cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Pengaruh Promosi Online dan Celebrity Endorser terhadap Minat Beli Konsumen Tas Online Shop Fani House Riska Ladya Meitharani Budi Astuti; Dr. Hedi Pudjo Santoso, M.Si
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.097 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat akses internet menjadi mudah dan cepat sehingga memunculkan pergeseran teknologi pemasaran. Hal ini juga mempengaruhi dunia online yang mengalami perubahan secara sangat cepat, terutama pada cara penjualan barang dan jasa. Fani House merupakan sebuah toko yang cukup unik, karena selain melakukan penjualan secara offline pada tokonya di Tembalang, Fani House juga menjual produknya dengan sistem e-marketing melalui online shopnya. Fani House merupakan salah satu online shop yang menjual barang produk fashion terutama tas, pakaian dan aksesoris wanita. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh promosi online dan celebrity endorser terhadap minat beli konsumen terhadap produk tas toko online “Fani House”. Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatori dengan sampel 85 orang konsumen online shop Fani House yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Sedangkan, analisis data dilakukan dengan uji regresi berganda. Hasil uji hipotesis menunjukkan hipotesis pertama yang berbunyi “promosi online (X1) berpengaruh positif terhadap minat beli (Y)” diterima, hipotesis kedua yang berbunyi “celebrity endorser (X2) berpengaruh positif terhadap minat beli (Y)” diterima dan hipotesis ketiga yang berbunyi “promosi online (X1), dan celebrity endorser (X2) berpengaruh positif terhadap minat beli (Y)”, diterima. Jadi, dapat diartikan bahwa semakin pelanggan sadar akan merk Online shop Fani House dan, semakin baik celebrity endorser Online shop Fani House maka semakin ingin pelanggan melakukan pembelian di Online shop Fani House
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” (Marketing Communications) Ruli Sawitri; Yanuar Luqman; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal di Indonesia,bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia, sebut saja BuluTangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disamping olahraga – olahragatersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untuk mengukir prestasi, sebut sajasepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan Simpang Limadipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidak sedikit pulapara pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikuti dengan menjamurnyakomunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan Simpang Lima Semarang. Tidak sedikitpengunjung yang ikut meramaikan permainan sepatu roda ini, mulai dari anak-anak hinggaremaja bahkan dewasa yang bermain sepatu roda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kota Semarangpun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu roda memang masihkurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naungan PORSEROSI kota Semaranguntuk menjaring anggotanya juga sangat kurang. Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepaturoda di kota Semarang, diantaranya Eagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberipelatihan dan mengajarkan teknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anakmaupun dewasa. Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anakanak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapa faktor,diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dan gambarangambaran,yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman mereka untuk menggali danmenentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebut masih memiliki pemikiranyang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untuk mengedukasi mereka dan dapatmenghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadi atlet sebagai upaya regenerasi Sepaturoda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu roda yangsedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan pengetahuanmasyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang. Masih banyakmasyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehingga banyak diantara merekayang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepatu roda. Sebagian dari masyarakatkota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanya melakukan olah raga ini untuk mengisiwaktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untuk berlatihjuga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklah banyak, hanyasekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnya permainan sepatu roda dikota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajak anak-anak yang tertarik Sepaturoda untuk turut serta bergabung dengan klub-klub Sepatu roda dengan tujuan agar merekamendapat pengarahan, pengetahuan serta teknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengantergabungnya mereka ke dalam klub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggulsebagai upaya regenerasi atlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melaluipenyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awarenessmasyarakat akan klub sepatu roda. Roadshow diselenggarakan di enam sekolah dasar di kotaSemarang dengan materi acara meliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klubbeserta atletnya serta mengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acarapuncak “Fun Skate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawandengan menampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masing klub yangdiinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan risetpasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 23,37% dariyang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabung ke dalam klubsepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian, rangkaian event PR campaignini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal. Berikut merupakan parameterkeberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunicationObjectiveDari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kotaSemarang, sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalamklub sebanyak 41 responden dan yang mengetahui event“Fun Skate on CFD” sebanyak 53 responden. Data per klubmenunjukkan jumlah kenaikan anggota setelah acaraterselenggara. (Ikos mengalami kenaikan anggota sebanyak18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14 anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on CarFree Day”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acaratersebut “sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda”dan „Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550peserta dari target minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate onCFD” tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28Oktober 2012 sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai denganrundown, meskipun terjadi delay selama 15 menit danovertime selama 20 menit, namun tetap masih dalam batastoleransi awal yaitu maksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh darikegiatan sponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplussebesar Rp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor,yaitu PT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izinvenue di enam sekolah dasar dan area Car Free Day jalanpahlawan pada waktu yang telah ditentukan tanpamengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikanpengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengantarget audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar Pustaka1. Websitei. http://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45 WIB).ii. http://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diaksespada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB).iii. http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabargemilang-di-selandia-baru (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.17 WIB).iv. http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 (diakses pada tanggal 2 juni2012 pukul 23.10 WIB).2. Bukui. Belch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw Hill.ii. DeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional Bookiii. Effendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:PT. Remaja Rosda Karya.iv. Larson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing Company.v. Lerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajar.vi. Littlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of HumanCommunication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Jack Z. and Bumba,Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc BusinessBooks3. Sumberlaini. Data Statistik kota Semarang tahun 2009ii. Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
Hubungan Terpaan Gambar Bahaya Merokok pada Bungkus Rokok dan Motivasi dari Pasangan Terhadap Upaya untuk Berhenti Merokok Bisma Alief; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.992 KB)

Abstract

Jumlah perokok aktif di Indonesia termasuk yang paling besar di dunia. Pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengurangi jumlah perokok, salah satunya dengan mengganti pesan peringatan yang ada pada kemasan rokok. Awalnya pesan peringatan hanya berupa tulisan saja, namun sekarang diganti dengan pemberian gambar bahaya yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan gambar bahaya merokok pada bungkus rokok dan motivasi dari pasangan terhadap upaya untuk berhenti merokok. Teori yang digunakan adalah teori The Extended Parallel Process Model, teori Motivasi Proteksi, dan teori Disonansi Kognitif. Penelitian ini menggunakan teknik non random sampling dengan metode purposive sampling dan jumlah sampel sebanyak 50 responden dengan usia 15-24 tahun di kota Jakarta yang menjadi perokok aktif dan memiliki pasangan.Hasil dari analisis korelasi Pearson dengan bantuan SPSS 22 menunjukan bahwa antara terpaan gambar bahaya merokok pada bungkus rokok dengan upaya untuk berhenti merokok memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,031 dimana tingkat signifikansinya lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien korelasinya sebesar 0,265. Sedangkan motivasi dari pasangan dengan upaya untuk berhenti merokok memiliki hubungan yang juga signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,042 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien korelasinya sebesar 0,247.Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus secara konsisten melakukan upaya-upaya untuk mengurangi jumlah perokok, seperti dengan memperbesar gambar bahaya merokok yang sekarang hanya 40% dari kemasan rokok. Selain itu, memperbanyak jenis gambar bahaya merokok bisa dilakukan sehingga perokok tahu lebih banyak penyakit yang akan ditimbulkan dari kebiasaan mereka.
POLA KOMUNIKASI PENGASUHAN IBU SINGLE PARENT Inda Oktaviana, Clarisa; Pudjo Santoso, Hedi
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.129 KB)

Abstract

Keluarga merupakan kelompok primer dalam masyarakat yang memiliki dan menjalankan fungsi penting bagi perkembangan anak. Tetapi proses ini akan mengalami perbedaan ketika keluarga mengalami perceraian. Perceraian memberi dampak yang signifikan kepada anak baik itu dari sikap dan perilakuan, bahkan memunculkan stigma dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola komunikasi pengasuhan yang dilakukan oleh ibu single parent terhadap anak setelah terjadinya perceraian. Penelitian ini akan dikaji menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi. Teori serta konsep yang digunakan dalam penelitian ini yakni, Teori Peran (Role Theory), Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Attitude Consistency and Attribution Theory), serta Konsep Komunikasi Interpersonal. Pada penelitian ini ditemukan bahwa adanya hubungan yang baik ini membuat anak lebih mudah beradaptasi pada keadaan baru setelah terjadinya perceraian ini. Pada penelitian ini juga ditemukan meskipun intensitas pertemuan dan komunikasi secara langsung yang terjadi antara anak dan ibu single parent cenderung sedikit, namun hubungan di antaranya tetap saling terjaga karena adanya sikap terbuka dan percaya serta pandangan positif terhadap masing – masing di antaranya. Selain itu, proses komunikasi pengasuhan yang dilakukan ibu single parent dalam memberi kebebasan dan tanggungjawab kepada anak secara tidak langsung membuat anak membentuk sikap futuristic dan self criticsm.
Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotika pada Film Negeri 5 Menara) Septia Hartiningrum; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.984 KB)

Abstract

Judul : Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotikapada Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Film Negeri 5 Menara diangkat dari novel dengan judul yang sama merupakanfilm yang mengangkat tentang kerja keras, semangat, keikhlasan, dankesungguhan “Man Jadda Wajada” dengan background pendidikan pesantren. Didalam film ini dapat dijumpai adegan ketika para santri mengikuti prosespembelajaran di pesantren, serta kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi pendidikanpesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif denganmenggunakan teori represenasi Stuart Hall (1997) serta menggunakan analisissemiotika untuk menganalisis objek yang diteliti. Teknik analisis data dilakukandengan menggunakan “The Codes Of Television” (John Fiske ,1987). Analisisdilakukan dengan tiga level, yaitu level realias, level representasi, dan levelideologi. Level realitas dan level representasi dianalisis secara sintagmatik,sedangkan secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam film Negeri 5 Menara inipesantren digambarkan sebagai lembaga pendidikan yang sudah modern namuntetap masih memasukkan unsur-unsur tradisional yang sudah melekat padapendidikan di pesantren. Seluruhnya dapat dilihat melalui adegan-adegan yangada dalam film, dimana para santri di pesantren tidak hanya mempelajari bidangagama seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, menghafal al-quran semata, parasantri juga mempelajari pelajaran-pelajaran umum seperti bahasa asing,pengetahuan sosial, serta kemasyarakatan sebagai bekal untuk terjun dalammasyarakat.Dalam film Negeri 5 Menara ini menonjolkan sisi positif kehidupan parasantri selama menempuh pendidikan di pesantren hingga mereka suksesmenggapai mimpinya. Selain berusaha memberikan tontonan yang dapatmemotivasi penonton untuk tidak pernah takut bermimpi, film ini jugamenyiratkan makna bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak kalahdengan lembaga pendidikan negeri lainnya. Terbukti dengan kesuksesan yangdicapai para santri khususnya Sahibul Menara meraih mimpi mereka untukmencapai menara-menara impian mereka sebagai tempat mereka bekerja sertamengabdikan diri pada masyarakat.Kata Kunci: film, representasi, pendidikan, pesantrenTitle : Representation in Film Islamic Boarding School Education(Semiotics Analysis on Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to give messages, but also distributethe perspective to the peoples. Negeri 5 Menara based on a novel with same titleare tells about hard work, spirit, heartiness and sincerity of “Man Jadda Wajada”with pesantren/islamic education. ”. In the movie, we will find so many sceneswhile the students (islamic students) during leraning process, also their activities.The purpose of this research is to find out the representation of the islamicboarding school education. This research used a qualitative approach,representation theory by Stuart Hall (1997) and semiotic analysis to analyzesobject of the research. The technique alaysis of data used by the theory of “TheCodes of Television” (John Fiske, 1987). Analyses by three level : reality,representation and ideology. On Realiy and Representation level analyzes bysintagmatic and paradigmatic for Ideology Level.The results of research indicate that the (Negeri 5 Menara), islamicboarding school describe as a education institution that have the modern yet stillhave traditional elements which is attached to the education in the islamic school.We can find them by the scenes, where the students (the islamic students) not onlylearn about religion like fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, memorized Qur’an,they also learn common lesson like foreign language, social skill, so they can livein their society easily.In the movie of (Negeri 5 Menara) show positive side of islamic studenswhile study at islamic boarding school till they success reach their dreams. Notonly tried to give a movie that can motivated peoples to unafraid to reach theirdreams, the movie is also give meaning that islamic boarding school is aeducation institution that as good as another education institutions. Proven bytheir successful especialy by Sahibul Menara who can reach their dreams comingat their dreams tower as place their work for and society.keywords : movie, representation, education, islamic boarding schoolBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPendidikan bagi umat manusia merupakan sistem dan cara meningkatkankualitas hidup dalam segala bidang. Dalam sejarah hidup umat manusiadimuka bumi ini hampir tidak ada kelompok manusia yang tidakmenggunakan pendidikan sebagai pembudayaan dan peningkatan kualitasnya,sekalipun dalam kelompok masyarakat primitif.Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yangbersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannyasebagai pedoman hidup keseharian, dengan menekankan pentingnya moraldalam kehidupan bermasyarakat. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahunyang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim.Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikutmencerdaskan kehidupan bangsa (Mastuhu, 1994: 3).Film Negeri 5 Menara mengangkat tema seputar pendidikan di lingkunganpesantren. Cerita film Negeri 5 Menara diangkat dari novel berjudul samakarya Ahmad Fuadi. Novel yang pertama kali dirilis pada tahun 2009 inimasuk dalam jajaran best seller. Novel ini telah menjadi Buku Fiksi Terbaik,Perpustakaan Nasional Indonesia 2011. Serta menobatkan Ahmad Fuadisebagai Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.1.2. Rumusan MasalahFilm “Negeri 5 Menara” merupakan film yang mencoba menggambarkanpendidikan pesantren. Film Negeri 5 Menara merupakan representasi duniapendidikan pesantren. Pada kenyataannya saat ini, pesantren selalu menjadisorotan dan mendapat citra yang buruk, karena selau dikaitkan dengan kasuskasusterorisme, kekerasan, bahkan pelecehan seksual, pola pendidikan yangsering di pandang sebelah mata. Namun, film ini menyuguhkan sesuatu yangberbeda. Dalam film ini pesantren tidak hanya dijadikan sebagai tempatbuangan anak-anak nakal atau korban kekerasan dalam rumah tangga atauanak-anak yang nilainya tidak cukup untuk masuk ke lembaga pendidikannegeri atau tidak memiliki cukup dana untuk masuk ke lembaga pendidikanswasta. Film ini menggambarkan bahwa pesantren menjadi tempat untukmendidik bibit-bibit unggul calon-calon da’i dan menjadi tempat untukmendalami pendidikan agama.1.3. Tujuan PenelitianMendeskripsikan bagaimana dunia pendidikan pesantrendirepresentasikan dalam film Negeri 5 Menara.1.4. Signifikansi Penelitian1.4.1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis penelitian ini diharapkan mampumemberikan sumbangan ilmiah di bidang kajian ilmu komunikasimengenai teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotikamenggunakan teknik analisis data “The Codes of Television” dariJohn Fiske yang dikembangkan untuk mengkaji film sebagaikomunikasi massa. Sehingga dapat mendeskripsikan bagaimanapendidikan pesantren direpresentasikan dalam film.1.4.2. Signifikansi PraktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagipara pembuat film dengan tema pendidikan, khususnya pendidikanpesantren. Agar memberikan jalan cerita yang lebih variatif tentangdunia pendidikan.1.4.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalammencermati tayangan dan memahami makna pesan yang disajikanoleh media massa terutama film yang mengangkat tentangpendidikan khususnya pendidikan pesantren.1.5. Kerangka PemikiranFilm dimasukan dalam kelompok komunikasi massa yang mengandung aspekhiburan, juga memuat aspek edukatif. Namun aspek kontrol sosialnya tidak sekuatpada surat kabar, majalah, serta televisi yang memang menyiarkan beritaberdasarkan fakta yang terjadi (Rivers, Jensen dan Peterson, 2004: 252).Representasi menurut Stuart Hall (1997: 15) menghubungkan makna danbahasa kepada budaya. Representasi berarti menggunakan bahasa untukmengungkapkan makna atau untuk menghadirkan kembali (represent) maknakepada khalayak. Representasi merupakan bagian penting dari proses di manamakna diproduksi dan dipertukarkan antara beberapa budaya. Representasimelibatkan penggunaan bahasa, tanda dan simbol untuk mewakili ataumerepresentasikan sesuatu.Representasi berarti menggunakan bahasa untuk memaknai sesuatu, atauuntuk merepresentasikan dunia dengan penuh makna kepada orang lain.Representasi adalah sebuah bagian utama dalam sebuah proses tentang bagaimanamakna diproduksi di antara anggota masyarakat dari sebuah kebudayaan.Film dipandang sebagai representasi, maka film merupakan cermin darinilai budaya yang ada dalam masyarakat. Maka film tidak pernah lepas dariberbagai aspek kepentingan, baik kepentingan ideologi, ekonomi atau politik.Film pada akhirnya merupakan salah satu aspek yang memberi peran besarterhadap perubahan dalam masyarakat. Film sebagai media komunikasipenyampaian makna akhirnya merupakan media sebagai penyampai ideologi, filmsebagai pembawa dan penyebar ideologi ini yang membawa peran sebagai agenperubahan sosial.Ideologi pendidikan merupakan cara pandang yang dijadikan oleh parapemikir pendidikan untuk melihat implementasi pendidikan yang dilaksanakan.Ideologi-ideologi pendidikan terdiri dari enam sisitem dasar etika sosial, yangtergabung dalam ideologi konservatif dan ideologi liberal.1.6. Metode penelitianPenelitian tentang Representasi Pendidikan Pesantren pada film Negeri 5Menara ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan kode televisi dariFiske (1987: 4-6). Tiga level kode tersebut adalah:1) Level Realitas, yang telah terkode secara sosial, meliputi tampilanvisual semacam penampilan, pakaian, make up, lingkungan, perilaku,ekspresi, suara, dll.2) Level Representasi, terkode secara elektronik yang bersifat teknis,meliputi: kamera, pencahayaan, musik, suara, narasi, konflik,karakter, dialog, dll.3) Kode-kode sosial yang mendasari realita dengan jelas dan relatifdinyatakan dalam warna kulit, pakaian, rambut, ekspresi wajah, dansebagainya.BAB IIPEMBAHASANBab ini akan menjelaskan uraian dari konsep kode-kode televisi yangdiungkapkan John Fiske dalam Television Culture, dalam mengkaji media audiovisual terutama film. Kode-kode televisi digunakan untuk menguraikan tandatandamenjadi makna. Kode-kode tersebut terdiri dari tiga level yaitu levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas meliputi kode-kodedengan aspek sosial seperti penampilan, kostum, riasan, gaya bicara, perilaku,lingkungan, setting, ekspresi, gestur, dan lain-lain. Pada level representasi terdapataspek teknis seperti kamera, pencahayaan, musik, narasi, konflik, dialog, dankarakter. Sedangkan level ideologi menguraikan kode-kode tersirat dalam film,seperti indivisualisme, ras, kelas, kapitalisme, dan sebagainya.Level realitas dan representasi merupakan hasil dari analisis sintagmatik,yaitu uraian yang berisi tanda-tanda dalam potongan-potongan shot dan adegan.Sedangkan level ideologi menganalisis secara paradigmatik hasil yang didapatdari level realitas dan level representasi. Namun level ideologi akan diuraikanpada bab berikutnya. Pada bab ini ditampilkan level realitas dan level representasisecara sintagmatik, melalui aspek-aspek sosial dan teknis yang terdapat dalampesantren di film Negeri 5 Menara.Aspek-aspek sosial pada level realitas tersebut dikodekan secara elektronikdalam aspek-aspek teknis level representasi. Dalam televison codes Fiske (2001:5), bagian ini meliputi aspek kamera (camera), pencahayaan (lighting),pengeditan (editing), serta musik dan suara (music and sound). Kemudianmembentuk kode representasi seperti yang terdapat dalam aspek narasi, konflik,dialog, karakter, dan pemeran.Level ideologis adalah level terakhir dari kode-kode televisi John Fiske.Bahwa realitas dan representasi yang direkam dalam gambar bergerak dalam filmmerupakan produk ideologi tertentu. Kode-kode ideologis ini sepertiindividualisme, patriarki, kelas, ras, materialisme, kapitalisme, dan lain-lain.Sementara Fiske mengatakan ideologi adalah sebuah jalan untuk melakukanpemaknaan, membuat sesuatu masuk akal, dan makna yang dibuat selalu memilikidimensi sosial dan politik. Ideologi di dalam cara pandam ini adalah sebuahpraktik atau tindakan sosial.BAB IIIPENUTUPKesimpulan1). Manajemen pendidikan dan pembelajaran di Pesantren telah mengalamiperubahan modernisasi, dari semula sebagai lembaga pendidikan tradisional,kini pesantren sudah berkembang menjadi lembaga pendidikan modern.Pesantren kini dibagi menjadi dua, yaitu pesantren tradisional dan pesantrenmodern. Pesantren tradisional adalah pesantren yang masih menitikberatkanpembelajaran berdasarkan rujukan kitab klasik atau yang dikenal dengankitab kuning, sedangkan pesantren modern adalah pesantren yang polapembelajarannya sudah menggabungkan antara pendidikan agama danpendidikan umum.Dalam film Negeri 5 Menara pesantren direpresentasikan sudah lebihmaju atau modern, sebagai suatu lembaga pendidikan yang tidak hanyamengajarkan pendidikan agama saja (fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist danlain-lain), namun juga pendidikan umum lainnya (bahasa asing, pengetahuansosial, serta kemasyarakatan). Untuk mewadahi minat dan bakat para santri,pesantren juga memfasilitasi mereka dengan beragam ekstrakurikuler, seperti;seni baca al-Qur’an (qira’ah), seni kaligrafi, seni bela diri, seni musik,jurnalistik, olahraga dan lain sebagainya.2). Film Negeri 5 Menara adalah sebuah film tentang kerja keras, semangat,keikhlasan, dan kesungguhan. “Man Jadda Wajada”. Siapa yangbersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Bukan yang paling tajam, tapi yangpaling bersungguh-sungguh. Mantra tersebut berhasil membuat para SahibulMenara dapat mencapai cita-cita mereka untuk bisa mengunjungi negaranegarayang memiliki menara. Mereka berhasil membuktikan bahwa denganbackground pendidikan pesantren mereka dapat bersaing dengan lulusansekolah umum.DAFTAR PUSTAKABUKUAmir, Matri. 1983. Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam. Jakarta:Logos.Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi MenujuMillenium Baru. Jakarta: Logos.Beebe SA., and Masterson JT. 1994. Communicating in small groups: principlesand practices. Fourth Edition. New York: Harper Collins CollegePublisher.Bride, Sean Mac. 1983. Komunikasi dan Masyarakat Sekarang dn Masa Depan,Aneka Suara Satu Dunia. Jakarta: PT Balai Pustaka.Burton, Graeme. 2008. Pengantar untuk Memahami: Media dan Budaya Populer.Penerjemah Alfathri Aldin. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York. RoutledgeCroteau, David dan William Hoynes. 2000. Media/Society : Industries, Images,and Audiences. London: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta:Jalasutra.Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook Of QualitativeResearch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan HidupKyai. Jakarta: INIS.Effendy, Heru. 2006. Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser.Yogyakarta: Panduan.Eriyanto. 2011. Analisis Isi: Pengantar Metodologi untuk Penelitian IlmuKomunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media Grup.Fiske, John. 1987. Television Culture. New York. Routladge.Friedman, Howard S., and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasikdan Riset Modern. Terjemahan Ikarinim Fansiska Dian, dkk. 2006.Personality: Classic Theories and Modern Research. Jakarta: Erlangga.Guba, Egon G and Lincoln, Yvonna S. 2005. The SAGE Handbook of QualitativeResearch; Paradigmatic Controversies, Contradictions, and EmergingConfluences. Sage PublicationHall, Stuart. 1997. Representations: Cultural Signifying and Practices. London:Sage Publication.Irawanto, Budi. 1999. Film, Ideologi, dan Militer. Yogyakarta: Media Pressindo.Littlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi (edisi 9)Theories Of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Madjid, Nurcholish. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina.Mangunhardjana, A Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: YayasanKanisius.Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INISMuhaimin dan Mujib, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta: Grasindo.O’neil, William F. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Panen, Paulina, dkk. 2005. Belajar dan Pembelajaran 1. Jakarta:UniversitasTerbuka.Pranajaya, Adi. 1993. Film dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman.Rahman, Chaidir. 1983. Festival Film Indonesia. Medan: Badan Pelaksana FFI.Roqib, Moh. 2007. Harmoni dalam Budaya Jawa: Dimensi Edukasi dan KeadilanGender. Yogakarta: Pustaka Pelajar.Rivers, W.L, J.W Jensen, dan T. Peterson. 2004. Media Massa dan MasyarakatModern. Jakarta: Kencana .Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. TerjemahanSobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.__________. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.Stolley. S, Kathey. 2005. The Basic of Sociology. Green Wood Press. LondonSukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:RosdakaryaSumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Prenada Media Grup.Wahyoetomo. 1997. Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif MasaDepan. Jakarta: Gema Insani Press.Widagdo, M Bayu dan Gora, Winastwan. 2006. Bikin Film Indie Itu Mudah.Yogyakarta: Penerbit Andi.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Gasindo.Yusuf, Muri. 1982. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia.Sumber InternetAdi, Danuk Nugroho. 2007. “Kekerasan di Pesantren, Tiga Santri DianiyayaSenior” (http://www.indosiar.com/fokus/kekerasan-di-pesantren-tigasantri-dianiayasenior_63929.html; diakses 12/12/12 23:00:17).Arrahman. 2012. “FUI: Penggerebekan Pesantren Dalul Akhfiya' tidakmenghormati Ulama dan Syuhada”(http://m.arrahmah.com/read/2012/11/14/24715-fui-penggerebekanpesantren-darul-akhfiya-tidak-menghormati-ulama-dan-syuhada.html;diakses 11/12/12 22:00:19).Film Indonesia. (http://filmindonesia.or.id/search/all/pendidikan; diakses23/5/2013 23:16:08).Gatra, Sandro. 2010. “Ba’aysir kembali Ditahan di Bareskrim”(http://nasional.kompas.com/read/2010/12/23/11362638/Baaysir.Kembali.Ditahan.di.Bareskrim?; diakses 11/12/12 20:09:56).Harian Analisa. 2012. “Mengembalikan Citra Positif Pesantren”(http://www.p3m.or.id/2013/02/mengembalikan-citra-positifpesantren.html 21/12/2013 pukul 12.48)Ofy. 2008. “Pak Guru Perkosa Murid di Kompleks Sekolah”(http://nasional.kompas.com/read/2008/08/16/14361132/pak.guru.perkosa.murid.di.kompleks.sekolah; diakses 12/12/1 21:49:54).Ruslan, Heri. 2013. “Pesantren, Sistem Pendidikan Asli Indonesia” .(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/10/17/mut6fypesantren-sistem-pendidikan-asli-indonesia 21/12/2013 pukul 12.49)Salmah, Alfidah. 2008. “Kontroversi Pernikahan Syekh Pujiono”(http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Kontroversi+Pernikahan+Syekh+Pujiono&dn=20081110093019; diakses 11/12/201221:22:16).Sudibyo, Anton. 2011. “Guru Ponpes Cabuli 10 Santri Bertahun-tahun”(http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/12/17/104488/Guru-Ponpes-Cabuli-10-Santri-Bertahun-Tahun; diakses 12/12/1222:55:54).
Pengaruh Intensitas Mengakses Fitur-Fitur Gadget dan Tingkat Kontrol Orang Tua Terhadap Kesehatan Mental Remaja Karina Desi Hariyanto; Agus Naryoso, S.Sos, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.343 KB)

Abstract

Dewasa ini teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita, salah satunya adalah gadget. Gadget ini bentuknya pun bermacam-macam ada handphone, smartphone, playstation, PSP, Tablet, Laptop dll. Intensitas mengakses fitur gadget adalah frekuensi dan durasi berapa lama mendapatkan informasi melalui fitur-fitur gadget. Dibalik teknologi yang terus berkembang terdapat dampak baik dan buruk bagi penggunanya baik itu secara psikis maupun fisik. Untuk kesehatan fisik, masyarakat masih bisa melihat dan mengenali gejala-gejala sakit dan bisa ditangani ketika sakit itu timbul, sedangkan untuk kesehatan mental, jarang sekali masyarakat yang menyadari gejala-gejalanya. Kesehatan mental remaja adalah kemampuan remaja dalam mengatur emosi dan menyelesaikan masalah dengan pemikiran yang positif, dalam membentuk dirinya yang baru. Komunikasi dalam keluarga juga mempengaruhi atau berperan dalam kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengakses fitur gadget dan tingkat kontrol orang tua terhadap kesehatan mental remaja. Peneliti menggunakan Teori Computer Mediated Communication dari Crispin Thurlow yang menjelaskan dampak positif dan juga dampak negatif dari penggunaan internet. Teori Skema Keluarga Konsensual dari Morrisan, yang menjelaskan tipe keluarga yang sering berkomunikasi dan menghargai pendapat setiap anggota keluarga, tetapi masih mementingkan kewenangan orang tua. Teori Inconsistent Nurturing as Control dari Beth A. Le Poire yang menjelaskan penggunaan pemeliharaan dan kontrol sebagai upaya untuk menjaga anggota-anggota keluarga dari perilaku yang tidak diinginkan. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitaitf dengan populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMA 9 Semarang yang berusia 15-18 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara proposionate stratified ramdom sampling sebanyak 75 responden. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji Regresi Linear Berganda untuk melihat pengaruh intensitas mengaskes fitur gadget dan tingkat kontrol orang tua terhadap kesehatan mental remaja. Hasil pengujian hipotesis pengaruh intensitas mengaskes fitur gadget dan tingkat kontrol orang tua terhadap kesehatan mental remaja secara bersama-sama menunjukkan hasil nilai Fhitung lebih tinggi dari F-tabel (114.696 >3.12). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel independent (X1 dan X2) memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap variabel dependent (Y) sebesar 76,1%, sisanya adalah pengaruh di dari luar variabel bebas seperti lingkungan tempat tinggal, teman sebaya dll. Sedangkan hasil uji hipotesis untuk masing-masing variabel ditunjukkan oleh uji t, intesitas mengakses gadget (X1) berpengaruh signifikan sebesar 40.8% terhadap y, teori CMC menunjukkan menggunakan gadget dapat menjadikan seseorang menjadi antisosial,kompulsif,dan asosial. Tingkat kontrol orang tua (X2) berpengaruh signifikan sebesar 57.8% terhadap y, teori skema keluarga konsensual dan INC menunjukkan setiap bentuk kontrol orang tua, larangan, perintah dan pemeliharaan berpengaruh pada pribadi remaja.
STRATEGI PENGELOLAAN KESAN DALAM KOMUNIKASI HYPERPERSONAL PENGGUNA TINDER Nugroho, Fadilah; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.398 KB)

Abstract

Users of the Tinder online dating application, through a series of impression management strategies, seek to realize hyperpersonal interactions so that interpersonal relationships can be formed. This study aims to describe the interactions in hyperpersonal communication and the impression management strategy displayed to other users. The research method uses descriptive qualitative with primary data sources from in-depth interviews with 6 Tinder users who managed to meet in person / date with other users. The data analysis technique used is the filling system technique. The result of the study show: (1) Interaction in hyperpersonal communication of Tinder users occurs when the informants do selective self-presentations, receive messages by making overattribution of similarity, utilize channels to communicate in their own time, and the feedback is self-fulfilling prophecy ( 2) In this interaction, Tinder users use four main strategies which are ingratiation to show themselves to be personally attractive so as to be liked, self-promotion to show the impression that they are competent for a particular skill, exemplification ensures that they are moral and trustworthy, and supplication to get empathy from the other users.
Karya Bidang Program Tayangan Gitaran Sore-Sore Pro TV sebagai Penulis Naskah (Divisi Script Writer) Atina Primaningtyas; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.877 KB)

Abstract

Media masa dalam komunikasi masa memiliki beberapa fungsi yaitu untuk memberikan informasi serta untuk menghibur. Televisi merupakan salah satu bagian dari media masa yang juga berperan penting untuk menjadi sarana edukasi dan hiburan bagi masyarakat.Gitaran Sore-sore adalah sebuah program talkshow yang hadir untuk memberikan fungsi tersebut. Dengan segmentasi anak muda, Gitaran Sore-sore memiliki bahasan seputar hobi. Hobi merupakan hal terdekat yang sering dilakukan dan dimiliki oleh setiap anak muda, serta naskah untuk tayangan ini dibuat oleh penulis naskah dengan bahasa sehari-hari.Pada program tayangan Gitaran Sore-sore, penulis naskah bertugas untuk membuat dan bertanggung jawab dalam isi naskah, penambahan pertanyaan pada saat tayang live, serta mencari bintang tamu yang akan diundang untuk datang menjadi pengisi acara.Penulis naskah memasukkan informasi yang berkaitan dengan tema tiap episode serta informasi yang sedang terjadi di hari itu. Ini dikarenakan penulis naskah diharuskan memasukkan fungsi media massa kedalam naskah. Melalui karya bidang ini, diharapkan masyarakat mampu mendapatkan tayangan yang mendidik serta menghibur.Kata kunci : talkshow, penulis naskah, anak muda
RADIO IDOLA SEMARANG ACTIVITIES TO BUILD BRAND ENGAGEMENT IN LISTENERS RR. VASHNI EUODIA TUSTASATYA; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.642 KB)

Abstract

Radio Idola is one of the private radio News and Talk in Semarang, which has a very diverse audience (heterogeneous). In 2016 the fourth wave according to the Nielsen survey, radio Idola is the only radio News & Talk, which is ranked the top 10 best radio in the city of Semarang. The study aimed to find out how is the activities of radio Idola to build brand engagement on the listeners. This study used a descriptive qualitative approach with post-positivism paradigm to help analyze and find facts based on reality. This study uses a case study approach, using the Mass Communication theory, the theory of Technological Determinism, Radio Programming and Brand Engagement. The study was conducted to seven informants who are internal staff of radio Idola Semarang. The first results of radio Idola activities to build brand engagement is listening and monitoring. This activity is about the capability of radio Idola to create a new culture of mutual guide and help fellow listeners through the power of social media and instant messaging owned. Radio Idola as a communicator has a function to inform the listeners quickly and precisely, radio Idola also be channeling public opinion, media persuasion, educate and entertain. Radio Idola accept any public complaints related to public services around. Secondly, community management show that any program that is on the radio Idola is derived from the tagline Memandu & Membantu. The programming process of radio Idola is done through planning, production, execution, monitoring and evaluation. The listeners are very well demonstrated by the presence of the audience at each of off-air even radio Idola held in the end of the month which always achieve the target. Third, community participation show that Radio Idola has a special Whatsapp group listeners and has 37.759 listeners who join in their fan page facebook. Listeners can participate in on air program to speak their mind also give the positive comments about their services in social media. Identify Advocates show that radio Idola has loyal listeners in overseas that still listening radio Idola via streaming. Radio Idola has not had a brand ambassador who comes from a loyal listener to be representative in order to introduce a wider radio Idola as a brand.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINA Ade Ayu Kartika Sari Rezki; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINAAde Ayu Kartika Sari RezkiJurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroAbstrakMedia massa di Amerika Serikat menampilkan gambaran sosok perempuan yang berbeda-beda tiap masanya, ada ikon perempuan yang dikenal dengan the vamp, the flapper, the college girl, dan masih banyak lainnya. Terjadinya perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh adanya perubahan peran jender, tapi lebih dipengaruhi oleh banyak hal seperti perkembangan teknologi, perubahan dalam bidang ekonomi, dan sosial. Perbedaan dalam menampilkan gambaran sosok perempuan juga terjadi di Indonesia, pada majalah Femina. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian ini, sehingga ingin diketahui mengenai bagaimana perempuan digambarkan dalam Femina selama beberapa periode, dan mengapa perempuan digambarkan seperti demikian. Penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan semiotika Barthes dan representasi, bertujuan untuk mengetahui bagaimana sosok perempuan ditampilkan dalam sampul. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yang bertujuan untuk memahami mengapa perempuan direpresentasikan seperti pada sampul majalah yang diteliti, realitas apa saja yang dikonstruksikan dan ditampilkan. Sampul majalah Femina yang dianalisis dibagi dalam lima periode, yaitu tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, 2000-an, 2010 – saat ini, dan dalam setiap periodenya dipilih tiga sampul majalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1970-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan lebih dominan dalam peran domestik sebagai seorang ibu atau sebagai seorang istri. Pada tahun 1980-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam sosok yang lebih bervariasi seperti perempuan yang fun, atau perempuan karier. Pada tahun 1990-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam seorang yang modern dan berasal dari kalangan menengah ke atas, berpenampilan elegan atau glamor. Pada tahun 2000-an hingga saat ini dari enam sampul yang dianalisis menampilkan perempuan dalam isu sehari-hari, seperti hubungan kedekatan dengan sahabat atau kakak-adik perempuannya, perempuan karier. Penggambaran sosok perempuan yang berbeda menunjukkan bahwa Femina sebagai media massa tidak menampilkan semua situasi yang sedang terjadi, bahkan terkadang menggambarkan situasi yang baru. Hal tersebut menunjukkan sifat media massa sebagai pengkonstruksi realita.Key Words: Representasi Perempuan, Media Massa, Majalah Wanita, Semiotika, Konstruksi Realitas.PendahuluanMedia massa dalam hal ini adalah majalah memiliki berbagai fungsi, Wright mengidentifikasi terdapat empat fungsi media yang dikenal the classic four functions of the media. Keempat fungsi tersebut adalah; (1) surveillance dari lingkungan, (2) menghubungkan dari bagian-bagian sosial dalam memberi respon ke lingkungan, (3) transmisi dari kebudayaan sosial dari satu generasi, ke generasi selanjutnya, dan (4) hiburan. Dari keempat fungsi tersebut, fungsi transmisi adalah salah satu fungsi yang menunjukan bagaimana kekuatan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Melalui fungsi ini sebuah majalah dapat mewariskan norma-norma ataupun nilai-nilai tertentu dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya (Baran and Davis, 2010: 178-179).Di Amerika Serikat, diadakan penelitian mengenai bagaimana representasi perempuan ditampilkan dalam media massa. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi perubahan ikon visual wanita dalam media massa Amerika. The True American Woman, The College Girl, The Vamp, The Flapper merupakan beberapa sosok perempuan yang ditampilkan dalam media massa. Transisi ini tidak hanya berkaitan dengan adanya perubahan peran jender, adanya aspirasi sosial dan ekonomi dalam pertumbuhan kelas menengah di Amerika juga turut mempunyai andil yang besar (Kitch, 2001: 18).Media massa di Indonesia juga mengalami perkembangan, ditandai munculnya segmentasi majalah yang mulai tampak pada tahun 1970-an, salah satu contohnya adalah kehadiran majalah wanita. Majalah wanita dinilai memiliki peran yang sangat responsif dalam perubahan keadaan sosial wanita pada umumnya, hal tersebut karena majalah wanita memiliki spesialisasi market yang jelas dan dalam skala yang kecil (Strinati, 2004: 169-170).Salah satu majalah wanita di Indonesia adalah Femina. Terbit sejak tahun 1972, Femina yang merupakan majalah wanita modern pertama di Indonesia, sampai saat ini dianggap masih bisa mempertahankan eksistensinya. Dilihat dari sampulnya, terdapat perubahan yang terjadi antara sampul tahun 1970-an, 1980-an, hingga sampul pada saat ini.Sampul merupakan salah satu bagian penting dari suatu majalah. Menurut Swann, sampul majalah memiliki dua fungsi utama yaitu harus bisa “menjual” konsep majalah itu secara keseluruhan seperti sama halnya dengan publikasi, serta harus bisa mencerminkan tingkat intelektual dari isi editorial majalah. Pendapat yang hampir sama, dikemukakan oleh Click dan Baird, dijelaskan bahwa cover majalah memiliki fungsi yang lebih personal dibandingkan hanya fungsi intelektual saja. Sampul majalah diibaratkan sebagai wajah dari majalah itu, sama seperti wajah orang yang menjadi indikator utama dari kepribadian seseorang (McKay, 2001: 162).Femina sebagai majalah wanita dinilai mempunyai peran penting dalam membentuk perilaku pembacanya, selain itu dengan tingginya tingkat sirkulasimenunjukkan bahwa Femina diminati oleh perempuan Indonesia dan secara tidak langsung memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup wanita Indonesia. Sebagai salah satu media massa, tak dapat dipungkiri bahwa Femina memiliki sifat yang tidak bebas nilai, karena dianggap sebagai sarana untuk menanamkan pandangan atau nilai-nilai tertentu kepada para pembacanya. Hal tersebut dapat dapat dilihat dari sampul yang ditampilkan, karena dengan sebuah sampul dapat mewakili keseluruhan isi dari suatu majalah.Dari hal-hal tersebut muncul pertanyaan mengenai seperti apakah Femina menggambarkan perempuan dalam sampul majalahnya? Dan mengapa perempuan digambarkan sedemikian rupa seperti pada sampul majalah Femina yang diteliti?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana perempuan digambarkan dalam tanda-tanda, mengungkapkan representasi yang ada tentang mengapa perempuan direpresentasikan sedemikian rupa seperti dalam sampul majalah Femina.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa (Moleong, 2007: 6). Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukan dengan pendekatan semiotika, karena tiap objek budaya membawa pesan tersendiri dan semua praktek budaya bergantung pada makna yang dihasilkan tanda-tanda.Subyek dalam penelitian ini adalah sampul Femina (versi cetak) yang didapatkan melalui browsing di internet. Setelah terkumpul, dipilih tiga sampul majalah dari masing-masing periode. Sampul yang dipilih adalah sampul dalam kondisi yang baik yaitu gambarnya masih terlihat dengan jelas, sehingga dapat dianalisis. Periode dibagi menjadi lima, periode 1970-an, 1980-an, 1990-an, tahun 2000-an, dan 2010 sampai saat ini.Analisis data yang dilakukan menggunakan teknik dari Roland Barthes yaitu tentang dua tingkat tingkatan pertandaan (staggered system) yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang bertingkat yaitu denotasi dan konotasi (Sunardi, 2002: 84-85).PembahasanTataran Denotasi dan Konotasi pada Sampul FeminaDalam menemukan tataran denotasi dan konotasi pada sampul majalah tidaklah sama. Menganalisis tataran denotasi tidak perlu sampai ke unit-unit terkecilnya, sebaliknya untuk tataran konotasi penguraian harus sampai ke unit-unit terkecil. Dengan tahapan; photo trick, pose, objek, fotogenia, estetisisme, dan sintaksis (Barthes, 2010: 5-12).Pada tahun 1970-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan pakaian terusan berwarna kuning tua, dan mempunyai sepuluh tangan yang masing-masing memegang benda tertentu, seperti papan penggilasan, sebuah wajan teflon, sebuah cermin wajah yang berbentuk oval, sebuah benda yangberbentuk hati dan berwarna merah, sebuah jam dinding, sebuah setrika, sebuah celengan dari tanah liat, sebuah buku, sebuah mesin tik, dan memegang sebuah gunting dengan sehelai kain. Di bawah perempuan yang sedang berdiri tersebut, duduk seorang anak perempuan kecil dengan atasan berwarna putih, dan bawahan merah”. Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam melakukan peran ganda. Yang dimaksud peran ganda perempuan yaitu peran perempuan dalam ranah domestik dan dalam ranah publik, peran sebagai ibu dan peran sebagai wanita karir, yang dituntut untuk bisa selalu menyeimbangkan keduanya (Sulqifli, 2010).Sampul kedua, edisi 61 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan berambut pendek mengenakan terusan hitam bermotif bunga sedang duduk di sebuah kursi kayu.” Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar. Model dalam sampul yang penampilannya modern, anggun, dan elegan menunjukkan bahwa dia berasal dari kelas atas, karena untuk dapat tampil sedemikian rupa membutuhkan materi yang tidak sedikit dan biasanya kalangan kelas atas yang berpenampilan seperti itu. Selain itu, sosoknya yang terlihat mendominasi atau punya kekuasaan identik dengan ciri khas seorang nyonya besar.Sampul ketiga, edisi 64 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan. Perempuan pertama mengenakan pakaian terusan tanpa lengan berwarna coklat khaki sedang duduk memegang cangkir. Perempuan kedua mengenakan pakaian dengan potongan yang sama berwarna putih sedang berdiri memegang cangkir.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuandalam sosok seorang sosialita. Sosialita lebih diartikan sebagai sejenis gaya hidup yang mewah, berkumpul dengan kelompok tertentu yang melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak biasa, dan malah sedikit melakukan kegiatan sosial (Hardjanto, 2013)Pada tahun 1980-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 179 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan ekspresi wajah tersenyum, menggunakan atasan berkerah dengan corak leopard, dan menggunakan topi baret berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok yang fun, ekspresif dalam menampilkan dirinya, berani dan percaya diri.Sampul kedua, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan dalam posisi yang berdekatan. Perempuan pertama sedang tersenyum lebar, posisinya di atas, dan mengenakan atasan berwarna pink. Perempuan kedua tersenyum tipis, posisinya di bawah, dan mengenakan atasan berwarna biru.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan dua perempuan sebagai sosok yang perempuan yang bekerja dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda.Sampul ketiga, edisi 15 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan pose berkacak pinggang, mengenakan pakaian batik berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan Indonesia yang berasal dari Jawa dan berkarakter berkarakter berani, kuat, tangguh, agresif, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan cenderung senang untuk tampil beda dengan yang lain.Pada tahun 1990-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 36 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan pakaian dengan model sleeveless berwarna coklat, sedang tersenyum sambil menyilangkan tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan karier yang masuk dalam kelompok white collar dan penampilannya menunjukkan bahwa perempuan ini berasal dari kelas sosial atas.Sampul kedua, edisi 23 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut sleek, mengenakan dress dan anting-anting berwarna merah dengan ekspresi wajah yang tatapan matanya ke depan sambil tersenyum simpul.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan elegan.Sampul ketiga, edisi 48 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan dress berwarna pink dan scarf berwarna sama, sedang tersenyum menatap ke arah kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan yang tampil modern dan glamor dilihat dari pilihan gaya tatanan rambut, pakaian dan aksesoris yang dikenakannya.Pada tahun 2000-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 46 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan atasan bustier dan bawahan abu-abu sedang berpose menghadap kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan cantikyang berpenampilan seksi yang didefinisikan dengan bentuk tubuh yang ramping dan berlekuk, memiliki leher yang jenjang, dan berkulit coklat.Sampul kedua, edisi 35 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan halter neck dress berwarna putih, yang tersenyum dan terlihat seperti sedang menahan gaunnya yang tertiup angin dengan kedua tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan gambaran sosok perempuan melalui sosok ikon terkenal yaitu Marilyn Monroe yang dikenal sebagai ikon kecantikan dan sensual.Sampul ketiga, edisi 03 memiliki tataran denotasi: “terdapat tiga orang perempuan dengan gaya berpakaian yang berbeda terlihat sedang tersenyum dan dalam posisi yang saling berdekatan.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok tiga perempuan yang memiliki hubungan yang erat atau biasa disebut dengan istilah sisterhood.Pada tahun 2010 hingga saat ini terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 22 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua perempuan mengenakan pakaian yang seragam warnanya yaitu kuning dan hitam, terlihat sedang berdiri dan tersenyum.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan dua sosok perempuan yang memiliki hubungan sebagai kakak-adik dan masing-masing digambarkan memiliki kesamaan juga perbedaan.Sampul kedua, edisi 161 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan atasan berkerah biru, dipadukan dengan celana putih, yang sedang duduk melipat tangan dan tersenyum menatap kedepan.” Lalu pada tatarankonotasinya menggambarkan sosok perempuan karier yang dinamis, percaya diri, dan suka memperhatikan penampilannya.Sampul ketiga, edisi 11 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan bustier hitam, celana panjang hitam, dan dipadukan dengan blazer putih, sedang duduk pada sebuah kursi dikelilingi tiga pria yang berdiri di belakangnya.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok perempuan yang memiliki posisi karier yang tinggi yaitu memiliki posisi sebagai atasan.Gambaran Perempuan dalam Sampul Majalah FeminaPeriode tahun 1970-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 01 atau edisi perdana, edisi 61, dan edisi 64. Pada sampul pertama yang menampilkan perempuan dalam peran ganda menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari realita yang ditampilkan. Pada sampul kedua menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar dapat menjadi suatu petunjuk yang menggambarkan keadaan perempuan dan perekonomian Indonesia saat itu. Pada sampul ketiga menunjukkan bahwa Femina menjadi acuan gaya hidup kaum kelas menengah ke atas, mencerminkan keadaan politik dan ekonomi Indonesia pada tahun 1970-an. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam sampul yang dianalisis memiliki kesamaan yaitu ditampilkan lebih dominan peranannya dalam ranah domestik, dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 1980-an menampilkan tiga sampul Femina yaitu edisi 179, edisi 01, dan edisi 15. Pada sampul pertama menunjukkan bahwa sosok perempuan yang ditampilkan berbeda dengan periode sebelumnya dapat menjadi tanda bahwa Femina memiliki “pembaca baru” yang memiliki karakteristikberbeda dengan sebelumnya. Pada sampul kedua yang menampilkan perempuan sebagai pekerja kalangan menengah menunjukkan bahwa sampul tersebut mencerminan keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Pada sampul ketiga yang menampilkan seorang perempuan yang mengenakan aksesoris khas suatu budaya Barat dapat menjadi suatu tanda bahwa di Indonesia sedang terjadi proses masuknya budaya-budaya asing. Pada periode ini perempuan dalam sampul-sampul ditampilkan lebih bervariasi, dilihat dari ekspresi maupun gaya penampilannya.Periode tahun 1990-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 36, edisi 23, dan edisi 48. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan modern menunjukkan bahwa pada saat itu keadaan masyarakat Indonesia khususnya daerah perkotaan sedang berkembang dengan pesat dan segala hal yang berbau modern menjadi daya tarik tersendiri. Pada sampul kedua dan ketiga juga menampilkan hal yang sama, yaitu sosok perempuan modern, hal ini menegaskan bahwa Femina memiliki peran dalam memacu atau memberi inspirasi bagi para pembacanya mengenai gaya hidup. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam tiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan, yaitu menampilkan sosok yang modern dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 2000-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 46, edisi 35, dan edisi 03. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan cantik dan seksi menunjukkan bahwa majalah ini tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu, tapi lebih memberikan acuan ataupandangan lain untuk perempuan Indonesia dalam hal definisi kecantikan. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan sebagai Marylin Monroe secara tidak langsung dapat menunjukkan bahwa di Indonesia sedang terjadi proses globalisasi yang memungkinkan banyak informasi dari luar masuk ke Indonesia, salah satunya dalam bidang hiburan. Pada sampul ketiga yang menggambarkan isu kaum perempuan yaitu sisterhood, menunjukkan bahwa Femina tidak mencerminkan kondisi perekonomian ataupun politik pada tahun tersebut. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis menampilkan isu-isu yang menyangkut kehidupan seputar perempuan.Periode tahun 2010 hingga saat ini menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 22, edisi 161, dan edisi 11. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok dua perempuan kakak beradik tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan karier yang dinamis, meskipun sosok perempuan tersebut tidak bisa mewakili semua perempuan yang bekerja, namun sosok yang ditampilkan dalam sampul tersebut dapat menjadi acuan atau insipirasi. Pada sampul ketiga yang menampilkan perempuan memiliki posisi yang tinggi dalam kariernya dapat mencerminkan keadaan perempuan yang saat ini posisinya sudah semakin setara dengan kaum pria, khususnya dalam bidang pekerjaan. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan dengan periode sebelumnya, yaitu menampilkan isu yang dekat dengan kehidupan perempuan.PenutupKesimpulanAnalisis sampul Femina selama lima periode menunjukkan bahwa pada tiap sampulnya, Femina merepresentasikan perempuan secara berbeda. Perubahan dalam tiap sampul dapat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang sedang terjadi. Pada beberapa edisi sampul Femina yang telah dianalisis, ditemukan bahwa gambaran dalam sampul dapat menjadi semacam petunjuk dari kondisi yang terjadi saat itu. Namun, beberapa sampul lainnya menunjukkan hal yang tidak berhubungan dengan kondisi masyarakat yang sedang terjadi.Femina sebagai media massa mempunyai sifat yang disebut pengkonstruksi realitas, yaitu Femina dapat memilih bagaimana menampilkan suatu keadaan atau realitas yang sedang terjadi. Dalam merepresentasikan sosok perempuan dalam sampulnya, Femina tidak secara “mentah” menampilkan seluruh realitas yang ada.DAFTAR PUSTAKADAFTAR PUSTAKAAhman, Eeng dan Epi Indriani. (2007). Membina Kompetensi Ekonomi. Bandung: Grafindo Media PratamaArivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: KompasBaran, J. Stanley and Dennis K. Davis. (2010). Mass Communication Theory: Foundation, Ferment, and Future (6th ed.). USA: WadsworthBarker, Chris. (2000). Cultural Studies, Theory and Practice. London: SageBarker, Chris. (2004). The Sage Dictionary of Cultural Studies. London: SageBarthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Bayu, W.M dan Gora W.S. (2007). Bikin Film Indie itu Mudah!. Yogyakarta: Andi OffsetBerger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacmillanBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual – Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2002). More Than Meets the Eye: An Introduction To Media Studies (3rd ed.). London: ArnoldChandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basic (2nd ed). New York: RoutledgeCobley, Paul. (2010). The Routledge Companion to Semiotics. New York: RoutledgeDanesi, Marcel. (2002). Understanding Media Semiotics. London: ArnoldDanesi, Marcel. (2004). Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory (3rd ed.). Ontario: Canadian Scholars Press Inc.Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDjojosoekarto, Agung, dkk. (2008). Transformasi Demokratis Partai Politik di Indonesia: Model, Strategi, dan Praktik. Jakarta: Kemitraan PartnershipFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGaffar, Afan. (2004). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGuba, E. G., and Yvonna S. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. In N. K Denzin and Y. S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative Research (pp. 105-117) California: SageHall, Stuart. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SageIbrahim, Idi Subandi dan Hanif Suranto. (1998). Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya.Irianto, Sulistyowati. (2008). Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaKitch, Carolyn. (2001). The Girls on The Magazine Cover: The Origins of Visual Stereotypes in American Mass Media. The University of North Carolina PressLeirissa, RZ, dkk. (1996). Sejarah Perekonomian Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RILittlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi – Theories of Human Communication (9th ed.). Jakarta: Salemba HumanikaMartin, Bronwen and Felizitas Ringham. (2000). Dictionary of Semiotics. London: CassellMaryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: ESISMcKay, Jenny. (2001). The Magazine Handbook. London: RoutledgeMoleong, Lexy. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNitisastro, Widjaja. (2010). Pengalaman Pembangunan Indonesia – Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjaja Nitisastro. Jakarta: KompasNotopuro, Hadjito. (1984). Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia. Jakarta: Ghalia IndonesiaNovita, Windya. (2002). Meraih Inner Beauty Dengan Doa Dan Zikir. Jakarta: GramediaRicklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu SemestaSardar, Ziauddin and Borin van Loon. (1999). Introducing Cultural Studies. Cambridge: Icon BooksSardiman. (2006). Sejarah 3+. Bogor: QuandraSjahrir. (1998). Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaSobur, Alex. (2001). Analisis Teks Media : “Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing”. Bandung: Remaja Rosda KaryaSoeroso, Santoso. (2005). Mengarusutamakan Pembangunan Berwawasan Kependudukan di Indonesia. Jakarta: Buku Kedokteran EGCSumodisastro, Hardjantho. (1985). Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Gunung AgungStrinati, Dominic. (2004). An Introduction to Theories of Popular Culture (2nd ed.). London: RoutledgeSunardi, St. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: KanalSupriatna, Nana. (2006). Sejarah. Bandung: Grafindo Media PratamaSuryochondro, Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu SosialTurner, Graeme. (2003). British Cultural Studies: An Introduction (3rd ed.). London: RoutledgeVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: KencanaWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi 1: Analisis dan Apilkasi. Jakarta: Salemba HumanikaWinarno, Budi. (2008). Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Yogyakarta: Media PressindoSumber Internet:Admin FashionPro Magazine. (2013). Edgy. Dalam http://www.fashionpromagazine.com/?p=6818. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.53 WIBAdnan, Ita. (2012). Nyaman dan Gaya Berbusana Kerja. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Busana/Konsultasi/Nyaman-dan-Gaya- Berbusana-Kerja. Diunduh pada 21 Juni 2013 pukul 08.16 WIBAmanah. (2009). Bukaan Atas Versus Bukaan Depan. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/03/75067 /Bukaan-Atas-Versus-Bukaan-Depan. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 21.00 WIBAnna, Lusia Kus. (2008). Psikologi dan Arti Warna. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2008/10/09/15551015/psikologi.dan.arti. warna. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Femina. Dalam http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/570. Diunduh pada 29 Agustus 2012 pukul 19.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Sejarah Majalah - Dari Masa Daniel Defoe hingga Era Internet. Dalam http://www.anneahira.com/sejarah-majalah.htm. Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 21.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Show Your Wild Side with Animal Print Sunglasses. Dalam http://www.optikmelawai.com/style_idea/show-your-wild-side- with-animal-print-sunglasses/9111350/. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 06.30 WIBAnonymous. (2008). Scarf Melilit Cantik. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/6035-scarf_melilit_cantik. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.45 WIBAnonymous. (2012). Perjalanan „Membaca‟ Zaman. Dalam http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hangat/perjalanan.membaca.zam an/005/007/175 . Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 23.00 WIBAster, Altifanidya. (2013). Mencontek Gaya Sanggul Modern Pengantin Barat. Dalam http://www.teruskan.com/10370/mencontek-gaya-sanggul-modern- pengantin-barat.html#_. Diunduh pada 29 April 2013 pukul 19.42 WIBBintaranny, Kadek. (tanpa tahun). Rahasia Dibalik Bahasa Tubuh. Dalam http://informasitips.com/rahasia-dibalik-bahasa-tubuh. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 17.20 WIBBonang, Jimmy. (2011). Tips Stylish Dengan Warna. Dalam http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/21/tips-stylish-dengan- warna-397399.html diunduh pada 28 April 2013 pukul 20.38 WIBChoiron. (2012). Cincin Penyelamat Para Mahasiswi. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/29/cincin-penyelamat-para- mahasiswi-497264.html. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 19.45 WIBDila. (2008). Membaca Bahasa Tubuh. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2008/04/08/204/Memb aca-Bahasa-Tubuh. Diunduh pada 23 Aril 2012 pukul 22.30 WIBDini. (2013). 3 Gaya untuk Busana Bahan “Chiffon”. Dalam http://female.kompas.com/read/2013/05/06/22560699/3.Gaya.untuk.Busan a.Bahan.Chiffon?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=K anawp. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.29 WIBDjumena, Erlangga. (2010). Perempuan dan Empati terhadap Sesama. Dalam http://female.kompas.com/read/2010/11/23/21440574/perempuan.dan.emp ati.terhadap.sesama. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 04.37 WIBEsther. (2013). Budaya Jawa Tidak Butuh Diubah Menjadi Islami. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/13/budaya-jawa-tidak-butuh- diubah-menjadi-islami-519190.html. Diunduh pada 30 Mei 2013 pukul 80.30 WIBFazriyati, Wardah. (2011). Kreatif Menjadi Nyonya Rumah Sekaligus Berwirausaha. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/25/18474719/Kreatif.Menjadi.Ny onya.Rumah.Sekaligus.Berwirausaha. Diunduh pada 16 Maret 2013 pukul 19.00 WIBFelicia, Nadia. (2011). Trik Berbusana Ibu Bekerja. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/24/14330058/Trik.Berbusana.Ibu. Bekerja. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 02.31 WIB.Franka. (2011). Invansi Rambut Pendek. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Kecantikan/Rambut/Invasi-Rambut- Pendek. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 21.45 WIB\Frederika, Mellyana. (tanpa tahun). Scarf. Dalam http://timetoscarf.com/serba- scarf/scarf. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.28 WIBIrwansyah, Ade. (2011). Memaknai Kulit Coklat Agnes Monica. Dalam http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/17610-memaknai-kulit-coklat- agnes-monica.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.02 WIBHardjanto, Yustinus Sapto. (2013). Sosialis vs Sosialita. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/27/sosialis-vs-sosialita- 554876.html. Diunduh pada 27 April 2013 23.30 WIBHarmandini, Felicitas. (2009). Padu-padan Busana Berwarna Netral. Dalam http://female.kompas.com/read/2009/10/27/11542367/function.require. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 22.44 WIBHarmandini, Felicitas. (2011). Make-up Polos untuk Wajah Segar Alami. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/07/15/17211565/Make- up.Polos.untuk.Wajah.Segar.Alami. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 16.00 WIBHeka, Yudha. (2012). 11 Makna Warna untuk Personality Anda. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/14/11-makna-warna-untuk- personality-anda-457313.html. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.13 WIBHendramartono, Wijoyo. (tanpa tahun). Tips Menata Beranda Rumah. Dalam http://www.arsitekonline.com/articles/arsitek-tips-menata-beranda- rumah.html. Diunduh pada 11 Maret 2013 pukul 22.30 WIBHernasari, Putri Rizqi. (2012). Ini Dia 15 Topi Paling Khas dari Seluruh Dunia. Dalam http://travel.detik.com/read/2012/12/17/085544/2120062/1382/ini- dia-15-topi-paling-khas-dari-seluruh-dunia?v771108bcj. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBHestianingsih. (2013). Trik Berbusana dari Tyra Banks untuk Tampilkan Sisi Tangguh Wanita. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2013/02/07/172948/2164148/233/trik- berbusana-dari-tyra-banks-untuk-tampilkan-sisi-tangguh-wanita. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 18.45 WIB Junaidi, A. (2006). INDONESIA: 'Femina' receives Asia Media award. Dalam http://www.asiamedia.ucla.edu/article.asp?parentid=46302 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 17.00 WIBKrisnamurti, Dahlia. (2012). Rahasia di balik Keunikan Bentuk Alis. Dalam http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1872939/rahasia-di-balik- keunikan-bentuk-alis#.UXhxuqJmiSo. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBKristiani, Florentina Lenny. (tanpa tahun). Mengenal Tradisi Minum Teh. Dalam http://klubnova.tabloidnova.com/KlubNova/Artikel/Aneka-Tips/Tips- Rumah/Mengenal-Tradisi-Minum-Teh. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 23.00 WIBKurniawan, Iwan dan Nina Raharyu. (2013). Kelas Menengah Indonesia Bakal Tembus 170 Juta Orang. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/407013-kelas-menengah- indonesia-bakal-tembus-170-juta-orang. Diunduh pada 6 Juni pukul 05.42 WIBLegita. (tanpa tahun). Manfaat Sosial Teh. Dalam http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/manfaat.sosial.teh/001/007/465. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 22.00 WIBMadjid, Aidil Akbar. (2011). Logam Mulia. Dalam http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/logam-mulia/. Diunduh pada 14 Maret 2013 pukul 21.45 WIBMahardi, Karina. (2012). 6 Trik Menata Rambut Dengan Cepat di Pagi Hari. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/10/08/070257/2056894/234/6- trik-menata-rambut-dengan-cepat-di-pagi-hari. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 19.00 WIBMaya. (2012). Oxford Shoes, Cara Tampil Beda. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2012/07/18/1328 /Oxford-Shoes-Cara-Beda-Tampil-Beda. Diunduh pada 16 Mei 2013 pukul 23.32 WIBNatalia, Maria. (2012). LSI: Politik Indonesia Cenderung Memburuk. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2012/02/19/17205490/LSI.Politik.Indone sia.Cenderung.Memburuk. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 05.59 WIBNugraheni, Mutia. (2013). Tampil Lebih Seksi dengan Atasan Sheer. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/389631-tampil-lebih-seksi-dengan-atasan-- i-sheer--i-. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.24 WIBNugraheni, Mutia dan Tasya Paramitha. (2013). Gaun Halter Bikin Leher Seksi. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/400292-gaun-halter-bikin-leher- seksi. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.08 WIBNurcahyani, Dwi Indah. (2012). Kiat Tampil Elegan Berbusana Animal Print. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2012/02/15/29/576379/kiat- tampil-elegan-berbusana-animal-print. Diunduh pada 26 April 2013 pukul 15.30 WIBOcktaviany, Tuty. (2010). Tren Alis dari Masa ke Masa. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2010/02/28/29/307659/tren-alis-dari- masa-ke-masa. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.30 WIBOktaviani, Kiki. (2011). Cara Membangun Kepercayaan Diri saat Bekerja. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2011/01/06/113624/1540414/857/cara- membangun-kepercayaan-diri-saat-bekerja. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 22.00 WIBOktaviani, Kiki. (2012). 5 Keuntungan Menggunakan Lipstik Warna Merah. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/11/13/160115/2090584/234/5- keuntungan-menggunakan-lipstik-warna-merah. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 19.53 WIBPratama, Adinindra. (2011). Macam-Macam Model Jeans. Dalam http://dunia.news.viva.co.id/news/read/262093-macam-macam-model- jeans. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 21.42 WIBPribadi, Andy. (tanpa tahun). Riasan “Cat Eye” Tetap Ngetren. Dalam http://wartakota.tribunnews.com/detil/berita/104507/Riasan-Cat-Eye- Tetap-Ngetren. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 19.30 WIBPurwanti, Niken Ari. (2012). Hidup dan Tragedi Marilyn Monroe: Bom Seks Abad ke-20 (I). Dalam http://www.solopos.com/2012/09/16/kisah-kasus- hidup-dan-tragedi-marilyn-monroe-bagian-i-329321. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.23 WIBRona. (2011). Nilai Sejarah yang Mahal. Dalam http://www.koran- jakarta.com/index.php/detail/view01/70564. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.18 WIBRona. (2012). Aksesori Mencekik Leher yang Jadi Trend: Choker Band. Dalam http://m.koran-jakarta.com/?id=99516&mode_beritadetail=1. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.26 WIBRatmilia, Bani. (2013). Berbicara Santun itu Baik. Dalam http://bahasa.kompasiana.com/2013/01/19/berbicara-santun-itu-baik- 526193.html. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBSetyanti, Christina Andhika. (2013). 5 “Fashion Statement” Ikonik Margaret Thatcher. Dalam http://sains.kompas.com/read/2013/04/09/09124792/5.Fashion.Statement.I konik.Margaret.Thatcher. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.00 WIBSubhan, Muhammad. (2011). Refleksi Akhir Tahun, 80 Persen Wartawan Pemeras? Dalam http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/12/30/refleksi-akhir-tahun-80-persen-wartawan-pemeras- 425934.html . Diunduh pada 6 Januari 2013 pukul 22.00 WIBSulqifli. (2010). Peran Ganda Perempuan Menciptakan Pegeseran Nilai dalam Keluarga. Dalam http://www.unm.ac.id/berita/19-berita/30-peran-ganda- perempuan-menciptakan-pergeseran-nilai-dalam-keluarga.html. Diunduh pada 16 April 2013 pukul 21.00 WIBSusanto, A. B. (tanpa tahun). Citra Profesional Penunjang Karier. Dalam http://www.jakartaconsulting.com/art-13-02.htm. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 10.17 WIBTim Central Java Tourism. (tanpa tahun). Batik. Dalam http://www.central-java- tourism.com/cult-heri-batik.php. Diunduh pada 16 Februari 2013 pukul 23.30 WIB.Tim Men‟sHealth. (tanpa tahun). Sporty dengan Sneakers. Dalam http://www.menshealth.co.id/style.grooming/detil/sporty.dengan.sneakers/ 005/001/10. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 01.36 WIBTim Redaksi Femina. (tanpa tahun). Motif Mania. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.news/motif.mania/001/001/142. Diunduh pada 12 Maret 2013 pukul 21.00 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Tampil Gaya Dengan Kemeja Putih. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/tampil.gaya.dengan.kemeja.put ih/001/005/53. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.30 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Istilah Kalung. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/istilah.kalung/001/005/78. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 21.18 WIBTim Redaksi Femina. (2012). Transformasi Aksesori. Dalam http://m.femina.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=003&a r=129. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 21.45 WIBVemale.com (2012). Sexy Pantsuit Ala Evan Rachel Wood. Dalam http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/10712-sexy-pantsuit-ala- evan-rachel-wood.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 2.50 WIBWahyuni, Nurseffi D. (2012). 10 Kesalahan Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja. Dalam http://bisnis.liputan6.com/read/469090/10-kesalahan- bahasa-tubuh-saat-wawancara-kerja. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 07.57 WIBWiana, Ketut. (tanpa tahun). Hari Raya Saraswati. Dalam http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html. Diunduh pada 13 April 2013 pukul 17.30 WIBWidyarsih, Widha. (2012). Buku Ajar Aksesoris Pelajar. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/11/buku-ajar-aksesoris-pelajar- 454036.html. Diunduh 16 April 2013 pukul 18.00 WIBWijaya, Bambang Sukma. (2008). Teori – Teori Semiotika, Sebuah Pengantar. Dalam http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori- semiotika-sebuah-pengantar/ . Diunduh pada 31 Oktober 2012 pukul 20.00 WIBYani, C. (2010). Marylin Monroe dan Kisah Cinderella. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/07/101279/Mar ylin-Monroe-dan-Kisah-Cinderella. Diunduh pada 28 Maret 2013 pukul 15.29 WIBYusuf, Iwan Awaluddin. (2010). Memotret Industri Majalah Bersegmen di Indonesia. Dalam http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/27/memotret-industri- majalah-bersegmen-di-indonesia/. Diunduh pada 28 Agustus 2012 pukul 21.00 WIBThe Oxford Dictionary. http://oxforddictionaries.com/definition/english/representation?q=represen tation. Diunduh pada tanggal 29 Januari 2013 pukul 20.30 WIBSkripsi :Rovi‟atin, Nur. (2010). Rasisme Warna Kulit dalam Cover Majalah Kartini. Skripsi. Universitas DiponegoroHemas, Nur Lintang. (2012). Negosiasi Identitas Punkers dengan Masyarakat Budaya Dominan. Skripsi. Universitas DiponegoroJurnal :Hakim, Lukmanul. (2011). Perkembangan Tenaga Kerja Wanita di Sektor Informal: Hasil Analisa dan Proxy Data Sensus Penduduk. Among Makarti, 4(7)Hidayat, Deddy N. (2002). Metodologi Penelitian dalam Sebuah Multi-Paradigm Science. Mediator Jurnal Komunikasi, 3(2)Mubah, Safril. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal UNAIR, 24(4) Wiratmo, Liliek Budiastuti dan Mochamad Gifari. (2008). Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita. Dalam ejournal.stainpurwokerto.ac.id/index.php/.../73 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 20.00 WIB Sumber Lain: Buku Peringatan Ulang Tahun majalah Femina ke-25. (tanpa tahun).

Page 5 of 157 | Total Record : 1563