cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 30 Documents clear
MONITORING PERUBAHAN AREA PERSAWAHAN DENGAN PENGINDERAAN JAUH DATA LANDSAT MULTITEMPORAL (Studi Kasus Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah) Dwi Nugroho; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.055 KB)

Abstract

ABSTRAKLahan Persawahan memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat yang bercorak agraris dimana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun saat ini banyak alih fungsi lahan persawahan menjadi lahan non persawahan, contohnya di Kabupaten Boyolali. Jadi, jika terjadi alih fungsi lahan persawahan ke lahan non persawahan pasti akan berdampak pada perekonomian masyarakatnya dan ketersediaan pasokan beras terkait dalam hal ketahanan pangan lokal penduduk Kabupaten Boyolali per tahunnya.Penelitian ini memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh dalam mendeteksi perubahan lahan persawahan dari tahun 2010-2014 dengan lokasi penelitian di Kabupaten Boyolali. Metode yang digunakan dalam pengolahan data adalah Supervised Classification dan menggunakan proses Raster to Polygon. Dimana hasil yang diperoleh adalah adanya penurunan luas lahan persawahan dari tahun 2010-2014. Pada tahun 2010 diperoleh luas lahan persawahan sebesar 37.571,68 Ha, dan pada tahun 2014 diperoleh luas lahan persawahan sebesar 18.877,33 Ha.Dengan memanfaatkan metode Supervised Classification, maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Boyolali defisit dalam ketersediaan pasokan beras terkait Ketahanan Pangan Lokal. Dengan kebutuhan beras per kapita per hari sebesar 0,24 kg, sedangkan angka ketetapan dari Dinas Ketahanan Pangan sebesar 0,3 kg. Kata Kunci : Lahan Sawah, Perubahan Lahan, SIG dan Penginderaan Jauh, Kabupaten Boyolali  ABSTRACTRice field land has a strategic role and function for people who figured agrarian society where most rely on the agricultural sector. But now many conversion of paddy fields into non paddy fields, for example in Boyolali. So, in case of paddy land conversion to non-paddy fields will definitely have an impact on society and the economy related supply of rice in terms of food security of local residents Boyolali per year.This study utilizes the application of Geographic Information Systems (GIS) and remote sensing to detect changes in the paddy fields of 2010-2014 with research sites in Boyolali. The method used in the data processing is Supervised Classification and use the Raster to Polygon. There the results are a decrease in paddy land area of 2010-2014. In 2010 acquired land area of 37571.68 hectares of rice fields, and in 2014 obtained a land area of 18877.33 hectares of rice fields. By utilizing the Supervised Classification method, it can be seen that the Boyolali deficit in the supply of rice Related Local Food Security. With the demand of rice per capita per day of 0.24 kg, while figures from the Department of Food Security provisions of 0.3 kg. Keywords: Rice field, Change of Land, GIS and Remote Sensing, Boyolali
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI STASIUN KERETA API JALUR SEMARANG - BANDUNG BERBASIS ANDROID Handoko Dwi Julian; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.873 KB)

Abstract

Abstrak Kereta Api merupakan salah satu jenis moda transportasi massal yang efisien untuk jumlah penumpang yang tinggi. Pada era sekarang ini, peranan Transportasi Kereta Api sangatlah penting bagi masyarakat luas dan pengaplikasian Sistem Informasi Geografis semakin populer dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan analisis spasial. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran koordinat lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS) sebagai data utama dan data atribut sebagai data pendukung serta Google Maps yang berguna untuk menampilkan jalur kereta api Semarang-Bandung. Pada penelitian ini dikembangkan sebuah aplikasi yang dibangun dengan bahasa pemrograman java menggunakan software Eclipse dan ADT ( Android Development Tool). Hasil akhir dari penelitian ini berupa Aplikasi Harina Train Online berbasis mobile GIS yang dioperasikan dengan sistem Android dan memiliki beberapa fitur utama seperti visualisasi jalur kereta api Semarang-Bandung, informasi setiap stasiun kereta yang dilewati, tarif tiket kereta api, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api, serta informasi alternatif transportasi. Kata Kunci : Jalur Kereta Api, GPS, Mobile GIS, Aplikasi, Android. Abstract Train is one kind of efficient mass transportation for the high number of passengers. In this era, the role of transport is very important for the society and the Application of geographic information system utilized increasingly popular for various interest of spatial. In this research, the coordinates of the field were taken by Global Positioning System (GPS) as the main data and attribute data as supporting data and visualize railway on Google Maps. In this study who later became an application built with the Java programming language using the Eclipse software and ADT ( Android Development Tool). The end result of this research is Harina Train Online Application based mobile GIS that operate on the android system has several key features such as visualization of railroad Semarang-Bandung, any information that is passed the train station, train ticket fares, schedules train departure and arrival, as well as alternative transportation information. Keyword: Railway, GPS, Mobile GIS, Applications, Android.
KAJIAN SEBARAN DAN POTENSI MINIMARKET BERBASIS SIG ( Studi Kasus : Kota Semarang ) Febrian Pramana Putra; Moehammad Awaluddin; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.961 KB)

Abstract

AbstrakPertumbuhan minimarket kini semakin tak terkendali, begitu banyak gerai toko minimarket baru yang dibuka pada tiap tahunnya. Banyak pemerintah kabupaten / kota cenderung mengobral ijin pendirian minimarket yang kini menjamur di pelosok desa. Walaupun Kota Semarang sudah memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang pasar modern, namun pelaksanaannya masih membutuhkan pengawasan baik dari masyarakat sendiri. Pengawasan dilakukan untuk mendukung peraturan yang dilakukan oleh pemerintah Kota Semarang.Pada penelitian ini memanfaatkan data koordinat yang didapat dari survey lapangan dengan menggunakan GPS handheld. Langkah selanjutnya adalah membuat peta persebaran minimarket dengan menggunakan software SIG. Sedangkan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah buffer dan clip.Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah peta persebaran minimarket yang mengacu pada peraturan pemerintah Kota Semarang, yang diharapkan dapat membantu pemerintah Kota Semarang dalam mengontrol pertumbuhan minimarket dan dapat menjadi pertimbangan pemerintah Kota Semarang dalam  memberikan ijin terhadap pembangunan minimarket baru.. Kata Kunci : Minimarket, Buffer, GPS, SIG AbstractNowadays, the growth of minimarket is going to uncontrolled. There are many new outlet stores build every year. Many regency governments tend to ease construction license which are at present scattered until rustic villages. Even though, Semarang city has owned local regulation that control about modern market, nevertheless, it still needs people’s good control for the implementation. The supervision is used to support the regulation that did by Semarang’s City Government.This research is use coordinate data that collected from field survey by using handheld GPS. Next step is draw minimarket spread map applied by GIS software. Whereas, the method that used in this research is buffer and clip.The Final research task’s result is a minimarket’s spread map that appropriate with local regulation of Semarang city, in which hopefully could accommodate Semarang’s government to control the growth of the minimarket. Moreover, it could be a consideration to Semarang’s government to provide the license for builds new minimarket. Key words : Minimarket, Buffer, GPS, SIG
VISUALISASI 3D PETA KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN (KKOP) BANDARA NGURAH RAI BALI Elceria Susanti; Arief Laila Nugraha; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.573 KB)

Abstract

Abstrak Bandara Ngurah Rai adalah bandara yang berada di Bali tepatnya di Kabupaten Badung Kecamatan Kuta yang secara geografis terletak pada koordinat 8°44′53″LU 115°10′3″BT. Lokasi Bandara Ngurah Rai berada di tengah jalur antara Kuta Utara dan Kuta selatan di mana banyak obyek pariwisata sehingga menunjang pembangunan baik hotel, villa, BTS, menara maupun antena yang berpotensi menimbulkan gangguan pada aktivitas penerbangan (obstacle) yang berada di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) terutama kawasan sekitar bandara agar tidak mengganggu aktivitas penerbangan pesawat udara (Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 27 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Izin Mendirikan Bangunan).Metode yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini adalah metode overlay identity dengan menggunakan software ArcGIS 10. Pembuatan peta menggunakan software ArcGIS 10 selesai, kemudian peta ditampilkan pada Google Earth namun sebelumnya dibuat versi 3D pada software Google SketchUp Pro 2014.Dari hasil pengolahan data menggunakan metode tersebut, maka didapat informasi mengenai wilayah yang termasuk ke dalam Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Ngurah Rai dan zona ketinggian di setiap pembagian kawasan. Dengan demikian, dapat diketahui persebaran obstacle menurut wilayah dan zona ketinggian pada KKOP Bandara Ngurah Rai yaitu sebagian besar berada di Kecamatan Kuta Selatan (Desa Ungasan, Pecatu, Benoa dan Kutuh). Penelitian ini bermanfaat untuk membuat perencanaan pembangunan, pemantauan obstacle, dan pembaharuan dari peta sebelumnya. Kata Kunci : Bandara Ngurah Rai, KKOP, ketinggian, obstacle. Abstract Ngurah Rai airportis  located on Bali, Badung. Geographically, it is located in coordinate 8°44′53″ S 115°10′3″ E. Ngurah Rai airport is in between of North Kuta and South Kuta near with tourism places that will improving building development like hotel, villa, BTS, tower althought antenna that have potensials to make disturbance to flight activity (obstacle) in Safety of Flight Operations Area (KKOP) especially near airport area in order to have no disturbance the flight activity (Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 27 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Izin Mendirikan Bangunan).The method that used in this final task research is overlay identity  method by using ArcGIS's software 10. Cartography utilizes ArcGIS's software 10 all through, then map is featured on Google Earth yet 3D versions are made with Google SketchUp Software Pro 2014.The result of data processing are information about region which most turns in at Safety of Flight Operations Area (KKOP) of  Ngurah Rai Airport and height zone at any given area division. Thus, can be known about obstacle’s spread is according to region and height zone on KKOP Ngurah Rai Airport which is dominated in Kuta Selatan (Desa Ungasan, Pecatu, Benoa dan Kutuh). This research utilitarian to make urban planning development, monitoring the obstacles, and update of previous map.  Key word: Ngurah Rai Airport, KKOP, elevation, obstacle.
PEMBUATAN PROGRAM EKSTRAKSI DAN PENENTUAN POSISI SATELIT DARI FILE NAVIGATION RINEX VERSI 2.10 Vauzul Rahmat; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.786 KB)

Abstract

AbstrakDalam penentuan posisi dengan menggunakan GPS langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu menghitung posisi satelit selama pengamatan. Ketelitian suatu titik dalam sebuah survei GPS sangat dipengaruhi oleh ketelitian dari posisi satelit yang terekam pada saat pengamatan, semakin banyak satelit yang direkam maka semakin teliti posisi yang di dapat. Dalam survei menggunakan GPS, receiver GPS akan menerima informasi-informasi terkait satelit yang di amati itu sendiri. Informasi tersebut diberikan dalam berbentuk navigation message, isi dari navigation message itu biasanya terkait komponen orbit satelit (elemen kepler), dan komponen koreksi jam satelit. Untuk mendapatkan data navigation message dalam format baku kita dapat melakukan konversi data hasil pengukuran GPS ke dalam format RINEX versi 2.10. Dari format tersebut kita memperoleh data referensi waktu saat epoch dan koreksi waktu (Epoch, a0, a1, a2, dan Toe), data pertubasi satelit (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, dan CIS), dan data elemen kepler (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), kemudian dibuat program penentuan posisi satelit GPS menggunakan bahasa visual basic. Hasilnya berupa program ekstraksi dan perhitungan posisi satelit, kemudian hasil perhitungan posisi satelit menggunakan program FMP 1.0 dibandingkan dengan precise ephemerides yang disediakan oleh IGS, hasil perbandingan menunjukkan program ini efektif digunakan untuk pengamatan dengan interval waktu 4 jam terhadap toc. Kata Kunci : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic Abstract In positioning using the GPS the first step that we must do is calculating the satellite position during the observation. The precision of a point in a GPS survey is affected by the precision of the satellite position that recorded in the observation, the higher number of the satellite that is being recorded the more precise of the position can be. In surveying using GPS, GPS receiver will receive informations related to the satellite that is being observed.  These information is given in navigation message, and the content of the message usually related to the satellite orbit’s component (Kepler’s element) and time correction satellite’s component. To obtain the navigation message data in a standard format we can convert the measuring result of the GPS to the RINEX ver. 2.10 format. From the format we can get time reference data when epoch (Epoch, a0, a1, a2, and Toe), pertubation parameters satellite (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, and CIS), and keplerian parameters (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), then from the data we made it into GPS satellite positioning program using visual basic language. The result is an extraction program and satellite position’s calculation, then the calculation’s result of satellite position using FMP 1.0 is being compared with the precise ephemerides provided by IGS, the result of the comparison shows that this program is effective to be used in observation with interval of 4 hours to toc Keywords : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic
PENENTUAN POTENSI LOKASI ATM BNI MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang) Vinsensia Hutagaol; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.16 KB)

Abstract

ABSTRAK            Kota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah sekaligus menjadi kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia. Letak Semarang yang strategis dan keramahan penduduknya menambah potensi  ekonomi dan berdampak kepada meningkatnya pertumbuhan lembaga keuangan di kota ini. Lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian adalah Bank. Sebagai salah satu Bank pemerintah yang menjadi kepercayaan masyarakat, Bank BNI meningkatkan pelayanan dengan meningkatkan kualitas pelayanan seperti pembuatan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Perencanaan lokasi ATM BNI dapat dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Processing (AHP) dan SIG dengan daerah penelitian Kecamatan Tembalang kota Semarang.AHP merupakan proses pengambilan keputusan dengan menggunakan struktur hirarki. Melalui perhitungan dengan menggunakan AHP maka diperoleh kriteria penentuan lokasi ATM BNI yang baru yakni kantor cabang 61,2%, pusat keramaian 21,0%, ATM Non BNI 7,4%, lembaga institusi 4,2%, jarak pos keamanan 4,0%, jumlah nasabah 2,1%. Hasil dari perhitungan AHP kemudian diaplikasikan ke dalam SIG dan menghasilkan lokasi ATM BNI rencana untuk kecamatan Tembalang yakni tiga titik berada di kelurahan Tembalang, satu  titik berada di kelurahan Kedung Mundu, dua titik berada di kelurahan Sendang Mulyo dan satu titik berada di kelurahan Kramas.  Kata Kunci : Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Analytical Hierarchy Processing (AHP), Sistem Informasi Geografis (SIG) AbstractSemarang city is the capital of Central Java province and at the same time becomes the fifth largest metropolitan city in Indonesia. The strategic location of Semarang and friendly people making economic potential to be increase and impacting on the growth of financial institutions in this city. Financial institutions having an important function in the economy is a Bank. As one of government bank which is be trusting by society, Bank BNI improve servicing by improving the quality of services such as making of ATM (Automatic Teller Machine). The planning of ATM locations can be done by Analytical Hierarchy Processing (AHP) method and GIS with the research area in Tembalang District, Semarang City. AHP is a decision making process by using a hierarchical structure. Resulting of calculation by using the AHP is be gotten criteria of the new BNI’s ATM location determining consist of branch offices 61.2%, crowded centers 21,0%,  ATM non BNI 7,4%, institutions 4,2%, distancing of  security post 4,0 %, total of customers 2,1%. The result of the AHP calculation is applied to be in the GIS at the next and produces the locations planning of BNI's ATM at Tembalang District  are three points in the Tembalang Village, one point is in the Kedung Mundu Village, two points located in the Village of Sendang Mulyo and one point is in Kramas Village. Keywords : Automatic Teller Machine (ATM), Analytical Hierarchy Processing (AHP), GIS (Geographic Information System)
PETA SEBARAN GEDUNG-GEDUNG TINGGI UNTUK MENENTUKAN ZONA KAWASAN KOTA SEMARANG (Studi Kasus : Semarang Tengah, Semarang Selatan Dan Candisari) M. Andu Agjy Putra; Sutomo Kahar; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.18 KB)

Abstract

AbstrakBerbagai kemajuan pada ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh pada seluruh sektor keilmuan, tak terkecuali pada bidang keilmuan Teknik Geodesi. Disiplin ilmu yang mengkhususkan pada bidang survei dan pemetaan itu kini memiliki banyak alternatif, dimana salah satunya adalah teknik pemetaan dengan visualisasi 3D. Banyaknya Gedung-Gedung Tinggi di Kota Metropolitan membuat proses pemetaan berkembang sesuai dengan fungsinya, dimana dapat menjadi replika keadaan yang sesungguhnya. Gedung tinggi inilah yang menjadi bagian penting dalam proses visualisasi 3D. Kota Semarang sebagai salah satu dari beberapa kota metropolitan yang ada di Indonesia memiliki banyak sekali persebaran gedung tinggi. Dengan fungsi yang berbeda-beda, gedung tinggi dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan kesesuaian persebaran zona kawasan yang terjadi di Kota Semarang dengan RDTR Kota Semarang. Tinggi Gedung juga dapat digunakan sebagai penelitian terhadap obstacle Kota Semarang terhadap KKOP Bandara Ahmad Yani Semarang. Pembuatan peta 3D ini menggunakan software ArcGIS. Serta penentuan zona kawasan pada persebaran gedung tinggi menggunakan metode density. Metode ini yang membagi kawasan setiap daerah yang ada di Kota Semarang. Tinggi gedung yang nantinya akan dilakukan validasi digunakan sebagai bagian KKOP Bandara Ahmad Yani. Hasil peta persebaran gedung tinggi diharapkan dapat memudahkan pemerintah maupun masyarakat dalam menenetukan kawasan di setiap daerahnya. Peta KKOP juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam memberikan ijin terhadap pembangunan gedung-gedung tinggi yang ada di Kota Semarang. Kata kunci :ArcGIS; Density; Gedung Tinggi; Visualisasi 3D; Zona Kawasan  AbstractDistribution maps of tall buildings to determine zone area in Semarang City. The development  of science  and  technological advances have  impact to all sector of scholarly,  without exceptions engineering geodesy. It specifically discuss  about  survey and distributions that has various alternative, such as 3D visualization. There are lots of tall buildings or sky scraper in metropolitan city impact process of distributions that developed based on its function. It can represent the real replica of tall buildings. This is the most important process of  3D visualization. Semarang is one of metropolitan city in Indonesia that has lots   distributions of tall buildings. With the various function, tall buildings can be a reference to determine suitability distributions of zone area in Semarang by  Semarang’s RDTR. Tall buildings can be used as research of obstacle Semarang to KKOP Ahmad Yani airport Semarang. This creation of 3D maps used software ArcGIS. The determination of zone area of tall building distributions uses density method. This method divides each area that located in Semarang. Validated tall buildings will be used as a part of KKOP Ahmad Yani airport. The distribution map of tall buildings is expected as a tools to ease government and society to determine region of their area. KKOP’s map is expected as consideration for government to give permission of development tall buildings in Semarang city.Key word :ArcGIS; Density method; Tall building; 3D Visualization; Zone are.
ANALISIS KORELASI PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP LUASAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI SEMARANG Rendi Aulia; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.901 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara yang mempunyai hutan mangrove (hutan bakau) paling luas di dunia. Berdasarkan FAO (2007) bahwa Indonesia mempunyai hutan mangrove  seluas 3,062,300 juta hektar pada tahun 2005 yang merupakan 19% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia. Hutan mangrove seiring berjalannya waktu mengalami perubahan luasan, perubahan luasan hutan mangrove terjadi secara alami oleh mangrove dan lingkungan, maupun buatan hasil campur tangan manusia. Penyebab lain yang mungkin terjadi adalah dengan berubahnya garis pantai yang menyebabkan luas hutan mangrove semakin berkurang. Oleh karena itu, pemantauan terhadap perubahan garis pantai dan perubahan luas hutan mangrove dengan metode penginderaan jauh diperlukan untuk usaha pengendalian terhadap degradasi ekosistem sekitarnya.Pada penelitian mengenai korelasi perubahan garis pantai terhadap luasan mangrove menggunakan 2 metode, yaitu untuk perubahan garis pantai menggunakan metode BILKO yang dapat membedakan permukaan darat dan air sedangkan untuk perubahan area mangrove menggunakan metode komposit band dan klasifikasi supervised. Dari kedua metode tersebut nantinya dilakukan korelasi untuk mendapatkan hasil. Hasilnya secara kuantitatif, visual dan hitungan statistik.Hasil analisis data spasial pada daerah kota Semarang bahwa telah terjadi perubahan garis pantai pada tahun 2012-2013, abrasi 60,66 Ha dan akresi 21,99 Ha, dan tahun 2013-2014, abrasi 36,21 Ha dan akresi 23,93 Ha. Perubahan luasan mangrove mengalami pengurangan luasan pada tahun 2012-2013 sebesar 145,75 Ha dan tahun 2013-2014 sebesar 198,17 Ha.Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai korelasi sebesar 0,766 > 0.05, artinya hubungan perubahan garis pantai terhadap perubahan luas mangrove memiliki hubungan yang kuat dan nilai signifikansinya sebesar 0,445 > 0,05, artinya perubahan garis pantai terhadap luas mangrove tidak berpengaruh signifikan. Kata kunci : BILKO, Garis Pantai, Komposit Band, Mangrove, Penginderaan Jauh, Supervised. ABSTRACTIndonesia is a country with the largest mangrove area in the world. According to the FAO (2007) Indonesia had a mangrove area of 3,062,300 million hectares in 2005, which represented 19% of the total area of mangrove forest in the whole world. As time passes, mangrove forests experience changes in the area. The changes occur naturally by mangrove and the environment, as well as a result of human intervention. Other cases that may occur is caused by the changing coast line, decreasing the area of the mangrove forests. Therefore, the monitoring of shore line and mangrove area changes with remote sensing method is needed to control the surrounding ecosystem degradation.In this study, the data is studied with two methods. The shore line changes are studied using BILKO method that can separate between land and water surface while the mangrove area changes are studied using composite band and supervised classification method. Both methods will be correlated to obtain results. The result is a quantitative, visual and statistical count.Spatial data analysis results obtained in the period 2012-2013 in the area of Semarang reported that there have been changes in the coast line with abrasion area of 60,66 hectares and accretion area of 21,99 hectares, in 2013-2014, the abrasion covered an area of 36,21 hectares and accretion 23,91 hectares. The mangrove area experienced a reduction in 2012-2013, reaching 145,75 hectares and in year 2013-2014 the degradation reached 198,17 hectares.Statistical analysis result showed that the correlation value is 0,766 > 0,05, meaning that the correlation between the shoreline changes to the mangrove area changes have a strong connection and the significance value is of 0,445 > 0,05, meaning that the changes to the shore line aren’t significant to the changes of the mangrove area.  Keywords:  BILKO, Coast Line, Composite Band, Mangrove, Remote Sensing, Supervised.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PARIWISATA BERBASIS WEB DI KABUPATEN PEMALANG Ridwan Ageng Ashari; Andri Suprayogi; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.578 KB)

Abstract

Abstrak Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi sejumlah Negara.Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar. Salah satu problematika yang harus dipecahkan adalah masalah infrastruktur Information and Communication Technology (ICT) dan strategi promosi wisata yang masih konvensional. Penelitian ini berupa aplikasi Sistem InformasiGeografis (SIG) tentang pariwisata berbasis web dengan wilayah penelitian di Kabupaten Pemalang. Webgis  adalah  aplikasi  SIG  yang  terdistribusi  dalam suatu  jaringan komputer untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan informasi geografis secara visual pada World Wide Web. Dalam penelitian ini menggunakan data spasial koordinat posisi hasil survei dengan GPS Handheld dan data atribut yang berupa informasi yang didapat dari instransi terkait. Untuk merancang dan membangun webgis pariwisata yaitu sistem awal menggunakan bahasa php, styling css dan html dengan mysql sebagai basis data, kemudian integrasi dengan google map API.Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG pariwisata berbasis web di Kabupaten Pemalang menggunakan Google map API sebagai  penyedia peta  gratis  yang diintegrasikan  ke  dalam website. Selain itu tentunya menyajikan informasi mengenai objek wisata yang dilengkapi dengan restoran dan hotel. Kata Kunci:Google Map API; Pariwisata; Webgis Abstract Tourism sector as the economic activity has become a mainstay of potential and priorities for the development for a number of countries. Especially Indonesia as a developing country that has the large potential area with high tourist attraction. One of the problems that must to be solved is the problem of infrastructure of Information and Communication Technology (ICT) and tourism promotion strategy that is still conventional. This study uses the application of Geographic Information Systems (GIS) of the web-based tourism in Pemalang. This research uses the application of Geographic Information Systems (GIS) of the web-based tourism in Pemalang. WebGIS is a distributed GIS application in a computer network to integrate and disseminate geographic information visually on the World Wide Web. This study uses position coordinate spatial data of the survey with GPS Handheld and attributes data in the form of information obtained from instransi related. To design and build the tourism WebGIS, it uses the initial system that uses language php, css and html styling. Mysql is the database, then integration with Google Map API. The final result of this research is a web-based tourism GIS application in Pemalang using Google map API as the free provider map that is integrated into website. In addition, it provides information about tourist attractions that equipped with restaurants and hotels. Keywords:Google Map API; Tourism; Webgis 
PEMETAAN TINGKAT LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (Studi Kasus : Kabupaten Blora) Lorenzia Anggi Ramayanti; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.609 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Blora saat ini mengalami perubahan berupa alih fungsi lahan pertanian dan hutan menjadi lahan non pertanian atau lahan terbangun yang tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan, kekeringan, bencana tanah longsor dan bencana banjir yang akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Berangkat dari permasalahan diatas maka dilakukan tinjauan penelitian tentang pemetaann tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menghitung luas tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Metode yang digunakanadalah metode overlay,skoring serta pembobotan. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutani Sosial No: P.4/V-SET/2013 faktor yang mempengaruhi lahan kritis adalah vegetasi, kelereng, erosi, produktivitas, dan manajemen.Berdasarkan hasil pengolahan data, lahan kritis di Kabupaten Blora didominasi lahan tidak kritis seluas 119.672,80 Ha. Lahan kritis paling banyak berada di kecamatan Bogorejo seluas 181,53 Ha dan lahan agak kritis paling banyak berada di Kecamatan Jiken seluas 2.441,54 Ha. Sedangkan lahan  potensial kritis paling banyak terdapat di Kecamatan Todanan seluas 13.245,71. Dari hasil penilaian tingkat lahan kritis diketahui bahwa kerapatan vegetasi berperan besar dalam tingkat lahan kritis pada fungsi kawasan lindung di luar kawasan hutan, sedangkan tingkat produktivitas lahan berpengaruh besar pada kawasan budidaya pertanian dan hutan produksi. Kata Kunci : Kabupaten Blora; Lahan Kritis.                                                                      ABSTRACT Blora at this time has changed such as conversion of agricultural land and forest land to non- agricultural or undeveloped land that does not pay attention to the terms of the conservation of soil and water and thus potentially lead to land degradation, drought, landslides and disasters flooding which will eventually lead to critical land. From the above problems therefore a study of mapping level critical land.This study aims to mapping and calculate  the area of level of critical land in Blora. The methods used in this study are the overlay method, scoring and weighting. According Regulation of the Director General of Watershed Management and Social Perhutani No: P.4 / V-SET / 2013factors affecting the occurrence of critical areas such asvegetation, slopes, erosion,  productivity and management.From the result of data processing, Blora dominated by criteria not critical area of 119.672,80 Ha. Most criteria critical in the district areBogorejoarea of 181,53 Ha and most criteria medium critical in the district are Jiken area of 2.441,54 Ha. While the most criteria potential critical in the district are Todanan area of 13.245,71Ha.  From the results of assessment of the level of critical land known that the density of vegetation plays a major role in the function of the level of critical land in protected areas outside the forest area, while the level of productivity of land have great impact on agricultural production areas and production forests. Keywords : Blora; Critical Land

Page 2 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue