cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Intimate Relationship pada Keluarga Narapidana di Lapas Sukamiskin Bandung Fasiyah Noor; Nuriyatul Lailiyah, S.Sos, M.I.Kom
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.207 KB)

Abstract

Tuduhan pelanggaran hukum pidana yang tertuju pada anggota keluarga datang secara tiba-tiba. Hal ini membuat prasangka-prasangka buruk keluarga muncul terhadap anggota keluarga tertuduh. Saat putusan sidang membuktikan bahwa anggota keluarga menjadi terdakwa dan harus menjalani proses hukum selama beberapa tahun, perasaan terkejut, kaget, kecewa dan sedih kerap muncul pada anggota keluarga lainnya. Saat terdakwa menjalani proses hukuman, stigma bahwa terdakwa bersalah dan rasa kecewa muncul menjadi penyebab rusaknya hubungan keakraban dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkaji pengalaman komunikasi keluarga narapidana dalam mempertahankan intimate relationship. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun teori yang digunakan meliputi intimate relationship, relational maintenance, dan influence on perception. Hasil penelitian ini memberikan fakta komunikasi jeruji besi pada keluarga narapidana berupa : 1) Terdakwa terapkan komunikasi terbuka dengan keluarga. 2)Terdakwa merasa menjadi lebih kuat, berani dan tenang karena dukungan istri. 3)Keluarga menerima terdakwa apa adanya. 4) Keluarga shock (sementara waktu) saat putusan terdakwa. 5) Perilaku anak bisa berubah pasca putusan dakwaan. Kemudian usia anak dalam lingkaran keluarga terdakwa menjadi pertimbangan orangtua dalam mengkomunikasikan kasus pidana ayahnya. Persepsi anak sangat dipengaruhi oleh pembentukan persepsi dari orang tua dan juga lingkungan lapas yang nyaman dan kondusif. Lalu saat terdakwa menjalani proses hukuman di lapas, dengan maintenance behavior berupa ekspresi ceria, optimis yang ditampakkan dan saling menyemangati, rasa cinta yang dibuktikan dengan bahasa verbal dan nonverbal (sentuhan, pelukan, kebersamaan, kesetiaan, hadiah, kejutan, dan candaan), pembagian peran dan tugas pada suami istri secara adil, intensitas kunjungan keluarga ke lapas tinggi, dan sering melakukan kegiatan bersama di lapas seperti bermain games, mengerjakan PR anak, dan sharing dalam teori relational maintenance akan membuat kedekatan keluarga terpelihara dan bisa dipertahankan dengan baik.
Video Dokumenter Televisi “Ngesti Pandowo” Sutradara dan Penulis Naskah Intan Ayuningrum; Djoko Setyabudi; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

I. Latar BelakangKebudayaan merupakan salah satu identitas suatu bangsa. Seiringberjalannya waktu, masuk dan tumbuh kebudayaan baru di Indonesia. Denganmasuknya kebudayaan baru ditakutkan menggeser kebudayaan tradisional yangsudah ada. Kebudayaan tradisional di Kota Semarang sendiri sebenarnya masihada, sampai sekarang masih ada tempat yang mengandung unsur budayatradisional yaitu Gedung TBRS yang tidak kalah bersejarah dibanding wisataLawang Sewu dan Gereja Blenduk yang menjadi ikon kota Semarang. Kelompokkesenian wayang orang di Semarang yang ada sejak tahun 1936 tampil setiapSabtu malam di gedung TBRS. Kelompok ini mencoba untuk menampilkankesenian tradisional meski kekurangan dana untuk produksi. Kegelisahan yangmuncul dalam hal ini adalah apakah kesenian wayang orang dapat terus ada.Bagaimana cara untuk membuat kebudayaan tradisional wayang orang ini tetaphidup, dan menumbuhkan kembali minat masyarakat agar dapat menikmatikebudayaan ini.Televisi sendiri menjadi salah satu media massa yang dapat menjangkaubanyak kalangan masyarakat sebagai khalayak. Selain menjadi sumber informasi,televisi juga memberikan hiburan karena menampilkan informasi dalam bentukaudio visual. Dokumenter sendiri merupakan salah satu produk jurnalistik yangbisa menjadi program televisi yang mengandung informasi untuk khalayak.Dokumenter televisi memiliki nuansa serta orientasi luas, dari mulai sebab hinggaakibat sebuah proses kejadian atau peristiwa yang diketengahkan sebagai isi(Ayawaila, 2008 : 26). Dari kegelisahan mengenai masuknya kebudayaan modernyang menggeser kebudayaan tradisional inilah yang kemudian menjadi temauntuk produksi dokumenter. Mengingat bahwa masyarakat akan lebih mudahmencerna informasi yang dikemas secara audio visual, dokumentaris memutuskanuntuk membuat produk jurnalistik berbentuk video dokumenter mengenaikebudayaan seni Wayang Orang Ngesti Pandowo.
STRATEGIC COMMUNICATION MUSEUM KERETA API AMBARAWA MANAJER KEUANGAN DAN AKUNTANSI Taufik Reza Ardianto; Djoko Setyabudi; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Museum is no longer become the main option by the public to visit. Museum regardedas a boring place when its compared with natural tourist attraction. Visitors could get alot of things at Ambarawa Train Museum, which is one of the three largest trainmuseum in the world. Because of their lack of knowledge, the number of visitors of thismuseum practically very small. For that, this activities carried out.Finance and Accounting Division is a field that manage the financial activities ofStrategic Communication Ambarawa Train Museum. This division is responsible fortransparency, clarity and neatness of the financial statements. Successful performance ofthis division is when the financial account balance from pre, during until post-event, thesmooth of cash flows and all the needs can be fulfilled.Some plans didn’t run properly due to some emerging issues. In the midst of theemergence of the issues, finance and accounting managers are able to develop atransparent and reliable (accountable) finance management. Activities that is not muchcontribute to the objectives of this series of activities, reduced or eliminated altogether.The problems such as delays and uncertainties can be solved by the finance andaccounting manager.Although this activity was in the absence or shortage of funds in the beginning, awhole activities can still be carried out. Until the end of this activities, finance andaccounting managers successfully carry out their duties. Evidenced by the balanced ofbalance sheet and all the needs can be met that make all the activities implemented. Thissuccess is the result of cooperation and coordination with all team members in orderwith all its limitations, and any problems encountered, the main purpose of thisactivities still achieved.
Intensitas menonton vlog Kemal Palevi dan Persepsi tentang vlog Kemal Palevi dengan Sikap melakukan Cyberbullying pada Kemal Palevi melalui media social Yosua, Christian; Nur Suryanto Gono, Joyo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.873 KB)

Abstract

In this modern age the world has undergone rapid development. technological progress is one of the most visible advances. The most widespread form in use by the world community is the internet. But technological progress can not be separated also from the problems brought about by these technological advances as well. Cyberbullying is a problem that comes along with the technological advances. The modern version of this breeding becomes a problem that plagues and even casualties. The purpose of this research is to know the relationship of watching intencity Kemal Palevi’s vlog and perception about Kemal Palevi’s vlog with Attitude to cyberbullying on Kemal Palevi. The population of this research is teen millenials from 17 - 34 years old by using purposive sampling technique. Based on the test performed using the Chi-Square formula, it shows the result that: first, the intensity of watching the vlog of Kemal Palevi with attitude of cyberbullying on Kemal Palevi with asymptotic significance value of 0.000, but there are 4 cells with expectation value below 5 (50% 20%) and the lowest expectation value is 2.52. thus the hypothesis can not be inferred. Secondly, there is a positive correlation between perception of Kemal Palevi vlog with cyberbullying attitude on Kemal Palevi with significance value 0, but there are 4 cells with expectation value below 5 (50%> 20%) and lowest expectation value 1.80. Thus the hypothesis can not be concluded. suggestions given that Kemal Palevi should create a text or subtitle in the vlog that contains a foreign language so that the audience can absorb the information and the message as a whole from the vlog he watched.
Produksi Program Kebudayaan “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Pada Program Acara Sluman Slumun Semarangan di Cakra Semarang Tv Wisnuadi Trianggoro; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.609 KB)

Abstract

Produksi Program Kebudayaan “Koboy Melukis Pusaka Jawa” PadaProgram Acara Sluman Slumun Semarangan di Cakra Semarang TvABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalambentuk audio visual. Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksiuntuk pembuatannya, dokumentaris dalam hal ini menjabat posisi sebagaicameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyekdokumenter ini. Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang dibuat oleh sutradara. Dokumenter Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy)yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa” menampilkan sekumpulan anakmuda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti. Anak-anakmuda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang padamasyarakat Semarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap duniapewayangan. Namun sayangnya tidak banyak generasi muda yang tertarik kepadawayang kulit. Wayang kulit selama ini identik dengan generasi lama atau orangtua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasa pengantarnyabahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarikminat generasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya merekaberdua berusaha memberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhankreatif yaitu dengan membuat sebuah wayang kreasi baru, yaitu denganmenggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisa diaplikasikanmenjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidangdigital teknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak mudasekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cintawayang pada masyarakat semarang dan menghimpun siapa saja yang berminatterhadap dunia pewayangan, tergambar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukanoleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafet budaya wayangyang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anakmuda saat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan sertasemangat dan upaya-upaya agar anak muda semakin mengenal dan bangga sertadapat ikut menjaga kelestarian seni tradisional wayang dalam wadah komunitasKomplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkan wayang bisalebih dekat dengan masyarakat khususnya anak muda.Alat yang digunakan oleh jurnalis cameraperson dalampengambilan gambar adalah DSLR. Jurnalis menggunkaan kamera DSLR karenapenggunaannya di Semarang TV sudah memiliki standart HD dalam setiapprogamnya, tentunya aspek itu perlu di perhatikan. Proses editing dilakukanberdasarkan naskah editing yang dibuat oleh sutradara. Editor melakukanpemotongan di setiap gambar sesuai dengan naskah editing yang dibuat olehsutradara, selain itu editor memberi beberapa efek untuk menambah estetika.Visual effects yang digunakan dokumentaris dibagi menjadi 3 antara lain yaituAudio Transitions, Video Effects, VideoTransitions. Dalam proses editing jurnalismenggunakan aplikasi Adobe Premier CS 5Kata kunci: jurnalis, camera person, Editor, Wayang, Koboy.ABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product .There is a team working from pre to post-production to production, documentaryin this case serves as a cameraperson and a concurrent position as editor . Theselection of these positions is the willingness and ability of journalists to carry outthis documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy)entitled “Koboy Draws Java‟s Heritage” featuring a bunch of young people wholove to take part in Sobokartti puppet . They are agreed to foster a spirit of lovepuppets in Semarang and gather people who are interested in the puppet world .But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play .Wayang kulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and oldfashionedfor today's youth , because language introduction to the Java languageis no longer popular among the younger generation . To attract young people tothe puppet as traditional art , finally they both tried to deliver innovation to thepuppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson, cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , videoanimation , and is in contact with the field of digital technology in order to getcloser and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarangand raise public who are interested in the puppet world , reflected in the activitiesundertaken by Koboy . From school to school they carry the baton puppet cultureinherited by the ancestors to introduce back to young kids today, Koboy bridgewith their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring moreyoung people to know and be proud of and care for preservation of traditional artpuppets Komplotan Bocah Wayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet isexpected to be closer to the public, especially young people .The tools used by the camera person is DSLR camera. Journalistsuse DSLR cameras because of the standart in TV program. The process of editingscript created by the director . Editor cuts in each image according to the script,and also gives some effect to add to the aesthetics . Visual effects are useddocumentary is divided into 3 parts : Audio Transitions , Video Effects ,VideoTransitions . In documentary, journalists using Adobe Premier CS 5 forediting.Keywords : Reporter , Camera Person , Editor , Puppet , Koboy .PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massacetak maupun elektronik, karena publikasi di media massa adalah salahsatu syarat utama agar sebuah produk tersebut dapat dikatakan sebagaiproduk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunya televisimerupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasisecara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalamwaktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telahmampu menarik minat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanyauntuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melaluibentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuatmasyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya.Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efekyang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarangtelevisi adalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Televisi menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkandengan masyarakat. Tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi jugamedia hiburan dan edukasi bagi masyarakat. Masyarakat dari segala usiamenjadi sangat akrab dengan TV. Banyaknya audien televisimejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang,kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah media massadominan (Vivian, 2008:225). Berbicara tentang televisi akan membawapada program-program yang ditayangkan di dalamnya, ada komedi situasi,berita, reality show, kuis, permainan dan salah satunya dokumenter.Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik menjadi suatu programyang penting untuk tayang pada suatu stasiun televisi. Dokumenter sebagaisalah satu produk jurnalistik memiliki konten lengkap untuk dikonsumsi.Dokumenter mampu memberikan informasi, pendidikan, sekaligus hiburansecara mendalam terhadap suatu objek untuk audien.Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisimeliputi expository documenter (penutur tunggal narrator), documenterdrama, news feature, reality show dan investigasi. Kami sebagai jurnalisingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk news feature denganformat documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui mediatelevise. Alasan menggunakan format documenter karena kontendidalamnya lebih lengkap, yaitu seperti unsur informasi, ilmupengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif (fachrudin,2012:314). Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yangmulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnyaadalah kesenian wayang. Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaanbudaya jawa. Wayang telah menjadi etos dan pandangan hidup masyarakatjawa. Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa. Bagi masyarakat Jawa,wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayangbukan hanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai mediakomunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Wayang telahmenjadi asset kebudayaan nasional, maka kewajiban itu berarti terletak dipundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulah masyarakat Jawakhususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara tentang eksistensi keberadaan wayang di tengah-tengahmasyarakat. Wayang atau dunia pewayangan pastilah akan lenyapmanakala masyarakat sudah tidak menyukainya lagi. Dan kesukaan ataukegemaran masyarakat itu pun selalu berubah dari waktu ke waktu. Olehkarena itu yang paling penting dalam upaya pelestarian wayang adalahmengusahakan agar masyarakat tetap menyenangi dan mencintai wayang.Upaya strategis untuk melestarikan eksistensi wayang yang paling menarikminat para pemuda dan anak-anak untuk menyenangi dan mencintaiwayang. Dalam hubungan ini kita perlu ingat pada pepatah lama: “ Takkenal maka tak sayang” atau ungkapan Jawa dengan makna yang sama,yakni : Witing trisna jalaran saka kulina. Jadi, sejak kecil mereka harusdibiasakan untuk mengenal ( menonton ) wayang. Ini berarti frekuensipertunjukkan wayang perlu digalakkan atau dipersering.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitungsedikit terutama generasi muda. Salah satunya komunitas koboy(komplotan bocah wayang) yang berpusat di Sobokartti yang melakukankegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihan dalang bagianak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagaimedium. Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibatdalam kegiatan pewayangan namun kegiatan yang mereka lakukan denganmengenalkan wayang melalui workshop ke sekolah-sekolah atau tempattempatumum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadap wayang.Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesanuntuk mengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak danorang tua, apabila kedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukanmerupakan kegagalan para koboy, yang terpenting adalah masyarakat yangterutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyai peninggalankebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperandalam melestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaansebagai pelaku, setidaknya koboy dapat meneruskan tongkat estafetkepada generasi muda, yang seharusnya tongkat estafet tersebut dibawaoleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentangpewayangan, maka para orang tua sendiri tidak mampu berperan untukmengenalkan wayang kepada anak-anaknya didalam sistem pelestariankebudayaan wayang saat ini.1.2. PermasalahanMaka kami selaku para jurnalis melihat adanya persoalan mengenaiwayang yang tersisihkan, dengan ini kami ingin mengangkat tema iniuntuk menumbuhkan kembali rasa bangga kepada budaya kesenianwayang melalui news feature yang dikemas dalam video documenter.1.3. TujuanProduk Jurnalistik yang akan kami produksi dalam bentuk videodokunmenter dengan mengambil contoh kongkrit Koboy (KomunitasBocah Wayang), yang bertujuan untuk menginformasikan kepada targetaudiens bahwa masih ada anak muda yang masih peduli dan mencintaiwayang, mereka mempunyai upaya untuk melestarikan seni budayawayang, dan dengan melalui news feature ini supaya bisa menumbuhkankembali rasa cinta dan bangga masyarakat terhadap budaya kesenianwayang.1.4. Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari,mengumpulkan, mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwayang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segalakebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifatpendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya.(Suhandang, 2004:21).Pengertian lain menyebutkan bahwa Good Journalism adalah kegiatan danproduk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat disaat krisis.Berbagai gambaran informasi dan krisis yang terjadi dan disampaikan mestimenjadi pengalaman bersama. Ketika sebuah kejadian terjadi, media mampumemberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Fakta-fakta,penjelasan dan ruang diskusi yang menolong banyak orang terhadap sesuatuyang tak terduga kejadiannya. Downie dan Kaiser (dalam Santana, 2005:4).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft newsyang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secaramenarik (Morrison, 2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satudari sekian media yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi,pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untuk kahalayak atau cakupanmassa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepada khalayakdan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massiveyaitu televisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yangtidak terpisahkan dengan masyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk didalamnya adalah remaja yang sangat akrab dengan televisi. Menurut Vivian(2008:16) televisi merupakan salah satu media yang tidak menuntutaudiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenisjenismedia yang masuk kedalam kategori itu.Dalam televisi, pemirsa tidak membutuhkan usaha intelektual apapun untukmenikmati sebagian besar acara. Selain itu, televisi menjadi media yang cukupstrategis untuk menayangkan produk jurnalistik seperti video dokumenter,karena hampir seluruh kalangan bisa mengakses media ini. Beberapa stasiuntelevisi baik berskala lokal maupun nasional sendiri juga telah memiliki jenisprogram dokumenter. Sehingga dengan tayangnya video dokumenter ini ditelevisi diharapkan semua pemirsa, khususnya yang berusia antara 15-35tahun sebagai target audiens utama karena dalam masa-masa usia tersebutaudiens dapat mencerna makna dengan baik dari sebuah informasi yangdikemas dalam bentuk audio-visual ini.2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterAda banyak tipe, kategori, dan bentuk penuturan dalam dokumenter. Dalambeberapa hal terlihat adanya kemiripan; yang membedakan adalahspesifikasinya. Beberapa contoh yang berdasarkan gaya dan bentuk bertuturitu, antara lain: laporan perjalanan, sejarah, potret atau biografi, perbandingan,kontradiksi, ilmu pengetahuan, nostalgia, rekonstruksi, investigasi, associationpicture story, buku harian, dan dokudrama.Dalam pembuatan dokumenter ini, kami para jurnalis memilih menggunakangaya rekonstruksi. Dalam tipe ini, pecahan-pecahan atau bagian –bagianperistiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah. Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa,latarbelakang sejarah, periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnyamenjadi bagian dari konstruksi peristiwa tersebut. Konsep penuturanrekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapi lebihterkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008:40-43).Selain itu terdapat pula tiga cara umum berkaitan dengan stuktur penuturandokumenter, yakni secara kronologis, tematis, dan dialektik. Berkaitan denganpembuatan dokumenter televisi Koboy, kami para jurnalis menggunakanstruktur penuturan tematis dimana cerita dipecah kedalam beberapa kelompoktema yang menempatkan sebab dan akibat digabungkan kedalam tiap sekuens.Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuahobjek lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya.Seperti halnya Perkumpulan Koboy dimana merupakan sebagai tempatberkumpulnya para para pencinta atau penggiat kesenian wayang dikalangananak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.1.5. Signifikansi1. Signifikansi Praktis- Bagi media TV lokal yang menayangkan, video dokumenter ini bisamenjadi salah satu tayangan yang mendidik bagi masyarakat luas.- Video ini menjadi salah satu acuan bagi pelaku dokumenter baik yangsudah maupun baru akan memulai praktek dokumenter. Dokumenterini juga menjadi media komunikasi baru selain media-media yangtelah ada, seperti televisi, radio, surat kabar, internet dan lain-lain.2. Signifikansi Akademis- Laporan ini dibuat dalam bentuk video dokumenter, merupakan salahsatu dari aplikasi matakuliah konsentrasi jurnalistik dalam bidangjurnalistik televisi. Video dokumenter ini menjadi salah satu kontribusijurnalistik dalam betuk audio visual.- Agar tidak hanya melihat berita-berita hangat saja, tapi melihat sesuatujuga harus dapat mengedukasi ketika dibagikan.3. Signifikansi SosialVideo documenter ini akan dikemas semenarik mungkin agar dapat mudahditerima oleh permirsa/ masyarakat yang menonton, dan mengajakmasyarakat agar bisa lebih menyukai menonton tayangan videodocumenter, serta tertarik untuk menonton video documenter-documenterlainnya.1.6. Format sajian dan Konsep FilmFormat sajian yang digunakan dalam project ini adalah video Dokumenter.Dengan durasi 20 – 24 menit. Rencana akan ditayangkan di Cakra Tv Semarangdalam acara „Sluman-Slumun‟. Video dokumenter ini dibagi menjadi 3 segment,yaitu : Segment 1 : menyajikan sebuah permasalahan yang terjadi, karena jarakgenerasi muda dengan kesenian wayang sangat jauh, maka itu persoalanyang harus dipecahkan. Segment 2 : menyajikan sebuah komunitas koboy yang berusaha menjadipemecah permasalahan itu dengan berperan sebagai penyalur tongkatesatafet tersebut, agar kesenian wayang bisa sampai ke generasi muda. Segment 3 : menyajikan solusi-solusi yang ditawarkan oleh narasumber..1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalamsebuah sistem kerja yang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yangindependen dalam laporan yang disusun. Personil dan Job descriptiontersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangan Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber,riset stockshoot kota semarang, melakukan pengambilan gambarwawancara, melakukan pengambilan gambar saat kegiatan objekdokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalammengarahkan suatu proses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput ataupencari berita, menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu eventatau peristiwa atau kejadian pada media radio tau televisi.1.8. Time ScheduleNOPROSES LANGKAH09/2013 10/2013 11/2013 12/20131 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 41 PraProduksi Riset danpembuatanproposalFilter proposalPembuatankonsep visualMembuatshooting scriptdan daftarinterviewPengajuanproposal keCakra TVDeal denganCakra TV2 Produksi Pengambilanstock shotsPengambilangambarPengambilangambarwawancaranarasumber3 PaskaproduksiEditing & mixingLaporan karyabidangFinal ReleasePENUTUPPertama-tama yang harus dilakukan dalam membuat sebuah news feature yaituriset objek yang akan anda angkat secara dalam, riset juga lokasi dan narasumberyang ingin dimunculkan, dan pilihlah dengan alasan yang tepat. Semisal dalampemilihan narasumber, pertimbangkan latar belakang objek, apakah objek yangakan diambil sebagai narasumber mempunyai kapasitas dalam tema dan judulyang akan diangkat atau tidak. Untuk. Penentuan lokasi untuk stockshoot danwawancara narasumber harus diperhatikan, dan jangan lupakan nilai etika danestetika.Kesimpulan4.1. Kesimpulan1. Jurnalis sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara,video dokumenter ini menampilkan sebuah komunitas komplotanbocah wayang atau koboy yaitu sekumpulan anak muda yang cintadengan wayang. Koboy sendiri mempunyai visi misi menumbuhkanrasa cinta dan bangga kepada anak muda dengan melakukan kegiatanmengenalkan wayang ke sekolah-sekolah. Hal ini sangat menarik danpatut mendapatkan apresiasi yang tinggi.2. Terdapat beberapa tanggung jawab jurnalis sebagai Camera Personterutama pada saat persiapan produksi dan saat produksi berlangsung,yaitu: meninjau lokasi tempat pengambilan pada saat produksiberlangsung, menentukan dimana akan dilakukan wawancara,mempersiapkan kelengkapan alat yang akan digunakan, danmengambil beberapa stok gambar, baik dalam bentuk foto maupunvideo untuk kepentingan dokumentasi produksi. Stok gambar tersebutberfungsi untuk memberi gambaran awal pada saat produksi danmembantu pembuatan shoting script yang dilakukan sutradara besertapenulis naskah.3. Pendalaman tokoh narasumber dan objek yang akan diangkat menjadiperhatian khusus, karena dengan memiliki kedekatan yang lebih intim,tidak lupa juga riset objek yang akan diangkat dan stockshoot kotasemarang untuk memudahkan dalam menentukan angle saat prosespengambilan gambar.4. Jurnalis sebagai Camera Person sekaligus editor ikut membantusutradara melakukan proses pemilihan data. Serta Proses lainnyaadalahpemindahan data hasil gambar dari MMC ke Komputer PC dan lalu dihubungkan ke perangkat komputer editing dengan software tertentu.Software yang di pakai untuk transfer data adalah Adobe Premiere ProCS 5.5. Editor melakukan pemotongan di setiap gambar sesuai dengan naskaheditor yang dibuat oleh sutradara, selain itu editor memberi beberapaefek agar menjadi satu kesatuan. Visual effects yang digunakandokumentaris dibagi menjadi 3 antara lain yaitu Audio Transitions,Video Effects, VideoTransitions. Selain itu editor menambahkan titleyang dilakuakan untuk memperjelas video.6. Alat yang digunakan oleh jurnalis Camera person dalam pengambilangambar adalah DSLR. Dokumentaris menggunkaan kamera DSLRkarena fitur DSRL sangat memudahkan kami untuk mendapatkan hasilyang dibutuhkan televisi. Agar lebih mendalami pembuatan newsfeature ini, riset secara mendalam sangat perlu dilakukan agar sudutpandang/Angle news feature yang dikerjakan nanti memiliki kualitasyang dibutuhkan industri televisi.7. Pengetahuan tentang kamera, jenis lensa dan kegunaanya sangatmutlak bagi seorang juru kamera, sehingga jika terdapat kendaladilapangan khususnya pencahayaan, tidak menjadi hambatan ketikamemasuki proses editing.8. Penggunaan SOP dalam sebuah stasiun Tv sangat penting di berikankepada mahasiswa yang akan membuat karya bidang, karena ini akanberkaitan dengan produk yang akan dibuat oleh mahasiswa tersebut.Informasi tentang “apakah munculnya running text mengganggugrafis, tittle dalam karya tersebut. Pemotongan adegan, gambar ataustatement dan lain sebagainya. Pada proses ini jurnalis, melakukankesalahan perhitungan lebar running text. Pada saat editing grafis/tittleyang telah dibuat oleh editor tertutupi oleh keberadaan running texttersebut. Sehingga bisa membuat informasi yang disampaikan tidaksampai.Daftar PustakaBukuVivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.Suhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik. Bandung:Nuansa.Ayawaila, Gerzon R. 2008. Dokumenter dari Ide sampai Produksi.Jakarta: FFTV -IKJ PRESS.Ernanto. 2c005. Wawasan Jurnalistik Praktis. Y0gyakarta: M humAndi fachrudin. 2012. Dasar – Dasar Produksi Televisi. Jakarta:Kencana Prenada Media GroupMorisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi MengelolaRadio dan Televisi. Jakarta : Kencana.Santana, Setiawan K. ( 2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta :Yayasan Obor Indonesia.Internethttp://sobokartti.wordpress.com/ (diakses tanggal 5 September 2013)http://www.shnews.co/detile-26402-kutang-antakusuma-vs-%E2%80%9Ctank-top%E2%80%9D.html (diakses tanggal 16 oktober2013)
Women’s Meaning About The Discourse of Obesity On Instagram Septiana Dewi Widyastuti; Dra. Taufik Suprihartini, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.664 KB)

Abstract

This study discusses about women who are obsessed with body shape. In connection with the previously research data that women turned out to be obsessed with the body shape.One apparatus that that facilitate the formation of the body is instagram and has enough followers, namely @ms_slimming and @ 20FIT. Instagram is trying to hegemony the reader in accordance with what is being offered that today all of women should pay attention to body shape and weight to make them look attractive. Therefore the purpose of this study is to describe women’s meaning about the discourse of obesity on instagram.This interpretation process includes the contents of the text to see the dominant meaning through preferred reading using semiotic analusis, interpretation of the meaning of the category to see audience in the dominant response, negotiation, or the opposition. The results of the in-depth interviewshows the body weight of women do not close their desire to discipline their body, even though they are in the category of normal weight and underweight, theyalways feel their body is not ideal, it relates to the view by Foucault's Panopticon, it continue to remind the ideals against his body as though supervised, male gaze by mulvey relates to men’s view about female’s body shape, then women feel supervised and then appear an apparatus that facilitates the formation of the body like instagram so a variety of efforts to discipline the body must be done. When the informant saw the ad, women in the category of underweight in a dominant position choose to train their body with trainer and technology use to discipline the body, in a negotiated position tends to pick herbs, in a opposition against the use of slimming cream to discipline the body. Women in the category of normal weight in a dominant position mostly choose to train their body with trainer and technology use as well as herbal to discipline his body, in a negotiated position tend to choose a planking movement, in a opposition against the use of slimming cream to discipline the body. Women in the category of overweight in a dominant position choose herbs to discipline the body, in a negotiated position tend to choose a corset to shape the body, in a position against to form a sexy body with exercise. Women in the category of obese in a dominant position choose to train their body with trainer and technology use to discipline the body, in a negotiated position tend to choose the use of slimming cream, in a opposition against the use of corset and perform a planking movement to discipline the body.
Pengaruh Terpaan Iklan Bukalapak di Televisi dan Promosi Penjualan terhadap Keputusan Pembelian di Situs Jual Beli online Bukalapak Reynald Sukma Adhy, Muhammad Adrian; Widowati Herieningsih, Sri
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.258 KB)

Abstract

Advertising on television and sales promotion is a marketing strategy that is currently being chosen by e-commerce companies to attract consumers to transact, one of which is Bukalapak, which in 2018 had the highest television advertising expenditure and often did sales promotions. However, Bukalapak has not managed to reach the top position as an online buying and selling site chosen by the public. The purpose of this study was to determine the effect of exposure to advertising and sales promotions on purchasing decisions on the Bukalapak online buying and selling site. The theory used in this research is advertising exposure theory and behavioral learning theory. The sample technique used is Non-Probability Sampling. The number of samples in this study were 70 respondents with the characteristics of men and women who live in the city of Semarang knowing Bukalapak advertisements and knowing Bukalapak sales promotions. Analysis of the data used in this study is a linear regression test. The results showed that advertising exposure on purchasing decisions had a significant effect, where the significance value, which means that there was an influence of advertising exposure on television on purchasing decisions in Bukalapak and the coefficient of regression toward Bukalapak advertising exposure on television amounted to which showed a positive effect and advertising exposure variables in television has a significant influence on purchasing decisions by 47.6%. Furthermore, sales promotions on purchasing decisions also have a significant influence where the significance value is strong. It means that there is an influence of sales promotion exposure on buying decisions in Bukalapak and the coefficient of regression direction of exposure to Bukalapak sales promotion amounted to which shows a positive influence and the variable of the sales promotion has influence on purchasing decision by 60.7%.
PROSES PENENTUAN PESAN DAN STRATEGI KREATIF IKLAN DENGAN ENDORSER BERJILBAB PADA PENGIKLAN DAN PERUSAHAAN IKLAN Arlita Dwi Utami; Djoko Setyabudi; Hedi Pudjo Santosa; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.845 KB)

Abstract

Dahulu menampilkan endorser berjilbab dalam iklan hanya ada saat-saat khusus seperti ramadhan atau Idul Fitri saja. Tetapi sejak sekitar tahun 2012 mulai muncul iklan-iklan yang menggunakan endorser berjilbab untuk produk-produk general dan ditayangkan diluar waktu-waktu khusus tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui latarbelakang pengiklan dan perusahaan iklan menggunakan bintang iklan berjilbab dalam iklannya dan mengetahui proses penentuan pesan dan strategi kreatif sebuah iklan yang menggunakan bintang iklan berjilbab. Teori yang digunakan adalah teori Strategi Kreatif dari Sandra E Moriarty. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Data primer dianalisis menggunakan penjodohan pola. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyusunan pesan meliputi karakter produk, kondisi pemasaran, iklan-iklan sebelumnya, tujuan beriklan, tujuan komunikasi, key issue, kompetitor, insight, dan positioning. Dalam mengeksekusi ide kreatifnya perlu mempertimbangkan apa yang menjadi penugasan, yang keluar dari brainstorming, serta bentuk iklan. pemilihan endorser Penentuan endorser berjilbab dilihat dari dua hal yaitu keterwakilan konsumen dan kesesuaian dengan produk. Tidak ada keharusan menggunakan endorser dari selebritis. Semua disesuaikan dengan apa yang ingin dikomunikasikan dan dengan karakter produk itu sendiri.Brand lain dapat membuat iklan dengan endorser berjilbab dengan menyampaikan pesan yang lain yaitu dengan tidak mengkomunikasikan tentang halal dan menunjukkan bahwa produk tersebut digunakan oleh banyak kalangan. Masih banyak yang dapat dikembangkan dari penggunaan endorser berjilbab dalam iklan.Kata kunci : Proses Penentuan Pesan Iklan, Strategi Kreatif Iklan, EndorserBerjilbab. 
The Correlations of Advertising Exposure and Communication Competency of Sales Marketing with Buying Interest of Toyota All New Sienta Christanti, Rhenita; Herieningsih, MS, Dra. Sri Widowati
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.112 KB)

Abstract

Car is high involvement product for some people. Altough not a primary needs, can not lie if car is must-have thing for now. Appearance of LCGC (Low Cost Green Car) cars in Indonesia, doesn‟t make car brand Toyota loses hope to bring a new car in MPV (Multi Purpose Vehicle) class. All New Sienta, is a brand new car that launch in 2016, July. As a new product with complete features and modern design, All New Sienta considered to be the „new rising star‟ amon others car in the same class. But in fact, people seems not interest with All New Sienta.The purpose of this research is to know the correlations of advertising exposure and communication competency of sales marketing with buying interest of Toyota All New Sienta. This is a explanatory research and use Advertising Exposure Process Theory for measure advertising exposure and Speech Act Theory for measure communication competency. The sample of respondent of this research were the sample of 60 respondents who are lived in Semarang, have regular pay and family, which are fitted with market segmentation of All New Sienta.The result of hypothesis test used Kendall‟s Tau-b, that correlation between advertising exposure with buying interest in significant score 0,001 (<0,05) and correlation coefficient score is 0,337 that means this correlations is in the average class of correlation, and then the correlation between communication competency with buying interest in significant score 0,000 (<0,05) and correlation coefficient score is 0,557 which are include in strong correlation class.Based on research result, can be deduced that; 1) there is a positive correlation between advertising exposure with buying interest of Toyota All New Sienta; 2) there is a positive correlation between communication competency with buying interest of Toyota All New Sienta. The research shows that advertising and communication skills of sales marketing are effective promotion tools for increase buying interest of All New Sienta. Toyota is expected to continue to innovate in advertising and advertising media to be able to reach the target consumers appropriately.
REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAK Ima Putri Siti Sekarini; Triyono Lukmantoro; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.268 KB)

Abstract

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAKAbstrakSetiap iklan mengandung gagasan mengenai femininitas perempuan dan maskulinitas laki-laki yang direpresentasikan dalam teks iklan tersebut. Namun, aspek maskulinitas laki-laki dalam iklan masih jarang digali. Itulah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bagaimana iklan produk ‘untuk perempuan’, seperti produk kebutuhan rumah tangga, merepresentaikan maskulinitas laki-laki tersebut?Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika tradisi Roland Barthes untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan semiotika ini, penelitian ini berusaha membongkar tanda-tanda dalam iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak untuk menemukan makna berupa gagasan di balik tanda-tanda tersebut. Dibantu oleh konsep codes of television milik John Fiske, teks diurai menjadi kode-kode, yaitu suatu unit yang lebih sempit, untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisa.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pola pada representasi maskulinitas laki-laki yang ditemukan dari analisa terhadap iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Maskulinitas laki-laki, dalam iklan untuk tiga jenis produk tersebut, direpresentasikan melalui sosok ayah, suami, serta pencari nafkah di mana ketiganya merupakan aspek dari sosok kepala keluarga dalam masyarakat yang hidup dengan ideologi patriarki.Key words : iklan, jender, maskulinitas, patriarkiREPRESENTATION OF MALE’S MASCULINITY IN TV COMMERCIALS FOR HOUSEHOLD PRODUCTSAbstarctIn every advertisements, including television commercials, there are always two aspects: female’s femininity and male’s masculinity. But, unfortunately, when compared to female’s femininity, male’s masculinity is still such a rare topic to be discussed and examined in gender studies field. That argument began this particular gender study. How, then, do television commercials for ‘female only’ products such as household products represent their male’s masculinity?This study make use of Roland Barthes’s semiotic approach to try to answer that question. By this means, this gender study struggles to break down the signs found in TV commercials for household products in order to discover the idea(s) behind those signs. By the help of John Fiske’s codes of television concept, text(s) were analyzed into codes, an unit(s) more restricted and specific.The result shows that there is a similarity in pattern of representation of male’s masculinity found by analyzing television commercials for household products. In television commercials for such products, male’s masculinity is represented through the use of father figure, husband figure, and responsible breadwinner figure, which the three being a huge aspect shaping the head of household figure in a society(ies) where patriarchal ideology lives.Key words: advertising, TV commercials, gender, masculinityPendahuluanPada hakikatnya, iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi (Noviani, 2002: 22). Namun, iklan juga unik karena memiliki kemampuan mempengaruhi yang cukup kuat. Dari aspek pengaruh ekonomi, iklan terbukti telah banyak memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar pada perorangan atau agen yang terlibat di baliknya (Widyatama, 2007: 156). Namun, iklan tidak hanya memiliki pengaruh ekonomi saja. Dia juga memiliki pengaruh psikologis dan pengaruh sosial budaya.Dalam kaitannya dengan penelitian ini, pengaruh iklan secara sosial budayalah yang lebih disorot, di mana pesan-pesan yang ditampilkan melalui iklan akan mengkristal secara kolektif dan menjadi perilaku masyarakat secara umum. Perilaku masyarakat yang umum ini pada akhirnya akan membentuk sistem nilai, gaya hidup, maupun standar budaya tertentu.Iklan, sebagai alat (komunikasi) pemasaran yang berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan produk dari produsen (pengiklan) kepada calon konsumen (audience), memerlukan perencanaan yang matang agar selain pesan yang diinginkan (oleh pengiklan) sampai ke calon konsumen dengan utuh, calon konsumen juga menjadi percaya pada isi pesan dan karenanya berminat untuk mencoba maupun membeli produk yang diiklankan. Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan endorser yang mampu membantu membawakan pesan iklan dengan meyakinkan dan sekaligus membantu membentuk citra yang diharapkan untuk produk yang diiklankan.Selain pemilihan endorser, pengiklan juga harus merancang bagaimana endorser ini harus ditampilkan mulai dari segi penampilan fisik hingga perkataan dan perbuatan. Secara fisik, endorser perempuan yang sering muncul dalam iklan biasanya berwajah cantik, berkulit putih mulus, tubuh langsing, dan rata-rata berusia muda. Sedangkan laki-laki yang menjadi endorser biasanya berwajah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dan juga berusia muda.Sedangkan dari segi karakterisasi, perempuan ditampilkan dengan kepribadian yang dikategorikan sebagai karakteristik feminin: anggun, lemahlembut, pasif, dan emosional. Sedangkan laki-laki ditampilkan dengan sifat-sifat yang dikelompokkan dalam kategori maskulin, misalnya kuat (secara fisik dan mental), rasional, tegas, dan agresif. Dari aspek setting, iklan juga stereotipikal dalam menampilkan perempuan dan laki-laki, di mana karakter perempuan hampir selalu ditampilkan berada di rumah atau di lingkungan rumah sedangkan tokoh laki-laki sering kali ditampilkan sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, misalnya kantor.Umumnya, dalam iklan, perempuan dan laki-laki sering kali ditampilkan dalam kerangka jender yang sama dari waktu ke waktu. Pada bagian awal subbab ini telah disebutkan bahwa iklan memiliki pengaruh sosial budaya. Pengaruh ini bisa timbul salah satunya dikarenakan adanya stereotipisasi dalam penampilan sosok laki-laki dan perempuan dalam iklan, gaya penampilan yang mengikuti suatu pola dan peran jender tertentu.Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak termasuk dalam kelompok iklan yang sering menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang stereotipikal sesuai dengan peran jender konvensional. Iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak tidak pernah absen menghadirkan gambaran perempuan dalam kerangka femininitas tertentu, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang sedang melakukan aktivitas seperti memasak, merawat anak, serta membersihkan rumah, dan perempuan tersebut mayoritas dimunculkan dalam setting rumah.Yang kadang luput dari perhatian adalah arti keberadaan sosok laki-laki dalam iklan yang sama. Banyak iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak yang menghadirkan sosok endorser laki-laki. Laki-laki dalam iklan tersebut, seperti halnya perempuan, juga ditampilkan dalam kerangka jender tertentu, yaitu kerangka jender maskulin. Tentu saja representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak berbeda dengan representasi maskulinitas laki-laki yang umum ditemui dalam iklan rokok. Laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak seringkali dimunculkan menyandang peranayah/suami/kepala rumah tangga, atau sebagai voice over yang memberikan penjelasan mengenai produk yang sedang diiklankan. Posisi laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sekilas memang tidak mengandung maksud tertentu. Namun, bila ditelaah lebih jauh, sesungguhya peran-peran yang disandang laki-laki dalam iklan-iklan tersebut memiliki posisi superior terhadap sosok perempuan. Sebaliknya, iklan rokok merk Marlboro misalnya, merepresentasikan maskulinitas melalui sosok koboi. Di balik representasi maskulinitas laki-laki melalui sosok koboi ini, kita bisa saja menarik kesimpulan mengenai bagaimana seharusnya laki-laki ideal itu. Iklan rokok merk Marlboro mungkin bermaksud menyampaikan pada khalayak bahwa laki-laki yang ideal itu adalah laki-laki yang pemberani, tangguh, kasar, serta individualistis.Karena iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan representasi maskulinitas laki-laki dengan cara berbeda dari iklan rokok merk Marlboro, maka bisa kita tarik asumsi bahwa iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak memiliki gagasan tersendiri mengenai maskulinitas laki-laki dan sosok laki-laki ideal untuk disampaikan pada khalayak. Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sebagai cara mendeskripsikan representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan-iklan tersebut.PembahasanTerdapat empat ideolog yang bekerja dalam pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Tiga ideologi pertama bisa dikatakan sebagai ideolog yang bersifat minor, sedangkan ideologi keempat merupakan bersifat lebih luas di mana tiga ideology pertama merupakan bagian dari ideology keempat ini. Tiga ideologi minor tersebut, yaitu kode ideologis son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki ideologi. Ketiganyamerupakan bagian dan pendukung ideologi yang bersifat mayor, yaitu ideologi patriarki.Dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (2005) diutarakan bahwa patriarki bukan semata sinonim dari ‘laki-laki’, melainkan suatu jenis masyarakat (society) di mana baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Menurut Johnson, masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang hingga taraf tertentu mendukung adanya hak-hak istimewa laki-laki (male privilege) melalui aksi serta gagasan yang berbau dominasi laki-laki (male dominated), diidentifikasikan dengan laki-laki (male identified), dan terpusat pada laki-laki (male centered). Masyarakat patriarkis juga menunjukkan adanya obsesi terhadap kendali atau keinginan kuat untuk mengendalikan segalanya (Johnson, 2005: 5). Male dominated, male identified, male centered, dan obsesi terhadap kendali, menurut Johnson, merupakan empat karakteristik patriarki.Dominasi laki-laki sebagai suatu karakteristik patriarki mengandung pemahaman bahwa posisi-posisi dengan kewenangan tinggi, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan militer, sebagian besar diduduki oleh laki-laki dan seolah diperuntukkan bagi laki-laki. Kondisi ini akhirnya menciptakan perbedaan kekuasaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Dominasi laki-laki seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat patriarkis juga mengakibatkan timbulnya gagasan bahwa laki-laki lebih superior (dibandingkan perempuan). Anggapan semacam ini muncul karena masyarakat cenderung tidak membedakan antara superioritas yang dikandung oleh posisi atau kedudukan dalam suatu hierarki dengan orang-orang yang biasanya menempati posisi tersebut. Johnson menambahkan, penting untuk dipahami bahwa dominasi laki-laki dalam masyarakat patriarkis tidak berarti setiap laki-laki itu berkuasa. Dominasi laki-laki berarti di mana ada pusat atau konsentrasi kekuasaan, hampir bisa dipastikan (kaum) laki-laki yang akan menguasainya karena laki-laki dalam hal ini bisa dipandang sebagai rancangan dasar kaum atau orang yang memegang kekuasaan (Johnson, 2005: 5-6).Karakteristik berikutnya yang dimiliki oleh masyarakat patriarkis yaitumale identified yang diartikan bahwa dasar gagasan kultural mengenai apa yang dianggap baik, yang dikehendaki, dan yang dianggap normal adalah hal-hal yang biasa diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas ideal. Dengan kata lain, male identified dalam patriarki memposisikan laki-laki dan kehidupannya sebagai standar dalam menentukan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Anggapan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menganggap bahwa manusia normal adalah laki-laki (Sultana, 2010: 4).Aspek lain dari male identified adalah deskripsi kultural mengenai maskulinitas dan sosok laki-laki ideal yang kemudian seolah menjelma menjadi nilai-nilai inti dalam masyarakat. Kualitas-kualitas seperti kontrol, kekuatan (fisik), senang berkompetisi, keteguhan, ketenangan di bawah tekanan, logika, kemampuan mengambil keputusan, rasionalitas, dan otonomi dikenal sebagai karakteristik-karakteristik maskulin dan standar ideal bagi laki-laki. Dengan kata lain, kualitas-kualitas tersebut diidentifikasikan sebagai ‘laki-laki’. Dalam masyarakat patriarkis, sifat-sifat tersebut pun lebih dihargai (Johnson, 2005: 6-10).Selain bersifat male dominated dan male identified, masyarakat patriarkis juga bersifat male centered atau terpusat pada laki-laki yang berarti bahwa laki-laki dan apa pun yang mereka lakukan lah yang menjadi fokus perhatian. Hal ini dikarenakan menurut kultur patriarki, pengalaman dan kehidupan laki-laki merepresentasikan pengalaman seorang manusia yang utuh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, fokus perhatian terhadap laki-laki dapat ditemui, misalnya bagaimana laki-laki mendominasi percakapan dengan cara bicara lebih banyak (daripada perempuan), lebih sering menginterupsi pembicaraan, hingga mengendalikan topik dan arah pembicaraan (Johnson, 2005: 10-12).Obsesi untuk memegang kendali (the obsession with control) merupakan karakteristik selanjutnya dari paham patriarki. Kontrol atau kendali merupakan elemen penting dalam patriarki dikarenakan paham patriarki adalah sistem di mana di dalamnya terdapat hak-hak istimewa yang diberikan pada salah satu kelompok. Dalam praktiknya, hak-hak istimewa tersebut menempatkan salah satu kepompok dalam kedudukan yang tinggi dan mengopresi kelompok lain yangtidak memperoleh hak istimewa tersebut. Dengan kata lain, kelompok superior mempertahankan posisi dan hak istimewanya dengan cara mengontrol kelompok lainnya, misalnya kaum laki-laki melindungi dan mempertahankan kedudukan dan hak istimewa yang diberikan padanya dengan cara mengendalikan para perempuan di sekitarnya. Kemampuan mengendalikan ini telah menjadi standar kultural bagi manusia sebagai makhluk superior, yang pada akhirnya dipandang sebagai piranti bagi laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan posisi dan hak istimewanya.Perlu juga diketahui bahwa sesungguhnya kendali atau kontrol tidaklah bersifat buruk dan tidak dengan sengaja bertujuan untuk mengopresi. Dengan melakukan pengendalian, manusia mampu menciptakan keteraturan dari situasi chaos dan melindungi diri dari ancaman-ancaman terhadap eksistensinya. Namun, di bawah kekuasaan paham patriarki, kemampuan mengendalikan tersebut bukan lagi dianggap sebagai lambang dari esensi manusia sebagai makhluk hidup, melainkan berubah menjadi begitu dihargai dan didambakan hingga menimbulkan obsesi dalam tingkat ekstrim yang membuat kehidupan sosial menjadi sangat menekan (Johnson, 2005: 14-15).Empat karakteristik patriarki di atas dapat ditemukan pada banyak praktik-praktik sosial. Ideologi son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki termasuk dalam praktik sosial bersifat patriarkis karena ketiganya memiliki karakter yang sama dengan karakteristik patriarkis yang digagas oleh Johnson.Son preference memiliki karakteristik patriarki, yaitu male centeredness. Dia dijalankan dengan memusatkan pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki. Male centeredness yang memusatkan perhatian pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki sebagai karakteristik son preference dapat terlihat pada faktor ekonomi son preference, yaitu anggapan bahwa anak laki-laki mampu menyokong orangtua dan keluarga secara finansial serta anak laki-laki yang juga dinilai lebih potensial dan menguntungkan sebagai tenaga kerja.Selain son preference, praktik patriarkis di masyarakat juga tampak dalam pandangan yang menempatkan sosok ayah (laki-laki) sebagai figur pemegangotoritas. Konsep fatherhood memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik patriarki, yaitu male dominated dan obsesi terhadap kendali (obsession with control).Ideologi fatherhood atau kebapakan memiliki karakter male dominated, yang artinya sebagian besar posisi-posisi dengan otoritas tinggi biasanya dipegang atau diduduki oleh, bahkan seolah diperuntukkan bagi, laki-laki. Mulai dari lingkup keluarga inti yang sempit hingga cakupan negara, laki-laki hampir bisa dipastikan menjabat sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Karakteristik lain ideologi fatherhood yang masih cukup berkaitan dengan karakter male dominated ini adalah obsesi terhadap kendali. Sebagai kelompok yang beruntung dikarenakan hak-hak istimewa yang dialamatkan kepadanya, menyebabkan kaum laki-laki menempati posisi yang menjadikan mereka superior terhadap kelompok lainnya, terutama perempuan. Dengan status yang lebih superior tersebut, maka kaum laki-laki pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengendalikan kelompok inferior lainnya. Pengendalian tersebut dilakukan terutama sebagai upaya untuk mempertahankan dan melindungi hak-hak istimewa mereka dari siapapun atau apapun yang mungkin mengancamnya. Kemampuan untuk mengendalikan telah menjadi standar kultural bagi makhluk hidup superior, yang kemudian digunakan sebagai piranti oleh laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan hak dan posisi istimewa mereka (Johnson, 2005: 14).Kode ideologis kecerdasan laki-laki juga bagian dari praktik yang bersifat patriarkis. Dia memiliki karaktersitik patriarki, sama seperti dua kode ideologis yang telah diuraikan sebelumnya. Karakteristik patriarki yang melekat pada konsep kecerdasan laki-laki sendiri adalah male identified.Kecerdasan, atau intelligence dalam bahasa Inggris, merupakan hasil kombinasi dari rasionalitas maskulin (masculine rationality) dengan keberhasilan sosial (social success) (Raty dan Snellman, 1995: 2). Pada kenyataannya, rasionalitas bukanlah konsep yang bersifat netral-jender, walau banyak orang masih mengira demikian. Justru sesungguhnya yang selama ini dikenal sebagai rasionalitas a la Barat adalah rasionalitas maskulin (Ross-smith dan Kornberger, 2004: 282). Ross-Smith dan Kornberger juga mencantumkan dalam tulisanmereka tentang penggunaan akal pikiran (sebagai ciri dari sifat rasional) yang telah diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas sejak zaman Yunani Kuno. Asosiasi di antara keduanya masih terus berlangsung di masa kini, sehingga dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang, konsep mengenai akal pikiran dan rasionalitas sesungguhnya memiliki konotasi maskulin. Mengasosiasikan rasionalitas dengan laki-laki dan/atau maskulinitas merupakan salah satu aspek dari male identified, di mana gagasan kultural mengenai laki-laki ideal telah menjelma menjadi nilai-nilai inti masyarakat secara keseluruhan (Johnson, 2005: 7). Salah satu kualitas yang telah diidentifikasi sebagai kualitas laki-laki ideal tersebut adalah penggunaan logika dan rasionalitas.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini, yaitu:1. Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan maskulinitas laki-laki dengan cara melekatkan peran, sifat, maupun karakteristik, seperti:1.1. Memosisikan laki-laki dewasa dalam peran ayah dan/atau suami yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik, memberi solusi, serta tampil sebagai pemimpin yang dipatuhi1.2. Menampilkan beberapa laki-laki dewasa yang sedang aktif berkarya di lingkungan kerja sebagai pekerja di sebuah pabrik (area publik), dengan posisi mulai dari staf di gudang hingga peneliti produk di laboratorium1.3. Menjadikan laki-laki dewasa sebagai sumber informasi, baik dengan menjadi duta produk maupun voice-over dalam iklan, yang tugas utamanya adalah mendeskripsikan keunggulan, karakteristik, dan cara penggunaan produk kepada khalayak produk tersebut, yang umumnya adalah perempuan dewasa2. Pemberian setiap peran dan karakteristik tersebut kepada laki-laki dewasa dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuciperalatan makan dan masak mengandung makna yang lebih mendalam daripada sekadar peran yang dimainkan dalam suatu karya fiktif (iklan). Dengan menyandangkan peran sebagai suami/ayah, pekerja yang giat mencari nafkah, serta informan yang menguasai informasi pada aktor laki-laki, membuat mereka tampak berada pada posisi dominan dan lebih superior dibandingkan lawan mainnya, yaitu perempuan dan anak-anak3. Kedudukan lebih dominan dan superior yang dimiliki oleh laki-laki seperti ditampilkan dalam iklan tersebut dikarenakan adanya ideologi patriarki yang berpihak dan memberi hak-hak istimewa pada laki-laki. Ideologi patriarki ini hidup lestari di masyarakat melalui berbagai praktiknya, yaitu son preference, fatherhood, dan gagasan tentang kecerdasan dan rasionalitas sebagai kualitas alami laki-laki.DAFTAR PUSTAKABarker, Chris. (2005). Cultural Sudies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.Berger, Arthur Asa. (2010). The Object of Affection: Semiotics and Consumer Culture. New York: Palgrave Macmillan.Budiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.Bungin, Burhan. (2001). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Penerbit Jendela.Bungin, Burhan. (2005). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantar Kepada Kajian Media. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics (2nd ed.). New York: Routledge.Cornwall, Andrea dan Nancy Lindisfarne (Eds.). (1994). Dislocating Masculinity: Comparative Ethnographies. New York: Routledge.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (Eds.). (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications.Donovan, Josephine. (2006). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (3rd ed.). The Continuum International Publishing.Fiske, John. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics. New York: Routledge.Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies: Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Fletcher, Winston. (2010). Advertising: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.Guba, Egon G. dan Yvonna s. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. Dalam N. Denzin dan Y. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research (1st ed.) (105-117). California: Sage Publications.Goddard, Angela. (1998). The Language of Advertising. New York: Routledge.Hall, Stuart (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.Iriantara, Yosal. (2009). Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Johnson, Allan G. (2005). The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (Revised and Updated Edition). Philadelphia: Temple University Press.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007a). Encyclopedia of Sex and Gender Volume I. Macmillan Reference USA.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007b). Encyclopedia of Sex and Gender Volume II. Macmillan Reference USA.Murray, Mary. (1995). The Law of the Father? Patriarchy in the Transition from Feudalism to Capitalism. New York: Routledge.Neuman, W. Lawrence. (2007). Basics of Sosial Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). New York: Pearson.Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pease, Allan dan Barbara Pease. (2004). The Definitive Book of Body Language. Pease International.Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan. (2004). Fifty Key Concepts in Gender Studies. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles Over The Life Cycle (2nd ed.). McGraw-Hill, Inc.Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. (1997). Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.Schement, Jorge Reina (Ed.). (2002). Encyclopedia of Communication and Information Volume I. Macmillan Reference USA.Talbot, Mary. (2007). Media Discourse: Representation and Interaction. Edinburgh University Press.Thompson, Roy dan Christoper J. Bowen. (2009). Grammar of the Shot (2nd ed.). Focal Press.Webb, Jen. (2009). Understanding Representation. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher (Kelompok Penerbit Pinus).Wood, Julia T. (19940. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. Dalam Julia T. Wood, Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture (231-244). Wadsworth Publishing.JurnalConnell, R.W. (1996). Teaching The Boys: New Research on Masculinity, and Gender Strategies for Schools. Teachers College Record, 98(2): 206-235.Koller, Veronika. (2008). ‘Not Just a Colour’: Pink as a Gender and Sexuality Marker in Visual Communication. Visual Communiaction, 7(4): 395-423.Nafajian, Maryam dan Saeed Ketabi. (2011). Advertising Social Semiotic Representation: A Critical Approach. International Journal of Industrial Marketing, 1(1): 63-78. Dalam http://faculty.washington.edu/thurlow/com210b/readings/koller(2008).pdf. Diunduh pada 29 Januari 2013 pukul 11.15.Prentice, Deborah A. and Erica Carranza. (2002). What Women and Men Should Be, Shouldn’t Be, Are Allowed to Be, And Don’t Have to Be: The Contents of Prescriptive Gender Streotypes. Psychology of Women Quarterly, 26: 269-281. Dalam http://psych.princeton.edu/psychology/research/prentice/pubs/Prentice%20Carranza.pdf. Diunduh pada 3 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.Ross-Smith, Anne dan Martin Kornberger. (2004). Gendered Rationality? A Genealogical Exploration of the Philosophical and Sociological Conceptions of Rationality, Massculinity, and Organization. Gender, Work, and Organization, 11(3): 280-305. Dalam http://www.martinkornberger.com/includes/04gender.pdf. Diunduh pada 8 Mei 2013 pukul 15.37.Sacristan, Marisol Velasco. (2009). Overt-Covertness in Advertising GenderMetaphors. Journal of English Studies, 7: 111-148.Sultana, Abede. (2010). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal Volume 4 July 2010- June 2011: 1-18. Dalam http://bdresearch.org/home/attachments/article/nArt/A5_12929-47213-1-Pb.pdf. Diunduh pada 21 Mei 2013 pukul 12.06.Tsai, Wan-Hsiu Sunny dan Moses Shumow. (2011). Representing Fatherhood and Male Domesticity in American Advertising. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(8): 38-48. Dalam http://idrjb.com/articlepdf/idrjb8n5.pdf. Diunduh pada 18 Maret 2012 pukul 15.10.Tesis, Disertasi, Laporan PenelitianCochran, Susan Sims. (2009). Exploring Mascilinities in the United States and Japan. Tesis. Kennesaw State University. Dalam http://digitalcommons.kennesaw.edu/etd/53. Diunduh pada 30 April 2012 pukul 11.38.Das Gupta, Monica, dan kawan-kawan. (2002). Why is Son Preference so Persistent in East and South Asia? A Cross-country Study of China, India, and the Republic of Korea. Laporan Penelitian. The World Bank. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.De Camargo, Camilla. (2012). The Police Uniform: Power, Authority, and Culture. Disertasi. University of Salford. Dalam http://www.internetjournalofcriminology.com/DeCamargo_The_Police_Uniform_IJC_Oct_2012.pdf. Diunduh 23 Januari 2013 pukul 10.27.Eklund, Lisa. (2011). Rethinking Son Preference: Gender, Population Dynamics, and Social Change in the People’s Republic of China. Disertasi. Lund University. Dalam http://lup.lub.se/luur/download?func=downloadFile&recordOld=1950819&fileOld=1951084. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.Nilsson, Marie. (2004). The Paradox of Modernity: A Study of GirlDiscrimination in Urban Punjab, India. Tesis. Lund University. Dalam http://www.ekh.lu.se/publ/mfs/9.pdf. Diunduh pada 13 November 2012 pukul 11.57.Nixon, Elizabeth, Padraic Whyte, Joe Buggy, Sheila Greene. (2010). Sexual Responsibilty, Fatherhood, and Discourses of Masculinity among Socially and Economically Disadvantaged Young Men in Ireland. Laporan Penelitian. Crisis Pregnancy Agency. Diunduh pada 19 April 2013 pukul 18.00.Tadpikultong, Supavee. (2008). The Representation of Different Genders in Product Advertising: Comparison of TV Advertisements in Thailand and the United Kingdom. Disertasi. Dalam http://edissertations.nottingham.ac.uk/2038/1/08MSceexst1.pdf. Diunduh pada 14 April 2012 pukul 15.24.Seminar/WorkshopRaty, Hanu dan Leila Snellman. (1995). On the Social Fabric of Intelligence. Makalah. Dipresentasikan pada The Symposium of Social Representations in the Northern Context di Mustio, Finlandia (22-26 Agustus): 1-9.Sumber-sumber lainJally, Sut. Advertising, Gender, and Sex: What’s Wrong with a Little Objectification?. Dalam https://mediasrv.oit.umass.edu/~sutj/Objectification.pdf. Diunduh pada 20 September 2012.http://en.wikipedia.org/wiki/Polo_shirt.http://id.wikipedia.org/wiki/Edwin_Lau.http://teukuwisnu.com/bio.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam http://sdm.ugm.ac.id/main/sites/sdm.ugm.ac.id/arsip/peraturan/UU_1_1974.pdf. Diunduh pada 14 April 2012.

Page 14 of 157 | Total Record : 1563