cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 24 Documents clear
ANALISIS PENGUKURAN BATIMETRI DAN PASANG SURUT UNTUK MENENTUKAN KEDALAMAN KOLAM PELABUHAN ( Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya) Yose Rinaldy N; Arief Laila Nugraha; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.865 KB)

Abstract

ABSTRAKPelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pelabuhan pintu gerbang di Indonesia, yang menjadi pusat distributor barang ke kawasan timur Indonesia, khususnya untuk provinsi Jawa Timur. Perkembangan lalu lintas perdagangan dan bertambahnya arus transportasi maka dilakukan usaha pengembangan fasilitas-fasilitas khususnya yang berkaitan dengan keselamatan navigasi kapal. Dalam hal ini dilakukan analisis pengukuran batimetri dan pengamatan pasang surut di perairan pelabuhan Tanjung Perak untuk menentukan kedalaman kolam pelabuhan secara berkala.            Data pasang surut selama 29 piantan dianalisis dengan metode admiralty dan pengukuran kedalaman kolam pelabuhan ditentukan berdasarkan draft (sarat kapal) kapal maksimum yang direncanakan. Kedua data tersebut akan dikombinasikan terhadadap ruang kebebasan bruto sebesar 7% dari draft maksimum, dikarenakan pelabuhan Tanjung Perak didesain terlindung dari gelombang. Dengan memperhitungkan gerak osilasi kapal karena pengaruh alam seperti gelombang, angin, dan pasang surut; kedalaman kolam pelabuhan adalah 1,1 kali draft kapal pada muatan penuh di bawah elevasi muka air rencana.            Dasar perairan dari tiap kolam pelabuhan Tanjung Perak, rata-rata bermorfologi flat to almost flat (rata/hampir rata) dengan nilai kelerengan berkisar 1,278-1,547 % serta memiliki kedalaman 2,980-20,06 m. Sedangkan tipe pasang surut perairan pelabuhan Tanjung Perak adalah pasang surut harian tunggal (diurnal tide); dengan nilai datum yang didapat sebagai berikut: MSL 1,68 m, LLWL -0,22 m, HHWL 3,58 m, dan Z0 1,33 m dengan selisih muka air laut tertinggi dan terendah sebesar 2,46 m.   Perairan kolam pelabuhan dibagi atas 5 bagian sesuai dengan desain kolam pelabuhan yang dibangun condong terlindung terhadap gelombang. Tiap kedalaman kolam pelabuhan I, II, III, IV, dan V yang dibutuhkan dengan acuan bobot kapal maksimum secara berturut-turut adalah sebesar  7,5589 m; 6,5638-7,5589 m; 9,5063 m; 8,0511 m; dan 6,5638-8,5326 m. Dimana data karakteristik kapal telah ditentukan dari pihak PT. PELINDO yang diizinkan beroperasi di tiap kolam pelabuhan. Kemudian berdasarkan data batimetri yang telah dikoreksi pasang surut, kolam pelabuhan I yang berada di bawah 7,5 m; harus dilakukan pengerukan. Untuk kolam pelabuhan II yang berada di bawah  6,5 m; harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan III yang berada di bawah 9,5 m harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan III yang berada di bawah 8 m harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan yang berada di bawah 6,5 m harus dilakukan pengerukan.Kata Kunci:   batimetri, pasang surut, admiralty, kolam pelabuhan, datum, draft  ABSTRAKPort of Tanjung Perak port is one of the gates in Indonesia, which became the center of the distributor of goods to eastern Indonesia, especially to the province of East Java. The development of trade and increasing traffic flow then made efforts to develop transportation facilities, especially with regard to the safety of navigation of the ship. In this case analysis bathymetry measurements and observations in the tidal waters of the port of Tanjung Perak port to determine the depth of the pool on a regular basis.            Tidal data for 29 piantan analyzed by methods admiralty and port pool depth measurement is determined based on the draft (laden ship) ships planned maximum. These data will be combined gross weight to freedom space for 7% of maximum draft, as the port of Tanjung Perak designed sheltered from the waves. Consider the oscillatory motion with the ship because environmental influences such as waves, wind, and tides; port pool depth is 1.1 times the full load draft of the ship below the water table elevation plans.            Bottom waters of each pool Tanjung Perak harbor, have morphologies average flat to almost flat (flat / nearly flat) with values ranging from 1.278 to 1.547% slope and has a depth of 2.980 to 20.06 m. While the type of tidal waters of Tanjung Perak port is a single daily tidal (diurnal tide); with the datum value obtained as follows: 1.68 m MSL, LLWL -0.22 m, 3.58 m HHWL, and Z0 by a margin of 1.33 m lau face highs and lows of 2.46 m.            Water pools on 5 shared port with the appropriate port built design an insulated tilt against the waves. Each port pool depth I, II, III, IV, and V are required in a row is at 7.5589 m; 6.5638 to 7.5589 m; 9.5063 m; 8.0511 m; and from 6.5638 to 8.5326 m with a maximum boat weight mold was determined from the PT. PELINDO to operate in every port pool.Then based on bathymetric data has been corrected tidal for port pool I that is between 3.830 to 7.5 m; should be dredging. For the port pool II bathymetric data between 2.220 to 6.5 m; should be dredging. For the port pool III between 1.260 to 9.5 m should be dredging. In depth data for port pool IV be between 1.26 to 8 m should be dredging. The last for port pool V between 3.78 to 6.5 m should be dredging.Keywords: bathymetry, tidal, admiralty method, port pool, georeference, draft
Pembuatan Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai Hasbie Rachmat Bachtiar; Bambang Sudarsono; Sutomo Kahar
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.619 KB)

Abstract

ABSTRAKGunung Ciremai adalah gunung api tertinggi di Jawa Barat, dengan ketinggian 3078 Mdpl. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 mdpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Goa Walet. Kini gunung Ciremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektar. Sebagai salah satu gunung terpopuler di Indonesia dan tertinggi di Jawa Barat, gunung Ciremai merupakan salah satu gunung yang banyak diminati oleh para pendaki dari dalam negri maupun mancanegara, karena terkenal dengan jalur extrimnya yaitu jalur Linggarjati.Dalam pendakian gunung memerlukan peta pendakian yang menyimpan informasi tentang gunung yang didaki. Ketika sedang mendaki gunung pendaki tidak dapat membawa informasi dalam bentuk soft copy. Hal ini dikarenakan minimnya ketersediaan teknologi. Penyajian data dalam bentuk hard copy merupakan solusi untuk permasalahan tersebutPembuatan peta jalur pendakian gunung Ciremai ini dilakukan untuk menyajikan informasi tentang pendakian gunung ciremai secara lengkap, akurat dan sistematis. Penyajian informasi ini berupa buku saku panduan mendaki gunung Ciremai dan peta jalur pendakian gunung Ciremai. Penyajian informasi seperti ini merupakan salah satu solusi untuk menjawab permasalahan tersebut.Kata kunci: Gunung Ciremai, Buku saku panduan mendaki gunung Ciremai, Peta jalur pendakian gunung Ciremai. ABSTRACTCiremai mountain is the highest volcano in West Java, with an altitude of 3078 mdpl. This mountain has a double crater. Western crater radius of 400 meters is truncated by the eastern crater radius of 600 meters. At an altitude of about 2,900 meters above sea level on the southern slopes of the former eruption points are called Goa Walet. Now Ciremai mountain belongs to the National Park area of Mount Ciremai (TNGC), which has a total area of about 15,000 hectares. As one of the most popular mountain in Indonesia and the highest in West Java, Ciremai mountain is one of the many mountain climbers of demand by domestic and foreign, because it is famous for the track Linggarjati extreme lane.In mountaineering ascent requires a map that stores information about the mountain climb. When was climbing a mountain climber can not carry information in soft copy. This is due to the lack of availability of technology. Presentation of data in hard copy form is a solution to these problems.The development climbing lane map of Ciremai mountain was conducted to provide information about mountain climbing Ciremai complete, accurate and systematic. The presentation of this information in the form of a pocket book climbing guide of Ciremai mountain and the development climbing lane map of Ciremai mountain. Presentation of information like this is one of the solutions to these problems.Keywords: Mount Ciremai, Pocket book climbing guide of Ciremai mountain, Climbing lane map of Ciremai mountain.
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO BERBASIS ANDROID Giustia Puspa Geoda; Andri Suprayogi; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.558 KB)

Abstract

ABSTRAKUniversitas Diponegoro adalah salah satu universitas terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan luas kampus Tembalang  sekitar 1.352.054 m2. Namun dengan luas tersebut, informasi mengenai lokasi berbagai macam fakultas yang terletak di Universitas Diponegoro masih tergolong minim. Kebutuhan masyarakat dan mahasiswa akan sistem informasi kampus yang memadai memiliki urgensi yang tinggi. Penelitian ini menggunakan data spasial dan non-spasial dari Universitas Diponegoro, baik itu berupa koordinat lokasi, foto, peta kampus dan informasi berbagai gedung maupun data dosen dan informasi tiap jurusan serta fakultas. Dengan popularitas smartphone Android menjadikannya sebagai platform sistem informasi kampus Universitas Diponegoro. Aplikasi ini dikembangkan menggunakan Framework Android SDK, bahasa pemrograman java dan PHP, MySQL sebagai basis data, dan Google Map. Hasil akhir dari penelitian ini adalah aplikasi Android sistem informasi geografis kampus Universitas Diponegoro yang berisi informasi dari tiap gedung yang ada di Universitas Diponegoro, data dosen, serta foto untuk memudahkan pencarian akan lokasi gedung tertentu di Universitas Diponegoro.Kata Kunci : Universitas Diponegoro, SIG, Aplikasi, Android ABSTRACTDiponegoro University is one of the largest university in Central Java with approximately 1.352.054 m2 area of campus in Tembalang. For an area with that number, the information’s availability about location of each major in University of Diponegoro was insufficient. The need for information on the campus demanding the availability of information systems that are informative and provide convenience for everyone who needs information about the campus. This research using spatial data coordinates of the position and photos of objects and attribute data in the form of a campus building inventory data. Android popularity makes it being this application’s platform while the coordinate data collection using GPS handheld. Maps using Google Maps then developed using Android SDK framework., MySQL with phpMyAdmin features used as database.. The final result of this research is the application of Diponegoro University campus map Android-based equipped with information of each building, major, lecturers, and images to look around the location of building we were looking for.  Keywords : Diponegoro University, GIS, Application, Android
ANALISIS AREA LUAPAN BANJIR AKIBAT KENAIKAN DEBIT AIR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Das Banjir Kanal Timur Kota Semarang) Mia Anggorowati Karomah; Arief Laila Nugraha; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.54 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang rentan terhadap bencana banjir. Kondisi ini  di perparah dengan adanya penurunan tanah / land subsidence dan fenomena Rob (banjir pasang surut). Selain itu, adanya kenaikan debit air yang terjadi ketika musim penghujan, menyebabkan banjir di sepanjang muara Banjir Kanal Timur.Penelitian ini menggunakan software ArcGIS versi 10 untuk mengetahui sebaran area luasan banjir dan HEC-RAS 4.1.0 untuk simulasi hidraulika. Teknik yang digunakan adalah memodelkan geometri sungai  dan membentuk model hidraulika berdasarkan data kontur dan penampang melintang sungai sehingga didapat sebaran area luapan banjir. Analisis unsteady flow digunakan untuk membuat peta debit rencana banjir 5,10, dan 25 tahun.Dari hasil penelitian di dapat area luapan banjir terbesar yaitu Desa Terboyo Kulon Kecamatan Genuk, pada debit banjir rencana 5, 10, dan 25 tahun berturut turut sebesar 116,449 Ha, 117,520 Ha, dan 119,153 Ha. Tata guna lahan terdampak banjir terbesar adalah  tambak dengan luas berturut-turut 217,128 Ha, 218,851 Ha, dan 221,116 Ha. Hasil area luapan banjir disajikan dalam peta area luapan banjir dan peta area luapan banjir pada tata guna lahan debit banjir rencana 5, 10, dan 25 tahun.Kata Kunci : SIG, HEC-RAS, Banjir Kanal Timur ABSTRACTSemarang is one of the areas in Indonesia that are prone to catastrophic flooding. This condition is getting worse with a decrease in land / land subsidence and the phenomenon of Rob(tide and gauge flood). In addition, an increase in water discharge that occurs during the rainy season, causing flooding along the Banjir Kanal Timur.Study using ArcGIS software  version 10 to find out the distribution of flood area and HEC-RAS hydraulics simulation for hydraulics simulation.The technique used is to model the geometry of rivers and form a model based on the hydraulics contours and transverse cross section of the river that had spread in the flood overflow area. Analysis unsteady flow used for making maps of discharge flood plan 5, 10, and 25 years.From the results of research in the area of the largest flood overflow is Kecamatan Genuk Terboyo Kulon Village, on flood discharge plan 5, 10, and 25 years of successive became one of 116,449 Ha, 117,520 Ha, and 119,153 Ha. Land use is the largest flood affected farm with an area of 217,128 Ha, respectively, 218,851 Ha, and 221,116 Ha. Results of the flood overflow areas presented in the overflow area flood maps and overflow area flood maps on land use of discharge flood plan 5, 10, and 25 years.Keywords : GIS, HEC-RAS, Banjir Kanal Timur
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH DENGAN PENDEKATAN PENILAIAN MASSAL UNTUK MENINGKATKAN POTENSI PAD (PENDAPATAN ASLI DAERAH) KHUSUSNYA PBB DAN BPHTB (Studi Kasus Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta) Kusumawardani, Rizki Budi; Kahar, Sutomo; Subiyanto, Sawitri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.3 KB)

Abstract

ABSTRAKZona Nilai Tanah (ZNT) merupakan  area yang menggambarkan nilai tanah yang relatif sama. Bersamaan dengan terbitnya undang undang No.28 Tahun 2009 aturan mengenai penarikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Pajak Penghasilan PPh atas tanah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Maka dari itu perlu dianalisis penilaian tanah untuk membentuk peta ZNT yang dapat digunakan sebagai acuan penarikan pajak daerah sehingga dapat  meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).Dalam penelitian dibentuk peta ZNT berdasarkan nilai tanah dengan penilaian massal menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative) yang di overlay dengan Peta Tata Guna Lahan, Peta Administrasi Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta dan Peta Blok PBB tahun 2013 dan dibandingkan dengan nilai tanah berdasarkan NJOP. Data harga tanah yang dihitung adalah data harga tanah murni dengan nilai banguan yang sudah dikeluarkan dan penyesuaian sesuai karakteristik kondisi sosial ekonomi daerah.Dalam penelitian ini pengolahan data menggunakan software ArcGIS 10.0 dan Microsoft Office 2010.Hasil Penelitian menunjukkan terdapat 33 Zona Nilai Tanah dari data NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Tanah dan 65 Zona Nilai Tanah berdasarkan Survey Transaksi Harga Tanah. Sedangkan dari analisis peningkatan pendapatan rata-rata besarnya peningkatan pendapatan daerah berdasarkan perbandingan antara harga transaksi dan nilai NJOP adalah 312,17%.Kata Kunci :   Zona Nilai Tanah (ZNT), Metode Penilaian Tanah, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan), PPh (Pajak Penghasilan) atas tanah.ABSTRACKLand Value Zone is defined as an area that describes the relative value of the same set of land parcels. Publication of the law No.28 Year 2009 on Land and Building Tax (PBB), Tax on Acquisition of Land and Building (BPHTB) and Tax of Income Land Acquisition Value (PPh) manage by local region. Seeing that regulation, it’s well to review land value for mapping the land value zone that can be used for basic tax revenue determination to increase local revenue taxation.  On the research land value mapped by mass assessment using sales comparative assessment that overlay with map of land use, administration Banjarsari, Surakarta and map of field 2013 that comparison between Tax Object Sales Value (NJOP). The computation of land value is pure without building value and correction by household economy research area.  On the research processing data using ArcGIS 10.0 and Microsoft Office 2010.The result on the research show 33 land value zone by Tax Object Sales Value (NJOP) and 64 zone by land value transaction survey. As for from analysis local revenue taxation the average number of appreciation is 312,17%.Keyword : Land Value Zone, Land Value Method, Land and Building Tax, Tax on Acquisition of Land and Building and Tax of Income Land Acquisition Value
PEMBUATAN PETA FOTO DENGAN FOTO UDARA FORMAT KECIL DI KOMPLEKS CANDI PRAMBANAN DENGAN WAHANA PESAWAT QUADCOPTER Harmeydi Akbar; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.688 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi prambanan termasuk salah satu dari situs warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama yang memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia (Wikipedia.Org).Mengingat kelebihan dan pentingnya pengawasan candi Prambanan ini, maka perlu dilakukan pemetaan di wilayah candi Prambanan.Pengawasan yang perlu dilakukan sesering mungkin, dengan mempertimbangkan kemudahan dan biaya yang relatif murah, metode pemetaan foto udara format kecil menggunakan quadcopter dengan ketelitian tertentu menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelaksanaan pemetaan candi Prambanan dalam penelitian ini menggunakan metode pemetaan foto udara format kecil dengan RC multirotor (quadcopter), sehingga lebih mudah untuk ditentukan tempat dimulainya terbang (take off) dan mendarat (landing). Dengan RC quadcopter, masalah landasan tidak menjadi kendala lagi.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketelitian gambar yang didapat dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel dengan hasildilapangan. Dan menganalisis kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel.Penelitian ini dilakukan selama 3 kali penerbangan dan menghasilkan lebih dari 768 dan hanya 404 foto yang dapat dipergunakan.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui tingkat ketelitian gambar memiliki kisaran 0-2 pixel.Berdasarkan hasil kisaran tersebut, diketahui bahwa pemodelan tidak mengandung kesalahan kasar dan sistematik. Berdasarkan pengukuran hasil model dengan hasil lapangan memiliki selisih jumlah rata-rata 1,727 cmdan masing-masing foto memiliki selisih antara 2 cm dan 4 cm. Sedangkan kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel adalah cepat, hemat dan efisien, penerbangan dilakukan dibawah awan sehingga menekan biaya sewa sehingga tidak perlu pesawat khusus dengan lubang kamera. Biaya yang dipergunakan lebih murah dibandingkan dengan pemotretan udara biasa dan dapat dilakukan oleh SDM Indonesia terutama didaerah-daerah untuk menunjang program otonomi daerah. Sedangkan kelemahannya adalah untuk suatu daerah yang luas diperlukan frame foto yang lebih banyak dibandingkan dengan foto udara biasa, tidak cocok untuk pembuatan peta kontur.Kata kunci : quadcopter, kamera Go Pro Hero 3, foto udara format kecil.ABSTRACTPrambanan temple is one of  the UNESCO world heritage site, the largest Hindu temple in Indonesia, and one of the most beautiful temples in Southeast Asia. The architecture of the building is tal l and slender shaped according to the Hindu architecture in general with the main temple of  Shiva temple which has a height reaching 47 meters in the center of the complex cluster of to wering temples smaller. As one of the grandest temples in South east Asia, Prambanan temple is the main attraction of tourists visit from all over the world (Wikipedia. Org). Given the advantages and importance of monitoring this Prambanan temple, then need to be mapped in the area of Prambanan temple.Supervision needs to be done as often as possible, taking into account the ease and relatively low cost,  method of mapping a small format aerial photographs using a quadcopter with a certain precision to be one of the main options. Implementation mapping Prambanan in this study using small  format aerial photography mapping with RC multirotor (quadcopter), making it easier to set the starting fly (take off) and landing (landing). With RC quadcopter, the problem of  foundation is not an obstacle anymore.The objectives of this study was to determine the level of accuracy obtained by using the image of aeromodelling quadcopter and the camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels with field results. And analyze the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels.This observation was conducted for 3 times the cost and generates more than 768 and only 404 photos that can be used. Based on the research results, the image has a known level of accuracy range of 0-2 pixels. Based on the results of these ranges, it is known that the modeling does not contain harsh and systematic errors. Based on the measurement results of the model with field results have a difference about 1,727 cm and each photo has a difference of between 2cm and4cm. While the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels is fast, effective and efficient, so the flight was conducted under the clouds reduce the cost of the rental so do not need a special plane with a camera hole. The cost used is cheaper compared to regular aerial photography and can be done by Indonesian human resources, especially in areas to support the program of regional autonomy. The disadvantage is to a large area photo frame required more than the usual aerial photographs, is not suitable for the manufacture of a contour map.Keywords: quadcopter, camera Go ProHero3, small formataerial photographs
PENENTUAN POSISI STASIUN GNSS CORS UNDIP PADA TAHUN 2013 DAN 2014 MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT Laksana, Indra; Yuwono, Bambang Darmo; Awaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.087 KB)

Abstract

ABSTRAKStasiun GNSS CORS (Global Navigation Satelite System) stasiun aktif yang mengukur letak posisi suatu titik terus menerus selama 24 jam. Stasiun ini merupakan teknologi yang dikembangkan dan digunakan oleh departemen pertahanan dan transportasi USA. Stasiun GNSS CORS UNDIP yang mulai beroperasi pada bulan Desember tahun 2012, pada kampus Universitas Diponegoro Fakultas Teknik Program Studi Geodesi. Pemasangan ini didasarkan pada kebutuhan tentang navigasi berbasis satelit.Penelitian ini berfokus pada penentuan kecepatan posisi stasiun GNSS CORS UNDIP pada tahun 2013 dan 2014. Stasiun tersebut perlu dilakukan penentuan posisi CORS untuk memperkirakan pergerakan titik tersebut setiap tahun dan pendefinisian koordinat secara kontinyu dan berkala. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengamatan GPS pada tahun 2013 dan 2014.  Penelitian ini terdiri dari project udp1, udp2, udp3, udp4 yang menggunakan 14 stasiun IGS yaitu cnmr, coco, cusv, darw, dgar, guam, iisc, karr, kunm, ntus, pbr2, pimo, sey1, dan udip. Pengolahan menggunakan perangkat ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan nilai posisi tahun 2013 dan 2014 pada  strategi pengamatan udp1 memiliki nilai -0,01217 m/tahun ± 2,24 mm untuk komponen X, 0,02201 m/tahun ± 7,05 mm untuk komponen Y, -0,01550 m/tahun ± 1,59 mm untuk komponen Z. pada strategi pengamatan udp 2 nilai yang didapat adalah -0,01133 m/tahun ± 2,00 mm untuk komponen X, 0,02469 m/tahun ± 5,86 mm untuk komponen Y, -0.00005 m/tahun ± 1,37 mm untuk komponen Z. Pada strategi pengamatan udp3 didapat -0,01188 m/tahun ± 2,27 mm untuk komponen X, -0,02419 m/tahun ± 7,04 mm untuk komponen Y, -0,01773 m/tahun ± 1,59 mm untuk komponen Z. Pada strategi pengamatan udp4 didapat -0.01180 m/tahun ± 2,56 mm untuk komponen X, 0.02487 m/tahun ± 5,91 mm untuk komponen Y, -0.00004 m/tahun ± 1.39 mm untuk komponen Z.Kata Kunci : Stasiun CORS, posisi definitif, GAMIT ABSTRACTStation CORS GNSS (Global Navigation Satellite System) is a station that can measure the current position of a station point continuously for 24 hours. This station is a technology that developed and used by the department of defense and transportation, USA. GNSS CORS station of UNDIP began operating in December 2012, on the Geodesy major, Faculty of Engineering, Diponegoro University. This installation is based on the requirements of satellite-based navigation. This study focuses on determining the speed of GNSS CORS station UNDIP position in the year 2013 until 2014. The station CORS positioning needs to be done to estimate the movement of the point defining the coordinates of each year, continuously and periodically. The data used in this study include GPS observations in the year 2013 until 2014. This research project consists of udp1, udp2, udp3, and udp4 total using 14 observations stations, the stations is cnmr, coco, cusv, darw, dgar, guam, iisc, karr, kunm, ntus, pbr2, pimo, sey1, and udip. Processing is done by using a scientific software, GAMIT.This study resulted the value of the position in 2013 and 2014 on udp1 observation strategy that has value -0.01217 m/year ± 2.24 mm for the X component, 0.02201 m/year ± 7.05 mm for the Y component, -0.01550 m/year ± 1.59 mm for the Z component. The value that resulted by the observation strategy udp 2 is -0.01133 m/year ± 2.00 mm for the X component, 0.02469 m/year ± 5.86 mm for component Y, -0.00005 m/year ± 1.37 mm for the Z component. The value that resulted by the observation strategy udp3 is -0.01188 m/year ± 2.27 mm for the X component, 0.02419 m/year ± 7.04 mm for the Y component, -0.01773 m/year ± 1.59 mm for the component Z. The value that resulted by the observation strategy udp4 is -0.01180 m/year ± 2.09 mm for the X component, 0.02487 m/year ± 5.91 mm for the Y component, -0.00004 m/year ± 1.39 mm for the component Z.  Keywords: CORS station, Definitive position, GAMIT
ANALISIS PENGARUH KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP KEPADATAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( Studi Kasus : Kecamatan Tembalang, Semarang ) Elsa Regina Rizkitasari; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.956 KB)

Abstract

ABSTRAKKemacetan adalah permasalahan pelik yang berdampak luas kepada masyarakat pengguna jalan serta pelaku ekonomi. Kemacetan berhubungan dengan volume lalu lintas yang melintas pada suatu ruas jalan. Pada penelitian ini dilakukan analisa pengaruh nilai kepadatan penduduk terhadap nilai kepadatan ruas jalan di Kecamatan Tembalang kota Semarang. Pada penelitian ini jumlah penduduk dibagi dalam zona kelurahan.Untuk membantu proses analisa menggunakan software statistika dan untuk pemetaan menggunakan software SIG. Nilai kepadatan jalan dihitung dengan menggunakan acuan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI,1997). Untuk memperoleh nilai kapasitas (C) dan nilai derajat kejenuhan (DS) berdasarkan Permenhub No. 14 Tahun 2006, nilai derajat kejenuhan tersebut dibagi menjadi 4 kriteria.Hasil dari penelitian menyatakan kondisi kapasitas beberapa ruas jalan di Kecamatan Tembalang masih dapat menampung arus lalu lintas dan beberapa ruas jalan lainnya tidak mempunyai kapasitas yang besar sehingga nilai derajat kejenuhan ruas jalan tersebut tinggi. Berdasarkan hasil analisa, kepadatan penduduk mempengaruhi kepadatan jalan sebesar 75,4% dan 24,6% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Dalam SIG terdapat 2 data yaitu data spasial berupa peta dan data atribut berupa tabel. Berdasarkan data atribut yang disusun, maka dapat dibuat peta Kepadatan Jalan, Peta Lalu Lintas Harian Rata – Rata, dan Peta Kapasitas Jalan.Kata kunci : Kepadatan ruas jalan, kepadatan penduduk, Manual Kapasitas Jalan Indonesia, SIG. ABSTRACTJam is a complicated issue that have broad impact to the user community as well as the way economic actors. Jam associated with the volume of traffic passing on a road segment. This research analyzes the effect of population density value to the value of the density of roads in the city of Semarang District Tembalang. In this study, the population is divided into sub zones.To assist the process of analysis using statistical software and for mapping use the GIS software. Road density values calculated using reference Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI, 1997). To obtain the value of capacity (C) and the degree of saturation (DS) based Permenhub No. 14 In 2006, the degree of saturation is divided into 4 criteria.The results of the study stated conditions the capacity of some roads in the District Tembalang can still accommodate traffic flow and some other roads do not have a large capacity so that the degree of saturation of the high road. Based on the analysis, the population density affect road density of 75.4% and 24.6% are influenced by other factors. In GIS there are 2 kinds of data, the spatial data such as maps and attribute data such as tables. Based on data compiled attributes, it can be made road Density Map, The Average Daily Traffic Map, and Highway Capacity Map.Key words : Road density, population density, Indonesian Highway Capacity Manual, GIS.
PEMANFAATAN SIG UNTUK MENENTUKAN LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN (Studi Kasus Kabupaten Boyolali) Yoga Kencana Nugraha; Arief Laila Nugraha; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2725.654 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Boyolali yang berada pada jalur strategis Semarang - Surakarta menyebabkan terjadinya perkembangan kota yang dapat memicu konversi lahan non-mukim menjadi permukiman. Penggunaan lahan yang tidak terencana akan menimbulkan kerusakan lahan dan lingkungan. Dalam hal tersebut SIG (Sistem Informasi Geografis) mempunyai peran yang cukup strategis, karena SIG mampu menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam rangka perwujudan manfaat SIG tersebut, yang kemudian dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan di Kabupaten Boyolali untuk pengembangan kawasan perumahan dan permukiman. Penelitian ini mempertimbangkan tujuh parameter untuk menentukan lokasi potensial pengembangan perumahan dan permukiman, yaitu parameter kemiringan lereng, ketersedian air tanah dan pdam, kerawanan bencana, Aksesbilitas, jarak terhadap pusat perdagangan dan fasilitas pelayanan umum, kemampuan tanah dan perubahan lahan.Dari analaisis dengan metode metode AHP (Analytic Hierarchy Process) menujukan bobot pengaruh untuk masing masing parameter sebesar 27,5 % untuk kerawanan bencana; 19,4 % kemiringan lereng; 17,0 % Perubahan Lahan; 15,0 % Aksesbilitas; 7,2 % Ketersediaan Air; 7,0 % daya dukung tanah; 6,9 % jarak terhadap pusat perdagangan dan fasilitas pelayanan umum. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan dan analisis dengan skoring, tingkat potensi untuk perumahan dan permukiman di Kabupaten Boyolali dibagi menjadi 4 kelas, yaitu Kelas Sangat berpotensi dengan luas 1944,92 Ha, cukup berpotensi dengan luas 63127,89 Ha, kurang berpotensi dengan luas 21302,52 Ha dan tidak berpotensi dengan luas 5216,20 Ha.Untuk Kecamatan yang memiliki kawasan sangat berpotensi dan menjadi prioritas daerah pengembangan kawasan perumahan dan permukiman yang sesuai RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2010-2030 paling luas berada di Kecamatan Andong dengan luas 1645,82 Ha, Kemudian Kecamatan Boyolali dengan luas 1259,23 Ha, dan Kecamatan Nogosari seluas 1578,40  Ha.Kata Kunci :Potensi LahanPerumahan, SIG, AHP ABSTRACTBoyolali district which is strategically located at Semarang - Surakarta intercity road led to the development of the city which can trigger the conversion of non-settlements area into settlements area. Unplanned land usage will cause damages to the land and environment. In this case, GIS (Geographic Information System) have a strategic role, because GIS is able to present the spatial aspect. In order to realize the benefits of GIS, which can then be used to determine the level of land potential in Boyolali for real estate and housing development. This study considers seven parameters to determine the potential sites for housing and settlement development, that are the slope parameter, groundwater and PDAM availability, disaster vulnerability, Accessibility, distance to the center of commerce and public service facilities, land capability and land transformations.From the analysis using AHP method (Analytic Hierarchy Process) addressed the weights influence for each parameter is 27.5% for disaster vulnerability; 19.4% for slope; 17.0% for  land transformation; 15.0% for accessibility; 7.2% for water availability; 7.0% for land capability; 6.9% for the distance to the center of commerce and public service facilities. While based on the calculation and analysis by scoring, the level of potential for housing and settlements in Boyolali divided into 4 classes: Highly potential class with an area of 1944.92 hectare, enough potential with an area of 63127.89 hectare, less potential with an area of 21302.52 hectare, and no potential with an area of 5216.20 hectare.For the Districts with highly potential area and become a priority area of real estate and settlement development that appropriate to Boyolali district RTRW years 2010-2030 were most widespreaded in the Andong sub-district with an area of 1645.82 hectare, then the Boyolali sub-district with an area of 1259.23 hectare, and the Nogosari sub-district with an area of 1578,40 hectare.Keywords : Land potential forReal estate, GIS, AHP
EVALUASI PERUBAHAN NILAI TANAH DAN PENGGUNAAN TANAH PASCA PROGRAM KONSOLIDASI TANAH PERKOTAAN (KTP) Pakaya, Ihsan; Subiyanto, Sawitri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.509 KB)

Abstract

ABSTRAKPemerintah sedang giat-giatnya melakukan pembangunan di segala bidang. Pembangunan yang di lakukan pemerintah terus meningkat, demikian juga dengan jumlah penduduk dan kualitas kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai konsekuensi logis dari pembangunan tersebut mengakibatkan kebutuhan akan tanah terus meningkat. Pemerintah Kota Palangkaraya yang menjadi pusat pemerintahan di Kalimantan Tengah telah melakukan berbagai upaya salah satunya dengan mengadakan program konsolidasi tanah perkotaan (KTP). Pemerintah telah melakukan program konsolidasi tanah dengan tujuan untuk penataan bidang-bidang tanah yang belum mempunyai akses jalan, fasilitas umum dan fasilitas sosial sesuai dengan rencana tata ruang daerah. Oleh sebab itu kondisi tersebut dapat menjadi pemicu perubahan nilai tanah dan perubahan penggunaan tanah yang diakibatkan kebutuhan akan tanah yang meningkat.Dalam penelitian ini digunakan metode penilaian tanah dengan cara mendata harga pasar yang wajar dan  penilaian dilakukan secara massal dengan menggunakan pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Sedangkan untuk metode penentuan penggunaan tanah dengan cara survei lokasi dilapangan dan dibandingkan menggunakan citra satelit.          Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persentase selisih kenaikan nilai tanah antara bidang tanah yang masuk dalam program konsolidasi tanah dengan bidang tanah non program konsolidasi tanah yaitu sebesar 379%. Dengan persentase kenaikan rata-rata setelah program konsolidasi tanah sebesar 6689% dan non program konsolidasi sebesar 6310%. Penggunaan tanah pada objek yang dikonsolidasi pada tahun 2002 hingga tahun 2012 terjadi perubahan penggunaan tanah yaitu Tanah Industri (naik 9,5 Ha dengan persentase 8,4%), Tanah Pemukiman (naik 18,4 Ha dengan persentase 16,2%), Tanah Perumahan (naik 8,1 Ha dengan persentase 7,1%), Tanah Tidak Ada Bangunan (turun 36 Ha dengan persentase 31,7%), sedangkan untuk Fasilitas Kesehatan, Fasilitas Pendidikan, Tempat Peribadatan tidak mengalami perubahan.Kata Kunci : Konsolidasi Tanah, Nilai Tanah, Penggunaan  Tanah ABSTRACT          The government is really enterprising to do development in all fields. The government's development has continued to increase, as well the number of residents and the quality of life needs of society. As a logical consequence of such development has resulted in the need for land continues to increase. Palangkaraya government, which the central goverment in Central Kalimantan has made many efforts, that is to hold  the urban land consolidation program. The government has done a land consolidation program with the aim of structuring areas of land that does not yet have any access to roads, public facilities and social facilities in accordance with the regional spatial plans. Therefore, these conditions can lead to changes in the value of land and land use changes which resulting from increased demand for land.  The method used in this research was assessed of land method by recording the fair market value and the assessment done mass using technology utilizing Geographic Information Systems (GIS). While for the method of determining the use of land was by survey the field research and compared to using the satellite imagery.          These results have shown that the percentage difference increase in the value increase between  of land parcels included in the land consolidation program with no purchase of land consolidation program  is  379%. With the average percentage increase after land consolidation program is 6689% and non-program consolidated is 6310%. The change of land use on objects that consolidated from 2002 to 2012 is in the Industrial Land (up 9.5 ha with a percentage of 8.4%),  Land Settlements (up 18.4 ha with a percentage of 16.2%), Land for Housing (up 8.1 ha with a percentage of 7.1%), Land Not Existing Buildings (down 36 Ha with the percentage of 31.7%), whereas for Health facilities, Educational Facilities, Places of Worship has not changed.Keywords: Consolidation of Land, Land Value, Land Use

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue