma baru dengan cara mencalonkan diri sebagai anggota Dewan, Gubernur, bupati dan bahkan Kepala desa.Berdasarkan self determination yang mereka miliki inilah banyak di temui beberapa dari mereka bisa lebih baik membawa perubahan yang positive bagi masyarakatnya dan wilayah yang di pimpinnya di banding dengan laki-laki. Mampu menjaga nama baik .Seorang pemimpin perempuan sangatlah kompleksitas dengan berbagai hal yang nantinya harus di perhatikan terutama dengan hal yang menyangkut nama baik dirinya, keluarganya dan masyarakat serta wilayah yang di pimpinnya serta татри теmelihara jati dirinya sebagai pemimpin perempuan.Seorang pemimpin Kepala desa perempuan akan mengalami banyak kendala termasuk ujian atau coba'an ketika terjun di tengah - tengah masyarakat.Kadang seringkali terkendala dengan statusnya sebagai perempuan Mampи menahan amarah dan emosi.Seorang pemimpin perempuan biasanya lebih tidak bisa mengendalikan emosi dan persaannya di banding dengan pemimpin laki -laki.Perasaan - perasaan tersebut biasanya muncul akibat merasa kehilangan kekuatan bahkan cenderung merasa lemah dan terpuruk hal ini biasanya di sebabkan beberapa faktor antara lain merasa ada yang hendak menjatuhkan dirinya dari kekuasaannya yang telah di embannya, sering kali merasa di kritisi secara tidak adil oleh orang lain tentang kinerjanya, merasa segala hal yang dia lakukan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat sehingga masyarakat merasa acuh dan cenderung tidak menghargai segala jerih payahnya demi kemajuan desa tersebut, merasa arah dan geraknya sangat terbatas karena status biologisnya dan hal yang paling fatal adalah manakala seorang pemimpin perempuan merasa rendah di hadapan orang lain. Mengerti management dan Leadership.management yang meliputi meliputi; act, plan, check dan do.Sehat jasmani dan rohani.Berdasarkan beban yang sangat imbang yang harus di pikul oleh seorang pemimpin kepala desa perempuan yang di antaranya meliputi beban produktif, beban reproduktif, beban sosial budaya dan beban yang lainnya. Maka berdasarkan itu pula seseorang pemimpin kepala desa perempuan di tuntut lebih intens guna memperhatikan lebih terhadap kesehatannya.
Fenomena Cyborg dan Lenyapnya Sifat Feminis: The Cyborg Phenomenon and the Disappearance of Feminine Traits Siti Raudhatul Jannah
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 4 No. 1 (2011): AN-NISA': Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Technological advances allow us to create robots that can be studied from psychological and social perspectives as a unified set of actions. The goal is to mimic the highly complex brain so that these robots can become truly intelligent. Robots will never be the same as humans, due to the simple fact that humans have random thought processes and often make mistakes. Machines cannot be forced to think in the same patterns as humans. On the other hand, cyborgs, a cybernetic mechanism, a combination of machine and organism, a creation of social reality and also fictional imagination, are now increasingly existent. In America, 10% of the population is currently estimated to be “cyborgs” in the technical sense. That is, people who use electronic pacemakers, artificial joints, drug implantation systems, corneal lens implants, artificial skin. In turn, cyborgs exist within social reality, living within social relationships, even political structures. Feminist thinker Donna Haraway observes that the cyborg myth holds the potential for radical political action, much like the freedom feminists seek in finding common ground with one another. Aspek teknologi memungkinkan kita menciptakan robot-robot yang dapat dipelajari melalui perspektifpsikologi dan sosial sebagai kesatuan fungsi tindakan. Tujuannya untuk meniru otak yang sangat rumit sehingga robot-robot iersebut bisa menjadi benar-benar pintar. Robot takkan pernah menjadi sama seperti manusia, dikarenakan fakta sederhana bahwa manusia memiliki proses berpikir yang acak dan sering membuat kesalahan. Mesin tak bisa dipaksa untuk berpikir dengan pola yang sama seperti manusia. Di sisi lain, cyborg, sebuah mekanisme sibernetik, suatu perpaduan antara mesin dan organisme, ciptaan dari realitas sosial dan juga rekaan fiksi, kini kian eksis. Di Amerika, 10% dari populasinya saat ini diperkirakan adalah "cyborg" dalam arti teknis. Yaitu orang-orang yang menggunakan elektrorik pacemaker, tulang sendi tiruan, sistim implantasi obat, impan lensa kornea, kulit tiruan. Pada gilirannya, cyborg ada dalam realitas sosial, hidup dalaт hubungan sosial, bahkan konstruksi politik. Tokoh feminis Donna Haraway melihat bahwa mitos cyborg memiliki potensi untuk melakukan tindakan politik yang radikal sebagaimana kebebasan yang dimiliki para femnis mencari kesamaan satu sama lain.