cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
literatureindonesian@gmail.com
Phone
+6289667890219
Journal Mail Official
literatureindonesian@gmail.com
Editorial Address
Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : https://doi.org/10.24235/
Core Subject :
Indonesian Language Education and Literature also known ILEaL (2502-2261) is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and/or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) and Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). ILEaL is registered in Science and Technology Index (SINTA 2), Directory of Open Access Journals (DOAJ), Garba Rujukan Digital (Garuda), Ministry of Religious Affairs Reference (MORAREF), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) or National Library of The Republic of Indonesia, and several indexing services with e-ISSN: 2502-2261. We receive articles in Indonesian. All the requirements and guidelines are available at Author Guidelines or downloaded from the Template.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "vol. 11 no. 2 (2026)" : 18 Documents clear
Antara Persona dan Karya: Jejaring Pertarungan Wacana tentang Tere Liye di Platform Media Sosial X Ananda Bintang Purwaramdhona
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/trz35n79

Abstract

Artikel ini bertujuan memetakan dan membongkar jejaring pertarungan wacana tentang penulis sastra populer Indonesia bernama Tere Liye di platform media sosial X (sebelumnya Twitter). Untuk membongkar wacana tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan tentang arena produksi kultural dan resepsi pembaca dengan metode analisis jejaring wacana (discourse network analysis) melalui aplikasi DNA Analyzer 3.0. Objek penelitian merupakan 280 cuitan yang diambil dari balasan terhadap 11 utas berkaitan tentang polemik Tere Liye di media sosial X menggunakan Python. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskursus mengenai Tere Liye di media sosial X terbagi ke dalam sepuluh wacana utama yang memperlihatkan pertarungan simbolik antara kubu pro dan kontra Tere Liye. Dari sepuluh wacana tersebut, sebagian pembaca memutuskan untuk berhenti membaca karya Tere Liye karena persona penulis yang dianggap problematik. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah hubungan antara penulis dan pembaca menjadi lebih kompleks karena pembaca tidak lagi pasif, tetapi menjadi aktor aktif yang memproduksi makna, memberi legitimasi simbolik, dan bahkan melakukan cancel culture terhadap figur penulis sastra populer. Between Persona and Work: The Network of Discourse Battles about Tere Liye on Social Media Platform X This article maps and reveals the network of discourse battles surrounding the popular Indonesian literary writer Tere Liye on the social media platform X (formerly Twitter). To trace these discourses, this study employs an approach based on the arena of cultural production and reader reception theory, using the discourse network analysis method through the DNA Analyzer 3.0 application. The data consist of 280 tweets collected from replies to 11 threads related to the Tere Liye polemic on social media X, retrieved using Python. The results show that discussions about Tere Liye on social media X are divided into ten main discourses that display symbolic battles between pro- and anti-Tere Liye camps. Among the ten discourses, some readers decided to stop reading Tere Liye's works because the author's public persona was deemed problematic. This finding suggests that social media has transformed the relationship between writers and readers into a more complex dynamic, as readers are no longer passive consumers but have become active agents who produce meaning, confer symbolic legitimacy, and even engage in cancel culture against popular literary writers.
Representasi Sikap Moderat dalam Novel-Novel Ahmad Tohari: Kajian Sosiologi Sastra Yuentie Sova Puspidalia; Farida Yufarlina Rosita; Rangga Agnibaya
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/nn7n5319

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena intoleransi, radikalisme, dan disintegrasi sosial di masyarakat Indonesia yang turut memengaruhi dunia pendidikan dan kehidupan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi sikap moderat dalam novel-novel Ahmad Tohari serta menjelaskan dimensi sosiologis yang melatarbelakangi kemunculan representasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian sosiologi sastra Ian Watt yang menekankan pada tiga aspek: latar belakang sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, dan fungsi sosial sastra. Sumber data berupa novel Kubah, Ronggeng Dukuh Paruk, Orang-orang Proyek, Bekisar Merah, Di Kaki Bukit Cibalak, dan Lingkar Tanah Lingkar Air. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan analisis dokumen, sedangkan teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel-novel Ahmad Tohari merepresentasikan tiga indikator utama sikap moderat, yaitu: (1) keseimbangan (tawazun) antara tradisi dan modernitas serta antara hak individu dan kepentingan kolektif; (2) toleransi (tasamuh) dalam bentuk penghormatan terhadap perbedaan keyakinan dan budaya tanpa kehilangan identitas; serta (3) anti-kekerasan (la ‘unf) yang ditunjukkan melalui resistensi tokoh terhadap tindakan anarkis dan pemaksaan kehendak. Representasi sikap moderat tersebut tidak terlepas dari latar belakang sosial budaya Ahmad Tohari sebagai pengarang yang tumbuh dalam tradisi pesantren dan masyarakat agraris Banyumas yang menjunjung tinggi nilai musyawarah dan keterbukaan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa novel-novel Ahmad Tohari dapat berfungsi sebagai medium penanaman wawasan kebangsaan dan sikap moderat sehingga layak dijadikan bahan ajar sastra di sekolah maupun perguruan tinggi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya eksplorasi lebih lanjut mengenai implementasi nilai-nilai moderat dari karya sastra ke dalam model pembelajaran berbasis karakter. Representation of Moderate Attitudes in Ahmad Tohari's Novels: A Sociological Study of Literature This research is motivated by the increasing phenomenon of intolerance, radicalism, and social disintegration in Indonesian society, which also affects the world of education and cultural life. This study aims to describe the representation of moderate attitudes in Ahmad Tohari's novels and explain the sociological dimensions behind the emergence of these representations. This study uses a qualitative approach with Ian Watt's sociological study method of literature that emphasizes three aspects: the author's social background, literature as a reflection of society, and the social function of literature. Data sources are the novels Kubah, Ronggeng Dukuh Paruk, Orang-orang Proyek, Bekisar Merah, Di Kaki Bukit Cibalak, and Lingkar Tanah Lingkar Air. Data collection techniques are carried out through literature studies and document analysis, while data analysis techniques use the Miles & Huberman interactive analysis model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that Ahmad Tohari's novels represent three main indicators of a moderate attitude: (1) balance (tawazun) between tradition and modernity, and between individual rights and collective interests; (2) tolerance (tasamuh) in the form of respect for differences in beliefs and cultures without losing identity; and (3) non-violence (la 'unf), demonstrated through the characters' resistance to anarchic actions and coercion. This representation of a moderate attitude is inseparable from Ahmad Tohari's socio-cultural background as an author who grew up in the Islamic boarding school tradition and the Banyumas agrarian society that upholds the values of deliberation and openness. The conclusion of this study confirms that Ahmad Tohari's novels can function as a medium for cultivating national insight and a moderate attitude, making them suitable as literature teaching materials in schools and universities. This study recommends the need for further exploration of the implementation of moderate values from literary works into character-based learning models.
Lanskap Linguistik di Kawasan Wisata Perkotaan Pecinan Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang Syandhini Siti Fadlikha; Ravenza Maverick Aji; Fatimah Azzahra Nur Annisa Soleha; Dwi Pita Sari; Dewi Yanti; Woro Januarti; Feri Ansori
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/9eqz2x12

Abstract

Penelitian ini menganalisis lanskap linguistik di kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), khususnya di area Chinatown Pantjoran. Fokus penelitian meliputi praktik monolingualisme, bilingualisme, dan multilingualisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual. Sebanyak 38 tanda publik dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan kategori bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori bilingual mendominasi dengan persentase 65,79%. Kategori ini diikuti oleh monolingual sebesar 18,42% dan multilingual sebesar 15,79%. Kombinasi bahasa Inggris–Mandarin menjadi pasangan paling dominan, diikuti oleh Indonesia–Mandarin. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi. Bahasa juga berperan sebagai instrumen simbolik dan komodifikasi yang memperkuat identitas etnis, integrasi nasional, dan daya tarik komersial kawasan. Bahasa Mandarin merepresentasikan etnisitas Tionghoa, bahasa Inggris mencerminkan citra global, dan bahasa Indonesia berfungsi sebagai regulatif sekaligus integratif. Dengan demikian, lanskap linguistik di PIK 2 mencerminkan interaksi kompleks antara kepentingan lokal, etnis, nasional, dan global. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian linguistik, khususnya lanskap linguistik di kawasan wisata urban multikultural. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi pengelola kawasan dan pembuat kebijakan dalam menata ruang publik yang sensitif terhadap keberagaman bahasa. Linguistic Landscape in the Urban Tourism District of PIK 2 Chinatown, Tangerang This study analyzes the linguistic landscape in Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), particularly in the Chinatown Pantjoran area. It focuses on the practices of monolingualism, bilingualism, and multilingualism. This research employed a descriptive qualitative approach through field observations and visual documentation. A total of 38 public signs were collected and classified. The findings indicate that bilingual signs dominate at 65.79%, followed by monolingual signs at 18.42% and multilingual signs at 15.79%. The English–Mandarin combination is the most dominant, followed by Indonesian–Mandarin. The results highlight that language functions not only as a communication tool but also as a symbolic and commodified instrument. It reinforces ethnic identity, national integration, and the commercial appeal of the area. Mandarin represents Chinese ethnicity, English reflects global modernity, and Indonesian serves both regulatory and integrative roles. Thus, the linguistic landscape of PIK 2 reflects a complex interaction among local, ethnic, national, and global interests. Theoretically, this study contributes to linguistic landscape studies in multicultural urban tourism areas. Practically, it provides insights for urban planners and policymakers in managing public spaces that consider linguistic diversity.
Inovasi Model Pembelajaran Fiksi Historis: Pendekatan Rekreasi-Prokreasi untuk Penguatan Wawasan Kebangsaan di SMA Bambang Eko Hari Cahyono; Panji Kuncoro Hadi; Fuaduzzakiawan Fuaduzzakiawan
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/r0fegd22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran fiksi historis di SMA se-Kota Madiun dan kebutuhan siswa dan guru terhadap model pembelajaran fiksi historis yang mampu meningkatkan wawasan kebangsaan siswa; mendeskripsikan pengembangan purwarupa awal model pembelajaran fiksi historis menjadi model pembelajaran fiksi historis berdasarkan pendekatan rekreasi-prokreasi; menemukan keefektifan model pembelajaran fiksi historis dengan pendekatan rekreasi-prokreasi untuk meningkatkan wawasan kebangsaan siswa; dan mendeskripsikan hasil diseminasi model pembelajaran fiksi historis menjadi model pembelajaran fiksi historis berdasarkan pendekatan rekreasi-prokreasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan melalui 4 tahap, yaitu studi eksplorasi; pengembangan model; pengujian model; dan diseminasi. Pendekatan penelitian pada studi eksplorasi yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengembangan purwarupa model pembelajaran dilakukan dalam bentuk siklus, yang merupakan perpaduan antara riset dan praktik, sedangkan pengujian model dilakukan dengan penelitian eksperimen. Setelah dilakukan pengembangan model dan pengujian keefktifan model hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran fiksi histortis dengan pendekatan rekreasi-prokreasi terbukti efektif untuk meningkatkan wawasan kebangsaan siswa SMA. Innovation in Historical Fiction Learning Models: A Recreational-Procreative Approach to Strengthening National Insight in High Schools This study aims to describe the conditions of historical fiction learning in high schools throughout Madiun City and the needs of students and teachers for historical fiction learning models that are able to improve students' national insight; describe the development of an initial prototype of a historical fiction learning model into a historical fiction learning model based on a recreation-procreation approach; find the effectiveness of a historical fiction learning model with a recreation-procreation approach to improve students' national insight; and describe the results of the dissemination of a historical fiction learning model into a historical fiction learning model based on a recreation-procreation approach. The type of research used was developmental research, consisting of four stages: exploratory study, model development, model testing, and dissemination. The research method used in the exploratory study was descriptive qualitative. The development of the learning model prototype was carried out in a cycle, combining research and practice, while the model testing was conducted through experimental research. After developing the model and testing the effectiveness of the model, the results showed that the historical fiction learning model with a procreative recreation approach was proven to be effective in increasing the national insight of high school students.
Model Pembelajaran Membaca Pemahaman Menggunakan P3C2R+GIRD Berbasis Berpikir Kritis Sudiati Sudiati; Faisal Isnan; Sakinah Isna Firmani; Putri Ayu Cahyani; Muhammad Zahrul Jihadurrohim Bajuri
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/1arngk08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi model pembelajaran membaca pemahaman menggunakan P3C2R+GIRD berbasis berpikir kritis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model ADDIE dan menggunakan metode campuran (mixed methods). Penelitian berfokus pada tahap desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi dengan menghasilkan produk serta mengujinya. Subjek penelitian terdiri atas dua ahli dan 39 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dihasilkan tiga produk, yaitu buku model, buku ajar, dan buku panduan dosen; (2) produk telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran dengan kategori baik dan layak untuk diimplementasikan; (3) implementasi berupa uji respons mahasiswa menunjukkan kategori sangat baik; dan (4) hasil evaluasi menyatakan ketiga produk layak digunakan. Berdasarkan temuan tersebut, model pembelajaran membaca berbasis P3C2R+GIRD dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran membaca pemahaman yang berorientasi pada kemampuan berpikir kritis. Model pembelajaran membaca ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, dosen, dan guru dalam pembelajaran membaca secara khusus untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Reading Comprehension Learning Model Using P3C2R+GIRD Based on Critical Thinking This study aims to design, develop, implement, and evaluate a reading comprehension learning model using the P3C2R+GIRD approach based on critical thinking. The study employed a development design using the ADDIE model and a mixed-methods approach, focusing on the stages of design, development, implementation, and evaluation to produce and test instructional products. The subjects consisted of two experts and 39 students. The results indicate that: (1) three products were produced, namely a model book, a textbook, and a teacher’s guide; (2) the products were validated by subject matter and instructional experts and categorized as good, indicating their suitability for implementation; (3) implementation through student response assessment yielded a very good category; and (4) evaluation results confirmed that all three products are suitable for use. Based on these findings, the P3C2R+GIRD-based reading comprehension learning model is feasible as an alternative for instruction oriented toward critical thinking skills and can be applied by students, lecturers, and teachers.
Cultural Narrative Architecture: Integrasi Struktur Greimas, Kearifan Lokal, dan Memori Budaya dalam Trilogi Sejarah Sunda Achyar Effendi; Sumiyadi Sumiyadi; Andoyo Sastromiharjo; Halimah Halimah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/d9st0r87

Abstract

Kajian naratif terhadap fiksi sejarah Indonesia menunjukkan kecenderungan baru yang menempatkan struktur penceritaan sebagai medium penting dalam pembentukan memori budaya. Penelitian ini berfokus pada pengkajian trilogi sejarah Sunda karya Saini K. M. melalui sintesis antara model aktansial dan skema fungsi naratif A. J. Greimas dengan analisis kearifan lokal, yang selanjutnya dirumuskan dalam sebuah kerangka konseptual bernama Cultural Narrative Architecture. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan menjadikan tiga novel sebagai satu kesatuan dunia naratif. Proses analisis dilakukan melalui penguraian posisi aktan—meliputi subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang—serta penelusuran tahapan fungsi naratif berupa kontrak, kompetensi, performansi, dan sanksi, disertai identifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang terartikulasikan dalam alur cerita dan penggambaran tokoh. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa struktur aktansial trilogi membentuk pola yang relatif konsisten, dengan kepemimpinan, ingatan leluhur, dan legitimasi kekuasaan berperan sebagai muatan budaya dominan. Analisis fungsi naratif mengindikasikan transformasi nilai dari orientasi kepemimpinan personal menuju penguatan solidaritas kolektif, sementara pemetaan kearifan lokal menegaskan empat ranah utama, yakni integritas moral, keharmonisan relasi kekerabatan, keseimbangan kosmologis, serta kesinambungan memori lintas generasi. Dengan demikian, integrasi ketiga lapisan analisis tersebut menghasilkan model Cultural Narrative Architecture yang mampu menjelaskan mekanisme fiksi sejarah Sunda dalam mengelola memori kolektif sekaligus membangun identitas budaya. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya pengembangan naratologi dan studi memori kultural berbasis lokal, sedangkan secara praktis menawarkan kerangka analitis bagi pemanfaatan fiksi sejarah dalam konteks pendidikan yang berorientasi pada kearifan lokal. Cultural Narrative Architecture: Integrative Model of Greimasian Structure, Local Wisdom, and Cultural Memory in the Sundanese Historical Trilogy Recent scholarship on Indonesian historical fiction has increasingly foregrounded narrative structure as a key mechanism in the construction of cultural memory. This study examines Saini K. M.’s Sundanese historical trilogy by combining Greimasian actantial and functional models with an analytical mapping of local wisdom, resulting in the formulation of a conceptual framework referred to as Cultural Narrative Architecture. Employing a qualitative interpretive approach, the research treats the three novels as a unified narrative continuum. The analysis involves identifying actantial roles—namely subject, object, sender, receiver, helper, and opponent—alongside tracing the functional sequence of contract, competence, enactment, and sanction, as well as delineating domains of local wisdom embedded in narrative progression and character construction. The findings reveal a relatively stable actantial configuration in which leadership values, ancestral remembrance, and political legitimacy emerge as central cultural drivers. The functional development of the narrative indicates a gradual ethical transition from individual-centred leadership towards collective responsibility, while the examination of cultural values highlights four recurring domains: moral integrity, kinship solidarity, cosmological equilibrium, and the continuity of intergenerational memory. It can therefore be concluded that the integration of these analytical dimensions produces a Cultural Narrative Architecture model that elucidates how Sundanese historical fiction structures collective memory and contributes to the formation of cultural identity. From a theoretical standpoint, the study extends narrative theory and cultural memory studies through a locally grounded perspective, while practically providing an analytical tool for incorporating historical fiction into educational practices rooted in local wisdom.
Implementasi Model Berbasis Kearifan Lokal Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Kritis Siswa SMP Umi Khofsoh; Susi Darihastining; Eva Eri Dia
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/9hvfkx67

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi serta menguji efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno dalam meningkatkan kemampuan membaca kritis bagi siswa SMP. Kemampuan ini mencakup keterampilan menganalisis informasi, mengevaluasi kredibilitas sumber, dan menarik inferensi. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan desain one-group pretest–posttest pada siswa kelas VII SMP Al-Ittihad Mojowarno. Implementasi model dilakukan melalui empat tahap, yaitu orientasi konteks, eksplorasi teks, analisis dan evaluasi kritis, serta inferensi dan refleksi budaya. Data dikumpulkan melalui tes sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji-t berpasangan dan N-gain. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan membaca kritis siswa (p < 0,01) dengan nilai N-gain sebesar 0,73 yang termasuk kategori tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis kearifan lokal tersebut efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca kritis, khususnya pada aspek analisis, evaluasi, dan inferensi. Selain itu, pemanfaatan kearifan lokal terbukti mampu memperkaya pengalaman belajar sekaligus menjadi strategi pedagogis yang efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Implementation of the Riyaya Undhuh-Undhuh Local Wisdom-Based Model to Improve Students' Critical Reading Skills This study aims to describe the implementation and examine the effectiveness of a Local Wisdom-Based Learning Model rooted in the Riyaya Undhuh-Undhuh tradition of GKJW Mojowarno in improving junior high school students’ critical reading skills. These skills include the ability to analyze information, evaluate the credibility of sources, and draw inferences. This study employed a quasi-experimental method using a one-group pretest–posttest design involving seventh-grade students of SMP Al-Ittihad Mojowarno. The implementation of the model was carried out through four stages: context orientation, text exploration, critical analysis and evaluation, and inference and cultural reflection. Data were collected through pretest and posttest assessments and analyzed using a paired-sample t-test and N-gain. The results indicate a statistically significant improvement in students’ critical reading skills (p < 0.01), with an N-gain score of 0.73, categorized as high. These findings demonstrate that the local wisdom-based learning model is effective in enhancing critical reading skills, particularly in analysis, evaluation, and inference. Furthermore, integrating local wisdom enriches students’ learning experiences and serves as an effective pedagogical strategy to develop higher-order thinking skills in Indonesian language learning.
Students' Perceptions of Using Online Mind Mapping in Academic Essay Writing Instruction Dwi Atmoko; Fiqih Kartika Murti; Agung Tyas Subekti
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/11e5wd21

Abstract

This study aimed to describe students' perceptions of using online mind mapping as a pre-writing strategy in academic essay writing instruction. The research used a quantitative approach with a descriptive survey design. The research subjects were 48 students from the Bachelor of Nursing Science Study Program at Universitas Bhamada Slawi who were taking the Indonesian Language course and had used the online mind mapping application (Coggle) in academic essay writing instruction. Sampling was done purposively, considering the students' experience in using online mind mapping. The research instrument was a four-point likert scale questionnaire developed based on the constructs of technology perception and writing instruction. The questionnaire indicators included ease of use, idea development and organisation, essay structure composition, material understanding, writing motivation, quality of written results, efficiency of the writing process, and satisfaction with using online mind mapping. The collected data was analysed using descriptive statistics, calculating mean values, percentages, and standard deviations to objectively describe the trends in student perceptions. The research results indicated that students had a positive perception of using online mind mapping as a pre-writing strategy. The average questionnaire score fell within the range of 3.27–3.63, indicating an agreement to strongly agree category. Online mind mapping is perceived as making it easier for students to develop and organise ideas, structure essays more systematically, improve understanding of essay writing material, and boost motivation and efficiency in the writing process. Additionally, students also showed a high level of satisfaction and interest in continuing to use online mind mapping in writing instruction. The implications of this research suggest that online mind mapping has the potential to be sustainably integrated as a pre-writing strategy in academic essay writing instruction at the university level. This finding can serve as the basis for developing technology-based writing instruction, as well as encourage further research with experimental designs to objectively test its impact on writing quality. Persepsi Mahasiswa terhadap Penggunaan Mind Mapping Online dalam Pembelajaran Menulis Esai Akademik Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa tentang penggunaan mind mapping online sebagai strategi pra-penulisan dalam pengajaran penulisan esai akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Subjek penelitian adalah 48 mahasiswa dari Program Studi Sarjana Keperawatan di Universitas Bhamada Slawi yang mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia dan telah menggunakan aplikasi mind mapping online (Coggle) dalam pengajaran penulisan esai akademik. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan pengalaman mahasiswa dalam menggunakan mind mapping online. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala likert empat poin yang dikembangkan berdasarkan konstruk persepsi teknologi dan pengajaran penulisan. Indikator kuesioner meliputi kemudahan penggunaan, pengembangan dan pengorganisasian ide, komposisi struktur esai, pemahaman materi, motivasi menulis, kualitas hasil tulisan, efisiensi proses penulisan, dan kepuasan menggunakan mind mapping online. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, menghitung nilai rata-rata, persentase, dan deviasi standar untuk secara objektif menggambarkan tren persepsi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap penggunaan peta pikiran daring sebagai strategi pra-penulisan. Skor kuesioner rata-rata berada dalam kisaran 3,27–3,63, menunjukkan kategori setuju hingga sangat setuju. Peta pikiran daring dianggap memudahkan mahasiswa untuk mengembangkan dan mengatur ide, menyusun esai secara lebih sistematis, meningkatkan pemahaman materi penulisan esai, dan meningkatkan motivasi serta efisiensi dalam proses penulisan. Selain itu, mahasiswa juga menunjukkan tingkat kepuasan dan minat yang tinggi untuk terus menggunakan peta pikiran daring dalam pengajaran penulisan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa peta pikiran daring berpotensi untuk diintegrasikan secara berkelanjutan sebagai strategi pra-penulisan dalam pengajaran penulisan esai akademik di tingkat universitas. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pengajaran penulisan berbasis teknologi, serta mendorong penelitian lebih lanjut dengan desain eksperimental untuk secara objektif menguji dampaknya terhadap kualitas penulisan.
Berpikir Kritis dalam Wacana Akademik: Analisis Wacana Kritis terhadap Artikel di Jurnal Terindeks Scopus Dewi Herlina Sugiarti; Syihabuddin Syihabuddin; Andoyo Sastromiharjo; Khaerudin Kurniawan
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/zzgyfy20

Abstract

Berpikir kritis merupakan kompetensi kunci dalam praktik akademik, namun kajian sebelumnya cenderung memaknainya sebagai kemampuan kognitif individual dan jarang menempatkan teks artikel jurnal sebagai objek analisis. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi indikator berpikir kritis dalam teks artikel jurnal terindeks Scopus melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis teks multiartikel. Data penelitian berupa sepuluh artikel jurnal terindeks Scopus yang dipilih secara sistematis melalui tahapan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan indikator berpikir kritis Facione, meliputi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri, sebagai lensa analitik untuk mengidentifikasi pola diskursif dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator interpretasi dan analisis muncul secara konsisten dalam seluruh artikel yang dianalisis, sementara indikator evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri menunjukkan variasi intensitas kemunculan antarteks. Temuan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis direpresentasikan sebagai praktik diskursif yang terintegrasi dalam cara penulis membangun argumen, menafsirkan data, dan mengelola klaim pengetahuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa berpikir kritis dalam teks artikel jurnal berfungsi sebagai praktik diskursif yang berperan dalam konstruksi dan legitimasi pengetahuan ilmiah. Critical Thinking as a Discursive Practice in Journal Articles: A Critical Discourse Analysis of Critical Thinking Indicators Critical thinking is a core competence in academic practice; however, previous studies have largely conceptualized it as an individual cognitive ability and have rarely examined academic journal articles as objects of analysis. This study aims to examine how critical thinking indicators are discursively represented in Scopus-indexed journal articles using a Critical Discourse Analysis approach. Employing a qualitative multi-article text analysis design, the study analyzes ten Scopus-indexed journal articles selected through a systematic procedure guided by the PRISMA framework. Data were analyzed using Facione’s critical thinking indicators, interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation, as analytical lenses to identify recurring discursive patterns across texts. The findings indicate that interpretation and analysis consistently appear in all analyzed articles, whereas evaluation, inference, explanation, and self-regulation show varying degrees of representation. These results suggest that critical thinking is discursively enacted through argumentative construction, data interpretation, and the management of knowledge claims. The study concludes that critical thinking in journal articles functions as a discursive practice that contributes to the construction and legitimation of academic knowledge.
Keterampilan Menulis Teks Digital Siswa Sekolah Menengah Atas dan Keterkaitannya dengan Faktor Afektif Penulis Masri Masri; Cecep Nuryadin; Tofan Stofiana
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/x9hsja70

Abstract

Pembelajaran menulis di era digital menuntut pergeseran pemahaman dari praktik menulis berbasis teks verbal menuju desain makna multimodal yang mengintegrasikan berbagai mode semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menulis teks digital terpadu siswa serta menganalisis keterkaitannya dengan faktor afektif berupa keyakinan diri dan kecemasan menulis. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan melibatkan siswa sekolah menengah sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui tugas menulis teks digital terpadu yang dinilai menggunakan rubrik multimodal serta angket afektif, kemudian dianalisis secara deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan menulis teks digital terpadu siswa berada pada kategori sedang, dengan ketimpangan capaian antardimensi. Capaian tertinggi terdapat pada dimensi kualitas teks verbal, sementara capaian terendah terdapat pada dimensi integrasi lintas mode. Temuan ini mengindikasikan bahwa menulis digital masih dipahami terutama sebagai perubahan medium penyajian, bukan sebagai aktivitas desain makna yang menuntut pengambilan keputusan semiotik lintas mode. Analisis korelasional menunjukkan adanya hubungan positif antara keterampilan menulis digital dan keyakinan diri, serta hubungan negatif dengan kecemasan menulis. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya pembelajaran dan penilaian yang secara eksplisit mengajarkan integrasi makna lintas mode serta memberikan dukungan afektif agar siswa mampu mengelola kompleksitas menulis digital sebagai praktik desain makna yang terpadu. High School Students' Digital Text Writing Skills and Their Relationship to the Author's Affective Factors Learning to write in the digital era demands a shift in understanding from verbal text-based writing practices to multimodal meaning design that integrates various semiotic modes. This study aims to describe students' integrated digital text writing skills and analyze their relationship to affective factors such as writing self-efficacy and writing anxiety. This study used a quantitative, descriptive-correlational design involving high school students as participants. Data were collected through integrated digital text writing assignments assessed using a multimodal rubric and an affective questionnaire, then analyzed descriptively and correlationally. The results showed that students' integrated digital text writing skills were in the moderate category, with disparities in achievement across dimensions. The highest achievement was found in the verbal text quality dimension, while the lowest achievement was in the cross-mode integration dimension. These findings indicate that digital writing is still understood primarily as a change in presentation medium, rather than as a meaning design activity that requires cross-mode semiotic decision-making. The correlational analysis showed a positive relationship between digital writing skills and self-efficacy, and a negative relationship with writing anxiety. The implications of this study emphasize the importance of learning and assessment that explicitly teach cross-mode meaning integration and provide affective support so that students can manage the complexity of digital writing as an integrated meaning design practice.

Page 1 of 2 | Total Record : 18