Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen: Arastamar
Ruang lingkup kajian publikasi difokuskan pada; Pendidikan agama formal, non-formal, dan informal Kurikulum dan metode pembelajaran pendidikan agama Pengembangan media dan teknologi dalam pendidikan keagamaan Studi pemikiran tokoh dalam pendidikan agama Moderasi beragama dan pendidikan karakter Isu-isu kontemporer dalam pendidikan keagamaan Pengelolaan lembaga pendidikan berbasis keagamaan Pendidikan multikultural dalam perspektif agama
Articles
25 Documents
Integrasi Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Mengembangkan Pemikiran Kritis Teologis Siswa
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 2 (2025): Juni : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i2.42
Christian Religious Education (CRE) plays a strategic role in shaping students’ faith, character, and theological thinking. However, CRE learning is often delivered in a one-way manner, emphasizing doctrinal memorization, which hinders the development of contextual and critical faith reflection. This study aims to evaluate the implementation of the inquiry-based learning strategy in CRE and to assess its effectiveness in fostering students’ theological critical thinking. The central issue addressed in this research is the low level of student engagement in meaningful learning processes and their limited ability to connect faith teachings with real-life contexts. Employing a descriptive qualitative approach through in-depth analytical study, this research offers a novelty in the integration of inquiry strategies that enable students to ask questions, investigate, discuss, and reflect on faith teachings actively and contextually. The findings reveal that this strategy significantly enhances students’ understanding of biblical values, cultivates reflective theological responses, and strengthens the relevance of CRE to real-life situations. Inquiry-based learning proves to be a transformative and applicable pedagogical approach for contemporary CRE instruction.
Dampak Pernikahan Usia Dini pada Keharmonisan Rumah Tangga
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 2 (2025): Juni : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i2.46
This study aims to analyze the impact of early marriage on household harmony from a Christian faith perspective. The main issue examined is how marriage at an immature age affects the dynamics of the husband-wife relationship, emotional stability, and the overall quality of family life. The research method employed is a literature study using a descriptive qualitative approach, in which theological, psychological, and sociological literature serve as the primary sources of analysis. The novelty of this research lies in the integration of Christian faith values in assessing an individual's readiness for marriage as a sacred covenant rather than merely a social contract. The findings indicate that early marriage poses a high risk of household disharmony due to emotional immaturity, economic instability, and a lack of spiritual understanding. The study concludes that faith formation and character education based on Christian values are essential from adolescence to prevent early marriage and to build families that are spiritually, emotionally, and socially resilient.
Implikasi Konsep Sanctification John Wesley sebagai Upaya Membangun Nilai-nilai Kekristenan bagi Pemuda
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.50
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pergeseran nilai dan krisis moral yang dialami oleh pemuda Kristen, khususnya di Jemaat GMIM Gloria Taratara, yang ditandai dengan perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, konsumsi alkohol, serta melemahnya fondasi iman. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implikasi konsep sanctification menurut John Wesley sebagai dasar pembentukan nilai-nilai kekristenan di kalangan pemuda. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi, yang menekankan pemahaman makna pengalaman spiritual pemuda dan penghayatan iman dalam konteks sosial. Masalah utama penelitian terletak pada disorientasi spiritual pemuda yang lebih menekankan kebebasan diri daripada kekudusan hidup. Kebaruan penelitian terlihat pada penerapan konsep sanctification Wesley sebagai kerangka teologis dan praktis pembinaan iman, berbeda dari penelitian terdahulu yang lebih menyoroti faktor etika dan pengaruh lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip sanctification berperan penting dalam membentuk pemuda Kristen yang kudus, berintegritas, dan berkomitmen pada pelayanan. Dengan demikian, sanctification dipahami bukan hanya sebagai doktrin, melainkan strategi transformatif untuk membangun iman, moralitas, dan tanggung jawab sosial secara kontekstual.
Nilai-nilai Teologi Praktis menurut Pete Ward untuk Membentuk Karakter Remaja Kristen
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.51
Artikel ini membahas nilai-nilai teologi praktis yang berperan penting dalam pembentukan karakter remaja Kristen di era globalisasi yang semakin kompleks. Teologi praktis sebagai cabang teologi yang menekankan penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari, menawarkan pendekatan yang relevan dan kontekstual dalam membentuk kepribadian remaja yang berkarakter baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi lapangan dan studi pustaka. Data dikumpulkan melalui observasi dan kajian literatur, serta eksplorasi pandangan orang tua remaja Kristen serta jemaat dan pihak Gereja Masehi Injili di Minahasa terhadap karakter remaja Kristen di lingkungan mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kasih, iman, pengharapan, pengampunan, dan tanggung jawab perlu diterapkan dalam kehidupan remaja untuk membentuk karakter yang mencerminkan ajaran Kristus. Selain itu, keterlibatan aktif gereja dan keluarga dalam proses pembinaan sangat menentukan arah pertumbuhan iman dan karakter remaja. Artikel ini diharapkan dapat mendorong kesadaran baru di kalangan remaja Kristen untuk menjalani kehidupan yang bermakna, sesuai dengan nilai-nilai kekristenan di tengah kompleksitas dunia modern.
Sumbangsih Perspektif Dietrich Bonheoffer dalam Membangun Kinerja Komisi Pelayanan Pemuda
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.52
Pemikiran Dietrich Bonhoeffer mengenai pemuridan sejati menjadi titik tolak evaluatif terhadap kinerja Komisi Pelayanan Pemuda GMIM. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas pelayanan yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara panggilan sebagai pelayan dan praktik yang dijalankan oleh sebagian komisi pemuda, seperti rendahnya partisipasi, kurangnya kedisiplinan rohani, serta minimnya pembentukan komunitas iman. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi, penelitian ini menggali secara mendalam bagaimana konsep kasih karunia mahal, ketaatan, pengorbanan, dan hidup bersama dalam komunitas dapat diaplikasikan dalam konteks pelayanan kategorial pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Bonhoeffer mampu menjadi model pembinaan rohani yang transformatif dan relevan dalam menjawab tantangan pelayanan pemuda masa kini. Aplikasi praktisnya mencakup pembentukan spiritualitas pemuridan, pemimpin yang taat, serta komunitas yang saling membina dalam iman.
Pemaknaan Doa dalam Perspektif Martin Luther sebagai Sumbangsih bagi Kehidupan Pemuda Masa Kini
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.53
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali makna dan fungsi doa dalam kehidupan rohani pemuda Kristen masa kini dengan menjadikan pemikiran Martin Luther sebagai landasan teologis. Masalah utama yang diangkat adalah menurunnya kualitas kehidupan doa di kalangan pemuda, yang ditandai dengan pemaknaan yang dangkal serta praktik doa yang tidak konsisten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan data melalui wawancara terhadap beberapa pemuda gereja untuk memahami pandangan dan kebiasaan mereka dalam berdoa. Keunikan penelitian ini terletak pada usaha menghubungkan pemikiran teologi reformatoris Martin Luther tentang doa dengan krisis spiritual yang dihadapi generasi muda masa kini, sebuah pendekatan yang jarang dilakukan dalam studi sejenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemuda memahami doa secara umum, namun belum menjadikannya sebagai kebutuhan rohani. Pemikiran Luther yang menekankan doa sebagai nafas iman dan bentuk relasi pribadi dengan Allah dapat memberikan arah baru dalam membangun kehidupan doa yang lebih mendalam, tekun, dan bermakna di tengah tantangan zaman.
Pendekatan Bermotif Kepemimpinan Sahabat untuk Menciptakan Persekutuan Ramah Generasi Z
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.54
Penelitian ini membahas pentingnya pendekatan kepemimpinan sahabat dalam menciptakan persekutuan yang ramah bagi generasi Z (Gen Z) di lingkungan gereja. Gen Z memiliki karakteristik unik, seperti apresiasi tinggi terhadap keotentikan, relasi yang sejajar, serta ketertarikan pada ruang yang inklusif dan partisipatif. Sayangnya, dalam banyak konteks jemaat lokal, persekutuan masih didominasi oleh gaya kepemimpinan formal, hirarkis, dan kurang dialogis. Melalui metode kualitatif, data diperoleh dari studi pustaka, pengamatan dan wawancara dengan Gen Z. Hasil menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan Gen Z terhadap pemimpin sebagai sahabat dan kenyataan bahwa sebagian besar pemimpin masih berjarak dan kaku. Pendekatan kepemimpinan sahabat, sebagaimana dikembangkan oleh Yoas Adiprasetya, memberi landasan teologis yang kuat untuk membentuk persekutuan gereja sebagai komunitas yang saling mendukung dalam kasih. Dengan menerapkan gaya kepemimpinan ini, gereja dapat menciptakan ruang aman dan relevan bagi pertumbuhan iman Gen Z.
Relasi Pranikah di Era Digital: Tantangan Teologis dan Tanggung Jawab Edukatif bagi Pasangan Kristen
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.56
Kemajuan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap dinamika relasi pranikah, termasuk di kalangan pasangan Kristen. Relasi yang dulunya dibangun secara langsung dan bertahap kini mengalami transformasi melalui media sosial dan komunikasi digital yang serba instan. Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana tantangan relasi pranikah di era digital dapat dipahami secara teologis dan edukatif, serta sejauh mana integrasi keduanya mampu membimbing pasangan Kristen menjalani relasi yang kudus dan sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan prinsip-prinsip teologis dan tanggung jawab edukatif dalam membina relasi pranikah Kristen di tengah tekanan budaya digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka dengan pendekatan reflektif dan sintesis tematik. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan teologi relasi dan pendidikan Kristen secara kontekstual terhadap fenomena relasi pranikah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi yang dibentuk tanpa dasar teologis dan pendampingan iman rentan mengalami kedangkalan spiritual, pseudo-intimacy, dan pelanggaran kekudusan. Oleh karena itu, gereja dan pendidikan iman Kristen perlu merespons tantangan ini melalui pembinaan karakter, pendampingan rohani, dan strategi edukatif berbasis nilai Injil yang relevan dengan konteks digital masa kini.
Upaya Pemulihan Spiritual dan Psikologis melalui Pendampingan Pastoral terhadap Janda di GBKP Batu Layang
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 3 (2025): September : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i3.59
Kehilangan pasangan hidup merupakan peristiwa yang sangat mengguncang secara emosional dan spiritual, terutama bagi para janda. Mereka kerap menghadapi kesepian, kesedihan mendalam, bahkan krisis iman. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana pendampingan pastoral dapat menjadi sarana efektif dalam memulihkan kondisi spiritual dan psikologis janda di GBKP Batu Layang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan pastoral yang melibatkan konseling, kunjungan jemaat, doa bersama, dan penguatan iman secara bertahap mampu membantu para janda mengalami pemulihan batin, mengatasi kesedihan, serta memulihkan relasi mereka dengan Tuhan dan sesama. Studi ini menekankan pentingnya kehadiran gereja yang peduli dan aktif dalam menjangkau janda sebagai bagian dari pelayanan kasih Kristiani. Hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh gereja di Batu Layang, di mana gereja menjadi garam dan terang bagi para janda sehingga mereka merasa diperhatikan, perasaan mereka tidak merasa sendiri di dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Misi Sebagai Pedagogi Pembebasan: Suatu Pendekatan Teologis terhadap Pendidikan dan Transformasi Sosial
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 1 No. 4 (2025): Desember : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63536/arastamar.v1i4.66
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan pemahaman misi gereja yang masih direduksi pada pewartaan Injil secara verbal dan aktivitas internal gereja, sehingga kurang memberi perhatian pada dimensi pendidikan iman dan transformasi sosial. Reduksi tersebut menyebabkan misi sering terlepas dari realitas ketidakadilan sosial dan proses pembentukan kesadaran kritis umat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji serta merumuskan kembali misi gereja sebagai proses pendidikan iman yang bersifat pembebasan, dialogis, dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teologis-kritis melalui integrasi kerangka teologi pembebasan dan pedagogi kritis sebagai lensa konseptual. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemahaman misi gereja sebagai praksis pedagogis yang menyatukan refleksi teologis, pembentukan kesadaran kritis, dan keterlibatan sosial umat dalam satu kesatuan kerangka teologis yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi sebagai pedagogi pembebasan berfungsi sebagai sarana pembentukan kesadaran iman, praksis pembebasan yang kontekstual, serta pendidikan transformasional dan dialogis. Dengan demikian, misi gereja dipahami sebagai proses pedagogis integral yang memampukan gereja berpartisipasi secara aktif dalam missio Dei melalui transformasi kehidupan sosial yang berkeadilan.