cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Photocatalytic Degradation of Dissolved Organic Matter in the Ground Water Employing TiO2 Film Supported on Stainless Steel Plate Winarti Andayani; Agustin Sumartono; Muhammad Lindu
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.411 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.489

Abstract

The Taman Palem Residences,Cengkareng, Indonesia has a groundwater problem as a main sources of drinking water in thearea due to yellowish brown colour of the water, that may come from dissolved organicmatter (DOM), humic substances. Photocatalytic degradation using TiO2 coated on a stainlesssteel plate (8 x 8 cm) to degrade the dissolved organic matter was studied.Groundwatersamples were collected at 150 m deep from Taman Palem Residences. The TiO2 catalyst wasmade from deep coating in a sol-gel system of titanium (IV) diisopropoxidebisacetylacetonate(TAA) precursor and immobilized at stainless steel plate (8 x 8 cm), followed by calcination at525oC. Two catalyst sheets were put in batch reactor containing groundwater. The groundwater containing DOM were irradiated by UV black light at varying initial pH values i.e 5, 7and 9. Sampling of solution was taken at the interval time of 0, 1, 2, 4, and 6 hours. DOMresidu in water before and after irradiation were measured by spectrophotometer UV-Vis at300 nm. Photocatalytic degradation of DOM was greater in acid solution than in basicsolution. The determination of intermediate degradation products by HPLC revealed thatoxalic acid was detected consistently.
RESPON GALUR MUTAN PADI SAWAH BERUMUR GENJAH TERHADAP BERBAGAI TAKARAN PUPUK NPK DAN PENGAIRAN Haryanto .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.786 KB) | DOI: 10.17146/jair.2010.6.1.512

Abstract

Permasalahan yang dihadapi pada program penanaman 4 kali setahun (IP400) adalahterkurasnya unsur hara tanah dan besarnya air yang dibutuhkan oleh tanaman padi. Untuk mengatasi masalah ini perlu dihasilkan varietas genjah yang hemat pupuk dan air dengan cara menguji galur-galur mutan genjah tersebut pada berbagai cara pengairan dan takaran pupuk NPK. Penelitian terhadap beberapa galur mutan harapan dan tanaman kontrol dilakukan di lapangan. Analisis unsur haradilaksanakan di laboratorium Pemupukan dan Nutrisi Tanaman PATIR-BATAN. Untuk mengukur kelembapan tanah dalam perlakuan pengairan digunakan Neutron Probe. Perlakuan yang dicobakan adalah tiga cara pengairan (digenangi terus menerus, diairi kemudian dibiarkan selama 10 hari, dan dibiarkan selama 15 hari)serta empat taraf pemupukan NPK (0, 25, 50, dan 100%). Hasil yang diperoleh adalah rata-rata produksi per hektar untuk galur/varietas yang diujicobakan berturutturut galur OBS 1705 (9,3597 t), varietas Cimelati (8,9631 t), galur OBS 1700 (8,9192t), varietas Diah Suci (8,7706), galur OBS 1713 (8,2797 t), galur OBS 1703 (8,2733 t), galur 1718 (8,2489 t), dan galur 1704 (8,0019 t). Secara statistik produksi rata-ratayang diperoleh pada berbagai tingkat pemupukan NPK dan cara pengairan paling tinggi adalah galur OBS 1705 dan ini tidak berbeda nyata dengan varietas Cimelati, tetapi berbeda nyata dengan OBS 1700, varietas Diah Suci, OBS 1713, OBS 1703, OBS 1718 dan OBS 1718. Galur OBS 1704 sangat tanggap terhadap pemupukan NPK ditunjukkan oleh adanya produksi gabah kering yang meningkat secara tajam pada pemberian pupuk NPK yang sangat rendah (25%). Selain itu galur OBS 1704 memberikan respon yang baik pada pengairan berselang 15 hari. Semua galur mutan yang diujikan secara statistik mempunyai serapan N-total dalam gabah yang lebihtinggi secara nyata daripada varietas induknya.
Iradiasi Sinar Gamma Dosis Rendah untuk Meningkatkan Kemampuan Fungi Dalam Mereduksi Logam Berat Pb dan Cd Dadang Sudrajat; Nana Mulyana
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2661.842 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.2.3526

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis iradiasi sinar gamma untuk meningkatkan kemampuan mikroba untuk mereduksi logam berat Pb dan Cd tanpa mengurangi kemampuan tumbuh dan aktivitas enzim selulase dalam media cair melalui proses biosorpsi. Dalam penelitian ini digunakan 3 isolat fungi yaitu Trichoderma harzianum (Th), Aspergillus niger (An), dan Trichoderma viride (Tv). Pada tahap awal dilakukan uji keamampuan tumbuh isolat tersebut dalam media PDA yang mengandung logam berat Pb dan Cd pada konsentrasi 25 ppm. Dosis iradiasi yang digunakan 4 taraf yaitu 0; 125; 250; 375; dan 500 Gy dengan laju dosis 0,21 kGy/jam dari sumber Cobalt 60 Gamma-Cell 220. Isolat fungi teriradiasiditumbuhkan dalam media cair Potatoes Dextrose Broth (PDB) yang mengandung logam berat Pb dan Cd masing-masing sebesar 50 dan 100 ppm. Parameter yang diukur adalah pH, beratsel kering, kadar logam berat, dan aktivitas enzim selulase. Hasil penelitian ini menunjukkan ke-tiga isolat fungi mampu tumbuh pada media PDA yang mengandung logam berat Pb dan Cd. Dosis iradiasi optimum 250 Gy pada ketiga isolat fungi tersebut dapat meningkatkan kemampuan dalam menurunkan konsentrasi logam berat Pb dan Cd, meningkatkan berat sel kering, dan aktivitas enzim selulase setelah diinkubasi selama 10 hari. Hasil penelitian ini diharapkan bioremediasi yang menggunakan fungi hasil iradiasi dapat diaplikasikan dalam bioremediasi lingkungan tercemar logam Pb dan Cd sebagai alternatif pengembangan teknologi pengolahan limbah logam berat ramah lingkungan.
MUTASI INDUKSI UNTUK MEREDUKSI TINGGI TANAMAN PADI GALUR KI 237 Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.97 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.2.545

Abstract

Galur KI 237 merupakan galur murni yang berasal dari persilanganantar sub-spesies, yaitu sub-spesies Japonika var. Koshihikari dengan sub-spesiesIndika var. IR36. Galur ini memiliki potensi hasil tinggi, umur panen sedang, malai panjang, tetapi tinggi tanaman terlalu tinggi sehingga mudah rebah. Untuk mereduksi tinggi tanaman telah diiradiasi benih KI 237 sebanyak 50 gram dengansinar gamma dosis 200 Gy. Hasil seleksi pada 6480 tanaman M2 diperoleh 3 tanaman mutan pendek dan 15 tanaman mutan semi-pendek dengan frekuensi mutan kearah pendek dan semi-pendek mencapai 0,26%. Pengurangan tinggi tanaman yangsignifikan pada mutan pendek dan semi-pendek disebabkan oleh berkurangnya ukuran panjang masing-masing ruas batang tanaman mutan, sementara jumlah ruas batang mutan tetap sama dengan jumlah ruas batang tanaman asalnya KI 237. Begitujuga dengan panjang malai dan panjang gabah pada mutan tidak banyak mengalami perubahan. Dari 342 galur M2 yang diamati, dimana masing-masing galur terdiri dari 20 tanaman, terlihat satu galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanamanpendek dengan perbandingan 17 normal banding 3 pendek, dan empat galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanaman semi-pendek dengan perbandingan masing-masing 12 normal banding 8 semi-pendek, 17 normal banding 3 semi-pendek, 18 normal banding 2 semi-pendek, dan 18 normal banding 2 semipendek. Berhubung jumlah tanaman M2 untuk setiap galurnya sangat sedikit yaitu hanya 20 tanaman, maka perbandingan segregasi antara mutan dan tanaman normal tidak bisa menerangkan jumlah GEC (Geneically Efective Cell) yang termutasi. Sifat lain mutan-mutan semi-pendek yang terseleksi tidak jauh berbeda dengan sifat tanaman KI 237, oleh karena itu mutan-mutan semi-pendek ini sangat berpotensi  untuk dikembangkan secara langsung menjadi varietas unggul baru setelah melalui berbagai pengujian, atau dapat juga digunakan sebagai sumber genetik pada perbaikan galur KI 237 melalui pemuliaan silang balik.
Identifikasi Phanerochaete chrysosporium Yang Diiradiasi Sinar Gamma dengan Marka RAPD Dadang Sudrajat; Nana Mulyana; Rika Heryani
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.463 KB) | DOI: 10.17146/jair.2018.14.1.4284

Abstract

Phanerochaete chrysosporium merupakan jamur paling potensial yang berperan dalam proses delignifikasi karena menghasilkan enzim lignin peroksidase (LiP) dan mangan peroksidase (MnP). Untuk meningkatkan kemampuan daya lignnolitiknya dilakukan perbaikan genetiknya dengan iradiasi sinar gamma. Informasi tentang perubahan genetik akibat iradiasi pada jamur Phanerochaete chrysosporium sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan kemampuan isolat tersebut untuk proses bioremediasi. Penelitian ini bertujuan mendeteksi mutan jamur P. chrysosporium hasil iradiasi sinar gamma pada dosis 250-2000 Gy dengan menggunakan marka Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Tiga oligonukleotida primer RAPD digunakan untuk mengamplifikasi genom DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi berpengaruh pada pertumbuhan P. chrysosporium. Nilai D50 pada dosis 1000 Gy. 3 primer, yaitu OPA-1, OPA-4, dan OPD-6 menghasilkan pita-pita polimorfik yang digunakan untuk menganalisis hasil mutasi pada dosis 500; 750; 1000; dan 2000 Gy. Profil DNA-RAPD menunjukkan variasi genetik yang tinggi antara isolat yang diradiasi dan isolat kontrol (0 Gy) dengan formasi 3-5 kluster. Analisis dendrogram menunjukkan nilai koefisien kesamaan (similarity coefficient) antara 0.71-0.91. Hasil ini menunjukkan bahwa RAPD merupakan teknik yang mudah untuk mendeteksi adanya mutasi pada DNA akibat iradiasi.
Pengaruh Laju Dosis Iradiasi Gamma (60Co) terhadap Senyawa Antigizi Asam Fitat dan Antitripsin pada Kedelai (Glycine max L.). Rindy Panca Tanhindarto; Purwiyatno Hariyadi; Eko Hari Purnomo; Zubaidah Irawati
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.057 KB) | DOI: 10.17146/jair.2013.9.1.1199

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap pengaruh iradiasi gamma dengan berbagai laju dosis pada senyawa antigizi (asam fitat dan antitripsin) dan warna kedelai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh laju dosis terhadap penurunan konsentrasi senyawa antigizi dan warna kedelai. Sampel diiradiasi dengan laju dosis 1,30; 3,17; 5,71 dan 8,82 kGy/jam dengan waktu iradiasi bervariasi dari 0,5 jam sampai 55 jam. Sampel dianalisis kadar asam fitat dan aktivitas antitripsin, serta nilai warna L a b kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kinetika sederhana dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan konsentrasi senyawa antigizi dan warna kedelai selama proses radiasi. Data penelitian mengindikasikan bahwa proses radiasi pada laju dosis lebih tinggi (waktu lebih pendek) lebih efektif dalam menghancurkan senyawa antigizi dibandingkan dengan proses radiasi pada laju dosis lebih rendah (waktu lebih lama). Selanjutnya, proses radiasi pada laju dosis lebih tinggi (waktu lebih pendek) juga memiliki efek yang kurang merugikan pada warna biji dan tepung kedelai dibandingkan dengan proses radiasi dengan laju dosis lebih rendah (waktu lebih lama). Temuan ini menunjukkan bahwa proses radiasi pada dosis yang sama berpotensi dapat dioptimalkan dengan pemilihan kombinasi yang paling sesuai terhadap laju dosis dan waktu iradiasi
Aspek Keamanan Pangan : Uji Toksisitas Secara In Vitro Pepes Ikan Mas (Cyprinus carpio ) yang Disterilkan dengan Iradiasi Gamma Zubaidah Irawati; Kallista Rachmavika Putri; Fransiska Rungkat Zakaria
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.938 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.2.80

Abstract

Aspek Keamanan Pangan : Uji Toksisitas Secara In Vitro Pepes Ikan Mas. (Cyprinus carpio) yang Disterilkan dengan Iradiasi Gamma. Iradiasi pengion merupakan salah satu teknik fisika untuk pengawetan bahan pangan yang menggunakan proses ionisasi tanpa mengubah secara nyata karakteristika fisikokima dan kandungan gizi dari bahan yang diiradiasi. Pembentukan senyawa radikal bebas dan senyawa radiolitik dalam produk akibat iradiasi dikhawatirkan akan membentuk senyawa yang bersifat toksik, mutagenik, ataupun karsinogenik sehingga membahayakan konsumen.Uji toksisitas yang merupakan bagian dari uji keamanan pangan pada sampel pepes ikan mas (Cyprinus carpio ) di dalam kemasan secara vakum dan diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 45 kGy dalam kondisi beku dilakukan melalui uji proliferasi limfosit dan pengukuran kandungan malonaldehida. Limfosit merupakan sel yang berfungsi terhadap respon imun spesifik dan sensitif terhadap ketidakseimbangan antara oksidan dan antioksidan di dalam tubuh manusia, sedangkan kadar malonaldehida merupakan indikator keberadaan radikal bebas sekaligus berfungsi sebagai indikator kerusakan oksidatif di dalam matriks suatu material biologis. Baik pada sampel kontrol (K) maupun pada sampel yang diiradiasi dalam waktu penyinaran yang berbeda yaitupada tanggal 11 November 2006 (A), 14 Juni 2007(B), pada tanggal 5 April 2008 (C), dan pada tahun 2008 (kode: “no label”) (D), masing-masing dilakukan pengenceran pada tingkat yang berbeda. Proliferasi sel limfosit diukur berdasarkan Nilai Indeks Stimulasi (IS), sedangkan kadar radikal bebas diukur berdasarkan kadar malonaldehida (pmol/ml) terhadap seluruh sampel yang diamati. Hasil pengukuran IS pada sampel tanpa pengenceran, menunjukkan bahwa nilai tertinggi terdapat pada sampel B (1,356), yang terendah terdapat pada kontrol (K) (1,161); pada pengenceran 1x nilai tertinggi dicapai oleh sampel D (1,344), terendah pada B (1,084) bila dibandingkan dengan kontrol (1,259). Pada pengenceran 2x nilai tertinggi terdapat pada Kontrol (1,293), tetapi nilai terendah pada sampel D (0,984). Hasil pengukuran kadar malonaldehida (pmol/ml) menunjukkan bahwa tanpapengenceran, nilai tertinggi terdapat pada sampel A (0,1182 pmol/ml), terendah pada sampel C (0,1178 pmol/ml) apabila keduanya dibandingkan dengan kontrol (0,1180 pmol/ml). Ekstrak sampel tanpa pengenceran dari seluruh pepes ikan mas yang diiradiasi 45 kGy tidak menghambat proliferasi dari sel limfosit ketika dibandingkan dengan sampel kontrol (p<0.01). Baik sampel kontrol maupun sampel iradiasi tidak menginduksi proliferasi sel limfosit bila dibandingkan dengan kontrol standar (p<0.01). Konsentrasi malonaldehida sampel ikan tersebut masih dapat diterima dan tidak berbahaya bila dibandingkan dengan sampel pepes kontrol (p<0.01). Berdasarkan pengujian proliferasi limfosit dan pengukuran kadar malonaldehida ekstrak sampel, pepes ikan mas yang diiradiasi dengan dosis 45 kGy dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Karakterisasi Sifat Fisik dan Mekanik Hidrogel Metilselulosa Hasil Sintesis Menggunakan Iradiasi Berkas Elektron Ambyah Suliwarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.943 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.1.2751

Abstract

Telah dilakukan sintesis hidrogel metilselulosa dari 5 tipe berat molekul menggunakan radiasi berkas elektron pada dosis 10 kGy hingga 100 kGy. Film hidrogel dengan ukuran 16cm × 16cm × 1,2mm dilakukan pengamatan terhadap sifat fisik dan mekanik yang meliputi; persen pengembangan, fraksi gel, kekuatan tarik dan perpanjangan putus. Pengukuran dengan viscometer ubbelohde, diperoleh berat molekul (Mv) metilselulosa berurutan dari rendah ke tinggi adalah sebagai SM-4<SM-100<SM-400<SM-4000<SM-8000. Pasca iradiasi, hidrogel metilselulosa SM-4 tidak terbentuk pada semua konsentrasi, karena semua gel larut dalam air. Fraksi-fraksi gel hidrogel SM-100, SM-400, SM-4000 dan SM-8000 naik dengan naiknya dosis iradiasi, dan turun pada konsentrasi yang meningkat. Persen pengembangan hidrogel SM-100, SM-400, SM-4000 dan SM-8000 turun dengan naiknya dosis, dan konsentrasi. Mv yang relatif tinggi pada; SM-400, SM-4000 dan SM-8000 menyebabkan tegangan putus cenderung naik dengan naiknya dosis khususnya pada konsentrasi 20% dan 30%. Perpanjangan putus hidrogel SM-400, SM-4000 dan SM-8000 meningkat dengan naiknya konsentrasi, dan turun seiring naiknya dosis radiasi. Penurunan sifat-sifat kekuatan tarik dan perpanjangan putus hidrogel, diduga kuat terjadi degradasi karena efek dosis radiasi di atas 40 kGy. Hidrogel dengan penampilan yang baik diperoleh dari metilselulosa dengan Mv menengah; SM-100, SM-400, dan SM-4000, konsentrasi 15% -20% dan dosis radiasi pada 20 kGy.Kata kunci; iradiasi berkas elektron, sifat fisik dan mekanik, hidrogel, metilselulosa, berat molekul.
Karakteristika Tepung Galur Mutan Ubi Jalar Aryanti Aryanti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.472 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.503

Abstract

Penelitian perbaikan sifat tanaman dengan mutasi induksi telah dilakukan terhadap ubi jalar varietas Sari. Tepung galur mutan diperoleh dari hasil seleksi umbi M1V5 yang diiradiasi sinar gamma dosis 10 Gy. Pembuatan tepung dilakukan dengan cara merajang umbi yang telah dikupas, lalu dikeringkan, digiling dan diayak. Pengujian kualitas tepung dilakukan terhadap derajat putih, proksimat, amilosa, kadar air, nilai kelarutan air, daya mengembang, dan karakteristika tepung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung galur mutan C6.26.13 memiliki kadar protein lebih tinggi daripada tanaman induknya Sari dengan kadar 3,62 % dan galur tersebut juga mengandung amilosa lebih tinggi daripada galur lainnya. Nilai kelarutan air antara galur mutan berbeda nyata dengan tanaman induknya dengan variasi antara 1,82 sampai 2,25 % dengan daya mengembang 4,28 hingga 5,55 %. Bentuk granula tepung antara galur mutan berbeda dengantanaman induknya.
An Initiative the Used of Sterile Insect Technique (SIT) To Control Filariasis in Indonesia Beni Ernawan; Hadian Iman Sasmita
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.148 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3920

Abstract

Filariasis as part of the neglected tropical disease is one of the health problems in the world. Filariasis divided into onchocerciasis (river blindness) and lymphatic filariasis or elephantiasis. This disease caused by filarial nematode parasites Onchocerca volvulus, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori. Filariasis transmitted by several mosquito genera as the vector. Indonesia as endemic filariasis, agreed on plays a role on World Health Organization (WHO) global filariasis elimination in 2020. Sterile insect technique (SIT) is a potential method which can be applied to filariasis elimination program by controlling the mosquito population. Basic principles of SIT involve mass rearing of species target, sterilization process using gamma-rays and releasing sterile male insect into a target area. SIT combined with other methods under one management as Area-wide Integrated Pest Management (AW-IPM) to increasing effectiveness and successful filariasis elimination program in Indonesia. Filariasis elimination program in Indonesia has several challenges and needed public participation to achieve program goals.