cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Department of Naval Architecture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jurusan Teknik Perkapalan yang berisi artikel karya ilmiah mahasiswa program Sarjana Teknik Perkapalan universitas Diponegoro
Arjuna Subject : -
Articles 797 Documents
Analisa Penerapan Diesel Waterjet Propulsion (DWP) Dan Electrical Waterjet Propulsion (EWP) Ditinjau Dari Konsumsi BBM Pada Kapal Patroli Imigrasi 14 Meter Afdhal Alfendry; Untung Budiarto; K. Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 1 (2018): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.982 KB)

Abstract

Ada berbagai pertimbangan dalam merancang sebuah kapal, yakni pertimbangan dari segi teknis dan ekonomis yang saling berkaitan satu sama lain dan harus diperhitungkan secara matang untuk menciptakan sebuah kapal yang unggul dari segi teknis namun tidak mengabaikan segi ekonomisnya. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada kapal termasuk salah satu aspek pertimbangan dari segi ekonomis yang berkaitan dengan biaya operasional kapal. Kapal patroli berfungsi sebagai kapal pengawas, baik di daerah pelabuhan maupun di lautan lepas. Ditinjau dari fungsinya kapal patroli haruslah memiliki performance yang baik dalam menjalankan tugasnya. Pada penelitian ini membahas bagaimana penerapan Diesel Waterjet Propulsion (DWP) dan Electrical Waterjet Propulsion (EWP) serta membandingkan konsumsi BBM masing-masing sistem propulsi pada kapal patroli imigrasi 14 meter. Engine-Waterjet Matching dilakukan untuk mendapatkan efisiensi yang optimal antara penggerak utama dengan waterjet. Untuk DWP memakai gearbox dengan ratio 1:1,53 dan EWP dengan ratio 1:1,0205. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan EWP memberikan efisiensi BBM sebesar 4,633 % dibandingkan DWP pada kecepatan 17 - 28 knots, dan pada kecepatan 11 – 16 knots penerapan DWP memberikan efisiensi sebesar 26,04 % dibandingkan dengan EWP. Konsumsi BBM EWP lebih hemat daripada DWP pada saat kecepatan maksimum, dinas dan pengintaian.  
ANALISA WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL PETI KEMAS PADA TERMINAL III PELABUHAN TANJUNG PRIOK JAKARTA Wildan Adi Nugraha; Untung Budiarto; Wilma Amiruddin
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.223 KB)

Abstract

Dwelling time adalah waktu bongkar muat peti kemas yang dilakukan dari kapal sampai peti kemas keluar dari pelabuhan tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui dwelling time yang terjadi di pelabuhan tanjung priok dari hasil penelitian dwelling time di pelabuhan tanjung priok pada tahun 2009 dwelling time mencapai 6,9 hari dan terus meningka tsampai tahun 2013 mencapai 14 hari dan arus peti kemas yang masuk melalui pelabuhan tanjungp riok pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 mencapai 9.895.841 box dan di prediksi untuk tahun 2014 sampai 2018 arus peti kemas yang masuk pelabuhan tanjung priok mencapai 19.961.18 box untuk mengetahui dwelling time digunakan analisa antrian dari hasil analisa antrian diketahui bahwa dengan alat bongkar muat berjumlah 39 crane untuk 13 dermaga dimana di tiap dermaga terdapat 3 crane maka dwelling time di dapat 11,1 hari, untuk menekan dwelling time menjadi 6 hari diasumsikan jika di 13 dermaga di tambah dengan beberapa crane lagi untuktahun 2014 menggunakan 51 crane ,tahun 2015 menggunakan 52 crane ,tahun 2013 menggunakan 54 crane dan tahun 2017 dan 2018 menggunakan 55 crane maka dwelling time menurun menjadi 6,3 hari. Dengan bertambah nya arus peti kemas di tiap tahun nya maka prediksi kebutuhan panjangdermaga tahun 2014 sampai 2018 adalah 7.339 meter dan prediksi kebutuhan luas lapangan penumpukan tahun 2014 sampai 2018 adalah 168909. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dwelling dapat ditekan jika fasilitas bongkar muat peti kemas di tambah dan dengan arus peti kemas yang semakin bertambah di setiap tahun kebutuhan dermaga dan kebutuhan lapangan penumpukan juga bertambah.
Analisa Teknis Ekonomis Perubahan Desain Kapal Monohull Menjadi Katamaran dengan Metode CFD, Studi Kasus Kapal Dongkrok di Jepara Nanda Itohasi Gutami
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Overfishing di laut Jepara menyebabkan menurunnya produktifitas kapal penangkap ikan, sehingga perlu dilakukan re-design terhadap kapal penangkap ikan agar dapat lebih produktif sehingga dapat selalu beroperasi dalam segala musim dan kondisi. Re-design akan dilakukan dengan melakukan perubahan lambung kapal dari monohull menjadi katamaran akan memberikan pengaruh teknis maupun ekonomis. Perubahan yang dimaksud antara lain perluasan layout geladak sehingga memungkinkan untuk diadakannya alat tangkap multi-gear berupa payang dan gill net, sehingga ikan yang ditangkap akan lebih banyak dan variatif. Analisis teknis ekonomis dilakukan berdasarkan konsekwensi perubahan yang dimaksud  antara lain analisis performa hambatan kapal dan profitabilitas usaha. Hasil perhitungan menunjukkan  nilai hambatan setelah re-design memiliki nilai hambatan terkecil pada variasi S/L 0,4 dengan nilai 56,786 kN. Untuk mendukung performa kapal setelah re-design, dibutuhkan daya mesin sebesar 766,31 HP.Hasil perhitungan ekonomis kapal sebelum re-design memiliki nilai IRR sebesar 16,19% dengan masa balik modal selama 5 tahun dan hasil setelah re-design memiliki nilai IRR sebesar 22,76% dengan masa balik modal selama 4 tahun yang menandakan relatif lebih menguntungkan.
ANALISIS OPTIMASI KEBUTUHAN DAYA LISTRIK PADA KAPAL PENUMPANG RO-RO KM. EGON DENGAN METODE DYNAMIC PROGRAMMING Alexius Bayu Setyoko; Eko Sasmito Hadi; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 1, No 2 (2013): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KM. Egon is a passenger ship which is of the same type of Ro-Ro owned by PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). This ship has two diesel generators and shaft generators. To produce enough power needed by the load, the four generators in KM. Egon should be able to operate efficiently. However, the arrangement of the load was less efficient so the use of fuel was wasteful. In this study, the researcher did several steps. First, calculating the capacity of the equipments was by counting the load factor value of the equipments. Second, finding out the number of the load in every operational condition of the ship, at port, maneuver, and shipping out. Third, finding out the load factor of the generator of the variation of the generator which was used with used the simulation of the dynamic programming method in order to get load which used the fuel efficiently. The calculation result of the number of the load in every condition for in port was 219.84 kW, then maneuver was 1014.37 kW, and shipping out was 419.55 kW. The dynamic programming method which was applied for KM. Egon ship in the simulation from Semarang to Kumai then  went back to Semarang. The efficient fuel consumption was in port or anchoring 41.43 liter/hour. It used diesel generator 1 or diesel generator 2. Then maneuver and shipping out was 27.90 liter/hour by operating one diesel generator and one shaft generator. Therefore, the total use of  fuel of auxiliary engine  in the simulation was 2622.42 liter.
Analisa Pengkondisian Udara Pada Sistem Ventilasi Di Kamar Mesin Kapal Feri 500 GT Dengan Pendekatan CFD (Computational Fluid Dynamics) Mochamad Arif Rachman; Hartono Yudo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat beroperasi, suhu dikamar mesin kapal feri 500 GT mengalami kenaikan temperature yang tinggi, sehingga diperlukan evaluasi dalam pemasangan tata letak layout ducting vent serta sistem ventilasi dikamar mesin tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa kondisi udara (distribusi suhu, tekanan, dan aliran udara) di dalam kamar mesin, baik sebelum dilakukan perubahan desain ventilasi, maupun sesudah dilakukan perubahan menggunakan metode shear stress transport dengan analisa pendekatannya menggunakan CFD, agar nanti nya suhu (temperature) didalam kamar mesin mengalami penurunan dan sesuai dengan kebutuhan. Dari hasil simulasi yang dilakukan, diperoleh data distribusi  suhu rata-rata di kamar mesin kapal feri 500 GT dimana terjadi penurunan suhu rata-rata dari 42,84°C menjadi 35,6°C pada variasi 1, 35,6°C pada variasi 2, dan 30,7°C pada variasi ke-3. maka terjadi penurunan suhu sekitar 7-12℃ pada kamar mesin, untuk distribusi tekanan rata-rata di kamar mesin mengalami kenaikan  terhadap variasi yang dilakukan, dan naik-turun pada beberapa bidang, untuk kecepatan aliran udara streamline di kamar mesin cenderung mengalami kenaikan terhadap variasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat di simpulkan bahwa, sistem ducting vent yang paling baik digunakan pada kamar mesin kapal feri 500 GT adalah model ducting variasi ke-3.
PENGARUH ARUS LISTRIK DAN TEMPERATUR TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN IMPACT ALUMUNIUM 5083 PENGELASAN GMAW (GAS METAL ARC WELDING) Rizky Perdana Putra; Sarjito Jokosisworo; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.42 KB)

Abstract

Besar arus listrik dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya dan temperatur/suhu merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ketangguhan suatu material dimana semakin rendah temperatur material maka semakin rendah pula ketangguhannya mulai dari rapuh yaitu suhu yang sangat rendah dimana butir-butir material akan sangat rapat. Proses pengelasan dilakukan pada material aluminium 5083 yang banyak digunakan dalam industri perkapalan khususnya sebagai material konstruksi kapal aluminium. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil kekuatan tarik dan impact dari variasi pengelasan yaitu besaran arus listrik dan temperatur, sehingga dapat diketahui besar arus dan temperatur yang optimal. Pengelasan aluminium 5083 dilakukan dengan proses pengelasan GMAW (gas metal arc welding) dan jenis sambungan pengelasan double v-butt joint dengan sudut 60°. Variable arus  pada pengujian tarik dan impact menggunakan arus 130 Amp, 150 Amp, 170 Amp, dan 200 Amp, sedangkan pada pengujian impact di tambahkan variasi temperatur 20ºC, 0ºC, - 20ºC.Dari hasil pengujian tarik didapatkan kekuatan tarik tertinggi sebesar 193,28N/mm2dan regangan tertinggi sebesar 0,86%, yaitu pada arus 130 Amp dan hasil pengujian impact di dapatkan kekuatan tertingi sebesar 0,17 J/mm2pada arus 130 amp dengan suhu 20oC amp. Maka, pengelasan GMAW pada bahan aluminium 5083 keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik yang besar yaitu pada arus 130 Amp. Sedangkan untuk pengujian impact diambil keadaan yang optimal dan paling baik memberikan kekuatan impact tertinggi yang dihasilkan pada suhu 20oC dengan kuat arus 130 amp sebesar 0,17J/mm2.Selain pengujian lapangan, juga dilakukan analisa menggunakan solver metode elemen hingga, untuk pengujian tarik dengan hasil tegangan spesimen 1960000000 pa atau 196N/mm2untuk beban tarik maksimum 24160 N yang terjadi pada sambungan las dan untuk pengujian impact dengan hasil kuat impact 0,178 J/mm2 pada suhu 20oC yang patah pada sambungan las.
Analisa Kekuatan Tarik, Kekuatan Puntir, Mikrografi, dan Kekerasan Baja ST 41 Sebagai Material Poros Propeller Setelah Proses Quenching dan Tempering M. Arrighi Feyzar Pra
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poros propeller merupakan salah satu bagian terpenting dari instalasi penggerak kapal. Putaran mesin ditransmisikan ke propeller melalui poros, maka poros sangat mempengaruhi kerja mesin bila terjadi kerusakan. Dalam proses berputarnya poros propeller, poros tersebut menerima berbagai jenis beban dimana beban tersebut terjadi secara berulang-ulang sehingga kegagalan lelah (fatigue failure) tidak terhindarkan lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik, kekuatan puntir, perubahan struktur mikro, dan kekerasan baja ST 41 setelah proses quenching dan tempering. Proses quenching dilakukan pada suhu +850oC  dengan lama penahanan 30 menit kemudian didinginkan secara cepat menggunakan media pendingin oli Mesran SAE 20W-50. Sedangkan proses tempering dilakukan pada suhu +600oC dengan media pendingin udara terbuka. Hasil penelitian menunjukan bahwa baja ST 41 setelah proses quenching memiliki kekuatan tarik sebesar 436,44 Mpa, kekuatan puntir sebesar 363,77 Mpa, dan kekerasan Vickers sebesar 104,3 VHN. Sedangkan baja ST 41 setelah proses tempering memiliki kekuatan tarik sebesar 393,48 Mpa, kekuatan puntir sebesar 317,53 Mpa, dan kekerasan Vickers sebesar 95,12 VHN. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukan bahwa baja ST 41 dengan perlakuan panas quenching memiliki  kekuatan tarik, kekuatan puntir, dan nilai kekerasan yang lebih tinggi dari baja ST 41 dengan perlakuan panas tempering.
Analisa Kekuatan Tarik Dan Kekuatan Lentur Balok Laminasi Bambu Petung Dan Kayu Sengon Untuk Komponen Kapal Kayu Edwin Wijaya; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.091 KB)

Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi.Disisi lain pemanfaatan bambu selama ini belum optimal walapun hasil beberapa penelitian menunjukan bahwa bambu memiliki kekuatan dan keunggulan dibandingkan dengan material bangunan lainya. Maka dilakukan penelitian tentang laminasi bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kadar air, kerapatan, kuat Tarik, MOR, modulus elastisitas dari laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon akibat perbedaan persentase variasi bahan (70% petung - 30% sengon, 60% petung - 40% sengon, 50% petung - 50% sengon, 40% petung – 60% sengon, 30% petung - 70% sengon). Dalam penelitian ini dibuat balok laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon untuk uji kuat Tarik mengacu pada standar  SNI 03-3399-1994  dan uji kuat lentur mengacu pada standar SNI 03- 3960- 1995. Hasil penelitian untuk untuk pengujian Tarik memiliki kadar air kering udara rata-rata 13.21 %, berat jenis terbesar 0.7060 gr/cm³ untuk spesimen tarik, kekuatan Tarik rata-rata sebesar 163,45 Mpa untuk kode T.7.3 (varian paling optimal). Untuk laminasi bambu pengujian lentur memiliki nilai kadar air kering udara rata – rata sebesar 13.88%, berat jenis sebesar 0.6751 gr/cm³ untuk kode L.7.3 (varian paling optimal), modulus of repture sebesar 92,76 Mpa, modulus elastisitas 7928,3 Mpa.
STUDI PERANCANGAN KAPAL PENGANGKUT LUMPUR UNTUK KELANCARAN ALUR PELAYARAN DI SUNGAI KAPUAS Sigit Edhi Kurniawan; Berlian Arswendo Adietya; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 3 (2014): Agustus
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.181 KB)

Abstract

Sungai Kapuas merupakan sungai yang terletak di Kalimantan Barat antara garis 2o08 LU serta 3005 LS serta di antara 108o0 BT dan 114o10 BT pada peta bumi. Sejak tahun 1999-an kondisi Sungai Kapuas dengan kedalaman sekitar 20 meter, lebar 250 meter akan tetapi dalam 10 tahun terakhir, selain pendangkalan, di tepi kiri dan kanan pun mengering, dan pada beberapa tempat tertentu dijadikan arena permainan layang-layang dan lapangan sepak bola. dengan kedalaman minimal 4 meter pada keadan air sungai surut. Untuk menyelesaikan Berapa ukuran utama kapal pengangkut lumpur yang maksimal, Bagaimana menentukan design kontruksi dan kriteria performa kapal  pengangkut lumpur di Sungai Kapuas.Dalam  melaksanakan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan perancangan kapal pengangkut lumpur yaitu menggunakan komputer yang didukung dengan menggunakan software Maxsurf dan Delfship, untuk mendapatkan ukuran utama kapal lumpur yang sesuai dengan daerah pelayaran di sungai Kapuas, menentukan design konstruksi dan kriteria performa meliputi perhitungan ukuran utama, membuat rencana garis, rencana umum, analisa hidrostatik, stabilitas kapal dan analisis olah gerak kapal pengangkut lumpur. Dan peralatan kapal excavator 1 unit, kapal tugboat tarik berdasarkan hasil perhitungan daya tugboat sesuai dengan hambatan yang dialami kapal.Ukuran utama yang dihasilkan dari perhitungan adalah Loa: 39.951 m, Lwl: 39,6 m, B: 7 m, T: 2,5 m, H: 3,2 m. Dari hasil hidrostatik, kapal Pengangkut lumpur ini mempunyai displacement 440,6 Ton, Cb 0,7, LCB 19,514 m. Pada tinjauan stabilitas, hasil menunjukkan kapal stabil, karena titik M diatas titik G. Pada tinjauan olah gerak kapal ini memiliki olah gerak yang baik terbukti tidak terjadi deck weaknes. Pada tinjauan gambar rencana umum, kapal memiliki space yang cukup untuk kapal monohull dan untuk mempermudah proses bongkar muat. Kapal pengangkut lumpur ini menggunakan satu buah tenaga penggerak berupa tugboat dengan daya yang dihasilkan sebesar 78.86 HP. 
Analisa Pengaruh Variasi Geometri Dan Jumlah Fin Pada Centerbulb Terhadap Olah Gerak Kapal Dan Wake Kapal Katamaran Mv. Laganbar Ficotara Wimar; Parlindungan Manik; Berlian Arswendo Adietya
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDesain merupakan tahap awal dalam membangun sebuah kapal. Oleh karena itu, butuh perencanaan dan perhitungan yang tepat salah satunya dalam hal olah gerak dan wake. Olah gerak merupakan respon kapal terhadap pengaruh dari luar seperti gelombang. Sedangkan wake merupakan perbandingan antara kecepatan yang direncanakan terhadap kecepatan fluida pada baling-baling dibawah air. Berdasarkan beberapa penelitian, permasalahan pada kapal ikan yaitu tingginya nilai amplitudo pitching maupun rolling kapal. Karena itu, penelitian ini mencoba menambahkan variasi geometri dan jumlah fin pada centerbulb untuk melihat pengaruhnya terhadap olah gerak dan wake. Dalam penelitian ini untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu dengan melakukan permodelan kapal pada maxsurf modeler dan rhinoceros. Kemudian, untuk menganalisa olah gerak dibantu dengan software ansys aqwa dan untuk menganalisa wake digunakan software tdyn. Hasil penelitian olah gerak menunjukkan dari keseluruhan sudut datang gelombang dan Fn, model 7 yang paling optimal dalam mengurangi RMS rolling motion sebesar 0,25% dari model original. Namun, model ini belum dapat mengurangi nilai heave acceleration maupun RMS pitching motion. Adapun hasil analisa wake menunjukkan perbedaan letak koordinat point dapat mengoptimalkan fungsi pada variasi model, terlihat pada letak sebelum modifikasi hanya dapat mengurangi nilai pada Fn 0,13 ; 0,26 ; 0,39. Pada Fn 0,13 model 6 mengurangi nilai wake 2,90%. Juga pada Fn 0,26 model 4 mengurangi 2,51%. Pada Fn 0,39 model 17 mengurangi nilai wake 0,06%. Sedangkan pada letak setelah modifikasi dapat mengurangi nilai pada seluruh Fn. Pada Fn 0,13 model 12 mengurangi nilai wake sebesar 1,54%. Juga pada Fn 0,26 model 10 mengurangi hingga 11,55%. Pada Fn 0,39 model 6 mengurangi nilai wake sebesar 6,36%. Kemudian, pada Fn 0,52 model 14 optimal mengurangi nilai wake hingga 15,32%. Model yang optimal pada letak ini yaitu model 5 dikarenakan dapat mengurangi nilai pada keseluruhan Fn meskipun tidak signifikan (0,12-0,56%). Dari kedua letak tersebut, model yang optimal (6, 4, 17, 12, 10 dan 5) memiliki kesamaan karakter, yaitu berbentuk sirip.