cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 55 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013" : 55 Documents clear
KEBERADAAN PEMULUNG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MAGELANG (Studi Kasus: Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara) Kintan Kartika Larasati; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.898 KB)

Abstract

Sektor formal di Kota Magelang hanya mampu melayani 70% sampah yang timbul setiap hari. Hal ini memberikan peluang ekonomi bagi kaum marjinal, khususnya pemulung. Penelitian ini dilakukan terhadap 12 pemulung melalui pendekatan kualitatif, dengan studi kasus di Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara.  Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas pemulung di kedua kelurahan ini mendukung dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Pemulung berhasil mengurangi sampah sebesar ±245 kg per hari dan memilah sampah berdasar jenisnya. Sampah yang telah dikumpulkan, lalu dijual pada pengepul, dan didistribusikan ke industri daur ulang sampah. Namun, keberadaan pemulung dalam mengelola sampah kurang diakui oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Magelang. Aktivitas pemulung terlalu dieksploitasi tetapi penghasilannya sangat sedikit. Berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi kerentanan dan ketidaktahanan pemulung secara sosial ekonomi. Hal ini perlu diperbaiki, dan keberadaan pemulung sebaiknya diakui. Salah satu caranya adalah membentuk paguyuban pemulung. Paguyuban tersebut berfungsi untuk mengatur aktivitas pemulung, memudahkan dalam memberi pelatihan pengelolaan sampah, memudahkan akses terhadap fasilitas umum, meningkatkan penghasilan, dan meningkatkan kualitas hidup pemulung. Pola pandang masyarakat terhadap aktivitas pemulung juga perlu dirubah agar keberadaan pemulung lebih diakui.
EVALUASI KESESUAIAN FUNGSI PUSAT KOTA WONOSOBO SEBAGAI PUSAT PELAYANAN Ndaru Prasetyo; Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.665 KB)

Abstract

Perkembangan Kota Wonosobo ditandai dengan berkembangnya aktivitas perkotaan dan peningkatan pergerakan penduduk yang pesat terutama di kawasan pusat kotanya dikarenakan konsentrasi beragamnya aktivitas penduduk kota dipusatkan di kawasan tersebut. Adanya fenomena tersebut menjadikan pusat Kota Wonosobo ditetapkan sebagai pusat pelayanan kota. Sebagai pusat pelayanan kota mengharuskan mempunyai beragam fungsi untuk mewadahi/melayani beragamnya aktivitas masyarakat kota sehingga kebutuhan masyarakatnya maupun pengunjung dapat terpenuhi. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diketahui fungsi-fungsi apasaja yang terdapat di pusat Kota Wonosobo sesuai dengan kondisi kawasannya. Hal ini penting, mengingat fungsi-fungsi yang ada di pusat Kota Wonosobo harus sesuai dengan standar fungsi pusat kota sehingga kawasan tersebut mendukung peran pusat kota sebagai pusat pelayanan kota. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kesesuaian fungsi pusat Kota Wonosobo sebagai pusat pelayanan. Sasaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah identifikasi kondisi Kota Wonosobo, analisis zonasi pusat Kota Wonosobo, analisis kondisi pusat Kota Wonosobo dan evaluasi kesesuaian fungsi pusat Kota Wonosobo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif serta teknik komparatif dengan cara membandingkan antara fakta di lapangan dengan teori. Hasil penelitian menunjukan bahwa pusat Kota Wonosobo memiliki fungsi sebagai pusat supply-service, catering-tourist, financial-business, communication-information, educational-scientific, cultural-entertainment, social-health protection, dan social-political. Namun, terjadi ketidaksesuaian fungsi antara fungsi pusat Kota Wonosobo tersebut dengan standar fungsi pusat kota sebagai pusat pelayanan kota dikarenakan pusat Kota Wonosobo tidak memiliki fungsi sport-recreation yang disebabkan oleh faktor kebijakan. 
KAJIAN KETERLIBATAN PEMULUNG DI TPST BANTAR GEBANG KOTA BEKASI Mega Permatasari; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.335 KB)

Abstract

Pemulung yang bekerja di TPST Bantar Gebang berjumlah kurang lebih 6000 orang, mayoritas berasal dari masyarakat Kecamatan Bantar Gebang, dan kawasan sekitar Kota Bekasi yaitu Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Kerawang. Pemulung  yang ikut terlibat di TPST sudah bekerja kurang lebih 20 tahun lamanya. Pemulung memilih tinggal di TPST Bantar Gebang karena salah satu lokasi TPST yang menjalin kerjasama dengan pihak pengelola TPST Bantar Gebang.Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keterlibatan pemulung di TPST Bantar Gebang. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunakan sampling variasi maksimal. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa  karakteristik sosial; pemulung terdiri dari pemulung musiman lebih banyak dari pada pemulung lokal, sedangkan untuk karakteristik ekonomi; pemulung menjual hasil pemilahan setiap dua minggu sekali, selain itu dilihat dari karakteristik kesehatan; banyak penyakit yang ditimbulkan dari aktivitas pemulung di TPST Bantar Gebang seperti ISPA maupun gatal-gatal, sedangkan karakteristik pendidikan; adanya sekolah gratis untuk pemulung, dan karaktersitik tempat tinggal; pemulung tinggal dengan sistem kontrak dilahan milik bos mereka. Sedangkan, hasil keterlibatan memperlihatkan bahwapemulung dengan pihak pengelola sampah yaitu PT.Godang Tua Jaya menjalin hubungan kemitraan. Akibatnya, menimbulkan kerjasama dengan pemulung dan bos pemulung dalam membantu mengurangi sampah anorganik seperti plastik di 5 zona TPST Bantar Gebang. Sampah plastik ini didaur ulang menjadi biji plastik yang akan diproses menjadi jenis baru maupun jenis plastik yang sama. Hal ini membuat TPST Bantar Gebang menjadi tempat bisnis sampah terbesar dengan melibatkan pemulung sebagai peran utamanya.
Evaluasi Pengembangan Rusunawa Kaligawe Sebagai Fasilitas Hunian Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Ditinjau Dari Kelengkapan Fasilitas Aulia Ardhian Ayuningtyas; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.183 KB)

Abstract

Keterbatasan lahan dan tingginya kebutuhan akan perumahan menjadikan pemenuhan akan permintaan perumahan tidak dapat dipenuhi, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pengembangan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah tidak dilirik investor karena dianggap kurang menguntungkan. Guna menyelesaikan permasalahan tersebut, sudah saatnya Pemerintah Kota Semarang beralih ke pengembangan kawasan hunian vertikal, terutama di kawasan pinggiran mengingat ketersediaan lahan di pusat kota sudah sangat terbatas.Peneliti mengambil studi kasus Rusunawa Kaligawe karena Rusunawa Kaligawe merupakan sebuah kawasan hunian vertikal yang disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang berlokasi di kawasan pinggiran, serta kawasannya berada dekat dengan berbagai fasilitas umum perkotaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pengembangan Rusunawa Kaligawe memiliki kelebihan yang menjadi daya tarik tersendiri, yaitu lokasinya yang strategis, ketersediaan fasilitas umum perkotaan yang dikembangkan di sekitar kawasan Rusunawa Kaligawe, dan biaya sewanya yang dapat dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Kekurangan Rusunawa Kaligawe yang sering dikeluhkan adalah permasalahan mengenai kondisi fisik bangunan dan kelengkapan fasilitas di Rusunawa Kaligawe itu sendiri.
KAJIAN DAMPAK KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN JALAN KARTINI SEMARANG Nurani Nurul Hidayati; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.772 KB)

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu kota besar yang memiliki kebijakan terkait penataan pedagang kaki lima termasuk pada lokasi yang cukup potensial seperti kawasan Jalan Kartini yang terkenal sebagai “pasar burung”. Permasalahan yang berinti pada dampak dari suatu kebijakan yang ada terhadap PKL maupun pemerintah di kawasan Jalan Kartini Kota Semarang tersebut dapat dikerucutkan menjadi pertanyaan penelitian yakni bagaimana dampak kebijakan penataan PKL di kawasan Jalan Kartini Semarang. Berdasar pada pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak kebijakan yang dilakukan menurut persepsi pemerintah dan PKL dengan menggunakan kriteria efektivitas, efisiensi, kesamarataan, kecukupan, responsivitas dan ketepatan. Pendekatan penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan metode purposive sampling untuk penentuan narasumber. Terdapat perbedaan hasil menurut pemerintah dan PKL yakni kriteria efisiensi yang menurut PKL telah sesuai sedangkan menurut pemerintah tidak sesuai, kriteria kecukupan yang telah sesuai menurut PKL sedangkan menurut pemerintah tidak sesuai dan kriteria responsivitas yang sesuai menurut pemerintah dan tidak sesuai menurut PKL. Untuk kriteria efektivitas dan ketepatan, keduanya tidak sesuai menurut pemerintah ataupun PKL. Berbeda dengan sebelumnya, kriteria ekuitas telah sesuai baik menurut pemerintah maupun PKL. Berdasar pada seluruh kriteria di atas maka dampak kebijakan penataan PKL yang ada masih memberikan dampak negatif menurut pemerintah maupun PKL karena belum memenuhi seluruh kriteria yang ada. Diperlukan perubahan kebijakan bagi kriteria yang belum terpenuhi menurut pemerintah maupun PKL dengan jangka waktu yang jelas serta melibatkan peran PKL agar kebijakan tersebut dapat mewujudkan kepentingan umum sehingga tujuan kebijakan dapat tercapai.
KAJIAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM KAITANNYA DENGAN FUNGSI EKOLOGIS KALI SEMARANG DI KAMPUNG PURWODINATAN DAN SUMENEBAN Zulfika Satria Kusharsanto; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.198 KB)

Abstract

Pesatnya pertumbuhan kota seringkali tidak memperhatikan aspek ekologisungai sehinggafungsi ekologisnya mengalami penurunan. Penelitian ini mengambil lokasi pengkajian di Kali Semarang yang kondisinya sudah tidak laik karena airnya berbau, banyak sampah, dan banyak endapan.Terjadinya degradasi lingkungan tersebut tidak terlepas dari bentuk perilaku masyarakat yang tinggal dan beraktivitas sehari-hari di sekitar Kali Semarang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku masyarakat terhadap keberadaan Kali Semarang dan menyelaraskan perilaku masyarakat agar tidak merusak fungsi ekologis sungai perkotaan.Metode campuran (mixed-method) antara kualitatif dan kuantitatifdigunakan sebagai bentuk triangulasi dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis berurutan (deskriptif kualitatif kemudian deskriptif kuantitatif).Data didapatkan berdasarkan wawancara kepada informan penting seperti perangkat kecamatan, Dinas PSDA dan kuesioner semi-terbuka kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di Kampung Purwodinatan dan Sumeneban yang lokasinya tepat di tepi Kali Semarang.Temuan dari penelitian ini menjelaskan bahwa masyarakat di Kampung Purwodinatan dan Sumeneban masih memiliki perilaku yang belum mencerminkan perilaku pro-lingkungan sungai.Walaupun sudah ada pengelolaan sampah, aktivitas domestik nonformal yang terjadi di tepian sungai menyebabkan banyak sampah terhanyut ke sungai.Tidak adanya tangki septik di beberapa MCK juga memperburuk kondisi. Akibatnya endapan di Kali Semarang menjadi sangat tinggi hingga menyebabkan banjir dan rob. Berdasarkan informasi yang didapat, kondisi ini disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat kampung yang tergolong menengah ke bawah dan kurangnya edukasi tentang pengelolaan sungai.Sedangkan penilaian dari masyarakat menjelaskan bahwa ketersediaan prasarana yang masih kurang mengindikasikan lemahnya peran pemerintah kota dalam pengelolaan lingkungan Kali Semarang dan permukiman di sekitarnya. 
FAKTOR – FAKTOR KEBERHASILAN PENGEMBANGAN DESA WISATA DI DATARAN TINGGI DIENG Hemas Prabawati Jakti Putri; Asnawi Manaf
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.314 KB)

Abstract

Berkembangnya desa wisata menjadi salah satu alat untuk mengentaskan kemiskinan di daerah pedesaan terutama di Provinsi Jawa Tengah. Desa Wisata ini sangat sesuai dengan karateristik masyarakat pedesaan karena memiliki strategi pengembangan community based-tourism yaitu masyarakat dituntut berperan aktif dalam usaha kepariwisataan desa mereka untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri dengan potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Pemerintah menanggapi fenomena tersebut dengan membuat suatu program yaitu PNPM Mandiri Pariwisata. Program pro-poor ini menyentuh desa – desa wisata yang tengah berkembang dan terdapat masyarakat miskin didalamnya. Pasca implementasi PNPM Mandiri Pariwisata   dalam pengembangan desa wisata ternyata menghasilkan sebuah fenomena yaitu tidak semua desa wisata berhasil. Fenomena ini terjadi di desa – desa Dataran Tinggi Dieng. Sedangkan desa di Dataran Tinggi Dieng ini memiliki kesamaan budaya, potensi pariwisata dan sosial masyarakatnya. Tetapi hanya beberapa desa wisata saja yang cukup berhasil. Oleh karena itu munculah pertanyaan penelitian “Apa faktor – faktor keberhasilan community based-tourism dalam pengembangan desa wisata PNPM Mandiri Pariwisata di Dataran Tinggi Dieng?” Metode penelitian yang digunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif dengan model kualitatif studi kasus. Teknik samplingnya adalah purposive sampling. Penelitian ini disimpulkan dengan tergalinya faktor – faktor keberhasilan community based-tourism yaitu adanya keunikan lokasi yang diciptakan oleh masyarakat desa, pelibatan masyarakat luas sebagai pelaku wisata utama, fasilitasi dana bantuan untuk embrio aktivitas yang sudah ada, adanya tokoh penggerak dan link kepada stakeholder penting.
KAJIAN KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUNG LAMA SEBAGAI POTENSI KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN KELURAHAN GABAHAN SEMARANG Mustovia Azahro; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.066 KB)

Abstract

Kelurahan Gabahan merupakan kelurahan paling padat di Kecamatan Semarang Tengah, kepadatan mencapai  26.544 jiwa/km2 (BPS Kota Semarang, 2011). Kepadatan bangunan yang tinggi serta minimnya ruang terbuka hijau menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Dalam kaitannya dengan perkembangan Kota Semarang, Kelurahan Gabahan pernah menjadi pusat Pemerintahan pada tahun 1659. Lokasinya yang berada di pusat kota mengakibatkan Kelurahan Gabahan mengalami tantangan dalam menghadapi tekanan pembangunan pusat kota. Pada akhirnya, banyak bangunan yang mengalami perubahan facade, sehingga memunculkan permasalahan mengenai terancamnya keberadaan kampung lama di pusat kota atau bahkan  hilangnya kampung lama. Namun, kehidupan masyarakat kampung lama pasti mempunyai potensi untuk mencapai keberlanjutan lingkungan permukiman dan berpengaruh dalam dalam penciptaan lingkungan kota yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek kehidupan kampung lama di Kota Semarang sebagai potensi keberlanjutan lingkungan permukiman di Kelurahan Gabahan. Kelurahan Gabahan dipilih sebagai lokasi penelitian karena keberadaannya di pusat kota yang mengalami tekanan pembangunan tinggi serta Kelurahan Gabahan yang masih menjadi bagian dari Kawasan Pecinan serta memiliki kehidupan yang harmonis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat di Kelurahan Gabahan yang paling potensial adalah kehidupan sosial sedangkan kehidupan ekonomi tidak sepotensial kehidupan sosial. Kehidupan masyarakat sehari-hari banyak menggunakan ruang publik berupa jalan dan tepi Kali Semarang sebagai ruang interaksi. Kehidupan masyarakat mampu menjadi potensi keberlanjutan lingkungan permukiman dimana aspek kehidupan masyarakat sebagai potensi keberlanjutan lingkungan permukiman antara lain adalah frekuensi interaksi, pendapatan, ketidakinginan pindah, rendahnya intensitas konflik, kerja bakti, mata pencaharian, tingkat keamanan, tabungan perbulan, perayaan hari besar, kesehatan lingkungan, pekerjaan sampingan, keikutsertaan organisasi, rapat rt/rw/kelurahan, asal penduduk, antusiasme warga, tingkat pendidikan, lokasi interaksi, kegiatan sosial, lama tinggal, dan alasan tinggal. Frekuensi interaksi sebagai aspek kehidupan yang paling potensial untuk mencapai keberlanjutan.
KAJIAN BENTUK ADAPTASI TERHADAP BANJIR DAN ROB BERDASARKAN KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKTIVITAS DI KELURAHAN TANJUNG MAS Anggara Dwi Putra; Wiwandari Handayani
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1272.373 KB)

Abstract

Kota Semarang yang merupakan salah satu kota terletak di wilayah pesisir juga merasakan dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim yang terjadi. Berdasarkan hasil proyeksi yang dilakukan BMG Kota Semarang (2007) kenaikan air laut Kota Semarang pada tahun 2006 – 2007 sebesar 8 cm dan setiap tahunnya mengalami perubahan ketinggian 1,46 cm. Salah satu contoh wilayah di kawasan pesisir yang terkena dampaknya yaitu di Kelurahan Tanjung Mas. Penelitian ini untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana  bentuk-bentuk adaptasi terhadap banjir dan rob berdasarkan karakteristik wilayah  dan aktivitas di Kelurahan Tanjung Mas ?”. Studi bentuk adaptasi perlu dilakukan sebagai dasar pertimbangan dalam agenda pembangunan untuk mencapai pola pembangunan agar tahan (resilience) terhadap dampak dari banji rob dan perubahan iklim kedepannya. Dampak yang ditimbulkan dari banjir dan rob untuk kondisi fisik kawasan yaitu rusaknya bangunan rumah tinggal, kerusakan pada jalan, kerusakan pada tambak, dan penurunan kualitas air bersih. Untuk dampak bagi aktivitas, yaitu terganggunya kegiatan sehari-hari masyarakat. Tingkat kerentanan wilayah dan aktivitas terhadap banjir dan rob, wilayah di Kelurahan Tanjung Mas terbagi menjadi 2 kelas kerentanan, kerentanan sedang (RW  1, 9-10, 12-13, dan RW 16), dan kerentanan tinggi (RW  2-3,  11,  14-15).. Bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat 60 % masyarakat  melakukan peninggian bangunan dan lantai rumah, 28% perbaikan dan peninggian jalan, 7 % pembudidayaan dan penanaman mangrove, dan 5% pembuatan tanggul. Jadi, Secara umum tidak ada perbedaan bentuk adaptasi pada setiap aktivitas
POLA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERIKANAN WILAYAH PESISIR KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK Elizabeth Fatimatul Hajar; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.981 KB)

Abstract

Kecamatan Bonang merupakan salah satu wilayah pesisir Kabupaten Demak terdapat empat desa pesisir yaitu Desa Purworejo, Desa Margolinduk, Desa Morodemak, dan Desa Betahwalang. Potensi 4 Desa sebagai wilayah pesisir sangat didominasi hasil perikanan yang sangat melimpah namun, berdasarkan data BPS dalam angka tahun 2011 Kecamatan Bonang memiliki jumlah rumah tangga miskin cukup besar. Tujuan dalam penelitian ini adalah merumuskan pola agribisnis perikanan sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah pesisir Kecamatan Bonang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan melakukan analisis deskriptif dan analisis frekuensi untuk menganalisis potensi agribisnis perikanan. Analisis hierarchi cluster untuk mengelompokkan klasifikasi wilayah sesuai dengan tipologi karakteristik potensi pengembangan agribisnis perikanan. Analisis multidimensional scalling untuk memetakan tipologi wilayah sesuai karakteristik potensi agribisnis perikanan. Temuan studi yang didapatkan dari penelitian ini adalah pola pengembangan agribisnis perikanan wilayah pesisir Kecamatan Bonang dimana Desa Betahwalang dan Desa Morodemak menjadi desa input produksi penyedia peralatan penangkapan dan bibit ikan tambak. Desa Betahwalang, Desa Margolinduk, Desa Morodemak dan Desa Purworejo memiliki potensi pada kegiatan perikanan tangkap dan kegiatan budidaya (tambak). Pada kegiatan pengolahan ada tiga wilayah pusat pengolahan yaitu sentra pengolahan rajungan kupas di Desa Betahwalang, sentra pengolahan ikan asin dan udang rebon di Desa Purworejo, dan sentra pengolahan kerupuk dan terasi di Desa Margolinduk. Hasil pengolahan pada masing-masing sentra wilayah ini nantinya bisa dijual langsung dari 2 Desa yaitu Desa Margolinduk dan Desa Purworejo yang secara eksisting dekat dengan akses jalan lokal utama selain itu Desa Purworejo juga menjadi pusat aktivitas perikanan karena terdapat TPI Morodemak.

Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue