cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 865 Documents
MODIFIKASI BETAIN FOSFAT (CH3)3N+CH2COO-.H3PO4 DENGAN D20 Saryati Saryati; Ridwan Ridwan; Deswita Deswita; Sugik Sugiantoro
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 3: JUNI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.225 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2002.3.3.5074

Abstract

MODIFIKASI BETAIN FOSFAT (CH3)3N+CH2COO-.H3PO4 DENGAN D20. Telah dipelajari modifikasi betain fosfat (CH3)3N+CH2COO-.H3PO4 dengan D20 Digunakan cara penguapan perlahan larutan jenuh betain fosfat dalam D20 pada suhu tetap 40° C dalam kotak pengering, sampai diperoleh kristal kering. Berdasarkan data NMR, diperolch kesimpulan bahwa proses substitusi H dengan D telah berhasil dilakukan dan diperoleh betain fosfat-D. (CH3)3N+CH2COO-.D3PO4 Dari data difraksi sinar X dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan struktur kristal antara betain fosfat dan betain fosfat basil modifikasi. Dari diagram Defferential Scanning Colorimeter (DSC) pada suhu 30°C sampai 250°C diketahui bahwa Betain fosfat-H mengalami dua kali perubahan fasa endotermik, yaitu pada suhu 99°C dengan menyerap kalori sangat kecil dan pada suhu 22l,50°C dengan —26,75 kal/g. Sedangkan Betain fosfat yang telah dimodifikasijuga mengalami dua kali perubahan fasa endotermik pada suhu 99,86°C dengan —l ,94 kal/g . pada suhu 171,01°C dengan —3,48 kal/g. Dapat disimpulkan bahwa stubtitusi atom H dengan atom D pada Betain fosfat, mengubah struktur kristal, suhu perubahan fasa endotermik dan panas yang diperlukan untuk perubahan fasa tersebut .
ANALISIS FASA BaO 6Fe2O3 HASILPERLAKUAN MEKANIK DAN ULTRASONIK TERHADAP PREKURSOR SOL-GEL Ridwan Ridwan; Grace Tj. Sulungbudi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.456 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4869

Abstract

ANALISIS FASA BaO 6Fe2O3 HASILPERLAKUAN MEKANIK DAN ULTRASONIK TERHADAP PREKURSOR SOL-GEL. Prekursor bahan magnet heksaferit, BaO 6Fe2O3 telah berhasil disintesis dari garam nitrat besi dan barium dengan Fe: Ba = 12 : 1 menggunakan metode sol-gel. Identifikasi fasa menggunakan teknik difraksi sinar-x menunjukkan prekursor lebih didominasi oleh α-Fe2O3. Proses pemanasan 700, 850, dan 1000ºC selama 5 jam terhadap prekursor setelah dideaglomerasi menunjukkan bahwa fasa BaO 6Fe2O3 telah terbentuk pada suhu 700ºC dan mengkristal sempurna pada 1000ºC. Prekursor yang dipanaskan pada suhu 1000ºC tanpa melalui proses deaglomerasi tidak memberikan sistem fasa tunggal BaO 6Fe2O3. Deaglomerasi prekursor menggunakan sistem ultrasonik ataupun milling dapat memberikan sistem fasa tunggal BaO 6Fe2O3 setelah dipanaskan pada suhu 1000ºC baik dalam bentuk serbuk maupun pellet. Metode ultrasonik dalam sintesis bahan heksaferit BaO 6Fe2O3 dapat dianggap salah satu alternatif terutama apabila partikel yang dibutuhkan sangat halus dan dengan kemurnian tinggi.
SINTESIS MEMBRAN KOPOLIMERISASI SELULOSA ASETAT-GLUTARALDEHID MENGGUNAKAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON UNTUK PERVAPORASI ETANOL-AIR E. Evy Ernawati1; Meri Suhartini
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 17, No 2: JANUARI 2016
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.996 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2016.17.2.4203

Abstract

SINTESIS MEMBRAN KOPOLIMERISASI SELULOSA ASETAT-GLUTARALDEHID MENGGUNAKAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON UNTUK PERVAPORASI ETANOL-AIR.Membran selulosa asetat dapat digunakan untuk pervaporasi etanol-air, namunmembran inimemiliki derajat penggembungan tinggi sehingga kinerjanya rendah maka perlu dimodifikasi. Modifikasi pada studi ini dilakukan dengan mengkopolimerisasimembran selulosa asetat danmonomer glutaraladehidmenggunakan inisiator iradiasi berkas elektron. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh glutaraldehida dan iradiasi berkas elektron terhadap karakteristik serta kinerjamembran selulosa asetat termodifikasi terhadap pervaporasi etanol-air. Karakterisasi yang dilakukan meliputi penentuan derajat kopolimerisasi dan penggembungan, kekuatan tarik, dan morfologi (SEM) dari membran selulosa asetat termodifikasi. Sementara penentuan kinerja membran selulosa asetat termodifikasi meliputi fluks dan selektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penambahan glutaraldehida 1%, dan dosis iradiasi 30 kGy, terjadi penurunan nilai derajat penggembungan sebesar 66,16%, peningkatan kekuatan tarik sebesar 49,75%, peningkatan nilai selektivitasnya sebesar 16,5 kali dan penurunan nilai fluks sebesar 0,7 kali. Modifikasi selulosa asetat dengan dengan penambahan glutaraldehida dan radiasi berkas elektron dapat memperbaiki karakteristik dan kinerja membran selulosa asetat untuk pervaporasi etanolair.
MODIFIKASI KARET ALAM VULKANISASI RADIASI MENJADI POLIMER HIDROGEL DENGAN TEKNIK RADIASI Zainuddin Zainuddin; A. Sudradjat; Mirzan T. Razzak
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.303 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2001.2.2.4897

Abstract

MODIFIKASI KARET ALAM VULKANISASI RADIASI MENJADI POLIMER HIDROGEL DENGAN TEKNIK RADIASI. Untuk meningkatkan sifat hidrofilik karet alam sehingga dapat dikategorikan sebagai polimer hidrogel, telah dilakukan percobaan grafting monomer hidrofilik, yaitu dimetilaminopropilakrilamida, N-vinilpirolidon, dimetilakrilamida dan hidroksietilmetakrilat dengan komonomer metilmetakrilat dan stirena pada film karet alam vulkanisasi radiasi dengan teknik radiasi simultan. Film karet dimasukkan ke dalam ampul gelas khusus yang berisi campuran monomer dan komonomer. Udara dalam ampul dikeluarkan dengan teknik vakum beku-leleh hingga tekanan berkisar 10-4 torr. Selanjutnya sampel diiradiasi dengan sinar gamma dari sumber Co-60 dan persentase grafting ditentukan secara gravimetri. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase grafting meningkat dengan bertambahnya konsentrasi monomer dan dosis iradiasi, tetapi menurun dengan bertambahnya laju dosis. Kenaikan persentase grafting secara tajam pada tahap awal proses yang kemudian diikuti kenaikan secara perlahan dan akhirnya mendatar menunjukkan bahwa kinetika radiasi grafting dikontrol oleh difusi monomer ke dalam polimer karet, disamping kompetisi antara reaksi grafting, rekombinasi dan disproporsionasi. Berdasarkan sifat hidrofiliknya, ada dua film karet yang telah digrafting dapat dianggap sebagai polimer hidrogel, yaitu film karet yang telah digrafting dengan N-vinilpirolidon dan dimetilakrilamida dengan komonomer metilmctakrilat.
PREPARASI NANOKRISTALIN HIDROKSIAPATIT UNTUK SCAFFOLD REKAYASA JARINGAN TULANG Decky J. Indrani; Wisnu Ari Adi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.431 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.4.4754

Abstract

PREPARASI NANOKRISTALIN HIDROKSIAPATIT UNTUK SCAFFOLD REKAYASA JARINGAN TULANG.Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi nanopartikel Hidroksiapatit (HA)menggunakan metode presipitasi. Hasil pencampuran serbuk Ca(OH)2 dan cairan H3PO4 dengan perbandingan mol sebesar 10 : 6 selanjutnya dikalsinasi pada suhu bervariasi sampai dengan 900 oC masing-masing selama 3 jam. Hasil refinement pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa hidroksiapatit hasil sintesis dengan berbagai suhu kalsinasi merupakan fasa tunggal Ca10(PO4)6(OH)2 yang memiliki struktur heksagonal (P63/m). Berdasarkan hasil refinement diperoleh bahwa seiring dengan semakin rendahnya suhu kalsinasi HA maka diperoleh volume, kerapatan atomik dan derajat kristalinitas yang semakin menurun dan ukuran kristalit yang semakin kecil. Disimpulkan bahwa pada suhu kalsinasi HA hasil sintesis terendah, maka diperoleh volume, kerapatan atomik dan derajat kristalinitas paling rendah dengan ukuran kristalit paling kecil.
POLIMER KOMPOSIT POLIMETILMETAKRILAT-STIREN AKRILONITRIL (PMMA-SAN)-ZnS SEBAGAI FILM PENDAR UNTUK PENCITRAAN PADA SINTILATOR Jadigia Ginting
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 11, No 1: OKTOBER 2009
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.454 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2009.11.1.4545

Abstract

POLIMER KOMPOSIT POLIMETILMETAKRILAT-STIREN AKRILO NITRIL(PMMA-SAN)- ZnS SEBAGAI FILM PENDAR UNTUK PENCITRAAN PADA SINTILATOR. Studi polimer komposit polimetilmetakrilat-stiren akrilonitril (PMMA-SAN)-ZnS dalam pembuatan bahan pendar untuk pencitraan pada sintilator telah dilakukan dengan pencampuran 20 g PMMA/7 g SAN dalam aseton dengan bahan pendaranorganik ZnS. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pemakaian film optis hitam-putih BWASA100 sebagai alat ukur paparan radiasi sinar-X. Film pendar dibuat dari larutan PMMA dan SAN, yang dicampur dengan ZnS dengan komposisi bervariasi yaitu 50 mg, 125 mg, 250 mg, 500 mg dan 1000 mg. Campuran larutan polimer ini kemudian dikeringkan pada suhu kamar dan membentuk film. Film selanjutnya dipotong sesuai ukuran film dosimeter. Kemudian film optis hitam-putih dimasukkan ke dalam amplop kedap cahaya yang di dalamnya diberi film pendar. Sampel bersama satu film dosimeter dan satu filmoptis kosong diiradiasi dengan sinar-X pada tegangan operasi 50 kVolt selama 1 detik. Film dan sampel diproses bersama di dalam developer(larutan pengembang) dan dikeringkan dalam suhu kamar. Setelah film kering, diukur densitas optisnya dengan menggunakan densitometer. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai densitas optis dari film pendar dengankomposisi ZnS 50mg, 125mg, 250 mg, 500mg dan 1000mg masing-masing adalah 2,17 , 2,24 , 2,18 , 2,19 dan 2,11. Sedangkan film dosimeter dan film optis hitam-putih tanpa zat pendar masing masing mempunyaidensitas optis sebesar 3,86 dan 0,99. Pengamatan dengan Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan film pendar yang dihasilkan isotropik. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa film pendar dapat menaikkandensitas optis sebesar dua kali dari film optis hitam-putih BW ASA 100, sehingga film ini dapat digunakan untuk film dosimeter.
PEMBANGKIT PULSA ARUS SEBAGAI SUMBER ARUS DENGAN METODA ISI-BUANG MUATAN KAPASITOR UNTUK PEMBUATAN MAGNET Djati Handoko; Hasan Fahad; Budhy Kurniawan; Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.143 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2002.3.2.5256

Abstract

PEMBANGKIT PULSA ARUS SEBAGAI SUMBER ARUS DENGAN METODA ISI-BUANG MUATAN KAPASITOR UNTUK PEMBUATAN MAGNET. Telah dibuat dan dianalisis sebuah instrumen pembangkit arus yang besar dengan metoda pengisian dan pembuangan muatan pada kapasitor. Arus listrik yang dihasilkan berbentuk pulsa dengan besar 0,25 kA. Rangkaian yang dibuat seperti terlihat pada gambar menggunakan 2 buah kapasitor dengan kapasitansi 3300 mF/350V yang dihubungkan secara paralel. Proses pengisian dan pembuangan muatan dilakukan dengan membuka/menutup saklar (menggunakan SCR) yang dapat diatur waktunya menggunakan timer. Analisis dilakukan terhadap perubahan lama waktu pengisian terhadap besar tegangan kapsitor yang dihasilkan. Pada kasus ini timer dan SCR sangat memegang peranan. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mencapai harga tegangan maksimum berada pada orde milidetik. Untuk membuktikan keberhasilan instrumen ini dilakukan pengujian terhadap bahan magnet yang berbasis Nd-Fe-B dan SmCo. Magnet yang diperoleh memiliki intensitas medan magnet yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang menggunakan sistem elektromagnet biasa.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU SINTER TERHADAP PENUMBUHAN FASA SUPERKONDUKTOR GdBa2Cu3O7-x Yustinus Purwamargapratala; Didin S. Winatapura; EngkirSukirman Sukirman
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.549 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5110

Abstract

PENGARUH SUHU DAN WAKTU SINTER TERHADAP PENUMBUHAN FASA SUPERKONDUKTOR GdBa2Cu3O7-x. Superkonduktor merupakan bahan yang mempunyai nilai resistansi nol pada suhu kritis dan dapat disintesis melalui berbagai metode. Bahan ini digunakan untuk berbagai device piranti elektronik. Pada penelitian ini GdBa2Cu3O7-x disintesis dari garam nitrat Gd, Ba dan Cu di dalamgaram cair urea. Campuran tersebut dipanaskan dan diaduk pada suhu 120 oC selama 16 jam, kemudian dipanaskan hingga kering.Hasil ini digerus dan disinter dengan suhu bervariasi 800 oC hingga -950 oC dan masing-masing divariasi selama 1 jamhingga 20 jam.Hasil dianalisis dengan SEM, EDS, difraktometer sinar-X dan uji efekMeissner.Analisis menunjukkan bahwa fasa GdBa2Cu3O7-x terbentuk semakin sempurna mulai sinter pada suhu 925 oC selama 20 jam. Kondisi optimum sinter 950 oC 5 jam.
TEKNIK AMOBILISASI LIPASE DIDALAM PORI-PORI MEMBRAN POLIMER SEBAGAI NANOREAKTOR Achmadin L. Machsun; Misri Gozan; Mohammad Mohammad; Renny S. Mokodongan; Renny S. Mokodongan; Siswa Setyahadi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 3: JUNI 2011
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3487.084 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2011.12.3.4613

Abstract

TEKNIK AMOBILISASI LIPASE DIDALAM PORI-PORI MEMBRAN POLIMER SEBAGAI NANOREAKTOR. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem nanoreaktor dengan memanfaatkan membran sebagai media nanopori. Struktur nano tersebut dikembangkan dengan metode dua tahap: adsorpsi sederhana dan dilanjutkan dengan filtrasi bertekanan. Dua tipe membran polimer yaitu Mixed Cellulose Ester(MCE) dan Polyethersulfone (PES) digunakan sebagai matriks untuk amobilisasi lipase dari Pseudomonas fluorescens. Larutan lipase mengalir melalui membran dan molekul lipase teradsorpsi pada dinding pori. Porositas dan matriks membran berpengaruh terhadap nilai enzyme loading. Penggunaan membran PES dengan waktu inkubasi 18 jam menghasilkan nilai enzyme loading paling besar yaitu 3,75 g/m2. Selanjutnya membran PES dipilih untuk studi transesterifikasi kontinyu. Dievaluasi aktifitas transesterifikasi dengan mengkonversi triolein dan metanol menjadi metil oleat dan gliserol. Reaksi dilakukan secara in situ di dalam pori-pori membran yang berperan sebagai reaktor. Nilai derajat konversi triolein dengan menggunakan nanoreaktor ini sekitar 80 % dengan waktu tinggal 30 menit. Produktifitas lipase amobil di dalam pori 40 kali lipat lebih tinggi dibandingkan lipase free.
EVALUASI INHIBITOR SODIUM NITRIT DI DALAM LARUTAN BETON SINTETIS Arini Nikitasari; Moch Syaiful Anwar; Efendi Mabruri; Sundjono Sundjono
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 1: OKTOBER 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.008 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.16.1.4327

Abstract

EVALUASI INHIBITOR SODIUM NITRIT DI DALAM LARUTAN BETON SINTETIS.Masalah korosi sering terjadi dalam baja tulangan khususnya pada struktur bangunan dan jembatan beton yang diakibatkan oleh infiltrasi ion klorida dari lingkungan sekitarnya. Salah satu cara untuk menghambat terjadinya korosi pada baja tulangan beton adalah dengan penambahan inhibitor. Telah dilakukan penelitian pengaruh inhibitor sodium nitrit dengan variasi konsentrasi 0,1M, 0,3M dan 0,6M untuk inhibisi korosi pada baja tulangan beton dalam larutan sintetis beton pada variasi pH 11, 9, dan 7 dengan larutan 3,5% NaCl. Pengukuran potensial korosi (Ecorr) dan laju korosi baja tulangan dilakukan denganmetode polarisasi Tafel pada scan rate 1,5mV/s berdasarkan standard ASTM G-5. Pengukuran potensial korosi (Ecorr) dan laju korosi baja tulangan beton dilakukan dengan merendam sampel uji selama 30 hari dalam larutan uji. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa inhibitor sodium nitrit terbukti dapat menaikkan potensial korosi (Ecorr) ke daerah pasif dan menurunkan laju korosi pada baja tulangan beton yang terkontaminasi klorida. Efisiensi inhibisi sodium nitrit yang paling optimal adalah konsentrasi 0,6 M pada semua variasi pH larutan uji.

Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue