cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias, Senandung di Atas Awan Daeng Lanta Mutiara Rato R; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.306 KB)

Abstract

Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias,Senandung di Atas AwanJUDUL : Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papuadalam Film Denias, Senandung di Atas AwanNAMA : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Perkembangan film Indonesia menjadikan para pembuat film semakin kreatifmengangkat tema dan subjek film, salah satunya tentang anak-anak pedalaman.Ini yang membuat Alenia Pictures memproduksi Denias, Senandung di AtasAwan. Film ini menjadi tema segar di tengah sedikitnya film anak-anak nasional,yang semuanya berlatar kota metropolitan. Film yang diproduksi tahun 2006 inimenceritakan perjuangan anak-anak pedalaman Papua mengejar pendidikan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok anak-anakpedalaman Papua. Dengan tipe penelitian kualitatif, penelitian menggunakananalisis semiotika. Teknik analisis data menggunakan konsep Kode-Kode Televisiyang dikemukakan John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasidianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk levelideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak pedalaman Papuadigambarkan sebagai Other, seperti halnya stereotip terhadap ras kulit hitam.Stereotip ini digambarkan primitif, miskin, bodoh, dan suka berkelahi. Sangatmungkin bagi pembuat film untuk mengonstruksi realitas agar dapatmenempatkan ideologi-ideologi. Di sini, pembuat film menggunakan anak-anaksebagai alat penyalur ideologi dominan. Pendidikan membuat peradaban danpemikiran anak-anak pedalaman lebih modern. Film ini juga menonjolkan sisinasionalis seorang anak pedalaman Papua, serta menjunjung peran militer secarapositif. Konstruksi realitas dilakukan dengan menghilangkan fakta tentang konfliksosial politik di Papua. Selain berusaha mengajak penonton anak-anak semangatbersekolah, film ini juga menyiratkan makna yang kuat bahwa Papua adalahbagian dari wilayah Indonesia yang tidak boleh dipisahkan.Kata kunci: film, representasi, anak-anak, PapuaTITLE : Representation of Papua Inland Children Figure onDenias, Senandung di Atas AwanNAME : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to convey messages, but also to leadideas to public. Indonesia movie development causes the movie makers gettingcreative in raising movie themes and subjects, one of them is about the inlandchildren. This is the reason why Alenia Pictures produced Denias, Senandung diAtas Awan. The movie becomes a fresh theme in the middle of some nationalchildren movies, which all are set in metropolitan cities. The movie was producedin the year 2006, tells about the Papua inland children who struggle to reacheducation.The research aims to determine the representation of Papua inland childrenfigure. With qualitative type, the research uses semiotics analysis. Data analysistechnique applies the concept of Television Codes put forward by John Fiske. Theanalysis is applied by three levels, namely reality level, representation level, andideology level. Reality and representation level are sintagmatically analyzed,whereas paradigmatically analyzed for ideology level.The final results of the research find out that Papua inland children aredescribed as Other, just as the stereotypes of black race. The stereotypes aredescribed as primitive, poor, foolish, and fight a lot. It is very possible for moviemaker to construct reality so they can put down ideologies. Here, movie makeruse the children as a medium for dominant ideology. Education makes theircivilization and ideas get a little more modern. The movie also shows up theirnationalist side, and positively give a full respect for military role as well. Theconstruction of reality is attempted by missing the facts about social politicconflict in Papua. Beside attempting to invite the children audience to be schoolspirited,the movie implies a strong meaning that Papua is part of Indonesiaterritories that may not be separated.Keyword : movie, representation, children, PapuaPENDAHULUANMedia audio visual telah menjadi bentuk hiburan yang banyak digunakankhalayak, salah satunya film. Selain berfungsi menghibur, film diproduksi sebagaipenyalur pesan dari pembuat film kepada khalayak. Dalam perkembangan filmIndonesia pada kurun dekade terakhir, pembuat film semakin kreatifmengeksplorasi tema-tema baru. Tak hanya menyampaikan pesan, pembuat filmpun meletakkan ideologi-ideologi. Tujuannya selain agar penonton menerimapesan yang dimaksud, juga agar ideologi-ideologi tersebut terserap dan menempeldi benak penonton. Ini menjadikan film sebagai salah satu media komunikasimassa yang efektif.Pembuat film tentu menyadari benak penonton anak-anak dengan mudahmenyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Namun, pembuat film juga perlumemilih tema yang sesuai dan disukai anak-anak, yakni film yang mengandungpesan moral dan bertema petualangan. Menurut analisis Heru Effendy (2008: 28),kelompok remaja maupun anak adalah sasaran empuk bagi film-film denganmuatan pendidikan yang baik. Dari segi ekonomis, bisa dideskripsikan bahwalebih dari separuh penonton film Indonesia di bioskop saat ini adalah remaja. Disisi lain, jumlah anak-anak tidak sebanyak remaja, hingga film anak-anak yangdiproduksi tidak sampai 5% dari total produksi film Indonesia.Rumah produksi Alenia Pictures menemukan celah baru yang selama inibelum dirambah film lain. Film Denias, Senandung di Atas Awan menjadi debutAlenia sekaligus film anak-anak pertama yang menyorot kehidupan di pedalamanPapua.Film Indonesia tampaknya masih berkiblat pada perfilman Hollywood, dimana kehidupan pedalaman ditampilkan secara kurang beradab atau masihprimitif. Terlebih pada ras kulit hitam, secara global mereka ditampilkan sebagaisosok yang identik dengan kekerasan, bodoh, miskin, dan primitif. Tak jauhberbeda dengan film tentang pedalaman Papua, pembuat film masihmengadopsi—walau walau tak seesktrem—stereotip-stereotip kulit hitamHollywood tersebut.Adalah kewenangan pembuat film untuk membentuk seperti apa realitas dilayar, terlepas dari sesuai tidaknya dengan dunia nyata. Demikian juga dalam filmDenias, Senandung di Atas Awan, menceritakan keinginan anak-anak pedalamanuntuk belajar, meski hanya di sekolah darurat yang berbentuk Honai sederhana.Denias dan teman-temannya diceritakan sangat akrab dengan seorang TNI-AD,dikenal dengan nama Maleo, yang bertugas di desanya.Namun tak dapat dipungkiri, sebagai daerah yang sedang mengalamikonflik, Papua ada dalam pengawasan TNI. Menurut laporan Human RightsWatch (HRW) pada 2007, wilayah pegunungan/dataran tinggi Papua telah lamamenjadi wilayah konfrontasi antara militer dan polisi Indonesia dengan sel-selkecil Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah organisasi politik bawah tanahyang didirikan sejak tahun 1965. Organisasi rahasia ini telah berulang kalimelakukan serangan terhadap instalasi militer Indonesia, sementara militerIndonesia dengan gencar melakukan sweeping hingga ke daerah-daerah palingterpencil untuk memberantas kaum yang disebut pemberontak ini. Sweeping yangdilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak jarang disertai penjarahan,perusakan barang milik penduduk setempat bahkan tindak kekerasan hinggapemerkosaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Menurut laporan terbaruHRW, pengawasan militer untuk daerah dataran tinggi Papua jauh lebih intensifdari daerah-daerah lain di Papua(http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses 4 Juli 2012).Mengesampingkan fakta-fakta tentang perlakuan kekerasan TNI di tanahPapua terhadap rakyat sipil, dalam Denias, Senandung di Atas Awan, sosok TNIADyang dipanggil Maleo (diperankan Ari Sihasale) justru sangat akrab dengananak-anak. Maleo merupakan salah satu tokoh panutan Denias yang mengantarsemangatnya mengejar mimpi ke sekolah fasilitas di kota.Di balik kesuksesan Denias, Senandung di Atas Awan menyentuh emosipenonton dalam kegigihan Denias untuk menuntut ilmu, film ini justrumenempatkan—tak hanya orang dewasa Papua seperti film-film sebelumnya,tetapi juga—anak-anak dalam ke-inferioritas-an. Alenia Pictures nampaknyaberhasil menggambarkan keoptimisan seorang anak meraih pendidikan sembarimenjual keibaan terhadap anak-anak Papua itu sendiri. Yang artinya, realitas yangdiadaptasi dari film ini berhasil dikonstruksi sedemikian rupa sehinggamembelokkan stereotip-stereotip miring terhadap orang-orang Papua, menjadilebih beradab lewat sosok anak-anak yang mengejar pendidikan. Namun tetap,terpinggirkan dan inferior bahkan di kampung halamannya sendiri.Berdasarkan sosok orang Papua yang ditampilkan sacara tidak mengancamseperti ini, maka penelitian merumuskan permasalahan tentang representasi sosokanak-anak pedalaman Papua dalam film Denias, Senandung di Atas Awan.ISIPenelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika,yakni menganalisis teks media sebagai suatu kesatuan struktur untuk melihat danmembaca makna yang terkandung di balik teks. Untuk meneliti respresentasisendiri menggunakan tanda (gambar, bunyi dan lain-lain) untuk menghubungkan,menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera,dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu (Danesi, 2010: 24).Data yang diperoleh untuk melakukan penelitian ini berdasarkanpengamatan dan pengkajian pada film Denias, Senandung di Atas Awan, denganteknik analisis kode-kode televisi John Fiske. Kode-kode ini meliputi tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Analisis ketiga leveltersebut lebih lanjut akan mengungkapkan bagaimana pembuat filmmerepresentasikan sosok anak-anak pedalaman Papua melalui tanda-tanda,bagaimana realitas dikonstruksi untuk mencapai makna yang mengandungideologi pembuat film.Memahami bagaimana media (termasuk film) merepresentasikan realitas,Croteau dan Hoynes (2000: 214) menjelaskan dalam tiga gagasan. Pertama,representasi bukanlah realitas. Ada proses seleksi di mana terdapat aspek-aspekyang ditonjolkan atau diabaikan. Kedua, media tidak merefleksikan dunia nyata.Disebabkan keterbatasan waktu, sumber daya, atau alasan lain yang tidakmemungkinkan. Ketiga, penggunaan kata nyata. Dalam perspektif konstruksionis,adanya pembingkaian isu menyebabkan representasi realitas tidak pernah benarbenarnyata.Bagi penonton anak-anak yang terbiasa dengan pemandangan kotametropolitan, film ini memiliki daya tarik sendiri. Pembuat film sengajamengenalkan Papua dari pemandangan etnografi yang indah dan eksotis,ditambah dengan budaya dan penampilan fisik orang Papua yang berbeda darikita. Perbedaan yang ditonjolkan ini seperti perulangan dari stereotip kulit hitamyang biasa dilihat di film Hollywood, yang oleh Donald Bogle dalam Hall (1997:251) disebut sebagai Other. Dari lima tipe stereotip yakni Tom, Coon, Mullato,Mammies, dan Bad Bucks, dua diantaranya terdapat di film ini. Sosok Denias yanglugu jelas dikategorikan pada tipe Tom. Karakternya adalah anak baik hati danpatuh, sering dianiaya Noel, tidak pernah melawan orang kulit putih(direpresentasikan pada sosok Maleo, Pak Guru, Ibu Gembala, dan Angel), gigihnamun pasrah ketika menyadari usahanya tidak membuahkan hasil. Karakter inicukup berhasil diperankan dengan baik oleh Albert Fakdawer hingga film inimendapat banyak pujian karena sukses menarik simpati penonton. Tapisebaliknya, karakter Noel yang suka berbuat onar mendekati tipe Bad Bucks.Meskipun di akhir cerita, anak nakal ini kapok dan menjadi anak baik sepertiDenias.Pengamatan menemukan bahwa pembuat film dekat dengan pemikirandominan bahwa Papua masih inferior. Tampak dari bagaimana realitas yangdirepresentasikan masih terkait dengan stereotip tentang Papua. Stereotip terkaitdengan pandangan atau judgment atas identitas, baik kondisi fisik, jender, ras,maupun politik. Sederhananya, menurut Richard Dyer (dalam Hall 1997: 257),stereotip didefenisikan sebagai karakteristik yang simpel, gamblang, dapat diingat,mudah diserap, umum dikenal tentang seseorang atau kelompok tertentu.Meskipun melalui karakter polos anak-anak, kepedalaman mereka ditonjolkandengan budaya dan adat yang primitif. Hal utama yang mudah ditangkap sebagaisisi primitif di film Denias, Senandung di Atas Awan tampak menonjol dalampenampilan fisik sebagai penanda tubuh. Bahkan kamera sering mengambilgambar penampilan ini secara close up. Penduduk lokal di latar pedalamantampak menonjol dengan kulit hitam dan penampilannya yang hampir telanjangkarena hanya berpakaian untuk menutupi alat kelaminnya saja. Pakaian ini berupakoteka pada laki-laki, dan sadli pada perempuan. Semuanya bertelanjang dada.Perbedaan dalam merepresentasikan tubuh ini menjadi bukti nyata akan perbedaanras. Ras dianggap sebagai fakta sosial, sebuah bukti diri atas identitas dan karaktermanusia. Di sisi lain, pembuat film memperhatikan sisi estetika berpakaian yangmenyesuaikan budaya kota, yaitu dengan memperlihatkan pakaian menutup auratpada tokoh-tokoh utama film. Selain itu, kehidupan pedalaman Papua yang miskinjuga ditampilkan di film ini. Diceritakan dari hambatan Denias dan Enos masuksekolah fasilitas di kota karena mereka bukan anak siapa-siapa.Kurangnya akses pendidikan di pedalaman direpresentasikan pada sosokanak-anak yang terkesan bodoh karena kepolosannya. Namun di dalam film,kesan bodoh ini justru dijadikan bahan lelucon untuk penonton. Bahkan Deniasyang tergolong paling cerdas di antara teman-teman desanya tidak bisamembedakan sapi, anjing, dan babi, serta tidak bisa menyusun peta Indonesiadengan benar. Sementara itu, stereotip keras pada watak orang Papua pundirepresentasikan pada anak-anak pedalaman ini. Denias dan Noel diceritakanbermusuhan dan mudah terpancing emosi yang berbuntut adu fisik. Teman-temanmereka, bukannya melerai, justru menonton perkelahian mereka dengan senang.Sedangkan secara tersirat, pembuat film memasukkan ideologi ataupandangan dominan. Lewat sosok anak-anak penuh semangat sekolah yangdisajikan di film Denias, Senandung di Atas Awan, Papua terlihat sangat damai.Namun di sinilah ideologi diletakkan, dan dikonstruksi melalui representasi,hingga memunculkan makna baru bagi penonton. Fiske (1987: 11) menyatakankita ini telah menjadi generasi pembaca yang dikonstruksi oleh teks, bahkanmenurut Althusser (1971), konstruksi subjek-dalam-ideologi merupakan praktikideologi utama pada masyarakat kapitalis, yang kemudian disebut ideologidominan. Ini mengapa banyak penonton simpati dengan film ini, karena maknadari pesan pembuat film tersalurkan.Adanya tokoh Maleo, Ibu Gembala, dan Pak Guru menjadi tandaberlakunya ideologi dominan di film ini. Ketiganya tokoh penting bagi hidupDenias, ketiganya pula diceritakan berasal dari Jawa. Di sini pembuat filmmemposisikan Jawa sebagai role model bagi anak-anak pedalaman Papua.Terdapat oposisi biner antara pemikiran anak-anak dan orang dewasa dipedalaman Papua tentang Jawa. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua sudahlebih terbuka, maju, dan modern dibanding para orang tua yang kolot. Deniasmemandang belajar di sekolah adalah sebuah keharusan. Denias dan temantemannyabahkan mendambakan seragam merah-putih agar bisa seperti anak-anaksekolah di Jawa. Sementara ayah Denias, Samuel, dan kepala suku berkerasmenilai belajar adalah kewajiban anak-anak di Jawa, tak perlu diterapkan dipedalaman Papua. Ideologi yang disampaikan dalam film ini adalah pandanganmodernisme, yaitu dengan menyetarakan Papua dengan Jawa, tetapi tetapmerendahkan Papua dengan stereotip-stereotip atas Other yang mengacu padarasisme.Ada pun bagi penonton dewasa yang sedikit banyak mengertikompleksnya konflik yang terjadi di Papua, representasi ke-Indonesia-an yang adadi film ini jelas sebuah konstruksi yang berlebihan. Namun bagi penonton anakanak,yang dalam pelajaran di sekolahnya dipatenkan bahwa Papua, yang dulubernama Irian Jaya ini, adalah bagian dari Republik Indonesia, representasinasionalisme di film ini tidak mengada-ada. Berdasarkan argumen Ernest Gellnerdan Hobsbawn dalam Billig (2002: 19), nasionalisme sangat terkait dengankonsep negara-bangsa, yang mana di kondisi ini prinsip politik terlihat alami.Lingkup negara-bangsa adalah segala bentuk karakter dasar tentang modernitas.Sementara sejarawan Watson dan Johnson menyebut munculnya rasa patriotismedan loyalitas. Begitu nasionalisnya seorang Denias, bocah ini hormat di hadapanpeta Indonesia dari kertas karton meski dengan susunan pulau yang salah. Deniasjuga menyanyikan reffrain lagu Indonesia Raya dengan baik, walaupun denganlafal yang keliru: Endonesa. Anak-anak pedalaman ini pun senang bukan kepalangsaat Maleo memberikan masing-masing seragam merah-putih.Dari Maleo pula anak-anak ini belajar tentang Indonesia. Peran Maleo difilm ini tidak menunjukkan fungsi seorang tentara yang bertugas, karenakeberadaannya di desa Denias lebih pada misi sosial. Satu-satunya identitastentara Maleo yang terlihat jelas hanya pada saat ia mengenakan seragamprofesinya dengan lengkap. Menengok beberapa pemikiran Louis Althusser(1969), ideologi diproduksi pada subjek, seperti halnya pemaknaan representasi.Pada masyarakat kapitalis, Althusser menjelaskan pendekatan konseptual peranideologi (Wayne, 2005: 88). Repressive State Apparatus (RSAs) atau AparatusNegara Represif dan Ideological State Apparatus (ISAs) yaitu Aparatus NegaraIdeologis. Kedua pendekatan ini bersama-sama menyokong kekuatan negarauntuk kelas penguasa, dan mempertahankan status quo.Fungsi militer yang ditugaskan di Papua antara lain mengawasi aktivitaswarga setempat. Dari pemberitaan media, kerap terjadi bentrokan antara militerdengan warga sipil. Bahkan berbagai bentuk penindasan hingga pembantaiandilakukan satuan militer, mengakibatkan penderitaan dan tekanan dialami wargasipil. Anak-anak pun menjadi sulit mendapat akses pendidikan karena ketatnyaoperasi militer dijalankan. Dari sini terlihat pendekatan pertama Althusser.Tentara berkuasa, menguasai negara.Anak-anak pedalaman Papua digunakan sebagai alat untuk mengangkatkekuatan militer di Papua, tapi dengan menyinggung sisi lembut seorang militer,yang selama ini identik keras. Jelas bahwa ideologi di sini adalah militerismepemerintah Indonesia, direpresentasikam dengan menjunjung tinggi sosok militersebagai aspek yang ditonjolkan. Dan mengabaikan aspek lainnya seperti apasesungguhnya fungsi militer di tanah Papua, karena dalam film sama sekali tidakditampilkan konflik nyata sedikit pun.PENUTUPFilm ini tidak hanya berusaha menekankan pentingnya pendidikan bagianak-anak, termasuk anak-anak pedalaman Papua. Tetapi juga menyajikankebudayaan Papua, memberi contoh bagaimana menjadi anak Indonesia, hinggamemperkenalkan sosok militer. Penelitian menemukan representasi sosok anakanakpedalaman Papua, juga ideologi-ideologi yang tersimpan di baliknya.a. Anak-anak pedalaman Papua dianggap sebagai Other, yang membedakanmereka dengan anak-anak kita. Perbedaan tidak hanya diperlihatkan dariwarna kulit, tetapi juga kebudayaan, ekonomi, intelektual, dan perilaku.Anak-anak pedalaman berkulit hitam ini direpresentasikan dengankebudayaan primitif, keluarga miskin, tidak pintar, dan suka berkelahi.Representasi atas ke-other-an ini menyiratkan pandangan tentang perbedaanras. Bahwa ras orang Papua masih dianggap lebih rendah dan tidak seberadabkita yang tinggal di Jawa, misalnya.b. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua direpresentasikan sudah lebih majudengan menyadari pentingnya pendidikan. Semangat belajar dan menuntutilmu hingga ke kota merupakan bentuk kemajuan peradaban anak-anakpedalaman Papua. Di samping itu, semangat belajar Denias dan teman-temandidorong oleh orang-orang pendatang dari Jawa. Pembuat film memasukkanideologi modernisme, sebagai upaya menyetarakan peradaban Papua denganJawa.c. Pada sosok Denias, anak pedalaman Papua direpresentasikan sebagai pribadiyang nasionalis. Bentuk kecintaannya pada negara ditonjolkan lewatpenghormatan terhadap wilayah Indonesia, seragam sekolah merah-putih,lagu Indonesia Raya, dan upacara bendera. Dengan representasi ini, pembuatfilm mengambil jalan aman, yakni menghilangkan konflik sosial politik diPapua, dan meletakkan nasionalisme sebagai ideologi dominan. Untukmematenkan Papua sebagai wilayah yang tak terpisah dari Negara KesatuanRepublik Indonesia.d. Keseharian hidup anak-anak pedalaman Papua digambarkan tidak lepas dariperan militer. Film merepresentasikan anak-anak pedalaman Papua yangberteman baik dengan TNI-AD yang bertugas di wilayahnya. Keakraban diantara mereka membentuk pencitraan positif militer di Papua. Maka dalamrepresentasi ini terdapat ideologi militerisme, yang mana penontonmenangkap makna bahwa militer adalah pengayom rakyat Papua, berdedikasitinggi untuk misi sosial, antara lain mengusahakan pendidikan yang layakbagi anak-anak pedalaman Papua.DAFTAR PUSTAKABillig, Michael. 2002. Banal Nationalism. London: SAGE Publications.Croteau, David dan William Hoynes. 2000. Media Society: Industries, Images andAudiences. Thousand Oaks: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Effendy, Heru. 2008. Industri Perfilman Indonesia: Sebuah Kajian. Jakarta:Erlangga.Fiske, John. 2001. Television Culture. New York: Routledge.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and SignifyingPractices. London: SAGE Publications.Wayne, Mike (ed.). 2005. Understanding Film: Marxist Perspectives. London:Pluto Press.Sumber internet:Veronique. 2008. Problem Representasi dalam Film “Denias, Senandung di AtasAwan”. Dalam http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses pada 4 Juli 2012.
Proses Gatekeeping Majalah Tempo terhadap Citra Jokowi Nabilla, Ayu; Lukmantoro, Triyono; Santosa, Hedi Pudjo; Gono, Joyo NS
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.618 KB)

Abstract

Penelitian ini diawali dari ketertarikan penulis pada pemberitaan Tempo yang mengkritik berbagai kebijakan Joko Widodo, atau biasa disebut Jokowi, setelah ia terpilih sebagai presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Padahal, saat Pilpres 2014 berlangsung, dengan jelas Tempo mendukung Jokowi. Citra Jokowi yang semula positif, khususnya saat kampanye Pilpres 2014 berlangsung, berubah setelah Jokowi berstatus sebagai presiden dalam pemberitaan Tempo.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenapa dan bagaimana kebijakan redaksi Tempo dalam menghasilkan perubahan citra Jokowi di kedua periode tersebut. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori gatekeeping khususnya level organisasi, nilai berita, dan mediatization untuk menjelaskan proses produksi dan kebijakan redaksi. Untuk mengetahui proses itu, penulis melakukan wawancara dengan 2 (dua) narasumber dari Tempo, wartawan dan redaktur yang menulis berita Jokowi, dan 2 (dua) narasumber mantan wartawan Tempo.Hasil dari penelitian ini menunjukkan kebijakan redaksi Majalah Tempo yang menghasilkan perubahan citra Jokowi saat Pilpres dan saat menjadi presiden didasari rasa kewajiban untuk melindungi jalannya demokrasi di Indonesia. Tempo memilih pro Jokowi ketika Pilpres 2014 karena lawannya, Prabowo Subianto, diduga terlibat kasus pelanggaran HAM dan tidak sesuai dengan karakter pemimpin yang Tempo miliki. Tempo meyakini yang terbaik bagi demokrasi Indonesia adalah dengan memilih Jokowi, yang lebih masuk akal dipilih sebagai pemimpin, dibanding Prabowo. Setelah Jokowi terpilih menjadi presiden, Tempo berperan kembali sebagai pers yang mengoreksi pemerintah jika salah langkah, sebagai realisasi bentuk fungsi kontrol sosial.Proses gatekeeping level organisasi Tempo cenderung dipengaruhi oleh tujuan Tempo yang menjunjung tinggi fungsi dan kontribusi pers di masyarakat. Proses itu tidak dipengaruhi dikte pemilik media, diasumsikan karena saham Tempo dimiliki oleh banyak pihak. Nilai berita merupakan faktor penting dalam kebijakan redaksi Tempo dalam pemberitaan Jokowi, tapi verifikasi, konfirmasi, dan klarifikasi lebih diutamakan. Kebijakan redaksi Tempo tersebut tidak didasari kepentingan ekonomi seperti pasar dan iklan, juga bukan karena marketing politik.
Komunikasi dan Pola Asuh Anak dalam Membangun Keharmonisan pada Keluarga Tenaga Kerja Indonesia (Kasus pada Tenaga Kerja Indonesia di Sojomerto, Kendal) Dhesanto Surya Gani; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.444 KB)

Abstract

Alongside with the demands of needs in each household, the fulfillment of these demands is achieved with varied methods, one of which is by working abroad as Tenaga Kerja Indonesia (TKI/Indonesian Workers). Individuals departing as Indonesian workers carry a consequence, that is a shifting in communication process within their family. This study aims to describe the Pattern of Communication and Nurturing in Indonesian Labor Family in building harmony within their family by implementing qualitative approach and case study method with pattern matching data analysis technique. The subjects of this study involve three families that work abroad as Indonesian Workers. Theory applied in this study is the Family Communication Patterns Theory and Relational Dialectics Theory. The results of this study show that the consensual and protective patterns that have been predicted before are found. Consensual Patterns are found in couple 1 and 2 each of who are characterized by high-conversation orientation and high-compliance orientation. High-conversation orientation is accomplished through the participation of the entire family members in intense, honest, and open communication activity. Meanwhile, high-compliance orientation is characterized by parents that are dominant in making decisions for the family members although the parents still listen to every opinion from each family member. Protective Patterns are found in couple 3 who is characterized with low-conversation orientation that is achieved through low communication rate between the children and parents. Protective parents are characterized by decision making that is in the hands of the parents. Despite the different communication and nurturing patterns, the three families left by one family member working abroad manage to have a harmonious life as they have enough time to live a good religious life, build affection within the family, respect fellow family members, minimalize conflicts, and construct a strong bond between family members.
Aktivitas Promosi dalam Launching Produk Layanan Wisata Baru Buana Muda Pesona Tour Semarang Bidang Pekerjaan Program Manager Jaya Pramono Adi; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.893 KB)

Abstract

Backpacking merupakan salah pilihan dalam melakukan kegiatan wisata. Prinsip utama backpacking adalah kemandirian sehingga tidak bepergian bersama kelompok tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan. Backpacker menekankan melakukan kegiatan wisata dengan cara dan biaya yang murah. Setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Kegiatan wisata dengan menjadi seorang backpacker juga punya kekurangan. Karena liburan dilakukan secara mandiri maka resiko menjadi korban kejahatan, tersesat at au pun menjadi sasaran penipuan di tempat baru yang dikunjungipun semakin besar. Jika terjadi permasalahan dalam perjalanan maka backpackerharus menyelesaikan masalah secara mandiri. Selain itu, backpacker juga harus mempersiapkan dana cadangan kalau sewaktu-waktu muncul biaya yang diluar prediksi karena kondisi di lapangan seringkali berbeda dari infor masi yang didapatkan sebelumnya sehingga murah belum tentu menyenangkan.Pada bulan Januari 2014, Pesona Tour ingin melakukan pengembangan usaha. Mereka akan meluncurkan layanan wisata baru bernama Buana Muda. Buana Muda mengangkat konsep wisata yaitu Destination Management Company dan budgettravelling sehingga anak muda tetap dapat merasakan perjalanan wisata murah sesuai dengan daya beli yang mereka miliki tanpa harus repot mempersiapkan segala kebutuhan wisata dan tidak perlu merasa khawatir dengan munculnya biaya tambahan karena semua biaya telah dihitung di awal.Aktivitas promosi yang dilakukan menggunakan event marketing sebagai fondasi utama dan didukung oleh alat promosi lain seperti periklanan, marketing public relation,publisitas, point of purchase material, E communication dan relationship marketing. Event Marketing berbentuk kontes fotografi yang berjudul Buana Muda “Feel The New Experience” bertujuan untuk memperkenalkan dan menarik minat khalayak sasaran di semarang mengenai layanan wisata baru Buana Muda. Setelah aktivitas promosi dilakukan selama satu bulan terjadi kenaikan awaraness sebesar 39% dan minat sebesar 32%. Selain itu berhasil dibentuk komunitas buana muda guna menjaga keberlangsungan pesan komunikasi pemasaran. Keywords : Aktivitas, Promosi, Event, Tour
Representasi Kekuasaan Perempuan dalam Film Mad Max Fury Road Hasanah, Uswatun; Dwiningtyas, S.Sos, MA, Dr. Hapsari
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.441 KB)

Abstract

Film sebagai media merupakan salah satu sarana untuk mengetahui ideologi kekuasaan yang berjalan di ranah gender melalui representasi peran perempuan dan laki-laki. Pembentukan karakter dalam Film action hollywood secara konvensional adalah perempuan pelengkap dan pemanis bagi pahlawan laki-laki. Film Mad Max Fury Road” bertujuan untuk mengetahui kekuasaan perempuan sebagai kaum yang diopresi oleh laki-laki. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis feminis dari Sara Mills : Karakter, Fragmentasi, Fokalisasi dan Schemata. Mad Max Fury Road menampilkan tokoh perempuan maskulin menggunakan elemen kekuasaan yang identik dengan atribut kelaki-lakian. Sedangkan tokoh perempuan feminin memiliki kekuasaan dengan kecantikan dan keindahan, serta sifat manja, lemah, dan tergantung. Fragmentasi karakter perempuan maskulin direpresentasikan melalui lengan dan kepala sebagai tanda kekuatan fisik. Karakter sebaliknya, direpresentasikan melalui wajah, dada, pinggang, dan betis sebagai tanda kekuatan seksual. Sudut pandang kekuasaan ditunjukkan melalui dominasi karakter maskulin yang menarasikan karakter feminin sebagai objek. Dalam schemata terdapat konstruksi power maskulinitas dan feminitas yang berbeda dan bias sebagai strategi perlawanan dan penundukan perempuan.
Memahami pengalaman komunikasi remaja broken home dengan lingkungannya dalam membentuk konsep diri Fitriana, Rika
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja adalah suatu usia dimana individu tumbuh mencapai kematangan mental, emosional, sosial dan fisik, termasuk cara berpikir dan tentu saja masih bersifat labil. Hal ini semakin terlihat pada remaja dengan latar belakang broken home. Di dalam masa remaja ini terjadi pembentukan konsep diri. Pembentukan konsep diri ini adalah proses pembentukan diri remaja, suatu proses yang alamiah, yang seharusnya terjadi. Konsep diri dalam seorang remaja dipengaruhi oleh teman sebaya dimana remaja tersebut bergabung, karena sebagian besar masa remaja dihabiskan bersama teman sebaya. Disinilah akan terlihat, remaja broken home akan terjerumus ke arah negatif atau berhasil mengendalikan dirinya ke arah positif. Tujuan penelitian ini adalah memahami pengalaman komunikasi remaja broken home dengan lingkungannya dalam membentuk konsep diri. Teori yang digunakan adalah teori sikap oleh Riger, teori tingkah laku-belajar sosial oleh John W.Santrock, konsep diri oleh William D.Brooks, teori kelompok oleh Michael Burgoon. Untuk mendiskripsikan secara detail pengalaman komunikasi remaja broken home, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja dengan latar belakang keluarga broken home. Berdasarkan hasil penelitian, remaja laki-laki dibawah pengawasan seorang ayah sebagai single parent menimbulkan dampak ketidakmampuan dalam mengontrol emosinya dari pengaruh-pengaruh sosial. Remaja laki-laki lebih mudah emosional dalam menyikapi masalah, sehingga mengabaikan jalur yang sesuai dengan nilai-nilai kepatuhan di dalam keluarga yang berakibat terjerumus pada pergaulan yang cenderung negatif. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya peran orang tua untuk mengontrol, teman sebaya atau kelompok rujukan yang berperilaku negatif dan konsep diri negatif pada remaja. Sedangkan remaja perempuan dibawah pengasuhan seorang ibu sebagai single parent dapat mengontrol emosinya dari pengaruh-pengaruh sosial. Remaja perempuan mampu mengontrol sikap di jalur yang sesuai dengan nilai-nilai kepatuhan yang ada di keluarga dan pergaulan dengan teman-temannya. Hal ini dipengaruhi oleh peran orang tua yang dilakukan secara maksimal, teman sebaya atau kelompok rujukan yang berperilaku positif dan konsep diri positif pada remaja.       Kata kunci : remaja broken home, teman sebaya, konsep diri, teori sikap, fenomenologi
Produksi Program Acara Pro 2 Activity di Pro 2 RRI Semarang (Produser) Dicky Aditya Wijaya; adi Nugroho
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.913 KB)

Abstract

Radio is one of the mass media which has been around for a long time and has survived until the era of new media convergence. Radio midst of easy access to various new media to obtain information and entertainment. Radio Republik Indonesia (RRI) is the first radio station owned by the Government of Indonesia and was officially established on September 11, 1945. Radio Republik Indonesia (RRI) has 35 regional stations spread across various parts of the archipelago. RRI Semarang is one of the oldest radio stations in the city of Semarang. This radio has four channels and has a special channels aimed at youth segmentation. The channel is Pro 2 RRI. Pro 2 RRI has several programs, one of which is "Pro 2 Activity". "Pro 2 Activity" program is a daily program that is broadcast every day at 06:00 to 09:00 o’clock with a duration of 180 minutes. This radio talk show infotainment program genre, discusses various information that is becoming a trend and actual, especially among young people, accompanied by a talk show on the third hour by presenting speakers from among young people. But in the process, this program has a small number of listener responses. This is the reason why the writer and the other Field Works production team to produce this program with a new concept for 24 episodes. This program will add several innovations in the form of broadcast packages such as earcatcher, paparazy (radio play), viral interlude (selvi), and vox pop to attract more enthusiastic listeners. In the production of the program "Pro 2 Activity" for 24 episodes or within a period of 2 months the author served as a Producer. The author is overall responsible during the program production process, both in pre-production, production and post-production. After the "Pro 2 Activity" program was packed with new concepts for 24 episodes, there was a significant increase in the number of listeners. The average number of listeners of the "Pro 2 Activity" program per previous episode is 4-5 people. However, after the production team repackaged the program with a new concept, the average number of listeners per episode increased to 8-10 people.
Communication Activities On Creating Shared Value (CSV) between Nestle Indonesia and Consumers Arfika Pertiwi Putri; Nuriyatul Lailiyah; Tandiyo Pradekso; NS Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.553 KB)

Abstract

Nestle is a company which connects its business fields on its business chain through acts that help social issues which later was elaborated by Porter and Kreamer in 2006 into creating shared value (CSV). Michael Porter and Mark Kramer then formulate CSV as a business strategy concept to emphasize the importance of place social issues and needs intocompany strategy planning. It includes communication, interaction with consumers via manyways and channels. The purpose of the research is to recognize how communication activities on creating shared value Nestle Indonesia and consumers is carried out. The research used Berlo communication theory, Innovation Diffusion theory, marketing communication, involvement, one-way and two-way communication, and cause related marketing (CRM). The type of the research was qualitative descriptive using grounded research approach and case study as the research method. The result of the research shows that there is a communication strategy in the essence of CSV business strategy of Nestle Indonesia. CSV of Nestle Indonesia consists of agroup of programs where they are derived from marketing communications mix which delivers a consistent message that company’s values are intersected with global consumer’s values (create value). The communication process between consumers and Nestle is a dialog of co-learning and co-creation experience by diffusing innovation and knowledge to customers. Furthermore, there is a co-enrichment, co-production activities inthe CSV activity chain. Key element of the process are relevant contact point, virtual and non-virtual community role, and the role of opinion leaders and formers by sharing responses where customers interact with other customers (C2C). Mass media is also an essential factor to brace the existing values in the CSV programs so that they are more acknowledged by a larger audience. An interconnected network then is built between one element and another creating a communication network.
The Correlation between The Intensity of Broken Home Family Communication and Peer Group Interaction with Adolescent’s Self Concept Lanty Prabandani; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.941 KB)

Abstract

The background of this research is based on many cases of negative self concept in adolescent. Mainly, andolescent from broken home family. Self Concept is related with their sorroundings, such as family and peer groups. This research aims to determine the correlation of the intensity of broken home family communication, peer group interaction, and adolescent ‘s self concept. The method which is used in this research is the quantitative with positivistic approach. This research used The Social Construction Self Theory and The Reference Group Theory. This Research is using non probability sampling technique. The population in this research is adolescent age 17-23 from broken home family in Semarang city. While the sample is 30 respondens. The data is analyzed with the aid of SPSS aplication with Pearson correlation test. The result of this research indicate there is correlation between the intensity of broken home family communication and adolescent ‘s self concept with significance value is 0,004 and Pearson correlation value is 0,511. It means the strength of the intensity of broken home family communication and adolescent ‘s self concept is medium with directional. So, if the intensity of broken home family communication is high, then adolescent’s self concept is high. Otherwise, if the intensity of broken home family communication is low, then adolescent’s self concept is low. And also there is correlation between the peer group interaction and adolescent’s self concept with significance value is 0,041 and Pearson correkation value is 0,375. It means the correlation’s strength is weak and directional. So, if the peer group interaction is high, then adolescent’s self concept is high. Otherwise, if peer group interaction is low, then adolescent’s self concept is low. The suggestion of the researcher is for the parents to improve the intensity of communication with their children, so the children will get knowledge and a good understanding about their self which forming a positive self concept in adolescent.
Kompetensi Komunikasi Guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Student Center Learning di SMA N 9 Semarang Skripsi Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik Unive Wulandari, Novita; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwied Noor
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.393 KB)

Abstract

Kompetensi Komunikasi Guru dalam Kegiatan Belajar MengajarBerbasis Student Center Learning di SMA N 9 SemarangCOMMUNICATION COMPETENCE OF TEACHER IN CLASS ACTIVITY-BASED ONSTUDENT CENTER LEARNING AT SMA N 9 SEMARANGAbstrakThe changing of Teacher Center Learning (TCL) methods which focuses on teacher as themain source of knowledge change become Student Center Learning(SCL) methods thatrequires students to be active in the learning process because Teacher Center Learningmethods is considered ineffective. This SCL methods require the teacher must be clever tostimulating students to be active in class activities. However, not all teachers have suchcapabilities. Communication competence can be measured from the motivationalcommunication, communication knowledge and communication skills. SCL methods thatapplied at Semarang 9 senior high school not always used in class activities. Application ofthe method used depends on the subject matter presented. The purpose of this research is todescribe the communication competence of teachers in class activity based on Student CenterLearning at Semarang 9 Senior High School. And this research is descriptive quantitativestatistics and the population are students of SMA N 9 Semarang, 1031 students. TheSampling technique is simple random. And to determine the number of samples taken,researchers used the Frank Lynch formula and got 88 samples that were selected randomly.Based on the findings and analysis research, assessment of the students tocommunication competence of teacher in class activities based on student center learning(SCL) in SMA N 9 Semarang competent classified. Motivation, teachers rated competent bythe students to motivate his students. This motivation can be measured by positif motivationas efforts and desire that drive teacher performance toward excellence and negativemotivation as result in fear, anxiety, or avoidance. Knowledge, content knowledge suchknowing what to communicate and procedural knowledge such knowing how tocummunicate, teachers have quite high knowledge. And teachers’s skills, have low skill.With low skills, teacher cannot practice knowledge. So high knowledge of teacher can not beapplied by the teacher in teaching and learning activities. And the teachers must pay attentionto skills many factors such as empathy, speaking, and listening comprehension.Key word: motivation, knowledge, communication skillKOMPETENSI KOMUNIKASI GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJARBERBASIS STUDENT CENTER LEARNING DI SMA N 9 SEMARANGAbstrakPerubahan metode belajar Teacher Center Learning (TCL) yang memusatkan guru sebagaisumber pengetahuan bergeser menjadi Student Center Learning yang menuntut murid untukaktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, kebijakan tersebut ini didasari karena metodeTeacher Center Learning yang dianggap tidak efektif. Metode SCL ini menuntut guru haruspandai menstimuli kesediaan murid untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun,tidak semua guru memiliki kemampuan seperti itu. Kompetensi komunikasi ini dapat diukurdari motivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan ketrampilan komunikasi. MetodeSCL yang diterapkan SMA N 9 Semarang tidak selamanya digunakan dalam kegiatan belajarmengajar. Penerapan metode yang digunakan bergantung pada materi pelajaran yangdisampaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi komunikasi gurudalam menyampaikan materi belajar berbasis Student Center Learning di SMA N 9Semarang. Jenis penelitian ini adalah statistik deskriptif yang bersifat kuantitatif denganpopulasi murid SMA N 9 Semarang yang berjumlah 1031 orang. Melalui teknik simpelrandom sampling peneliti mendapat 88 sampel yang dipilih secara random.Berdasarkan temuan dan analisis penelitian, penilaian murid terhadap kompetensikomunikasi guru dalam kegiatan belajar mengajar berbasis student center learning (SCL) diSMA N 9 Semarang tergolong dalam kategori kompeten. Dari unsur-unsur yang terdapatpada motivasi komunikasi, guru dinilai berkompeten oleh murid dalam memberikan motivasipada muridnya. Motivasi ini dapat dilihat dari motivasi positif seperti faktor-faktor yangmenyebabnkan ketertarikan, dorongan dan kesiapan untuk berkomunikasi serta motivasinegatif seperti faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketakutan, kecemasan danpenghindaran. Sedangkan indikator pengetahuan seperti pengetahuan konten danpengetahuan prosedural, guru tergolong dikategorikan mempunyai pengetahuan yang baik.Pengetahuan konten merupakan pengetahuan apa yang akan diinformasikan dan pengetahuanprocedural adalah pengetahuan bagaimana cara menyampaikan pesan yang diciptakan.Sedangkan dari segi ketrampilan guru, guru dikatakan mempunyai ketrampilan yang rendah.Dengan ketrampilan komunikasi yang rendah ini, guru tidak dapat mempraktekanpengetahuan yang dimiliki sehingga pengetahuan yang dimilki tidak dapat diterapkan secarabaik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga guru harus memperhatikanindikator ketrampilan seperti empati, ketrampilan berbahasa baik verbal ataupun non verbal,dan mendengarkan.Kata kunci : motivasi, pengetahuan, ketrampilan komunikasiPENDAHULUANHarus diakui hingga kini bahwa guru masih memainkan peranan utama dalam prosesmenghasilkan pendidikan yang berkualitas, namun guru bukan satu-satunya sumber ilmupengetahuan. Kegiatan belajar mengajar merupakan proses interaksi langsung antara siswadan guru. Perkembangan ilmu komunikasi juga berpengaruh pada metode pembelajaran.Model komunikasi yang pertama adalah model komunikasi linier, dalam proses model inikomunikator mengirimkan pesan pada komunikan dengan cara merubah pesan menjadisinyal-sinyal melalui alat pemancar kemudian sinyal-sinyal ini harus disesuaikan dengansaluran yang menuju alat penerima. Fungsi alat penerima mengubah kembali sinyal menjadipesan. Pesan yang diterima ini kemudian mencapai tujuan. Sinyal ini dapat berubah karenaadanya noise (gangguan) yang dapat terjadi (Suprapto, 2009: 62). Hal tersebut dapatmengakibatkan isi pesan yang dihasilkan oleh komunikator akan diterima oleh komunikandengan isi yang berbeda. Proses komunikasi linier sama dengan metode pembelajaranTeacher Center Learning (TCL), pembelajaran satu arah yang bersumber pada guru dalammentransfer pengetahuan pada murid tanpa ada timbal balik secara langsung. Karenaketidakmampuan komunikator untuk menyadari bahwa pesan yang dikirim dan pesan yangditerima tidak selalu identik, merupakan satu alasan sebuah komunikasi itu gagal (Suprapto,2009: 62).Model komunikasi linier ini kemudian dikembangkan menjadi model komunikasitransaksional. Dalam model ini komunikator dapat berperan sebagai komunikan dan jugasebaliknya, komunikan dapat berperan sebagai komunikator. Kemudian model inidikembangkan menjadi model komunikasi konvergen di mana komunikasi sebenarnya bukansekedar suatu proses pemindahan informasi, tetapi suatu proses konvergensi di mana duaorang atau lebih berpartisipasi dalam tukar menukar informasi untuk mencapai salingpengertian antara satu dengan yang lainnya (Suprapto, 2009: 77). Pada metode pembelajaranStudent Center Learning (SCL) ini guru dan murid memiliki peran yang sama yaitu sebagaipartisipan, tidak ada istilah peran komunikator dan komunikan pada model konvergensi ini,dan partisipan dituntut untuk sama-sama aktif dalam berkomunikasi. Perubahan metodebelajar Teacher Center Learning (TCL) yang mempusatkan guru sebagai sumberpengetahuan bergeser menjadi Student Center Learning (SCL) yang menuntut murid untukaktif dalam proses kegiatan belajar mengajar ini didasari karena metode Teacher CenterLearning (TCL) yang dianggap tidak efektif. Metode pembelajaran TCL, guru berperansebagai sumber pengetahuan yang utama sedangkan dalam metode pembelajaran SCL guruberperan sebagai fasilitator dan motivator dalam proses pembelajaran. Metode SCL inimenuntut guru harus pandai menstimulasi kesediaan murid untuk aktif dalam kegiatan belajarmengajar. Namun, tidak banyak guru yang memiliki kemampuan seperti itu.Realitanya, metode pembelajaran SCL ini tidak seefektif seperti yang dibayangkan.Murid yang diharapkan mempunyai kedudukan sejajar dengan guru lebih terkesan pasif dantidak siap dengan metode pembelajaran yang ada. Murid lebih terkesan mejadikan gurusebagai sumber utama pengetahuan dalam pembelajaran. Murid yang disiapkan untukmenjadi aktif dalam proses pembelajaran tidak berperan seperti guru yang juga mempunyaikedudukan yang sama sebagai partisipan. Kemampuan seorang guru yang kreatif dalammenyampaikkan pesan dalam bentuk materi pelajaran pada siswanya sangat dibutuhkan.Kemampuan seseorang dalam menyampaikan isi pesan dalam dunia komunikasi biasa disebutdengan kompetensi komunikasi. Kompetensi komunikasi merupakan kemampuan seorangkomunikator untuk mengirimkan pesan-pesan dengan baik menggunakan pesan-pesan yangdianggap tepat dan efektif dalam suatu situasi tertentu (Morreale et al, 2004: 28). Kompetensikomunikasi ini dapat diukur dengan indikator motivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi,dan ketrampilan komunikasi (Morreale et al, 2004: 37).ISIMetode Student Center Learning (SCL) juga diterapkan di SMA N 9 Semarang. Metode SCLyang diterapkan tidak selamanya digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Penerapanmodel ini bergantung pada materi yang akan disampaikan, jika materi yang disampaikanterlalu rumit maka model Teacher Center Learning (TCL) yang digunakan. Seperti padamata pelajaran matematika, guru berperan menjadi sumber utama dari pengetahuan itusendiri, murid hanya menerima materi dari guru. Dan ketika murid tidak memahami materiyang disampaikan, murid memilih untuk bertanya pada teman atau pada guru les dari padabertanya pada guru yang mengajar. Selain itu, model SCL seperti diskusi kelompokmerupakan cara mengajar yang paling gemar diterapkan oleh guru. Walaupun murid telahdiposisikan dalam metode belajar yang menuntut mereka untuk aktif, tidak selamanya merekaberperilaku aktif seperti yang diharapkan. Dan hanya anak tertentu saja yang mampuberperilaku aktif dalam kegiatan belajar mengajar.Kompetensi komunikasi merupakan suatu keinginan yang dipenuhi melaluikomunikasi dengan sebuah cara yang sesuai dalam situasi tertentu (Morreale et al, 2004:28).Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secaraefektif. Kompetensi sendiri memiliki pengertian kemampuan seseorang yang meliputiketerampilan, pengetahuan, dan sikap dalam melakukan sesuatu kegiatan atau pekerjaantertentu sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Kata kunci dari kompetensiadalah kemampuan yang sesuai standar. Sedangkan kompetensi komunikasi memilikipengertian kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuaidalam mengelola pertukaran pesan verbal dan non-verbal berdasarkan patokan-patokantertentu.Kompetensi komunikasi mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peranlingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesankomunikasi (Devito, 1997: 27). Kemampuan merupakan potensi untuk melakukan beberapaaktifitas secara konsisten. Adapun komponen-komponen kompetensi komunikasi dapatdigambarkan dalam skema:Motivation (motivasi) + Knowledge (pengetahuan) + Skills (keterampilan) = CommunicationCompetencyMotivasi merupakan daya tarik dari komunikator yang mendorong seseorang untukberkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya, aktifitas manusia selalu berhubungandengan adanya dorongan, alasan ataupun kemauan. Motivasi komunikasi ini terdiri dari duatipe yaitu motivasi positif dan motivasi negatif (Morreale et al, 2004:38). Motivasi negatifmengacu pada faktor-faktor yang mengakibatkan ketakutan, kecemasan, atau penghidaran.Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari kepercayaan diri dan keyakinan yang kurangdimiliki oleh komunikator. Sedangkan motivasi positif merupakan hasil dari usaha dankeinginan yang mengarahkan perbuatan individu menuju hal yang positif seperti ketertarikan,dorongan untuk memulai komunikasi, kesiapan untuk berkomunikasi.Pengetahuan komunikasi merupakan kegiatan komunikator dalam mencari informasitentang lawan bicaranya sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan dalamberkomunikasi. Seorang individu harus memahami dan menyadari peraturan, norma, danharapan yang diasosiasikan dengan latar belakang orang yang berhubungan dengan individutersebut. Untuk menjadi kompeten, dibutuhkan dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuankonten dan pengetahuan prosedural (Morreale, et al, 2004: 38). Pengetahuan konten meliputipengetahuan meliputi topik apa, kata-kata yang digunakan, pemahaman situasi danseterusnya yang dibutuhkan dalam suatu situasi. Pengetahuan prosedural merujuk padapengetahuan bagaimana cara menyusun, merencanakan, dan mentransfer pengetahuan yangdimilki dalam situasi tertentu.Ketrampilan komunikasi merupakan kemampuan yang dapat membimbing seseoranguntuk menghadirkan sebuah perilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proseskomunikasi secara tepat dan efektif (Morreale et al, 2004: 39). Untuk mengurangiketidakpastian, seorang komunikator sedapat mungkin harus memiliki tiga ketrampilan yaituempati, berperilaku seluwes mungkin, dan kemampuan mengurangi ketidakpastian itusendiri.Tabel II.1Persentase Tanggapan Responden Terhadap Motivasi KomunikasiMotivasi Komunikasi F %Sangat Tinggi 7 8Tinggi 63 72Sedang 17 19Rendah 1 1Total 88 100Menurut data di atas, dapat dilihat bahwa motivasi komunikasi guru SMA N 9Semarang sudah tergolong berkompeten yaitu dengan terbukti angka 72% pada kategorijawaban motivasi komunikasi sangat tinggi dan 8% pada motivasi komunikasi tinggi.Responden atau murid di sini juga berpendapat bahwa motivasi komunikasi yang diberikanguru seperti motivasi positif dapat mendorong murid untuk berpendapat dalam kelas.Walaupun ada beberapa responden yang berpendapat bahwa 19% motivasi komunikasi gurusedang dan 1% motivasi komunikasi guru rendah.Tabel II.2Persentase Tanggapan Responden Terhadap Pengetahuan KomunikasiPengetahuan Komunikasi F %Sangat Tinggi 8 9Tinggi 42 48Sedang 38 43Rendah 0 0Total 88 100Dengan melihat data di atas, 48% responden berpendapat bahwa pengetahuankomunikasi yang dimiliki oleh guru SMA N 9 Semarang dalam kegiatan belajar mengajardapat dikatakan memiliki pengetahuan yang tinggi. Akan tetapi temuan angka pada kategoriberpengetahuan sedang juga tidak jauh dengan kategori berpengetahuan tinggi yaitu 43%,selisih 5% dengan kategori berpengetahuan tinggi.Tabel II.3Persentase Tanggapan Responden Terhadap Ketrampilan KomunikasiKetrampilan Komunikasi F %Sangat Terampil 6 7Terampil 32 36Kurang terampil 50 57Tidak terampil 0 0Total 88 100Sebagian responden berpendapat bahwa ketrampilan komunikasi guru masih dapatdikatakan kurang terampil. 57% responden berpendapat bahwa empati, perilaku luwes,kemampuan dalam mengurangi ketidakpastian guru belum dapat membantu murid untuk aktifberinteraksi di dalam kelas. Sehingga diperlukan usaha guru yang lebih untuk dapat menarikperhatian murid agar dapat ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar baik itumelalui cara mengajar, kondisi kelas, dan lain-lain. Akan tetapi, 36% responden berpendapatbahwa ketrampilan komunikasi guru sudah masuk dalam katagori terampil.Untuk mengetahui gambaran kompetensi komunikasi secara keseluruhan berdasarkantabel-tabel yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dilihat melalui gabungan skor indikatormotivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan ketrampilan komunikasi. Dari gabunganskor indikator tersebut diklasifikasikan ke dalam 4 kategori yaitu: sangat kompeten,kompeten, tidak kompeten dan sangat tidak kompeten.Tabel II.4Persentase Tanggapan Responden Terhadap Kompetensi KomunikasiKompetensi Komunikasi F %Sangat Kompeten 6 7Kompeten 42 48Tidak Kompeten 40 45Sangat Tidak Kompeten 0 0Total 88 100Berdasarkan perhitungan interval kelas di atas dapat diketahui bahwa persepsiresponden mengenai kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh guru dalam kegiatan belajarmengajar berbasis Student Center Learning di SMA N 9 Semarang tergolong berkompeten.Terbukti dengan tingginya angka pada kategori kompeten sebesar 48% dan sangat kompeten7%. Meskipun begitu, terdapat sebagian yang menyatakan bahwa guru tidak berkompetendalam kegiatan belajar mengajar sebesar 45%. Penilaian responden pada motivasi,pengetahuan dan kompetensi komunikasi yang dimiliki guru dinilai belum berkompetensecara keseluruhan. Hal ini perlu menjadi perhatian bahwa guru perlu juga mengamati secaralangsung keadaan murid sehingga dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung guru dapatmengetahui kondisi keadaan muridnya masing-masing.PENUTUPBerdasarkan latar belakang masalah, masalah dan tujuan penelitian, penilaian muridterhadap kompetensi komunikasi guru dalam kegiatan belajar mengajar berbasis studentcenter learning (SCL) di SMA N 9 Semarang, dari indikator kompetensi komunikasi yaitumotivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan keterampilan komunikasi dapatdisimpulkan bahwa kompetensi komunikasi guru tergolong dalam kategori kompeten (datadalam bab III tabel III.41).Dari unsur-unsur yang terdapat pada motivasi komunikasi, guru dinilai berkompetenoleh murid dalam memberikan motivasi pada muridnya. Artinya, guru dapat memberikanmotivasi positif dalam mendorong murid untuk dapat mengeluarkan pendapat, menjawabpertanyaan, aktif berdiskusi dan lain-lain. Indikator pengetahuan komunikasi sepertipengetahuan konten dan pengetahuan prosedural, guru tergolong dikategorikan mempunyaipengetahuan yang tinggi (data dalam bab III tabel III.42). Dan hal ini berarti guru mempunyaipengetahuan apa yang harus disampaikan pada murid dan dalam cara bagaimana agar dapatmendorong murid aktif berpatisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan darisegi ketrampilan komunikasi guru, guru dikatakan mempunyai ketrampilan yang rendah (datadalam bab III tabel III.43). Dengan ketrampilan komunikasi yang rendah ini, guru tidak dapatmempraktekan pengetahuan komunikasi yang dimiliki sehingga pengetahuan komunikasiyang tinggi tidak dapat diterapkan secara baik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar.Walaupun guru mempunyai ketrampilan komunikasi yang kurang, dapat disimpulkansecara keseluruhan bahwa kompetensi komunikasi yang dimiliki guru SMA N 9 Semarangtermasuk dalam katagori kompeten (data dalam bab III tabel III.44). Seperti pada data temuansebelunya yang mendeskripsikan bahwa temuan angka pada ketegori tidak kompeten jugatidak jauh dari kategori kompeten yaitu sebesar 45%. Hanya 55% responden yangberpendapat bahwa guru memiliki kompetensi komunikasi yang kompeten.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven A, Susan J.Beebe, Mark V.Redmond. 2005. Interpersonal CommunicationRelating to Others. USA: Pearson Education.Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia (edisi ke 5). Jakarta: ProfessionalBooks.Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program SPSS (cetakan ke 4).Semarang: Universitas Diponegoro.Morreale, Sherwyn P, Brian H. Spitzberg, J.Kevin Barge, Julia T. Wood, Sarah J.Tracy.2004. Introduction to Human Communication. USA: Wadsworth Group.Norton, Robert. 1983. Communicator Style. London: Beverly Hills.Sekaran, Uma. 2006. Metode Penelitian untuk Bisnis (cetakan ke 4). Jakarta: Salemba Empat.Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya (cetakan ke 3). Jakarta:Rineke Cipta.Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (cetakan ke 4). Jakarta:Rineka Cipta.Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis (cetakan ke 7). Bandung: Alfabeta.. 2006. Statisitka untuk Penelitian (cetakan ke 9). Bandung: Alfabeta.Suranto, Aw. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi (cetakan 1).Yogyakarta: Media Presindo.Syarbini, Amirulloh. 2011. Rahasia Sukses Mejadi Pembicara Hebat. Jakarta: Gramedia.Kurnaefi, “Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi PendidikanTinggi” www.unud.ac.id diakses pada 2 April 2013

Page 3 of 157 | Total Record : 1563