cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PENANDAAN SERANGGA HAMA DENGAN RADIOISOTOP UNTUK STUDI POLA PEMENCARAN, MIGRASI DAN ESTIMASI KEPADATAN POPULASI Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.96 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.536

Abstract

Untuk mempelajari perilaku serangga di dalam habitatnya seperti pemencaran, migrasi dan jarak terbang diperlukan serangga bertanda agar dapat dilakukan perunutan pergerakannya. Salah satu metoda yang mempunyai prospek baik untuk penandaan internal adalah dengan penggunaan radioisotop. Radioisotop yang digunakan untuk penandaan serangga antara lain 3H, 32P, 14Ca, 45K, 35S, 59Fe, 60Co, dan 14C. Penandaan serangga dengan isotop lebih menguntungkan dibandingkan dengan zat warna karena isotop yang digunakan dapat terikat pada jaringan, misalnya 3H, 32P, 14Ca, K, 131I. Sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis radioisotop perlu diperhatikan waktu berlangsungnya percobaan. Hal ini perlu dilakukan karena telah ditemukan beberapa jenis radioisotop ternyata toksik pada serangga walaupun mempunyai waktu paruh yang memadai yaitu 45Ca, 59Fe, 86Rb, 110Ag, 115Cd, dan 131J. Syarat yang harus dipenuhi untuk penandaan serangga dengan radioisotop ialah aman terhadap serangga, aman terhadap lingkungan, mudah diterapkan, materi mudah didapat dan diterima oleh masyarakat. Radioisotop 32P dengan dosis yang tepat memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai waktu paruh yang relatif pendek, yaitu 14,3 hari. Penandaan dengan isotop yang lain ialah penandaan serangga dengan isotop stabil seperti misalnya rubidium yang dapat dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) atau dapat pula diubah menjadi bentuk radioisotop agar dapat dideteksi. Bila yang digunakan adalah isotop stabil maka contoh hasil percobaan dapat disimpan dalam waktu yang lama, sehingga analisis sampel dapat dilakukan menurut waktu yang dikehendaki. Unsur stabil dapat diubah menjadi radioisotop melalui penembakan dengan netron di dalam reaktor nuklir atau akselerator. Selanjutnya unsur yang telah mengalami aktivasi tersebut dapat diidentifikasi dengan pencacah sintilasi padat, dengan sistem analisis salur banyak atau dapat pula dideteksi dengan autoradiogra
PERTUMBUHAN PROTOZOA DALAM CAIRAN RUMEN KERBAU YANG DISUPLEMENTASI TANIN SECARA IN VITRO Irawan Sugoro; I. Yunianto
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.146 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.2.573

Abstract

Tanin merupakan senyawa antinutrisi yang dapat digunakan untuk meningkatkan protein by pass ternak ruminansia. Sumber tanin yang digunakan adalah serbuk daun akasia Acacia mangium. Kadar tanin diukur dengan metode presipitasi 125I-BSA dan kadar tanin yang terukur adalah 9,02 ± 1,02 %. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan menggunakan cairan rumen kerbau. Perlakuan berdasarkan konsentrasi tanin yang terukur, yaitu A (1,25%); B (2,5%) dan C (5%) serta Kontrol (0%) . Hasil percobaan menunjukkan bahwa suplementasi tanin dapat menurunkan jumlah total sel protozoa dalam cairan rumen kerbau secara in vitro dan penurunan jumlah total sel protozoa paling tinggi dicapai oleh suplementasi serbuk daun akasia dengan kadartanin 2,5 %. Komposisi jenis protozoa menurun pada seluruh perlakuan and viabilitas populasi protozoa menunjukkan terdapat sembilan jenis protozoa yang viabilitasnya yaitu Dasytricha ruminantium, Entodinium ecaudatum f. caudatum, Ostracodinium mammosum, Elytroplastron bubali, Entodinium nanellum, Charoninventriculi, Entodinium rostratum, Ostracodinium bubali dan Metadinium medium.
Identifikasi Pengaruh Beberapa Karakter Agronomi Terhadap Daya Hasil Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) Dengan Analisis Lintas Mia Sri Listiani Ahmad; Aji Hamim Wigena; Soeranto Human
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.279 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2711

Abstract

Tanaman sorgum perlu dibudidayakan dan diperbaiki kualitas daya hasilnya karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Daya hasil dipengaruhi oleh beberapa karakter agronomi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Pencarian sorgum berdaya hasil unggul memerlukan seleksi genotipe melalui analisis setiap karakter agronomi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh karakter agronomi melalui keeratan hubungan dan besarnya pengaruh terhadap daya hasil sehingga diketahui karakter agronomi yang dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi tanaman sorgum. Besarnya pengaruh dapat diperoleh dengan analisis lintas dan tingkat pewarisan sifat-sifatnya dengan nilai heritabilitas. Analisis lintas ini menggunakan model statistik yang serupa dengan model regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hasil berdasarkan produksi biji kering dan produksi biomassa keseluruhan paling dipengaruhi bobot malai sehingga bobot malai dapat dijadikan kriteria seleksi dengan tingkat heritabilitas sedang. Panjang malai juga dapat dijadikan kriteria seleksi karena total pengaruhnya besar terhadap produksi biomassa keseluruhan dengan tingkat heritabilitas tinggi. Daya hasil berdasarkan produksi biomassa tanpa biji tidak dipengaruhi karakter agronomi lainnya. Kata kunci : analisis lintas, heritabilitas, sorgum
Manufacturing of Kapur Wood (Dryobalanops spp.) Particle Board and Its UV-Radiation Curing of Surface Coatings Sugiarto Danu; Darsono .; Adjat Sudradjat
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.259 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.1.495

Abstract

Research on manufacturing the kapur (Dryobalanopsspp.) particle board has been conducted using the mixture of clover leaf oil by products andtannin after being mixed with phenol and formaldehyde as adhesives. Particle board was prepared by molding process while pressing and heating. Particle board measured by usingSNI 01-2105-1991 have physical properties i.e. density, water content, thickness swelling meet the standard whereas the mechanical properties i.e. modulus of elasticity, modulus of rupture, internal bond strength, and screw holding strength do not meet the standard. Ultra-violet cured polyester coatings on particle board have pencil hardness of 2B — 2H, medium gloss (36— 58 %), adhesion meet ASTM D 2571-71, and most failure patterns occur on particle board part. In general, polyester coats do not resist against 10 % sodium hydroxide solution
Pendugaan Ragam Genetik dan Heritabilitas Karakter Agronomi Gandum Hasil Tiga Perlakuan Teknik Iradiasi Sinar Gamma Wijaya Murti Indriatama; Trikoesoemaningtyas Trikoesoemaningtyas; Syarifah Iis Aisyah; Soeranto Human
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.463 KB) | DOI: 10.17146/jair.2016.12.2.2861

Abstract

Teknik iradiasi sinar gamma dapat meningkatkan frekuensi dan memperluas spektrum mutasi makro namun belum banyak dikaji pengaruhnya terhadap mutasi mikro pada karakter kuantitatif dalam populasi termutasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perlakuan teknik iradiasi terhadap keragaman genetik dan heritabilitas karakter agronomi gandum pada generasi M2. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai November 2014 di kebun percobaan Cibadak, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian. Benih tiga galur gandum (F-44, K-95 dan WL-711) diberikan perlakuan tiga teknik iradiasi sinar gamma (akut, terbagi dan berulang). Generasi M1 ditanam secara bulk di lahan dan dipanen secara individu. Sebanyak 75 malai tiap kombinasi perlakuan ditanam satu baris per malai sebagai generasi M2 dan diamati karakter agronominya. Perlakuan teknik iradiasi sinar gamma menginduksi perluasan nilai kisaran semua karakter agronomi populasi M2. Teknik iradiasi terbagi mampu menginduksi nilai rataan yang lebih tinggi dengan kisaran yang lebih luas pada karakter panjang malai dan jumlah spikelet per malai dibanding teknik iradiasi yang lain. Teknik iradiasi terbagi dan berulang menghasilkan ragam yang lebih besar dibanding iradiasi akut pada karakter hasil biji per tanaman. Karakter agronomi jumlah anakan produktif, bobot malai, bobot biji per malai dan bobot biji per tanaman pada populasi M2 hasil induksi tiga teknik iradiasi memiliki heritabilitas yang tinggi. Tiga teknik iradiasi menginduksi perluasan keragaman genetik semua karakter agronomi populasi M2 yang diamati kecuali tinggi tanaman. Kata kunci : iradiasi akut, iradiasi terbagi, iradiasi berulang, mutasi mikro
EFFECT OF GAMMA IRRADIATION ON MICROBIAL CELLULOSE MEMBRANE FOR APPLICATION IN GUIDED BONE REGENERATION (GBR) Darmawan Darwis
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.096 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.527

Abstract

The synthesis and effect of gamma irradiation on characteristics of microbial cellulose membrane have been evaluated. Microbialcellulose gel (nata de coco) was produce using bacteria Acetobacter xylinum incubated in bacterial growth medium containing coconut water as a micro nutrient source. Microbial cellulose membrane was prepared using mould compression at 120°C for 5 minutes. The membranes were irradiated using gamma rays with doses of 25 and 50 kGy respectively at dose rate of 10 kGy/h. Several parameters such as water absorption, surface morphology, thermal and mechanical properties of un- irradiatedand irradiated membranes were analyzed. The results showed that optimum production of microbial cellulose by A. Xylinum is 10 to 12 days at incubation temperature of 30°C and pH 4. Chemically treatments of MC membrane by NaOH and NaOCl solution were effective to remove the bacteria contaminant, bacterialcells embedded in the polymer net and endotoxin which occurred during cellulose production as well as produced membrane with more white colour. Water absorptionproperties of MC membranes showed maximum value at immersion temperature of 25°C, 37°C and 50°C were 110, 137 and 140 %, respectively. Water absorption of MC membrane decreases by increasing irradiation dose. Microscopic photograph of MC membrane showed that the membrane was consisted of interconnected nano to micro porous structures with diameter ranging from 0.05 to 0.5 μm. Thermal properties of MC showed that decomposition temperature of un-irradiated and irradiated MC membrane at dose of 25 and 50 kGy were 328°C, 328°C and 295°C, respectively. Tensile strength of un-irradiated MC membrane in dry state was 102 MPa. Irradiation at 25 and 50 kGy reduced tensile strength to become 85 and 51 MPa respectively. The decrease of thermal property and mechanical strength of MC membrane by irradiation is due to decomposition of polymeric cellulose to the lower molecular weight. This degradation hopefully improve biodegradation and resorptionof MC membrane in tissue cell.
PERTUMBUHAN KHAMIR PADA TAPIOKA IRADIASI Irawan Sugoro; M. R. Pikoli
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.351 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.560

Abstract

Tapioka dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan isolat khamir karena mengandung karbohidrat tinggi. Sterilisasi dengan iradiasi sinar gamma menghasilkan senyawa senyawayang lebih sederhana dan bersifat toksik. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi terhadap sifat fisik dan kimia serta pertumbuhan isolat khamir R1 dan R2 serta isolat mutan R110 dan R210. Dosis yang digunakan adalah 10, 20, dan 30 kGy. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadiperubahan warna yang semakin gelap dan granula pati semakin kecil sebanding dengan meningkatnya dosis, sedangkan secara kimia terjadi penurunan pH dan kelarutan serta peningkatan kadar glukosa. Tapioka iradiasi tidak mempengaruhi pertumbuhan khamir dengan tidak terbentuknya zona hambat, sedangkan pertumbuhan isolat khamir dalam medium cair tapioka 1 % menunjukkan hasil yang berfluktuasi dan umumnya memiliki dua pola pertumbuhan
Serapan Nitrogen pada Kedelai Varietas Mutiara 3 Akibat Pemberian Rhizobium dan Mikroba Pelarut Fosfat Taufiq Bachtiar; Iswandi Anas; Atang Sutandi; Ishak Ishak
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.438 KB) | DOI: 10.17146/jair.2019.15.1.4504

Abstract

Varietas Mutiara 3 merupakan salah satu varietas unggul kedelai yang dihasilkan melalui teknik mutasi radiasi. Pengembangan varietas kedelai unggul nasional harus didukung oleh teknologi pemupukan seperti pemanfaatan teknologi pupuk hayati. Penggunaan pupuk hayati rhizobium perlu memperhitungkan aspek kesesuaian antara bakteri Rhizobium yang diaplikasikan dengan varietas tanaman kedelai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi rhizobium dan mikroba pelarut fosfat  terhadap tanaman kedelai varietas Mutiara 3. Seleksi isolat rhizobium dilakukan dengan melihat pola dan kecepatan tumbuh dalam media manitol ekstraks khamir, dan menguji secara invivo pada tanaman kedelai. Pengujian mikroba pelarut fosfat dilakukan dengan mengukur kelarutan P pada media cair Pikovskaya dengan metode fosfat biru molibdate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat jenis isolat, bakteri Rhizobiumisolat R1 sesuai untuk kedelai varietas Mutiara 3, dan secara signifikan meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 19.75% dan serapan N sebesar 25.88% dari kontrol. Mikroba pelarut fosfat FPF4 mampu meningkatkan kelarutan P paling tinggi dalam media cair Pikovskaya sebesar 51.13 kali dari kontrol. Kombinasi Rhizobium dan mikroba pelarut fosfat  mampu mengurangi kebutuhan pupuk kimia sebesar 50%. Selain itu kombinasi rhizobium isolat R1 dan mikroba pelarut fosfat isolat FPF4 mampu meningkatkan bobot kering tanaman kedelai sebesar 41.67% dan serapan N sebesar 196.47% dari kontrol.
Peningkatan Aktivitas Enzim Selulase dan Produksi Glukosa Melalui Fermentasi Substrat Jerami Padi Dengan Fungi Aspergillus niger yang Dipapari Sinar Gamma Nana Mulyana; Tri Retno Dyah Larasati; Nurhasni Nurhasni; Meliana Ningrum
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.664 KB) | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas enzim selulase dan produksi glukosa dalam substrat jerami padi dengan fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma Chamber 4000A. Kaldu kentang dektrosa (PDB), garam mineral dengan substrat jerami padi 0 dan 5% berat/volum digunakan sebagai medium cair. Fungi Aspergillus niger dalam media agar miring (slent) dipapari dengan iradiasi gamma pada dosis 0 (kontrol),125, 250, 375, 500 dan 625 Gy. Fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma 500 Gy memiliki aktivitas selulase  lebih tinggi (2,5 kali) dibanding kontrol (0 Gy) yaitu 2,02 U/ml-2,28 U/ml untuk fungi yang dipapari iradiasi gamma dan 0,60 U/ml-1,12 U/ml untuk kontrol. Pada fermentasi fase padat substrat jerami padi dengan kadar kelembaban awal 81% selama 14 hari menggunakan fungi Aspergillus niger yang dipapari sinar gamma 500 Gy dan kontrol. Hasilnya menunjukkan bahwa  fungi Aspergillus niger 500 Gy memiliki aktivitas selulase lebih tinggi (3,9 kali) dibandingkan kontrol yaitu 31,01 U/g untuk fungi yang dipapari sinar gamma dan 7,85 U/g untuk kontrol. Di samping itu, fungi Aspergillus niger (500 Gy) mampu memproduksi glukosa lebih tinggi (2,6 kali) yaitu 125,79 mg/g sedangkan kontrol (0 Gy) adalah 48,00 mg/g. Penggunaan ekstrak enzim kasar yang dihasilkan oleh fungi Aspergillus niger yang dipapar sinar gamma 500 Gy sesuai untuk hidrolisis substrat jerami padi dalam memproduksi glukosa serta mampu meningkatkan aktivitas selulase. Kata kunci : Aspergillus niger, iradiasi gamma, aktivitas selulase, glukosa, fermentasi padat
Kerusakan Morfologis dan Histologis Organ Reproduksi Lalat Buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) (Diptera; Tephritidae) Jantan yang Dimandulkan dengan Iradiasi Gamma Achmad Nasroh Kuswadi
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.956 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.1.486

Abstract

Telah diketahui bahwa iradiasi gamma dosis 90 Gy padakepompong lalat buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) dapat menyebabkan kemandulan pada lalat jantan dewasa, namun belum banyak diinformasikan penyebab terjadinya kemandulan. Untuk mengetahui hal tersebut, telah diteliti perubahan morfologisdan histologis yang terjadi pada alat reproduksi jantan (testis) lalat mandul sebagai akibat iradiasi gamma. Kepompong umur 9 hari diradiasi dengan sinar gamma 90 Gy dan lalat jantan umur 7 hari dan 14 hari yang muncul dari kepompong dibedah, untuk diisolasi testisnya. Testis dari lalat iradiasi dan lalat normal kemudian diamati morfologinya, dan diukur panjang dan lebarnya di bawah mikroskup, masing-masing dengan 10 kali ulangan. Irisan testis kedua umur lalat tersebut diamati struktur histologinya dibawah mikroskup perbesaran 400 x.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kerusakan pada jaringan alat reproduksi akibat iradiasi, sehingga pertumbuhannya terganggu terlihat dari ukuran testis lalat iradiasi mengecil sementara testis lalat normal membesar. Pada umur 7 hari panjang dan lebar testis lalat iradiasi masing-masing lebih kecil 25,9% dan 30,2%, dibandingkan testis lalat normal,sementara pada umur 14 hari perbedaannya menurun lebih besar, yaitu 39.20% dan 44.42%. Kemandulan pada lalat jantan iradiasi terjadi karena adanya kerusakan pada sel-sel germinal yang menyebabkan proses spermatogenesis terganggu. Selain ukuran testis yang lebih kecil, pengamatan menunjukkan bahwa  pada preparat testis iradiasi ditemukan adanya sel-sel germinal yang mati. Perubahan morfologi dan ukuran testis ini juga merupakan ciri yang membedakan antara lalat normal dan lalat mandul iradiasi.

Page 4 of 25 | Total Record : 242