cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 35 Documents
Search results for , issue "Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018" : 35 Documents clear
STUDI PERBANDINGAN KONSENTRASI KLOROFIL-a PADA TAMBAK BANDENG TRADISIONAL DAN TAMBAK BANDENG INTENSIF MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 BASKORO AGUM GUMELAR; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.52 KB)

Abstract

Berdasarkan hasil survei sosial ekonomi Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan konsumsi ikan masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan guna meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2010, budidaya tambak merupakan budidaya yang paling potensial. Pemilihan metode budidaya tambak yang paling efektif antara metode tradisional dan metode intensif perlu dilakukan untuk mengoptimalkan produksi ikan.Salah satu indikator efektifitas antara kedua metode tersebut dapat dilihat dari kandungan fitoplankton. Fitoplankton mengandung klorofil-a di dalam tubuhnya danmerupakan pakan alami dari ikan.Teknologi pengindraan jauh dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dengan menggunakan algoritma Wouthuyzen, Wibowo, Pentury, Much Jisin Arief dan Lestari Laksmi.Hasil penelitian menunjukkan algoritma Pentury relatif lebih baik digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a pada perairan dangkal (tambak). Konsentrasi klorofil-a terendah pada tambak tradisional yaitu 0,47068 mg/m3, konsentrasi tertinggi 1,95017 mg/m3 dan konsentrasi rata-rata 1,12893 mg/m3, sedangkan pada tambak intensif konsentrasi terendah 0,36713 mg/m3, konsentrasi tertinggi 3,17063 mg/m3  dan konsentrasi rata-rata 1,53556 mg/m3.
ANALISIS LOKASI RAWAN BENCANA KEKERINGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BLORA TAHUN 2017 DONY AGIL PRASETYO; Andri Suprayogi; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.21 KB)

Abstract

Kabupaten Blora merupakan satu  dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Terletak di ujung timur Jawa Tengah dan berbatasan dengan provinsi Jawa Timur. Kabupaten Blora berada pada ketinggian 96-280 mdpl dan dilewati gugusan pegunungan Kendeng Utara yang merupakan pegunungan kapur sehingga kondisi tanah gersang dan tandus. Oleh karena itu hampir setiap tahun pada musim kemarau sebagian besar wilayah Kabupaten Blora mengalami kekeringan. SIG (Sistem Informasi Geografis) merupakan metode yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Sistem informasi geografis mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui persebaran kekeringan dan tingkat kekeringan di Kabupaten Blora. Pada penelitian ini mempertimbangkan lima parameter untuk mendukung dalam analisis lokasi rawan bencana kekeringan, adapun kelima parameter tersebut antara lain penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak terhadap sungai. Kemudian data tersebut dianalisis menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk menunjukan bobot masing-masing parameter dan dianalisis menggunakan software arcGIS untuk menghasilkan data dalam bentuk spasial sehingga menghasilkan sebuah  analisis lokasi rawan bencana kekeringan.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta persebaran kekeringan dan tingkat kekeringan di Kabupaten Blora. Tingkat kekeringan di Kabupaten Blora dibagi menjadi lima kelas, yaitu kekeringan sangat berat sebesar 25.50%, kekeringan berat sebesar 20.11%, kekeringan sedang sebesar 32.78%, kekeringan ringan sebesar 17.56% dan kekeringan sangat ringan sebesar 4.06%. Kecamatan yang memiliki wilayah kekeringan berat paling luas adalah Kecamatan Kunduran dengan luas 10266.299 ha, sedangkan Kecamatan yang memiliki wilayah kekeringan berat paling sempit adalah kecamatan Bogorejo dengan luas 615.474 ha. Tingkat resiko kekeringan di Kabupaten Blora cukup tinggi terjadi pada bulan April sampai dengan September pada tahun 2017.
ANALISIS PENENTUAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH DENGAN METODE STORIE (STUDI KASUS KABUPATEN WONOGIRI) Wahyu Darmawan; Andri Suprayogi; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.948 KB)

Abstract

Kabupaten Wonogiri adalah salah satu daerah yang termasuk rawan terjadinya kejadian gerakan tanah di Jawa Tengah. Berdasarkan dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, pada tahun 2014 – 2017 terjadi banyak kejadian gerakan tanah. Kejadian yang paling banyak terjadi di tahun 2015 dan 2016 dengan 289 dan 240 kali kejadian gerakan tanah pada tahun tersebut. Analisa dan pengetahuan mengenai tingkat kerentanan gerakan tanah diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi gerakan tanah di Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan gerakan tanah dan persebarannya di daerah Kabupaten Wonogiri dengan mengggunakan metode Storie. Parameter karakteristik fisik wilayah yang berupa tataguna lahan, kelerengan, jenis tanah, curah hujan dan data geologi digunakan sebagai parameter masukan dalam perhitungan Indeks Storie. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Wonogiri terdapat empat tingkat kerentanan gerakan tanah yakni rendah (110,615 Ha), sedang (136374,163 Ha), tinggi (47690,164 Ha), dan sangat tinggi (894,399 Ha). Berdasarkan hasil survei dan validasi di lapangan mengenai kejadian gerakan tanah yang dilakukan mulai tahun 2018, terdapat 50 lokasi kejadian gerakan tanah yang disurvei. Berdasarkan dari 50 lokasi yang telah disurvei, 41 lokasi termasuk dalam tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi dan 9 lokasi termasuk dalam tingkat kerentanan gerakan tanah sedang. Kejadian yang paling banyak dari hasil survei adalah di Kecamatan Selogiri dan Kecamatan Karangtengah.
ANALISIS PERKEMBANGAN WISATA DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN NILAI FREKUENSI KUNJUNGAN DARI TAHUN 2015-2017 DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SIG (STUDI KASUS : LAWANG SEWU DAN GOA KREO) SELLI ANGELITA BR SITEPU; Sawitri Subiyanto; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.506 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah  kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia. Salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa adalah Kota Semarang yang memiliki objek wisata yang berpotensi dan berkembang.  Lawang Sewu dan Goa Kreo merupakan objek wisata yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Lawang Sewu merupakan salah satu tujuan wisata Kota Semarang dengan lokasi strategis berada di pusat kota dilengkapi keindahan gedung bersejarah. Goa kreo merupakan sebuah wisata cagar alam dengan keunikan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Kedua wisata tersebut memiliki nilai potensi wisata yang dapat menunjang pengembangan Kota Semarang. Berdasarkan hal tersebut diperlukan analisis arah perkembangan kedua objek wisata tersebut serta peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk mengetahui seberapa besar keinginan seseorang untuk memberikan nilai fungsi ekonomi kawasan dan masyarakat sekitar yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Penelitian tugas akhir ini menggunakan pendekatan metode Travel Cost Method (TCM) dan Contingent Valuation Method (CVM) untuk mengetahui nilai WTP (Willingness To Pay) yang diberikan demi pengembangan wisata. Metode penarikan sampel (responden) adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental yaitu untuk responden yang secara kebetulan ditemui di lokasi wawancara. Pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda kemudian perhitungan untuk menentukan nilai penggunaan langsung (DUV) dan untuk menentukan nilai keberadaan (EV) dengan menggunakan perangkat lunak Maple 17. Hasil dari penelitian tugas akhir ini berupa Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai surplus konsumen sebesar Rp. 35.169.196,- untuk Lawang Sewu dan Rp. 2.749.931,- untuk Goa Kreo. Nilai WTP sebesar Rp. 39.459,- untuk Lawang Sewu dan Rp. 39.557,- untuk Goa Kreo. Faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan pada wisata Lawang Sewu adalah umur, pendidikan, pendapatan dan lama kunjungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan Goa Kreo adalah total cost, umur, lama kunjungan dan alternatif lokasi.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN TAMBAK TERHADAP PRODUKTIVITAS BUDIDAYA UDANG MENGGUNAKAN SIG (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Setiaji, Krisna; Nugraha, Arief Laila; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.951 KB)

Abstract

Budidaya udang merupakan salah satu faktor terpenting dalam usaha peningkatan produktivitas dari perikanan tambak di daerah pesisir Kabupaten Kendal, hal ini karena daerah tersebut memiliki potensi yang baik dari segi kualitas airnya dan kondisi geogafis di sekitarnya. Untuk mempertahankan tingkat produksi dan memastikan pengembangan usaha budidaya tambak yang lebih baik, maka data informasi tentang kesesuaian lahan tambak sangatlah diperlukan. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan untuk memetakan zona kesesuaian lahan tambak dan menganalisis tingkat produktivitas udang dari beberapa parameter spasial yang dikaji dalam penelitian ini. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi parameter non fisik dan fisik. Parameter non fisik menggunakan metode survei secara langsung untuk mendapatkan data kualitas air, seperti suhu, salinitas, keasaman/pH. Parameter fisik berupa data geografis, seperti jarak ke pantai,  jarak ke sungai, kelerengan, dan jenis tanah tidak dilakukan survei secara langsung dalam pengambilan data. Metode pembobotan yang digunakan berdasarkan analisis kesesuaian lahan, masing-masing parameter diberikan bobot dan skor yang nantinya dibagi menjadi beberapa kelas, hal ini agar lahan tambak yang akan dibangun sesuai dengan kriteria yang ditentukan sehingga dapat meningkatkan produktivitas budidaya udang. Hasil peta kesesuaian lahan tambak udang di Kabupaten Kendal didominasi dengan kategori cukup sesuai (S2) yang memiliki luas sebesar 108,622 ha atau 93,48% dari keseluruhan tambak udang yang ada. Tambak udang yang berada pada kategori sesuai bersyarat (S3) memiliki luas sebesar 7,573  ha atau 6,52%. Sedangkan untuk kategori sangat sesuai (S1) dan tidak sesuai (N) tidak ada. Berdasarkan survei kuisioner tingkat produktivitas udang hasil budidaya lahan tambak di Kabupaten Kendal dalam waktu 3 tahun, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesesuaian lahan tambak udang terhadap produktivitas di Kabupaten Kendal 71,43% berada pada kategori sesuai dan 28,57% berada pada kategori tidak sesuai. Wilayah yang sesuai yaitu pada Kecamatan Rowosari, Kecamatan Cepiring, Kecamatan Patebon, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kaliwungu. Wilayah yang tidak sesuai yaitu Kecamatan Kangkung dan Kecamatan Kendal.
PEMBUATAN APLIKASI BUS TRANS SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS PADA SMARTHPHONE ANDROID LUTHFI RAHMANDHANI; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.753 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin macet. Oleh sebab itu pada tanggal 18 September 2009 diluncurkan Bus Rapid Transit (BRT) atau yang sering dikenal dengan Trans Semarang. Trans Semarang adalah sebuah sistem transportasi bus cepat, murah, dan ber AC di seputar Kota Semarang. Trans Semarang merupakan salah satu bagian dari program penerapan Bus Rapit Transit (BRT) yang dicanangkan Departemen Perhubungan untuk meminimalisir permasalahan tersebut.Penelitian ini dilakukan untuk membuat persebaran shelter Trans Semarang yang ditampilkan di aplikasi mobile berbasis android menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps API dan Database PostgressSQL untuk pembuatan data halte dan koridor. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna aplikasi dapat dengan mudah menemukan shelter terdekat dari lokasi pengguna untuk menuju lokasi shelter tersebut.Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi Trans Semarang yang dapat digunakan pada smartphone berbasis Android. Pada aplikasi ini berisi informasi mengenai persebaran shelter tiap koridor Trans Semarang, info shelter terdekat dari lokasi user dan informasi rute . Dengan aplikasi ini diharapkan dapat memudahkan pengguna untuk beralih menggunakan transportasi umum sehingga dapat mengurangi tingkat kemacetan di Kota Semarang.
PENGAMATAN DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN METODE SURVEI GNSS TAHUN 2018 LAURENTIUS IMMANUEL YUDIT PRABOWO; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.271 KB)

Abstract

Sesar Kaligarang merupakan sesar yang membelah kota Semarang dari utara hingga selatan. Identifikasi sesar dan struktur dapat membantu mengenali karakteristik dan tipe dari sesar Kaligarang. Berdasarkan hal tersebut diperlukan penelitian yang tepat untuk mempelajari tipe dan laju geser Sesar Kaligarang . Hal ini diperlukan sebagai kebutuhan pemetaan gempa dan mitigasi bencana. Pada pengukuran Sesar Kaligarang diperlukan ketelitian yang tinggi sampai dengan milimeter untuk mengetahui pergeseran posisi yang terjadi. Pada penelitian ini  pengukuran dilakukan dengan menggunakan GNSS dual frequency. Penelitian tugas akhir ini menggunakan data hasil pengukuran survei GNSS yang dilakukan pada dua periode yaitu Maret dan Juni tahun 2018 menggunakan metode statik serta dengan data sekunder yaitu hasil pengukuran GNSS pada bulan Oktober tahun 2016. Pengukuran dilakukan pada titik titik yang sudah dibentuk pada penelitian sebelumnya serta titik tambahan. Data pengukuran GNSS diolah dengan menggunakan software scientific GAMIT 10.7. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi deformasi yang terjadi di daerah Sesar Kaligarang serta mengetahui nilai slip rate dan locking depth dari Sesar Kaligarang. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi pergeseran sebesar 2,6 mm/tahun hingga 10,23 mm/tahun pada bagiar barat sesar dan sebesar 2,89 mm/tahun hingga 10,35 mm/tahun pada bagian timur sesar. Nilai slip rate serta locking depth dari Sesar Kaligarang belum dapat ditentukan karena hasil koordinat titik pengamatan tidak konvergen pada permodelan dengan grafik slip rate .
PEMETAAN DAERAH RAWAN KECELAKAAN DI KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE CLUSTER ANALYSIS (STUDI KASUS : KECAMATAN BANYUMANIK DAN TEMBALANG) ARGNES DIONANDA RESZA PRADIPTA; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.464 KB)

Abstract

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan di kota besar di Indonesia. Sulit untuk mengetahui daerah yang memiliki tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas tinggi, karena kecelakaan lalu lintas bisa terjadi di tempat dan waktu yang berbeda. Untuk mengatasi masalah kecelakaan lalu lintas, dibutuhkan upaya pencegahaan maupun penanganan. Pada penelitian ini akan dibuat suatu analisis terhadap daerah rawan kecelakaan di Kota Semarang dengan Sistem Informasi Geografis. Metode yang digunakan untuk memetakan daerah rawan kecelakaan adalah Cluster Analsysis menggunakan Algoritma K-Means dan Fuzzy C-Means. Dalam metode K-Means, tingkat kemiripan anggota diukur dengan kedekatan objek terhadap nilai rata-rata pada cluster. Sedangkan dalam Fuzzy C-Means, pengklasteran data ditentukan oleh tingkat derajat keanggotaan. Hasil pengelompokkan cluster dari kedua algoritma tersebut ditumpang susunkan , kemudian divisualisasikan dengan perangkat lunak SIG. Dari penelitian ini didapatkan 249 kejadian kecelakaan yang tersebar di 33 ruas jalan Kecamatan Banyumanik dan Tembalang. Tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas paling tinggi untuk Kecamatan Banyumanik berada di ruas jalan Perintis Kemerdekaan, sedangkan Kecamatan Tembalang berada di ruas jalan Kedungmundu Raya. Dari Fuzzy C-Means Clustering dihasilkan 10 segmen jalan kategori rawan dan 18 segmen jalan kategori cukup rawan dengan tingkat kesesuaian sebesar 69,697%, dan dari K-Means Clustering dihasilkan 39 titik pusat rawan kecelakaan dengan rata-rata jarak titik kejadian kecelakaan ke titik pusat cluster sebesar 51,539 meter.
PERHITUNGAN DEFORMASI GEMPA MALANG 16 NOVEMBER 2016 MENGGUNAKAN DATA CORS GNSS WILAYAH JAWA TIMUR MOHAMMAD YUSUP LUTFI; Moehammad Awaluddin; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.374 KB)

Abstract

Pada tanggal 16 November 2016 telah terjadi Gempa Tektonik dengan magnitute  5,7  di Malang, Jawa Tmur. Menurut data USGS Gempa terjadi pukul 22:10:11 WIB. Lokasi episentrum gempa berada pada koordinat 9˚0’10.8” LS, 113˚14’42” BT, atau 127 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang Jawa Timur dengan kedalaman gempa adalah 85 kilometer. Guncangan terasa hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian perhitungan deformasi gempa Malang 16 November 2016 dengan data CORS wilayah Jawa Timur bagian selatan untuk mengetahui arah vektor pergeseran akibat gempa.Penelitian ini menggunakan data pengamatan enam stasium CORS diantaranya CJEM, CLUM, CMLG, CNYU, CPES, dan CTUL dengan data pengamatan dari mulai Juli 2016 sampai dengan Maret 2017. Titik ikat yang digunakan adalah Titik IGS berjumlah enam diantaranya ALIC, BAKO, COCO, KARR, PIMO, dan PBRI. Pengolahan ini menggunakan scientific software GAMIT 10.6. Penelitian ini mengahasilkan nilai velocity rate  sebelum gempa, setelah gempa dan nilai akibat gempa beserta arah vektornya. Nilai velocity rate sebelum gempa rata – rata Vhor = 0,0344 ± 0,0090 m mengarah ke tenggara. Vektor kecepatan pergeseran horizontal setelah gempa rata – rata Vhor = 0,0474 ± 0,0088 m mengarah ke tenggara. Vektor pergeseran akibat gempa mengarah ke tenggara dengan nilai rata – rata dhor= 0,0039 ± 0,0053 m.
PEMANFAATAN ENHANCED BUILT-UP AND BARENESS INDEX (EBBI) UNTUK PEMETAAN KAWASAN TERBANGUN DAN LAHAN KOSONG DI KOTA SEMARANG DITHO TANJUNG PRAKOSO; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.627 KB)

Abstract

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh mengalami perkembangan pesat, baik dari segi akurasi dan kualitas hasil maupun dari segi kemampuan software dalam pengolahanya. Teknologi ini dapat digunakan dalam memonitor dan memetakan kawasan terbangun dan lahan kosong di kota besar. Dengan adanya tingkat urbanisasi yang tinggi menyebabkan pertumbuhan penduduk di kota besar mengalami peningkatan. Seperti halnya di Kota Semarang, pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena Kota Semarang merupakan salah satu pusat kegiatan berbagai sektor baik perindustrian perdagangan, pemerintahan dan perekonomian. Dampak dari urbanisasi adalah meningkatnya jumlah kawasan terbangun yang ada karena kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal dan sarana prasarana. Dibutuhkan pemetaan mengenai daerah terbangun dan lahan kosong agar dapat menjamin ketersediaan lahan tempat tinggal bagi pendatang maupun masyarakat setempat. Dalam penelitian ini digunakan algoritma Enhanced Built-Up and Bareness Index (EBBI) dalam pengolahan data citra penginderaan jauh. Algoritma ini dipilih karena dapat membedakan kawasan terbangun dan lahan kosong dalam pemetaan kawasan terbangun sehingga dalam perencanaan pembangunan kawasan terbangun dapat memberikan informasi mengenai kawasan terbangun dan lahan kosong. Pengolahan data menggunakan EBBI pada band 5, 6 dan 10 (NIR, SWIR, TIR) pada citra Landsat 8 OLI/TIRS. Data citra yang digunakan adalah citra tahun 2013, 2015, 2017. Selanjutnya dilakukan klasifikasi berdasarkan rentang nilai index yang telah ditetapkan dalam pengkelasan kawasan terbangun dan lahan kosong. Hasil dari penelitian ini adalah peta persebaran kawasan terbangun dan lahan kosong di Kota Semarang. Peta tersebut akan dianalisis mengenai persebaran kawasan terbangun dan lahan kosong dan perubahan total luas serta luas setiap kecamatan di Kota Semarang dengan peta multi temporal dari tahun 2013, 2015, 2017. Selain itu dilakukan validasi data di lapangan untuk mengetahui kesesuaian kawasan terbangun dan lahan kosong antara hasil klasifikasi citra tahun 2017 dan hasil validasi data. Kesimpulan yang diperoleh adalah perubahan luas kawasan terbangun dan lahan kosong di Kota Semarang tahun 2013, 2015, dan 2017 yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan pembangunan di Kota Semarang.

Page 1 of 4 | Total Record : 35


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue