cover
Contact Name
Apriana Rahmawati
Contact Email
hipercci.jkki@gmail.com
Phone
+6281398444176
Journal Mail Official
hipercci.jkki@gmail.com
Editorial Address
Ruang Pendidikan dan Pelatihan, ICU RSPAD Gatot Subroto, Jl. Abdurahman Saleh, Nomor 24 Senen, Jakarta Pusat.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Kritis Indonesia
ISSN : 30472865     EISSN : -     DOI : 10.66351
Core Subject :
Jurnal ini diterbitkan oleh Himpunan Perawat Critical Care Indonesia (HIPERCCI) dan bertujuan menjadi wadah ilmiah bagi peneliti, akademisi, praktisi, serta mahasiswa keperawatan untuk menyebarluaskan hasil pemikiran dan penelitian yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kritis di rumah sakit, fasilitas kesehatan, maupun komunitas. Jurnal Keperawatan Kritis Indonesia mencakup berbagai topik dalam bidang: - Keperawatan kritis dan intensif - Manajemen pasien emergensi - Keperawatan trauma dan gawat darurat - Keperawatan perioperatif - Etika dan kebijakan dalam keperawatan kritis - Pendidikan dan pelatihan keperawatan kritis - Peningkatan mutu dan keselamatan pasien - Inovasi teknologi keperawatan kritis
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2024)" : 5 Documents clear
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PERAWAT TENTANG PENANGANAN ARITMIA LETAL DI RUANG ICCU, ICU DAN HCU Yuli Hertati Lumbantobing; Tri Mustikowati; Ulfah Nuraini Karim
JKKI Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Himpunan Perawat Critical Care Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66351/jkki.v1i2.13

Abstract

Aritmia letal merupakan gejala penyakit yang melibatkan jantung dan pembuluh darah jantung. Penanganan pasien aritmia harus fokus sesuai standar untuk mencegah kematian mendadak, dan sudah dilakukan dengan maksimal oleh tim medis maupun perawat. Tetapi tetap saja ada pasien dengan aritmia letal yang pada akhirnya tidak tertolong. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap perawat tentang penanganan aritmia letal di ruang ICCU, ICU Dan HCU. Metode penelitian menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan total sampling 78 responden. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar perawat dengan pengetahuan baik sebanyak 65,4% dan mayoritas perawat dengan sikap positif sebanyak 94,9%. Hasil uji statistik yang diperoleh dengan uji spearman rank menunjukkan nilai ρ=0.002 dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan pengetahuan dengan sikap perawat tentang penanganan aritmia letal di ruang ICCU, ICU dan HCU. Ditemukan tingkat keeratan hubungan rendah dengan nilai r = 0,345.
EFEKTIVITAS POSISI TIDUR SEMIFOWLER 45° TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE Ria Afriani; Mochamad Robby Fajar Cahya; Nuniek Setyo Wardani
JKKI Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Himpunan Perawat Critical Care Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66351/jkki.v1i2.14

Abstract

Latar Belakang: Congestive heart failure mengalami paroxysmal nocturnal dyspnea yang mengakibatkan terganggunya kualitas tidur. Penatalaksaan keperawatan untuk mengatasi gangguan kualitas tidur yaitu efektivitas posisi tidur semifowler 45°. Tujuan penelitian ini mengetahui efektivitas posisi tidur semifowler 45° terhadap kualitas tidur pada pasien CHF di ruang ICCU. Metode: Jenis penelitian ini kualitatif dengan desain “pre-post test without control group”. Besarnya sampel menggunakan teknik total sampling shingga didapatkan sampel 33 responden yang dipilih sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuisioner The Pittsburgh Sleep Quality Index. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon didapatkan hasil nilai p: 0,001 (<0,05). Hasil Penelitian:Berdasarkan hasil pengolahan data pada 33 responden didapatkan penurunan skor kualitas tidur rata-rata responden sebelum dan sesudah pemberian posisi semi fowler sebesar 4,24%. Skor rata-rata kualitas tidur sebelum pemberian posisi semi fowler sebesar 12,15 menjadi 7,91 sesudah pemberian posisi semi fowler. Hasil uji alternatif menggunakan uji Wilcoxon, didapatkan hasil nilai p<0,001 (<0,05), yang berarti terdapat efektivitas posisi semi fowler 45o terhadap kualitasjtidur pada pasien Congestive HeartjFailure.Kesimpulan : Berdasarkan hasil uji beda rerata, terdapat berbedaan bermakna pre dan post intervensi, sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh dari intervensi Posisi Semi Fowler 45° terhadap kualitas tidur pada pasien Congestive Heart Failure di RSUD Koja.
INTERVENSI KEPERAWATAN KoMoYas TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PASCA OPERASI DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT Yudi Elyas; Sri Yona; Chiyar Edison
JKKI Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Himpunan Perawat Critical Care Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66351/jkki.v1i2.15

Abstract

Latar Belakang: Pasien di ruang intensif selain mengalami masalah biologis juga mengalamimasalah psikologis seperti kecemasan. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhihemodinamik serta mengganggu proses perawatan. Terapi non-farmakologis dapat menjadi pilihanuntuk mengatasi kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensikeperawatan KoMoYas terhadap tingkat kecemasan pasien pasca operasi di ruang intensif. Metode: Penelitian ini menggunakan quasy experimental study. Metode sampling dengan consecutivesampling sebanyak 29 responden kelompok intervensi dan 29 responden kelompok kontrol. Hasil: Hasil penelitian dengan uji Wilcoxon menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan predan post-test baik pada kelompok intervensi maupun pada kelompok kontrol dengan nilai p-value0.000 (< 0.05). Penurunan nilai kecemasan terjadi lebih banyak pada responden kelompok intervensidibandingkan dengan kelompok kontrol, ditandai dengan selisih nilai mean (pre dan post) padakelompok intervensi sebesar 1.31 dan pada kelompok kontrol selisih nilai mean (pre dan post) sebesar0.45. Uji Mann Whitney dilakukan dengan hasil p value=0.000 (< 0.05). Kesimpulan: Terdapatperbedaan rerata kecemasan pre-test dan post-test antara kelompok intervensi dengan kelompokkontrol. Intervensi KoMoYas dikombinasikan dengan terapi non farmakologis lainnya dapat dengansignifikan menurunkan tingkat kecemasan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN CEDERA HIDUNG BAYI TERPASANG CPAP DI RUANG NICU RSUD KOJA Wiji Wijayanti; Agung Setiyadi; Siswani Marianna
JKKI Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Himpunan Perawat Critical Care Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66351/jkki.v1i2.16

Abstract

Cedera hidung adalah trauma akibat tekanan disebabkan oleh nasal prong yang merupakan komplikasipemasangan Continous Positive Airway Pressure (CPAP). Hampir separuh bayi di seluruh dunia mengalamicedera hidung dan hal ini menyebabkan kecacatan seumur hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisahubungan pengetahuan perawat terhadap perilaku pencegahan cedera hidung pada bayi yang terpasang CPAP.Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan total sampling yakni sebanyak 33 responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas latar belakang pendidikan responden adalah D-IIIKeperawatan, lama kerja 5-10 tahun dan belum mengikuti pelatihan neonatus. Hasil penelitian menunjukkannilai p value= 0,002<0,05 artinya terdapat hubungan pengetahuan perawat terhadap perilaku pencegahancedera hidung pada bayi yang terpasang CPAP dengan tingkat keeratan hubungan 0,527 yang menunjukkanhubungan keeratan tingkat sedang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka kejadian cedera hidungdipengaruhi oleh pengetahuan perawat.
PENGARUH IMPLEMENTASI PENERAPAN KRITERIA FISIOLOGIS MASUK RAWAT INTENSIVE SECARA TERPISAH TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH PASIEN DAN PENURUNAN ANGKA KEJADIAN CODE BLUE DI RSI YOGYAKARTA PDHI Sarwo Edhi Wibowo
JKKI Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Himpunan Perawat Critical Care Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66351/jkki.v1i2.17

Abstract

Latar Belakang : Intensive Care Unit merupakan tempat perawatan pasien kritis,gawat, mempunyai risiko tinggi kejadian kegawatan dengan sifat yang reversible.Penerapan kriteria fisiologis membantu tim medis dalam menilai kategori pasienyang seharusnya masuk ICU atau rawat inap biasa. Sehingga pasien dengan kriteriatersebut benar-benar bisa di rawat khusus di ICU dan angka kejadian code blue dirawat inap bisa berkurang.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh implementasi penerapan kriteria fisiologismasuk rawat intensive secara terpisah terhadap peningkatan jumlah pasien danpenurunan angka kejadian code blue di RSI Yogyakarta PDHI.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik denganmenggunakan metode retrospektif, penelitian ini mengumpulkan jumlah pasienmasuk tiga bulan sebelum penerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive secaraterpisah yaitu pada bulan Januari-Maret 2022 dan tiga bulan sesudah penerapankriteria fisiologis masuk rawat intensive secara terpisah pada bulan April-Juni 2022serta mengumpulkan data pasien code blue pada bulan tersebut.Hasil : Hasil uji analisis menggunakan paired t-test didapatkan data bahwa nilaisignifikasi (p) untuk jumlah kenaikan Pasien masuk rawat Intensive sebelum dansesudah penerapan kriteria fisiologis sebesar 0,001 dan untuk Code blue sebelum dansetelah penerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive sebesar 0,004 dengan α =0,05. Dimana nilai tersebut (p < 0,05) maka Ho ditolak, artinya ada pengaruhpenerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive secara terpisah terhadap kenaikanjumlah pasien intensive care dan penurunan angka kejadian code blue di RS IslamYogyakarta PDHI.Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi penerapan kriteriafisiologis masuk rawat intensive secara terpisah dapat mempengaruhi peningkatanjumlah pasien dan penurunan angka kejadian code blue di RSI Yogyakarta PDHI

Page 1 of 1 | Total Record : 5