cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PERBANDINGAN METODE SINTESIS BENZENA DAN ABSORPSI CO2 UNTUK PENANGGALAN RADIOISOTOP 14C Satrio .; Zainal Abidin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 3, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.569 KB) | DOI: 10.17146/jair.2007.3.1.550

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai penentuan umur sampel karbon menggunakan metode absorpsi CO2. Metode ini merupakan alternatif terhadap metode sintesis benzena yang selama ini digunakan. Penerapan metode ini bertujuan untuk mendukung berbagai penelitian hidrologi khususnya penelitian umur air tanah menggunakan radioisotop alam 14C. Hasil-hasil yang diperoleh dari metode absorpsi CO2 kemudian dibandingkan dengan hasil-hasil metode sintesis benzena yang meliputi cacahan latar belakang, cacahan standar, aktivitas dan batas umur, hasil umur, dan biaya bahan serta komponen yang terlibat dalam analisis. Penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan metode sintesis benzena, preparasi sampel menggunakan metode absorpsi CO2 lebih sederhana, ekonomis dan praktis. Penggunaan metode absorpsi CO2 dapat menghemat biaya bahan hingga 75 %. Perbedaan yang nyata antara metode absorpsi CO2 dan sintesis benzena adalah kemampuan menentukan umur maksimum yang masing-masing menghasilkan 33.310 tahun dan 47.533 tahun. Sedangkan rata-rata hasil umur, baik dengan metode sintesis benzene maupun absorpsi CO2 untuk sampel yang sama hasilnya relatif sama.
Sintesis dan Karakterisasi Selulosa Bakteri Tercangkok Poliakrilonitril dan Teramidoksimasi Menggunakan Teknik Pra-iradiasi Oktaviani Oktaviani; Emil Budianto; Sugiarto Danu
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.05 KB) | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2694

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada selulosa bakteri (SB) dengan inisiasi radiasi serta penambahan hidroksilamin untuk menghasilkan gugus amidoksim. Pencangkokan akrilonitril pada SB diharapkan dapat meningkatkan ketahanan termal SB. Sedangkan SB yang bersifat sebagai pengkelat ion-ion logam berat, diharapkan dapat dihasilkan melalui penambahan hidroksilamin. Film selulosa bakteri telah berhasil dibuat dari air kelapa yang diinokulasi dengan bakteri Acetobacter xylinum. Film selulosa bakteri (SB) selanjutnya diiradiasi dengan berkas elektron pada rentang dosis 15-120 kGy, laju dosis 15 kGy/pass pada suhu 30 + 1 0C. Setelah diiradiasi, SB tersebut dikopolimerisasi cangkok dengan monomer akrilonitril. Kondisi optimum untuk kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada SB adalah pada dosis 75 kGy, suhu 600C, waktu 3 jam, dan konsentrasi akrilonitril 30% b/b. Derajat pencangkokan tertinggi yang diperoleh adalah 56,03 %. Selulosa bakteri tercangkok akrilonitril (SB tercangkok PAN) selanjutnya diamidoksimasi. Amidoksimasi dilakukan dengan penambahan hidroksilamin hidroklorida 6 % b/v dalam pelarut metanol:air = 50:50 v/v pada pH 7, dan diperoleh waktu optimum selama 2 jam dengan densitas gugus amidoksim sebesar 5,425 mmol/ g. Hasil karakterisasi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) menunjukkan adanya spektrum spesifik gugus siano setelah proses pencangkokan akrilonitril pada SB dan intensitasnya menurun setelah diamidoksimasi. Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji Scanning Electron Microscopy (SEM) yang memperlihatkan adanya gugus siano yang menempel setelah pencangkokan, dan gugus tersebut tidak terlihat lagi setelah amidoksimasi. Dari hasil uji dengan X-ray Diffraction (XRD), indeks kristalinitas SB tercangkok PAN akan semakin rendah dengan meningkatnya derajat pencangkokan dan pengujian dengan Thermal Gravimetry Analysis (TGA) menunjukkan bahwa ketahanan panas SB tercangkok PAN meningkat.
Comparison of RT-PCR-Dot Blot Hybridization Based on Radioisotope 32P with Conventional RT-PCR and Commericial ELISA Assays for Blood Screening of HIV-1 Maria Lina Rosilawati; Andi Yasmon
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.623 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.2.90

Abstract

There are many commercial ELISA and rapid test kits that have been used for blood screening; however, the kits can give false positive and negative results. Therefore, RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) - Dot Blot Hybridization based on radioisotope 32P (RDBR) method was developed in this research, to compare the method with the conventional RT-PCR and commercial ELISA Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) kit. This method is efficient for screening of large blood specimens and surveillance study. Eighty seven samples were used and serum of the samples were tested by ELISA to detect HIV-1. The HIV-1 RNA genome was extracted from plasma samples and tested using the RT-PCR and RDBR methods. Of 87 samples that were tested, the rates of positive testing of the RT-PCR, the RDBR, and the ELISA were 71.26%, 74.71%, and 80.46%, respectively. The RDBR (a combination of RT-PCR and dot blot hybridization) was more sensitive than conventional RT-PCR by showing 3.45% in increase number of positive specimens. The results showed that of 9 samples (10.34%) were negative RDBR and positive ELISA, while 4 samples (4.60%) werenegative ELISA and positive RDBR. The two methods showed slightly difference in the results but further validation is still needed. However, RDBR has highpotential as an alternative method for screening of blood in large quantities when compared to method of conventional RT-PCR and ELISA.
Manfaat Urea Molasses Multinutrien Blok (UMMB) yang Mengandung Tepung Daun Glirisidia (Gliricidia sepium) secara In-vitro Firsoni Firsoni; Dedi Ansori
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.391 KB) | DOI: 10.17146/jair.2015.11.2.2793

Abstract

Glirisidia (Gliricidia sepium) adalah tanaman perdu yang banyak tumbuh di Indonesia, mengandung protein kasar 20 – 30% dan tidak dimanfaatkan oleh manusia untuk pangan, sehingga potensial untuk dipakai sebagai penyusun urea molases multinutrien blok (UMMB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh UMMB yang mengandung tepung daun glirisidia (Gliricidia sepium) secara in-vitrobiasa dan in-vitromenggunakan radioisotop P-32. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan pakan yang diujikan yaitu A: 60% daun jagung + 40% konsentrat pasar; B: A + 25 mg UMMB dan C: B + 5 mg PEG 6000 serta 9 ulangan.  Pengukuran produksi biomassa mikroba dilakukan dengan teknik in-vitro menggunakan perunut radioisotop 32P. Penambahan PEG 6000 ditujukan untuk melihat pengaruh tannin yang terdapat pada daun glirisidia terhadap produksi gas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa suplementasi UMMB glirisidia dapat meningkatkan produksi gas, degradabilitas pakan, dan produksi biomassa mikroba di dalam cairan rumen setelah inkubasi selama 48 jam in-vitro. Produksi  gas, degradabilitas bahan kering dan produksi biomassa mikroba tertinggi dihasilkan perlakuan C secara berturut-turut yaitu 85,70 ml/0,5 g BK, 66,04% dan 175,52 mg, sementara itu terendah dihasilkan perlakuan A (tanpa pemberian UMMB glirisidia) yaitu  81,20 ml/0,5 g BK, 62,97% dan 151,26 mg. Penambahan PEG 6000 menunjukkan bahwa kandungan tannin yang terdapat di daun glirisidia tidak memberikan pengaruh negatif secara in-vitro. Kata kunci : UMMB, glirisidia, tannin, produksi gas, biomassa mikroba
STUDI TERHADAP FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KANDUNGAN ISOTOP OKSIGEN-18 DARI SENYAWA SULFAT TERLARUT DALAM AIR TANAH DANGKAL DI DAERAH KARAWANG Eva Ristin Pujiindiyati; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.395 KB) | DOI: 10.17146/jair.2010.6.1.508

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan isotop oksigen-18 dalam senyawa sulfat terlarut. Nilai δ 18O adalah kelimpahan relatif O-18 terhadap O-16 dalam gas CO2. Gas CO2 diperoleh dari hasil kesetimbangan contoh air dengan gas CO2 murni dan dari hasil reduksi contoh sulfat dengan grafit. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai δ 18O (H2O) adalah —3,21 0/00 hingga —6,25 0/00 sedangkan nilai δ 18O (SO4 2-) adalah 9,64 0/00 hingga 20,72 0/00. Variasi yang lebar pada nilai δ 18O (SO4 2-) menunjukkan sumber sulfat yang tidak homogen pada air tanah tetapi sebagian besar sulfat air tanah berasal dari pelarutan batuan evaporit laut. Pada titik air sungai Citarum dan air tanah di lokasi Johar menunjukkan penurunan nilai δ 18O (SO42-). Hal ini mungkin ada kaitannya dengan adanya pasar tradisional di lokasi tersebut. Penurunan nilai ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan proses reduksi sulfat oleh pertumbuhan bakteri anaerobik pada tumpukan sampah organik. Dengan pengeplotan antara nilai δ 18O (SO42-) dan δ 18O (H2O) maka diketahui bahwa sumbangan oksigen dari H2O dalam pembentukan senyawa sulfat adalah kurang dari 25%. Hal ini menunjukkan air tanah dangkal di daerah Karawangberada dalam suatu zona tak jenuh dan kondisi yang biotik.
Perbaikan Produksi Kapas (Gossypium hirsutum) Varietas Niab 999 dengan Teknik Mutasi Radiasi Lilik Harsanti, S.Si; Ita Dwimahyani; Tarmizi, SP
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.874 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3962

Abstract

Pemuliaan tanaman kapas perlu terus dilakukan untuk mendapatkan varietas kapas yang lebih unggul dari segi kuantitas dan kualitas. Kapas varietas NIAB 999 hasil pemuliaan yang berasal dari kultur jaringan embrio aksis kapas varietas NIAB-999 yang diradiasi dengan sinar gamma 60Co dengan dosis 20 gray. Benih kapas yang dihasilkan dari kultur jaringan Kj 1 dan Kj 2 dengan hasil yaitu percobaan dengan menggunakan rancangan Acak Kelompok dengan ulangan 4 kali luas plot yang berukuran 8 x 7 M2  dengan jarak tanam 10 x 100 cm dan menggunakan varietas Kanesia 2, Kanesia 8 dan Kanesia 9 sebagai pembanding. Pengujian jumlah buah yang terbanyak UDHP Kanesia 2 (91) dan UDHL Kanesia 2 (77). Produksi kg/ha yang tertinggi dari 6 uji multi lokasi di NTB1 Kj 2 (3740,00), Lamongan Kanesia 2 (829,20), Banyuwangi Kanesia 9 (982,4), NTB 2 Kanesia 9 (1470), Bulukumba Kanesia 9 (1565,4), Cinangka Kanesia 9 (1959,2) hasilnya tidak berbeda nyata, artinya sama antara kontrol nasional dan galur mutan. Penggunaan insektisida pada tanaman menyebabkan penurunan produksi kapas berbiji yaitu galur mutan Kj 1 dan Kj 2 sehingga galur ini lebih tinggi produktivitasnya Kj 2 (857 kg/ha) dari pada yang disemprot pembasmi hama, dari tanaman kapas tidak berbeda nyata antara galur dan varietas pembanding. Galur Kj 2 dilepas sebagai varietas baru oleh Menteri Pertanian masing masing dengan nama Karisma-1 pada tahun 2009.
DOSIS INAKTIF DAN KADAR PROTEIN Klebsiella pneumonia K5 HASIL IRADIASI GAMMA Irawan Sugoro; Y. Windusari; D. Tetriana
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.75 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.540

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dosis inaktif dan kadar protein sel bakteri Klebsiella pneumonia K5 hasil iradiasi gamma. Tahapan percobaan adalah iradiasi kultur bakteri dengan dosis 0, 100, 200, 400, 600, 800, 1.000 dan 1.500 Gy (laju dosis 1089,59 Gy/jam). Penentuan dosis inaktif diketahui dengan metode drop test dan kadar protein diukur dengan metode Lowry. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dosis inaktif sel bakteri K. pneumoniae adalah antara 600 Gy – 1.500 Gy. Iradiasi dengan dosis berbeda pada kultur bakteri menunjukkan adanya perubahan konsentrasi protein sel bakteri yang tidak menentu dan adanya pengaruh yang nyata dosis radiasi terhadap kandungan protein.
INTEGRATED CONTROL OF CABAGGE PESTS Plutella xylostella (L) AND Crocidolomia binotalis (Z) BY RELEASE OF IRRADIATED MOTHS AND THE PARASITOID Diadegma semiclausums(H) UNDER FIELD CAGE AND A SMALL AREA CONDITIONS Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.646 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.577

Abstract

The impact of the release of irradiated Diamondback moth (DBM)Plutella xylostella (L) with a dose of 200 Gy was studied in field cage experiments by releasing of irradiated and untreated DBM at a 9:1 ratio . Releasing male and female (F-1) of irradiatedDBM caused a considerable level of sterility in the subsequent generations. The sterility level in those respective generations were 73.03% and 73.30%,while the release of the F-1 male onlyinduced a level of sterility of about 55.40% and 56.44%.Inundative releases of irradiated males caused the level of sterility to reach about 44.78% and 68.01% in F-1 and F-2 respectively. Theeffect of the release of irradiated male Cabbage webworm (CWW) moths Crocidolomia binotalis (Z), and the release of both sexes on the population were studied under laboratory cage conditions. There was a significant difference between the) effects of releasing irradiated male only and both sexes at a level of F ≤ 0.001 ,where the percentage of egg hatch were 22.78% and 24.75% respectively in the F-1 and F-2 generations. The effects of combining two tactics, inherited sterility and the release of parasitoid Diadegma semiclausums (H) for controling DBMs were studied.The pupal viability in the F-1 generation was 32.5% ascompared to the untreated DBMs. The impacts of respective single tactic the release of F-1 males and parasitoid D. semiclausums on the pupal viability were 57.5% and 81%. The effects of the release of substerile insects in a small area of about 1000 m2 located at an isolated area in the forest in Malang, East Jawa was found that average number of moths caught per week from first to the fifth month at the release area was about 89.42% as compared to those at the control area. The highest level of parasitation of D. semiclausums was found in the second instar larvae of DBMs. Population growth of parasitoid D. semiclausums from the first generation to the eleventh generation increased till to the fifth generation larvae, than declined to the eleventh generation.
Studi Kandungan Logam Berat dengan Analisis Aktivasi Neutron dan Mikroba Patogen pada Jeroan Serta Daging Sapi Harsojo Harsojo; Darsono Darsono
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.28 KB) | DOI: 10.17146/jair.2013.9.2.2737

Abstract

Penduduk Indonesia setiap tahun jumlahnya meningkat sehingga kebutuhan akan pangan meningkat terutama tersedianya makanan bergizi seperti daging. Daging merupakan salah satu makanan yang mengandung kecukupan unsur protein, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan mengandung logam berat dan tercemar bakteri yang telah melebihi ambang batas SNI. Di samping itu jeroan juga sangat digemari walaupun menjadi tempat terakumulasinya logam berat. Tujuan penelitian ini  mempelajari kandungan logam berat dan cemaran bakteri pada jeroan sapi dari beberapa tempat Rumah Pemotongan Hewan.  Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai kandungan logam berat seperti As, Cd dan Hg serta mikroba pada jeroan dan daging sapi. Jeroan yang digunakan adalah paru, babat, usus dan hati sapi sedang untuk daging yang diteliti adalah veal dan tenderloin. Analisa logam berat dilakukan dengan menggunakan Analisa Aktivasi Neutron, sedang untuk analisa jumlah mikroba seperti jumlah bakteri aerob, Koliform, Escherichia coli dan Staphylococcus sp serta Salmonella menggunakan Angka Lempeng Total. Hasil penelitian menunjukkan kandungan As pada paru dan babat serta kandungan Hg pada jeroan yang diteliti telah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh SNI masing-masing sebesar 1,0 dan 0,03 ppm. Sedangkan pada daging tidak terdeteksi adanya kandungan logam berat.  Kandungan mikroba dalam jeroan sapi telah melebihi maksimum batas yang telah ditetapkan yaitu sebesar 1,0 x 106 cfu/g. Tidak ditemukan Salmonella pada semua sampel jeroan dan daging yang diteliti. Teknik nuklir sangat membantu analisis kandungan logam berat dalam jeroan maupun daging sapi. Kebersihan tempat pemotongan hewan sangat menentukan kualitas jeroan maupun daging yang akan dikirim. Kata kunci : logam berat, mikroba, Salmonella, jeroan sapi, AAN, ALT
Experimental Study of Concrete Composites of Fly Ash and Ferronickel Slag for Gamma-Ray Shielding Patrick Marcelino Wongso; Syamsir Dewang; Eko Budi Jumpeno; Okky Agassy Firmansyah; June Mellawati
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 16, No 1 (2020): JUNI 2020
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2020.16.1.5800

Abstract

This study aim is to determine the effect of partial replacement of cement by high percentages of fly ash and ferronickel slag as gamma radiation shielding properties of concrete. The percentages of replacement were 30% for fly ash and 10%, 20%, and 30% for ferronickel slag by weight of fine aggregate. Several physical parameters (linear attenuation coefficients, mass attenuation coefficients, half value layer, tenth value layer, mean free path, effective atomic number, and effective electron density) of concretes were measured using 600cc Thin Window Ionization Chamber. A broad beam transmission geometry method with 137Cs source was used for the radiation intensity measurements. The elemental compositions of the concretes were analyzed by using an energy dispersive X-ray Fluorescence Spectrometer (EDXRF). In this experiment, the concrete composite sample with composition of 0% fly ash and 30% ferronickel slag shows the most effective result in absorbing low energy gamma rays, therefore it has the potential as a candidate for gamma radiation shielding.