cover
Contact Name
Achmad Hasan Basri
Contact Email
achmadhasanbasri.syariah@uinkhas.ac.id
Phone
+6285259733421
Journal Mail Official
jurnalsakinah@uinkhas.ac.id
Editorial Address
Sharia Faculty, State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Mataram Street No. 1 Mangli, Kaliwates, Jember 68136, East Java, Indonesia
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Hukum Keluarga Islam
ISSN : -     EISSN : 30638801     DOI : -
Core Subject : Social,
The SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam published by Kiai Haji Achmad Siddiq State Islamic University Jember and organized by the Islamic Family Law Study Program, Faculty of Sharia, twice a year. This journal is intended as a place of thought open to everyone. Articles published in this journal are scientific writings on conceptual thinking, literature reviews, and research results in the field of Islamic law and Islamic family law that have never been published. This journal serves as a knowledge exchange platform for researchers, scholars, and writers who dedicate their scientific interests to broadening the scientific scope of Islamic law. The Sakinah Journal is committed to transforming knowledge by opening easy access for every interested reader. All published articles can be accessed via our online platform at: hhttps://jurnalsakinah.uinkhas.ac.id/index.php/sakinah/issue/archive
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 40 Documents
Pengaruh Perjodohan terhadap Kebebasan Memilih Pasangan di Desa Balet Baru Sukowono Jember Perspektif Hukum Positif Rofika Fitara
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2024): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v2i2.47

Abstract

Abstrack: Arranged marriages are marriages that are arranged by parents or close relatives and are often done without the knowledge of the child to be married, which will require a lot of adjustment after marriage. The adjustments referred to here are related to deeper acquaintance. Therefore, the freedom to choose a mate is the right and freedom for men and women as long as it does not conflict with Islamic law. This type of research uses empirical research that is directly conducted in Balet Baru Village, Sukowono District, Jember Regency. Based on the results of research that has been conducted by researchers, it can be concluded that: 1. The Balet Baru Village community still has a habit of marrying their children. 2. The consent of the bride and groom is a must that is done of their own free will without coercion from others. Keywords: Positive Law, Freedom of Choice, Matchmaking   Abstrak: Perjodohan (arranged marriages) adalah suatu pernikahan yang diatur oleh orang tua atau kerabat dekat dan lebih sering dilakukan tanpa sepengetahuan anak yang akan dinikahkan yang nantinya akan memerlukan banyak penyesuaian setelah menikah . Penyesuaian yang dimaksud di sini adalah berkenaan dengan perkenalan lebih dalam. Oleh sebab itu kebebasan memilih jodoh adalah hak dan kebebasan bagi laki-laki dan Perempuan sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian empiris yang langsung dilakukan di Desa Balet Baru Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa: 1. Masyarakat Desa Balet Baru masih memiliki kebiasaan dalam menjodohkan anaknya. 2. Persetujuan kedua mempelai merupakan suatu keharusan yang dilakukan atas kehendak sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain. Kata Kunci : Hukum Positif, Kebebasan Memilih Pasangan, Perjodohan
Feminisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia dan Hukum Islam Putri Vianita; Mulyadi; Mohammad Haris Taufiqur Rahman
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2024): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v2i2.48

Abstract

Abstract: Feminism is an important movement that challenges patriarchal domination and various forms of discrimination against women in social, cultural and religious contexts. This movement fights for gender equality, eliminating male hegemony, and freeing women from gender-based injustice. In the context of human rights and Islam, feminism advocates fair equality and the elimination of discrimination against women, based on the universal values ​​of the Koran and hadith that encourage respect for the dignity of women. The focus of discussion in this research is, what is the concept of feminism?, and secondly, what is the perspective of human rights and Islamic law regarding the concept of feminism? The research method used in this research is a qualitative research method. The implications of this research support social change, inclusive policies, and efforts to achieve a more just society for all individuals, regardless of gender. Keywords: Feminism, Human Rights, Islamic Law   Abstrak: Feminisme adalah gerakan penting yang menantang dominasi patriarki dan berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam konteks sosial, budaya, dan agama. Gerakan ini memperjuangkan kesetaraan gender, menghapuskan hegemoni laki-laki, dan membebaskan perempuan dari ketidakadilan berbasis gender. Dalam konteks hak asasi manusia dan Islam, feminisme mengadvokasi kesetaraan yang adil dan eliminasi diskriminasi terhadap perempuan, didasarkan pada nilai-nilai universal Al-Qur'an dan hadis yang mendorong penghargaan terhadap martabat perempuan. Fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah, bagaimana konsep feminisme?, dan kedua bagaimana perspektif hak asasi manusia dan hukum Islam tentang konsep feminisme?. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian kualitatif. Implikasi dari penelitian ini mendukung perubahan sosial, kebijakan inklusif, dan upaya mencapai masyarakat yang lebih adil bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin. Kata Kunci: Feminisme, Hak Asasi Manusia, Hukum Islam
Basic Concept and History of Inheritance Law in Indonesia Muarafa Nur Afif; Moh. Wahyu
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2024): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v2i2.49

Abstract

Abstract: Inheritance law is a law which is also referred to as the word faraid, which means distribution of inheritance of property if the death of the testator occurs. This research aims to understand the basic concepts of inheritance law and the history of inheritance law in Indonesia. This research uses the literature study method. The research results show that inheritance law is the law that regulates the distribution of inheritance from heir to heir. The basis for the legal position of inheritance is based on the Qur’an and the hadith of the Prophet Muhammad SAW.  The history of inheritance law starts from the Jahiliyah era or before the arrival of Islam, the Islamic period, inheritance law before independence in Indonesia and after Indonesian independence there was Islamic law legislation through law number 7 of 1989 concerning Religious Courts which then gave birth to Presidential Instruction number 1 of 1991 which known as a compilation of Islamic law.  In conclusion, the inheritance law in Indonesia has a long history, and it was finally established in the compilation of Islamic law. Keywords: Inheritance; Basic Concepts; History   Abstrak: Hukum waris merupakan hukum yang juga disebut dengan istilah kata faraid yang berarti pembagian merupakan pewarisan harta benda apabila terjadi kematian pada pewaris. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsep dasar hukum waris dan sejarah hukum waris di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Hasil penelitian, Hukum waris merupakan hukum yang mengatur pembagian warisan dari pewaris ke ahli waris. Dasar kedudukan hukum mawaris berdasarkan pada Alquran serta hadis nabi Muhammad SAW. Sejarah hukum waris dimulai dari sejak zaman Jahiliyah atau sebelum kedatangan Islam, masa keislaman, hukum waris sebelum kemerdekaan di Indonesia dan pasca Indonesia merdeka terjadi legislasi hukum Islam melalui undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang kemudian lahirnya Inpres nomor 1 tahun 1991 yang dikenal sebagai kompilasi hukum Islam.  Kesimpulannya Hukum Waris di Indonesia memiliki sejarah yang panjang hingga akhirnya ditetapkan dalam Kompilasi hukum Islam. Kata Kunci: Kewarisan; Konsep Dasar; Sejarah
Tanggung Jawab Suami dalam Taklik Talaq: Perspektif Maqashid Syatibi di KUA Kurik, Merauke Siti Romlah; Faisal; Ade Yamin
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.52

Abstract

Taklik talak is one of the marriage agreements as formulated in KHI article 45. This research aims to describe the implementation of taklik talak in the KUA of Kurik District, Merauke, Papua, explain the role of the KUA in instilling the values of husband's responsibility towards his wife through sighat taklik talaq, and analyze the instillation of the values of husband's responsibility towards his wife through sighat taklik talaq in the KUA based on the perspective of maqashid al shari'ah Syathibi. This research is a type of empirical juridical research with a qualitative approach. The results showed that the implementation of taklik talak in the KUA of Kurik District, Merauke, Papua was carried out voluntarily without coercion, but there were still many people who did not fully understand the essence of the pronunciation of taklik talak. The KUA has a role in maintaining the integrity of the family, protecting the rights of the wife. Taklik talak is a mechanism to protect the rights of wives and help create a harmonious family, and supports the principles of hifz al mal, hifz al nafs, and hifz al 'aql in maqashid sharia. Taklik talak provides education about the values of responsibility in the family which has implications for family harmony and stability. So that it can prevent divorce which has a negative impact on the preservation of offspring (hifz al-nasl). Sighat taklik talak functions as a protection mechanism for the rights of the wife in terms of nafkah, residence and ma'ruf treatment in accordance with the principles of hifz al mal and hifz al nafs in maqashid sharia. The implementation of taklik talak also plays a role in realizing a sakinah family which is included in the category of maslahah dharuriyah. This is because the realization of a sakinah family intersects with several of the ushul al-khamsah including hifz al-din, hifz al nasl, hifz al- nafs and hifz al 'aql. Keywords: Taklik Talak, Religious Affairs Office, Maqashid Syariah   Abstrak: Taklik talak merupakan salah satu perjanjian perkawinan sebagaimana dirumuskan dalam KHI pasal 45. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi taklik talak di KUA Distrik Kurik, Merauke, Papua, menjelaskan peran KUA tersebut dalam penanaman nilai-nilai tanggung jawab suami terhadap istri melalui sighat taklik talaq, dan menganalisis penanaman nilai-nilai tanggung jawab suami terhadap istri melalui sighat taklik talaq di KUA tersebut berdasarkan perspektif Maqashid Al Syari’ah Syathibi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan taklik talak di KUA Distrik Kurik, Merauke, Papua dilakukan secara sukarela tanpa paksaan, namun masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami esensi dari pengucapan sighat taklik talak. KUA memiliki peran dalam mempertahankan keutuhan keluarga, melindungi hak-hak istri. Taklik talak menjadi mekanisme perlindungan terhadap hak-hak istri dan membantu menciptakan keluarga yang harmonis, serta mendukung prinsip hifz al mal, hifz al nafs, dan hifz al 'aql dalam Maqashid Syariah. Taklik talak memberikan edukasi tentang nilai-nilai tanggung jawab dalam keluarga yang berimplikasi pada harmoni dan stabilitas keluarga. Sehingga hal tersebut dapat mencegah terjadinya perceraian yang berdampak negatif pada penjagaan terhadap keturunan (hifz al-nasl). Sighat taklik talak berfungsi sebagai mekanisme perlindungan terhadap hak-hak istri dari segi nafkah, tempat tinggal dan perlakuan yang ma’ruf sesuai dengan prinsip hifz al mal dan hifz al nafs dalam Maqashid Syariah. Pelaksanaan taklik talak juga berperan dalam mewujudkan keluarga sakinah yang masuk dalam ketegori maslahah dharuriyah. Hal ini karena perwujudan keluarga sakinah bersinggungan dengan beberapa dari ushul al-khamsah termasuk hifz al-din, hifz al nasl, hifz al- nafs dan hifz al ‘aql.
Analisis Kegagalan Mediasi dalam Perkara Perceraian di Pengadilan Agama Merauke Sarko; Faisal; Ade Yamin
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.53

Abstract

Mediation is an effort to resolve divorce cases through negotiations assisted by a third party called a mediator. As an alternative dispute resolution, it turns out that in its implementation, many obstacles and hurdles must be overcome to achieve success in mediation. This research aims to reveal the reality of the above problems by explaining how the mediation process is carried out at the Merauke Religious Court, the factors inhibiting mediation failure, and the implications of failure in the mediation process at the Merauke Religious Court. The method used in this thesis is to prioritize a qualitative approach. From the results of the research carried out, it was revealed that the implementation of mediation in the Merauke religious courts refers to regulation number 1 of 2016 concerning procedures for implementing mediation in religious courts, with a series of stages in the form of a mediation process and resolving cases by agreeing. In its implementation, there are obstacles faced by mediators that cause failure in mediation, while the factors referred to are internal factors which are prolonged conflicts within the household as well as a strong desire to separate, and external factors in the form of less than optimal mediation implementation times and There are also third parties who influence the mediation process. As an implication, this thesis shows that the existence of these obstacles has implications for the psychology of the parties to the dispute and the performance of the Merauke religious court itself. Keywords: Divorce, Madiation Failure, Religion Rourt     Abstrak: Mediasi merupakan salah satu upaya dalam menyelesaikan perkara perceraian melalui perundingan yang dibantu pihak ketiga yang disebut sebagai mediator. Sebagai alternatif penyelesaian sengketa, ternyata dalam pelaksanaannya masih mendapatkan banyak hambatan dan rintangan yang harus dilalui untuk mencapai keberhasilan dari mediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan realitas permasalahan di atas dengan menjelaskan bagaimana proses mediasi yang dilakukan di Pengadilan Agama Merauke, faktor penghambat kegagalan mediasi dan implikasi dari adanya kegagalan dalam proses mediasi di Pengadilan Agama Merauke. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengedepankan pendekatan kualitatif. Dari hasil penelitian yang dilakukan terungkap bahwa pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Merauke merujuk pada Perma Nomor 1 Tahun 2016 tentang prosedur pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama, dengan rangkaian tahapannya berupa proses mediasi dan penyelesaian perkara dengan membuat kesepakatan. Dalam pelaksanaannya terdapat hambatan-hambatan yang dihadapi oleh mediator sehingga menjadi penyebab kegagalan dalam mediasi, adapun faktor yang dimaksud berupa faktor internal yang merupakan konflik yang berkepanjangan di dalam rumah tangga serta keinginan yang kuat untuk berpisah dan faktor eksternal berupa waktu pelaksanaan mediasi yang kurang maksimal dan juga ada pihak ketiga yang mempengaruhi proses mediasi. Sebagai implikasi, penelitian ini menunjukkan dengan adanya hambatan-hambatan tersebut berimplikasi terhadap psikologi pihak yang bersengketa dan kinerja dari Pengadilan Agama Merauke itu sendiri.
Urgensi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Menjawab Problematika Hukum Keluarga Kontemporer Novita Sari
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.54

Abstract

This study examines the urgency of fatwas from the Indonesian Ulema Council (MUI) in addressing various contemporary family law issues in Indonesia. In the modern era, the complexity of family law problems has increased alongside rapid technological development and social change. MUI, as an authoritative institution in issuing fatwas, plays a strategic role in providing solutions to these issues. This research employs a normative legal methodology with a conceptual approach and content analysis of MUI fatwas related to family law. The findings indicate that MUI fatwas hold significant urgency in three aspects: as a practical legal guideline for the Muslim community in Indonesia, as a consideration in the formation of positive law, and as a solution to the gap between classical fiqh and contemporary issues. Keywords: Fatwa, The Council Of Indonesian Ulama, Islamic Family Law   Abstrak: Penelitian ini mengkaji urgensi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menyelesaikan berbagai problematika hukum keluarga kontemporer di Indonesia. Dalam era modern, kompleksitas permasalahan hukum keluarga semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang pesat. MUI sebagai lembaga otoritatif dalam mengeluarkan fatwa memiliki peran strategis dalam memberikan solusi atas berbagai permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan analisis konten terhadap fatwa-fatwa MUI terkait hukum keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fatwa MUI memiliki urgensi yang signifikan dalam tiga aspek: sebagai pedoman hukum praktis bagi masyarakat Muslim Indonesia, sebagai pertimbangan dalam pembentukan hukum positif, dan sebagai solusi atas kesenjangan antara fiqh klasik dengan problematika kontemporer.  
Perceraian Akibat Kekerasan Rumah Tangga Studi Komparatif Indonesia dan Turki Yeni Yenubah
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.55

Abstract

The purpose of this research is to be able to answer the philosophical and conceptual basis for domestic violence that occurs between Indonesia This research is a juridical-normative literature research with two approaches in the form of a statutory approach and a conceptual approach. The data sources used are primary legal materials in the form of Law No. 1 of 1974 concerning Marriage, Compilation of Islamic Law and The Turkish Family Law of Cyprus 1951. To support primary legal materials, researchers also use secondary legal materials sourced from books, articles or other scientific research results. The result of this study is that the regulation of domestic violence between Turkey and Indonesia is located in the provision of punishment, where in Turkey in article 22 provides a fine for husbands who hurt their wives. Whereas in Indonesia it is regulated in Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence (KDRT). The law regulates very strictly various forms of domestic violence, and legal sanctions for perpetrators are imprisonment and compensation / fines. Keywords: Divorce, Domestic Violence   Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah dapat menjawab landasan filosofis dan konseptual atas kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia Penelitian ini merupakan penelitian Kepustakaan yang bersifat penelitian yuridis-normatif dengan dua pendekatan berupa pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber data yang digunakan ialah bahan hukum primer berupa Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam dan The Turkish Family Law of Cyprus 1951. Untuk mendukung bahan hukum primer, peneliti juga menggunakan bahan hukum sekunder yang bersumber dari buku, artikel atau hasil penelitian ilmiah lainnya. Hasil penelitian ini ialah bahwasanya pengaturan kekerasan dalam rumah tangga antara Turki dan Indonesia adalah terletak pada pemberian hukuman, dimana di turki pada pasal 22 memberikan denda bagi suami yang menyakiti istrinya. Sedangkan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Undang-undang tersebut mengatur dengan sangat tegas berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga, dan sanksi hukum bagi pelakunya adalah hukuman penjara dan ganti rugi/denda.
Tinjauan Maqashid Syari’ah dan HAM Terhadap Genetik Sebagai Alasan Intervensi Dalam Memilih Pasangan Yonda Maulana Akbar
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.63

Abstract

This study aims to answer the legal issues regarding the right to choose a patrner without intervention from other parties. This study is a literature study that is normative legal research with a conceptual and legislative approach. The data sources used in this study are primary legal materials in the form of applicable legislation and secondary legal meterials in the form of books, journals, and legal articles or other scientific research. The results of this study are that intervention or interefenrence from other parties including parents in choosing a partner is very unsupported, especially for children who are 21 years old or have matured based on appicable law. In fact, marriage itself aims to achieve peace in life. Therefore, if someone is forced to marry, it is difficult for him to achieve that happiness. Keywords: Human Rights, Selection of Partner, Maqashid Syari’ah   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan hukum mengenai hak dalam pemilihan pasangan tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang bersifat penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer perupa perundang-udangan yang berlaku dan bahan hukum sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel hukum atau penelitian ilmiah lainya. Hasil dari penelitian ini adalah intervensi atau campur tangan dari pihak lain termasuk orang tua dalam memilih pasangan sangat tidak dukung, terutama terhadap anak yang telah berusia 21 tahun atau telah dewasa berdasarkan hukum yang berlaku. Sejatinya pernikahan sendiri bertujuan untuk dapat mencapai ketenteraman dalam hidup. Oleh karena itu, jika seseorang menikah secara terpaksa, maka sulit baginya untuk meraih kebahagiaan tersebut.
Pencegahan Perkawinan Dini Melalui Program PIK-R: Studi Yuridis Efektivitas Pendewasaan Usia Perkawinan di Desa Curah Kalong, Jember Nandya Sabilla Khoirun Nisya; Rina Suryanti
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i1.65

Abstract

The purpose of the research is to be able to answer the problems in Curah Kalong Village, which is designated as an area with the highest rate of early marriage in Bangsalsari District, one of the efforts to reduce the number of early marriages with the PUP Program by PIK-R where this program provides understanding and awareness to teenagers so that they can plan their families carefully, including considering various aspects of life and determining the number and spacing of births by delaying marriage until a more mature age. This study uses an empirical legal research type with a sociological approach. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation, the validity of the data in this study uses data triangulation techniques. The data source used is primary legal material in the form of Law No. 16 of 2019 concerning Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning marriage, to support primary legal materials the researcher also uses secondary legal materials in the form of books, books, legal journals and the internet and is assisted by a guideline for managing the Youth Information and Counseling Center, the results of this study are: 1) The Marriage Age Maturation Program in Curah Kalong Village is implemented sustainably through counseling and the formation of PIK-R, involving counselors, village governments, and adolescents. The main focus is to foster adolescents to understand reproductive health, mental readiness, and the risks of early marriage as an effort to build shared awareness. 2) The Marriage Age Maturation Program is considered effective in preventing early marriage because it has succeeded in increasing adolescent understanding and significantly reducing the number of cases in Curah Kalong Village, especially in 2024. Keywords: Prevention, Early Marriage, PIK-R Program Abstrak : Tujuan Penelitian adalah dapat menjawab permasalahan di Desa Curah Kalong, yang ditetapkan sebagai daerah dengan tingkat perkawinan dini tertinggi di Kecamatan Bangsalsari, salah satu upaya untuk menekan angka perkawinan dini dengan Program PUP oleh PIK-R dimana Program ini memberikan pemahaman dan kesadaran kepada remaja agar dapat merencanakan keluarga secara matang, termasuk mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran dengan cara menunda perkawinan hingga usia yang lebih dewasa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan Teknik triangulasi data. Sumber data yang digunakan ialah bahan hukum primer berupa Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, untuk mendukung bahan hukum primer peneliti juga  menggunakan bahan hukum sekunder berupa buku-buku, kitab, jurnal hukum dan internet serta dibantu dengan buku pedoman pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja, hasil penelitian ini ialah : 1) Program Pendewasaan Usia Perkawinan di Desa Curah Kalong dilaksanakan secara berkelanjutan melalui penyuluhan dan pembentukan PIK-R, melibatkan penyuluh, pemerintah desa, dan remaja. Fokus utamanya adalah membina remaja agar memahami kesehatan reproduksi, kesiapan mental, dan risiko perkawinan dini sebagai upaya membangun kesadaran bersama. 2) Program Pendewasaan Usia Perkawinan dinilai efektif mencegah perkawinan dini karena berhasil meningkatkan pemahaman remaja dan menurunkan angka kasus secara signifikan di Desa Curah Kalong, terutama pada tahun 2024.
Penegakan Hukum terhadap Ayah yang Lalai Menafkahi Anak Pasca-Perceraian: Analisis Pidana dan KHI Ana Laela Fatikhatul Choiriyah; Ni Putu Ratnayutika; Inayatul Anisa
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 2 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i2.79

Abstract

Abstract: This study examines the enforcement of law against fathers who neglect child support obligations after divorce within the framework of Islamic family law and criminal law in Indonesia. Although the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law stipulate that fathers are responsible for their children’s needs, in practice, enforcement and monitoring mechanisms remain weak. As a result, many mothers bear a double burden while children suffer from neglect. From a criminal law perspective, such negligence may constitute child neglect under the Child Protection Law. This research also compares Malaysia’s system, which is more effective through the establishment of special institutions such as the Family Support Division (BSK). The analysis employs Feminist Legal Theory and the Theory of Children’s Rights, emphasizing the need for substantive justice for women and the protection of children’s rights to care, education, and welfare. The findings highlight the urgency of legal reform in Indonesia so that child support rulings are not merely declaratory but truly ensure comprehensive protection for women and children. Keywords: Child Support, Divorce, Religious Court   Abstrak: Penelitian ini membahas penegakan hukum terhadap ayah yang lalai menafkahi anak pasca perceraian dalam perspektif hukum keluarga Islam dan hukum pidana di Indonesia. Meskipun Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam telah menetapkan kewajiban ayah untuk membiayai kebutuhan anak, praktik di lapangan menunjukkan lemahnya mekanisme pengawasan dan eksekusi putusan nafkah. Akibatnya, banyak ibu menanggung beban ganda, sementara anak menjadi korban penelantaran. Dari perspektif hukum pidana, kelalaian ini dapat dikategorikan sebagai penelantaran anak berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Penelitian ini juga membandingkan sistem di Malaysia yang lebih efektif melalui pembentukan lembaga khusus seperti Bahagian Sokongan Keluarga (BSK). Analisis menggunakan pendekatan Feminist Legal Theory dan Teori Hak Asasi Anak, yang menegaskan pentingnya keadilan substantif bagi perempuan dan pemenuhan hak anak atas pengasuhan, pendidikan, dan kesejahteraan. Hasil kajian menunjukkan urgensi reformasi hukum di Indonesia agar putusan nafkah anak tidak hanya bersifat deklaratif, melainkan benar-benar menjamin perlindungan perempuan dan anak secara komprehensif. Kata Kunci: Nafkah Anak, Perceraian, Pengadilan Agama

Page 3 of 4 | Total Record : 40