cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Studi Fenomenologi Online Self Disclosure melalui Instagram Story Arkani Yz-zahra, Fayaretharatri; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.714 KB)

Abstract

This study aims to understand how users experience when doing self disclosure in Instagram Story. This study is motivated by the emergence of the phenomenon of social media that is widely used by the public, namely Instagram, whose presence makes self disclosure that was previously done face-to-face now changed through social media. This study was conducted with a qualitative descriptive method with a phenomenological approach. The main theory used in this study is the Self-Disclosure Theory. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews with 7 informants. This study found that the motivation of users to reveal themselves found in this study is to built image of themselves, to share & find solutions, as a storage, to seek attention, and to exist. The other things that found in this study related to self disclosure are identity, themes, personal information, and effect. The users will open their identities when expressing positive things about themselves and will cover their identities when expressing negative things. The themes expressed by users vary according to the perceptions of the personal information of each user. Users have their own restrictions on personal information disclosed. The effect that is obtained when revealing oneself is that the user feels relieved and happy after expressing their self.
Sikap Media, Citra Personal dan Penghapusan APBD Untuk Wartawan (Analisis Isi Berita Gubernur Jawa Tengah di Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang) Aisyah Monicaningsih; Hapsari Dwiningtyas; Djoko Setyabudi; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.024 KB)

Abstract

Adanya pemberitaan di berbagai media cetak mengenai penghapusan APBD untuk wartawan di Provinsi Jawa Tengah menjadi dasar kajian penelitian yang mempersoalkan bagaimana perbedaan sikap Surat Kabar Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Jawa Pos Radar Semarang terhadap citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan ?Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sikap ketiga surat kabar dan citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan. Penelitian ini menggunakan teori Agenda Setting dan konsep Citra Personal (Personal Image). Tipe penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan mengacu pada metoda analisis isi media. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang dengan unit observasinya adalah 82 berita terkait Gubernur. Sementara itu teknik analisis statistik Independent T-test dan Anova One Way digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil uji T yang digunakan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi sikap media 0,466 > 0,05. Kemudian rata-rata signifikansi citra personal adalah 0,137 > 0,05. Ini memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Sedangkan hasil uji F untuk mengetahui perbedaan dari ketiga media sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi 0,000 < 0,05 yang menunjukan ada perbedaan signifikan antara ketiga surat kabar tersebut.Penelitian ini disimpulkan tidak terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah, antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Lalu terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan di ketiga surat kabar harian (Suara Merdeka, Radar Semarang, dan Tribun Jateng). Kata Kunci: sikap media, citra personal
Gay and Lesbian Identity Negotiation in Family Yuri Dwi Yudhistira; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.387 KB)

Abstract

Homosexual is a phenomenon in society defined as deviant sexual orientation. So as to live a life in society requires recognition of people around, especially in the family as the first step in the process of identity formation before to the community. This study is a qualitative research, the paradigm used is critical constructivist paradigm where the research focus is homosexual identity negotiations on family. The theory used is the theory of inter-personal communication in the family Julia T. Wood, theory of social construction and negotiation Charles R. Ngangi, and theory queer identity Stella Ting-Toomey. While phenomenology is used as an approach to data analysis for research based on phenomena that occur in the negotiation of identity in the family. The results showed that the process of negotiation within the family made through three stages, the first is the identification of self through self-awareness, knowledge, and personal experience. Secondly, the negotiations in the community with the stage through close friends first and continuing to the public openly. Third, the negotiations in the family that resulted in two decisions of acceptance is due to family relationship status as parent-child factor or rejection that has two consequences which gives the opportunity to change or leave the family. Acceptance or rejection of the identity negotiation process also influenced by the type of family that is traditional, independent, separate. The type based on the familiarity of family members relationship, resolve conflicts, and the interests of family members. Through the construction theory found that the appearance is very influential on the rejection or acceptance of gay and lesbian identity that has been adapted to the men and women gender roles. Disclosure of identity as a gay and lesbian to family is key success in the identity negotiation that considered inappropriate to what happened in the community. The results found that interpersonal communication in the family determines the acceptance or rejection of negotiations based on the type of family.
Belajar Dari Iklan, Mengabarkan Budaya Jawa Kepada Dunia Yanuar Rizky Handini
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketertarikan penulis untuk meneliti iklan menjadi dasar penelitian ini. Salah satu alat promosi secaramassal ini menjadi bab yang tidak habis dibahas karena efeknya sebagai media massa tidak hanyamengarahkan pembelian, tetapi juga mempunyai efek subliminal yang menggiring audience kepadaperilaku – perilaku baru yang tidak terduga sebelumnya. Salah satunya penulis bahas dalam iklan yangmenggunakan tema budaya dalam Iklan Djarum 76 Versi Jin Jawa. Penggunaan komunitas atau budayadalam iklan untuk menarik target audiens tertentu memang akan sangat efektif, apalagi memang targetaudiens dan jangkauan pemasaran dari Djarum 76 adalah Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian JawaBarat. Namun tanpa disadari iklan Djarum 76 versi Jin Jawa telah menggores nilai-nilai kesukuan yangsebenarnya, dimana secara tidak langsung mencerminkan jatidiri masyarakat Jawa yang sudah mulaiberubah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara tingkat kreativitas isi pesaniklan terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa, untuk mengetahui pengaruh daya tarik humor dalamiklan Djarum 76 terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa. Selain itu, juga mejelaskan pengaruhkeduanya yakni tingkat kreativitas isi pesan iklan dan daya tarik humor iklan terhadap persepsi jatidirimasyakat Jawa.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakanteori belajar sosial dari Albert Bandura yang merupakan salah satu varian dari efek media massa dalamparadigma positifistik dengan tipe penelitian eksplanatori. Sampel yang diambil melalui accidentalsampling yakni masyarakat Semarang yang mendapat terpaan iklan Djarum 76 versi jin Jawa. Dengananalis data menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda dan Korelasi Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara tingkatkreativitas isi pesan iklan dan daya tarik humor iklan terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa sebesar35,5 %.Disarankan dengan persentase dampak yang ditimbulkan, maka para kreatif iklan harus lebihbijak dalam mengasumsi realitas yang akan ditampilkan dalam media massa. Masyarakat sebagaipenjaga identitasnya sendiri juga diharapkan lebih peduli, atau bahkan harus mampu memanfaatkankemajuan teknologi sebagai batu loncatan mempromosikan budayanya. Bahwa apa yang dihasilkankreatif iklan mampu membuat masyarakat belajar, membentuk sikap, persepsi dan akhirnya menirunya.Keywords: teori belajar sosial, kreativitas iklan, budaya Jawa
Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Pendampingan Orangtua dalam Menonton Televisi Terhadap Kedisiplinan Belajar Donik Agus Setiyanto; Nurist Surayya Ulfa; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.777 KB)

Abstract

Televisi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat sekarang ini, hal ini terlihat dari jumlah pengguna televisi yang selalu meningkat setiap tahunnya. Kedisiplinan belajar anak dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan pendampingan orangtua yang baik dalam menonton televisi yang berperan besar didalam lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam membentuk perilaku dan sikap anak untuk disiplin belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton televisi dan pendampingan orangtua dalam menonton televisi terhadap kedisiplinan belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah displacement effect theory dan Parental mediation. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian adalah anak berusia 12 – 14 tahun, dengan jumlah sebesar 138 siswa di SMP Negeri 5 Purwodadi.Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS 22. Uji hipotesis antara intensitas menonton televisi menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan berpengaruh negatif terhadap kedisiplinan belajar. Sedangkan variabel pendampingan orang tua dalam menonton televisi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan memiliki pengaruh yang positif terhadap kedisiplinan belajar. Kesimpulan dari uji hipotesis ini adalah semakin rendah intensitas menonton televisi maka semakin tinggi kedisiplinan belajar dan semakin tinggi pendampingan orangtua maka kedisiplinan belajar akan semakin tinggi.Saran yang dapat diberikan adalah orang tua sebagai pendidik di rumah sebaiknya mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan atau aktivitas lain yang lebih positif dan bermanfaat seperti berolahraga, berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungannya dan belajar sehingga dapat mengurangi intensitas menonton televisi.
Peran Editor dan Reporter dalam Pengelolaan Media Online wehype.id bersama Impala Space Syabudin Anwar, Imam; Widagdo, M. Bayu
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.613 KB)

Abstract

Di daerah perkembangan industri kreatif begitu terlihat, sepertinya halnya di Semarang dimana semakin banyak para talenta – talenta kreatif muda bermunculan. Namun banyak talenata kreatif khususnya di kota Semarang belum ter-expose sehingga belum banyak dikenal khalayak. Salah satu penggiat industri kreatif di Semarang yaitu Impala Space menyadari bahwa dibutuhkan media yang dapat memberikan apresiasi terhadap industri kreatif di Semarang agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Impala Space adalah ruang kerja kolaboratif atau yang sering disebut sebagai co-working space. Sebuah ruang yang digunakan untuk bekerja bersama – sama dengan komunitas kreatif, Freelancers, Entreupreneurs atau bisnis Starup. Impala space akan menjadi pusat kegiatan dan pengembangan industri kreatif. Oleh karena itu tim karya bidang bekerja sama dengan Impala Space untuk membuat sebuah media online yang membahas segala hal tentang industri kreatif yang ada di Semarang. Wehype.id merupakan sebuah platform yang menjadi wadah untuk berbagi cerita tentang proses kreatif pada suatu karya. Wehype.id percaya dalam setiap penciptaan karya, selalu ada proses panjang yang melibatkan daya kreasi dan daya cipta. Untuk itu Wehype.id berkomitmen untuk menjadi corong komunikasi bagi setiap kreator untuk berbagi cerita sehingga kita dapat memahami proses dan mengapresiasi karya. Dalam wehype.id editor adalah orang yang bertanggung jawab terhadap isi halaman media, menulis atau mengedit berita dan menggunggah berita pada medianya. Selama karya bidang wehype.id editor telah menyelesaikan tugasnya melakukan editing 90 berita dan sebagai reporter mampu menghasilkan 45 artikel. Harapannya wehype.id tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menginspirasi dan turut berpartisipasi dalam perkembangan industri kreatif.
Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang) Anindya Ratna Pratiwi; Sunarto Sunarto; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.122 KB)

Abstract

1Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian AnakBerkebutuhan Khusus(Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)Summary PenelitianDisusun untuk memenuhi persayaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNama : Anindya Ratna PratiwiNIM : D2C309008JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAK2JUDUL : KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DALAMMEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHANKHUSUS (STUDI KASUS PADA SISWA TUNARUNGU DI SLBNEGERI SEMARANG)NAMA : ANINDYA RATNA PRATIWITunarungu merupakan bagian dari kelompok anak berkebutuhan khusus,dimana mereka memiliki hambatan dalam hal pendengarannya. Ketidakmampuantunarungu dalam mendengar mengakibatkan terhambatnya perkembangan berbagaiaspek dalam kehidupannya, seperti bahasa dan bicara, intelegensi, emosi, maupunsosialnya. Keterbatasan yang mereka miliki menimbulkan rasa kekhawatirantersendiri baik pada diri anak tunarungu, orangtua dan lingkungan terdekatnya dalamhal kemandiriannya, baik dalam hal bina diri hingga kemandirian dalam halpemenuhan kebutuhannya di masa depan.Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran fenomenakomunikasi antarpribadi guru dengan siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.Selain itu juga untuk mengetahui kegiatan komunikasi antarpribadi guru dengansiswa tunarungu dalam membangun kemandirian mereka.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma post-positivistik dengan tipepenelitian deskriptif. Metode penelitiannya memakai Studi Kasus yang mengacu padaYin (2006) dengan analisis perjodohan pola. Data diperoleh dari hasil wawancarasecara mendalam pada enam informan, yakni satu orang Kepala sekolah, satu orangguru tunarungu, dua dari orangtua siswa tunarungu, serta dua orang informan anaktunarungu, kemudian data dilengkapi dengan hasil observasi yang dilakukan olehpeneliti. Teori utama dalam penelitian ini yakni Social Penetration Theory (SPT) atauTeori Penetrasi Sosial.Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa komunikasi antarpribadi yangefektif dirasa penting untuk diterapkan dalam aktifitas mengajar guru pada siswaberkebutuhan khusus. Komunikasi antarpribadi yang mampu berjalan efektif, dapatmewujudkan perasaan akrab (intimated) antara kedua belah pihak. Selain itu,komunikasi antarpribadi juga mampu menunjukkan perasaan kasih sayang danperhatian guru kepada siswanya, yang mampu menyentuh sisi emosional sehinggasiswa dengan kebutuhan khusus ini tidak merasa dikesampingkan. Perasaan positif inidapat memacu semangat belajar siswa dan dapat mempermudah penyerapan materidari guru, dalam hal ini terkait pembelajaran kemandirian.Kata Kunci : tunarungu, komunikasi antarpribadi, penetrasi sosial.3ABSTRACTTeacher’s Interpersonal Communication in A Special Needs Students to BuildSelf Reliance(Case Study on Deaf Students in SLB N Semarang)Deaf is part of a group of children with special needs, where they have a bottleneck interms of hearing. Inability of the deaf hear, resulting in inhibition of the developmentof various aspects of their lives, such as speech and language development,intelligence, emotional, and social. Limitations they have cause a sense of its ownconcerns both in children with hearing impairment, the parent and its immediateenvironment in terms of independence, both in terms of building themselves up toindependence in fulfilling their needs in the future.The focus of this study was to describe the picture of the phenomenon ofinterpersonal communication between teacher with the deaf students in SLB NegeriSemarang. In addition, to determine teacher’s interpersonal communication activitieswith the deaf students to build self reliance of them.This qualitative study using post-positivistic paradigm with descriptive type. Casestudy research methods used referring to Yin (2006) the analysis of mating patterns.Data obtained from in-depth interviews with six informants, are one principal, oneteacher deaf, two of deaf parents, and two informants deaf children, then the datafurnished by the observations made by the researcher. The main theory in this studynamely, Social Penetration Theory (SPT) or Social Penetration Theory.Results of this study illustrate that effective interpersonal communication isconsidered important to apply in teaching activities of teachers on students withspecial needs. Interpersonal communication that is able to run effectively, can realizea familiar feeling (intimated) between the two sides. In addition, interpersonalcommunication is also able to show feelings of affection and attention from theteacher to the students, who are able to touch the emotional side so that students withspecial needs do not feel excluded. These positive feelings can spur students'enthusiasm for learning and to facilitate the absorption of material from the teacher,in this case related to learning independence.Keywords: deaf, interpersonal communication, social penetration.41. PendahuluanBanyak orang yang beranggapan bahwa berkomunikasi itu merupakan hal yangmudah. Namun, seseorang akan tersadar ketika komunikasi yang dihadapimengalami hambatan. Situasi tersebut menjadi rumit karena seseorang tidakberhasil menyampaikan maksudnya kepada lawan bicaranya (komunikan)sehingga proses komunikasi berjalan tidak efektif. Proses komunikasi yangterhambat seperti demikian seringkali terjadi pada interaksi komunikasi yangmelibatkan anak berkebutuhan khusus.Anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan anak normal lainnya yangakan memasuki masa remaja kemudian menuju kedewasaan penuh. Perubahananak menuju dewasa ini menuntut peran orangtua dan orang terdekatnya untukmembentuk anak menjadi pribadi mandiri.Perkembangan kemandirian mereka, khususnya pada tunarungu inilah yangmenjadi kekhawatiran orangtua. Hal ini mengingat kemandirian menjadi aspekyang teramat penting sebagai bekal masa depannya sehingga individu mampumelaksanakan tugas hidup dengan tanggungjawab, berdasarkan norma yangberlaku. Kemandirian (self relliance) sendiri merupakan kemampuan untukmengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu, dapat berjalandan berpikir secara mandiri, disertai dengan kemampuan untuk mengambil resikodan memecahkan masalah (Deborah,2005:226).Pendidikan khusus diperlukan anak-anak berkebutuhan khusus untukmengontrol perkembangan emosional dan melatih kemandirian anak secara lebihintensif disertai materi pembelajaran yang lebih terarah. Pendidikan khusus yangbermutu baik sangat diharapkan ketersediannya mengingat angka anakberkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat. Untuk tunarungu jumlahnyasudah mencapai angka 2.547.626 jiwa.Salah satu sekolah pendidikan khusus yang patut dijadikan contoh yakniSLB Negeri Semarang, yang dikenal unggul mencetak siswa-siwa berkebutuhankhusus yang berprestasi. SLB negeri Semarang kini juga menjadi rintisan sekolah5bertaraf internasinal. Prestasi SLB Negeri Semarang sudah dikenal hinggatingkat Nasional. Bahkan, beberapa kali masuk dalam pemberitaan medianasional.Dalam lingkungan sekolah, aktifitas komunikasi antarpribadi terutamaantara guru dengan siswa sangat berperan penting. Johnson (1981) menunjukkanbeberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antarpribadi dalamrangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Identitas atau jati diri seseorangjuga terbentuk lewat komunikasi dengan orang lain dan ternyata kesehatanmental seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungannya denganorang lain (Supraktiknya,1995:9). Meskipun, dalam perkembangan anaktunarungu sendiri, keluarga yang mendukung kemajuan perkembangan siswajuga berpengaruh dalam pembentukan kemandiriannyaMelihat pentingnya kualitas komunikasi antarpribadi, maka peran gurutunarungu bukan sekedar mengajar dan menuntaskan kurikulum, melainkan jugabagaimana menjalin kualitas komunikasi yang baik dengan siswa tunarugu danmembantunya untuk berkomunikasi secara lebih baik sehingga prosespembentukan kemandirian pada diri siswa dapat lebih mudah tercapai.Dari uraian tersebut, kemudian menjadi hal yang menarik untuk ditelitibagaimana komunikasi antarpribadi guru tunarungu dalam membangunkemandirian siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.2. Batang Tubuh2.1. Penetrasi sosial dalam komunikasi antarpribadiKomunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalahkomunikasi antara individu-individu). Sedangkan pendapat Deddy Mulyana(2008 : 81) bahwa komunikasi antarpribadi memungkinkan setiap pesertanyamenangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupunnonverbal (Suranto, 2011 : 3).6Teori penetrasi sosial kemudian digunakan peneliti untuk menjelaskanhubungan dalam konteks komunikasi antarpribadi yang terjadi antara gurudengan siswa berkebutuhan khusus tunarungu di SLB Negeri Semarang. Teori inimerupakan bagian dari teori pengembangan hubungan atau relationshipdevelopment theory. Teori ini dikembangkan oleh Irwin Altman and DalmasTaylor. Menurut Irwin dan Dalmas, komunikasi adalah penting dalammengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan antarpribadi.Altman dan Taylor (1973) dalam teori penetrasi sosial menjelaskan secaraterperinci peran dari pengungkapan diri, keakraban, dan komunikasi dalampengembangan hubungan antarpribadi. Selanjutnya teori mereka menjelaskanperan variabel-variabel ini dalam terputusnya hubungan - tidak adanya penetrasi.(Budyatna dan Leila, 2011: 225-226).Terdapat beberapa asumsi yang dianut Social Penetration Theory (SPT).Asumsi –asumsinya yakni, 1) perkembangan hubungan dari tidak intim menujuke hubungan yang intim. Asumsi berikutnya, 2) perkembangan hubunganumumnya sistematis dan dapat diramalkan. Asumsi yang terakhir adalah 4)pengungkapan diri (self disclosure) adalah inti dari sebuah perkembanganhubungan. Dalam proses penetrasi sosial hubungan antara guru dengan siswatunarungu, mengenai proses perkembangan hubungan dan pengungkapan diri(self disclosure) merupakan dua bagian penting yang perlu dipahami denganlebih mendalam (West dan Turner, 2007:187).2.2. Subyek penelitianDalam penelitian ini yang akan menjadi subyek penelitian adalah pihak-pihakyang berhubungan dengan penelitian ini termasuk yang berperan dalam7pembentukan kemandirian pada siswa tunarungu. Subjek penelitian inimencakup informan-informan penelitian yang terdiri dari 1) Kepala sekolahsejumlah satu orang. 2) Guru sejumlah satu orang, yakni satu dari guru pengajarsetingkat SMP pada kelas B (tunarungu). 3) Orangtua murid (ayah/ibu) denganjumlah dua orang informan, yakni satu dari orangtua tunarungu yang tinggal diasrama SLB N Semarang dan satu lagi dari orangtua tunarungu yang tidaktinggal di asrama (tinggal dirumah orangtua). 4) siswa/siswi sejumlah dua orangyang terdiri dari siswa SMP tunarungu yang tinggal di asrama dan siswatunarungu yang tinggalnya bersama orangtuanya dirumah. Keduanya termasuktunarungu golongan berat hingga sangat berat.2.3. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus danpendekatan penelitiannya menggunakan post-positivistik. Sedangkan untuk jenispenelitiannya adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian dengan tipe studi kasus (case study), dimana studi kasus merupakanstrategi yang lebih cocok bila pokok pernyataan suatu penelitian berkenaandengan how atau why (K.Yin, 2006 : 1).2.4. TemuanDalam penelitian ini, diketahui bahwa siswa tunarungu umumnya belum bisabersikap terbuka terhadap gurunya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhiketerbukaan pada diri anak tunarungu, yakni : 1) minimnya jumlahperbendaharaan kosakata yang dimiliki. Semakin minim jumlah kosakata yangdimiliki, semakin sulit mengungkapkan perasaannya terutama komunikasinyasecara verbal, sedangkan siswa tunarungu yang kosakatanya cukup banyak akanlebih aktif berkomunikasi dan mudah menceritakan isi hati atau permasalahanyang dialami. 2) Tipe karakter kepribadian anak tunarungu. Siswa tunarunguyang karakternya introvert akan cenderung menyimpan masalah yang dimiliki8dibandingkan dengan dengan tipe kepribadiannya ekstrovert. Namun dalampenelitian ini, informan dengan tipe ekstrovert ternyata enggan juga untukbercerita dengan gurunya, 3) Penilaian siswa tunarungu terhadap guru. Guruyang dinilai kurang sabar dan mudah marah pada siswa mampu mempengaruhisikap keterbukaannya, karena timbul rasa ketidaknyamanan, 4) Kedekatan gurudengan siswanya. Semakin baik dan harmonis hubungan guru dengan siswanya,maka siswa akan mudah bercerita apa saja tentang dirinya tanpa harus dimintaatau ditanya.Komunikasi antarpribadi yang berlangsung efektif antara guru dengansiswa tunarungu dapat mendukung terwujudnya kemandirian siswa. Tunarungudikatakan mandiri apabila mampu berkomunikasi dengan baik, dapat hidupberdampingan dengan orang lain, dan kelak mampu memenuhi kebutuhannyasendiri.Faktor yang mendukung terbentuknya kemandirian siswa yakni kemauananak untuk belajar, dukungan positif dari orangtua serta guru, fasilitas sekolahyang mendukung, serta komunikasi yang baik antara orangtua dengan pihaksekolah. Sedangkan faktor penghambat kemandirian siswa tunarungu yakni anakyang tidak semangat belajar atau malas belajar, orangtua yang tidak pedulidengan perkembangan anak, fasilitas sekolah yang tidak mendukung, serta guruyang tidak mendukung perkembangan kemandirian siswa dan tidak mampumengontrol kesabarannya.3. Penutup3.1 Implikasi TeoretisDalam SPT (Social Penetration Theory), hubungan dapat mengalamiperkembangan dari tidak intim menjadi intim. Seiring berjalannya waktu, suatuhubungan antarpribadi berpeluang menjadi intim. Meskipun tidak semua9hubungan secara ektrim bergerak dari tidak intim menjadi intim. Namun,seringkali sebuah hubungan berada diantara kedua kutub keintiman tersebut,dalam artian hubungannya dekat tapi tidak terlalu dekat (sedang).Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara guru denganinforman siswa tunarungu belum berada pada tahap intim atau belum akrab. Halini dinilai berdasarkan sikap keterbukaan diri (self disclosure) siswa tunarungukepada gurunya. Menurut West dan Turner (2007:187), pengungkapan diri (selfdisclosure) adalah inti dari perkembangan hubungan.Keengganan dalam mengungkapkan diri dapat dikarenakan faktorkepribadian dari masing-masing individu. Individu yang introvert biasanyajarang berinteraksi dengan orang lain, cenderung diam dan lebih senangmenyendiri. Seorang yang introvert biasanya hanya berbicara seperlunya danhanya ingin berbicara mengenai apa yang memang ingin mereka bicarakan.Sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebihmenyukai interaksi dengan banyak orang, dan tidak nyaman dengan suasana sepiserta lebih aktif berbicara (Suranto,2011 :158-159).Namun perlu dipahami bahwa berkomunikasi dengan tunarungu tidaksemudah dengan anak normal. Ketidakterbukaan pada anak tunarungu ini dapatpula disebabkkan karena kemampuan komunikasi yang rendah karena minimnyaperbendaharaan kosakata yang dimiliki sehingga timbul kecemasan dalam diritunarungu untuk berkomunikasi, terutama dengan orang lain yang normal karenabiasanya seorang tunarungu kesulitan berkomunikasi secara verbal. Kecemasanberkomunikasi (communication apprehension) ini dapat menyebabkan sikapkeengganan untuk mengungkapkan atau membuka diri. Orang yang apprehensifdalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkinberkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja (Jalaluddin,2007 :109).Jika dilihat dari komunikasi nonverbal, yang paling sering dipakaiinforman I dalam aktifitas pembelajaran di sekolah antara lain dengan bahasa10isyarat tangan, gerakan mulut, ekspresi wajah, kontak mata, serta gerakan tubuhlainnya berbarengan dengan komunikasi verbalnya. Gerakan tubuh inidinamakan kinesics. Kinesics merupakan suatu nama teknis bagi studi mengenaigerakan tubuh yang digunakan dalam komunikasi. Gerakan tubuh (kinesics)antara lain kontak mata, ekspresi wajah, gerak-isyarat, postur atau perawakan,dan sentuhan (Budyatna dan Ganiem, 2011 :125).3.2 Implikasi PraktisKajian komunikasi terutama pada komunikasi antarpribadi memilikiberbagai manfaat dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dalam aktifitaspembelajaran yang melibatkan aspek komunikasi antarpribadi, mampu lebihmenyentuh sisi emosional mereka, sehingga siswa tidak merasa dikesampingkan,serta dapat merasakan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Komunikasiantarpribadi oleh diharapkan juga dapat membantu mempengaruhi sikap danperilaku anak berkebutuhan khusus, agar lebih mandiri sebagai bekal hidupnyadi masa depan.Penelitian ini selain diharapkan berguna untuk media kajian komunikasibagi SLB, juga diharapkan mampu bermanfaat sebagai media kajian komunikasibagi orangtua yang membutuhkan informasi berkaitan dengan model komunikasipembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, secara lebih khususnya padaanak tunarungu.3.3 Implikasi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaranpada masyarakat yang masih memandang rendah anak berkebutuhan khusus agartidak lagi meremehkan mereka, karena setiap orang yang terlahir di dunia pastimemiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selain itu, diharapkan bagimasyarakat, keluarga serta lingkungan disekitar anak berkebutuhan khusus ini,11untuk tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap mereka dalam pemenuhanhaknya, mengingat, setiap manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.12Daftar PustakaAw, Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuBudyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem.(2011). Teori KomunikasiAntarpribadi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupMulyana, Deddy.(2005). Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja RosdakaryaParker, Deborah.(2005). Menumbuhkan Kemandirian Dan Harga Diri Anak.Jakarta: Prestasi PustakarayaRichard West, dan Lynn H. Turner. (2007). Introducing Communication Theory :analysis and application Third Edition. New York: The McGraw-Hillcompanies, IncSupratiknya. (1995). Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : JakartaRakhmat, Jalaluddin. (2007).Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung:PT.Remaja RosdakaryaYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : Jakarta
“Pranala” Website Magazine Making in Collaboration with Ekspresi Suara Remaja R. Godham Wishnu Perdana; M. Bayu Widagdo .
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.107 KB)

Abstract

Website magazine become one source of information in this digital age. Music becomes commodities social exchange of teenager and young adult, especially in Semarang. Teenager and young adult looking for music information on the website magazine to the needs of their social exchange. This final project is intended to create website magazine which presents information about local music of Semarang city. This final project is a journalism product based on the theory of online journalism from book by Asep Syamsul M. Romli (2012) called Online Journalism. “Pranala” also became one of local movement that supports local wisdom. From the results of this final project , it is known that the visitors of “Pranala” is reach the target. The website visitors are always new every day and “Pranala”s social media followers also help spreading articles. It’s a prove that website magazine which presents music information of Semarang is required by teenager and young adult of the city. From the results of this final project, it is known that music theme-website magazine having influence on social exchange of teenager and young adult. Music theme-website magazine also can be a promotional medium for musicians for the better known work.
PERAN SESEPUH ADAT DAN MEDIA KOMUNITAS MASYARAKAT KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM MENJAGA IDENTITAS KEBUDAYAAN ASLI Dalil, Firas; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.221 KB)

Abstract

This study aims to explain how Kasepuhan Ciptagelar in Sukabumi, through customary elders and community media maintains the existence of customs that become their identity while spreading it to the outside community. Kasepuhan Ciptagelar is classified as a Co-culture group (Mark Orbe) among the dominant cultures. The Identity Negotiation Theory (Stella Ting-toomey) is used to explain how the community in the adat system interacts with the dominant cultural community and the Theory of Cultural Studies (Stuart Hall) is used to examine the use of community media to disseminate customary values to the wider community. This type of research is qualitative descriptive with a phenomenological approach. The informants of this study were indigenous elders and Kasepuhan Ciptagelar community media workers. The results of the study show that the values and systems of customary norms are identities which reflected by indigenous peoples wherever they are. Customary elders and the community applied the concept of MIA (mindfull identity attunement) through welcoming, mentoring and rewarding each migrant without limiting the curiosity of the immigrant community. Mindfullnes in interacting and communication competence of indigenous people increases along with the number of visitors who come. Regardless of how stereotypes are given from dominant cultural communities, indigenous people have pride in their cultural identity. Submission of cultural identity also occurs through community media managed by Kasepuhan Ciptagelar. Through community media, Kasepuhan Ciptagelar creates rival hegemony in order to minimize the influence of agreed dominant culture potentially damaging customary values
Karya Bidang Jurnalistik Feature Program Acara “TOKOH” di Stasiun Cakra Semarang TV Aditia Nurul Huda; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.966 KB)

Abstract

Setiap stasiun televisi di Indonesia saat ini sedang bersaing ketat dalam meraih perhatian pemirsa. Untuk menghadapi persaingan, televisi memproduksi tayangan yang berbeda, dinamis, dan disukai para penonton. Program berita feature adalah salah satu program kreatif yang bisa menarik perhatian dan tidak membosankan untuk ditonton. Feature sebagai program reportase yang dikemas secara mendalam dan luas disertai sedikit sentuhan aspek human interest. Konsep feature ini disesuaikan dengan program acara “TOKOH” yang sudah ada di Cakra Semarang TV namun ada yang berbeda sebagai tambahan yaitu penambahan voxpop dari orang terdekat dan liputan profil. Ada 6 episode yang ditayangkan yaitu “Sastrawan Muda Berbakat”, “Ibu Anak Jalanan”, “Kyai Penjaga Makam”, “Tangan Kedua”, “Metode Belajar Berbahasa Melalui Bawah Sadar”, “Pembudidaya BuLe (Jambu dan Lele)”. Pembagian tugas dalam tim ini mendapat peran sebagai produser, juru kamera, dan editor.Setelah melalui proses pra produksi, proses produksi, dan paska produksi, karya ditayangkan di stasiun Cakra Semarang TV setiap hari senin pukul 18.00 WIB, dari tanggal 9 Juni 2014 sampai dengan 21 Juli 2014 dengan satu kali penayangan ulang episode 1 karena kesalahan teknis dari pihak Cakra Semarang TV. Melalui tayangan ini diharapkan dapat menjadikan tayangan ini sebagai media untuk mengedukasi masyarakat.Kata kunci : feature,human interest,Tokoh

Page 13 of 157 | Total Record : 1563