cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020" : 40 Documents clear
ANALISA PENGARUH KOREKSI ATMOSFER TERHADAP AKURASI ESTIMASI KANDUNGAN TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 (STUDI KASUS : MUARA BANJIR KANAL TIMUR SEMARANG DAN MUARA DAS BLORONG KABUPATEN KENDAL) Novitasari Novitasari; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.579 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang bagian timur yang padat pemukiman dan industri ini dilintasi oleh Sungai Banjir Kanal Timur. Di sekitar daerah aliran sungai banyak aktivitas industri yang menyebabkan tercemarnya perairan ini terutama tercemar oleh sedimentasi. Aliran sungai yang mengalami pencemaran juga terdapat di DAS Blorong Kabupaten Kendal yang bersebelahan langsung dengan Kota Semarang. Berdasarkan permasalahan muara Banjir Kanal Timur dan muara DAS Blorong, maka penelitian ini bertujuan untuk memantau bagaimana kondisi baku mutu air muara sungai Banjir Kanal Timur dan muara DAS Blorong yang terutama yang tercemar oleh sedimentasi dan bagaimana kondisi konsentrasi total suspended solid di wilayah tersebut. Metode yang digunakan untuk menilai kualitas air menggunakan pendekatan pengindraan jauh dengan menggunakan konsentrasi total suspended solid memakai 3 algoritma meliputi algoritma Syarif Budhiman pada tahun 2015, algoritma Parwati pada tahun 2014, dan algoritma Nurahida Laili pada tahun 2002. Penggunaan pendekatan dengan pengindraan jauh ini membutuhkan koreksi atmosfer dalam pengolahannya, koreksi atmosfer yang digunakan menggunakan 3 metode, yaitu koreksi atmosfer 6SV, koreksi atmosfer FLAASH, dan koreksi atmosfer DOS. Hasil algoritma terbaik adalah algoritma Parwati pada koreksi atmosfer 6SV dimana memiliki RMSE paling kecil dibandingkan algoritma dan koreksi atmosfer lainnya yaitu sebesar 6,36 mg/l.Kata Kunci : Koreksi Atmosfer, Muara Banjir Kanal Timur Semarang, Muara DAS Blorong Kabupaten Kendal,                      Total Suspended Solid. ABSTRACT         The city of Semarang, which is densely populated and industrial, is crossed by the East Flood Canal River. Around the watersheds there are many industrial activities that cause pollution of these waters, especially polluted by sedimentation. Polluted river flow is also found in the Blorong watershed in Kendal Regency, which is directly adjacent to Semarang City. Based on the problems of the East Banjir Kana estuary and the Blorong watershed estuary, this study aims to monitor how the water quality standard conditions of the East Banjir Kanal estuary and Blorong watershed estuary are mainly polluted by sedimentation and how the total suspended solid concentration conditions in the region. The method used to assess water quality uses the remote sensing approach using total suspended solid concentration using 3 algorithms including the Syarif Budhiman algorithm in 2015, the Parwati algorithm in 2014, and the Nurahida Laili algorithm in 2002. The use of the remote sensing approach requires correction atmosphere in its processing, atmospheric correction used using 3 methods, namely 6SV atmosphere correction, FLAASH atmosphere correction, and DOS atmosphere correction. The best algorithm results are Parwati algorithm on 6SV atmospheric correction which has the smallest RMSE compared to other algorithms and atmospheric correction that is equal to 6,36 mg / l.Keyword : Atmospheric Correction, Estuary of The East Banjir Kanal in Semarang, Estuary of The Blorong Watershed at Kendal Regency, Total Suspended Solid..
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) KERETA BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA BERBASIS ANDROID Gigih Pradana; Andri Suprayogi; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.97 KB)

Abstract

ABSTRAKKereta Bandara Soekarno-Hatta resmi beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, kereta ini dioperasikan oleh PT. Railink yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dengan pusat Kota Jakarta. Namun informasi mengenai Kereta Bandara hanya dapat diakses melalui website resmi PT. Railink dan tidak mempunyai aplikasi yang menghadirkan informasi geografis pada smartphone Android. Tujuan dari penilitian ini adalah Masyarakat Jabodetabek yang ingin menggunakan kereta bandara dapat mengetahui lokasi stasiun terdekat, jadwal keberangkatan dan kedatangan, rekomendasi rute menuju stasiun terbaik berdasarkan posisi pengguna agar jarak tempuh terpendek dan sesuai dengan jadwal keberangkatan pesawat sehingga calon penumpang tidak akan tertinggal pesawat dengan menggunakan aplikasi berbasis Android. Pembuatan aplikasi ini berada dalam sistem operasi Linux Ubuntu 18.04 LTS untuk mempermudah pemrograman aplikasi karena sistem Android yang masih berasal dari turunan Linux. Metode yang dipakai untuk pembuatan aplikasi ini adalah mobile GIS dan Location Based Service (LBS) menggunakan software Android Studio dan basis data MySQL. Pengujian aplikasi dilakukan setelah aplikasi final selesai dibuat untuk mengukur keberhasilan aplikasi tersebut dengan melakukan uji sistem dan uji usablity. Hasil penelitian ini adalah aplikasi yang memuat informasi geografis dan informasi lainnya tentang Kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Data-data yang dibutuhkan aplikasi tersimpan disebuah basis data yang berada di server online agar dapat diakses melalui aplikasi kapan saja dan dimana saja. Aplikasi ini memiliki empat menu utama yaitu Bawa Saya Ke Soetta, Peta KA Bandara, Rute KA Bandara, dan Stasiun KA Bandara. Pengujian aplikasi dengan uji sistem berhasil dilakukan dan uji usability mendapatkan tanggapan sangat memuaskan dari user saat menggunakan aplikasi ini. Kata Kunci:        Android Studio, Google Maps API, Kereta Bandara, LBS, MySQL. ABSTRACTThe Soekarno-Hatta Airport train officially operates after it was inaugurated by the President of the Republic of Indonesia, this train is operated by PT. Railink that connects Soekarno-Hatta Airport with the center of Jakarta. However information about the Airport Train can only be accessed through the official website of PT. Railink and does not have applications that present geographic information on Android smartphones. The purpose of this research is Jabodetabek community who want to use the airport train can find out the location of the closest station, departure and arrival schedules, recommended routes to the best station based on user position so that the shortest mileage and in accordance with the flight departure schedule so passengers will not missed the flight by using an Android based application. Making this application is in the Linux Ubuntu 18.04 LTS operating system to facilitate application programming because the Android system is still derived from Linux. The method used for making this application is a mobile GIS and Location Based Service (LBS) using Android Studio software and MySQL database. Application testing is done after the final application is completed to measure the success of the application by conducting a system test and usablity test. The results of this study are applications that contain geographical information and other information about the Soekarno-Hatta International Airport Train. The data needed by the application is stored in a database located on an online server so that it can be accessed through the application anytime and anywhere. This application has four main menus namely Bawa Saya Ke Soetta, Peta KA Bandara, Rute KA Bandara and Stasiun KA Bandara. Testing the application with a system test was successfully carried out and the usability test received a very satisfying response from the user when using this application. Key Word:           Android Studio, Airport Train, Google Maps API, LBS, MySQL.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA Aisyah Arifin; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.534 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No.23 Tahun 2014, penentuan dan penegasan batas pengelolaan wilayah laut merupakan hal yang penting untuk dilakukan suatu daerah, karena berkaitan dengan kewenangan dalam mengelola sumber daya dan ruang laut yang berada di wilayahnya. Ketentuan tentang penegasan batas pengelolaan wilayah laut daerah telah diatur dalam Permendagri No.141 Tahun 2017. Berdasarkan peraturan ini, garis pantai memegang peranan penting dalam melakukan penetapan dan penegasan batas di laut, tetapi garis pantai suatu wilayah dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, misalnya abrasi, sedimentasi, penambangan pasir, dan reklamasi. Oleh karena itu, penelitian tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut suatu daerah perlu dilakukan. Penelitian tugas akhir ini mengkaji tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta. Data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu data pengamatan pasang surut air laut untuk menentukan citra satelit yang akan digunakan, data citra satelit Landsat untuk mengamati perubahan garis pantai, dan peta RBI sebagai peta dasar. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan secara kartometrik. Penarikan garis batas dilakukan dengan menerapkan prinsip samajarak untuk wilayah laut Jakarta utara yang berdampingan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat dan prinsip garis tengah untuk wilayah laut Kepulauan Seribu yang berhadapan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat. Hasil pengamatan citra satelit Landsat antara tahun 2009 dan 2019 menunjukkan bahwa terjadi perubahan garis pantai di wilayah pantai Provinsi DKI Jakarta yang diakibatkan oleh proses akresi dan abrasi. Perubahan garis pantai ini menyebabkan pergeseran pada garis batas pengelolaan wilayah laut, sehingga luas pengelolaan wilayah lautnya pun mengalami perubahan. Dalam kurun waktu 10 tahun, luas batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta megalami penambahan sebesar 3.119,017 hektar atau 0,531%. Kata Kunci : batas laut, citra satelit, garis pantai, Landsat, kartometrik, metode garis tengah, metode samajarak ABSTRACTBased on Law of the Republic Indonesia number 23 of 2014, delimitation and demarcation of the marine managed area boundary is an important thing to be done by every region in Indonesia, because it is related to the authority in managing the resources and the space in its marine territory. The guidelines about demarcation of the marine managed area boundary have been regulated in Regulation of Ministry of Home Affairs number 141 of 2017. Based on this regulation, the coastline has an important role in realizing delimitation and demarcation of the marine managed area boundary, but it may change due to various factors, such as abrasion, sedimentation, sand mining, and reclamation. Therefore, the study about the impact of coastline changes on the marine managed area boundary is needed. This study examines the impact of coastline changes on the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province. This study used tidal observation data to determine the satellite images that will be used in the study, Landsat images data to observe the coastline changes, and RBI map as base map. The delimitation of the marine managed area boundary was carried out by using cartometrics technique. Equidistance principle was applied for the sea area of North Jakarta which adjacent to Banten and West Java Provinces and median line principle was applied for the sea area of the southern part of Seribu Island which have overlapping marine managed area boundary with Banten and West Java Provinces. The result of Landsat images observation in 2009 and 2019 show that the coastline changes occur in the coastal area of DKI Jakarta Province due to accretion and abration. It causes a shift on the boundary line of the sea, so that the total area of the marine managed area boundary has changed. Within 10 years, the total area of the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province has increased by 3.119,017 hectares or 0,531%. Keywords: coastline, cartometrics, equidistance method, Landsat, marine boundary, median line method, satellite imagery
EVALUASI KESESUAIAN RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2010 DI KECAMATAN SEMARANG SELATAN Kiky Extiana; Moehammad Awaluddin; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.172 KB)

Abstract

ABSTRAKSemarang Selatan merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang menjadi kawasan pusat aktivitas dan pusat perekonomian kota. Berbagai infrastruktur dibangun dan dikembangkan di kecamatan ini untuk mendukung berjalannya aktivitas dan perekonomian di pusat kota. Selain itu, Kecamatan Semarang Selatan merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk bruto klasifikasi tinggi. Perkembangan infrastruktur serta kepadatan penduduk yang tinggi dapat memicu penurunan kualitas lingkungan. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Semarang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai upaya menjaga kualitas lingkungan kota serta keterpaduan kegiatan pembangunan. Hampir sepuluh tahun berjalannya perda ini, belum terdapat publikasi penelitian tentang evaluasi kesesuaian RTH berdasarkan perda berbasis spasial, terlebih dengan adanya pembagian area RTH yang detail di kawasan permukiman. Sebagai salah satu kecamatan dengan persentase rencana luasan RTH kawasan permukiman terbesar, maka perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi kesesuaian RTH berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010 di Kecamatan Semarang Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan intepretasi citra WorldView-2 untuk didapatkan persebaran dan luasan RTH. Karena luas RTH direncanakan secara mendetail, diperlukan kontrol kualitas data seperti uji akurasi posisi dan tematik. Hasil uji akurasi posisi horizontal dan akurasi tematik menunjukkan pergeseran posisi menggunakan citra WorldView-2 untuk Peta Ruang Terbuka Hijau skala 1:2.500 tidak melebihi 1,5 meter serta akurasi tematik klasifikasi sebesar 96,65%. Secara umum, Kecamatan Semarang Selatan telah memenuhi peraturan 113,940 Ha dari 175,829 Ha atau 65% dari yang telah direncanakan. Terdapat enam klasifikasi ruang terbuka hijau yang belum memenuhi perencanaan yaitu pada kawasan sempadan sungai, areal taman lingkungan permukiman, area ruang hijau jalan permukiman, pertamanan dan lapangan, khusus militer, serta jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi. Kata Kunci: RTH, Semarang Selatan, SIG ABSTRACTSouth Semarang is one of district in the Semarang City which is a center of activities and economy of the city. Various infrastructures are constructed and developed in this district to support the running of activity and economy in the center of the city. In addition, South Semarang District has a high gross population density classification. Development of infrastructure and high population density can trigger a decrease in environmental quality. Therefore, Semarang City Government issued Regional Regulation Number 7 of 2010 concerning Green Open Space Arrangement as an effort to maintain the quality of the city environment and the integration of development activities. Almost ten years of the operation of this regulation, there has been no research publication on the evaluation of green open space suitability based on regional regulation with spatial based, especially with the detail division of green open space in residential areas. As one of the sub-districts with the largest percentage of planned green open space area of residential, it is necessary to do research on evaluation of green open space suitability based on Regional Regulation of Semarang City Number 7 of 2010 in South Semarang District. This research was conducted using a spatial analysis method with WorldView-2 image interpretation to obtain the distribution and extent of green open space. Because detail of green open space plan, data quality controls such as position and thematic accuracy testing are required. Horizontal position and thematic accuracy test results show position shift using WorldView-2 imagery for a 1: 2,500 scale Green Open Space Map not to exceed 1.5 meters and a thematic accuracy classification of 96.65%. In general, South Semarang district has complied with 113,940 Ha out of 175,829 Ha or 65% of what was planned. There are six classifications of green open space which is not sufficient with the planning regulation consists of river border, settlement park area, settlement road area, park and field, military, and electric voltage line.
ANALISIS PERUBAHAN LAHAN UNTUK MELIHAT ARAH PERKEMBANGAN WILAYAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KOTA MEDAN) Michel Christiansen Sipayung; Bambang Sudarsono; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.832 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Medan adalah sebuah ibukota dari Provinsi Sumatera Utara. Sebagai kota terbesar ke tiga di Indonesia, Kota Medan merupakan kota dengan pertumbuhan dan perkembangan wilayah yang cukup pesat. Hal ini disebabkan karena cepat nya pertumbuhan penduduk di Kota Medan. Dampak dari pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Medan adalah terjadinya perubahan fisik khususnya penggunaan lahan sebagai daerah pemukiman. Selain itu, pemerintah setempat juga mengembangkan infrastruktur pendukung yang menyebabkan peningkatan penggunaan lahan kosong. Pada penelitian ini menggunakan data antara lain batas administrasi Kota Medan tahun 2017, citra landsat 7 tahun 2007, 2012 dan citra landsat 8 tahun 2018, citra SPOT 6 tahun 2018 dan data kependudukan Kota Medan tahun 2018. Analisis pola perkembangan wilayah Kota Medan dilakukan menggunakan metode Global Moran’s I. Metode yang dilakukan untuk mengetahui arah perkembangan fisik wilayah adalah overlay intersect menggunakan data penggunaan lahan tahun 2007-2012 dan 2012-2018. Perubahan penggunaan lahan di Kota Medan pada tahun 2007 dan 2012 sebesar 1.665,07 hektar dan perubahan penggunaan lahan di Kota Medan pada tahun 2012 dan 2018 sebesar 1.115,62  hektar. Wilayah kecamatan di Kota Medan yang mengalami perkembangan adalah Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Labuhan dan Kecamatan Medan Marelan. Arah perkembangan fisik wilayah Kota Medan tahun 2007 hingga 2012 dan 2012 hingga 2018 adalah mengarah ke sebelah selatan Kota Medan. Hasil validasi menunjukkan bahwa terdapat delapan titik sampel yang tidak sesuai antara hasil digitasi dengan keadaan di lapangan. Delapan titik tersebut adalah klasifikasi Perdagangan Jasa sebanyak dua penggunaan lahan, Kawasan Industri sebanyak satu penggunaan lahan, Permukiman sebanyak empat penggunaan lahan dan Penggunaan Lain sebanyak satu penggunaan lahan.Kunci : Arah perkembangan, Citra Landsat, Global Moran’s I, Kota Medan, Penggunaan Lahan  ABSTRACT Medan is the capital city of the Indonesian province of North Sumatra. As the third largest city in Indonesia, Medan City has a rapid regional growth and development. This is due to rapid population growth in the city of Medan. It causes physical changes in the region, especially on its land use as a residential area. In addition, the local government is also developing supporting infrastructure that causes an increase of land use.The data used in this study are based on The Administrative Boundaries of Medan City in 2017, Landsat 7 in 2007, 2012, and Landsat 8 in 2018, SPOT 6 in 2018, and Medan City Population Data in 2018. Analysis of the development pattern of the Medan City area was carried out using The Global Moran's I method. The method used to determine the direction of the region's physical development was an intersect overlay using land use data for 2007-2012 and 2012-2018. Changes in land use in Medan City in 2007 and 2012 amounted to 1,665.07 hectares and Medan City land use change in 2012 and 2018 amounted to 1,115.62 hectares. The developing districts in Medan City are Medan Belawan District, Medan Labuhan District, and Medan Marelan District. The direction of the physical development of Medan City in 2007 to 2012 and 2012 to 2018 is lead to the south of Medan City. The validation results shows that there are eight sample points that do not match the digitization results with the conditions in the field. The eight points are commercial  for two land uses, Industrial Estate for one land use, Settlement for four land uses and Other Use for one land use.Keyword: Development Direction, Global Moran's I, Landsat, Land Use, Medan City
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN KAWASAN INDUSTRI DAN LAHAN TERBANGUN TERHADAP RTRW DI KECAMATAN BAWEN DAN KECAMATAN PRINGAPUS MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rika Enjelina Pidu; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.784 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan penduduk di  suatu daerah berdampak pada meningkatnya pembangunan daerah. Oleh karena pembangunan yang pesat maka akan membuat masalah dalam penataan ruang. Semakin banyak lahan yang dibangun maka akan menimbulkan pembangunan yang tidak sesuai dengan RTRW. Salah satu Kecamatan yang kawasan industrinya berkembang pesat yaitu Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus yang berada di Kabupaten Semarang. Mendukung perkembangan industri di Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus maka dikembangkan beberapa kawasan industri yang cukup banyak seperti industri garmen dan industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kesesuaian antara rencana penggunaan lahan kawasan industri dan lahan terbangun dengan keadaan lapangan. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peta penggunaan lahan tahun 2015 dan 2018 dengan melakukan proses digitasi on screen. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode overlay intersect untuk medapatkan data informasi perubahan, kesesuaian penggunaan lahan dan kesesuaian perubahan penggunaan lahan terhadap RTRW. Data yang digunakan pada penelitian adalah data  Citra Worldview-3 Tahun 2015 dan Citra SPOT-6 Tahun 2018. Analisis dari interpretasi citra yang hasilnya dianalisis perubahan dan kesesuaian terhadap RTRW. Hasil dari penelitian didapatkan peningkatan dan penurunan luas persebaran penggunaan lahan. Jumlah perubahan penggunaan lahan sebesar 471,678 ha (3,86%). Jumlah perubahan penggunaan lahan yang bertambah ± 181,897 ha (1,93%). Sedangkan jumlah perubahan penggunaan lahan yang berkurang ± 235,839 ha (1,93%). Sementara itu, Kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW pada tahun 2015 sebesar 9.828,567 ha (80,42%) dan pada tahun 2018 sebesar 9.675,471 ha (79,16%) dari luas wilayah penelitian. Selama kurun waktu 3 tahun kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW terjadi penurunan sebesar 153,096 ha (1,26%). Kata Kunci: Analisis Kesesuaian , Penggunaan Lahan, RTRW, SIG. ABSTRACTThe development of population in an area has an impact on increasing regional development. The impact of the rapid development will create problems in spatial planning. The more land that is developed, it will lead to incompatibility development that is not in accordance with the RTRW. One of the subdistricts that rapidly growing is Bawen and Pringapus Districts in Semarang regency. Several industrial estates have been developed, such as the garment and textile industry to support industrial development in Bawen and Pringapus District. This study aims to analyze how the suitability of industrial estate land use plans with built up land with field conditions. The process carried out in this research is the land use maps in 2015 and 2018 by digitizing on screen. The method used in this study is the intersect overlay method to obtain information on changes in data, the suitability of land use and land use change with RTRW. The data used in the study are the 2015 Worldview Image 2 and 2018 SPOT-6 Image. Analysis of the image interpretation whose results are analyzed changes and conformity to the RTRW. The results of the study found an increasing and decreasing in the spread of land use. Total land use change was 471,678 ha (3.86%). The number of changes in land use increased ± 181,897ha (1.93%). While the number of changes in land use is reduced ± 235,839 ha (1.93%). Meanwhile, the suitability of land use to the RTRW in 2015 amounted to 9.828,567 ha (80,42%) and in 2018 amounted to 9.675,471 ha (79,16%) of the area of the study area. Over this 3 years period, the suitability of land use to the RTRW decreased by 153.096 ha (1.26%).  Keywords: Suitability Analysis, Land Use, RTRW, GIS.
ESTIMASI TINGKAT PRODUKTIVITAS PADI BERDASARKAN ALGORITMA NDVI, EVI DAN SAVI MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 MULTITEMPORAL (Studi Kasus: Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah) Dita Ariani; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.585 KB)

Abstract

ABSTRAK Beras merupakan salah satu sumber pangan pokok bagi kehidupan, khususnya bagi masyarakat Indonesia selain sagu, jagung dan singkong. Sebagai komoditas pertanian yang paling dominan, tingkat permintaan akan beras sebagai kebutuhan yang mendasar sangatlah tinggi. Estimasi mengenai produktivitas padi pun sangat diperlukan guna mengoptimalkan perencanaan penanaman yang tepat dan produksi padi yang maksimal untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Indonesia mempunyai banyak daerah yang berfungsi menjadi penyangga pangan nasional, salah satunya adalah Kabupaten Pekalongan. Pengindraan jauh merupakan salah satu teknologi yang cocok untuk pengaplikasian estimasi produksi padi di wilayah Kabupaten Pekalongan. Keunggulan teknologi ini terkait dengan pemrosesan data dan informasi yang cepat, tepat dan akurat. Penelitian ini menggunakan citra Sentinel-2A berbasis open source untuk pengolahan estimasi produktivitas padi. Pada citra Sentinel-2A multitemporal diterapkan algoritma NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), EVI (Enhanced Vegetation Index) dan SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) untuk mengetahui tingkat persebaran indeks vegetasi di Kabupaten Pekalongan. Model persebaran nilai indeks vegetasi tersebut didasarkan pada analisis regresi untuk mendeskripsikan nilai produktivitas padi. Hasil pengolahan fase tumbuh padi menggunakan NDVI, EVI dan SAVI menunjunjukkan bahwa pola sebaran indeks vegetasi di Kabupaten Pekalongan bersifat heterogen. Hasil regresi linier berganda masing-masing variabel NDVI, EVI dan SAVI secara berturut-turut menghasilkan koefisien determinasi sebesar 0,332, 0,269, dan 0,283. Berdasarkan model regresi tersebut diperoleh RMSE estimasi produktivitas padi menggunakan transformasi NDVI, EVI dan SAVI terhadap data dinas secara berturut-turut 4,24 kw/ha, 4,54 kw/ha dan 4,47 kw/ha. Sehingga dapat diketahui bahwa dari 3 model estimasi produktivitas padi yang telah diperoleh, hasil estimasi yang hampir mendekati nilai produktivitas yang dikeluarkan oleh DKPP adalah model dengan variabel NDVI dibandingkan dengan  variabel EVI dan SAVI.Kata Kunci: Citra Sentinel-2A, EVI, NDVI, Produktivitas Padi, SAVI ABSTRACT Rice is one of the main sources of food for life, especially for the Indonesian in addition to sago, corn and cassava. As the most dominant agricultural commodity, the level of demand for rice as a basic needed is very high. So the estimation of rice productivity is also very necessary to optimize the proper planting planning and maximum rice production to support national food security. Indonesia has many regions that become national food buffer, one of them is Pekalongan District. Remote sensing is one of the technologies suitable for the application of estimated rice production in the Pekalongan District. These technological advantages are associated with fast, precise and accurate data and information processing. This study uses the Sentinel-2A image based on open source for processing rice productivity estimates. In the multitemporal Sentinel-2A images, NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), EVI (Enhanced Vegetation Index) and SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) algorithms are applied to determine cropping pattern in Pekalongan District. The vegetation index value distribution model is based on a regression analysis to describe the value of rice productivity. The results of processing the rice-growing phase using NDVI, EVI and SAVI show that the pattern of vegetation index distribution in Pekalongan District is heterogeneous. The results of multiple linear regression of each NDVI, EVI and SAVI variables produce a coefficient of determination, respectively 0,332, 0,269, and 0,283. Based on the regression model, it is obtained that RMSE estimates rice productivity using NDVI, EVI and SAVI transformations to DKPP data, respectively 4,24 kw/ha, 4,54 kw/ha and 4,47 kw/ha. So it can be seen that from the 3 rice productivity estimation models that have been obtained, the estimation results that are almost close to the DKPP yield data is model with NDVI variables compared with EVI and SAVI variables.
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI UNGARAN TIMUR DAN UNGARAN BARAT PASCA PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG – SOLO Tito Wisnu Pramono Aji; Fauzi Janu Amarrohman; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.881 KB)

Abstract

ABSTRAKTerdapat pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo sepanjang 72,64 km oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada tahun 2009. Jalan tol tersebut melalui Kabupaten Semarang dan terdapat exit tol di Ungaran. Pembangunan tersebut menimbulkan perubahan lahan untuk kebutuhan pembanganunannya serta perkembangan penggunaan lahan pada area sekitar exit tol. Penelitian ini menggunakan data peta administrasi Kecamatan Ungaran Barat dan Ungaran Timur, citra Worldview 2 pada tahun 2015, citra Quickbird pada tahun 2008 dan 2010, serta citra Spot 6 pada tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Digitasi On Screen dan Overlay dengan mengoverlay peta penggunaan lahan tahun 2008, 2010, 2015, dan 2019, serta adanya analisis tetangga terdekat. Berdasarkan hasil pengolahan, Exit Tol Ungaran memberi dampak pada lahan terbangun, sebelum adanya Exit Tol Ungaran terdapat 2,974 Ha, sedangkan lahan tidak terbangun sebesar 34,205 Ha, setelah dibangunnya Exit Tol Ungaran lahan terbangun menjadi sebesar 41,883 Ha sedangkan lahan tidak terbangun 3,935 Ha, sehingga lahan terbangun berkembang setelah adanya Exit Tol Ungaran. Pola perkembangan pada Ungaran Barat dan Ungaran Timur berpola mengelompok setelah dibangunnya jalan tol dan arah perkembangan pada penelitian ini mengarah ke arah Kecamatan Ungaran Timur sesuai dengan hasil pembobotan. Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Penggunaan lahan, Jalan Tol, Ungaran ABSTRACTThere was a 72.64 km Semarang-Solo Toll Road construction by PT Jasa Marga (Persero) Tbk in 2009. The toll road passes through Semarang Regency and there is a toll exit at Ungaran. The development has led to changes in land for development needs and the development of land cover in the area around the toll exit. This study uses administrative map data for West Ungaran and East Ungaran Subdistricts, Worldview 2 imagery in 2015, Quickbird imagery in 2008 and 2010, and Spot 6 imagery in 2019. The methods used in this study are Digitizing On Screen and Overlay by overlaying maps of land cover in 2008, 2010, 2015 and 2019, and an analysis of the nearest neighbors. Based on the results of processing, the Ungaran Toll Exit gives impact to the developed land, before the Ungaran Toll Exit there is 2,974 Ha, while the non-built land is 34,205 hectares, after the construction of the Ungaran Toll Exit the built land becomes 41,883 hectares while the land is not built 3,935 Ha, so developed land developed after the Ungaran Toll Exit. The pattern of development in West Ungaran and East Ungaran has a patterned grouping after the construction of the toll road and the direction of development in this study leads to the District of East Ungaran in accordance with the results of the weighting.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN LAND SUBSIDENCE MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG) Ariella Arima Aniendra; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.283 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir Kota Semarang memiliki garis pantai dengan lebar 2,5 km-10 km. Aktifitas yang terdapat di wilayah pesisir cukup banyak antara lain sebagai pelabuhan, perumahan penduduk, industri, dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu turunnya permukaan tanah yang berakibat adanya abrasi dan akresi. Kota Semarang memiliki nilai laju penurunan muka tanah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, secara umum nilai laju penurunan muka tanah akan semakin besar jika mendekati pantai.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah atau land subsidence yang terjadi di Kota Semarang. Citra yang digunakan dalam penelitian adalah citra Landsat 8 tahun 2013-2019 dengan metode thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai dihitung menggunakan software Digital Shoreline Analysis System (DSAS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kota Semarang mengalami penambahan sebesar 176,28 meter. Kecamatan yang mengalami akresi terbesar adalah Kecamatan Semarang Barat dengan akresi sebesar 483,34 meter, sedangkan kecamatan yang mengalami abrasi terbesar adalah Kecamatan Genuk dengan abrasi sebesar 486 meter. Hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah di Kota Semarang memiliki korelasi sebesar 0,43852. Hasil korelasi ditinjau berdasarkan tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi hubungan yang cukup, sehingga jika perubahan garis pantai semakin mengalami kemunduran (abrasi) maka semakin tinggi nilai land subsidence di wilayah tersebut. Kata kunci: Abrasi, Akresi, Digital Shoreline Analysis System, Garis Pantai, Land Subsidence ABSTRACTThe coastal area of Semarang City has a coastline of 2.5 km-10 km. There are quite a lot of activities in the coastal areas, among others, as a port, residential population, industry, and so on. This triggers land subsidence which results in abrasion and accretion. The city of Semarang has a value of the rate of land subsidence that differs from one place to another, in general the value of the rate of land subsidence will be even greater if it approaches the coast.This study was conducted to determine the relationship of changes in coastline with land subsidence that occurred in the city of Semarang. The image used in the study is Landsat 8 in 2013-2019 with the thresholding method to extract the coastline. The rate of shoreline change is calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) software.The results showed that the average change in coastline in the city of Semarang had increased by 176.28 meters. The sub-district that experienced the greatest accretion was the West Semarang sub-district with an accretion of 483.34 meters, while the sub-district that experienced the greatest abrasion was the Genuk sub-district with an abrasion of 486 meters. The relationship of shoreline changes with land subsidence in Semarang City has a correlation of 0.43852. Correlation results are reviewed based on the level of correlation, including sufficient correlation, so that if changes in the coastline experience a decline (abrasion), the higher the value of land subsidence in the region.
ANALISIS PENGARUH RELIEF DAN ARAH SINAR MATAHARI TERHADAP KESESUAIAN LAHAN TEMBAKAU BERBASIS PEMODELAN GEOSPASIAL 3-DIMENSI DI GUNUNG SINDORO Dewi Previansari; Abdi Sukmono; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.37 KB)

Abstract

ABSTRAKTembakau merupakan salah satu produk pertanian yang menjadi komoditas ekspor di Indonesia. Salah satu kabupaten penghasil tembakau terbaik di Provinsi Jawa Tengah adalah Kabupaten Temanggung yang terletak di kaki Gunung Sumbing dang Gunung Sindoro. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh relief dan arah sinar matahari terhadap kesesuaian lahan tembakau berbasis geospasial 3-dimensi di Gunung Sindoro. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan menggunakan metode matching yang mengacu pada petunjuk teknis evaluasi lahan untuk komoditas pertanian yang dikeluarkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian pada tahun 2011. Pemodelan 3-dimensi Gunung Sindoro dan arah sinar matahari dilakukan dengan memanfaatkan DEM Terrasar-X, perhitungan azimuth matahari pada NOAA Solar Calculator, dan metode grid function pada perangkat lunak SuperMap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesesuaian lahan tembakau metode matching berdasarkan Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan Untuk Komoditas Pertanian adalah 1.281,397 Ha atau 11,326% untuk kelas sangat sesuai (S1), 3.231,398 Ha atau 28,562% untuk kelas cukup sesuai (S2), 5.431,596 Ha atau 48,009% untuk kelas sesuai marginal (S3), dan 1.369,271 Ha atau 12,103% untuk kelas yang tidak sesuai (N). Hasil pemodelan 3-Dimensi Gunung Sindoro dalam menggambarkan arah penyinaran matahari kelas penyinaran matahari yaitu area yang tersinar selama 488 jam merupakan area yang tersinar mulai pukul 6-12, area yang tersinar selama 366-487 jam merupakan area yang tersinar mulai pukul 7-12, area yang tersinar selama 244-365 jam merupakan area yang tersinar mulai pukul 8-12, area yang tersinar selama 122-243 jam merupakan area yang tersinar mulai pukul 9-12, dan area yang tersinar selama 0-122 jam merupakan area yang tersinar mulai pukul 10-12.Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Matching, Pemodelan 3-Dimensi, Sinar Matahari, Tembakau ABSTRACTTobacco is one of the agricultural products that become export commodity in Indonesia. One of the best producing districts in Central Java Province is Temanggung Regency which located at the foot of Sumbing and Sindoro Mountain. This study was conducted to determine the effect of relief and direction of sunlight on the suitability of 3-dimensional geospatial-based tobacco land on Mount Sindoro. Land suitability classification is carried out using a matching method that refers to the technical evaluation guidelines for land for agricultural commodities issued by the Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development in 2011. The 3-dimensional modeling of Mount Sindoro and the direction of sunlight is carried out using the Terrasar-DEM X, solar azimuth calculation on NOAA Solar Calculator, and grid function method on SuperMap software. The results of this study indicate that the suitability of the tobacco land matching method based on the Technical Evaluation Guidelines for Agricultural Commodities is 1,281.397 Ha or 11.326% for the very suitable class (S1), 3,231.398 Ha or 28.562% for the quite suitable class (S2), 5,431.596 Ha or 48.009% for marginal suitable class (S3), and 1,369.271 Ha or 12.103% for non-suitable class (N). The results of the 3-Dimensional modeling of Mount Sindoro in describing the direction of the sun's irradiation class that are shining for 488 hours are shining areas starting at 6-12, areas shining for 366-487 hours are shining areas starting at 7-12, an area that is shining for 244-365 hours is an area that shines from 8-12, an area that shines for 122-243 hours is an area that shines from 9-12, and an area that shines for 0-122 hours is an area that shines from 10-12. Keyword : Land Suitability, Matching, 3-Dimensional Modeling, Sunlight, Tobaccoo

Page 3 of 4 | Total Record : 40


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue