Articles
45 Documents
APOPTOSIS DAN RESPON BIOLOGIK SEL SEBAGAI FAKTOR PROGNOSA RADIOTERAPI KANKER
Siti Nurhayati;
Yanti Lusiyanti
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (949.548 KB)
Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta merupakan penyakit keganasan yang bisa mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Sel kanker adalah sel normal yang mengalami mutasi/perubahan genetik dan tumbuh tanpa terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Proses pembentukan kanker (karsinogenesis) merupakan kejadian somatik dan sejak lama diduga disebabkan karena akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan perubahan dalam pengaturan normal kontrol molekuler perkembang biakan sel. Perubahan genetik tersebut dapat berupa aktivasi proto-onkogen dan atau inaktivasi gen penekan tumor yang dapat memicu pembentukan tumor. Berbagai macam percobaan (bahkan sampai jutaan) telah dilakukan untuk mempelajari karakteristika suatu kanker dengan menggunakan hewan percobaan seperti tikus, mencit, anjing, domba, bahkan organisme bersel tunggal, dll [1].
TEKNIK PEMANTAUAN KONTAMINASI BAHAN RADIOAKTIF DI UDARA
Gatot Suhariyono
Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (479.652 KB)
Pemantauan kontaminasi bahan radioaktif di udara sangat penting untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja dan masyarakat pada umumnya di sekitar instalasi nuklir. Hal ini karena kontaminasi udara adalah salah satu faktor utama sebagai penyebab pajanan terhadap individu melalui pernapasan dan pencernaan makanan, dan sebagai penyebab difusi kontaminasi terhadap lingkungan. Pemantauan dilakukan dengan melakukan pencuplikan sampel udara, pengukuran dan evaluasi hasil pengukuran dengan teknik yang disesuaikan dengan tipe kontaminan di udara. Kontaminasi radioaktif di udara dari segi proteksi radiasi, dapat dikelompokkan ke dalam tiga tipe yaitu : a) aerosol b) gas pada umumnya (seperti 3H, 14CO2) dan gas mulia (41Ar, 85Kr, 133Xe, 135Xe, 222Rn) c) gas volatil (seperti 131I, 129I, 125I, 32P, 35S) dan uap air (seperti HTO, DTO, T2O) [1]
MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN DOSIMETER PERORANGAN DI MEDAN RADIASI CAMPURAN
Mukhlis Akhadi
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (149.424 KB)
PENDAHULUANBerbagai jenis radiasi pengion yang digunakan dalam kegiatan pemanfaatan teknik nuklir berpotensi memberikan efek merugikan terhadap tubuh manusia apabila papar- an radiasinya berlebihan. Setiap pekerja radiasi selalu mempunyai resiko terkena paparan radiasi pengion selama menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu, faktor keselamatan manusia harus mendapatkan prioritas utama. Sudah barang tentu pemanfaatannya akan lebih sempurna jika faktor kerugian yang mungkin timbul dapat ditekan serendah mungkin atau dihilangkan sama sekali. Salah satu cara untuk meng- hindari terjadinya pemaparan radiasi pengion yang berlebihan terhadap tubuh manusia adalah dengan melakukan pemantauan rutin dosis perorangan para pekerja radiasi. Dengan program pemantauan dosis pekerja secara ketat, penerimaan dosis oleh para pekerja radiasi akan tetap terkontrol dan dapat diambil tindakan proteksi secepat mungkin apabila jumlah penerimaan dosis akumulasinya melampaui nilai batas dosis yang telah ditetapkan. Program pemantauan dosis pekerja memegang peranan yang penting dalam rangka pemanfaatan radiasi dalam berbagai bidang kegiatan dan harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mendeteksi setiap kelainan operasional sekecil apapun yang dapat menjurus ke arah terjadinya kecelakaan sehingga menye- babkan terjadinya pemaparan radiasi yang berlebihan terhadap pekerja. Pemantauan radiasi eksterna dilakukan terhadap pekerja yang mempunyai potensi terpapari radiasi dari sumber eksterna seperti para pekerja radiasi yang menggunakan sumber sumber radiasi terbungkus beraktivitas tinggi atau sangat tinggi atau bekerja dengan mesin pembangkit radiasi dengan laju dosis yang besar. Pemantauan radiasi eksterna dimaksudkan agar dosis akumulasi dari sumber-sumber eksterna yang diterima pekerja selama menjalankan tugas tetap terkontrol. Untuk pemantauan dosis perorangan, manusia mengandalkan sepenuhnya pada dosimeter perorangan. Tulisan ini akan membahas lebih lanjut mengenai pemantauan dosis eksterna pekerja radiasi menggunakan dosimeter perorangan dengan menitikberatkan pada upaya mengopti- malkan penggunaan dosimeter tersebut untuk pemantauan dosis di medan radiasi campuran, yaitu medan radiasi atau daerah kerja dimana potensi paparan radiasinya berasal dari berbagai jenis dan energi radiasi pengion, seperti laboratorium yang meng- gunakan berbagai jenis dan energi radiasi, reaktor nuklir yang memancarkan neutron dan gamma berbagai energi dan sebagainya.
APLIKASI PERUNUT ISOTOP DALAM BIDANG BIOMEDIKA
Darlina Darlina
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (699.403 KB)
Mahluk hidup dan segala sesuatu yang ada Mahluk hidup dan segala sesuatu yang ada di alam terdiri dari berbagai macam sel, dan jaringan yang tersusun oleh atom atom yang berbeda. Setiap atom terdiri dari sebuah inti yang mengandung proton dan neutron serta lapisan luar yang terdiri dari elektron yang bergerak mengelilingi inti. Jika jumlah proton sama dengan jumlah elektron maka muatan listrik atom dikatakan neutral. Jumlah proton atau elektron membedakan suatu unsur kimia yang satu dengan yang lainnya. Sebuah unsur yang identik dari sifat materi kimia dapat sedikit berbeda dalam beratnya. Karakteristik ini dapat diterangkan bahwa atom pada unsur yang sama dapat mempunyai jumlah neutron yang berbeda dalam intinya. Perbedaan bentuk ini dikenal dengan nama isotop. Contoh unsur karbon yang mempunyai 3 isotop alamiah yaitu C-12, C-13, C-14. Ketiga isotop ini mempunyai sifat kimia yang sama karena jumlah protonnya sama tetapi jumlah neutronnya berbeda, hal ini mempengaruhi sifat fisik pada tiap atom. Jika jumlah neutron sama atau lebih dari jumlah proton maka inti jadi stabil dan disebut isotop stabil. Bila jumlah neutron lebih sedikit dari jumlah proton inti tidak stabil maka inti akan melepaskan energinya berupa radiasi. Isotop dengan inti tidak stabil ini dikenal dengan nama radioisotop [1]. Awal mula isotop digunakan sebagai perunut dalam bidang biologi adalah George Hevesy’s bekerja sama dengan Hans Geiger dan Ernst Rutherfod bereksperimen meng- gunakan Thorium-B untuk mempelajari absorbsi dan lokalisasi unsur Pb di tanaman pada tahun 1923. Untuk mempelajari fisiologi mahluk hidup diperlukan unsur isotop yang aktif secara biologi dan mempunyai berat molekul yang ringan. Setelah ditemukannya deuterium oleh H.C. Urey pada tahun 1932 kemudian diikuti oleh sejumlah penemuan isotop-isotop radioaktif. Pemakaian perunut radioisotop mulai dikembangkan setelah Ernest O. Lawrence pada tahun 1932 berhasil membuat siklotron yang dapat meng- hasilkan radioisotop’artifisial” (buatan), kemudian diikuti oleh produksi radiosodium yang diperoleh dengan menembak sodium dengan deutron pada tahun 1934, sehingga membuka jalan untuk membuat perunut bernilai secara fisiologi.Pemakaian radioisotop mulai digunakan dalam bidang Biomedika setelah George Hevesy’s, Otto Chiewitz, Hardin Jones, Waldo Cohn dan John Lawrence dengan sukses dalam menggunakan P-32 untuk berbagai penelitian mengenai metabolisme pada tahun 1936 [2]. Kemudian John Lawrence menggunakan P-32 untuk penelitian pada penyakit Leukimia.
PERKEMBANGAN TENAGA NUKLIR DI DUNIA
Gatot Suhariyomo
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.317 KB)
Percobaan senjata nuklir buatan manusia telah menambah radioaktivitas yang telah ada secara alami dalam skala dunia. Walaupun percobaan senjata nuklir dikurangi secara besarbesaran sejak tahun 1962, ketakutan akan perang nuklir tetap ada. Pembangunan tenaga nuklir untuk maksud damai berjalan terus dan harus dipercepat, karena persediaan bahan bakar fosil (seperti bensin, minyak tanah dan lain-lain) sudah menipis. Hal ini berarti dengan bertambahnya tenaga nuklir, kekurangan energi listrik dapat diatasi. Akan tetapi volume limbah radioaktif harus diantisipasi, dipantau dan dikendalikan, seperti yang harus dilakukan terhadap bahan berbahaya dan beracun (B3) [1]. Letusan gunung St. Helens lebih berbahaya dibandingkan dengan bencana nuklir di Three Mile Island (TMI) pada tahun 1979, karena gunung tersebut mengeluarkan jauh lebih banyak zat dan sinar radioaktif ke atmosfer [2]. Jika dioperasikan secara layak, reaktor nuklir tidak memberikan resiko kesehatan yang berarti. Kecelakaan nuklir terhitung sebagai kecelakaan berdampak besar, namun berpeluang kecil untuk terjadinya kecelakaan. Hal ini terjadi dalam bencana Chernobyl pada tahun 1986, yakni melelehnya inti sebuah reaktor nuklir yang menyebabkan lolosnya radioaktif. Tetapi di Amerika Serikat dan beberapa negara tidak ada reaktor yang desainnya serupa dengan reaktor Chernobyl. Resiko dan pengelolaan limbah tenaga nuklir (titik awal dan akhir daur bahan bakar) juga merupakan persoalan yang umum diperdebatkan. Akan tetapi hal ini sudah banyak diantisipasi dengan salah satu metode pengelolaan limbah puluhan bahkan ratusan km di bawah tanah yang dikungkung beton di sekelilingnya atau juga disebut penyimpanan limbah lestari. Pada makalah ini akan dikemukakan tentang perkembangan tenaga nuklir di dunia, sekaligus pokok-pokok permasalahannya serta pengelolaan limbah nuklir ke lingkungan, dan pemecahan untuk menganalisa permasalahan yang ada. Hal ini perlu diketahui sebagai bahan pertimbangan untuk dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan mungkin terjadi, mengingat pemerintah Indonesia berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di masa yang akan datang.
PENENTUAN POTENSI RISIKO TENORM PADA INDUSTRI NON NUKLIR
Bunawas Bunawas;
Syarbaini Syarbaini
Buletin Alara Vol 6, No 3 (2005): April 2005
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (426.296 KB)
NORM (Naturally Occurring Radioactive Material) merupakan bahan radioaktif yang sudah ada di alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. NORM ada di mana-mana, karena semua bahan di udara, air, tanah, tanaman bahkan tubuh kita mengandung bahan radioaktif alam. Sedangkan TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Material) dapat diartikan sebagai bahan radioaktif alam yang terkonsentrasi atau naik kandungannya yang merupakan by product dari kegiatan industri non nuklir yang menggunakan bahan baku dari (dalam) kulit bumi. TENORM sering juga disebut LSA (Low Spesific Activity).
DAMPAK RADIOLOGIS PELEPASAN SERAT ASBES
Muhammad Thoyib Thamrin;
Mukhlis Akhadi
Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.677 KB)
Asbes (asbestos) merupakan mineralmineral berbentuk serat halus yang terjadi secara alamiah. Sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA), ada enam jenis mineral yang dikatagorikan sebagai bahan asbes, yaitu : chrysotile, riebeckite, grunerite, actinolite, anthrophyllite, dan thremolite. Manusia telah mengenal bahan asbes sejak abad ke-2 Sebelum Masehi. Beberapa abad kemudian, Marco Polo memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat pakaian. Ada empat jenis asbes yang kini banyak beredar di pasaran, yaitu : chrysotile atau asbes putih, crocidolite atau asbes biru, amosite atau asbes coklat, dan anthrophyllite atau asbes abuabu. Sebagaimana bahan tambang pada umumnya, asbes merupakan batuan yang mampat, namun sangat mudah untuk dipisahpisahkan menjadi banyak sekali serat-serat halus yang umumnya sangat ringan dan mudah terbang.
OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI
Gatot Wurdiyanto;
C. Tuti Budiantari
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (364.053 KB)
Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan teknik penyinaran dari zat radioaktif maupun radiasi pengion lainnya. Tujuan radioterapi adalah untuk mendapatkan tingkatan sitotoksik radiasi terhadap planning target volume pasien, dengan seminimal mungkin pajanan (exposure) radiasi terhadap jaringan sehat dan di sekitarnya. Pesawat radioterapi adalah pesawat yang digunakan untuk melakukan terapi yang didalamnya terdapat sumber radiasi baik sumber 60Co maupun 137Cs. Dengan keberadaan sumber radiasi tersebut, maka keselamatan baik pekerja maupun pasien memerlukan perhatian yang sangat penting agar tujuan dari penggunaan radioterapi tersebut terwujud tanpa menimbulkan masalah baru. Dewasa ini, lebih dari 18 rumah sakit di Indonesia dengan sekitar 19 pesawat radioterapi 60 Co maupun 137Cs memanfaatkan radioterapi sebagai metode pengobatan penyakit kanker atau tumor. Berdasar pada peraturan yang berlaku di Indonesia, yakni PP Nomor 63 tahun 2000 (Bab V pasal 30)[1], SK Dirjen BATAN No.84/DJ/VI/1991[2] dan SK Ka. Bapeten No.21/Ka. BAPETEN/XII-02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3], mengatakan bahwa keluaran sumber radiasi terapi harus dikalibrasi sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun oleh Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional (FKTN). Untuk itu Laboratorium Metrologi Radiasi (LMR) selaku Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional agar dapat memberikan pelayanan yang prima menyangkut masalah kualitas serta aspek keselamatan dari penggunaan dan pemanfaatan metode radioterapi. Aspek keselamatan yang menyangkut penggunaan dan pemanfaatan pesawat radioterapi meliputi keselamatan saat penyinaran terhadap pasien dan pemeliharaannya, serta pada saat pesawat tersebut dikalibrasi oleh FKTN. Aturan keselamatan terhadap fasilitas radioterapi yang menyangkut pasien, pekerja, peralatan dan lingkungan telah tercantum dalam SK Ka. Bapeten No.21/Ka.BAPETEN/XII -02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3] dan rekomendasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency, IAEA) melalui Basic Safety Standards [4]. Pada tulisan ini akan dipaparkan aspek keselamatan pada saat melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60Co ataupun 137Cs. Hal ini diperlukan mengingat pekerjaan kalibrasi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dengan rentang waktu yang cukup lama agar tidak menimbulkan masalah terhadap pesawat, pekerja maupun keselamatan lingkungannya. Tujuan dari penulisan ini untuk mendapatkan prosedur baku keselamatan dalam melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60 Co atau 137Cs sehingga didapatkan optimasi antara aspek keselamatan dan faktor non teknis yang timbul saat melakukan kalibrasi.
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI
B.Y. Eko Budi Jumpeno
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (341.127 KB)
PENDAHULUANPemanfaatan tenaga nuklir pada saat sekarang ini sudah sangat luas, mencakup hampir semua sendi kehidupan manusia, misalnya bidang kesehatan, industri, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pembangkitan energi dan lain sebagainya. Data bulan Juni 2005 yang ada pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) tercatat 3162 izin pemanfaatan di bidang industri dan 2958 izin pemanfaatan di bidang kesehatan. Izin pemanfaatan tersebut tidak termasuk izin pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya (misalnya pesawat sinar-X dan mesin berkas elektron atau dikenal dengan nama MBE) untuk keperluan penelitian, pendidikan dan pelatihan yang umumnya dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan institusi pendidikan tinggi yang memiliki laboratorium pengguna zat/radioaktif dan/atau sumber radiasi, misalnya Program Studi Teknik Nuklir, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun sebagaimana teknologi lainnya, teknologi nuklir juga memiliki dampak negatif apabila tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan (manajemen) yang tepat dalam hal pemanfaatan tenaga nuklir khususnya pemanfatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya. Sistem manajemen yang digunakan di dalam pengelolaan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya dikenal dengan sebutan sistem manajemen keselamatan radiasi atau disingkat SMKR.