cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PEMULIAAN MUTASI DALAM PENINGKATAN MANFAAT GALUR-GALUR TERSELEKSI ASAL PERSILANGAN ANTAR SUB-SPESIES PADI Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.72 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.535

Abstract

Sempitnya keragaman genetik dari varietas-varietas padi yang sudah dilepas memberi kontribusi besar terhadap terjadinya pelandaian peningkatan potensi hasil padi pada beberapa dekade terakhir. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan galur-galur pemuliaan (breeding lines) yang mempunyai keragaman genetik luas melalui persilangan antar sub-spesies Indika dengan Japonika. Dari 100.000 tanaman F5 hasil persilangan varietas IR36 (sub-sp. Indika) dengan varietas Koshihikari (sub-sp. Japonika), terpilh 568 tanaman, selanjutnya 568 tanaman tersebut dimurnikan sampai generasi F8 hingga menjadi 568 galur murni. Galur-galur murni ini dilengkapi dengan data beberapa sifat agronomi seperti tinggi tanaman, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, panjang gabah, lebar gabah, dan lain-lain sehingga akan memberi kemudahan dalam penggunaannya pada program pemuliaan tanaman padi selanjutnya. Diantara galur-galur itu, 7 galur terbaik langsung masuk uji daya hasil, 23 galur disilangkan sesamanya untuk mengumpuilkan sebanyak mungkin sifat yang diinginkan pada satu tanaman, dan 2 galur berpotensi untuk dikembangkan tetapi masih punya sedikit kelemahan, yaitu batang terlalu tinggi sehingga mudah rebah untuk galur KI 237, dan umur terlalu panjang untuk galur KI 432. Peningkatan manfaat galur KI 237 dan KI 432 dilakukan dengan memperbaiki kelemahannya melalui pemuliaan mutasi. Setelah benih kedua galur tersebut diiradiasi dengan sinar gamma dosis 200 Gy, diperoleh sejumlah mutan pendek dan semi-pendek, serta mutan genjah pada populasi M2. Mutan-mutan tersebut akan sangat berguna untuk memperbaiki kelemahan galur asalnya baik secara langsung maupun melalui pemuliaan silang balik (backcross breeding).
PRINSIP DASAR PENERAPAN TEKNIK SERANGGA MANDUL UNTUK PENGENDALIAN HAMA PADA KAWASAN YANG LUAS Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.249 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.2.572

Abstract

Teknik Serangga Mandul (TSM) adalah suatu teknik pengendalian hama yang relatif baru, potensial, dan kompatibel dengan teknik lain. Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepasdi lapang sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil makin menjadi bertambah besar dari generasi pertama ke generasi berikutnya akibat makin menurunnya persentase fertilitas populasi serangga di lapang. Pengaruh penglepasan serangga mandul (dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan alami dan potensi reproduksi setiap ekor serangga betina induk pada tiap generasi menghasilkan keturunan 5 ekor serangga betina) terhadap model penurunanpopulasi serangga didiskusikan secara konseptual. Dari generasi induk sebanyak satu juta ekor serangga betina menurun menjadi 26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor, dan 0 (nihil) berturut-turut pada generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga dan yang keempat .Selanjutnya apabila teknik jantan mandul dipadukan dengan teknik kimiawi (insektisida) dengan daya bunuh 90 % menjadi bertambah efektif dibandingkan hanya dengan penerapan teknik jantan mandul saja. Dari populasi serangga satu juta ekor pada generasi I menurun menjadi 2.632 , 189, dan 0 ekorberturut-turut untuk keturunan I,II, dan III. Pada Lepidoptera ditemukan adanya fenomena kemandulan yang diwariskan (inherited sterility). Kemandulan yang diwariskan kepada keturunan pertama, menurut Knipling (1970) disebabkan olehterjadinya translokasi kromosom pada gamet. Pada individu yang heterozygot akan mati dan individu yang homozygot masih dapat hidup. Fenomena kemandulan bastar antar spesies pertama kali ditemukan oleh Laster (1972) pada perkawinan antara Heliothis virescens (F) jantan dan Heliothis subflexa Guenee betina. Ngengat jantan keturunan pertama dari hasil perkawinan antara H. virescens dan H. subflexa menjadi mandul dan yang betina tetap fertil. Bila ngengat betina keturunan pertama ini dikawinkan secara back cross dengan H. virescens jantan maka kejadian akanberulang kembali yaitu keturunan yang jantan mandul dan yang betina fertil (F2) jantan menjadi mandul dan yang betina fertil).
Keragaman Genetik Gandum Populasi Mutan M3 di Agroekosistem Tropis Amin Nur; Soeranto Human; Trikosoemaningtyas Trikosoemaningtyas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.692 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.1.2732

Abstract

Keberhasilan mengembangkan varietas terhadap toleransi suatu cekaman dalam program pemuliaan tanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan keragaman genetik, ketepatan menerapkan metode seleksi dan kemampuan pemulia dalam mengidentifikasi genotipe yang memperlihatkan ketahanan terhadap cekaman tertentu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik mutan gandum hasil seleksi generasi M3 yang toleran terhadap cekaman suhu tinggi pada ketinggian tempat (elevasi) yang berbeda.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan tanaman di elevasi > 1000 m dpl lebih baik dibanding elevasi < 400 m dpl. Populasi M3 yang memiliki perubahan nilai tengah tinggi adalah M3Kasifbey, M3Rabe dan M3Basribey. Populasi M3Oasis merupakan populasi yang mampu beradaptasi terhadap cekaman suhu tinggi berdasarkan karakter jumlah floret hampa, jumlah anakan produktif, bobot biji/malai, jumlah biji/malai, bobot biji/tanaman dan jumlah biji/tanaman. Keragaman genetik dan nilai duga heritabilitas di elevasi < 400 m dpl (Bogor) lebih luas dan tinggi dibandingkan elevasi > 1000 m dpl (Cipanas). Kata Kunci : gandum, mutasi induksi, variabilitas genetik, populasi M3.
The Changes of Nutrient Composition and In Vitro Evaluation on Gamma Irradiated Sweet Sorghum Bagasse Teguh Wahyono; Firsoni Firsoni
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.882 KB) | DOI: 10.17146/jair.2016.12.1.2855

Abstract

In vitro rumen fermentation study was done to evaluate the effects of gamma irradiation on nutrient compound changes and rumen fermentation product of sweet sorghum bagasse (SSB). The level doses 0, 50, 100 and 150 kGy from cobalt-60 gamma rays irradiator was used to treate sweet sorghum bagasse (SSB). Variables measured were nutrient values, gas production, methane (CH4) production, total volatile fatty acid (TVFA), ammonia (NH3), in vitro dry matter digestibility (IVDMD) and in vitro organic matter digestibility (IVOMD) after 72 h in-vitro incubation times. Complete randomized design (CRD) (four treatments and four replications) was used to analyze data. The results showed that gamma irradiation doses of 50, 100 and 150 kGy were able to reduce neutral detergent fibre (NDF) (2.15; 3.29 and 5.44% respectively) and acid detergent fibre (ADF) (3.29; 4.58 and 4.58% respectively) and significantly different (P<0.05). Gamma irradiation was capable to increas total volatile fatty acid (TVFA), IVDMD and IVOMD (P<0.05). Irradiation doses of 100 and 150 kGy also increased protozoa population and CH4 production significantly (P<0.05). Gamma irradiation improved in vitro rumen performance represented in rumen fermentation products. Keywords : Gamma irradiation, In vitro fermentation, Nutrient composition, Sweet sorghum bagasse
APLIKASI ISOTOP ALAM 18O, 2H DAN 14C UNTUK STUDI AIR TANAH DI KEPULAUAN SERIBU Bungkus Pratikno; Zainal Abidin; Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.094 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.526

Abstract

Telah dilakukan studi air tanah di beberapa pulau di wilayah kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Studi dilakukan denganmengambil contoh air tanah dari sumur bor dengan kedalaman 150 m di empat lokasi pengambilan contoh yang meliputi Pulau Lancang, Pulau Tidung Besar, Pulau Pramuka dan Pulau Panggang. Metode isotop alam 18O dan 2H dan carbon dating 14C telah digunakan dalam studi ini. Tujuan studi ini selain untuk mengetahui umur air tanah pada ke empat pulau tersebut juga untuk mengetahui adanya intrusi air laut yang masuk kedalam aquifer air tanah, sebagai usaha dalam rangka konservasi air tanah. Berdasarkan hasil carbon dating (isotop 14C) umur air tanah di ke empat pulau tersebut secara umum berada pada kisaran 20.000 tahun yang memberikan indikasibahwa ketersedian air tanah dalam masih cukup, sedangkan analisis komposisi isotop alam 18O dan deuterium menunjukkan bahwa air tanah telah mengalami intrusi air laut.
METODE SUSPENSI SEL UNTUK MEMBENTUK SPOT HIJAU PADA KULTUR IN-VITRO GALUR MUTAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) Ita Dwimahyani
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 3, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.475 KB) | DOI: 10.17146/jair.2007.3.2.559

Abstract

Jarak pagar sangat berpotensi sebagai energi alternatif (biofuel), karena mampu menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi bahan bakar pengganti energi fosil. Peningkatan permintaan akan biodiesel mendorong ketersediaan bibit tanaman jarak pagar yang berkualitas. Untuk memenuhi hal tersebut pembibitan tanaman jarak pagar dalam skala besar sangat dibutuhkan. Metode perbanyakan dengan suspensi sel diharapkan dapat menghasilkan bibit tanaman jarak pagar yang benar-benar homogen. Telah dilakukan pengujian laboratorium untuk menguji keefektifan metoda sel suspensi dengan eksplan kotiledon galur mutan jarak pagar (JH-38) yang mempunyai keunggulan pada tinggi tanaman, umur genjah dan berbuah terus menerus. Dua jenis media pertumbuhan untuk induksi kalus yaitu media A (MS + 2,4-D 2,0 mg/l + BAP 0,5 mg/l + ekstrak malt 0,1 g + agar 8,0 g/l) dan B (MS + 2,4-D 3,0 mg/l + BAP 0,5 mg/l + ekstrak malt 0,1 g + agar 8 g/l). Untuk media regenerasi digunakan media cair dengan komposisi media induksi tetapi tanpa agar. Untuk media regenerasi setelah proses sel suspensi digunakan media padat ECS (Embryogenic Cell Suspension) dengan komposisi MS + glutamin 0.5 g + casein hidrolisat 0,5 g + IAA 0,5 mg/l + BAP 3 mg/l + agar 8,0 g/l. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter kalus optimum diperoleh eksplan JH-38/3 yang diinduksikan dengan media A. Tingkat pertumbuhan sel embriogenik berkisar dari 0 sampai 130 %. Persentase pembentukan spot hijau optimum diperoleh dari eksplan JH-38/1 yang diinduksi dengan media A
Uji Radiosensitivitas Sinar Gamma untuk Menginduksi Keragaman Genetik Sorgum Berkadar Lignin Tinggi Dwi Astuti; Yuli Sulistyowati; Satya Nugroho
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.762 KB)

Abstract

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman serealia yang dapat ditanam di lahan kering dan cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan dan industri. Salah satu kandungan dalam sorgum yang dimanfaatkan untuk bahan industri adalah lignin yaitu digunakan dalam pembuatan particle board sehingga dapat mengurangi pemakaian kayu (penebangan pohon). Dalam penelitian ini digunakan 2 genotipe sorgum dengan kandungan lignin tinggi yaitu Konawe Selatan (KS) dan Sorgum Malai Mekar (SMM) untuk ditingkatkan keragaman pada karakter biomasa melalui pemuliaan mutasi induksi. Keberhasilan mutasi iradiasi sinar gamma sangat ditentukan oleh sensitivitas genotipe tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rentang dosis optimal yang dapat menginduksi variasi genetik untuk genotipe KS dan SMM. Benih sorgum KS dan SMM diiradiasi sinar gamma dosis 0  - 1000 Gy increment 100 Gy. Pengamatan dilakukan terhadap populasi tanaman M1 untuk persentase daya kecambah dan tinggi tanaman pada dua minggu setelah tanam (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi menghambat pertumbuhan benih sorgum yang ditunjukkan oleh tanaman kerdil atau tidak berkembang. Rentang dosis optimum yang didapatkan untuk sorgum genotipe KS dan SMM adalah 300 – 500 Gy.
Pengujian Ransum Kerbau Berbahan Baku Sorgum Sebagai Sumber Serat Secara In Vitro dan In Sacco Teguh Wahyono; Dewi Apri Astuti; Komang G. Wiryawan; Irawan Sugoro
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.353 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2709

Abstract

Sorgum merupakan salah satu tanaman sumber serat untuk kebutuhan ransum kerbau yang potensial dikembangkan di Indonesia. Sorgum varietas Samurai 1 dan samurai 2 masing-masing merupakan hasil pemuliaan melalui mutasi radiasi yang berasal dari indukan sorgum varietas Pahat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi ransum yang mengandung sorgum samurai 2 sebagai sumber serat dibandingkan dengan ransum yang mengandung sorgum pahat dan bagas sorgum samurai 1. Potensi yang diamati adalah pengaruhnya terhadap laju pertumbuhan mikroba rumen kerbau (in vitro) dan degradasi bahan pakan (in sacco). Rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan diterapkan dalam percobaan ini. Enam ransum yang diuji adalah: P1 (50% jerami sorgum pahat + 50% konsentrat), P2 (50% silase jerami sorgum pahat + 50% konsentrat), P3 (50% jerami sorgum samurai 2 + 50% konsentrat), P4 (50% silase jerami sorgum samurai 2 + 50% konsentrat), P5 (50% bagas sorgum samurai 1 + 50% konsentrat) dan P6 (50% silase bagas sorgum samurai 1 + 50% konsentrat). Peubah yang diamati adalah pH, konsentrasi amonia (NH3), Total Volatile Fatty Acid (TVFA), sintesis protein mikroba (teknik radioisotop 32P), degradasi Bahan Kering (BK), karakteristik degradasi BK, degradasi Neutral Detergent Fiber (NDF) dan karakteristik degradasi NDF. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi NH3, laju pertumbuhan bakteri rumen dan degradasi NDF tertinggi dihasilkan ransum P4 dengan nilai masing-masing 24,87 mg/100 ml; 8,11 mg/2 jam/100 ml dan 31,96%. Konsentrasi TVFA dan pH antar perlakuan tidak berbeda nyata. Keenam perlakuan ransum mampu mendukung fermentasi dan kecernaan pakan didalam rumen namun perlakuan yang terbaik adalah ransum yang mengandung silase sorgum samurai 2. Kata kunci : sorgum, kerbau, in vitro, in situ, radioisotop 32P
Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) Iradiasi yang Mempunyai Aktivitas Antikanker Ermin Katrin Katrin; Susanto .; Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.757 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.1.494

Abstract

Pasteurisasi simplisia dan produk obat herbal telah dilakukan oleh beberapa perusahaan obat herbal, namun informasi tentang keamanan obat herbal yang diradiasi masih sedikit, bahkan pengaruh iradiasi gamma untuk tujuan pasteurisasi terhadap toksisitas simplisia temulawak belum pernah diteliti. Ekstrak etanol temulawak mempunyai aktivitas berpotensi sebagai antikanker. Pada penelitian ini dilakukan uji toksisitas akut ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy. Uji toksisitas akut ekstrak etanol dilakukan pada mencit dengan mengamati pengaruh ekstrak terhadap perilaku hewan (profil farmakologi) setelah pemberian dosis tunggal bahan uji, perkembangan bobot badan hewan percobaan dan kematian setiap hari selama 14 hari serta pengamatan bobot beberapa organ pada hari ke-14.Hasil uji toksisitas akut setelah pemberian ekstrak pada mencit jantan dan betinamenunjukkan bahwa sampai dosis 7500 mg/kg bobot badan (BB) tidak ada kematian dan efektoksik yang bermakna, maka ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yangdiradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy dapat dinyatakan aman. Dengan demikian DL50 dariekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi (5 dan 10 kGy) padamencit lebih besar dari 7500 mg/kg BB.
POTENSI HASIL DAN KANDUNGAN PATI GALUR MUTAN UBI JALAR SARI PADA LOKASI BERBEDA Aryant .; Marina Yuniawati; M. Jusuf
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.578 KB) | DOI: 10.17146/jair.2010.6.2.517

Abstract

Penelitian mutasi induksi untuk perbaikan sifat tanaman ubijalar varietas sari telah dilakukan di PATIR — BATAN. Telah diperoleh 4 galur mutan generasi M1V5 ( D15.7.5; D15.7.7; D15.7.8; dan D15.7.9 ) hasil iradiasi stek batang cv. Sari dengan dosis 40 Gy. Galur-galur tersebut telah ditanam di 4 lokasi yang berbeda yaitu Propinsi Jawa Barat ( Bogor dan Kuningan ) dan Propinsi Jawa Timur ( Malang dan Mojokerto ). Galur mutan, c.v. Sari dan kultivar lokal sebagai pembanding ditanam pada jarak tanam 0,25 x 1 mpada plot berukuran 4 x 5 m. Panen dilakukan setelah tanaman berumur 4 bulan kemudian dilakukan analisis kandungan gula dan pati dari umbi dengan menggunakan alat Spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi umbi tertinggi 44,11 ton/ha ditemukan pada galur D15.7.5 di lokasi Mojokerto. Galur tersebut juga stabil pada keempat lokasi uji dengan hasil rata-rata 30,04 ton/ha. Mojokerto merupakan lokasi terbaik dibandig 3lokasi lainnya. Kadar pati bahan kering dicapai 96,47 % pada galur D15.7.9, sedang kadar gula tertinggi diperoleh 8,80 % pada galur mutan D15.7.5. Semua galur mutan berproduksi, berkadar pati dan gula lebih tinggi dibanding tanaman induknya.